Setelah pernikahanku dibatalkan secara hukum, aku membawa putriku kembali ke rumah ibu. Kami tinggal di sana selama tiga tahun yang panjang.

“Rumah baru itu untuk adik laki-lakimu. Bukan untukmu.”

Kalimat ibu membuatku terdiam begitu lama hingga suara palu para tukang di luar terdengar seperti dentuman yang menghantam dadaku.

Aku menatap perempuan yang telah melahirkanku itu. Selama tiga tahun, aku memandikannya ketika kakinya patah, menyuapinya ketika tangannya gemetar, dan membawanya bolak-balik ke rumah sakit. Bahkan ketika pekerjaanku menumpuk, aku tetap memastikan obatnya tidak pernah terlambat diminum.

Namun, di matanya, semua pengorbanan itu ternyata tidak cukup untuk membuatku dianggap sebagai bagian dari keluarga.

“Kalau begitu, Bu, selama tiga tahun ini aku sebenarnya dianggap apa?”

Ibu tidak menjawab.

“Anak perempuan yang pulang untuk merawat orang tuanya, atau pembantu yang kebetulan tidak perlu digaji?”

Wajah ibu berubah merah.

“Jaga mulutmu, Rina! Jangan mentang-mentang punya sedikit uang, kamu merasa bisa mengatur keluarga ini!”

Aku tersenyum pahit.

Sedikit uang.

Tiga ratus juta rupiah yang kuberikan untuk membangun rumah itu ternyata hanya dianggap sedikit uang.

Aku menarik napas panjang.

“Baik, Bu. Sekarang aku mengerti.”

Aku berbalik dan berjalan keluar.

Di halaman, Nina masih berdiri sambil memegangi lengannya yang terkena lemparan batu. Ada bekas kemerahan di kulitnya.

Melihatku datang, dia langsung berlari menghampiri.

“Mama, kita boleh pulang sekarang?”

Aku berjongkok dan memeluknya.

“Boleh, Sayang. Kita pulang ke rumah kita sendiri.”

Joy yang mendengar perkataanku langsung tertawa.

“Memangnya kamu punya rumah? Jangan-jangan mau menumpang di rumah teman lagi!”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menggandeng Nina menuju kamar, mengambil dua koper besar, lalu mulai memasukkan pakaian kami.

Tidak sampai tiga puluh menit, semua barang penting sudah siap.

Ketika aku menyeret koper melewati ruang tamu, Jun-Jun baru saja pulang bekerja.

Dia mengernyit melihat barang bawaan kami.

“Kak, mau ke mana?”

“Pulang ke Jakarta.”

Jun-Jun menatap istrinya, lalu kembali memandangku.

“Kenapa mendadak begitu?”

Belum sempat aku menjawab, Joy sudah menyela.

“Kakakmu ngambek karena tidak kebagian kamar. Padahal rumah ini memang untuk kita.”

Jun-Jun menghela napas.

“Kak, jangan kekanak-kanakan. Kakak kan sudah pernah menikah. Wajar kalau rumah orang tua nantinya jadi tanggung jawab anak laki-laki.”

Aku menatap adikku lekat-lekat.

“Jun, kamu tahu berapa biaya pembangunan rumah ini?”

“Tahu. Sekitar tiga ratus lima puluh juta. Bapak dan Ibu bilang mereka pakai tabungan.”

Aku mengangguk pelan.

“Begitu rupanya.”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Saat itulah ayah muncul dari belakang rumah. Bajunya masih penuh tanah, wajahnya tampak lelah.

“Rina, kenapa bawa koper?”

Aku mendekatinya.

“Pak, aku dan Nina mau kembali ke Jakarta.”

Ayah tampak terkejut.

“Lalu siapa yang akan mengurus ibu?”

Pertanyaan itu membuat hatiku semakin dingin.

Bukan mengapa aku pergi.

Bukan apakah aku baik-baik saja.

Melainkan siapa yang akan mengurus ibu.

Aku menjawab dengan tenang.

“Mulai sekarang, biar Jun-Jun dan Joy yang mengurus Bapak dan Ibu.”

Joy langsung menyahut.

“Memang seharusnya begitu! Kami kan yang akan tinggal di rumah baru!”

Aku mengangguk.

“Bagus. Semoga kalian benar-benar menepati perkataan itu.”

Sore itu, aku membawa Nina pergi tanpa menoleh lagi.

Di dalam mobil, putriku tiba-tiba bertanya dengan suara kecil.

“Mama, apa Nenek sudah tidak sayang sama kita?”

Tanganku mencengkeram kemudi.

Aku menepi sebentar, lalu menatap wajahnya.

“Sayang, kadang orang dewasa melakukan kesalahan. Tapi itu bukan berarti kamu tidak pantas disayangi.”

Nina mengangguk, meskipun matanya masih berkaca-kaca.

“Kalau begitu, kita jangan kembali ke sana dulu, ya, Ma.”

Aku memeluknya erat.

“Iya. Mama janji.”

Perjalanan menuju Jakarta memakan waktu beberapa jam.

Ketika mobil memasuki kawasan apartemen di Jakarta Selatan, Nina mulai terlihat bersemangat.

“Mama! Kita ke rumah yang ada kolam renangnya?”

Aku tersenyum.

“Iya, Sayang.”

Apartemen itu kubeli lima tahun lalu, sebelum pernikahanku berakhir.

Aku bekerja sebagai konsultan keuangan untuk beberapa perusahaan besar. Sebagian pekerjaanku bisa dilakukan secara daring, sehingga selama tinggal di kampung, aku tetap memiliki penghasilan yang cukup besar.

Aku tidak pernah menceritakan keadaan keuanganku kepada keluarga.

Bukan karena ingin menyembunyikan kekayaan, melainkan karena aku tidak ingin hubungan kami diukur berdasarkan uang.

Ternyata, diamku justru membuat mereka menganggapku tidak memiliki apa-apa.

Malam itu, setelah Nina tertidur, aku membuka laptop.

Aku memeriksa seluruh transaksi yang pernah kukirim kepada ibu.

Biaya pengobatan.

Belanja bulanan.

Uang sekolah keponakanku.

Perbaikan rumah.

Dan transfer tiga ratus juta rupiah untuk pembangunan rumah baru.

Aku menghitung semuanya.

Selama tiga tahun, lebih dari enam ratus juta rupiah telah kukeluarkan untuk keluarga.

Aku menatap angka itu lama sekali.

Kemudian aku membuka percakapan terakhir dengan ibu.

Ada pesan yang dikirimnya dua minggu sebelumnya.

“Rina, uang pembangunan sudah Ibu terima. Terima kasih, Nak. Semoga kebaikanmu dibalas Tuhan.”

Aku menyimpan tangkapan layar pesan itu.

Bukan untuk membalas dendam.

Aku hanya merasa sudah waktunya berhenti membiarkan orang lain menghapus pengorbananku seolah semuanya tidak pernah terjadi.

Keesokan paginya, aku menghubungi pemilik rumah kontrakan yang sebelumnya sudah kusewa.

Aku menjelaskan bahwa keluargaku membatalkan rencana pindah dan meminta pengembalian uang sesuai ketentuan perjanjian.

Setelah itu, aku menghubungi pihak sekolah keponakanku.

Aku meminta agar pembayaran otomatis dari rekeningku dihentikan mulai semester berikutnya.

Kepala sekolah sempat terkejut.

“Bu Rina, apakah ada masalah?”

“Tidak, Bu. Mulai sekarang biaya pendidikan anak tersebut akan ditanggung langsung oleh orang tuanya.”

Aku juga menghentikan transfer bulanan untuk kebutuhan rumah.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku membiarkan rekeningku tetap utuh.

Dua minggu berlalu dengan tenang.

Nina mulai bersekolah di Jakarta. Aku kembali bekerja dari kantor dan menghabiskan akhir pekan bersamanya.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Suatu malam, teleponku berdering.

Nama Jun-Jun muncul di layar.

Aku mengangkatnya.

“Kak, kenapa uang sekolah Dimas belum dibayar?”

Aku menatap jam dinding.

“Karena mulai sekarang kamu yang membayarnya.”

“Tapi biasanya Kakak yang bayar!”

“Benar. Biasanya. Sekarang tidak lagi.”

Jun-Jun terdengar kesal.

“Kakak tega sekali. Dimas bisa dikeluarkan dari sekolah!”

“Jun, Dimas anakmu. Tanggung jawab pendidikannya ada padamu dan Joy.”

“Kakak kan punya penghasilan lebih besar!”

Aku terdiam sesaat.

“Dan karena itu, menurutmu aku wajib membiayai keluargamu selamanya?”

Jun-Jun tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Selama tiga tahun aku membantu karena aku menyayangi kalian. Tapi bantuan bukan kewajiban yang boleh kalian tuntut.”

Telepon langsung diputus.

Keesokan harinya, Joy mengirimkan pesan panjang berisi hinaan.

Dia menuduhku iri karena rumah baru akan menjadi milik mereka.

Aku tidak membalas.

Sebulan kemudian, ibu menelepon.

Suaranya terdengar lemah.

“Rina, kenapa uang belanja bulan ini belum kamu kirim?”

Aku memejamkan mata.

“Bu, bukankah Ibu bilang Joy yang akan merawat Ibu dan Bapak?”

“Joy sedang sibuk mengurus anak. Jun-Jun juga gajinya kecil.”

“Kalau begitu, bicarakan dengan mereka, Bu.”

Ibu mendadak meninggikan suara.

“Kamu benar-benar mau membiarkan orang tuamu kelaparan?”

Aku merasakan luka lama kembali terbuka.

“Bu, selama ini aku tidak pernah membiarkan Ibu kekurangan. Tapi Ibu sendiri yang mengatakan bahwa aku bukan bagian dari rumah itu lagi.”

“Itu cuma perkataan saat marah!”

“Sayangnya, Bu, Nina mendengar semuanya.”

Ibu terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Anakku dilempari batu dan disebut benalu di depan mata Ibu. Tidak seorang pun membelanya.”

“Rina…”

“Aku masih anak Ibu. Aku tidak akan membiarkan Ibu dan Bapak kelaparan. Tapi aku tidak akan lagi membiayai seluruh keluarga Jun-Jun.”

Aku kemudian mengatur pengiriman kebutuhan pokok langsung untuk kedua orang tuaku melalui toko langganan di kampung.

Aku juga bersedia membayar obat dan pemeriksaan kesehatan mereka.

Namun, aku tidak mengirim uang tunai.

Keputusan itu ternyata membuat Joy semakin marah.

Dua bulan kemudian, sebuah kejadian yang tidak pernah kuduga terjadi.

Aku sedang menghadiri rapat ketika mendapat telepon dari nomor tak dikenal.

“Selamat siang, apakah benar ini dengan Ibu Rina?”

“Benar.”

“Saya Hendra, mandor pembangunan rumah orang tua Ibu. Maaf mengganggu, tapi saya perlu menanyakan sesuatu.”

Aku langsung merasa tidak enak.

“Ada apa, Pak?”

“Pembangunan sudah berhenti hampir tiga minggu. Kami belum menerima pembayaran tahap berikutnya.”

Aku mengernyit.

“Bukankah uang pembangunan sudah saya berikan seluruhnya?”

Pak Hendra terdiam.

“Seluruhnya, Bu?”

“Ya. Tiga ratus juta rupiah.”

Suara di seberang terdengar semakin ragu.

“Maaf, Bu. Setahu saya, uang yang masuk untuk pembangunan baru seratus delapan puluh juta. Itu pun dibayarkan bertahap.”

Jantungku berdegup keras.

“Lalu sisanya?”

“Itulah yang ingin saya tanyakan. Ibu Rina, kemarin Bu Joy bilang uangnya sudah habis karena harga material naik. Tapi setelah saya periksa, ada beberapa pembayaran yang belum diselesaikan.”

Aku meminta Pak Hendra mengirimkan rincian seluruh pengeluaran.

Malam itu, aku mempelajari dokumen yang dikirimnya.

Ada sesuatu yang janggal.

Biaya material memang meningkat, tetapi tidak sampai sebesar yang dikatakan Joy.

Lebih mengejutkan lagi, beberapa kuitansi yang diberikan kepada ibu ternyata tidak sesuai dengan catatan toko bangunan.

Aku menghubungi pemilik toko untuk memastikan.

Hasilnya membuatku terdiam.

Sebagian kuitansi telah diubah.

Dua hari kemudian, aku mendapat informasi lain.

Joy ternyata baru saja membeli sebuah mobil bekas seharga hampir seratus juta rupiah.

Mobil itu didaftarkan atas namanya sendiri.

Aku mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, aku tidak langsung menuduh siapa pun.

Aku meminta seorang pengacara kenalanku membantu memeriksa dokumen dan menelusuri transaksi yang bisa dibuktikan secara sah.

Seminggu kemudian, ayah menelepon.

Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar putus asa.

“Rina, Bapak boleh datang ke Jakarta?”

Aku langsung menjawab.

“Tentu, Pak.”

Ayah tiba keesokan harinya dengan membawa tas kecil.

Tubuhnya terlihat lebih kurus daripada terakhir kali aku melihatnya.

Ketika duduk di ruang tamuku, dia memandangi apartemen itu dengan mata terbelalak.

“Ini rumahmu, Nak?”

Aku mengangguk.

“Sudah lama, Pak.”

Ayah menunduk.

“Bapak tidak tahu.”

Aku mengambilkan air minum.

“Bapak datang karena apa?”

Tangannya gemetar ketika mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas.

“Rumah itu… hampir tidak bisa dilanjutkan pembangunannya.”

Aku sudah menduganya.

Namun, perkataan ayah berikutnya membuatku terkejut.

“Jun-Jun meminjam uang dari koperasi dengan jaminan tanah di belakang rumah. Bapak baru tahu setelah petugas datang menagih.”

Aku menatapnya.

“Tanah siapa, Pak?”

“Tanah warisan kakek yang selama ini Bapak kelola.”

Aku menarik napas dalam.

“Apakah Bapak menandatangani surat pinjaman?”

Ayah mengangguk lemah.

“Jun-Jun bilang itu hanya dokumen untuk mengurus izin pembangunan. Bapak tidak membaca semuanya.”

Aku segera memeriksa dokumen yang dibawanya.

Ternyata ada perjanjian pinjaman yang ditandatangani ayah, dengan Jun-Jun sebagai pihak yang menerima manfaat dana.

Aku langsung menghubungi pengacaraku untuk meminta pemeriksaan lebih lanjut.

Ayah menatapku dengan mata merah.

“Rina, Bapak salah.”

Aku diam.

“Bapak tahu kamu yang membiayai rumah itu.”

Aku mengangkat wajah.

“Jadi Bapak tahu?”

Ayah mengangguk.

“Ibumu pernah memberitahu Bapak. Tapi dia meminta Bapak diam supaya Jun-Jun tidak merasa rendah diri.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi selama ini Bapak tahu aku yang membayar semuanya, tapi Bapak tetap membiarkan mereka mengusirku?”

Air mata mengalir di pipi ayah.

“Bapak pengecut, Nak.”

Itulah pertama kalinya aku mendengar ayah mengakui kesalahannya.

Dia tidak mencari alasan.

Tidak menyalahkan ibu.

Tidak pula meminta uang.

Dia hanya menunduk dan menangis.

Aku mengambil tisu dan meletakkannya di dekat tangannya.

“Pak, aku tidak membenci Bapak. Tapi aku benar-benar kecewa.”

Ayah mengangguk.

“Bapak tahu.”

Beberapa hari kemudian, aku pulang ke kampung bersama ayah.

Bukan untuk kembali tinggal di sana.

Aku datang untuk menyelesaikan masalah yang selama ini sengaja disembunyikan.

Di ruang tamu sementara, ibu, Jun-Jun, dan Joy sudah menunggu.

Begitu melihatku, Joy langsung menyindir.

“Wah, akhirnya pulang juga. Sudah puas hidup mewah di Jakarta?”

Aku duduk tanpa menjawab sindirannya.

Pengacaraku kemudian meletakkan sejumlah dokumen di meja.

Jun-Jun langsung terlihat gelisah.

“Apa-apaan ini, Kak?”

Aku menatapnya.

“Aku ingin tahu ke mana perginya uang pembangunan rumah.”

Joy tertawa sinis.

“Uang apa? Itu uang Bapak dan Ibu!”

Aku mengeluarkan bukti transfer.

“Tiga ratus juta rupiah. Dikirim dari rekeningku ke rekening Ibu.”

Wajah Jun-Jun berubah pucat.

Dia menoleh kepada ibu.

“Bu, bukannya Ibu bilang itu tabungan keluarga?”

Ibu menunduk.

Joy merebut kertas itu.

“Transfer tidak membuktikan uang itu untuk rumah!”

Aku mengangguk.

“Benar. Karena itu, ada juga pesan Ibu yang menyebutkan tujuan transfer, catatan pembayaran tukang, serta rincian pembelian material.”

Pengacaraku menjelaskan bahwa semua dokumen perlu diperiksa lebih lanjut sebelum tanggung jawab hukum dapat ditentukan.

Aku kemudian memandang Joy.

“Aku juga ingin bertanya tentang kuitansi material yang nilainya berbeda dengan catatan toko.”

Wajah Joy langsung menegang.

“Aku tidak tahu apa-apa!”

“Kalau begitu, kita bisa meminta pihak terkait menjelaskannya.”

Jun-Jun tiba-tiba membentak istrinya.

“Joy! Kamu bilang semua uang sudah dipakai untuk rumah!”

Joy mulai menangis.

“Aku cuma meminjam sebagian! Aku pikir nanti bisa dikembalikan!”

Ruangan mendadak sunyi.

Ibu menatap menantunya dengan wajah tidak percaya.

“Jadi mobil itu kamu beli pakai uang pembangunan?”

Joy tidak menjawab.

Jun-Jun terduduk lemas.

Aku memandang mereka satu per satu.

“Aku tidak datang untuk mempermalukan siapa pun. Tapi uang yang kuberikan untuk membangun tempat tinggal orang tua kita tidak boleh digunakan diam-diam untuk kepentingan pribadi.”

Joy menunduk.

Setelah melalui pembicaraan panjang, Jun-Jun dan Joy akhirnya menyetujui pemeriksaan seluruh transaksi serta rencana pengembalian dana yang terbukti digunakan di luar keperluan pembangunan.

Masalah pinjaman ayah juga ditangani secara terpisah bersama pihak koperasi.

Aku tidak mengambil alih utang itu.

Untuk pertama kalinya, aku membiarkan Jun-Jun menghadapi konsekuensi dari keputusan yang dibuatnya sendiri.

Sebelum pulang, ibu menghampiriku di halaman.

“Rina, apa kamu masih marah pada Ibu?”

Aku menatap wajahnya yang kini terlihat jauh lebih tua.

“Aku sudah tidak ingin marah, Bu.”

Mata ibu berkaca-kaca.

“Kalau begitu, maukah kamu kembali tinggal di sini?”

Aku menggeleng.

“Tidak, Bu.”

Air mata ibu jatuh.

“Kenapa? Ini tetap rumahmu.”

Aku tersenyum sedih.

“Dulu aku juga berpikir begitu.”

Ibu terdiam.

Aku melanjutkan.

“Rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat seseorang merasa diterima, bahkan ketika hidupnya sedang berantakan.”

Aku menoleh ke arah Nina yang menunggu di dekat mobil.

“Ketika pernikahanku gagal, aku pulang karena mengira keluarga akan menjadi tempat paling aman untukku dan anakku.”

Suaraku mulai bergetar.

“Ternyata justru di sini anakku belajar bagaimana rasanya dianggap tidak diinginkan.”

Ibu menangis semakin keras.

Aku menggenggam tangannya sebentar.

“Aku tetap akan memperhatikan kesehatan Ibu dan Bapak. Tapi aku tidak akan mengorbankan ketenangan Nina lagi.”

Enam bulan kemudian, pembangunan rumah akhirnya selesai setelah Jun-Jun dan Joy menjual mobil mereka serta mengatur ulang keuangan keluarga.

Rumah itu tidak semewah rencana semula, tetapi cukup nyaman untuk ditempati.

Ayah mengirimkan fotonya kepadaku.

Dalam pesan berikutnya, dia menulis bahwa ada satu kamar yang sengaja dibiarkan kosong.

Katanya, ibu ingin menyiapkan kamar itu untukku dan Nina jika suatu hari kami berkunjung.

Aku membaca pesan tersebut sambil duduk di balkon apartemen.

Nina sedang mengerjakan tugas sekolah di meja kecil.

Tiba-tiba dia menghampiriku.

“Mama, Nenek kirim pesan?”

Aku mengangguk.

“Nenek bilang sekarang ada kamar untuk kita di rumah kampung.”

Nina berpikir sebentar.

“Lalu kita harus pindah ke sana?”

“Tidak, Sayang. Kita tetap tinggal di sini.”

Dia tersenyum lega, lalu memeluk pinggangku.

“Bagus. Soalnya aku suka rumah kita.”

Aku mengusap rambutnya.

“Kenapa?”

Nina mendongak dan menjawab dengan polos.

“Karena di sini Mama selalu tersenyum.”

Aku terdiam.

Selama bertahun-tahun, aku mengira menjadi anak yang baik berarti harus selalu mengalah, selalu memberi, dan selalu bertahan meskipun terluka.

Namun, dari putriku yang baru berusia enam tahun, aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini kulupakan.

Kebahagiaan seorang ibu juga merupakan bagian dari kebahagiaan anaknya.

Malam itu, sebelum tidur, aku menerima satu pesan lagi dari ibu.

“Rina, Ibu sudah menyimpan sebuah kamar untukmu. Kali ini tidak akan ada yang mengusirmu.”

Aku menatap layar cukup lama.

Kemudian aku membalas.

“Terima kasih, Bu. Suatu hari kami akan berkunjung.”

Aku berhenti sejenak sebelum mengetik kalimat terakhir.

“Tapi Ibu tidak perlu lagi menyiapkan kamar untukku. Aku sudah menemukan rumah tempat aku dan Nina benar-benar merasa dicintai.”

Setelah mengirim pesan itu, aku meletakkan ponsel dan mematikan lampu.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahanku berakhir, aku tidak lagi merasa seperti perempuan yang kehilangan keluarga.

Aku hanya seorang ibu yang akhirnya berhasil membangun kehidupan baru bersama putrinya.

Dan aku menyadari satu hal yang jauh lebih berharga daripada rumah besar atau warisan keluarga.

Aku tidak perlu terus membayar mahal hanya untuk mendapatkan tempat di hati orang-orang yang seharusnya mencintaiku tanpa syarat.

Sebab terkadang, keberanian terbesar bukanlah bertahan di rumah yang terus melukai kita.

Melainkan melangkah pergi, menutup pintunya dengan tenang, dan membangun rumah baru yang tidak akan pernah membuat anak kita merasa seperti orang asing.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang