AYAH MERTUAKU TAK PERNAH MENGALIHKAN PANDANGANNYA SAAT AKU MENYUSUI—AWALNYA KUKIRA AKU HANYA BERPIKIR KOTOR, NAMUN SEBUAH RAHASIA MENGERIKAN AKHIRNYA KUBONGKAR DI HADAPAN BANYAK ORANG!

“Kalau Papa sampai mendengar tuduhanmu, kamu tahu apa yang akan terjadi pada keluarga kita?”

Kalimat itu keluar dari mulut Marco ketika aku masih menangis di tepi tempat tidur, dengan Baby Leo tertidur dalam gendonganku.

Aku menatap suamiku, berharap dia sedang bercanda.

“Marco, aku tidak menuduh Papa melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Aku cuma bilang tatapannya membuatku tidak nyaman.”

Marco mengembuskan napas kasar. Dia meletakkan ponselnya di meja, lalu memijat pelipis.

“Clara, Papa sudah memberikan kita tempat tinggal. Dia juga membiayai sebagian besar kebutuhan Leo. Sekarang kamu malah berpikir buruk tentang dia?”

“Tapi aku istrinya kamu.”

“Justru karena kamu istriku, kamu harus tahu cara menghormati keluargaku.”

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa begitu sendirian meskipun suamiku tidur tepat di sampingku.

Namaku Clara Maharani. Usiaku dua puluh tiga tahun, dan aku baru melahirkan anak pertamaku enam minggu sebelumnya.

Sebelum menikah, aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan ekspedisi di Jakarta Selatan. Hidupku sederhana, tetapi aku terbiasa mengurus segala sesuatu sendiri.

Semuanya berubah ketika Marco mengajakku menikah.

Dia berasal dari keluarga kaya. Ayahnya, Roberto Wijaya, memiliki perusahaan properti dan beberapa gudang logistik di kawasan Jabodetabek.

Orang-orang memanggilnya Don Roberto.

Di depan umum, lelaki berusia lima puluh lima tahun itu selalu terlihat ramah. Dia rajin menyumbang untuk kegiatan sosial, membangun fasilitas pendidikan, dan memberikan bantuan kepada keluarga karyawannya.

Aku pernah menganggap diriku sangat beruntung memiliki mertua seperti dia.

Sampai sore ketika dia duduk di hadapanku dan terus menatap tubuhku saat aku menyusui Leo.

Setelah kejadian itu, aku mulai mengunci pintu kamar setiap kali Marco pergi bekerja.

Namun, Don Roberto seolah mengetahui kapan aku sedang sendirian.

Suatu pagi, ketika aku sedang menyusui Leo di kamar, terdengar ketukan pelan.

“Clara, Papa boleh masuk?”

“Maaf, Pa. Aku sedang menyusui.”

“Papa cuma mau melihat cucu Papa.”

“Nanti saja, ya, Pa.”

Tidak ada jawaban.

Aku mengira dia sudah pergi, tetapi beberapa detik kemudian gagang pintu bergerak.

Seseorang mencoba membukanya.

Untung aku sudah mengunci pintu.

“Kenapa dikunci, Clara?” tanyanya dari luar.

Aku menahan napas.

“Leo gampang terbangun kalau ada orang masuk, Pa.”

Dia tertawa kecil.

“Rumah ini aman. Kamu tidak perlu mengunci pintu seperti sedang tinggal dengan orang asing.”

Langkah kakinya akhirnya menjauh.

Namun, sejak hari itu, aku tidak pernah lagi merasa aman di rumah tersebut.

Aku mencoba berbicara dengan ibu mertuaku, Helena, perempuan berusia lima puluh dua tahun yang hampir selalu menghabiskan waktunya di kamar atau menghadiri kegiatan sosial.

Ketika kuceritakan bahwa Don Roberto sering masuk tanpa izin dan membuatku tidak nyaman, wajahnya berubah.

Dia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, dia menatap pintu ruang makan, memastikan tidak ada orang lain.

“Clara, mulai sekarang jangan menyusui Leo di ruang keluarga.”

Aku terkejut.

“Mama juga merasa ada yang aneh?”

Helena menggenggam tanganku.

“Pokoknya dengarkan Mama. Jangan pernah sendirian dengan Papa kalau kamu bisa menghindarinya.”

“Kenapa, Ma?”

Bibirnya bergetar.

Namun, sebelum dia menjawab, suara Don Roberto terdengar dari belakang.

“Kalian sedang membicarakan apa?”

Helena langsung melepaskan tanganku.

“Tidak ada. Cuma soal bayi.”

Don Roberto tersenyum.

Tetapi matanya menatap istrinya dengan cara yang membuat perempuan itu menunduk.

Aku mulai memahami bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada kejadian sore itu.

Tiga hari kemudian, ketakutanku semakin menjadi-jadi.

Aku sedang mengganti pakaian Leo ketika menemukan sebuah benda kecil berwarna hitam di balik hiasan rak kamar.

Awalnya kukira itu bagian dari perangkat elektronik.

Namun, setelah kuperhatikan, benda itu memiliki lensa kecil.

Jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku pernah melihat kamera mini serupa ketika bekerja di perusahaan ekspedisi.

Dengan tangan gemetar, aku memotretnya menggunakan ponsel.

Aku tidak langsung menyentuh benda itu.

Aku menghubungi sahabatku, Nisa, yang bekerja di bidang teknologi informasi.

“Nis, tolong lihat foto yang kukirim.”

Beberapa menit kemudian, dia menelepon.

“Clara, kamu menemukan ini di mana?”

“Di kamar tidurku.”

“Jangan panik. Dari bentuknya, itu kemungkinan kamera tersembunyi. Tapi aku harus melihat langsung untuk memastikan.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Malam itu, aku menunggu Marco pulang.

Begitu dia masuk kamar, aku menunjukkan foto tersebut.

“Marco, lihat ini. Ada benda seperti kamera di kamar kita.”

Wajahnya berubah pucat.

Namun, reaksinya bukan seperti yang kuharapkan.

Dia justru merebut ponselku.

“Kamu sudah menunjukkan ini kepada siapa?”

“Nisa. Kenapa?”

“Clara, kamu benar-benar keterlaluan!”

Aku terdiam.

“Kenapa kamu marah? Kalau itu kamera, berarti seseorang bisa melihat aku berganti pakaian dan menyusui Leo!”

Marco berjalan mondar-mandir.

“Mungkin itu bagian dari sistem keamanan rumah.”

“Di kamar tidur kita?”

Dia tidak menjawab.

Aku menatap wajahnya.

“Marco, kamu tahu benda itu ada di sana?”

“Tidak!”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku mengenal suamiku selama tiga tahun. Aku tahu kapan dia berbohong.

Malam itu, ketika Marco tertidur, aku mengambil Leo dan pindah ke kamar tamu yang memiliki kunci dari dalam.

Keesokan paginya, aku menelepon Nisa.

Dia datang dengan alasan ingin menjenguk bayiku.

Setelah memeriksa benda tersebut, Nisa memastikan bahwa itu memang kamera mini yang terhubung melalui jaringan nirkabel.

Dia juga menemukan perangkat serupa di ruang keluarga, mengarah ke sofa tempat aku biasa menyusui.

“Clara, ini bukan kamera keamanan biasa,” bisiknya.

Aku merasa mual.

“Siapa yang memasangnya?”

“Aku belum tahu. Tapi kita harus menyimpan bukti dan melapor.”

Nisa memotret posisi perangkat, mencatat waktu penemuan, dan membantuku menyimpan salinan rekaman dari kamera pengawas biasa di lorong rumah yang bisa kuakses melalui aplikasi keluarga.

Dalam rekaman lorong itu, terlihat seseorang memasuki kamar kami ketika aku sedang berada di rumah sakit setelah melahirkan.

Orang tersebut adalah Marco.

Suamiku sendiri.

Aku memutar rekaman itu berulang kali.

Marco membawa sebuah kotak kecil dan keluar tanpa membawanya.

Aku tidak ingin percaya pada kesimpulan yang muncul di kepalaku.

Mungkin dia hanya sedang memperbaiki sesuatu.

Mungkin semua ini kebetulan.

Tetapi malam berikutnya, aku mendengar percakapan yang menghancurkan seluruh harapanku.

Saat itu hampir pukul sebelas malam.

Aku turun ke dapur untuk mengambil air hangat ketika mendengar suara Marco dan ayahnya dari ruang kerja.

Pintunya tidak tertutup rapat.

“Clara mulai curiga, Pa.”

Itu suara Marco.

“Lalu kenapa kamu membiarkannya memeriksa kamar?”

“Aku tidak tahu dia akan menemukan kameranya.”

Darahku terasa membeku.

Don Roberto menjawab dengan suara rendah.

“Kamu yang memasang perangkat itu. Seharusnya kamu bisa memastikan semuanya aman.”

“Aku sudah bilang dari awal, Papa jangan terlalu sering mendekatinya.”

Terdengar suara benda dibanting ke meja.

“Jangan mengatur Papa!”

Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.

Marco berbicara lagi.

“Kalau Clara sampai tahu soal rekamannya, dia bisa melaporkan kita.”

Don Roberto tertawa pendek.

“Dia mau melapor dengan uang siapa? Kamu pikir dia bisa hidup tanpa bantuan keluarga ini?”

Aku mundur perlahan.

Namun, sebelum berhasil mencapai tangga, aku mendengar kalimat berikutnya.

“Dan jangan lupa, Marco. Utang perusahaanmu masih Papa yang tanggung. Kalau kamu membela istrimu, semuanya Papa tarik.”

Saat itulah aku memahami mengapa Marco selalu membela ayahnya.

Bukan semata-mata karena dia tidak percaya kepadaku.

Dia mengetahui semuanya.

Dan dia memilih diam karena uang.

Aku kembali ke kamar dengan kaki gemetar.

Leo sedang tidur pulas di ranjang bayinya.

Aku memeluknya dan menangis tanpa suara.

Bagaimana mungkin lelaki yang pernah berjanji melindungiku justru membantu seseorang melanggar privasiku?

Pagi berikutnya, aku berpura-pura tidak mengetahui apa pun.

Aku tersenyum ketika Don Roberto mengajakku sarapan.

Aku bahkan mengangguk ketika Marco mengatakan bahwa kami harus menghadiri acara ulang tahun perusahaan ayahnya pada akhir pekan.

Acara itu akan diselenggarakan di sebuah hotel mewah di Jakarta Pusat.

Lebih dari seratus tamu diundang, termasuk rekan bisnis, keluarga, dan sejumlah tokoh masyarakat.

Don Roberto akan menerima penghargaan dari sebuah yayasan atas kontribusinya dalam pemberdayaan perempuan.

Mendengar hal itu, aku hampir tertawa.

Lelaki yang diam-diam memasang kamera untuk mengawasi menantunya justru akan dipuji sebagai pendukung perlindungan perempuan.

Namun, aku belum siap bertindak tanpa bukti yang kuat.

Dengan bantuan Nisa, aku menghubungi seorang pengacara bernama Ratna Prameswari.

Setelah mendengar ceritaku dan melihat bukti awal, Ratna menyarankan agar aku segera meninggalkan rumah tersebut bersama Leo.

“Kamu tidak perlu menunggu sampai sesuatu yang lebih buruk terjadi,” katanya.

Aku mengangguk.

Namun, aku juga ingin memastikan bahwa bukti yang kami miliki tidak menghilang.

Kami membuat laporan kepada polisi dan menyerahkan foto perangkat, catatan penemuan, serta salinan rekaman yang relevan.

Petugas menjelaskan bahwa pemeriksaan forensik diperlukan untuk mengetahui siapa yang mengakses kamera dan bagaimana rekamannya digunakan.

Sementara proses itu berjalan, aku dan Leo pindah diam-diam ke apartemen Nisa.

Ketika Marco mengetahui kami pergi, dia meneleponku puluhan kali.

“Clara, pulang sekarang!”

“Aku tidak akan kembali.”

“Kamu membawa anakku tanpa izin!”

“Leo juga anakku, Marco. Dan aku membawanya ke tempat yang aman.”

“Kamu mau menghancurkan keluarga kita?”

Aku terdiam beberapa detik.

“Lalu apa yang kamu lakukan ketika membiarkan ayahmu mengawasiku?”

Telepon langsung sunyi.

Setelah itu, Marco mulai menangis.

“Clara, aku terpaksa.”

“Tidak ada yang memaksamu memasang kamera di kamar istrimu.”

“Papa mengancam akan membiarkan perusahaanku bangkrut.”

“Jadi kamu menjual privasiku untuk menyelamatkan perusahaanmu?”

Dia tidak menjawab.

Aku memutus sambungan telepon.

Dua hari sebelum acara penghargaan, Helena menghubungiku menggunakan nomor yang tidak kukenal.

“Clara, Mama perlu bertemu.”

Kami bertemu di sebuah kafe kecil di kawasan Tebet.

Ketika melihatku, Helena langsung menangis.

Wajahnya tampak jauh lebih tua daripada terakhir kali kami bertemu.

“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui,” katanya.

Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama dan sebuah foto perempuan muda.

“Namanya Maya,” ujar Helena.

“Siapa dia?”

“Dulu dia bekerja sebagai asisten rumah tangga kami. Umurnya baru dua puluh satu tahun.”

Aku memperhatikan foto tersebut.

Perempuan itu tersenyum sambil menggendong bayi.

“Dia juga pernah mengalami hal yang sama seperti kamu.”

Dadaku terasa sesak.

Helena menjelaskan bahwa tujuh tahun sebelumnya, Maya pernah menemukan kamera tersembunyi di kamar tempatnya beristirahat.

Ketika Maya memprotes, Don Roberto menuduhnya mencuri barang berharga.

Maya kehilangan pekerjaannya.

Keluarganya kemudian menerima sejumlah uang dengan syarat tidak memperpanjang persoalan tersebut.

“Kenapa Mama tidak menolongnya?” tanyaku.

Helena menunduk.

“Karena Mama takut. Roberto mengancam akan mengambil semuanya, termasuk hak Mama untuk bertemu Marco.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Selama bertahun-tahun, Mama mengira diam akan membuat semuanya berhenti. Ternyata Mama salah.”

Aku membuka dokumen dalam amplop.

Ada salinan surat pernyataan Maya, bukti transfer uang, dan catatan tertulis mengenai ancaman yang pernah diterimanya.

“Kenapa Mama baru memberikan ini sekarang?”

Helena menatap Leo yang tertidur dalam gendonganku.

“Karena Mama tidak mau cucu Mama tumbuh besar dan belajar bahwa perempuan harus diam ketika diperlakukan tidak pantas.”

Aku menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ibu mertuaku bukan sebagai perempuan dingin yang selalu menghindar, melainkan seseorang yang telah hidup terlalu lama dalam ketakutan.

Bersama Ratna, kami menghubungi Maya.

Kini dia tinggal di Bogor dan memiliki usaha katering kecil.

Awalnya dia menolak berbicara.

Namun, setelah mengetahui ada perempuan lain yang mengalami kejadian serupa, dia bersedia memberikan keterangannya kepada penyidik.

Sementara itu, penyelidikan terhadap perangkat kamera mulai menunjukkan perkembangan.

Berdasarkan pemeriksaan awal, perangkat di kamar kami terhubung dengan akun yang menggunakan alamat surel milik perusahaan Marco.

Aksesnya tidak hanya berasal dari ponsel Marco.

Ada perangkat lain yang terhubung dari ruang kerja Don Roberto.

Aku merasa dunia kembali runtuh.

Tetapi kali ini, aku tidak menangis.

Aku marah.

Dan kemarahanku membuatku semakin yakin bahwa aku tidak boleh mundur.

Pada malam acara penghargaan, aku datang ke hotel bersama Ratna dan Helena.

Leo kutitipkan kepada Nisa di apartemennya.

Aku mengenakan gaun biru tua sederhana dengan rambut diikat rapi.

Ketika memasuki ruang acara, beberapa tamu langsung menoleh.

Marco berdiri di dekat panggung.

Wajahnya pucat ketika melihatku.

“Clara? Kamu sedang apa di sini?”

“Aku diundang sebagai anggota keluarga, bukan?”

Dia menarik lenganku.

“Kita bicara di luar.”

Aku melepaskan tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Di atas panggung, Don Roberto sedang menerima penghargaan.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Pembawa acara memujinya sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai keluarga dan martabat perempuan.

Aku menatap lelaki itu.

Dia tersenyum lebar sambil mengangkat plakat penghargaan.

Beberapa menit kemudian, ketika sesi tanya jawab dimulai, aku berdiri.

“Maaf, saya ingin mengajukan satu pertanyaan kepada Pak Roberto.”

Ruangan perlahan menjadi sunyi.

Don Roberto melihatku.

Senyumnya menghilang sesaat, tetapi segera kembali.

“Tentu, Clara. Silakan.”

Aku mengambil mikrofon yang diberikan panitia.

“Menurut Bapak, apakah seorang perempuan berhak memiliki privasi di rumahnya sendiri?”

Beberapa tamu saling berpandangan.

Don Roberto tertawa kecil.

“Tentu saja. Setiap perempuan berhak dihormati.”

“Termasuk ketika sedang menyusui anaknya?”

Senyumnya membeku.

Marco bergerak mendekat.

“Clara, cukup.”

Aku melanjutkan.

“Apakah seorang ayah mertua berhak mengawasi menantunya melalui kamera tersembunyi di kamar tidur?”

Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.

Don Roberto meletakkan plakatnya.

“Apa maksudmu?”

Aku mengangkat sebuah map.

“Saya menemukan kamera tersembunyi di kamar saya. Saya juga memiliki bukti bahwa perangkat tersebut terhubung dengan akun perusahaan anak Bapak.”

Marco mencoba merebut mikrofonku, tetapi Ratna segera berdiri di sampingku.

“Saya kuasa hukum Ibu Clara,” katanya tegas. “Kami telah membuat laporan resmi. Bukti elektronik telah diserahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.”

Don Roberto menunjukku dengan wajah merah.

“Perempuan ini sedang memfitnah keluarga saya!”

Saat itulah Helena berdiri dari kursinya.

“Tidak, Roberto.”

Semua orang menoleh.

Helena berjalan perlahan menuju panggung.

“Aku sudah terlalu lama diam.”

Wajah Don Roberto berubah.

“Helena, duduk!”

Namun, istrinya tidak berhenti.

“Aku tahu tentang Maya. Aku tahu tentang kamera-kamera itu. Dan aku tahu kamu mengancam Marco menggunakan utang perusahaannya.”

Ruangan mendadak hening.

Helena menatap para tamu.

“Saya tidak meminta siapa pun langsung mempercayai kami. Semua bukti sudah diserahkan kepada pihak berwenang. Tetapi saya tidak akan lagi membantu suami saya menutupi apa yang terjadi.”

Don Roberto melangkah turun dari panggung.

“Kamu akan menyesali ini!”

Helena menatapnya tanpa gentar.

“Mungkin. Tapi aku lebih menyesal karena tidak melakukan ini tujuh tahun lalu.”

Beberapa tamu mulai mengeluarkan ponsel.

Panitia segera menghentikan acara dan meminta semua orang tetap tenang.

Aku tidak memperlihatkan rekaman pribadiku kepada siapa pun.

Ratna telah mengingatkanku bahwa membuktikan pelanggaran tidak berarti aku harus membiarkan tubuh dan privasiku kembali menjadi tontonan.

Namun, kejutan terbesar malam itu belum terjadi.

Marco tiba-tiba mengambil mikrofon lain.

“Semua ini memang benar.”

Aku menatapnya.

Don Roberto membeku.

Marco terlihat gemetar.

“Aku yang memasang kamera di kamar kami. Papa memintaku melakukannya.”

Terdengar seruan terkejut dari para tamu.

Marco menunduk.

“Aku takut kehilangan perusahaan. Aku takut semua utangku jatuh tempo. Aku pikir selama Clara tidak tahu, semuanya akan baik-baik saja.”

Air matanya jatuh.

“Tapi aku salah.”

Don Roberto berteriak memanggil namanya.

Marco tidak menoleh.

“Aku sudah menyerahkan akses akun dan pesan-pesan dari Papa kepada penyidik.”

Aku tidak tahu apakah pengakuan itu lahir dari penyesalan atau karena dia menyadari kebohongannya tidak mungkin dipertahankan.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari jawabannya.

Beberapa minggu kemudian, penyidikan berkembang.

Pemeriksaan forensik menguatkan adanya akses tidak sah terhadap rekaman pribadi dari kamar kami.

Maya juga memberikan keterangan mengenai pengalaman lamanya.

Don Roberto dan Marco harus menjalani proses hukum atas dugaan keterlibatan mereka masing-masing.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Marco beberapa kali meminta kesempatan kedua.

Dia mengirim pesan panjang, bunga, dan surat tulisan tangan.

Dalam salah satu suratnya, dia menulis bahwa dirinya masih mencintaiku.

Aku membalas dengan satu kalimat.

“Cinta yang membiarkan seseorang dipermalukan demi uang bukanlah cinta yang ingin kuajarkan kepada anakku.”

Enam bulan kemudian, aku kembali bekerja.

Aku menyewa rumah kecil di Depok, tidak jauh dari tempat penitipan anak yang terpercaya.

Rumah itu tidak memiliki lantai marmer, lampu kristal, atau pagar setinggi tiga meter.

Tetapi setiap malam, aku bisa tidur tanpa takut seseorang mengawasi dari balik dinding.

Helena sesekali datang menjenguk Leo.

Dia telah berpisah dari Don Roberto dan mulai membangun kehidupannya sendiri.

Suatu sore, ketika kami duduk di teras, Helena menyerahkan sebuah amplop putih kepadaku.

“Apa ini, Ma?”

“Surat dari Maya.”

Aku membukanya perlahan.

Di dalamnya ada foto Maya bersama suami dan kedua anaknya.

Di belakang foto tertulis pesan singkat.

“Terima kasih karena sudah berani bersuara. Selama tujuh tahun, saya merasa malu atas sesuatu yang bukan kesalahan saya. Sekarang saya tahu bahwa saya tidak pernah pantas diperlakukan seperti itu.”

Aku membaca tulisan itu berkali-kali.

Mataku berkaca-kaca.

Helena menyentuh bahuku.

“Kamu tahu, Clara? Dulu Mama selalu mengira perempuan kuat adalah perempuan yang bisa bertahan menghadapi apa pun.”

Aku menoleh kepadanya.

“Sekarang Mama tahu, kadang perempuan paling kuat justru yang berani pergi.”

Aku tersenyum.

Dari dalam rumah terdengar suara Leo tertawa bersama Nisa.

Aku segera menghampirinya.

Anakku kini sudah bisa duduk sendiri dan mulai belajar mengucapkan kata-kata sederhana.

Ketika melihatku, dia mengulurkan kedua tangannya.

“Mama.”

Aku mengangkatnya dan memeluknya erat.

Dulu, aku pernah menganggap diriku terlalu sensitif karena merasa tidak nyaman dengan tatapan ayah mertuaku.

Aku pernah meminta maaf karena mengunci pintu.

Aku bahkan pernah merasa bersalah karena ingin menyusui anakku tanpa diawasi.

Sekarang aku memahami sesuatu yang seharusnya sudah kuketahui sejak awal.

Menjadi bagian dari sebuah keluarga tidak membuat seseorang kehilangan hak atas tubuh, privasi, dan rasa aman.

Dan tidak ada kekayaan, jabatan, ataupun hubungan darah yang memberikan seseorang hak untuk melanggar batas tersebut.

Malam itu, setelah Leo tertidur, aku menutup tirai kamar dan mematikan lampu.

Tidak ada rasa takut.

Tidak ada suara langkah kaki yang membuatku menahan napas.

Tidak ada lagi kebutuhan untuk menjelaskan mengapa aku ingin merasa aman.

Aku hanya seorang ibu muda yang akhirnya memiliki kembali kehidupannya.

Sebelum tidur, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

“Bu Clara, saya mantan pegawai keluarga Wijaya. Saya mendengar apa yang terjadi. Saya juga punya sesuatu yang ingin saya ceritakan.”

Aku membaca pesan itu dengan jantung berdebar.

Lalu sebuah foto lama muncul di layar.

Foto lima perempuan muda berdiri di depan rumah megah Don Roberto.

Di bagian belakang foto, seseorang telah menuliskan tanggal dari sepuluh tahun sebelumnya.

Salah satu perempuan dalam foto itu adalah Maya.

Empat lainnya belum pernah kulihat.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

“Bu Clara, Maya bukan orang pertama. Dan saya rasa Ibu perlu mengetahui siapa yang selama ini membantu Pak Roberto memilih perempuan-perempuan itu.”

Aku duduk tegak.

Nama yang muncul pada pesan berikutnya membuat tanganku gemetar.

Itu bukan nama Don Roberto.

Bukan pula Marco.

Melainkan nama seseorang yang selama ini kuanggap sebagai satu-satunya orang di keluarga itu yang benar-benar berada di pihakku.

Helena Wijaya.

Aku menatap pintu kamar Leo yang tertutup.

Lalu menatap layar ponselku sekali lagi.

Perjuanganku ternyata belum benar-benar selesai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang