“Rani, Dimas… besok kalian seharusnya menikah. Tapi kenapa sekarang kalian malah terbaring seperti ini…”

“Rani, Dimas… besok kalian seharusnya menikah. Kenapa sekarang kalian malah terbaring seperti ini?”

Suara Pak Hendra pecah di lorong rumah sakit. Lelaki berusia lima puluh delapan tahun itu mencengkeram sisi ranjang putrinya, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya.

Di hadapannya, Rani terbaring tak sadarkan diri dengan perban melilit kepala. Di ruangan sebelah, Dimas sedang menjalani operasi darurat.

Hanya dua puluh empat jam sebelumnya, kedua keluarga masih sibuk mempersiapkan pesta pernikahan mereka.

Rumah sederhana di pinggiran Kabupaten Klaten itu telah dihiasi rangkaian bunga putih dan merah muda. Tenda pernikahan berdiri megah di halaman. Para tetangga bergotong royong menyiapkan kursi, meja, dan hidangan untuk ratusan tamu undangan.

Sebuah papan besar bertuliskan “Pernikahan Rani dan Dimas” dipasang tepat di depan gerbang.

Tak seorang pun menyangka bahwa papan itu kelak menjadi saksi sebuah kejadian yang hampir menghancurkan dua keluarga.

Pagi sebelum pernikahan, Rani dan Dimas berangkat menuju pusat kecamatan menggunakan sepeda motor.

Mereka hendak mengambil foto prewedding yang sudah dicetak, sekaligus memastikan beberapa perlengkapan pernikahan telah selesai.

“Mas, besok setelah akad, kita foto sama Bapak di depan rumah, ya,” kata Rani sambil memeluk pinggang calon suaminya.

“Tentu. Kita foto sebanyak mungkin. Bapak pasti senang.”

Rani tersenyum.

Sejak ibunya meninggal lima tahun lalu, Pak Hendra menjadi satu-satunya keluarga inti yang dimilikinya. Lelaki itu membesarkan Rani dengan bekerja sebagai tukang servis elektronik.

Dimas memahami betapa besar kasih sayang Rani kepada ayahnya.

Karena itulah, sebelum melamar Rani, Dimas pernah berjanji bahwa Pak Hendra tidak akan pernah merasa kehilangan putrinya setelah menikah.

“Kita tetap tinggal dekat Bapak, Mas?” tanya Rani.

“Iya. Rumah kontrakan yang kupilih cuma sepuluh menit dari rumah Bapak.”

Rani semakin erat memeluknya.

Mereka berhenti di sebuah studio foto kecil.

Pemilik studio, Bu Ratih, menyerahkan sebuah bingkai besar berisi foto keduanya. Dalam foto itu, Rani mengenakan gaun putih sederhana, sementara Dimas berdiri di sampingnya dengan setelan jas abu-abu.

“Cantik sekali kalian berdua,” puji Bu Ratih.

“Doakan besok lancar, Bu,” jawab Rani.

“Pasti. Semoga langgeng sampai tua.”

Sebelum meninggalkan studio, Dimas menerima telepon dari seseorang.

Wajahnya mendadak berubah serius.

“Baik, Pak. Saya sudah menyimpan salinannya. Senin pagi akan saya serahkan langsung.”

Rani menoleh.

“Telepon dari kantor?”

“Iya. Ada urusan proyek yang belum selesai.”

“Bukannya Mas sudah cuti?”

“Sudah. Tapi ada dokumen penting yang harus diamankan.”

Rani tidak bertanya lebih jauh.

Ia tahu Dimas bekerja sebagai insinyur pengawas pada proyek pembangunan jembatan penghubung dua desa. Selama beberapa minggu terakhir, calon suaminya sering pulang dengan wajah lelah.

Bahkan dua hari sebelumnya, Dimas sempat mengatakan bahwa dirinya menemukan sesuatu yang tidak beres dalam laporan proyek.

Namun Rani tidak pernah membayangkan betapa berbahayanya persoalan tersebut.

Sekitar pukul sepuluh pagi, mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Ketika melewati jalan kabupaten yang cukup sepi, sebuah mobil pikap hitam tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Mobil itu melaju terlalu cepat.

Dimas sempat membunyikan klakson dan mengarahkan sepeda motornya ke bahu jalan.

Namun pikap tersebut justru berbelok tajam ke arah mereka.

“Mas, awas!”

Jeritan Rani terdengar bersamaan dengan benturan keras.

Sepeda motor terpental ke tepi jalan.

Bingkai foto pernikahan yang mereka bawa terlempar dan pecah di atas aspal.

Dimas terjatuh beberapa meter dari motornya, sementara Rani terhempas ke rerumputan.

Mobil pikap itu berhenti sebentar.

Seorang pria turun, memandang tubuh Dimas, lalu berjalan mendekat.

Dimas yang masih setengah sadar berusaha mengangkat kepala.

“Kamu…”

Pria itu tidak menjawab.

Ia merogoh saku jaket Dimas, mengambil ponselnya, kemudian kembali ke mobil.

Beberapa detik kemudian, kendaraan itu melaju meninggalkan lokasi.

Seorang petani yang kebetulan melintas menemukan keduanya sekitar sepuluh menit kemudian.

Ia segera memanggil warga dan ambulans.

Kabar kecelakaan tersebut sampai ke rumah Pak Hendra ketika para kerabat sedang memasang dekorasi pelaminan.

“Pak Hendra! Rani kecelakaan!”

Lelaki itu menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.

“Apa?”

“Rani sama Dimas dibawa ke rumah sakit!”

Pak Hendra tidak ingat bagaimana dirinya sampai di rumah sakit.

Yang ia ingat hanyalah seorang dokter mengatakan bahwa Rani mengalami cedera kepala dan patah tulang kaki, sedangkan Dimas mengalami perdarahan dalam yang memerlukan operasi segera.

“Dok, selamatkan mereka,” pintanya dengan suara gemetar.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak.”

Ibu Dimas, Bu Sulastri, datang tak lama kemudian bersama suaminya.

Begitu melihat kondisi calon menantunya, perempuan itu langsung menangis.

“Ya Allah, besok anak-anak ini mau menikah…”

Malam itu, rumah yang seharusnya dipenuhi tawa berubah menjadi tempat berkumpulnya keluarga yang berdoa dalam kecemasan.

Tenda tetap berdiri.

Bunga-bunga masih segar.

Namun tidak ada musik, tidak ada persiapan rias pengantin, dan tidak ada seorang pun yang sanggup membicarakan pesta.

Menjelang tengah malam, operasi Dimas selesai.

Dokter menyampaikan bahwa kondisinya masih kritis, tetapi perdarahannya berhasil dihentikan.

Rani belum sadar.

Pak Hendra duduk di antara dua ruangan, menggenggam foto kecil putrinya yang ditemukan dalam tas.

“Rani, Bapak belum sempat melihat kamu jadi pengantin,” bisiknya.

Pukul tiga dini hari, seorang polisi bernama Inspektur Arif datang menemui keluarga.

“Kami sedang menyelidiki kecelakaan ini. Ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan.”

Pak Hendra mengangguk lemah.

“Apakah Dimas mempunyai masalah dengan seseorang?”

“Tidak, Pak. Anak itu baik sekali.”

“Bagaimana dengan pekerjaannya?”

Ayah Dimas terdiam.

“Beberapa hari lalu dia sempat bilang ada masalah dalam proyek jembatan.”

Arif mencatat sesuatu.

“Kami menemukan keterangan saksi yang cukup mencurigakan. Mobil yang menabrak mereka diduga sengaja mengubah arah.”

Pak Hendra menatap polisi itu dengan mata membesar.

“Maksud Bapak… anak-anak kami sengaja ditabrak?”

“Kami belum bisa menyimpulkan, tetapi kemungkinan itu sedang kami selidiki.”

Keesokan paginya, tepat pada hari pernikahan yang telah direncanakan, Rani akhirnya membuka mata.

Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah ayahnya.

“Bapak…”

Pak Hendra langsung berdiri.

“Rani! Alhamdulillah, kamu sadar!”

Rani mencoba bergerak, tetapi rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Dimas mana, Pak?”

Pak Hendra tidak langsung menjawab.

“Bapak… Dimas mana?”

“Dia masih dirawat, Nak.”

Air mata Rani mengalir.

“Aku ingat mobil itu, Pak.”

Pak Hendra mendekat.

“Mobil apa?”

“Mobil yang menabrak kami. Aku ingat… pengemudinya memakai jaket hitam.”

Rani memejamkan mata, berusaha mengingat kejadian sebelum benturan.

“Dia sengaja mengarahkan mobil ke kami.”

Pak Hendra terdiam.

Kemudian Rani mengatakan sesuatu yang membuat ayahnya semakin pucat.

“Sebelum kecelakaan, Mas Dimas bilang ada orang yang mengancamnya.”

Siang harinya, Inspektur Arif kembali datang.

Rani menceritakan semua yang masih diingatnya.

Ia juga mengatakan bahwa Dimas menyimpan dokumen proyek di sebuah tempat yang hanya diketahui mereka berdua.

“Di mana?” tanya Arif.

Rani memandang ayahnya.

“Di rumah Bapak. Dalam kotak perkakas lama milik Ibu.”

Pak Hendra terkejut.

“Kotak yang ada di gudang?”

Rani mengangguk.

“Mas Dimas menitipkannya tiga hari lalu. Katanya jangan dibuka sebelum hari Senin.”

Dengan didampingi polisi, Pak Hendra pulang mengambil kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk, beberapa lembar dokumen, dan amplop cokelat.

Arif memeriksa dokumen itu bersama tim penyidik.

Hasilnya mengejutkan.

Dimas ternyata menemukan dugaan manipulasi laporan pengujian material pada proyek jembatan bernilai puluhan miliar rupiah.

Sejumlah hasil pengujian beton telah diubah agar terlihat memenuhi standar keselamatan, padahal hasil asli menunjukkan kualitas material berada di bawah spesifikasi.

Lebih mengkhawatirkan lagi, dokumen tersebut menunjukkan bahwa beberapa pihak telah mengetahui persoalan itu tetapi tetap mengizinkan pekerjaan dilanjutkan.

Dimas menolak menandatangani berita acara penerimaan pekerjaan.

Ia mengumpulkan bukti dan berencana menyerahkannya kepada pihak berwenang setelah pernikahan.

Namun seseorang mengetahui rencananya.

Penyelidikan berlangsung cepat.

Rekaman kamera pengawas sebuah toko bangunan memperlihatkan pikap hitam mengikuti sepeda motor Dimas sejak meninggalkan pusat kecamatan.

Nomor polisi kendaraan berhasil diidentifikasi.

Mobil tersebut ternyata terdaftar atas nama perusahaan penyedia material yang terlibat dalam proyek jembatan.

Tiga hari kemudian, polisi menangkap pengemudinya.

Pria bernama Joko itu awalnya mengaku kehilangan kendali akibat rem bermasalah.

Namun pemeriksaan kendaraan dan rekaman kamera pengawas tidak mendukung keterangannya.

Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, Joko akhirnya mengaku bahwa ia diperintahkan untuk menakut-nakuti Dimas dan mengambil ponselnya.

Ia mengaku menerima sejumlah uang dari seorang manajer perusahaan bernama Surya.

Pengakuan itu membuka penyelidikan lebih luas terhadap dugaan tindak pidana dalam proyek tersebut.

Ketika berita penangkapan tersebar, keluarga Rani dan Dimas baru memahami mengapa Dimas beberapa minggu terakhir sering terlihat gelisah.

Namun ada satu kenyataan yang belum mereka ketahui.

Pada hari kelima perawatan, Dimas akhirnya sadar.

Rani yang masih menggunakan kursi roda meminta perawat mengantarnya ke kamar Dimas.

Begitu melihat calon istrinya, mata Dimas langsung berkaca-kaca.

“Rani…”

“Mas…”

Rani menggenggam tangannya.

“Kenapa Mas tidak cerita semuanya dari awal?”

Dimas menunduk.

“Aku takut kamu khawatir.”

“Mas pikir aku tidak lebih khawatir melihat Mas hampir meninggal?”

Dimas terdiam.

“Aku minta maaf.”

Rani menangis.

“Aku tidak butuh pesta mewah, Mas. Aku cuma mau kita hidup bersama.”

Dimas mengusap air mata di pipinya.

“Aku juga.”

Beberapa saat kemudian, Dimas meminta ayah Rani masuk.

“Pak, saya ingin mengatakan sesuatu.”

Pak Hendra mendekat.

“Bicaralah, Nak.”

“Sebelum kecelakaan, saya sebenarnya sudah tahu ada orang yang mengikuti saya.”

Semua orang terdiam.

“Saya sempat berpikir untuk membatalkan perjalanan hari itu. Tapi saya tidak ingin membuat Rani takut.”

Dimas menarik napas perlahan.

“Itu keputusan yang salah. Saya seharusnya meminta bantuan polisi lebih cepat.”

Pak Hendra memegang bahunya.

“Yang penting sekarang kalian selamat. Jangan menyalahkan diri terus-menerus.”

Namun Dimas menggeleng.

“Ada satu hal lagi, Pak.”

Ia meminta ayahnya mengambil tas kerja yang ditemukan setelah kecelakaan.

Di dalam tas itu terdapat sebuah amplop putih yang sedikit kusut.

Dimas menyerahkannya kepada Pak Hendra.

“Saya menyiapkan ini seminggu sebelum pernikahan.”

Pak Hendra membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat surat dan salinan dokumen kepemilikan sebidang tanah kecil.

Tanah itu berada tepat di belakang rumah Pak Hendra.

“Saya membeli tanah ini untuk membangun rumah kami, Pak,” ujar Dimas.

Pak Hendra terdiam.

“Saya tahu Bapak sering bilang tidak ingin merepotkan kami setelah menikah. Tapi Rani selalu khawatir kalau Bapak tinggal sendirian.”

Dimas tersenyum lemah.

“Jadi saya ingin membangun rumah dekat Bapak. Kalau suatu hari Bapak sakit, kami bisa langsung datang.”

Pak Hendra membaca surat yang menyertai dokumen tersebut.

Tulisan tangan Dimas tampak rapi.

Dalam surat itu, Dimas berterima kasih karena Pak Hendra telah membesarkan perempuan yang sangat dicintainya.

Di bagian akhir tertulis bahwa setelah menikah, ia tidak ingin mengambil Rani dari ayahnya, melainkan menjadi seorang anak tambahan bagi keluarga kecil mereka.

Tangan Pak Hendra bergetar.

Selama bertahun-tahun, ia diam-diam takut kehilangan satu-satunya anak setelah Rani menikah.

Ternyata lelaki yang akan menjadi menantunya justru telah memikirkan cara agar mereka tetap bersama.

Pak Hendra memeluk Dimas dengan hati-hati.

“Bapak tidak butuh tanah atau rumah, Nak. Bapak cuma ingin kalian berdua hidup bahagia.”

Dimas menangis dalam pelukan calon mertuanya.

Dua minggu kemudian, kondisi Rani dan Dimas mulai membaik.

Keduanya masih harus menjalani fisioterapi dan pemeriksaan rutin, tetapi dokter memperbolehkan mereka melanjutkan pemulihan di rumah.

Sementara itu, penyelidikan terhadap Surya dan pihak-pihak lain dalam proyek jembatan terus berjalan.

Proyek tersebut dihentikan sementara untuk pemeriksaan teknis independen.

Keputusan Dimas menyimpan dokumen asli akhirnya membantu mengungkap dugaan pelanggaran yang berpotensi membahayakan banyak pengguna jalan.

Namun bagi Dimas, semua itu tidak lagi terasa sepenting sebelumnya.

Ia hanya ingin pulang dan memulai kehidupan yang hampir direnggut darinya.

Sebulan setelah kecelakaan, Rani dan Dimas kembali mengunjungi studio foto Bu Ratih.

Mereka datang bukan untuk mengambil foto baru, melainkan menanyakan bingkai yang rusak saat kecelakaan.

Ternyata seorang warga telah mengumpulkan pecahan bingkai dan menyerahkannya kepada Bu Ratih.

Foto di dalamnya sedikit terlipat, tetapi wajah keduanya masih terlihat jelas.

Bu Ratih sudah memperbaikinya dan memasangnya dalam bingkai baru.

“Anggap saja hadiah pernikahan dari saya,” katanya.

Rani memandang foto itu lama sekali.

“Terima kasih, Bu.”

Dimas menggenggam tangannya.

“Kita akhirnya bisa bawa foto ini pulang.”

Bu Ratih tersenyum.

“Kapan kalian jadi menikah?”

Rani dan Dimas saling berpandangan.

Kemudian Rani menjawab, “Minggu depan, Bu.”

Pernikahan mereka akhirnya dilangsungkan secara sederhana di halaman rumah Pak Hendra.

Tidak ada dekorasi mewah.

Tidak ada panggung besar.

Hanya keluarga, sahabat, dan beberapa tetangga yang sejak awal membantu mempersiapkan acara.

Rani mengenakan kebaya putih sederhana. Ia masih berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.

Dimas duduk di hadapan penghulu dengan wajah penuh haru.

Ketika ijab kabul selesai diucapkan dengan lancar, seluruh keluarga mengaminkan doa dan mengusap air mata.

Pak Hendra menangis paling keras.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena akhirnya ia bisa menyaksikan hari yang sempat dianggap mustahil.

Setelah akad, Rani meminta semua orang berkumpul di depan rumah.

Ia ingin memenuhi janji yang pernah diucapkannya sebelum kecelakaan.

“Pak, sekarang kita foto bersama.”

Pak Hendra berdiri di tengah, diapit Rani dan Dimas.

Ketika fotografer hendak mengambil gambar, Pak Hendra tiba-tiba berkata, “Sebentar.”

Ia masuk ke rumah dan kembali membawa sesuatu.

Sebuah bingkai foto pernikahan yang sempat pecah.

Pak Hendra memegangnya di depan dada.

“Foto ini juga harus ikut,” katanya.

Rani menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa, Pak?”

“Karena foto ini mengingatkan Bapak bahwa kalian pernah hampir tidak pulang. Tapi hari ini kalian berdiri di sini.”

Dimas merangkul bahu istrinya.

Fotografer mengangkat kamera.

“Satu, dua, tiga…”

Klik.

Senyuman mereka terekam dalam sebuah foto keluarga yang sederhana, tetapi sangat berarti.

Malam harinya, setelah para tamu pulang, Rani menemukan sebuah amplop kecil di dalam tas pengantinnya.

Di bagian depan tertulis namanya dengan tulisan tangan Dimas.

Ia membuka amplop itu.

Ternyata surat tersebut ditulis sebelum kecelakaan.

Dimas telah menyiapkannya sebagai kejutan untuk malam pertama mereka.

Rani mulai membaca.

“Rani, kalau suatu hari kita bertengkar, ingatkan aku pada hari ketika kita memutuskan untuk menikah. Kalau suatu hari aku terlalu sibuk bekerja, ingatkan aku bahwa rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi tempat seseorang menunggu dengan penuh kasih. Dan kalau suatu hari hidup terasa berat, jangan pernah merasa harus menghadapinya sendirian.”

Rani berhenti membaca ketika air matanya mulai menetes.

Di bagian paling bawah, terdapat satu kalimat yang membuatnya menangis semakin keras.

“Aku tidak bisa berjanji akan selalu membuatmu bahagia, tetapi aku berjanji tidak akan sengaja membiarkanmu menghadapi kesulitan seorang diri.”

Dimas masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang memegang surat itu.

“Kamu sudah membacanya?”

Rani mengangguk.

“Mas tahu bagian mana yang paling kusuka?”

“Yang mana?”

“Bagian ketika Mas bilang kita harus menghadapi semuanya bersama.”

Dimas duduk di sampingnya.

“Aku masih harus belajar menepati janji itu.”

Rani menyandarkan kepala di bahunya.

“Kita belajar sama-sama.”

Di luar, angin malam bergerak perlahan melewati halaman rumah.

Papan bertuliskan “Pernikahan Rani dan Dimas” masih berdiri di dekat gerbang.

Namun kali ini, tidak ada ambulans, tidak ada tangisan ketakutan, dan tidak ada keluarga yang menunggu kabar dari ruang operasi.

Hanya terdengar suara Pak Hendra yang sedang berbicara dengan Bu Sulastri di teras.

Mereka membicarakan rencana membangun rumah kecil di tanah belakang.

Beberapa bulan kemudian, ketika rumah itu mulai dibangun, Dimas menerima kabar bahwa pemeriksaan teknis menemukan sejumlah bagian jembatan yang harus diperbaiki sebelum dapat digunakan masyarakat.

Bukti yang ia simpan membantu mencegah pekerjaan bermasalah itu diterima begitu saja.

Rani memeluk suaminya setelah mendengar kabar tersebut.

“Mas, sekarang aku mengerti kenapa Mas tidak mau diam.”

Dimas menatapnya.

“Tapi aku juga belajar sesuatu.”

“Apa?”

“Keberanian bukan berarti kita harus menanggung semua bahaya sendirian. Kadang keberanian justru berarti mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan.”

Rani tersenyum.

Di dinding ruang tamu rumah baru mereka, dua foto dipasang berdampingan.

Foto pertama memperlihatkan Rani dan Dimas dalam pakaian prewedding, tersenyum tanpa mengetahui ujian yang menanti.

Foto kedua memperlihatkan keduanya pada hari pernikahan yang sesungguhnya, berdiri bersama Pak Hendra dan keluarga.

Di antara kedua foto itu, Rani meletakkan sebuah tulisan kecil.

“Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup. Namun selama masih diberi kesempatan, kita bisa memilih untuk tetap saling menjaga.”

Setiap kali melihat kedua foto tersebut, Pak Hendra selalu teringat hari ketika ia berdiri di lorong rumah sakit dan bertanya mengapa dua anak yang seharusnya menikah justru terbaring tak berdaya.

Dulu ia mengira hari itu menjadi akhir dari seluruh harapan mereka.

Ternyata hari itu justru mengajarkan sesuatu yang tak pernah ia pahami sebelumnya.

Bahwa sebuah pernikahan bukan dimulai ketika dua orang berdiri di depan penghulu dengan pakaian terbaik mereka.

Pernikahan sesungguhnya dimulai ketika dua orang memilih untuk tetap saling menggenggam, bahkan setelah mengetahui betapa rapuhnya kehidupan.

Dan bagi Rani serta Dimas, janji paling berharga bukanlah janji untuk hidup tanpa kesulitan.

Melainkan janji untuk tidak lagi menghadapi kesulitan itu sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang