ISTRUKU YANG SEDANG HAMIL TIBA-TIBA MEMUKUL KEPALAKU DENGAN SAPU SAAT AKU SANTAI MENONTON TV! KATANYA, WAJAHKU MIRIP NYAMUK RAKSASA YANG MEMBUATNYA KESAL! TAPI BEBERAPA DETIK KEMUDIAN, DIA MALAH MENANGIS DAN MEMINTA MAAF!

Aku tidak pernah menyangka bahwa sebuah sapu lidi bisa menjadi awal dari kejadian paling menegangkan dalam kehidupan rumah tanggaku.

Semuanya bermula pada suatu Minggu sore, ketika aku sedang duduk santai di sofa sambil menonton berita. Istriku, Rina, sedang hamil tujuh bulan. Sejak memasuki trimester kedua, tingkah lakunya memang semakin sulit ditebak.

Pernah suatu malam dia membangunkanku pukul dua dini hari hanya karena ingin makan mangga muda yang dicocol sambal terasi. Pernah juga dia menangis gara-gara melihat iklan makanan kucing di televisi.

Namun, kejadian sore itu benar-benar di luar perkiraanku.

PLAAAK!

Sesuatu menghantam bagian belakang kepalaku.

Aku terlonjak dari sofa sambil memegangi kepala.

“Aduh! Astaga! Siapa yang mukul?”

Ketika menoleh, kulihat Rina berdiri dengan sapu lidi di tangan. Wajahnya cemberut, matanya menatapku penuh kekesalan.

“Mas Dimas! Aku kesal banget lihat kamu!”

Aku melongo.

“Lho, aku salah apa? Dari tadi cuma nonton TV!”

“Justru itu! Kamu duduk di situ, gerak-gerak terus! Mukamu mirip nyamuk gede!”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Nyamuk?”

“Iya! Nyamuk! Hidungmu itu bikin aku geregetan. Rasanya pengin kusemprot Baygon!”

Aku terdiam beberapa detik.

Sebagai seorang pria berusia tiga puluh dua tahun yang merasa wajahnya lumayan tampan, dibandingkan dengan nyamuk tentu merupakan penghinaan yang cukup menyakitkan.

“Sayang, ini wajah suamimu. Bukan serangga.”

“Pokoknya aku kesal!”

Namun, sebelum aku sempat menjawab, ekspresinya berubah.

Sapu itu perlahan diturunkan. Bibirnya bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Mas…”

Aku langsung waspada.

“Kenapa?”

“Huhuhu! Maafin aku!”

Rina melempar sapu ke lantai, kemudian memelukku erat.

“Aku jahat banget! Aku mukul ayah anakku sendiri cuma gara-gara mukanya mirip nyamuk!”

Aku menghela napas panjang.

Lima detik sebelumnya, aku adalah musuh bebuyutannya. Sekarang, aku menjadi orang yang paling dicintainya.

“Sudah, Sayang. Jangan nangis.”

“Tapi kepalamu sakit, kan?”

“Sedikit.”

Tangisannya justru semakin keras.

“Berarti aku sudah menyakiti kamu!”

Aku buru-buru menggeleng.

“Enggak apa-apa. Tapi lain kali jangan pakai sapu, ya. Kalau kesal, bilang saja.”

Dia mengangguk sambil mengusap air mata.

Aku mengecup keningnya, lalu diam-diam menyembunyikan sapu itu di belakang lemari.

Kupikir persoalan sudah selesai.

Ternyata aku salah.

Malam harinya, ketika sedang menyiapkan makan malam, Rina tiba-tiba menutup hidung.

“Mas, kamu mencium bau aneh?”

Aku mengendus udara.

“Bau apa?”

“Bau gosong. Kayak plastik terbakar.”

Aku memeriksa kompor, stopkontak, bahkan tempat sampah. Semuanya normal.

“Enggak ada bau apa-apa, Sayang.”

Rina memandangku curiga.

“Jangan-jangan dari kamu.”

Aku menunduk mencium bajuku sendiri.

“Ini baru ganti baju!”

“Tapi aku mual kalau kamu dekat-dekat.”

Aku mulai khawatir.

Selama beberapa minggu terakhir, Rina memang lebih sensitif terhadap bau. Namun kali ini berbeda. Wajahnya pucat, dan keringat dingin muncul di dahinya.

Aku segera mematikan kompor.

“Kita ke kamar dulu. Kamu istirahat.”

Dia menggeleng.

“Aku mau tidur di ruang tamu saja.”

“Kenapa?”

“Karena kamar kita bau.”

Aku tidak membantah.

Malam itu, aku menggelar kasur tipis di ruang tamu, sementara Rina berbaring di sofa.

Sekitar pukul sebelas, aku terbangun mendengar suara tangis.

Rina duduk sambil memeluk lutut.

“Sayang?”

Dia menoleh. Matanya merah.

“Mas, kamu masih sayang aku?”

Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak.

“Tentu saja. Kenapa tanya begitu?”

“Aku takut kamu capek menghadapi aku.”

Aku duduk di sampingnya.

“Memangnya kenapa?”

Dia menunduk.

“Tadi aku telepon Ibu. Aku cerita soal sapu itu.”

Aku menunggu.

“Ibu bilang aku enggak boleh memperlakukan suami seperti itu. Katanya, hamil bukan alasan buat menyakiti orang.”

Aku mengangguk pelan.

“Ibu benar.”

Rina langsung menangis lagi.

“Tapi aku benar-benar enggak tahu kenapa aku bisa sekesal itu, Mas. Kadang aku sendiri takut sama perasaanku.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kita cari tahu sama-sama, ya. Besok kita konsultasi ke dokter.”

Dia mengangguk.

Namun, sebelum kembali tidur, Rina mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Mas, sebenarnya bukan cuma wajahmu yang bikin aku kesal.”

“Lalu?”

“Aku sering takut kalau kamu pergi kerja.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Takut kamu enggak pulang.”

Aku memeluknya.

“Mas pasti pulang.”

Saat itu aku menganggapnya sekadar kecemasan selama kehamilan.

Aku belum tahu bahwa ketakutan Rina menyimpan cerita yang jauh lebih dalam.

Keesokan paginya, aku mengantar Rina ke dokter kandungan langganan kami di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan.

Setelah memeriksa kondisi kehamilannya, dokter Maya mengatakan bahwa keadaan bayi kami baik. Denyut jantungnya normal, pertumbuhannya sesuai usia kehamilan.

Aku menghela napas lega.

Namun, ketika Rina menceritakan perubahan emosinya, dokter Maya mendengarkan dengan serius.

“Perubahan hormon memang bisa memengaruhi suasana hati selama kehamilan,” jelasnya. “Tetapi kalau sampai merasa sangat cemas, sulit tidur, atau kehilangan kendali atas emosi, kita perlu melihat apakah ada tekanan psikologis lain.”

Rina terdiam.

Dokter Maya kemudian bertanya dengan lembut.

“Bu Rina, apakah belakangan ini ada sesuatu yang membuat Ibu sangat takut?”

Rina menunduk.

“Tidak ada, Dok.”

Aku memperhatikan tangannya yang menggenggam ujung baju.

Aku mengenal istriku selama hampir delapan tahun.

Aku tahu kapan dia sedang menyembunyikan sesuatu.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter Maya menyarankan agar Rina berkonsultasi dengan psikolog perinatal. Rina menyetujuinya, meskipun terlihat ragu.

Dalam perjalanan pulang, aku mencoba mengajaknya bicara.

“Sayang, kalau ada masalah, cerita sama Mas.”

Dia tersenyum tipis.

“Enggak ada apa-apa.”

Namun, malam itu aku menemukan sesuatu yang membuatku semakin khawatir.

Ketika hendak mengambil selimut dari lemari, sebuah buku catatan kecil terjatuh dari tumpukan pakaian.

Sampulnya berwarna biru muda.

Di bagian depan tertulis sebuah nama.

Nadia.

Aku mengenali nama itu.

Nadia adalah adik perempuan Rina yang meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan lalu lintas.

Selama ini Rina hampir tidak pernah membicarakannya.

Aku memungut buku tersebut, berniat mengembalikannya tanpa membuka isinya.

Namun, selembar foto yang terselip di antara halaman jatuh ke lantai.

Foto itu memperlihatkan Rina dan Nadia sedang tertawa di sebuah taman.

Di belakang foto, terdapat tulisan tangan.

Kak, jangan marah terus sama Mas Dimas. Dia orang baik.

Aku terpaku.

Tulisan itu dibuat lima tahun lalu, beberapa bulan sebelum Nadia meninggal.

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Ingatan lama perlahan muncul.

Dulu, ketika aku dan Rina masih berpacaran, kami pernah bertengkar hebat. Aku bekerja terlalu keras dan sering membatalkan janji.

Nadia yang saat itu masih kuliah sering menjadi penengah.

Dia selalu membelaku di depan kakaknya.

Tetapi ada satu kejadian yang tidak pernah kami bicarakan lagi.

Pada malam kecelakaan itu, Nadia sedang dalam perjalanan mengantarkan sesuatu ke rumah Rina.

Sesuatu yang sebenarnya bisa kuambil sendiri.

Aku memejamkan mata.

Rasa bersalah yang sudah lama kusimpan kembali menghantam dada.

“Mas?”

Aku menoleh.

Rina berdiri di pintu kamar.

Wajahnya langsung berubah ketika melihat foto di tanganku.

“Kamu buka buku itu?”

“Enggak. Fotonya jatuh.”

Dia mengambil foto tersebut dengan tangan gemetar.

Untuk beberapa saat, kami hanya saling memandang.

Lalu Rina duduk di sampingku.

“Aku mimpi Nadia lagi,” bisiknya.

Aku terdiam.

“Sejak kapan?”

“Sejak tahu aku hamil.”

Air matanya mulai mengalir.

“Dalam mimpi itu, Nadia selalu berdiri di depan rumah. Dia bilang mau pulang, tapi enggak bisa.”

Aku meraih tangannya.

“Sayang…”

“Dan setiap kali aku bangun, aku ingat malam dia meninggal.”

Rina menangis semakin keras.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, kami membicarakan kejadian tersebut secara terbuka.

Nadia meninggal ketika sepeda motor yang ditumpanginya ditabrak mobil di sebuah persimpangan.

Saat itu, aku sedang lembur.

Rina sedang demam.

Nadia menawarkan diri mengantarkan obat dan makanan.

Aku sempat memintanya menunggu sampai aku pulang, tetapi dia bersikeras berangkat.

Kecelakaan itu terjadi sekitar dua kilometer dari rumah Rina.

Sejak malam tersebut, Rina selalu menyalahkan dirinya sendiri.

“Aku yang minta dia datang, Mas.”

“Bukan salah kamu.”

“Kalau aku enggak sakit, Nadia masih hidup.”

Aku memeluknya erat.

“Kita enggak bisa tahu apa yang akan terjadi. Yang salah adalah pengemudi yang melanggar lampu merah.”

Rina menggeleng sambil menangis.

“Aku takut kehilangan orang lagi.”

Aku akhirnya memahami sebagian dari kecemasannya.

Kehamilan membuat Rina memikirkan keluarga, keselamatan, dan masa depan. Kenangan kehilangan Nadia kembali muncul ketika dia sedang mempersiapkan diri menjadi ibu.

Namun, masih ada sesuatu yang belum kupahami.

Mengapa dia tiba-tiba begitu takut melihat wajahku?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Aku pulang kerja lebih awal dan menemukan Rina sedang duduk di lantai kamar bayi.

Di sekelilingnya berserakan pakaian mungil, popok, dan beberapa mainan.

Dia memegang sebuah kaus bayi berwarna kuning.

Ketika melihatku, wajahnya langsung pucat.

“Mas, jangan pergi besok.”

Aku meletakkan tas.

“Besok? Memangnya kenapa?”

“Jangan naik motor.”

Aku mengerutkan kening.

“Aku memang mau naik motor ke kantor. Mobil lagi diservis.”

Rina tiba-tiba menangis.

“Pokoknya jangan!”

Aku berjongkok di depannya.

“Sayang, tenang dulu. Cerita sama Mas.”

Dia menggeleng berkali-kali.

“Aku mimpi kamu kecelakaan.”

Aku terdiam.

“Di mimpi itu kamu pakai jaket hitam. Kamu jatuh dari motor. Aku telepon berkali-kali, tapi kamu enggak jawab.”

Tangannya gemetar.

“Terus aku lihat wajahmu. Mukamu pucat, matamu tertutup. Ada nyamuk hinggap di pipimu.”

Aku merasakan tengkukku meremang.

Rina menatapku dengan mata basah.

“Makanya waktu kamu duduk di sofa kemarin, aku tiba-tiba ingat mimpi itu. Aku lihat wajahmu, terus kepalaku langsung penuh rasa takut. Aku marah, padahal sebenarnya aku takut banget.”

Aku menarik napas panjang.

Sekarang semuanya mulai masuk akal.

Bukan wajahku yang benar-benar menyerupai nyamuk.

Nyamuk itu hanya bagian dari mimpi buruk yang terus menghantuinya.

Aku menggenggam kedua tangannya.

“Sayang, itu mimpi. Bukan berarti akan terjadi.”

“Tapi rasanya nyata sekali.”

“Aku tahu kamu takut.”

Aku menatapnya serius.

“Mulai sekarang, kalau kamu merasa takut atau marah, bilang sama Mas. Jangan dipendam sampai kamu kehilangan kendali.”

Rina mengangguk sambil menangis.

“Aku enggak mau menyakiti kamu lagi.”

“Aku juga enggak mau kamu menghadapi semua ini sendirian.”

Keesokan harinya, aku mengambil cuti dan menemani Rina berkonsultasi dengan psikolog.

Awalnya dia sulit bercerita.

Namun, perlahan, semua ketakutannya keluar.

Tentang Nadia.

Tentang rasa bersalah.

Tentang mimpi buruk.

Tentang ketakutannya menjadi ibu.

Bahkan tentang kekhawatirannya bahwa suatu hari anak kami akan mengalami kehilangan seperti dirinya.

Psikolog menjelaskan bahwa pengalaman traumatis yang belum sepenuhnya diproses dapat kembali memicu kecemasan ketika seseorang menghadapi perubahan besar dalam hidup.

Kami mulai menjalani sesi konseling secara teratur.

Aku juga belajar sesuatu yang selama ini tidak kupahami.

Mencintai seseorang bukan berarti membenarkan semua tindakannya.

Aku bisa memahami ketakutan Rina sekaligus menetapkan batas bahwa memukul bukan cara yang boleh digunakan untuk melampiaskan emosi.

Rina pun berusaha sungguh-sungguh.

Ketika mulai merasa kesal, dia belajar berhenti sejenak, mengatur napas, dan mengatakan apa yang sebenarnya dirasakannya.

Aku juga mulai mengurangi lembur.

Setiap malam, kami meluangkan waktu untuk berbicara tanpa televisi atau ponsel.

Perlahan, suasana rumah berubah.

Rina mulai kembali tertawa.

Dia masih sesekali mengidam makanan aneh, tetapi tidak lagi menyembunyikan ketakutannya di balik kemarahan.

Suatu sore, ketika kami sedang melipat pakaian bayi, dia tiba-tiba bertanya.

“Mas, kalau anak kita perempuan, boleh aku kasih nama Nadia?”

Aku berhenti melipat baju.

Aku menatapnya.

“Kenapa Nadia?”

Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Aku ingin ada sesuatu dari adikku yang tetap hidup bersama keluarga kita.”

Aku menggenggam tangannya.

“Boleh. Tapi anak kita tetap punya kehidupannya sendiri, ya. Dia bukan pengganti siapa pun.”

Rina mengangguk.

“Aku tahu.”

Dua bulan kemudian, pada suatu dini hari yang diguyur hujan deras, Rina membangunkanku.

“Mas…”

Aku membuka mata.

“Kenapa? Mau mangga muda lagi?”

Dia menggeleng.

“Kayaknya aku mau melahirkan.”

Aku langsung melompat dari tempat tidur.

Dalam waktu kurang dari lima menit, aku sudah membawa tas persalinan, dokumen rumah sakit, dan kunci mobil.

Namun, ketika hendak keluar, Rina malah tertawa.

“Mas!”

“Apa lagi?”

“Kamu pakai sandal beda sebelah!”

Aku menunduk.

Benar saja.

Kaki kananku memakai sandal hitam, sedangkan kaki kiriku memakai sandal merah muda milik Rina.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kami tertawa bersama tanpa rasa takut.

Persalinan berlangsung cukup lama.

Aku menemani Rina sepanjang proses itu, menggenggam tangannya ketika kontraksi datang, mengusap keringatnya, dan mengingatkannya mengikuti arahan tenaga medis.

Ketika tangisan bayi akhirnya terdengar, aku tidak mampu menahan air mata.

Seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.

Rina menangis ketika dokter meletakkan bayi itu di dadanya.

“Mas, lihat…”

Aku mendekat.

Wajah bayi kami merah muda, matanya masih terpejam, dan jari-jarinya begitu kecil.

“Dia cantik sekali,” bisikku.

Rina menatapku.

“Kita panggil dia Nadia Kirana, ya?”

Aku mengangguk sambil mengecup keningnya.

“Selamat datang, Nadia Kirana.”

Tiga hari kemudian, kami pulang ke rumah.

Aku sudah menyiapkan kamar bayi, memasang tirai baru, dan membersihkan setiap sudut rumah.

Ketika Rina sedang menyusui, aku duduk di sofa yang sama tempat insiden sapu lidi terjadi.

Aku tersenyum mengingat kejadian itu.

“Sayang, ingat enggak waktu kamu bilang mukaku mirip nyamuk?”

Rina tertawa malu.

“Jangan diungkit lagi, dong.”

“Aku masih trauma lihat sapu.”

Dia melempar bantal kecil ke arahku.

“Mas Dimas!”

Aku tertawa.

Namun, beberapa saat kemudian, dia memanggilku dengan suara pelan.

“Mas, aku mau kasih sesuatu.”

Dia mengambil sebuah amplop dari laci meja.

Di dalamnya terdapat foto lama Nadia dan sepucuk surat.

“Aku menemukannya waktu membereskan barang-barang lama,” katanya.

Aku membuka surat itu perlahan.

Tulisan tangan Nadia memenuhi selembar kertas.

Dia menulis tentang keinginannya melihat Rina menikah, memiliki keluarga, dan hidup bahagia.

Pada bagian terakhir, ada kalimat yang membuat tenggorokanku tercekat.

Kalau suatu hari Kak Rina punya anak, aku berharap anak itu tumbuh di rumah yang penuh tawa. Kakak memang gampang marah kalau takut kehilangan seseorang. Jadi, Mas Dimas, kalau Kak Rina sedang marah, tolong dengarkan apa yang sebenarnya membuatnya takut.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Air mataku jatuh ke atas kertas.

Rina memelukku dari samping.

“Dia ternyata sudah mengenalku sebaik itu, Mas.”

Aku mengangguk.

Di dalam kamar, bayi kami mulai menangis.

Rina hendak berdiri, tetapi aku menahannya.

“Biar aku saja.”

Aku mengangkat Nadia kecil dengan hati-hati, lalu menggendongnya sambil berjalan perlahan mengelilingi ruang tamu.

Tangisannya mulai mereda.

Ketika aku menunduk, matanya terbuka sedikit.

Aku tersenyum.

“Halo, Nak. Ini Ayah.”

Tiba-tiba, seekor nyamuk melintas di dekat wajahku.

Aku refleks mengibaskan tangan.

Rina yang melihatnya langsung tertawa.

“Mas! Ada saingan kamu!”

Aku ikut tertawa.

“Jangan mulai lagi, Sayang.”

Namun, saat itu juga aku menyadari sesuatu.

Dulu, aku mengira rumah tangga yang bahagia adalah rumah tanpa pertengkaran, tanpa air mata, dan tanpa rasa takut.

Ternyata bukan begitu.

Kebahagiaan bukan berarti kami tidak pernah terluka atau melakukan kesalahan. Kebahagiaan adalah ketika kami berani mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan belajar membuat rumah menjadi tempat yang aman bagi semua orang.

Aku memandang Rina yang sedang tersenyum dari sofa.

Lalu menatap putri kecil dalam pelukanku.

Lima tahun lalu, kami kehilangan seseorang yang sangat kami cintai.

Hari ini, kami menyambut kehidupan baru tanpa harus melupakan orang yang telah pergi.

Dan tepat ketika aku hendak membawa Nadia ke kamar, Rina tiba-tiba berseru.

“Mas! Tunggu!”

Aku langsung berhenti.

“Apa lagi?”

Dia menunjuk ke arah kepalaku.

Aku spontan menunduk, bersiap menghadapi serangan sapu berikutnya.

Namun, Rina hanya tersenyum.

“Rambutmu berantakan. Sini aku rapikan.”

Dia mendekat, membenarkan rambutku dengan lembut, lalu mengecup pipiku.

“Terima kasih sudah mau belajar bersama aku, Mas.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih juga sudah berusaha berubah.”

Dari dalam gendonganku, Nadia kecil menguap lebar.

Rina tertawa pelan.

“Tuh, anak kita bosan dengar Ayah sama Ibu romantis.”

Aku menatap putriku sambil tersenyum.

“Nadia, nanti kalau sudah besar, Ayah punya satu cerita lucu tentang Ibu.”

Rina langsung melotot.

“Mas Dimas! Jangan bilang soal nyamuk itu!”

Aku tertawa terbahak-bahak.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara tawa memenuhi rumah kami tanpa menyembunyikan kesedihan apa pun.

Sapu lidi yang dulu kupandang sebagai benda paling menakutkan di rumah kini kembali berdiri di sudut dapur, menjalankan tugasnya yang sebenarnya.

Membersihkan lantai.

Bukan memukul kepala suami.

Sementara aku akhirnya memahami satu hal yang jauh lebih penting daripada cara menghadapi istri yang sedang mengidam.

Kadang, di balik kemarahan orang yang kita cintai, ada ketakutan yang belum mampu mereka ungkapkan.

Tetapi cinta yang sehat bukan hanya tentang memahami ketakutan itu.

Cinta juga tentang keberanian untuk meminta maaf, menjaga batas, mencari pertolongan ketika diperlukan, dan memastikan bahwa orang-orang yang kita sayangi tidak perlu merasa takut di rumah mereka sendiri.

Dan jika suatu hari putriku bertanya bagaimana Ayah dan Ibunya belajar menjadi keluarga, aku akan menceritakan semuanya.

Mungkin tidak langsung tentang sapu lidi dan nyamuk.

Tetapi tentang dua orang yang pernah sama-sama ketakutan, lalu memilih untuk saling mendengarkan.

Karena ternyata, hadiah terbesar yang bisa kami berikan kepada Nadia bukanlah rumah mewah, mainan mahal, atau pakaian lucu.

Melainkan sebuah rumah tempat dia boleh menangis tanpa dimarahi, boleh takut tanpa ditertawakan, dan selalu tahu bahwa cinta tidak seharusnya menyakitkan.

Aku mengecup kening putriku.

Di belakangku, Rina mematikan televisi dan membuka jendela agar udara sore masuk.

“Ayo, Mas. Kita makan. Aku sudah masak makanan kesukaanmu.”

Aku menoleh dengan curiga.

“Serius? Enggak ada mangga muda dicampur sambal terasi?”

Rina menggeleng sambil tersenyum manis.

“Enggak.”

Aku menghela napas lega.

Namun, ketika aku melihat meja makan, langkahku langsung terhenti.

Di atas meja ada sepiring nasi hangat, ayam goreng, dan semangkuk besar sambal mangga muda.

Rina menatapku dengan wajah polos.

“Oh iya, Mas. Aku lupa bilang. Sambalnya agak pedas.”

Aku tertawa sambil menggelengkan kepala.

Rupanya petualanganku sebagai suami belum selesai.

Bedanya, sekarang aku tahu bahwa menghadapi kejutan rumah tangga tidak harus dilakukan dengan rasa takut.

Selama kami mau berbicara, saling menghormati, dan menjaga satu sama lain, bahkan hari paling kacau pun bisa berakhir menjadi kenangan yang suatu saat akan kami ceritakan sambil tertawa.

Dan tentu saja, aku tetap memastikan satu hal sebelum duduk makan.

Tidak ada sapu lidi di dekat meja.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang