Wajah Adrian mendadak pucat ketika membaca pesan yang baru masuk ke ponselnya. Tangannya yang beberapa menit lalu begitu kuat mencambuk punggungku kini gemetar hebat.
“Tidak mungkin,” gumamnya. “Ini pasti kesalahan sistem.”
Bianca yang masih berdiri di sampingnya langsung meraih lengan Adrian.
“Ada apa, Sayang?”
Adrian tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar yang menampilkan pemberitahuan dari bank.
Seluruh fasilitas kredit perusahaan Villamor Group dibekukan untuk pemeriksaan darurat. Pencairan dana investasi senilai 480 miliar rupiah ditangguhkan. Sejumlah rekening perusahaan dibatasi penggunaannya menyusul laporan dugaan penyalahgunaan dana.
Belum sempat Adrian memahami semuanya, telepon rumah berdering.

Kepala pelayan mengangkatnya dengan tangan gemetar.
“Tuan Adrian, telepon dari direktur keuangan perusahaan. Katanya sangat mendesak.”
“Suruh dia menunggu!”
Namun, ponsel Adrian kembali berbunyi.
Kali ini nama pengacaranya muncul di layar.
Aku masih terduduk di lantai marmer, menahan nyeri di punggung. Darah tidak terlihat dari luar gaunku, tetapi setiap tarikan napas terasa seperti ada sesuatu yang merobek kulitku.
“Angkat saja, Adrian,” kataku pelan. “Bukankah kau selalu mengatakan bahwa seorang pengusaha hebat tidak boleh takut menghadapi masalah?”
Dia menatapku tajam.
“Apa yang sudah kau lakukan?”
Aku tersenyum getir.
“Tidak banyak. Aku hanya berhenti melindungimu.”
Adrian menerima panggilan itu dan menyalakan pengeras suara tanpa sengaja ketika berusaha mengatur ponselnya.
“Pak Adrian, kita punya masalah besar!” terdengar suara pengacaranya. “Investor utama baru saja mengirimkan pemberitahuan resmi. Mereka menolak memperpanjang jaminan pembiayaan yang akan berakhir bulan depan. Selain itu, ada audit independen terhadap seluruh transaksi perusahaan selama tiga tahun terakhir.”
“Investor mana?”
“Mahendra Capital Holdings, Pak.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nama itu bukan nama sembarangan.
Mahendra Capital Holdings merupakan perusahaan investasi besar yang berkantor pusat di Jakarta, dengan jaringan bisnis hingga Singapura dan Hong Kong. Selama bertahun-tahun, perusahaan tersebut dikenal sangat tertutup mengenai identitas pemegang saham pengendalinya.
Adrian selalu membanggakan bahwa Mahendra Capital memilih berinvestasi karena percaya pada kemampuan bisnisnya.
Padahal, kenyataannya sangat berbeda.
“Tidak mungkin!” bentak Adrian. “Aku punya hubungan baik dengan direkturnya!”
“Direktur mereka sudah mengundurkan diri dari dewan komisaris anak perusahaan kita, Pak. Dan ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Pemegang saham pengendali Mahendra Capital meminta seluruh dokumen investasi dibuka kembali.”
Adrian menelan ludah.
“Siapa pemegang saham pengendalinya?”
Aku perlahan mengangkat wajah.
“Ayahku.”
Semua mata langsung tertuju kepadaku.
Bianca tertawa pendek.
“Jangan bercanda, Alina. Ayahmu itu katanya pensiunan pegawai biasa yang tinggal di rumah kecil di Bandung.”
Aku menatapnya.
“Memang benar beliau tinggal di Bandung. Tapi rumah sederhana bukan berarti pemiliknya tidak punya apa-apa.”
Adrian mundur selangkah.
“Nama ayahmu siapa sebenarnya?”
Sebelum aku sempat menjawab, suara pria tua terdengar dari arah pintu utama.
“Mahendra Wiratama.”
Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun memasuki ruang tamu. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian. Dia mengenakan kemeja putih sederhana dan jas abu-abu gelap.
Di belakangnya berjalan dua pengacara, seorang dokter, serta beberapa petugas keamanan pribadi.
Aku mengenal langkah itu.
Langkah yang dahulu selalu kudengar ketika ayah pulang larut malam dari kantor dan diam-diam masuk ke kamarku untuk memastikan aku sudah tidur.
“Papa…”
Suaraku pecah.
Ayah berhenti ketika melihat keadaanku.
Tatapannya turun ke gaunku yang robek, lalu ke cambuk yang tergeletak di lantai.
Wajahnya berubah.
Selama hidupku, aku hampir tidak pernah melihat ayah kehilangan ketenangan.
Namun malam itu, rahangnya mengeras.
“Siapa yang melakukan ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menunjuk Adrian dengan tangan gemetar.
Ayah memejamkan mata beberapa detik.
Kemudian dia berlutut di hadapanku.
Bukan untuk meminta maaf kepada siapa pun.
Melainkan untuk memeluk putrinya.
“Maafkan Papa, Nak,” bisiknya. “Papa seharusnya datang lebih cepat.”
Aku menangis di dadanya.
Selama tiga tahun, aku berusaha menjadi istri yang baik. Aku memasak ketika Adrian pulang larut malam, mendampinginya dalam acara bisnis, menenangkan dirinya saat perusahaan merugi, dan diam-diam menggunakan pengaruh keluargaku untuk menyelamatkan usahanya.
Aku mengira cinta berarti berkorban tanpa meminta balasan.
Ternyata, pengorbanan yang tidak dihargai hanya membuat seseorang semakin berani menyakiti.
Dokter yang datang bersama ayah segera memeriksa kondisiku. Setelah memastikan aku cukup stabil untuk dipindahkan, dia meminta agar aku dibawa ke rumah sakit.
Namun sebelum pergi, aku ingin mendengar satu hal.
“Papa, bagaimana dengan perusahaan Adrian?”
Ayah menatapku lembut.
“Papa tidak bisa menghancurkan perusahaan hanya dengan satu telepon, Alina. Ada hukum, kontrak, dan hak para pekerja yang harus dihormati. Tapi Papa bisa berhenti menggunakan uang kita untuk menutupi kebohongannya.”
Dia kemudian memandang Adrian.
“Dan malam ini, semua yang selama ini kau sembunyikan mulai terbongkar.”
Adrian mencoba tersenyum.
“Pak Mahendra, sepertinya ada kesalahpahaman. Saya tidak tahu Alina adalah putri Bapak.”
Ayah menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau kau tahu dia putriku, apakah kau tidak akan memukulnya?”
Adrian terdiam.
“Jadi masalahnya bukan karena kau menyakiti seorang perempuan,” lanjut ayah. “Masalahnya karena perempuan itu ternyata memiliki ayah yang lebih berkuasa darimu?”
Tak seorang pun berani bersuara.
Bianca tiba-tiba mendekat.
“Pak, sebenarnya Alina yang memulai semuanya. Dia menghina saya di depan tamu.”
Ayah menoleh kepadanya.
“Apakah penghinaan bisa membenarkan kekerasan?”
Bianca membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Saat itulah pengacara ayah, seorang wanita bernama Ratna, mengeluarkan tablet dari tasnya.
“Pak Mahendra, rekaman kamera keamanan sudah berhasil diamankan dengan persetujuan pengelola sistem rumah. Ada saksi yang bersedia memberikan keterangan.”
Adrian langsung menegang.
“Kamera itu milikku!”
Ratna menatapnya.
“Rekaman tersebut akan diserahkan kepada penyidik melalui prosedur yang sah. Kami tidak akan membiarkan bukti dihapus.”
Tiba-tiba seorang perempuan tua melangkah maju dari antara para pelayan.
Namanya Bu Sari.
Dia sudah bekerja di rumah itu sejak sebelum aku menikah.
“Saya bersedia menjadi saksi,” katanya dengan suara bergetar.
Adrian menatapnya penuh amarah.
“Bu Sari, pikirkan pekerjaanmu!”
Perempuan tua itu menunduk sesaat, lalu kembali mengangkat kepala.
“Sudah terlalu lama saya diam, Tuan. Saya melihat Nyonya Alina menangis sendirian hampir setiap malam. Hari ini saya melihat Tuan memukulnya. Kalau saya masih diam, saya tidak akan bisa memaafkan diri sendiri.”
Aku menatap Bu Sari dengan mata berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa tidak sendirian.
Aku kemudian dibawa ke rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Dokter menemukan memar dan luka akibat cambukan di punggungku. Mereka mendokumentasikan seluruh cedera dan menyarankan pemeriksaan lanjutan.
Ayah duduk di samping ranjangku hingga lewat tengah malam.
“Papa marah kepadaku?” tanyaku.
“Untuk apa?”
“Karena aku tidak mendengarkan Papa dulu.”
Ayah menggeleng.
“Papa pernah mengingatkanmu agar berhati-hati. Tapi keputusan menikah adalah hakmu. Kesalahan Adrian tetap kesalahan Adrian.”
Aku menggenggam tangannya.
“Dulu aku pikir, kalau dia mencintaiku saat aku tidak punya apa-apa, berarti cintanya tulus.”
Ayah menghela napas panjang.
“Orang yang mencintaimu tidak harus tahu berapa banyak uangmu. Tapi dia harus tahu bahwa harga dirimu tidak boleh diinjak.”
Aku menangis lagi.
Bukan karena Adrian.
Melainkan karena selama ini aku terlalu sibuk mempertahankan pernikahan sampai lupa mempertahankan diriku sendiri.
Sekitar pukul dua dini hari, Ratna datang membawa perkembangan baru.
“Alina, kami menemukan sesuatu yang perlu kamu ketahui.”
Dia meletakkan sejumlah dokumen di atas meja.
Selama enam bulan terakhir, Adrian ternyata menggunakan beberapa perusahaan pemasok untuk mengalihkan dana dari proyek-proyek Villamor Group.
Salah satu perusahaan tersebut bernama Salcedo Strategic Solutions.
Pemiliknya adalah Bianca.
Aku memandang dokumen itu dengan perasaan hampa.
“Jadi selama ini mereka bukan hanya berselingkuh?”
Ratna menggeleng.
“Tim audit menemukan transaksi yang tidak memiliki bukti pekerjaan memadai. Jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah. Kami masih harus memeriksa apakah ada tindak pidana, tetapi bukti awalnya cukup serius.”
Aku teringat anting berlian Bianca.
Perjalanan mereka ke Bali.
Apartemen mewah yang katanya disewa untuk kebutuhan kantor.
Semua hadiah itu mungkin dibeli menggunakan uang perusahaan yang selama ini kubantu selamatkan.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Ratna menunjukkan satu dokumen lain.
“Adrian juga mencoba menjaminkan rumah kalian untuk memperoleh pinjaman tambahan.”
Aku mengerutkan kening.
“Rumah itu tidak sepenuhnya atas nama Adrian.”
“Benar. Itulah sebabnya pengajuan tersebut ditolak.”
Rumah mewah di Forbes Park itu sebenarnya dibeli melalui skema kepemilikan bersama. Sebagian besar dana pembelian berasal dari aset pribadiku sebelum menikah, dan hak kepemilikanku tercatat secara sah.
Adrian tidak pernah membaca dokumen pembeliannya dengan teliti.
Dia hanya senang ketika mengetahui kami bisa tinggal di rumah mewah tersebut.
“Dia bahkan mencoba menggunakan rumah itu tanpa persetujuanku?”
Ratna mengangguk.
“Dan ada indikasi tanda tanganmu dipalsukan dalam salah satu dokumen pendukung. Kami akan meminta pemeriksaan forensik.”
Aku memejamkan mata.
Rasanya seperti menyadari bahwa orang yang tidur di sampingku selama bertahun-tahun ternyata seorang asing.
Menjelang pukul empat pagi, ponselku menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
Alina, tolong jawab teleponku. Kita bisa membicarakan semuanya. Jangan libatkan ayahmu.
Itu Adrian.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
Aku masih suamimu. Kau tidak bisa menghancurkan hidupku begitu saja.
Aku menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Aku tidak menghancurkan hidupmu, Adrian. Aku hanya berhenti menyelamatkannya.
Setelah itu, aku memblokir nomornya.
Pukul enam pagi, kabar mengenai audit Villamor Group mulai beredar di kalangan bisnis. Sejumlah mitra menunda kerja sama baru, sementara bank meminta penjelasan mengenai kondisi keuangan perusahaan.
Tidak semua bisnis Adrian langsung bangkrut. Perusahaan masih memiliki aset dan kewajiban yang harus diselesaikan.
Namun kekuasaan yang selama ini dia banggakan mulai runtuh karena ternyata dibangun di atas pinjaman, jaminan, dan kepercayaan yang disalahgunakannya sendiri.
Siang harinya, Adrian datang ke rumah sakit.
Dia tidak lagi mengenakan jas mahal.
Wajahnya kusut, matanya merah, dan rambutnya berantakan.
Petugas keamanan menghentikannya di depan kamar.
“Aku hanya ingin bicara dengan istriku,” katanya.
Aku mendengar suaranya dari dalam.
Untuk sesaat, hatiku bergetar.
Bagaimanapun, pria itu pernah menjadi orang yang paling kucintai.
Namun kemudian aku teringat cambuk yang menghantam punggungku.
Aku teringat bagaimana dia memaksaku berlutut di hadapan Bianca.
Aku teringat senyumnya ketika mengumumkan kehamilan wanita lain.
“Biarkan dia masuk,” kataku akhirnya.
Adrian melangkah masuk dengan wajah penuh penyesalan.
“Alina…”
Aku duduk tegak di ranjang.
“Apa yang kau inginkan?”
Dia langsung berlutut.
Persis seperti yang diperintahkannya kepadaku malam sebelumnya.
“Maafkan aku. Aku kehilangan kendali. Aku tidak tahu apa yang merasukiku.”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Aku akan meninggalkan Bianca,” lanjutnya cepat. “Aku akan memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai lagi.”
“Bagaimana dengan anakmu?”
Adrian terdiam.
“Bianca…” Dia menelan ludah. “Ternyata dia membohongiku.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Dia tidak hamil. Aku menemukan hasil pemeriksaan lama di apartemennya. Ketika kutanya, dia mengaku sengaja mengatakan itu agar aku segera berpisah denganmu.”
Aku memandangnya lama.
Anehnya, aku tidak merasakan kemenangan.
Hanya kelelahan.
“Jadi sekarang kau kembali karena Bianca berbohong?”
“Bukan begitu.”
“Atau karena perusahaanmu bermasalah?”
“Alina, aku mencintaimu.”
Aku tersenyum sedih.
“Tidak, Adrian. Kau mencintai kenyamanan yang kuberikan. Kau mencintai rumah, uang, dan kesempatan yang datang bersamaku. Tapi kau tidak pernah benar-benar melihat siapa aku.”
Air mata mengalir di wajahnya.
Aku tidak tahu apakah itu penyesalan atau ketakutan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari tahu.
“Aku akan mengajukan proses hukum untuk mengakhiri pernikahan kita,” kataku. “Aku juga akan melaporkan kekerasan yang kau lakukan. Biarkan pengadilan menentukan tanggung jawabmu.”
Adrian mencoba meraih tanganku.
Aku menariknya menjauh.
“Pergilah.”
Dia masih berlutut ketika petugas keamanan mengantarnya keluar.
Tiga bulan kemudian, penyelidikan terhadap transaksi Villamor Group terus berjalan. Adrian kehilangan jabatan direktur utama setelah para pemegang saham menunjuk manajemen sementara. Bianca diperiksa terkait sejumlah transaksi perusahaannya.
Aku tidak mengikuti setiap kabar mereka.
Aku menjalani terapi untuk memulihkan luka fisik dan trauma yang selama ini kupendam.
Aku juga kembali bekerja.
Bukan di perusahaan ayah.
Melainkan di sebuah yayasan kecil yang membantu perempuan korban kekerasan rumah tangga memperoleh pendampingan hukum dan pelatihan kerja.
Suatu sore, ketika sedang memeriksa laporan kegiatan yayasan, seorang perempuan tua datang membawa amplop.
Bu Sari.
Dia tersenyum ketika melihatku.
“Nyonya Alina, saya punya sesuatu.”
Di dalam amplop itu terdapat sebuah foto lama.
Foto aku dan Adrian pada hari pernikahan kami.
Aku mengenakan gaun putih dan tersenyum bahagia.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan Bu Sari.
Semoga suatu hari Nyonya menemukan kebahagiaan yang tidak perlu dibayar dengan air mata.
Aku memeluknya erat.
“Terima kasih, Bu.”
Bu Sari mengusap punggungku dengan hati-hati.
“Dulu saya takut kehilangan pekerjaan. Sekarang saya mengerti, kadang kita harus kehilangan sesuatu supaya tidak kehilangan hati nurani.”
Malam itu, ayah menjemputku dari kantor yayasan.
Kami makan malam di warung sederhana yang dahulu sering kami kunjungi ketika aku masih kecil.
Ayah memesan nasi goreng kesukaanku.
“Papa punya pertanyaan,” katanya.
“Apa?”
“Kalau suatu hari kamu bertemu seseorang yang ingin menikahimu, apakah kamu masih akan menyembunyikan siapa dirimu?”
Aku terdiam.
Dahulu, aku menganggap menyembunyikan kekayaan sebagai cara terbaik untuk menemukan cinta sejati.
Namun pengalaman telah mengajariku sesuatu.
“Tidak, Pa,” jawabku akhirnya.
Ayah tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain untuk dicintai. Orang yang tepat tidak akan menjadikan kekayaanku sebagai alasan untuk mendekat, dan tidak akan menjadikan kesederhanaanku sebagai alasan untuk merendahkan.”
Ayah mengangguk pelan.
Saat itulah ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Aku membuka pesan itu.
Pengirimnya adalah seorang perempuan bernama Maya.
Dia mengaku pernah bekerja sebagai staf administrasi Villamor Group dan kini bersedia menjadi saksi dalam penyelidikan transaksi perusahaan.
Namun bukan itu yang membuat tanganku gemetar.
Di akhir pesannya, Maya menulis bahwa dia pernah mendengar Adrian membicarakan sesuatu dengan Bianca jauh sebelum pesta malam itu.
Mereka ternyata sudah mengetahui identitas ayahku.
Mereka bahkan merencanakan cara untuk membuatku menyerahkan kendali atas sebagian asetku melalui tekanan dan manipulasi.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena akhirnya aku memahami semuanya.
Adrian tidak pernah benar-benar tertipu oleh penyamaranku.
Dia sudah mengetahui kekayaan keluargaku, setidaknya selama beberapa bulan terakhir.
Dan ketika dia memaksaku berlutut malam itu, dia bukan sekadar ingin mempermalukanku.
Dia ingin menghancurkan rasa percaya diriku agar aku lebih mudah dikendalikan.
Aku menyerahkan pesan tersebut kepada Ratna untuk diperiksa kebenarannya dan digunakan melalui jalur hukum jika relevan.
Kemudian aku mematikan ponsel.
Ayah menatapku.
“Ada apa, Nak?”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa, Pa. Hanya satu alasan lagi untuk tidak pernah kembali.”
Di luar warung, hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta.
Aku memandang orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh.
Dulu aku takut kehilangan seorang suami.
Aku takut dicap gagal karena pernikahanku berakhir.
Aku takut menghadapi dunia sendirian.
Sekarang aku tahu bahwa kehilangan seseorang yang menyakitiku bukanlah kegagalan.
Kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika aku terus membiarkan diriku dihancurkan hanya demi mempertahankan sebuah hubungan.
Ayah berdiri dan mengulurkan tangan.
“Ayo pulang, Nak.”
Aku menyambut tangannya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kata pulang tidak lagi berarti kembali ke rumah besar dengan lampu kristal dan lantai marmer.
Pulang berarti berada di tempat aku tidak perlu takut.
Dan malam itu, aku akhirnya pulang sebagai diriku sendiri.
