SETIAP MALAM PASIEN DI SEBELAHKU MENCERITAKAN KEHIDUPAN DARI BALKON RUMAH SAKIT, SAMPAI SETELAH DIA MENINGGAL AKU MENEMUKAN PINTU ITU TERKUNCI DARI LUAR.

“Pak Surya datang lagi.”

Kalimat itu adalah awal dari kebohongan paling indah yang pernah menyelamatkan hidupku.

Aku baru mengetahui semuanya setelah orang yang mengucapkannya meninggal dunia.

Namaku Dimas Pratama, tiga puluh empat tahun. Sebelum masuk Rumah Sakit Bhakti Wening di Bandung, aku bekerja sebagai arsitek. Hidupku dipenuhi gambar bangunan, tenggat pekerjaan, dan rapat yang seolah tidak pernah berakhir.

Sampai suatu pagi, aku terbangun dan tidak bisa menggerakkan kaki kiriku.

Dokter mengatakan infeksi yang menyerang sistem sarafku telah menyebabkan komplikasi serius. Aku membutuhkan pengobatan dan fisioterapi panjang. Tidak ada yang berani menjanjikan kapan aku bisa berjalan normal kembali.

Sejak hari itu, aku membenci segala sesuatu.

Aku membenci suara monitor jantung, bau antiseptik, bahkan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar.

Istriku, Mira, datang setiap pagi membawa makanan kesukaanku. Namun setiap kali dia mencoba menyemangatiku, aku justru memarahinya.

“Berhenti bilang aku pasti sembuh!” bentakku suatu siang.

Mira terdiam sambil memegang wadah bubur.

“Aku cuma ingin kamu tetap semangat, Mas.”

“Kalau kamu yang terbaring di sini, baru kamu tahu rasanya!”

Matanya berkaca-kaca. Tetapi dia tidak membalas.

Dia hanya meletakkan bubur di meja, merapikan selimutku, lalu keluar dengan kepala tertunduk.

Aku melihatnya pergi.

Dan meskipun menyesal, aku terlalu keras kepala untuk memanggilnya kembali.

Di ranjang sebelahku ada seorang lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun bernama Yanuar.

Tubuhnya kurus, rambutnya hampir seluruhnya putih, dan sebuah selang oksigen selalu terpasang di hidungnya.

Dia menderita gagal jantung stadium lanjut.

Namun berbeda denganku, Pak Yanuar hampir selalu tersenyum.

Setiap sore, tepat pukul 18.10, dia akan menoleh ke arah pintu kaca di ujung kamar.

“Pak Surya datang lagi,” katanya suatu hari.

Aku menatapnya malas.

“Siapa?”

“Penjual balon di taman rumah sakit.”

“Bapak bisa melihat taman dari sini?”

“Tentu. Ranjangku paling dekat balkon.”

Aku melirik pintu kaca yang tertutup tirai tipis.

“Memangnya ada apa di taman?”

“Banyak. Hari ini Pak Surya membawa balon berbentuk ikan.”

Aku mendengus.

“Bapak mengarang.”

“Warnanya biru. Ada anak kecil membelinya, tapi talinya terlepas.”

“Pasti menangis.”

“Tidak. Pak Surya memberinya balon pengganti secara gratis.”

Aku tanpa sadar tersenyum.

Pak Yanuar langsung menunjuk wajahku.

“Nah, ternyata kamu masih bisa tersenyum.”

Aku segera membuang muka.

Sejak sore itu, Pak Yanuar selalu menceritakan kehidupan di taman.

Ada pasangan lanjut usia yang merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan sebuket bunga matahari.

Ada petugas keamanan yang diam-diam memberikan makan malam kepada kucing liar.

Ada seorang anak perempuan yang setiap hari membawa buku cerita untuk ayahnya yang dirawat.

Dan ada perempuan berpayung merah yang selalu berdiri sendirian di dekat gerbang.

“Dia menunggu siapa?” tanyaku.

“Entahlah.”

“Kenapa tidak pulang?”

“Mungkin orang yang ditunggunya terlalu berharga untuk ditinggalkan.”

Aku terdiam.

Besoknya aku bertanya lagi tentang perempuan itu.

“Masih datang?”

“Masih.”

“Orangnya sudah muncul?”

“Belum.”

Aku menggeleng.

“Bodoh sekali. Kalau orang itu tidak datang, seharusnya dia berhenti menunggu.”

Pak Yanuar menatapku lama.

“Kalau begitu, menurutmu istrimu juga harus berhenti menunggumu sembuh?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.

Aku tidak menjawab.

Malamnya, ketika Mira datang, aku memperhatikan tangannya yang tampak kasar karena terlalu sering mencuci dan membersihkan rumah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.

“Sudah makan?” tanyaku.

Dia terlihat terkejut.

“Belum, Mas.”

“Buburnya masih banyak. Makanlah bersamaku.”

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, kami makan tanpa pertengkaran.

Keesokan harinya, aku meminta fisioterapis membantuku berdiri lebih lama.

Awalnya hanya tiga detik.

Lalu lima.

Kemudian delapan.

Setiap kali aku gagal, Pak Yanuar selalu berteriak dari ranjangnya.

“Jangan kalah sama lantai, Dimas!”

Aku tertawa kesal.

“Bapak cerewet sekali!”

“Kalau kamu sudah bisa berjalan, baru aku berhenti cerewet.”

Seminggu kemudian, aku berhasil berdiri selama dua belas detik menggunakan alat bantu jalan.

Mira menangis sambil bertepuk tangan.

Pak Yanuar mengangkat jempol.

“Besok dua puluh detik.”

Aku menggeleng sambil tersenyum.

Namun malam itu, kondisinya memburuk.

Napasnya semakin pendek. Monitor jantungnya beberapa kali berbunyi nyaring.

Dokter dan perawat bergantian memeriksanya.

Sekitar pukul tiga pagi, aku terbangun mendengar suaranya.

“Dimas.”

Aku menoleh.

Pak Yanuar sedang memandang langit-langit.

“Ya, Pak?”

“Kalau suatu hari aku tidak bisa bercerita lagi, kamu harus mencari sendiri cerita-cerita itu.”

Aku mengerutkan kening.

“Bapak bicara apa?”

“Dunia ini masih indah. Jangan habiskan hidupmu dengan menatap sesuatu yang sudah hilang.”

Aku mencoba bercanda.

“Bapak harus sembuh dulu. Nanti kita turun bersama melihat Pak Surya.”

Dia tersenyum lemah.

“Janji?”

“Janji.”

Pagi harinya, aku dibawa ke ruang fisioterapi.

Ketika kembali, tirai ranjang Pak Yanuar sudah tertutup.

Perawat Dita berdiri di sampingnya dengan mata merah.

Aku langsung mengerti.

“Jam berapa?” tanyaku lirih.

“Pukul 06.18.”

Aku menatap tirai itu.

Tidak ada suara yang keluar dari mulutku.

Selama beberapa hari berikutnya, pukul 18.10 menjadi waktu yang paling menyakitkan.

Tidak ada lagi laporan balkon.

Tidak ada cerita tentang balon biru.

Tidak ada lelaki tua yang menyuruhku melawan rasa takut.

Dua hari setelah kepergiannya, aku meminta dipindahkan ke ranjang dekat balkon.

“Aku ingin melihat taman yang selalu diceritakan Pak Yanuar,” kataku kepada Dita.

Dia tampak ragu.

Namun akhirnya permintaanku dikabulkan.

Sore itu, dengan susah payah aku berdiri menggunakan alat bantu jalan.

Aku mendekati pintu kaca.

Gagangnya tidak bergerak.

Terkunci.

“Dita, tolong buka.”

Wajah perawat itu berubah.

“Pak Dimas, balkon ini sudah lama tidak digunakan.”

“Pak Yanuar melihat taman dari sini setiap sore.”

Dita terdiam.

“Buka saja, Dit.”

Dia mengambil kunci khusus dari ruang perawat.

Ketika pintu terbuka, aku melangkah sampai ambangnya.

Dan seluruh tubuhku membeku.

Tidak ada taman.

Tidak ada penjual balon.

Tidak ada burung merpati.

Tidak ada perempuan berpayung merah.

Tiga meter di depan balkon hanya berdiri dinding beton gedung laboratorium yang tinggi dan kusam.

Aku memandang Dita dengan napas tersengal.

“Di mana tamannya?”

“Pak Dimas…”

“Di mana taman yang diceritakan Pak Yanuar?”

Dita menunduk.

“Balkon ini sudah ditutup sejak renovasi tahun lalu. Dari sini memang tidak ada pemandangan ke halaman.”

Aku merasa sesuatu runtuh di dalam dadaku.

“Jadi selama ini dia berbohong?”

Sebelum Dita menjawab, seorang petugas kebersihan datang membawa kotak kecil.

“Bu Dita, ini barang Pak Yanuar yang tertinggal di laci.”

Di atas kotak terdapat buku tulis bersampul cokelat.

Namaku tertulis di sana.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Pada halaman pertama terdapat sebuah kalimat.

Dimas belum boleh tahu bahwa aku tidak pernah sekali pun melihat taman itu.

Aku membaca kalimat tersebut berulang kali.

Lalu membuka halaman berikutnya.

Tanggal-tanggal tertulis rapi di bagian atas setiap lembar.

Hari kesebelas. Dimas tersenyum ketika mendengar cerita balon biru. Sudah lama sekali aku tidak melihat senyum setulus itu.

Hari kedua belas. Dia bertanya tentang pasangan tua yang membawa bunga matahari. Besok aku harus membuat cerita yang lebih menarik.

Hari kelima belas. Dimas marah ketika mendengar perempuan berpayung merah masih menunggu. Mungkin dia belum menyadari bahwa ada seseorang yang selalu menunggunya pulang.

Air mataku mulai menetes.

Aku membalik halaman berikutnya.

Hari kedelapan belas. Dimas berdiri selama delapan detik. Dia mengira aku sedang tidur, padahal aku melihat semuanya. Aku ingin bertepuk tangan, tetapi tanganku terlalu lemah.

Pada halaman terakhir, tulisannya terlihat bergetar.

Hari kedua puluh satu. Dokter mengatakan waktuku mungkin tidak lama lagi. Aku takut meninggalkan Dimas sebelum dia bisa berjalan. Tetapi hari ini dia berhasil berdiri dua belas detik. Barangkali itu sudah cukup untuk membuatnya percaya bahwa besok masih layak diperjuangkan.

Aku menutup buku itu sambil menangis.

“Kenapa dia melakukan semua ini?” bisikku.

Dita menarik kursi dan duduk di sampingku.

“Ada sesuatu yang perlu Bapak ketahui.”

Aku mengangkat wajah.

“Pak Yanuar sebenarnya meminta kami tidak memberi tahu Bapak selama beliau masih hidup.”

Dita menjelaskan bahwa beberapa minggu sebelumnya, Pak Yanuar mendengar percakapanku dengan dokter.

Saat itu aku mengatakan bahwa hidupku sudah tidak berguna.

Aku bahkan pernah meminta Mira berhenti membuang uang untuk pengobatanku.

Malam setelah mendengar percakapan tersebut, Pak Yanuar memanggil Dita.

Dia bertanya apakah ada cara untuk membuat pasien di ranjang sebelahnya kembali bersemangat.

Dita menyarankan agar dia sering mengajakku berbicara.

“Tapi beliau bilang, orang yang kehilangan harapan tidak membutuhkan ceramah. Mereka membutuhkan alasan untuk penasaran dengan hari esok.”

Aku menatap buku di pangkuanku.

“Lalu cerita tentang taman itu?”

“Beliau menciptakannya sendiri.”

Aku mengusap air mata.

“Tapi kenapa semuanya terasa begitu nyata?”

Dita menggeleng pelan.

“Itu yang juga ingin saya tanyakan kepada beliau.”

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku membaca seluruh buku sampai halaman terakhir.

Di bagian belakang sampul, terselip foto lama.

Seorang lelaki muda berdiri di depan taman kota bersama perempuan berambut pendek dan anak perempuan berusia sekitar enam tahun.

Di belakang foto tertulis tahun 1989.

Aku membaliknya.

Ada sebuah nama.

Ratih dan Alya, dua alasan aku selalu ingin pulang.

Keesokan paginya, seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun datang ke kamar.

Dia memperkenalkan diri sebagai Alya, putri Pak Yanuar.

“Ayah meninggalkan pesan agar saya menemui Bapak,” katanya.

Aku mempersilakannya duduk.

Alya melihat buku di tanganku dan tersenyum sedih.

“Jadi Bapak sudah menemukannya.”

Aku mengangguk.

“Saya ingin tahu kenapa ayah Anda begitu baik kepada orang asing.”

Alya terdiam cukup lama.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

“Karena Ayah pernah menjadi orang seperti Bapak.”

Tiga puluh tahun lalu, Pak Yanuar mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya tidak bisa berjalan selama hampir setahun.

Dia kehilangan pekerjaan dan tenggelam dalam keputusasaan.

Setiap hari dia mengurung diri di kamar, menolak bertemu siapa pun.

Namun istrinya, Ratih, tidak pernah menyerah.

Rumah kontrakan mereka saat itu menghadap tembok tinggi sebuah pabrik.

Tidak ada pemandangan indah dari jendela.

Tetapi setiap sore, Ratih duduk di samping suaminya dan menceritakan kehidupan di luar.

Tentang penjual balon bernama Surya.

Tentang anak kecil yang mengejar burung merpati.

Tentang pasangan lanjut usia yang merayakan ulang tahun pernikahan dengan bunga matahari.

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Cerita itu…”

Alya mengangguk.

“Cerita Ibu.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi semua yang diceritakan Pak Yanuar sebenarnya berasal dari istrinya?”

“Sebagian besar, iya.”

Alya membuka amplop.

Di dalamnya terdapat surat yang ditulis dengan tulisan tangan Pak Yanuar.

Dimas, kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak bisa lagi bercerita kepadamu.

Maafkan aku karena berbohong tentang balkon itu.

Dulu istriku juga melakukan hal yang sama.

Selama berbulan-bulan, dia menceritakan taman yang tidak pernah bisa kulihat. Aku baru mengetahui kebenarannya setelah aku kembali mampu berjalan.

Ketika kutanya kenapa dia berbohong, Ratih mengatakan bahwa orang yang terkurung dalam kesedihan terkadang membutuhkan jendela, meskipun jendela itu harus dibuat dari kata-kata.

Aku marah kepadanya saat itu.

Namun kemudian aku mengerti.

Dia tidak sedang membohongiku tentang dunia.

Dia sedang mengingatkanku bahwa dunia belum berakhir hanya karena aku tidak bisa melihatnya.

Ratih meninggal lima tahun lalu.

Sejak itu, aku selalu membawa cerita-ceritanya ke mana pun aku pergi.

Dan ketika bertemu denganmu, aku tahu cerita itu akhirnya menemukan seseorang yang membutuhkannya lagi.

Dimas, jangan jadikan kesembuhan sebagai satu-satunya alasan untuk hidup bahagia.

Kalau kakimu belum kuat berjalan, duduklah bersama istrimu.

Kalau hari ini terasa berat, izinkan dirimu menangis.

Tetapi jangan pernah berhenti menunggu hari esok.

Karena suatu hari nanti, mungkin ada orang lain yang membutuhkan cerita darimu.

Aku menurunkan surat itu.

Untuk pertama kalinya sejak sakit, aku menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

Alya ikut menangis.

Namun sebelum pergi, dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.

“Ayah sebenarnya sudah tahu bahwa kondisinya tidak memungkinkan untuk sembuh. Dokter menawarkan pemindahan ke kamar perawatan yang lebih tenang, tetapi beliau menolak.”

“Kenapa?”

“Karena beliau ingin tetap berada di sebelah Bapak.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

Beberapa minggu kemudian, kondisiku mulai membaik.

Aku bisa berjalan lima langkah.

Kemudian sepuluh.

Lalu menyeberangi kamar tanpa bantuan fisioterapis, meskipun masih menggunakan alat bantu jalan.

Pada hari aku diperbolehkan pulang, Mira datang membawa kemeja bersih.

Dia membantuku berdiri.

“Kita pulang, Mas?”

Aku memandangnya lama.

“Maafkan aku.”

Mira terdiam.

“Untuk semua kata-kata kasarku. Untuk setiap kali aku membuatmu merasa sendirian.”

Air matanya langsung mengalir.

“Aku cuma ingin kamu pulang, Mas.”

Aku memeluknya erat.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, aku meminta Mira mengantarku ke halaman depan.

Aku ingin melihat tempat yang selama ini hanya kukenal melalui cerita.

Di sana memang ada taman kecil.

Tetapi tidak ada penjual balon.

Tidak ada bangku tempat pasangan tua merayakan ulang tahun pernikahan.

Dan tidak ada perempuan berpayung merah.

Aku tersenyum getir.

Ternyata Pak Yanuar benar-benar menciptakan semuanya.

Namun ketika kami hendak pergi, seorang anak kecil tiba-tiba berlari melewatiku sambil menangis.

Balon biru berbentuk ikan terlepas dari tangannya dan terbang tinggi.

Ibunya mencoba menenangkan anak itu.

Aku berhenti.

Di dekat gerbang, seorang lelaki tua sedang berdiri dengan beberapa balon di tangannya.

Dia menghampiri anak tersebut dan memberikan balon pengganti.

“Sudah, jangan menangis. Yang ini gratis.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Aku menatap lelaki itu.

“Pak… nama Bapak siapa?”

Dia tersenyum.

“Surya.”

Aku merasakan bulu kudukku meremang.

“Bapak sudah lama berjualan di sini?”

“Baru tiga hari. Biasanya saya jualan dekat alun-alun.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa pindah ke sini?”

Pak Surya menunjuk seorang perempuan tua yang duduk di kursi roda dekat pintu masuk.

“Istri saya sedang menjalani pengobatan. Daripada jauh-jauh, saya jualan di sini sambil menemaninya.”

Aku memandang Mira.

Dia menggenggam tanganku.

Saat itulah aku menyadari sesuatu.

Pak Yanuar mungkin tidak pernah melihat taman itu.

Tetapi cerita-ceritanya tidak sepenuhnya bohong.

Karena kebaikan yang dia bayangkan ternyata benar-benar ada di dunia.

Hanya saja aku harus keluar dari kamar untuk menemukannya.

Enam bulan berlalu.

Aku belum bisa berlari, tetapi sudah mampu berjalan tanpa alat bantu untuk jarak pendek.

Aku kembali bekerja secara bertahap dan mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama Mira.

Suatu sore, aku menerima telepon dari Perawat Dita.

“Pak Dimas, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.”

“Ada apa, Dit?”

“Kami punya pasien baru di Kamar 7. Usianya dua puluh delapan tahun. Setelah kecelakaan, dia kehilangan kemampuan menggerakkan kedua kakinya. Dia menolak fisioterapi dan tidak mau berbicara dengan keluarganya.”

Aku terdiam.

“Kenapa kamu meneleponku?”

Dita menarik napas.

“Karena sebelum meninggal, Pak Yanuar pernah menitipkan pesan. Kalau suatu hari ada pasien yang benar-benar kehilangan harapan, beliau ingin kami menghubungi Bapak.”

Aku memandang buku cokelat yang masih kusimpan di meja kerjaku.

Keesokan sorenya, aku datang ke Rumah Sakit Bhakti Wening.

Kamar 7 masih sama.

Bau antiseptik.

Suara monitor.

Dinding putih.

Dan pintu kaca menuju balkon yang tetap terkunci.

Di ranjang dekat jendela, seorang pemuda menatap langit-langit dengan wajah kosong.

Aku duduk di kursi sebelahnya.

“Namaku Dimas.”

Dia tidak menjawab.

Aku tidak memaksanya.

Kami duduk dalam diam cukup lama.

Kemudian aku melirik jam dinding.

Pukul 18.10.

Aku tersenyum kecil.

“Tahu tidak, dulu ada seorang penjual balon bernama Pak Surya.”

Pemuda itu tetap diam.

Aku melanjutkan.

“Suatu hari, balon berbentuk ikan milik seorang anak kecil terbang. Anak itu menangis, tetapi Pak Surya memberinya balon baru secara gratis.”

Pemuda itu akhirnya menoleh.

“Memangnya kenapa saya harus peduli?”

Aku tersenyum.

“Tidak harus. Aku cuma ingin bercerita.”

Dia memalingkan wajah lagi.

Namun ketika aku hendak pulang, dia tiba-tiba bertanya.

“Besok Bapak datang lagi?”

Aku menatapnya.

Dan untuk sesaat, aku merasa melihat Pak Yanuar tersenyum dari ranjang sebelah.

“Datang,” jawabku.

“Besok ceritanya apa?”

Aku memandang pintu balkon yang terkunci.

Lalu menjawab pelan.

“Besok kita cari tahu bersama.”

Malam itu, ketika berjalan keluar dari rumah sakit, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam buku Pak Yanuar.

Ada orang-orang yang datang ke kehidupan kita bukan untuk tinggal selamanya.

Mereka datang untuk membuka pintu yang selama ini kita kira terkunci.

Dan terkadang, setelah mereka pergi, kita baru menyadari bahwa kunci pintu itu sebenarnya sudah mereka tinggalkan di tangan kita.

Aku berhenti di halaman rumah sakit ketika ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Alya.

Pak Dimas, hari ini tepat enam bulan sejak Ayah meninggal. Saya baru menemukan rekaman suara terakhirnya di ponsel lama. Ada pesan untuk Bapak.

Aku segera membuka rekaman itu.

Suara Pak Yanuar terdengar lemah, diselingi tarikan napas panjang.

“Dimas, kalau suatu hari kamu benar-benar bisa berjalan keluar dari rumah sakit, jangan lupa satu hal.”

Dia terbatuk sebentar.

“Waktu istriku meninggal, aku pikir semua cerita indah dalam hidupku sudah selesai.”

Hening beberapa detik.

“Ternyata aku salah. Cerita Ratih belum selesai. Cerita itu hanya menunggu seseorang untuk melanjutkannya.”

Aku berdiri terpaku.

Lalu terdengar kalimat terakhirnya.

“Kalau nanti kamu bertemu orang yang sedang kehilangan harapan, pinjamkan dia jendelamu, Dimas. Sampai dia cukup kuat untuk membuka jendelanya sendiri.”

Rekaman berakhir.

Aku menangis di tengah halaman rumah sakit.

Bukan karena kesedihan yang sama seperti enam bulan lalu.

Melainkan karena akhirnya aku mengerti mengapa seorang lelaki tua yang hampir tidak mampu bernapas masih bersusah payah menceritakan kehidupan setiap sore.

Pak Yanuar tidak pernah melihat taman dari balkon itu.

Namun melalui cerita-ceritanya, dia telah membawaku kembali ke dunia yang nyaris kutinggalkan.

Dan kini, setiap pukul 18.10, ketika aku duduk di samping seseorang yang sedang kehilangan harapan, aku selalu mengingat satu hal.

Balkon Kamar 7 memang terkunci dari luar.

Tetapi berkat Pak Yanuar, pintu di dalam hatiku tidak pernah terkunci lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang