“Maya, jangan macam-macam!”
Bentakan Dimas menggema di halaman vila. Namun, untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun menikah, Maya tidak lagi merasa takut kehilangan laki-laki itu.
Ia menatap Nadia yang berdiri di hadapannya dengan wajah basah oleh air mata.
“Benar,” jawab Maya pelan. “Aku istri sah Dimas. Kami menikah sembilan tahun lalu. Dan anak yang sedang kukandung ini adalah anaknya.”
Nadia mundur selangkah.
“Tidak mungkin…”

Tangannya meremas ujung blus. Matanya beralih kepada Dimas, berharap laki-laki itu segera membantah semuanya.
Namun, Dimas hanya terdiam.
“Katanya istrimu sudah meninggal,” bisik Nadia.
Maya merasa dadanya seperti ditusuk.
“Meninggal?”
Nadia mengangguk dengan bibir gemetar.
“Dimas bilang istrinya meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan. Dia bahkan pernah menunjukkan foto makamnya kepadaku.”
Maya menoleh perlahan kepada suaminya.
“Kamu sampai membuat makam palsu untukku?”
“Dengarkan dulu, Maya. Aku bisa menjelaskan.”
“Menjelaskan apa? Bahwa selama tiga tahun kamu membiarkan istrimu kelaparan, sementara kamu mengatakan kepada perempuan lain bahwa dia sudah mati?”
Nadia menutup mulutnya. Tubuhnya gemetar hebat.
Tiba-tiba terdengar tangisan anak kecil dari dalam rumah. Seorang pengasuh keluar sambil menggendong bocah laki-laki berusia sekitar dua tahun.
“Mama, Aksa menangis mencari Mama.”
Nadia segera menghampiri anaknya. Namun, ketika hendak menggendong Aksa, ia justru terduduk di anak tangga.
“Mama kenapa?” tanya bocah itu polos.
Nadia memeluk putranya erat-erat.
Maya memandang pemandangan tersebut dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia membenci pengkhianatan Dimas, tetapi perempuan di hadapannya ternyata juga menjadi korban kebohongan yang sama.
Dimas mendekati Nadia.
“Sayang, masuk dulu. Kita bicarakan semuanya baik-baik.”
Nadia mengangkat wajah.
“Jangan panggil aku sayang.”
“Nadia…”
“Jawab satu pertanyaanku. Selama ini, ketika kamu bilang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, sebenarnya kamu menemui Mbak Maya?”
Dimas tidak menjawab.
Nadia tertawa getir.
“Jadi, ketika aku merasa bersalah karena kamu terlalu sibuk bekerja, ternyata kamu sedang membagi waktu antara dua keluarga?”
Maya menggeleng.
“Tidak, Nadia. Dia hampir tidak pernah pulang menemuiku. Selama tiga tahun, aku percaya perusahaan kami bangkrut dan dia sedang berjuang mencari investor. Aku bekerja mengantar makanan karena uang yang diberikannya bahkan tidak cukup untuk membayar kontrakan.”
Nadia memandang perut Maya.
“Delapan bulan?”
Maya mengangguk.
Nadia langsung menangis semakin keras.
Kemarin, ia memberikan sebatang cokelat kepada perempuan yang dikiranya orang asing. Ia bahkan menawarkan pekerjaan membersihkan rumah karena merasa iba.
Kini ia mengetahui bahwa rumah mewah tempatnya tinggal sebenarnya menyimpan kehidupan yang telah dirampas dari perempuan tersebut.
“Vila ini…” Nadia menelan ludah. “Dimas bilang dia membelinya khusus untukku.”
Maya memandangi bangunan berlantai dua itu.
“Aku yang memilih warna dindingnya. Aku yang merancang dapurnya. Dahulu, di halaman belakang ada bunga matahari yang kutanam sendiri.”
Nadia memejamkan mata.
Ia teringat bagaimana Dimas pernah melarangnya mengganti sebuah lemari kayu tua di kamar utama.
Katanya, lemari itu peninggalan keluarga.
Sekarang Nadia mulai memahami alasannya.
Lemari itu mungkin menyimpan kenangan Dimas bersama Maya.
“Aku mau pergi,” kata Maya akhirnya.
Dimas langsung menghadang.
“Kamu tidak boleh pergi sebelum kita menyelesaikan masalah ini.”
“Masalah apa lagi?”
“Aku masih suamimu!”
Maya menatapnya dingin.
“Lucu sekali. Tadi kamu memperkenalkanku sebagai orang dari kampung halaman yang sama. Sekarang kamu tiba-tiba ingat bahwa aku istrimu?”
Dimas menggertakkan gigi.
“Kamu sedang emosi. Pulanglah ke kontrakan. Nanti malam aku datang membawa uang.”
Maya tersenyum pahit.
“Berapa? Tiga ratus ribu? Lima ratus ribu? Atau kamu mau memberiku dua juta seperti upah pembantu yang ditawarkan Nadia?”
Wajah Dimas memerah.
“Maya, cukup!”
“Belum. Aku ingin tahu satu hal. Perusahaan kita benar-benar bangkrut atau tidak?”
Pertanyaan itu membuat Dimas membeku.
Nadia menatapnya curiga.
“Perusahaan apa?”
Maya menjelaskan bahwa sebelum menikah, ia dan Dimas membangun perusahaan perangkat lunak bernama Arunika Digital. Maya menangani keuangan dan operasional, sedangkan Dimas mengurus pemasaran.
Tiga tahun lalu, Dimas menunjukkan laporan kerugian besar dan mengatakan perusahaan harus ditutup.
Maya bahkan menjual perhiasan peninggalan ibunya untuk membantu melunasi utang.
Namun, Nadia tiba-tiba berkata, “Arunika Digital? Bukankah itu perusahaan yang baru memenangkan kontrak teknologi senilai hampir delapan puluh miliar rupiah?”
Suasana langsung hening.
Maya merasa tanah di bawah kakinya bergoyang.
“Kamu tahu perusahaan itu?”
Nadia mengangguk.
“Ayahku pernah menjadi salah satu investornya. Dimas bilang dia adalah pendiri tunggal perusahaan tersebut.”
Maya menatap suaminya.
Dimas tidak berani membalas tatapannya.
Saat itulah Maya menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada perselingkuhan.
Selama ini, Dimas bukan hanya mencuri kebahagiaannya.
Laki-laki itu mungkin telah mencuri seluruh hasil kerja kerasnya.
Maya mengeluarkan ponsel.
“Aku akan menghubungi pengacara.”
Dimas langsung merebut ponselnya.
“Jangan bertindak bodoh!”
“Berikan kembali!”
Ketika Maya berusaha mengambil ponselnya, Dimas mendorong tangannya. Maya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh dari anak tangga.
Untungnya, Nadia segera menangkap lengannya.
“Mas Dimas! Dia sedang hamil!”
Maya memegangi perutnya. Rasa nyeri tiba-tiba menjalar dari pinggang hingga bagian bawah perut.
Wajahnya berubah pucat.
“Aduh…”
Nadia panik.
“Mbak Maya, kenapa?”
“Perutku… sakit sekali.”
Dimas terdiam ketika melihat Maya mulai kesulitan berdiri.
Nadia segera berteriak memanggil sopir.
“Pak Harun! Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!”
Dimas mencoba mendekat, tetapi Nadia menghalanginya.
“Jangan sentuh dia!”
Untuk pertama kalinya, perempuan yang selama ini selalu berbicara lembut kepadanya menatapnya dengan kebencian.
“Kalau terjadi sesuatu pada ibu dan bayinya, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
Di dalam mobil, Maya menggenggam tangan Nadia erat-erat.
“Aku takut,” bisiknya.
Nadia mengusap keringat di dahi Maya.
“Tenang, Mbak. Kita sebentar lagi sampai.”
“Aku belum membeli semua perlengkapan bayiku.”
Air mata mengalir di pipi Maya.
“Aku bahkan belum punya uang untuk biaya persalinan.”
Nadia menahan tangis.
“Jangan pikirkan uang sekarang. Yang penting Mbak dan bayinya selamat.”
Sesampainya di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, Maya segera dibawa ke ruang pemeriksaan.
Dokter menyatakan bahwa Maya mengalami kontraksi dini yang dipicu kelelahan dan tekanan fisik. Kondisinya diperburuk oleh kurangnya asupan makanan serta kadar gula darah yang rendah.
Untungnya, setelah mendapat penanganan, kontraksi mulai mereda. Dokter meminta Maya menjalani observasi dan beristirahat total untuk sementara waktu.
Nadia duduk di samping ranjangnya hingga malam.
Ketika Maya terbangun, ia melihat perempuan itu sedang berbicara melalui telepon.
“Ayah, aku membutuhkan bantuan pengacara perusahaan. Bukan besok. Secepatnya.”
Maya berusaha bangun.
“Nadia…”
Nadia segera menghampirinya.
“Mbak jangan banyak bergerak.”
“Kenapa kamu membantuku? Aku ini istri laki-laki yang kamu cintai.”
Nadia terdiam sejenak.
“Justru karena itu.”
Ia menarik kursi mendekat.
“Sejak kecil, ibuku selalu mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain. Aku tidak tahu Dimas sudah menikah. Tapi sekarang aku tahu, dan aku tidak mau terus hidup dalam kebohongan.”
Maya menunduk.
“Aku juga tidak menyalahkanmu.”
Keduanya menangis dalam diam.
Keesokan paginya, seorang pengacara bernama Ratna datang bersama ayah Nadia, Hendra Santoso.
Hendra adalah pengusaha yang pernah menanamkan modal dalam pengembangan Arunika Digital.
Setelah mendengarkan cerita Maya, wajahnya berubah serius.
“Bu Maya, saya harus menanyakan sesuatu. Apakah Ibu pernah menandatangani dokumen pengalihan saham?”
Maya menggeleng.
“Tidak pernah. Sebelum perusahaan dikabarkan bangkrut, saya memiliki empat puluh persen saham.”
Ratna membuka laptop.
“Menurut data perusahaan yang kami peroleh, saham atas nama Ibu pernah dialihkan melalui dokumen yang ditandatangani tiga tahun lalu.”
Maya terkejut.
“Itu tidak mungkin.”
Ratna menunjukkan salinan dokumen.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan yang menyerupai tanda tangan Maya.
Namun, Maya langsung menyadari kejanggalannya.
“Ini bukan tanda tanganku.”
Ia menunjuk salah satu bagian.
“Namaku memang Maya Prameswari, tetapi sejak kuliah aku selalu menambahkan garis kecil di bawah huruf terakhir. Di sini tidak ada.”
Ratna mencatat penjelasannya.
“Kita perlu memeriksa dokumen asli dan meminta pemeriksaan forensik tanda tangan. Jika terbukti dipalsukan, ini bukan sekadar persoalan rumah tangga.”
Hendra menghela napas panjang.
“Saya juga baru mengetahui bahwa Dimas masih memiliki istri sah. Dia pernah mengatakan kepada saya bahwa istrinya meninggal sebelum kami bekerja sama.”
Nadia memandang ayahnya.
“Ayah, aku ingin meninggalkan Dimas.”
Hendra menggenggam tangan putrinya.
“Ayah akan mendukungmu. Tapi kita harus memastikan Aksa tetap terlindungi.”
Tiga hari kemudian, setelah kondisi Maya stabil, Ratna mulai mengumpulkan bukti.
Maya menyerahkan dokumen pendirian perusahaan, surat kepemilikan saham lama, serta percakapan dengan Dimas mengenai laporan keuangan.
Sementara itu, Nadia menemukan sesuatu yang mengejutkan di ruang kerja vila.
Sebuah map berisi dokumen pengajuan pinjaman perusahaan.
Di dalamnya terdapat salinan identitas Maya dan beberapa tanda tangan atas namanya.
Lebih mengejutkan lagi, Nadia menemukan surat pernyataan kematian yang pernah diperlihatkan Dimas kepadanya.
Setelah diperiksa, surat itu ternyata hanya hasil manipulasi digital.
Nadia merasa mual.
Selama tiga tahun, ia tidur di samping laki-laki yang bahkan sanggup mengarang kematian istrinya sendiri.
Namun, kejutan terbesar belum berakhir.
Dalam salah satu berkas, Ratna menemukan catatan pembayaran rutin kepada seorang akuntan bernama Beni.
Nama itu sangat dikenal Maya.
Beni adalah orang yang dahulu dipercaya Dimas untuk memeriksa keuangan perusahaan sebelum dinyatakan bangkrut.
Ketika Ratna berhasil menghubunginya, Beni awalnya menolak berbicara.
Namun, setelah mengetahui dokumen-dokumen tersebut sedang diperiksa secara hukum, ia akhirnya bersedia memberikan keterangan melalui pengacaranya.
Menurut Beni, perusahaan sebenarnya tidak pernah mengalami kebangkrutan seperti yang diceritakan kepada Maya.
Dimas sengaja memindahkan sejumlah kontrak dan aset usaha ke entitas lain yang berada di bawah kendalinya.
Laporan kerugian yang diperlihatkan kepada Maya telah dimanipulasi.
“Ada satu alasan mengapa Pak Dimas ingin Bu Maya menjauh dari perusahaan,” kata Beni.
Ratna menatapnya.
“Apa itu?”
“Bu Maya pernah menemukan ketidaksesuaian transaksi proyek. Pak Dimas takut semuanya terbongkar.”
Maya teringat sesuatu.
Beberapa minggu sebelum perusahaan dinyatakan bangkrut, ia memang pernah mempertanyakan pembayaran kepada sejumlah vendor yang tidak dikenalnya.
Saat itu, Dimas mengatakan bahwa semua transaksi tersebut merupakan biaya pengembangan bisnis.
Maya mempercayainya.
Kepercayaan itulah yang menghancurkan hidupnya.
Ratna kemudian mengajukan langkah hukum terkait dugaan pemalsuan dokumen dan pengalihan aset. Maya juga mengajukan gugatan perceraian serta tuntutan atas hak-haknya.
Ketika menerima pemberitahuan resmi, Dimas langsung mendatangi rumah sakit tempat Maya menjalani pemeriksaan lanjutan.
Ia masuk dengan wajah kusut.
“Maya, cabut semuanya.”
Maya sedang duduk di ranjang sambil melipat pakaian bayi yang baru dibelikan Nadia.
“Tidak.”
“Aku bisa mengembalikan uangmu.”
“Ini bukan hanya soal uang.”
Dimas menarik kursi.
“Aku salah. Aku mengakuinya. Tapi kita sudah bersama hampir sepuluh tahun. Apa semua itu tidak berarti?”
Maya menatapnya lama.
“Dulu, ketika kita hanya punya satu piring nasi untuk berdua, aku tidak pernah mengeluh. Ketika kamu sakit, aku tidur di kursi rumah sakit selama tiga malam. Ketika perusahaan kesulitan, aku menjual satu-satunya perhiasan peninggalan ibuku.”
Suaranya mulai bergetar.
“Aku tidak pernah meminta rumah mewah atau berlian. Aku hanya meminta kejujuran.”
Dimas menunduk.
“Maafkan aku.”
“Kalau kamu benar-benar menyesal, berhentilah menghalangi proses hukum.”
Dimas mengangkat wajah.
“Aku tidak mau kehilanganmu.”
Maya mengusap perutnya.
“Kamu sudah kehilangan aku sejak hari pertama kamu memilih berbohong.”
Dimas terdiam.
Sebelum pergi, ia bertanya lirih, “Apa aku masih boleh melihat anak kita nanti?”
Maya menarik napas panjang.
“Anak ini tidak bersalah. Tapi hakmu sebagai ayah harus dijalankan dengan tanggung jawab, bukan dengan kebohongan dan ancaman.”
Untuk pertama kalinya, Dimas tidak memiliki jawaban.
Beberapa minggu kemudian, Maya melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat melalui persalinan yang ditangani tim medis.
Ia menamainya Kirana.
Nadia datang membawa bunga matahari.
Ketika melihat bunga itu, Maya terdiam.
“Kenapa bunga matahari?”
Nadia tersenyum.
“Aku ingat Mbak bilang dulu menanamnya di halaman vila. Aku pikir, sekarang saatnya Mbak punya bunga matahari lagi.”
Maya menangis sambil memeluk putrinya.
Proses hukum terhadap Dimas masih berjalan. Pemeriksaan dokumen dan transaksi perusahaan akhirnya membuka sejumlah penyimpangan yang sebelumnya tersembunyi.
Dalam proses penyelesaian sengketa perdata, hak kepemilikan saham Maya berhasil dipulihkan berdasarkan bukti yang dikumpulkan tim hukumnya. Sementara itu, perkara dugaan pemalsuan tetap ditangani melalui jalur hukum.
Maya tidak langsung kembali bekerja.
Ia menggunakan sebagian dana yang berhasil diperolehnya untuk menyewa rumah sederhana, membayar kebutuhan Kirana, dan memulihkan kesehatannya.
Nadia pun meninggalkan vila bersama Aksa. Ia memilih tinggal sementara di rumah orang tuanya sambil menata kembali kehidupan.
Enam bulan berlalu.
Suatu sore, Maya mengundang Nadia dan Aksa ke rumah barunya.
Di halaman kecil, bunga matahari mulai bermekaran.
Aksa berlari mengejar kupu-kupu, sementara Kirana tertidur di kereta bayi.
Nadia duduk di samping Maya sambil menikmati teh hangat.
“Mbak, aku mau cerita sesuatu.”
“Apa?”
“Aku mulai bekerja di yayasan milik Ayah. Kami sedang membuat program bantuan untuk ibu hamil yang kesulitan ekonomi.”
Maya tersenyum.
“Itu bagus sekali.”
“Aku ingin Mbak menjadi penasihat programnya. Pengalaman Mbak mengelola perusahaan pasti sangat membantu.”
Maya memandang putrinya yang tertidur.
“Dulu, aku pernah merasa hidupku sudah selesai.”
Nadia menggenggam tangannya.
“Ternyata belum, ya?”
Maya menggeleng sambil tersenyum.
“Belum. Rupanya aku hanya perlu keluar dari kehidupan yang salah.”
Tiba-tiba Aksa berlari menghampiri mereka sambil membawa setangkai bunga matahari yang jatuh tertiup angin.
“Tante Maya, ini buat Tante!”
Maya menerima bunga itu.
“Terima kasih, Sayang.”
Aksa lalu menunjuk Kirana.
“Kalau Kirana sudah besar, boleh main sama Aksa?”
Maya dan Nadia saling berpandangan.
Keduanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Tentu boleh,” jawab Maya.
Anak-anak itu tidak pernah memilih keadaan ketika mereka dilahirkan. Mereka tidak seharusnya mewarisi kebencian akibat kesalahan orang dewasa.
Menjelang senja, ponsel Maya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Maya membukanya.
Pesan itu berasal dari Dimas.
“Aku melihat foto Kirana. Dia cantik sekali. Matanya mirip matamu. Aku menyesal telah menghancurkan keluarga kita.”
Maya membaca pesan tersebut tanpa menangis.
Dulu, satu pesan singkat dari Dimas mampu membuatnya tersenyum sepanjang hari.
Sekarang, kata-kata itu tidak lagi memiliki kekuatan yang sama.
Ia meletakkan ponselnya tanpa membalas.
Nadia memperhatikannya.
“Dari Dimas?”
Maya mengangguk.
“Kamu tidak mau menjawab?”
“Nanti kalau ada urusan mengenai Kirana, aku akan menjawab melalui jalur komunikasi yang sudah disepakati. Tapi aku tidak perlu lagi menanggapi penyesalannya.”
Nadia tersenyum kecil.
Maya mengangkat Kirana dari kereta bayi, lalu mendekapnya erat.
Angin sore menggerakkan kelopak bunga matahari di halaman.
Tiga tahun lalu, Maya kehilangan rumah, pekerjaan, tabungan, dan kepercayaan kepada laki-laki yang paling dicintainya.
Namun, sekarang ia memahami sesuatu yang dahulu tidak pernah terpikirkan.
Rumah bukanlah vila mewah dengan pagar tinggi.
Keluarga bukanlah seseorang yang hanya datang ketika semuanya terasa mudah.
Dan cinta tidak pernah seharusnya membuat seorang perempuan merasa harus menderita agar dianggap pantas dicintai.
Maya mengecup kening Kirana.
“Ibu mungkin belum bisa memberikan semua yang kamu inginkan, Nak,” bisiknya. “Tapi Ibu berjanji, kamu tidak akan tumbuh dengan mengira bahwa kebohongan adalah bentuk cinta.”
Kirana menggeliat kecil dalam pelukannya.
Maya tersenyum.
Di sampingnya, Nadia memanggil Aksa untuk pulang.
Sebelum pergi, Nadia menoleh.
“Mbak Maya, terima kasih.”
Maya mengernyit.
“Untuk apa?”
“Karena hari itu Mbak tidak berbohong ketika aku bertanya siapa sebenarnya Mbak.”
Maya terdiam.
Nadia melanjutkan dengan suara pelan.
“Kalau Mbak memilih diam, mungkin sampai sekarang aku masih hidup dalam kebohongan.”
Maya menggenggam tangan Nadia.
“Dan kalau hari itu kamu tidak membelikanku cokelat, mungkin aku tidak akan pernah mengetahui semuanya.”
Keduanya tertawa kecil di tengah air mata.
Sebuah cokelat murah yang dahulu bahkan tidak mampu dibeli Maya ternyata menjadi awal terbongkarnya kebohongan bernilai miliaran rupiah.
Namun, bagi Maya, hal paling berharga yang ditemukannya bukanlah saham perusahaan atau rumah yang pernah hilang.
Melainkan keberanian untuk memilih dirinya sendiri.
Ketika matahari perlahan tenggelam, Maya memandang bunga-bunga di halamannya.
Kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengusirnya dari kehidupan yang ia bangun sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar merasa pulang.
