“Kalau begitu, sekarang giliran saya yang menentukan di mana kalian berdua akan tinggal mulai malam ini.”
Senyum di wajah Rina langsung lenyap.
Bayu menatap Maya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil keluar dari mulut istrinya.
“Kamu mengancam saya, Maya?”
“Tidak. Saya sedang memberi tahu keputusan saya.”
Bayu tertawa pendek, lalu melemparkan tas kerjanya ke sofa.
“Kamu pikir rumah ini milikmu sendiri?”
Maya tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju lemari kecil di ruang keluarga, mengambil sebuah map biru, lalu meletakkannya di atas meja.
“Kalau kamu ingin membicarakan kepemilikan rumah, kita bisa mulai sekarang.”
Rina melangkah mendekat.

“Bayu, jangan diladeni. Istrimu sedang kehilangan akal sehat.”
Namun Maya sudah membuka map itu.
Di dalamnya terdapat sertifikat rumah, salinan akta jual beli, dan beberapa dokumen bank.
Bayu mengambil sertifikat tersebut. Matanya bergerak cepat membaca nama yang tercantum.
Maya Prameswari.
Hanya nama itu.
“Kenapa cuma namamu?” tanyanya.
Maya menatap suaminya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Tujuh tahun menikah, dan kamu bahkan tidak tahu rumah ini dibeli atas nama siapa?”
Bayu terdiam.
Rumah dua lantai di kawasan Tebet itu dibeli tiga tahun setelah pernikahan mereka. Saat itu, Bayu baru saja mengalami kerugian besar akibat bisnis distribusi alat elektronik yang gagal.
Tabungannya habis. Utang usahanya menumpuk.
Maya, yang bekerja sebagai konsultan keuangan, menggunakan hasil penjualan apartemen peninggalan ayahnya untuk membeli rumah tersebut.
Bayu mengetahui hal itu.
Namun selama bertahun-tahun, ia selalu memperkenalkan rumah tersebut kepada teman dan keluarganya sebagai rumah yang dibelinya sendiri.
Maya tidak pernah mempermasalahkannya.
Ia menganggap pernikahan bukan tempat menghitung siapa menyumbang lebih banyak.
Ternyata, diamnya selama ini justru membuat Bayu lupa.
“Nama di sertifikat tidak berarti kamu bisa seenaknya mengusir suami sendiri,” kata Bayu.
“Saya tahu. Karena itu saya tidak akan melakukan sesuatu di luar hukum.”
Maya mengeluarkan ponselnya.
“Saya sudah menghubungi pengacara.”
Bayu mengerutkan kening.
“Kapan?”
“Tadi sore.”
Jawaban itu membuat Rina membelalak.
“Tadi sore? Jadi kamu memang sudah merencanakan semua ini?”
Maya menoleh.
“Sejak Ibu membuang surat dari kantor pajak yang ditujukan kepada saya tiga hari lalu.”
Wajah Rina berubah.
Bayu memandang ibunya.
“Surat apa, Bu?”
Rina segera menggeleng.
“Ibu tidak tahu apa-apa.”
Maya membuka galeri ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto.
Foto itu menampilkan amplop cokelat yang telah disobek, tergeletak di tempat sampah dapur.
“Surat pemberitahuan terkait data perusahaan saya. Ibu membukanya, membaca isinya, lalu membuangnya.”
“Itu cuma surat!” bentak Rina.
“Bukan hak Ibu untuk membukanya.”
Bayu mengusap wajahnya.
“Sudahlah, Maya. Jangan membesar-besarkan masalah.”
Maya menatapnya lama.
“Menurutmu, semua ini masalah kecil?”
“Masakan dibuang, surat pribadi dibuka, barang-barang saya disingkirkan, dan sekarang kamu mencengkeram saya sampai memar. Bagian mana yang menurutmu kecil?”
Bayu melirik lengan Maya.
Bekas jari kemerahan terlihat jelas.
Untuk sesaat, wajahnya menunjukkan keraguan.
Namun Rina segera memegang bahunya.
“Bayu, Ibu sudah membesarkanmu sendirian sejak ayahmu meninggal. Sekarang kamu mau membiarkan perempuan ini mengusir Ibu?”
Kalimat itu berhasil mengubah ekspresi Bayu.
Seperti biasa.
Setiap kali terjadi pertengkaran, Rina selalu mengingatkan Bayu tentang pengorbanannya sebagai ibu tunggal.
Dan Bayu selalu menyerah.
“Maya, minta maaf kepada Ibu. Kita selesaikan semuanya baik-baik.”
Maya menutup map.
“Tidak malam ini.”
Ia mengambil tas kecil yang sudah disiapkannya sejak sore.
“Saya akan menginap di tempat sahabat saya. Besok pengacara saya akan menghubungimu.”
Bayu menghalangi pintu.
“Kamu tidak boleh pergi sebelum masalah ini selesai.”
Maya mengangkat ponselnya.
“Kalau kamu menghalangi atau menyentuh saya lagi, saya akan menghubungi polisi.”
Bayu mundur perlahan.
Maya melewatinya tanpa menoleh.
Di belakangnya, Rina berteriak bahwa seorang istri yang meninggalkan rumah pasti akan menyesal.
Maya tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa tidak perlu memenangkan pertengkaran untuk menyelamatkan harga dirinya.
Namun saat mobil taksi daring yang ditumpanginya meninggalkan halaman, Maya belum mengetahui bahwa masalah sebenarnya jauh lebih besar daripada lima liter gulai yang dibuang ke toilet.
Keesokan paginya, Maya duduk di ruang kerja sahabatnya, Nadia, seorang pengacara yang telah dikenalnya sejak kuliah.
Nadia memeriksa foto memar di lengan Maya dan dokumen yang dibawanya.
“Kamu harus menyimpan semua bukti ini. Kalau ada ancaman lagi, jangan hadapi mereka sendirian.”
Maya mengangguk.
Nadia kemudian membuka laptop.
“Ada hal lain yang perlu kamu lihat.”
Ia memperlihatkan salinan dokumen yang ditemukan setelah Maya memintanya memeriksa beberapa transaksi terkait rumah.
Tiga minggu sebelumnya, seseorang telah mengajukan permohonan pinjaman sebesar satu miliar dua ratus juta rupiah dengan mencantumkan rumah Maya sebagai calon agunan.
Maya membeku.
“Siapa pemohonnya?”
“Bayu.”
Dada Maya terasa sesak.
“Tapi dia tidak pernah membicarakan pinjaman apa pun.”
“Permohonannya belum disetujui. Bank meminta verifikasi langsung dari pemilik sertifikat. Ada tanda tangan persetujuan atas namamu dalam berkas awal, tetapi bentuknya tidak sama dengan tanda tangan di dokumen resmi.”
Maya menatap layar.
Tanda tangan itu memang menyerupai miliknya.
Namun garis terakhirnya berbeda.
Ia tahu persis siapa yang pernah memegang dokumen-dokumen pribadinya.
“Ibu mertuaku,” bisiknya.
Nadia tidak langsung menyimpulkan.
“Kita perlu membuktikannya. Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.”
Nadia membuka halaman berikutnya.
Dana pinjaman tersebut rencananya digunakan sebagai tambahan modal sebuah perusahaan bernama PT Rina Mandiri Sejahtera.
Direkturnya adalah Rina.
Maya merasa seluruh ruangan berputar.
Selama enam minggu, Rina mengatakan rumahnya di Kebayoran Baru sedang diperbaiki karena atap bocor.
Namun berdasarkan dokumen yang diperoleh Nadia, rumah tersebut telah dijual empat bulan sebelumnya.
“Jadi selama ini dia berbohong?”
“Sepertinya begitu.”
Maya teringat bagaimana Rina datang membawa tiga koper besar, lalu perlahan menguasai hampir setiap sudut rumah.
Ternyata perempuan itu bukan sekadar ingin tinggal sementara.
Ia sedang mencari tempat berpijak setelah kehilangan rumahnya sendiri.
Siang itu, Maya menghubungi Bayu.
Suaminya menjawab setelah dering kelima.
“Kamu sudah selesai ngambek?”
“Apa benar kamu mengajukan pinjaman dengan menjadikan rumah saya sebagai agunan?”
Hening.
“Maya, dengarkan dulu.”
“Jawab pertanyaan saya.”
“Itu untuk membantu usaha Ibu. Kami berniat mengembalikannya sebelum kamu tahu.”
Maya memejamkan mata.
“Kalian memalsukan tanda tangan saya?”
“Bukan memalsukan. Ibu hanya menirukan tanda tanganmu supaya proses awalnya bisa berjalan. Nanti kamu tinggal datang untuk menandatangani dokumen resminya.”
Maya hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Bayu, itu bukan hal kecil.”
“Ibu sedang kesulitan. Apa kamu tidak punya hati?”
“Kenapa kalian tidak meminta izin saya?”
“Karena kami tahu kamu pasti menolak!”
Jawaban itu menghancurkan sesuatu yang tersisa dalam hati Maya.
Bayu tidak merasa bersalah karena berbohong.
Ia hanya kesal karena rencananya ketahuan.
“Saya tidak akan menyetujui pinjaman itu,” kata Maya.
“Maya, kalau kamu tidak membantu, usaha Ibu bisa bangkrut.”
“Itu bukan alasan untuk menggunakan rumah saya tanpa izin.”
Bayu mulai meninggikan suara.
“Kamu berubah sejak punya penghasilan lebih besar!”
Maya mengakhiri panggilan.
Tangannya gemetar, tetapi pikirannya justru semakin jernih.
Ia segera mengirimkan rekaman percakapan itu kepada Nadia. Nadia kemudian membantu menyampaikan keberatan tertulis kepada pihak bank dan meminta pemeriksaan atas dokumen yang diduga menggunakan tanda tangan palsu.
Dua hari kemudian, Bayu datang ke kantor Maya.
Ia membawa buket bunga mawar putih.
Wajahnya terlihat lelah.
“Maya, kita perlu bicara.”
Maya mempersilakannya duduk di ruang pertemuan yang dindingnya terbuat dari kaca.
“Aku minta maaf soal malam itu,” katanya.
Maya menunggu.
“Aku memang terlalu keras memegang lenganmu.”
“Dan soal pinjaman?”
Bayu menunduk.
“Aku seharusnya memberitahumu.”
“Bukan cuma memberitahu, Bayu. Kamu seharusnya meminta persetujuan saya sebelum menggunakan apa pun yang menjadi hak saya.”
Bayu mengangguk pelan.
Untuk sesaat, Maya melihat laki-laki yang dulu dicintainya.
Laki-laki yang pernah rela menjemputnya di tengah hujan saat motornya mogok.
Laki-laki yang memasakkan bubur ketika ia sakit.
Namun kemudian Bayu mengucapkan sesuatu yang membuat harapannya kembali runtuh.
“Kalau kamu bisa mencabut keberatan ke bank, aku janji Ibu tidak akan mengganggumu lagi.”
Maya menatapnya.
“Jadi permintaan maafmu ada syaratnya?”
“Bukan begitu.”
“Kamu datang bukan untuk memperbaiki pernikahan kita. Kamu datang supaya pinjamannya bisa diproses.”
Bayu terdiam.
Maya mendorong buket bunga itu kembali ke arahnya.
“Saya ingin bercerai.”
Wajah Bayu langsung pucat.
“Maya, jangan bercanda.”
“Saya serius.”
“Kita sudah menikah tujuh tahun!”
“Justru karena tujuh tahun itulah saya tahu kapan harus berhenti.”
Bayu berdiri.
“Kamu akan menyesal.”
Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mungkin. Tapi saya lebih menyesal kalau menghabiskan tujuh tahun lagi untuk menunggu kamu menghormati saya.”
Sore itu, Nadia menghubungi Maya dengan kabar baru.
Rina ternyata memiliki sejumlah utang usaha yang telah jatuh tempo. Perusahaannya mengalami kerugian setelah proyek penyediaan perlengkapan restoran dibatalkan oleh beberapa pelanggan besar.
Lebih mengejutkan lagi, Bayu telah menggunakan sebagian tabungan pribadinya untuk menutup kewajiban perusahaan tersebut.
Itulah sebabnya selama beberapa bulan terakhir ia selalu mengatakan gajinya terlambat.
Maya mulai memahami perubahan suaminya.
Bayu bukan hanya membela ibunya karena merasa berutang budi.
Ia juga takut kehilangan uang yang telah ditanamkannya.
Seminggu kemudian, Rina menelepon Maya.
Kali ini suaranya tidak lagi angkuh.
“Maya, Ibu ingin bertemu.”
Maya awalnya menolak.
Namun Rina mengatakan ada sesuatu tentang Bayu yang harus diketahuinya.
Mereka akhirnya bertemu di sebuah kafe di kawasan Menteng. Nadia menemani Maya dan duduk tidak jauh dari meja mereka.
Rina datang tanpa perhiasan emas yang biasanya dikenakannya.
Wajahnya terlihat lebih tua.
“Ibu tahu kamu membenci Ibu,” katanya.
“Saya tidak membenci Ibu. Saya hanya tidak mau diperlakukan seperti itu lagi.”
Rina menunduk.
Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan amplop dari tasnya.
Di dalamnya terdapat fotokopi sebuah perjanjian utang.
Maya membaca dokumen itu dengan hati-hati.
Bayu ternyata telah menandatangani perjanjian sebagai penjamin pribadi untuk sebagian utang usaha Rina.
“Dia melakukan ini sebelum mengajukan pinjaman dengan rumahmu,” kata Rina.
Maya mengangkat wajah.
“Kenapa Ibu baru memberitahu sekarang?”
Air mata mulai mengalir di pipi Rina.
“Karena Ibu pikir Bayu bisa menyelesaikan semuanya.”
“Dan Ibu pikir rumah saya bisa menyelamatkan kalian?”
Rina tidak menjawab.
Maya meletakkan dokumen itu di meja.
“Kenapa Ibu begitu membenci saya?”
Pertanyaan tersebut membuat Rina terdiam lama.
Akhirnya, perempuan itu berkata lirih.
“Karena sejak Bayu menikah denganmu, dia tidak lagi membutuhkan Ibu seperti dulu.”
Maya memandangnya tanpa berkata-kata.
“Dulu semua keputusan Bayu selalu ditanyakan kepada Ibu. Dia tidak pernah pergi jauh tanpa menelepon. Setelah menikah, dia mulai punya hidup sendiri.”
Rina mengusap air matanya.
“Ketika usahaku gagal, aku takut dia juga akan meninggalkanku.”
“Jadi Ibu berusaha membuat saya terlihat buruk di matanya?”
Rina mengangguk dengan susah payah.
“Ibu ingin dia kembali memihak Ibu.”
Maya merasakan kesedihan yang aneh.
Bukan karena kasihan kepada Rina, melainkan karena menyadari betapa banyak penderitaan yang lahir dari ketakutan seseorang kehilangan kendali.
“Ibu tidak kehilangan anak karena dia menikah,” kata Maya. “Tapi Ibu hampir menghancurkan hidupnya karena tidak mau menerima bahwa dia sudah dewasa.”
Rina menangis semakin keras.
Maya tidak memeluknya.
Ia juga tidak mengucapkan bahwa semuanya telah dimaafkan.
Beberapa luka membutuhkan lebih dari sekadar air mata untuk sembuh.
Proses perceraian berlangsung selama beberapa bulan.
Maya tetap melanjutkan pemeriksaan terhadap dokumen pinjaman yang menggunakan tanda tangannya tanpa izin. Permohonan pinjaman itu akhirnya dibatalkan, dan persoalan dokumen ditangani melalui jalur hukum dengan pendampingan Nadia.
Rumah di Tebet tetap berada dalam penguasaan Maya. Bayu dan Rina pindah setelah menyepakati pengosongan rumah melalui kuasa hukum masing-masing.
Bayu beberapa kali mengirim pesan meminta kesempatan kedua.
Namun setiap kali Maya bertanya apakah ia bersedia menjalani konseling dan berhenti membenarkan tindakan ibunya, jawabannya selalu berputar pada alasan yang sama.
“Ibu sudah tua. Aku tidak mungkin meninggalkannya.”
Maya akhirnya membalas dengan satu kalimat.
“Aku tidak pernah memintamu meninggalkan ibumu. Aku hanya memintamu berhenti mengorbankan istrimu.”
Setelah itu, ia tidak lagi membalas pesan-pesannya.
Enam bulan kemudian, pada suatu Minggu pagi, Maya kembali memasak gulai daging sapi.
Ia membeli bahan-bahannya di Pasar Tebet, seperti dulu.
Daging direbus perlahan. Aroma serai, lengkuas, cabai, dan santan memenuhi dapur.
Namun kali ini, Maya tidak memasak untuk membuktikan bahwa dirinya istri yang baik.
Ia memasak karena memang menyukainya.
Ketika gulai hampir matang, bel rumah berbunyi.
Di depan pagar berdiri seorang kurir membawa paket kecil.
Pengirimnya adalah Bayu.
Maya membukanya di meja makan.
Di dalamnya terdapat sebuah buku resep tua milik almarhum neneknya yang selama ini ia kira hilang saat Rina membereskan dapur.
Di halaman pertama terselip secarik surat.
Maya mengenali tulisan tangan Bayu.
“Aku menemukan buku ini di antara barang-barang Ibu. Sekarang aku mengerti bahwa selama ini kamu tidak pernah meminta aku memilih antara kamu dan Ibu. Kamu hanya ingin diperlakukan sebagai keluarga. Maaf karena aku terlambat memahaminya.”
Maya membaca surat itu dua kali.
Air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena ingin kembali.
Melainkan karena akhirnya ia mendengar pengakuan yang dahulu begitu lama ditunggunya.
Ia meletakkan surat itu di dalam laci, lalu membuka buku resep neneknya.
Pada halaman gulai daging terdapat catatan kecil dengan tinta biru yang mulai memudar.
“Masaklah untuk orang yang menghargai tanganmu, bukan hanya untuk orang yang ingin kenyang.”
Maya tersenyum di tengah air mata.
Sore harinya, Nadia datang bersama dua sahabat mereka.
Maya menyajikan gulai hangat dengan nasi putih, sambal, dan kerupuk.
Mereka makan sambil bercanda hingga suara tawa memenuhi rumah.
Ketika Nadia mengambil porsi kedua, ia memuji masakan Maya.
“Ya ampun, May. Gulai seenak ini bisa bikin orang lupa diet!”
Maya tertawa.
“Ambil saja sebanyak yang kamu mau. Masih banyak.”
Untuk sesaat, matanya tertuju pada panci besar di atas kompor.
Dulu, lima liter gulai pernah dibuang ke toilet dan membuatnya merasa seluruh kerja kerasnya tidak berharga.
Sekarang, dari panci yang sama, ia menyajikan makanan kepada orang-orang yang menghargai kehadirannya.
Maya akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.
Rumah bukan sekadar bangunan yang memiliki sertifikat.
Keluarga bukan sekadar hubungan darah atau ikatan pernikahan.
Dan cinta tidak pernah seharusnya membuat seseorang takut berbicara di dapurnya sendiri.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Maya mencuci piring sambil mendengarkan musik kesukaannya.
Tidak ada yang mengkritik jumlah minyak.
Tidak ada yang mengomentari bentuk tubuhnya.
Tidak ada yang memasuki dapur untuk membuang hasil masakannya.
Hanya ada suara air mengalir, aroma rempah yang masih tertinggal, dan ketenangan yang sudah lama tidak dirasakannya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor Rina.
“Maya, Ibu sudah mencoba memasak gulai seperti buatanmu. Bayu bilang rasanya tidak sama. Bolehkah Ibu meminta resepnya?”
Maya menatap pesan itu cukup lama.
Kemudian ia memotret halaman resep neneknya dan mengirimkannya.
Beberapa detik kemudian, ia mengetik pesan terakhir.
“Silakan dicoba, Bu. Tapi ada satu bahan yang tidak tertulis di resep itu.”
Rina langsung membalas.
“Apa, Maya?”
Maya tersenyum kecil.
“Rasa hormat kepada orang yang memasaknya.”
Ia meletakkan ponsel, mematikan lampu dapur, lalu berjalan menuju kamarnya.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Maya tidak lagi merasa harus meminta izin untuk bahagia di rumahnya sendiri.
