Pagi yang telah lama dinantikan itu akhirnya tiba.

Pagi yang telah lama dinantikan itu akhirnya tiba.

Di depan cermin kecil di kamarnya, Alika sedang merapikan riasan wajahnya yang sederhana dan natural. Rambut panjangnya tergerai indah di bahu. Tak jauh dari meja rias, sebuah gaun malam berwarna biru gelap atau midnight blue terpajang anggun di manekin dekat meja jahit.

Gaun itu bukan gaun biasa. Alika merancang dan menjahitnya sendiri selama berbulan-bulan, mencurahkan seluruh kemampuan dan impiannya ke dalam setiap jahitan.

Jantungnya berdebar penuh kebahagiaan. Sebentar lagi, Bu Arinda, desainer terkenal yang selama ini menjadi idolanya, akan hadir di acara wisudanya sebagai wali.

Membayangkan momen tersebut saja sudah membuat senyum Alika tak kunjung hilang.

Namun, ketenangan pagi itu mendadak hancur ketika jeritan histeris terdengar dari lantai atas.

“MAMAAA! PAPAAA! GAUN AKU! TOLONG!”

Jeritan Desi menggema ke seluruh penjuru rumah, disusul suara tangisan keras dan langkah kaki tergesa-gesa dari kamar utama.

Alika tersentak. Kuas rias yang sedang dipegangnya segera diletakkan di atas meja.

“Ada apa lagi dengan Desi?” gumamnya bingung.

Ia bergegas keluar kamar dan menaiki tangga untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Di lorong lantai dua, Siska terlihat berlari menuju kamar Desi dengan wajah pucat. Dimas menyusul di belakangnya sambil merapikan kemeja mahal yang baru dikenakannya.

“Desi! Ada apa, Sayang? Kenapa kamu berteriak?!” seru Siska panik sambil mengetuk pintu kamar putri kesayangannya.

Pintu kamar terbuka lebar.

Desi terlihat duduk di tepi ranjang sambil menangis tersedu-sedu. Di hadapannya tergeletak sebuah gaun malam mewah berwarna pastel yang seharusnya dikenakannya pada acara perpisahan sekolah hari itu.

Namun, kondisi gaun tersebut benar-benar mengenaskan.

Noda hitam keunguan menyebar dari bagian dada hingga ujung rok. Cairan pekat itu meresap ke dalam kain brokat mahal, meninggalkan bercak besar yang hampir mustahil dibersihkan dalam waktu singkat.

Alika yang berdiri di ambang pintu hanya mampu mengamati dengan heran.

Bagaimana mungkin gaun semahal itu tiba-tiba rusak separah ini?

“Aduh, Ya Tuhan! Desi, kenapa gaunmu bisa jadi begini?!” jerit Siska.

Wanita itu segera berlutut di samping ranjang, memeriksa kain yang telah dipenuhi noda.

“Padahal satu jam lagi kita harus berangkat! Mama dan Papa bahkan sudah siap!”

“Gimana ini, Pa?!” Desi menangis semakin keras. “Gaunku rusak! Aku nggak mungkin datang ke acara wisuda dengan keadaan begini!”

Dimas mengepalkan tangan. Wajahnya memerah karena marah.

“Siapa yang melakukan ini?!” bentaknya. “Gaun semahal ini nggak mungkin rusak begitu saja! Siapa yang berani merusak barang milik anak Papa?!”

Mendengar pertanyaan itu, tangisan Desi mendadak mereda.

Perlahan, ia mengangkat wajah dan mengarahkan pandangannya kepada Alika yang berdiri di dekat pintu.

Kemudian, dengan jari telunjuk gemetar, Desi menunjuk kakak tirinya itu.

“Mbak Alika!”

Semua orang langsung menoleh.

“Pasti Mbak Alika yang melakukan ini!” teriak Desi.

Alika membelalak.

“Apa?!”

“Ini cairan pewarna kain!” lanjut Desi sambil menunjuk noda pada gaunnya. “Warnanya sama persis dengan pewarna yang biasa Mbak Alika pakai buat menjahit dan mewarnai kain di kamarnya! Di rumah ini cuma Mbak Alika yang punya pewarna seperti itu!”

Alika tertegun.

“Desi, kamu ngomong apa, sih?! Aku bahkan nggak pernah menyentuh gaunmu!”

“Bohong!”

Siska langsung bangkit dan menghampiri Alika dengan wajah penuh amarah.

“Pantas saja dari kemarin kamu kelihatan tenang waktu kami menunjukkan gaun baru dan mobil hadiah untuk Desi!” bentaknya sambil menunjuk wajah Alika.

“Ternyata selama ini kamu menyimpan rasa iri! Kamu sengaja masuk ke kamar Desi tadi malam dan merusak gaunnya, kan?!”

“Nggak, Ma! Aku sama sekali nggak masuk ke kamar Desi!” Alika berusaha menjelaskan.

Suaranya mulai bergetar.

“Semua pewarna kainku disimpan di dalam kotak terkunci di kamar bawah. Aku nggak punya alasan untuk merusak gaun Desi!”

“Nggak punya alasan?!” Desi tiba-tiba berdiri.

Air mata masih membasahi pipinya, tetapi sorot matanya tampak begitu tajam.

“Justru Mbak punya banyak alasan!”

Desi melangkah mendekat.

“Mbak iri sama aku, kan?! Mbak sakit hati karena Papa nggak mau datang ke acara perpisahan Mbak!”

Alika terdiam.

“Mbak juga iri karena aku dibelikan mobil baru dan gaun mahal, sementara Mbak nggak mendapatkan apa-apa!”

“Desi, cukup!”

“Tapi itu kenyataannya!” Desi kembali menangis. “Mbak sengaja menghancurkan hari bahagiaku karena nggak tahan melihat aku diperlakukan lebih baik!”

“Cukup, Alika!”

Bentakan Dimas menggelegar di sepanjang lorong.

Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri putri kandungnya.

“Papa benar-benar nggak menyangka punya anak sejahat kamu!” geramnya.

Alika menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Pa, tolong dengarkan aku dulu. Aku benar-benar nggak—”

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Alika.

Kepalanya tersentak ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga bahunya membentur dinding koridor.

Rasa panas menjalar di pipinya. Sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan sedikit darah.

Untuk beberapa detik, Alika bahkan tak mampu berkata-kata.

Ia hanya berdiri terpaku sambil memegangi pipinya yang berdenyut.

Ayah kandungnya sendiri baru saja menamparnya.

Bukan karena melihatnya melakukan kesalahan.

Bukan pula karena memiliki bukti.

Melainkan hanya karena tuduhan Desi.

“Dasar anak nggak tahu diri!” bentak Dimas.

“Kamu sengaja mau mempermalukan keluarga ini, kan?! Kamu nggak rela melihat Desi bahagia?!”

Air mata mulai mengalir di pipi Alika.

“Papa…” bisiknya lirih.

“Aku bersumpah demi Allah, bukan aku yang merusak gaun Desi.”

Namun, Dimas sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mendengarkan.

“Ada apa ini?! Kenapa pagi-pagi sudah ribut?!”

Suara seorang pria tiba-tiba terdengar dari arah tangga.

Andri, kakak kandung Alika, muncul dengan mengenakan kemeja batik rapi dan celana bahan.

Ia tampak terkejut melihat suasana rumah yang kacau.

Begitu melihat Andri, Desi langsung berlari menghampirinya.

“Mas Andri!”

Desi memeluk lengan pria itu sambil menangis tersedu-sedu.

“Mas, tolong aku! Gaun wisudaku dirusak Mbak Alika! Dia menyiramnya pakai pewarna kain sampai hancur!”

Andri mengerutkan kening.

Ia melihat gaun bernoda yang tergeletak di atas ranjang, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Alika.

Adik kandungnya itu berdiri bersandar pada dinding dengan pipi memerah dan bibir terluka.

Alika menatap Andri penuh harapan.

“Mas…” panggilnya pelan.

“Bukan aku yang melakukannya. Aku nggak pernah menyentuh gaun Desi. Tolong percaya sama aku.”

Namun, sebelum Andri menjawab, Desi kembali menyela.

“Jelas Mbak Alika pelakunya! Cuma dia yang punya pewarna kain seperti ini!”

Wajah Andri perlahan berubah.

Rahangnya mengeras. Tatapannya kepada Alika dipenuhi kekecewaan.

“Alika!”

Suara keras kakaknya membuat Alika tersentak.

“Kamu ini sebenarnya punya hati atau nggak, sih?!”

Alika membeku.

“Aku sengaja meluangkan waktu pagi ini buat datang ke sini!” lanjut Andri.

“Semalam Papa menelepon dan memintaku menjadi wali di acara wisudamu! Aku bahkan sudah mengosongkan jadwalku supaya kamu nggak datang sendirian!”

Alika terdiam.

Perkataan itu terasa seperti sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya.

“Mas… mau datang ke wisudaku?”

Selama ini Andri selalu sibuk bekerja.

Kakaknya itu hampir tidak pernah memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya, apalagi memahami bagaimana Alika diperlakukan di rumah ayah mereka.

Dan sekarang, tiba-tiba Andri mengatakan bahwa dirinya berniat datang sebagai wali?

“Iya!” jawab Andri ketus.

“Tapi kalau kelakuanmu seperti ini, aku benar-benar menyesal sudah berniat baik!”

Air mata Alika semakin deras.

“Mas, aku nggak—”

“Kamu tega merusak hari bahagia Desi cuma karena iri! Aku malu punya adik yang kelakuannya seperti kamu!”

Alika menundukkan kepala.

Harapan terakhir yang tadi sempat muncul di hatinya seketika runtuh.

Di belakang Andri, Siska menyunggingkan senyum sinis.

Sementara itu, Desi diam-diam memperlihatkan senyum kemenangan yang nyaris tak terlihat di balik air matanya.

“Gimana ini, Pa? Mas Andri?” Desi kembali terisak.

“Aku nggak mungkin datang ke wisuda dengan gaun rusak. Nanti waktu dipanggil naik ke panggung, aku harus pakai apa?”

Siska menghela napas panjang.

“Kita juga sudah nggak punya waktu buat membeli gaun baru, Pa. Acara sebentar lagi dimulai.”

Desi terdiam sejenak.

Kemudian, seolah baru menemukan sebuah ide, ia mengangkat wajah.

“Oh, iya!”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Mbak Alika, kan, punya gaun baru!”

Jantung Alika mendadak berdegup kencang.

Desi melanjutkan dengan nada memelas.

“Kemarin Mbak Alika bilang dia sudah menyiapkan gaun bagus buat acara perpisahannya. Aku mau pakai gaun Mbak Alika saja!”

Alika langsung menggeleng.

“Nggak!”

Desi menatapnya.

“Kenapa nggak boleh? Mbak yang merusak gaunku, jadi Mbak harus bertanggung jawab!”

“Nggak, Desi! Itu gaunku sendiri!” Alika menjawab dengan suara bergetar.

“Aku merancang dan menjahitnya selama berbulan-bulan! Gaun itu kubuat khusus untuk hari ini!”

Gaun midnight blue itu bukan sekadar pakaian baginya.

Setiap jahitan menyimpan malam-malam panjang ketika ia bekerja sendirian, setiap detail merupakan hasil dari mimpi yang selama ini diperjuangkannya.

Ia bahkan berharap Bu Arinda akan melihat langsung hasil karyanya.

Namun, Desi sama sekali tidak peduli.

“Pokoknya aku mau gaun itu!” rengeknya sambil kembali memeluk lengan Andri.

“Papa, aku nggak mau malu di depan teman-temanku!”

Dimas langsung menatap Alika dengan sorot mata tajam.

“Alika, ambil gaunmu sekarang juga!”

Alika mundur selangkah.

“Pa, jangan…”

“Kasihkan gaun itu kepada Desi!” bentak Dimas.

“Tapi, Pa, itu satu-satunya gaun yang aku punya untuk wisuda!”

Dimas tidak bergeming.

“Kamu yang sudah merusak gaun adikmu! Kamu harus menggantinya!”

“Aku nggak merusaknya!”

“Cukup!”

Suara Dimas kembali menggelegar.

“Ini hukuman buat kamu, Alika! Serahkan gaun itu kepada Desi sekarang juga!”

Alika berdiri mematung.

Pipinya masih terasa perih akibat tamparan ayahnya. Bibirnya masih terluka. Namun, rasa sakit itu tidak sebanding dengan kepedihan yang kini memenuhi dadanya.

Di hadapannya berdiri ayah kandung dan kakak kandungnya sendiri.

Dua orang yang seharusnya melindunginya.

Namun, tak seorang pun bersedia mempercayainya.

Dan sekarang, mereka bahkan ingin merampas satu-satunya hal yang telah ia persiapkan dengan penuh cinta untuk hari terpenting dalam hidupnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang