“Kalau bukan karena hartanya, mana mungkin aku mau menikahi perempuan seperti Salsabila?”
Kalimat itu menghantam dada Salsabila lebih menyakitkan daripada tamparan.
Di balik pintu kamar pengantin pria, perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu berdiri mematung. Gaun putih rancangan desainer ternama membalut tubuhnya yang berisi. Di tangannya, sebuah kotak beludru biru berisi jam tangan mewah hampir terlepas dari genggaman.
Beberapa menit lagi, ia seharusnya menjadi istri Arga Pratama, model terkenal yang selama dua tahun terakhir membuatnya percaya bahwa cinta sejati memang ada.

Namun, suara tawa dari dalam kamar menghancurkan keyakinan itu.
“Delapan puluh triliun, Bro!” Arga tertawa. “Kau pikir aku bodoh? Dengan menikahinya, aku tidak perlu lagi mengejar kontrak iklan. Aku bisa punya perusahaan, rumah di luar negeri, bahkan jet pribadi.”
Dimas, sahabatnya, ikut tertawa.
“Tapi bagaimana kalau teman-teman modelmu melihat foto pernikahan kalian? Bukankah selama ini kau selalu bilang ingin menikahi perempuan secantik artis?”
“Makanya aku sudah meminta fotografer mengambil gambar dari sudut tertentu. Tanda lahir di pipinya juga harus diedit. Aku tidak mau foto pernikahanku jadi bahan tertawaan.”
Salsabila menutup mulutnya.
Sejak kecil, ia terbiasa mendengar komentar menyakitkan tentang penampilannya. Ada yang mengejek tubuhnya, ada pula yang menyarankan agar tanda lahir kecokelatan di pipi kirinya dihilangkan.
Tetapi mendengar penghinaan itu dari laki-laki yang hendak dinikahinya terasa berbeda.
Selama ini Arga selalu mencium pipinya dan mengatakan bahwa tanda lahir tersebut membuatnya istimewa.
Ternyata semuanya hanya sandiwara.
Suara Bu Ratna, ibu Arga, kemudian terdengar.
“Sudahlah, jangan terlalu keras. Yang penting setelah menikah, pastikan Salsabila memberikan jabatan direktur kepadamu. Ibu sudah lelah hidup di rumah kontrakan.”
“Tenang, Bu. Aku sudah menyiapkan semuanya.”
“Apa maksudmu?” tanya Dimas.
“Besok pagi aku akan memintanya menandatangani beberapa dokumen. Katanya untuk pengelolaan aset keluarga. Padahal itu surat kuasa yang akan memberiku kendali atas sebagian saham pribadinya.”
Bu Ratna tertawa puas.
“Pintar sekali anak Ibu.”
Salsabila merasakan sesuatu yang dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
Bukan hanya hatinya yang sedang dipermainkan.
Perusahaan yang dibangunnya selama sebelas tahun juga menjadi sasaran.
Ia mundur perlahan, lalu berjalan kembali menuju kamar pengantin perempuan.
Begitu pintu tertutup, Salsabila duduk di depan cermin.
Penata riasnya, Maya, langsung menghampiri.
“Mbak Salsa, kenapa pucat sekali? Ada yang sakit?”
Salsabila menatap pantulan dirinya.
Riasan wajahnya sempurna. Rambutnya disanggul anggun. Gaun putihnya berkilauan diterpa cahaya matahari Bali.
Namun matanya tampak seperti milik seseorang yang baru kehilangan segalanya.
“Maya, boleh tinggalkan aku sebentar?”
Setelah Maya keluar, Salsabila mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Pak Hendra, saya membutuhkan bantuan Anda sekarang.”
Hendra adalah kepala divisi hukum Salsabila Medika Nusantara. Selama bertahun-tahun, ia menjadi salah satu orang yang paling dipercaya Salsabila.
“Ada masalah, Bu?”
“Saya baru mengetahui sesuatu tentang Arga. Saya ingin memastikan satu hal. Apakah dokumen yang dia minta disiapkan kemarin sudah diperiksa?”
Hendra terdiam sesaat.
“Justru saya hendak membicarakan itu dengan Ibu. Ada dokumen tambahan yang dikirim melalui email atas nama asisten pribadi Arga. Isinya mencurigakan.”
“Seperti apa?”
“Surat kuasa pengelolaan saham dan persetujuan pengalihan hak suara. Jika Ibu menandatanganinya, Arga bisa memperoleh kewenangan besar atas kepemilikan saham pribadi Ibu.”
Salsabila memejamkan mata.
Jadi semua yang didengarnya benar.
“Apakah dokumen itu sudah sah?”
“Belum. Tidak ada tanda tangan Ibu.”
“Bagus. Jangan proses apa pun. Simpan seluruh bukti pengirimannya.”
“Baik, Bu. Apakah pernikahan akan dibatalkan?”
Salsabila memandang kotak jam tangan di meja.
Ia teringat bagaimana Arga berlutut melamarnya di sebuah restoran di Jakarta. Bagaimana laki-laki itu menggenggam tangannya ketika ia menangis mengenang ayahnya yang telah meninggal.
Betapa mudahnya seseorang berpura-pura mencintai.
“Tidak, Pak Hendra.”
“Maaf?”
“Acara tetap berjalan. Tetapi saya ingin Anda datang ke lokasi bersama dokumen yang diperlukan. Hubungi juga Ibu Mira dari bagian keuangan. Saya perlu memastikan seluruh akses yang pernah saya berikan kepada Arga ditinjau ulang.”
Hendra terdengar khawatir.
“Bu Salsa, apa yang sebenarnya terjadi?”
Salsabila menarik napas panjang.
“Hari ini saya akan menikah dengan seseorang yang ternyata tidak pernah mencintai saya.”
Suaranya bergetar.
“Tetapi saya tidak akan membiarkan dia menghancurkan hidup saya.”
Setelah menutup telepon, Salsabila menghubungi ayah angkatnya, Pak Surya, yang sejak kecil membesarkannya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.
Pak Surya adalah mantan guru sekolah dasar. Meskipun putri angkatnya telah menjadi salah satu perempuan terkaya di Indonesia, ia tetap tinggal di rumah sederhana di Yogyakarta.
“Salsa, Nak, sebentar lagi acara dimulai. Ada apa?”
“Bapak, aku ingin meminta sesuatu.”
“Apa pun, Nak.”
“Kalau nanti aku mengambil keputusan yang membuat semua orang terkejut, Bapak tetap percaya kepadaku, ya?”
Pak Surya terdiam.
“Kamu menangis?”
Salsabila tidak sanggup menjawab.
Suara lelaki tua itu melembut.
“Dengarkan Bapak. Kamu tidak pernah perlu membuktikan bahwa kamu pantas dicintai. Orang yang benar-benar menyayangimu tidak akan membuatmu merasa harus menjadi orang lain.”
Air mata Salsabila akhirnya jatuh.
Kalimat itu membuatnya teringat sesuatu yang hampir dilupakannya.
Harga dirinya.
Tiga puluh menit kemudian, halaman resor mewah di kawasan Nusa Dua dipenuhi ratusan tamu undangan.
Rangkaian bunga putih menghiasi jalan menuju pelaminan. Musik orkestra mengalun lembut. Kamera dari berbagai media hiburan diarahkan ke panggung utama.
Arga berdiri dengan setelan jas putih, tersenyum percaya diri.
Di sampingnya, Bu Ratna sibuk menyapa para pengusaha terkenal.
“Sebentar lagi keluarga kami akan semakin besar,” katanya kepada seorang tamu. “Arga memang beruntung mendapatkan istri yang sukses.”
Tidak seorang pun mengetahui apa yang baru saja terjadi di kamar pengantin perempuan.
Ketika pintu besar terbuka, seluruh tamu berdiri.
Salsabila muncul dengan menggandeng lengan Pak Surya.
Wajahnya tenang.
Ia berjalan perlahan menyusuri karpet putih.
Arga tersenyum lebar, tetapi matanya beberapa kali melirik kamera.
Ketika Salsabila tiba di hadapannya, Arga membisikkan sesuatu.
“Kamu cantik sekali hari ini, Sayang.”
Dulu, kalimat itu selalu membuat Salsabila tersipu.
Kini ia hanya tersenyum tipis.
“Terima kasih, Arga.”
Prosesi dimulai.
Pembawa acara mengumumkan bahwa sebelum pemberkatan pernikahan secara sipil yang telah direncanakan, kedua calon mempelai ingin menyampaikan janji pribadi di hadapan keluarga dan sahabat.
Arga mengambil mikrofon terlebih dahulu.
“Salsabila adalah perempuan paling luar biasa yang pernah hadir dalam hidup saya.”
Para tamu bertepuk tangan.
“Saya mencintainya bukan karena apa yang dia miliki, melainkan karena hatinya yang begitu indah.”
Salsabila menatapnya tanpa berkedip.
Betapa lancarnya kebohongan keluar dari mulut seseorang.
Arga melanjutkan pidato panjang tentang kesetiaan, pengorbanan, dan cinta tanpa syarat.
Beberapa tamu bahkan terlihat menyeka air mata.
Setelah selesai, Arga menyerahkan mikrofon kepada Salsabila.
“Sekarang giliranmu, Sayang.”
Salsabila menerima mikrofon itu.
Ia memandang ratusan wajah di hadapannya.
Kemudian menoleh kepada Arga.
“Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu.”
Mata Arga langsung berbinar.
“Benarkah?”
Salsabila membuka kotak beludru biru.
Sebuah jam tangan mewah berkilauan di dalamnya.
“Di belakang jam ini, aku mengukir dua kata. Selamanya Milikmu.”
Para tamu berseru kagum.
Arga tertawa bahagia dan mengulurkan tangan.
Namun Salsabila menutup kotak tersebut.
“Tetapi sebelum aku memberikannya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
Senyum Arga sedikit memudar.
“Apa itu?”
“Apakah kamu benar-benar mencintaiku?”
“Tentu saja.”
“Bukan karena uangku?”
Arga tertawa kecil.
“Sayang, kenapa bertanya seperti itu di depan semua orang?”
“Jawab saja.”
“Tentu bukan karena uangmu. Aku mencintai dirimu apa adanya.”
Salsabila mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, kamu pasti tidak keberatan jika aku mengatakan bahwa seluruh kekayaanku tetap berada dalam pengelolaanku sendiri, dan kamu tidak akan mendapatkan kewenangan apa pun atas perusahaan hanya karena menjadi suamiku.”
Wajah Arga berubah.
“Apa maksudmu?”
“Aku juga tidak akan menandatangani surat kuasa pengelolaan saham yang kamu siapkan.”
Suasana mendadak sunyi.
Bu Ratna berdiri dari kursinya.
“Salsabila, ini bukan tempat membicarakan bisnis!”
Salsabila menoleh kepadanya.
“Benar, Bu. Seharusnya pernikahan memang bukan tempat membicarakan bisnis. Tetapi rupanya ada orang yang menjadikan pernikahan ini sebagai transaksi.”
Arga mendekat.
“Salsa, kita bicarakan nanti saja.”
“Kenapa harus nanti?”
Salsabila mengangkat mikrofon lebih tinggi.
“Beberapa menit sebelum acara dimulai, aku mendengar percakapanmu dengan Dimas dan ibumu.”
Wajah Arga langsung pucat.
“Aku mendengar bagaimana kamu membicarakan tubuhku. Tanda lahirku. Kekayaanku. Bahkan rencanamu mengambil kendali atas saham perusahaan.”
Bisik-bisik mulai terdengar dari seluruh penjuru ruangan.
Dimas menundukkan kepala.
Bu Ratna tampak gelisah.
Arga mencoba tertawa.
“Sayang, kamu pasti salah paham. Kami cuma bercanda.”
Salsabila menatapnya.
“Bercanda tentang delapan puluh triliun rupiah?”
Arga terdiam.
“Bercanda tentang meminta fotografer menyembunyikan tanda lahirku karena kamu malu?”
Tidak ada jawaban.
“Bercanda tentang dokumen yang akan membuatmu menguasai sahamku?”
Arga mulai berkeringat.
“Salsa, tolong. Semua orang melihat kita.”
“Ya, Arga. Untuk pertama kalinya, semua orang melihat siapa dirimu sebenarnya.”
Saat itu Pak Hendra berjalan mendekati panggung bersama seorang perempuan berjas hitam.
Salsabila memperkenalkan mereka sebagai kepala divisi hukum dan direktur keuangan perusahaannya.
Pak Hendra menyerahkan sebuah map.
“Dokumen yang dikirimkan melalui pihak Arga sudah kami periksa,” katanya. “Kami menemukan permintaan penyusunan surat kuasa dengan kewenangan yang tidak pernah disetujui Ibu Salsabila.”
Arga menggeleng keras.
“Itu fitnah!”
“Jika demikian,” jawab Hendra tenang, “kami siap menyerahkan seluruh korespondensi dan dokumen asli kepada pihak berwenang untuk diperiksa.”
Arga langsung bungkam.
Salsabila membuka map tersebut.
“Ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui.”
Ia mengeluarkan selembar dokumen.
“Enam bulan lalu, kamu mengatakan agensi modelmu sedang mengalami kesulitan keuangan. Kamu meminta bantuan untuk menyelamatkan kariermu.”
Arga menatapnya dengan panik.
“Aku memberimu pinjaman melalui perusahaan investasiku. Nilainya dua puluh miliar rupiah.”
Para tamu mulai saling berpandangan.
“Aku melakukannya karena percaya kepadamu. Bahkan ketika laporan keuangan agensimu menunjukkan penggunaan dana yang tidak sesuai dengan tujuan pinjaman, aku masih memberimu kesempatan menjelaskan.”
“Salsa, jangan lakukan ini,” bisik Arga.
“Aku tidak akan mempermalukanmu dengan membuka seluruh urusan pribadimu. Tetapi mulai hari ini, semua kewajiban keuanganmu akan ditangani secara resmi oleh tim hukum. Tidak ada lagi perlakuan khusus.”
Arga mencengkeram tangan Salsabila.
“Kamu tidak bisa melakukan ini! Kita akan menikah!”
Salsabila melepaskan tangannya.
“Tidak, Arga. Kita tidak akan menikah.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan gempar.
Bu Ratna bergegas naik ke panggung.
“Kamu mempermalukan keluarga kami!”
Salsabila memandang perempuan itu.
“Bu Ratna, selama dua tahun saya memperlakukan Ibu seperti ibu kandung sendiri. Saya membayar biaya pengobatan Ibu, membantu kebutuhan keluarga, dan tidak pernah meminta balasan.”
“Itu karena kamu mampu!”
“Benar. Saya mampu membantu. Tetapi kemampuan saya bukan alasan bagi siapa pun untuk memanfaatkan saya.”
Bu Ratna kehilangan kata-kata.
Arga tiba-tiba berlutut.
Di hadapan ratusan tamu, laki-laki yang selama ini begitu bangga dengan ketampanannya itu menggenggam ujung gaun Salsabila.
“Salsa, maafkan aku!”
Suaranya pecah.
“Aku salah. Aku bodoh. Tolong jangan tinggalkan aku!”
Kamera para tamu mulai terangkat, tetapi Salsabila meminta semuanya berhenti merekam.
“Aku tidak ingin menjadikan kehancuran seseorang sebagai tontonan,” katanya.
Arga menangis semakin keras.
“Aku benar-benar mencintaimu. Aku cuma terbawa omongan teman-temanku!”
Salsabila berjongkok agar wajah mereka sejajar.
“Arga, kalau kamu benar-benar mencintaiku, mengapa kamu malu berdiri di sampingku?”
Laki-laki itu tidak mampu menjawab.
“Kalau kamu mencintaiku, mengapa kamu menyiapkan dokumen untuk mengambil sesuatu yang bukan milikmu?”
Air mata mengalir di pipi Arga.
“Aku takut hidup miskin lagi.”
Salsabila terdiam.
Untuk pertama kalinya, Arga mengatakan sesuatu yang terdengar jujur.
“Ayahku meninggalkan banyak utang,” lanjutnya. “Aku tumbuh dengan melihat ibuku menangis setiap kali penagih datang. Ketika karierku mulai meredup, aku panik. Aku tidak mau kembali ke kehidupan itu.”
Salsabila menatapnya dengan sedih.
“Aku akan membantumu jika kamu meminta pertolongan dengan jujur.”
“Aku tahu.”
“Tetapi kamu memilih menipuku.”
Arga menunduk.
“Maafkan aku.”
“Aku memaafkanmu, Arga. Tetapi memaafkan bukan berarti aku harus menikahimu.”
Salsabila berdiri.
Kemudian ia melepas cincin pertunangan dari jarinya dan meletakkannya di atas meja.
“Aku tidak membatalkan pernikahan ini karena tubuhku dihina. Aku membatalkannya karena aku akhirnya tahu bahwa orang yang berdiri di hadapanku tidak menghormati diriku.”
Ia menatap para tamu.
“Saya meminta maaf karena mengundang Bapak dan Ibu untuk menyaksikan sebuah pernikahan yang tidak akan terjadi. Namun saya tidak ingin seluruh persiapan hari ini berakhir sia-sia.”
Salsabila memberi isyarat kepada panitia.
“Seluruh makanan yang telah disiapkan tetap akan disajikan. Sebagian juga akan dikirimkan melalui mitra sosial kami kepada masyarakat yang membutuhkan. Bagi tamu yang ingin tetap tinggal, saya mengundang Anda semua untuk menikmati jamuan ini sebagai perayaan kehidupan.”
Pak Surya naik ke panggung.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, lelaki tua itu memeluk putri angkatnya.
Salsabila akhirnya menangis.
Bukan karena kehilangan Arga.
Melainkan karena selama dua tahun ia hampir kehilangan dirinya sendiri demi mempertahankan seseorang yang tidak pernah menghargainya.
Tiga bulan kemudian, kehidupan Salsabila perlahan kembali tenang.
Pernikahan yang gagal itu sempat menjadi perbincangan luas setelah beberapa tamu menyebarkan cerita ke media sosial. Namun Salsabila menolak memberikan wawancara.
Ia hanya meminta tim hukumnya menangani persoalan keuangan Arga secara profesional.
Pemeriksaan internal kemudian menemukan bahwa sebagian dana pinjaman telah digunakan untuk membayar utang pribadi dan pengeluaran yang tidak tercantum dalam proposal bisnis. Arga akhirnya menyepakati rencana pengembalian dana melalui proses hukum yang berlaku.
Karier modelnya merosot setelah beberapa perusahaan memilih tidak memperpanjang kontrak.
Sementara itu, Salsabila memusatkan perhatian pada pembangunan pusat layanan kesehatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Yogyakarta.
Pusat kesehatan itu dinamai Rumah Sehat Surya, sebagai penghormatan kepada ayah angkatnya.
Pada hari peresmian, Pak Surya berdiri di samping Salsabila dengan mata berkaca-kaca.
“Bapak bangga kepadamu, Nak.”
Salsabila tersenyum.
“Karena aku membangun tempat ini?”
Pak Surya menggeleng.
“Karena kamu akhirnya memahami bahwa nilai dirimu tidak pernah ditentukan oleh pandangan orang lain.”
Salsabila memeluknya.
Namun kejutan terbesar datang seminggu kemudian.
Sebuah paket kecil tiba di kantornya.
Pengirimnya adalah Arga.
Di dalamnya terdapat kotak beludru biru yang dahulu ditinggalkan Salsabila di resor Bali.
Jam tangan itu masih berada di tempatnya.
Tetapi ada sepucuk surat.
Salsabila membukanya perlahan.
“Salsa, aku tidak meminta kesempatan kedua. Aku tahu aku sudah menghancurkan kepercayaanmu. Selama ini aku mengira uang bisa membuatku menjadi laki-laki yang dihormati. Padahal aku bahkan tidak mampu menghormati perempuan yang paling tulus kepadaku.
Aku mengembalikan jam ini karena aku tidak pantas menerimanya. Aku sedang menjual aset yang tersisa untuk memenuhi kewajibanku. Untuk pertama kalinya, aku ingin memperbaiki hidupku tanpa menggunakan orang lain.
Terima kasih karena kamu tidak membalas penghinaan dengan penghinaan. Kamu memberiku kesempatan untuk melihat betapa buruknya diriku sendiri.
Semoga suatu hari nanti kamu bertemu seseorang yang tidak pernah merasa perlu menyembunyikan wajahmu dari kamera.”
Salsabila membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian ia membalik jam tangan tersebut.
Dua kata masih terukir di bagian belakangnya.
Selamanya Milikmu.
Ia tersenyum kecil.
Dulu, ia mengira kalimat itu adalah janji untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada seorang laki-laki.
Sekarang maknanya berubah.
Salsabila mengenakan jam tangan tersebut di pergelangan tangannya sendiri.
Sore itu, ketika ia sedang bersiap meninggalkan kantor, Maya yang kini menjadi sahabat dekatnya datang berkunjung.
“Wah, jamnya bagus sekali! Hadiah dari siapa?”
Salsabila memandang jam di tangannya.
“Hadiah untuk seseorang yang selama ini sering kulupakan.”
“Siapa?”
Salsabila tersenyum.
“Diriku sendiri.”
Maya tertawa, lalu memeluknya.
Di luar jendela, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta.
Salsabila menatap pantulan wajahnya pada kaca.
Tubuhnya masih berisi.
Tanda lahir di pipinya masih terlihat jelas.
Tidak ada yang berubah dari penampilannya.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memandang dirinya melalui mata orang-orang yang pernah merendahkannya.
Beberapa bulan kemudian, sebuah majalah bisnis nasional mengundangnya menjadi sampul edisi khusus tentang perempuan pemimpin Indonesia.
Fotografer menawarkan untuk menyamarkan tanda lahirnya melalui penyuntingan foto.
Salsabila menolak dengan sopan.
“Biarkan seperti aslinya.”
Fotografer itu mengangguk.
Ketika hasil pemotretan diterbitkan, wajah Salsabila memenuhi sampul majalah tanpa penyuntingan yang mengubah bentuk tubuh atau tanda lahirnya.
Di bawah fotonya tertulis sebuah kalimat yang ia ucapkan dalam wawancara.
“Aku pernah hampir menikah dengan laki-laki yang malu mengakui wajahku. Sekarang aku tidak akan lagi menyembunyikan wajahku demi membuat siapa pun merasa nyaman.”
Ribuan perempuan membagikan kisahnya.
Sebagian menulis tentang pengalaman dihina karena berat badan. Sebagian lain bercerita tentang bekas luka, warna kulit, dan kekurangan fisik yang selama ini membuat mereka merasa tidak layak dicintai.
Salsabila membaca pesan-pesan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia menyadari bahwa luka yang pernah membuatnya merasa sendirian ternyata dialami begitu banyak orang.
Dan mungkin, keberaniannya meninggalkan Arga bukan hanya menyelamatkan dirinya sendiri.
Mungkin keputusan itu juga membantu orang lain menemukan keberanian untuk berhenti menerima cinta yang menyakitkan.
Malam itu, Salsabila meletakkan majalah tersebut di meja ruang tamunya.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Saya melihat foto Anda di majalah. Anda terlihat sangat bahagia. Saya harap kebahagiaan itu terus bertahan.”
Tidak ada nama pengirim.
Salsabila tidak membalas.
Ia mematikan layar ponselnya, mengambil secangkir teh hangat, lalu duduk di balkon apartemennya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak merasa perlu menunggu seseorang datang untuk melengkapi hidupnya.
Karena akhirnya ia memahami sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan yang dimilikinya.
Cinta yang tulus tidak membuat seseorang merasa kecil, tidak memaksanya menyembunyikan kekurangan, dan tidak menjadikan hartanya sebagai ukuran kelayakan untuk dicintai.
Dan terkadang, pernikahan yang tidak pernah terjadi justru menjadi awal dari kehidupan yang selama ini paling dibutuhkan seseorang.
Salsabila memandang jam di pergelangan tangannya sekali lagi.
Selamanya Milikmu.
Kali ini, janji itu benar-benar ia tepati.
Bukan kepada Arga.
Melainkan kepada dirinya sendiri.
