Selama sepuluh tahun, aku menganggap Jenderal Adrian Velasco telah mati dalam ingatanku.

“Berhentilah membuat keributan, Amara. Kamu masih hidup. Seharusnya kamu bersyukur.”

Kalimat itu keluar dari mulut Brigadir Jenderal Adrian Velasco ketika aku baru saja mengetahui bahwa penglihatanku mungkin tidak akan pernah kembali.

Tanganku yang mencengkeram lengan bajunya perlahan terlepas.

“Apa katamu?”

“Dokter sedang berusaha menyelamatkan matamu. Jangan memperburuk keadaan dengan bersikap histeris.”

Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku menyadari betapa bodohnya diriku dahulu.

Lelaki yang pernah kucintai sepenuh hati ternyata masih sama.

“Keluar,” bisikku.

“Amara…”

“Keluar dari kamarku.”

Dia mengembuskan napas panjang.

“Bianca juga terluka. Pergelangan tangannya terkilir saat insiden tadi. Aku harus menemaninya menjalani pemeriksaan.”

Aku terdiam.

Mataku terancam buta. Wajahku mengalami luka bakar. Aku hampir tenggelam.

Sementara Bianca hanya mengalami cedera pergelangan tangan.

Namun, Adrian masih merasa perlu menjelaskan mengapa perempuan itu lebih membutuhkan kehadirannya.

“Pergilah,” kataku. “Dan jangan pernah kembali.”

Pintu tertutup beberapa detik kemudian.

Aku meraba meja samping tempat tidur, mencari ponselku. Jemariku gemetar ketika akhirnya berhasil mengaktifkan perintah suara.

“Telepon Mateo.”

Sambungan tersambung setelah dering kedua.

“Sayang? Operasinya sudah selesai?”

Begitu mendengar suara suamiku, pertahanan terakhir yang kubangun selama bertahun-tahun runtuh.

“Mateo…”

“Amara? Kenapa suaramu begitu?”

“Aku tidak bisa melihat.”

Hening.

Lalu terdengar suara kursi bergeser keras.

“Kamu di mana?”

“Rumah sakit militer. Camp Aguinaldo.”

“Aku berangkat sekarang.”

“Mateo, dengarkan aku. Mereka bilang saraf mataku…”

“Aku dengar, Sayang. Aku akan datang. Jangan takut sendirian. Aku sedang menuju ke sana.”

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku menangis.

Bukan karena Adrian.

Melainkan karena aku takut tidak akan pernah lagi melihat wajah putriku.

Dua jam kemudian, pintu kamarku terbuka.

Aku mengenali langkah Mateo sebelum dia menyentuh tanganku.

Dia tidak langsung bertanya siapa yang bersalah. Tidak meminta penjelasan panjang. Dia hanya memelukku dengan sangat hati-hati, seolah seluruh tubuhku terbuat dari kaca.

“Aku di sini,” bisiknya.

“Bagaimana kalau aku benar-benar buta?”

“Kita cari dokter terbaik.”

“Bagaimana kalau aku tidak bisa mengoperasi lagi?”

“Kita cari jalan lain.”

“Bagaimana kalau aku tidak bisa melihat Lia tumbuh besar?”

Kali ini suara Mateo bergetar.

“Kalau itu terjadi, aku akan menceritakan setiap perubahan kecil tentang dirinya. Tapi kita belum sampai di sana, Amara. Kita belum menyerah.”

Aku menggenggam tangannya erat.

Malam itu, Mateo menghubungi seorang dokter spesialis mata yang pernah bekerja bersamanya di Jakarta dan kini bertugas di sebuah pusat kesehatan internasional di Singapura.

Setelah meninjau hasil pemeriksaan awal, dokter tersebut meminta agar aku segera dipindahkan ke fasilitas yang memiliki tim bedah mata dan neuro-oftalmologi lengkap.

Namun, pemindahanku ternyata tidak semudah yang kami bayangkan.

Pagi berikutnya, seorang perwira administrasi datang membawa dokumen.

“Maaf, Dokter Santos. Karena insiden terjadi di kawasan militer terbatas, pemindahan pasien membutuhkan persetujuan komando.”

Mateo menatapnya tajam.

“Istri saya pasien yang membutuhkan penanganan darurat. Sejak kapan keselamatan pasien harus menunggu izin seorang jenderal?”

Perwira itu terlihat gugup.

“Perintahnya datang langsung dari Brigadir Jenderal Velasco.”

Aku merasakan darahku mendidih.

“Hubungi Kakek Ramon,” kataku.

Namun, sebelum Mateo sempat mengambil ponselnya, terdengar suara seseorang dari pintu.

“Tidak perlu.”

Kakek Ramon berdiri di sana.

Di belakangnya terdapat dua perwira polisi militer.

Wajah lelaki tua yang membesarkanku itu tampak begitu pucat.

“Amara, maafkan Kakek.”

Aku menggeleng.

“Kakek tidak melakukan apa-apa.”

“Justru itu kesalahan Kakek. Kakek membawamu kembali ke tempat yang seharusnya tidak pernah menyakitimu lagi.”

Dia menoleh kepada perwira administrasi.

“Siapa yang melarang cucu saya dipindahkan?”

“Jenderal Velasco, Pak.”

“Kalau begitu, katakan kepadanya bahwa saya ingin penjelasan tertulis. Sekarang.”

Dalam waktu kurang dari satu jam, proses pemindahanku disetujui.

Tetapi sebelum ambulans berangkat, seorang perawat muda mendekati Mateo.

“Dokter, saya perlu bicara. Secara pribadi.”

Namanya Nisa Rahmawati. Dia perawat asal Indonesia yang sedang mengikuti program kerja sama medis internasional di rumah sakit tersebut.

Suaranya terdengar gugup.

“Saya melihat sesuatu saat kejadian di vila.”

Mateo segera menutup pintu.

“Apa yang Anda lihat?”

Nisa menelan ludah.

“Saya bertugas membantu tim medis yang bersiaga di dekat lapangan tembak. Sebelum peluncur suar jatuh, saya melihat seorang perempuan mendekati dudukannya.”

“Bianca?” tanyaku.

“Ya.”

Jantungku berdegup keras.

“Dia melakukan apa?”

“Saya tidak melihat jelas tangannya. Tapi setelah dia pergi, dudukan peluncur terlihat miring. Beberapa menit kemudian, alat itu roboh.”

“Kenapa Anda tidak melapor?”

“Saya sudah melapor kepada petugas keamanan. Tapi dia menyuruh saya diam karena katanya itu hanya kecelakaan.”

Mateo menarik napas panjang.

“Apakah ada rekaman?”

“Ada kamera keamanan di dekat kolam. Tapi tadi pagi saya mendengar rekamannya dinyatakan rusak.”

Nisa terdiam sejenak.

“Kebetulan saya sedang merekam video suasana untuk dikirim kepada keluarga. Saya tidak sengaja merekam sebagian kejadian itu.”

Aku langsung menggenggam tangan Mateo.

“Simpan videonya. Jangan kirim kepada siapa pun kecuali penyidik resmi.”

Tiga hari kemudian, aku menjalani operasi pertama di Singapura.

Dokter berhasil menangani kerusakan pada permukaan mata dan mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut. Namun, cedera pada saraf optik masih membutuhkan pemantauan.

Penglihatanku belum kembali sepenuhnya.

Aku hanya mampu membedakan cahaya dan bayangan samar.

Setiap malam, Mateo duduk di samping tempat tidur sambil membacakan pesan dari Lia.

“Mommy, hari ini Lia menggambar keluarga kita. Mommy pakai jas dokter warna putih. Daddy pakai kacamata. Lia pakai gaun kuning.”

Aku tersenyum sambil menangis.

“Dia menggambar mataku?”

Mateo terdiam sesaat.

“Iya.”

“Seperti apa?”

“Besar. Katanya supaya Mommy bisa melihat semua orang yang membutuhkan pertolongan.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Anakku bahkan belum memahami apa yang sedang terjadi.

Dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa mungkin suatu hari nanti, ibunya tidak akan bisa lagi melihat gambar-gambar yang dibuatnya.

Seminggu kemudian, Kakek Ramon datang membawa kabar.

Penyelidikan resmi telah dibuka.

Rekaman milik Nisa menunjukkan Bianca mendekati peluncur suar beberapa menit sebelum kecelakaan. Namun, sudut kamera tidak memperlihatkan dengan jelas apa yang dilakukannya.

Yang lebih mengejutkan, rekaman itu memperlihatkan seseorang mendorongku ke kolam setelah ledakan.

Orang itu adalah Kapten Darius Mendoza, salah seorang teman dekat Adrian.

Aku teringat lelaki yang menawarkan uang seribu peso kepadaku.

“Dia sengaja mendorongku?”

“Kami belum tahu motifnya,” jawab Kakek. “Tapi dia sudah diperiksa.”

“Bagaimana dengan Adrian?”

Wajah Kakek mengeras.

“Dia mengaku tidak melihat siapa yang mendorongmu.”

Aku tersenyum getir.

Tentu saja.

Adrian selalu pandai tidak melihat sesuatu ketika kebenaran itu menyangkut Bianca.

Namun, dua hari kemudian, penyelidikan menemukan sesuatu yang jauh lebih serius.

Peluncur suar itu ternyata telah dipindahkan dari posisi aman sebelum digunakan. Pemeriksaan teknis juga menemukan komponen pengunci dudukan yang tidak terpasang sebagaimana mestinya.

Rekaman dari kamera lain menunjukkan Bianca memberikan sebuah amplop kepada Darius sebelum acara dimulai.

Ketika diperiksa ulang, Darius akhirnya mengaku.

Bianca memintanya membuatku ketakutan dan mempermalukanku di depan semua orang.

Rencananya, peluncur suar hanya akan roboh ke arah kolam tanpa benar-benar mencelakaiku.

Namun, mereka tidak memperhitungkan arah jatuhnya alat tersebut.

“Bianca bilang kamu sengaja kembali untuk merebut Adrian,” kata Darius dalam rekaman pemeriksaan yang kemudian dijelaskan penyidik kepada kami.

Aku merasa mual.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun aku membangun hidup baru.

Namun, perempuan itu masih menganggapku musuh.

Kakek Ramon kemudian menyampaikan kabar lain.

“Augusto sudah sadar.”

Aku terdiam.

“Dia terus menanyakanmu.”

Operasi Jenderal Augusto akhirnya dilakukan oleh tim ahli bedah lain setelah aku terluka. Prosedurnya berhasil, meskipun masa pemulihannya masih panjang.

“Kakek, aku tidak ingin kembali ke sana.”

“Kamu tidak perlu. Dia ingin berbicara melalui panggilan video.”

Aku menyetujuinya.

Ketika layar dinyalakan, aku hanya melihat bayangan buram.

Namun, suara lelaki tua itu terdengar jelas.

“Amara, saya berutang nyawa kepadamu.”

“Tidak, Jenderal. Saya bahkan tidak sempat melakukan operasi.”

“Justru karena itulah saya harus meminta maaf.”

Aku mengernyit.

“Apa maksud Anda?”

“Saya yang meminta Ramon membawamu kemari. Saya tahu hubunganmu dengan Adrian dahulu. Saya berharap setelah sepuluh tahun, kalian bisa berdamai.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi, Anda sengaja mempertemukan kami?”

“Ya. Dan itu keputusan yang sangat egois.”

Aku tidak menjawab.

“Saya kira waktu telah membuat cucu saya menjadi lelaki yang lebih baik. Ternyata saya salah.”

Suara Augusto bergetar.

“Saya tidak meminta kamu memaafkan kami, Amara. Saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya tidak akan menggunakan jabatan atau nama keluarga untuk melindungi siapa pun yang bersalah.”

Untuk pertama kalinya, aku mendengar anggota keluarga Velasco mengakui kesalahan tanpa mencari alasan.

Sebulan kemudian, kondisi mataku mulai menunjukkan perkembangan.

Aku dapat mengenali bentuk benda besar, meskipun semuanya masih kabur.

Dokter mengatakan pemulihan akan membutuhkan waktu panjang, dan tidak ada jaminan penglihatanku kembali seperti semula.

Aku menerima kenyataan itu perlahan.

Sementara itu, penyelidikan militer berkembang menjadi perkara pidana.

Bianca dan Darius menghadapi tuduhan terkait tindakan yang menyebabkan cedera serius, sementara Adrian diperiksa atas dugaan penyalahgunaan kewenangan karena berusaha menghambat pemindahan medisku dan memengaruhi laporan awal kejadian.

Adrian dibebastugaskan sementara selama pemeriksaan berlangsung.

Suatu sore, ketika aku sedang menjalani terapi penglihatan, Mateo memberitahuku bahwa Adrian datang ke Singapura.

“Dia ingin bertemu denganmu.”

Aku meletakkan kartu latihan di atas meja.

“Untuk apa?”

“Katanya ada sesuatu yang harus dia jelaskan.”

Aku terdiam lama.

Kemudian aku mengangguk.

“Sepuluh menit. Kamu tetap di sini.”

Ketika Adrian masuk, aku mengenali aroma parfumnya.

Dahulu, aroma itu selalu membuatku merasa aman.

Sekarang, aku hanya merasakan lelah.

“Amara.”

“Duduklah.”

Dia menarik kursi.

“Aku sudah tahu semuanya tentang Bianca.”

“Bagus.”

“Aku tidak pernah menyangka dia mampu melakukan hal seperti itu.”

Aku tersenyum tipis.

“Karena kamu tidak pernah mau melihat.”

Adrian terdiam.

“Aku juga tahu kamu benar-benar sudah menikah.”

Aku hampir tertawa.

“Jadi, kamu datang untuk memastikan bahwa suami dan anakku bukan khayalan?”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa?”

Dia menarik napas panjang.

“Aku ingin meminta maaf.”

Sepuluh tahun lalu, aku mungkin akan memberikan apa saja untuk mendengar kalimat itu.

Namun, sekarang rasanya hanya seperti mendengar orang asing mengakui kesalahan.

“Aku menyesal telah memperlakukanmu seperti itu,” lanjutnya. “Dulu aku masih muda. Aku tidak memahami perasaanku sendiri.”

“Tiga tahun, Adrian. Kamu menggunakan tiga tahun hidupku untuk membuat perempuan lain cemburu.”

“Aku tahu.”

“Dan sepuluh tahun kemudian, ketika aku hampir mati, kamu masih memilih melindunginya.”

Suaranya melemah.

“Aku melihat Bianca berdiri tepat di jalur peluncur. Aku bereaksi secara spontan.”

“Kamu boleh menyelamatkan siapa pun yang kamu mau. Tapi setelah itu, kamu membiarkanku tergeletak tanpa pertolongan.”

Dia tidak menjawab.

“Aku tidak membencimu karena kamu tidak mencintaiku, Adrian. Aku membencimu dahulu karena kamu membuatku percaya bahwa aku tidak layak dicintai.”

Air mataku jatuh.

“Tapi sekarang aku tahu kamu salah.”

Adrian menunduk.

“Apa masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya?”

Aku menggeleng.

“Kamu bisa memperbaiki dirimu sendiri. Tapi bukan hubungan kita.”

Saat itulah pintu terbuka.

Mateo masuk membawa segelas air hangat.

Dia meletakkannya di tanganku, lalu berdiri di sampingku.

Adrian menatapnya.

“Jadi, kamu Mateo.”

“Benar.”

“Terima kasih sudah menjaga Amara.”

Mateo menjawab dengan tenang.

“Saya tidak menjaganya sebagai pengganti siapa pun. Saya suaminya.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menggenggam tangan Mateo.

“Pertemuan kita selesai, Adrian.”

Dia berdiri perlahan.

Sebelum pergi, dia berkata lirih,

“Aku benar-benar pernah mencintaimu, Amara. Mungkin aku baru menyadarinya setelah kehilanganmu.”

Aku tidak menoleh.

“Kalau begitu, semoga kamu belajar bahwa menyadari cinta setelah menghancurkan seseorang bukan alasan untuk memintanya kembali.”

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya, kenangan tentang Adrian tidak lagi membuat dadaku sakit.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke Jakarta bersama keluargaku.

Penglihatanku membaik secara bertahap. Aku sudah bisa mengenali wajah dari jarak dekat, meskipun masih mengalami gangguan pada salah satu mata.

Aku belum diizinkan kembali melakukan operasi besar.

Sebagai gantinya, aku membantu mengembangkan program pelatihan penanganan trauma untuk dokter muda dan tenaga medis militer.

Awalnya, aku merasa kehilangan sebagian identitasku.

Namun, suatu hari, seorang dokter muda berkata kepadaku,

“Dokter Amara, teknik yang Ibu ajarkan kemarin membantu kami menyelamatkan pasien kecelakaan dengan perdarahan hebat.”

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Kemampuanku menolong orang lain tidak hanya berada di ujung pisau bedah.

Ilmu yang kubagikan juga bisa menyelamatkan nyawa.

Sementara itu, kabar mengenai kasus Bianca akhirnya sampai kepadaku.

Pengadilan menyatakan Bianca dan Darius bersalah atas keterlibatan mereka dalam tindakan berbahaya yang menyebabkan cedera serius. Keduanya menerima hukuman sesuai putusan pengadilan.

Adrian juga menerima sanksi disiplin setelah pemeriksaan internal membuktikan adanya penyalahgunaan kewenangan dalam penanganan insiden tersebut.

Aku tidak menghadiri persidangan terakhir.

Aku tidak membutuhkannya untuk merasa menang.

Namun, kejutan terbesar justru datang pada ulang tahun Lia yang ketujuh.

Pagi itu, putriku berlari menghampiriku sambil membawa sebuah amplop.

“Mommy, Lia punya hadiah!”

Aku tersenyum.

“Apa itu, Sayang?”

“Sebuah gambar. Tapi Mommy harus janji tidak menangis.”

Aku tertawa.

“Kenapa Mommy harus menangis?”

Lia membuka amplop dan mengeluarkan selembar kertas.

Aku mendekatkannya ke wajah.

Gambarnya sederhana.

Ada tiga orang berdiri bergandengan tangan di bawah matahari besar.

Aku, Mateo, dan Lia.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Di atas kepalaku, Lia menggambar dua mata berwarna emas.

“Kenapa mata Mommy berwarna emas?” tanyaku.

Lia menjawab dengan polos.

“Karena kata Daddy, mata Mommy pernah terluka. Jadi Lia menggambar mata baru yang paling kuat.”

Aku memeluknya erat.

“Tapi Lia tahu tidak? Mata Mommy sekarang sudah jauh lebih baik.”

“Iya. Tapi kalau nanti Mommy tidak bisa melihat lagi, Lia tetap sayang.”

Aku terdiam.

Putriku menyentuh pipiku.

“Mommy, waktu Lia masih bayi, Mommy bisa sayang Lia meskipun Lia belum bisa bicara, kan?”

“Tentu saja.”

“Nah, kalau Mommy tidak bisa melihat, Lia juga tetap bisa sayang Mommy.”

Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan.

Mateo berdiri di ambang pintu, tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Aku memandang wajah suamiku yang kini mulai terlihat semakin jelas.

Kemudian aku memandang Lia.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku tidak lagi takut menghadapi masa depan.

Malam harinya, ketika Lia sudah tertidur, Mateo menyerahkan sebuah surat kepadaku.

“Ini datang dari keluarga Velasco.”

Aku membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan dari Jenderal Augusto.

Dia menulis bahwa keluarga Velasco telah mendirikan dana beasiswa medis untuk anak-anak prajurit yang gugur dalam tugas.

Dana itu diberi nama Santos Medical Scholarship.

Namaku tercantum sebagai penghormatan kepada kedua orang tuaku.

Namun, bagian terakhir surat itulah yang membuatku terdiam.

Augusto menulis bahwa sepuluh tahun lalu, ketika aku meninggalkan kamp dalam keadaan hancur, Adrian pernah menyimpan sebuah cincin pertunangan di laci mejanya.

Cincin itu tidak pernah diberikan kepadaku.

Menurut Augusto, Adrian membelinya beberapa minggu sebelum Bianca kembali.

Aku membaca kalimat tersebut berulang kali.

Selama ini, aku percaya seluruh hubungan kami hanyalah kebohongan.

Ternyata mungkin pernah ada saat ketika Adrian sungguh berniat menikahiku.

Mateo duduk di sampingku.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk perlahan.

“Kurasa Adrian pernah mencintaiku.”

Mateo tidak langsung menjawab.

Kemudian dia berkata,

“Mungkin. Tapi seseorang bisa memiliki perasaan cinta dan tetap melakukan hal yang sangat kejam.”

Aku menatap surat itu.

“Kenapa baru sekarang mereka memberitahuku?”

“Mungkin karena mereka mengira kebenaran itu akan mengubah sesuatu.”

Aku melipat surat tersebut dan memasukkannya kembali ke amplop.

“Tidak akan.”

Mateo tersenyum.

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

Dahulu, aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membuktikan bahwa Adrian tidak berhasil menghancurkan hidupku.

Namun, malam itu aku akhirnya menyadari bahwa aku tidak perlu membuktikan apa pun kepadanya.

Aku telah membangun keluarga yang mencintaiku tanpa syarat.

Aku masih memiliki ilmu, pekerjaan, dan kesempatan untuk membantu orang lain.

Dan yang terpenting, aku telah menemukan kembali diriku sendiri.

Beberapa hari kemudian, aku menerima satu pesan terakhir dari Adrian.

“Aku mendengar kamu sudah kembali mengajar. Selamat, Amara. Aku harap suatu hari kamu bisa memaafkanku.”

Aku membaca pesan itu tanpa merasakan kemarahan.

Lalu aku membalas.

“Aku sudah memaafkanmu, Adrian. Tapi bukan karena kamu pantas mendapatkannya. Aku melakukannya karena hidupku terlalu berharga untuk terus membawa luka yang kamu tinggalkan.”

Setelah itu, aku menghapus nomornya.

Bukan karena membencinya.

Melainkan karena kisah kami memang sudah selesai.

Keesokan paginya, aku kembali mengajar.

Di ruang pelatihan, puluhan dokter muda berdiri menyambutku.

Salah seorang bertanya,

“Dokter Amara, apa hal terpenting yang harus dimiliki seorang ahli bedah?”

Aku memandang mereka satu per satu.

Dahulu, aku mungkin akan menjawab ketelitian, keberanian, atau kemampuan mengambil keputusan.

Namun, hari itu jawabanku berbeda.

“Seorang dokter harus tahu bahwa setiap nyawa berharga. Termasuk nyawanya sendiri.”

Aku berhenti sejenak.

“Jangan sampai kalian terlalu sibuk menyelamatkan orang lain hingga lupa menyelamatkan diri sendiri.”

Sore harinya, ketika aku keluar dari rumah sakit, Mateo dan Lia sudah menunggu di dekat mobil.

Putriku berlari menghampiriku.

“Mommy! Lihat! Lia dapat nilai seratus!”

Dia mengangkat buku tugasnya tinggi-tinggi.

Aku berjongkok, mendekatkan wajah ke halaman buku, lalu tersenyum.

Angka merah itu terlihat sedikit kabur.

Namun, aku bisa melihatnya.

“Hebat sekali anak Mommy!”

Lia memeluk leherku.

Mateo menghampiri kami dan merangkul bahuku.

Di bawah cahaya matahari sore Jakarta, aku memandang dua orang yang paling kucintai.

Lalu aku teringat sesuatu.

Sepuluh tahun lalu, Adrian pernah mengatakan bahwa peranku dalam hidupnya sudah selesai.

Ternyata dia benar.

Peranku dalam hidupnya memang telah berakhir.

Namun, saat itu aku belum tahu bahwa kisah terbaik dalam hidupku justru belum dimulai.

Dan sekarang, sambil menggenggam tangan suami dan putriku, aku akhirnya memahami satu hal.

Kehilangan seseorang yang tidak mampu menghargai kita bukanlah akhir dari segalanya.

Terkadang, itulah awal dari kehidupan yang selama ini pantas kita dapatkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang