Selama Tujuh Tahun, Suamiku Tiga Kali Berselingkuh. Namun, Tepat di Hari Ulang Tahunku, Selingkuhannya Malah Mengunggah Foto Tangan Mereka yang Saling Bertautan di Sebuah Hotel di BGC!

“Jadi, tawaranmu tentang pernikahan terbuka itu masih berlaku?”

Suamiku berhenti tersenyum.

Selama tujuh tahun menikah, aku belum pernah melihat Miguel seterkejut itu. Lelaki yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala sesuatu kini hanya menatapku, seolah sedang berusaha memastikan apakah perempuan di hadapannya benar-benar istrinya.

“Angela, kamu serius?”

Aku mengangguk sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.

“Tentu. Bukankah kamu sendiri yang bilang cinta tidak harus berarti memiliki? Kalau kamu boleh bersama Jessa, kenapa aku tidak boleh mencari kebahagiaan sendiri?”

Miguel menyandarkan tubuhnya ke sofa. Perlahan, senyum muncul di bibirnya.

“Akhirnya kamu mulai berpikir dewasa.”

Aku ikut tersenyum.

Dia tidak tahu bahwa senyum itu adalah awal dari kehancurannya.

Tujuh tahun lalu, aku menikahi Miguel Pratama ketika perusahaan konstruksinya masih menempati sebuah ruko sempit di Jakarta Selatan. Saat itu, dia bahkan kesulitan membayar gaji lima karyawannya.

Aku menjual mobil peninggalan ayah kandungku, mencairkan tabungan, dan menggunakan uang warisan nenek untuk membantunya.

Miguel pernah menggenggam tanganku sambil menangis.

“Kalau suatu hari aku berhasil, semua yang kumiliki akan menjadi milik kita berdua.”

Aku mempercayainya.

Kesalahan terbesar dalam hidupku bukanlah mencintai lelaki miskin. Kesalahanku adalah menganggap seseorang yang pernah membutuhkan pertolonganku pasti akan menghargai pengorbananku.

Sekarang Miguel memiliki perusahaan bernilai ratusan miliar rupiah, beberapa apartemen mewah, dan seorang sekretaris bernama Jessa yang tampaknya lebih mengenal kamar tidurnya daripada ruang kerjanya.

Sementara aku hanya dianggap istri yang harus diam.

“Kalau begitu, kita buat kesepakatan tertulis,” kataku.

Miguel mengangkat alis.

“Kesepakatan apa?”

“Kita bebas menjalani kehidupan pribadi masing-masing. Tidak saling mengganggu, tidak saling mengatur. Tapi seluruh urusan keuangan harus transparan. Aku tidak mau suatu hari menanggung utang akibat hubunganmu dengan perempuan lain.”

Miguel tertawa.

“Kamu terlalu banyak menonton drama.”

“Mungkin. Tapi bukankah kamu selalu bilang aku harus belajar bersikap realistis?”

Dia akhirnya setuju.

Tiga hari kemudian, pengacara yang kupilih datang membawa dokumen perjanjian.

Miguel menandatanganinya tanpa membaca seluruh isi.

Dia terlalu sibuk membalas pesan Jessa.

Yang tidak diketahuinya, dokumen itu bukan senjata utamaku.

Itu hanya cara untuk membuatnya berhenti mencurigai perubahan sikapku.

Senjata sebenarnya sudah kusimpan selama hampir tujuh tahun.

Namanya Arunika Capital.

Perusahaan investasi kecil yang kudirikan menggunakan nama gadisku sebelum menikah.

Miguel tahu perusahaan itu pernah ada. Namun, dia mengira usahaku sudah berhenti ketika kami menikah.

Dia tidak pernah bertanya.

Baginya, perempuan yang tidak lagi bekerja di kantor pasti tidak menghasilkan apa-apa.

Padahal, selama tujuh tahun, aku mengembangkan perusahaan itu diam-diam.

Aku membeli saham perusahaan logistik, gudang, dan beberapa bidang tanah industri melalui pengelola investasi profesional.

Aku juga masih memiliki satu aset yang jauh lebih penting.

Empat puluh persen saham PT Pratama Konstruksi, perusahaan milik Miguel.

Saham itu tercatat atas namaku sejak awal pendirian perusahaan, sebagai imbalan atas modal yang kutanamkan.

Miguel berkali-kali memintaku mengalihkan kepemilikannya.

Aku selalu menolak.

Bukan karena aku sudah mencurigainya sejak awal, melainkan karena nenek pernah berpesan sebelum meninggal.

“Angela, mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan seluruh hidupmu kepadanya.”

Dulu aku menganggap nasihat itu terlalu keras.

Sekarang aku mengerti.

Seminggu setelah ulang tahunku, Miguel mengadakan pesta besar di sebuah hotel mewah kawasan Sudirman.

Dia mengumumkan bahwa perusahaannya akan memperoleh proyek pembangunan kawasan industri senilai delapan ratus miliar rupiah.

Aku datang mengenakan gaun hitam sederhana.

Ketika memasuki ballroom, aku melihat Jessa berdiri di samping Miguel.

Perempuan itu mengenakan kalung berlian yang pernah kulihat di katalog perhiasan beberapa hari sebelumnya.

Miguel membelinya menggunakan kartu perusahaan.

Aku mengetahuinya karena laporan transaksi itu sudah berada di tanganku.

“Bu Angela!” Jessa menyambutku dengan senyum lebar.

“Maaf, saya tidak tahu Ibu akan datang. Pak Miguel bilang Ibu kurang suka menghadiri acara bisnis.”

Aku tersenyum.

“Tenang saja. Aku juga tidak tahu sekretaris sekarang harus mengenakan perhiasan seharga rumah.”

Wajah Jessa langsung berubah.

Miguel mendekat.

“Angela, jangan membuat keributan.”

“Aku hanya memuji kalungnya.”

Dia menggenggam lenganku dan membawaku menjauh.

“Apa sebenarnya maumu? Bukankah kita sudah sepakat?”

“Tentu. Aku tidak mengganggu hubungan kalian.”

“Kalau begitu, bersikaplah baik.”

Aku mengangguk.

Malam itu, Miguel naik ke panggung dengan penuh percaya diri.

Dia menjelaskan rencana ekspansi, memperkenalkan calon investor, lalu mengumumkan bahwa kontrak besar tersebut akan segera ditandatangani.

Namun, ketika layar menampilkan nama perusahaan mitra strategis, tangannya mendadak berhenti bergerak.

Arunika Capital.

Aku melihat perubahan wajahnya dari meja tamu.

Miguel menoleh ke arah direktur keuangannya.

“Apa maksudnya ini?”

Lelaki itu berbisik sesuatu.

Miguel langsung turun dari panggung dan menghampiriku.

“Angela, kamu tahu perusahaan ini?”

“Tentu.”

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Kamu tidak pernah bertanya.”

Rahangnya mengeras.

“Jangan main-main. Arunika adalah investor utama proyek ini.”

“Aku tahu. Aku yang menyetujui pendanaannya.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Miguel kehilangan kata-kata.

Namun, aku belum berniat mempermalukannya di depan para tamu.

Aku berdiri dan merapikan gaunku.

“Kita bicara besok di kantor. Malam ini nikmati pestamu.”

Aku berjalan keluar sebelum dia sempat menjawab.

Keesokan paginya, Miguel meneleponku sebelas kali.

Aku baru mengangkat panggilan kedua belas.

“Angela, kita harus bicara.”

“Aku sedang sarapan.”

“Ini serius!”

“Aku juga serius. Sarapanku bisa dingin.”

Dia menarik napas panjang.

“Apa kamu sengaja melakukan semua ini untuk membalas dendam?”

Aku meletakkan sendok.

“Miguel, aku tidak pernah mengganggu pekerjaanmu. Aku hanya mengelola investasiku sendiri.”

“Tapi kamu menyembunyikan semuanya!”

Aku tertawa pelan.

“Seperti kamu menyembunyikan Jessa?”

Telepon langsung sunyi.

Sore harinya, aku datang ke kantor pusat PT Pratama Konstruksi bersama pengacaraku, Ratna.

Kami membawa laporan hasil audit independen.

Selama delapan bulan terakhir, perusahaan Miguel mengalami masalah arus kas serius.

Beberapa proyek terlambat, pembayaran kepada pemasok tertunggak, dan sejumlah pengeluaran pribadi disamarkan sebagai biaya operasional.

Ada apartemen untuk Jessa.

Ada mobil mewah.

Ada perjalanan ke Singapura.

Dan ada transfer rutin kepada perusahaan milik adikku, Carlo.

Jumlahnya mencapai dua belas miliar rupiah.

Aku menatap laporan itu lama sekali.

Selama ini, keluargaku selalu berkata bahwa mereka bergantung kepada Miguel.

Ternyata, ketergantungan itu jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

“Apakah Carlo benar-benar memberikan jasa kepada perusahaan?” tanyaku.

Ratna menggeleng.

“Kami belum menemukan bukti pekerjaan yang sebanding dengan pembayaran tersebut.”

Aku menutup berkas.

“Lanjutkan pemeriksaannya. Jangan menuduh siapa pun sebelum ada bukti lengkap.”

Dua hari kemudian, ibuku datang ke apartemenku.

Dia bahkan tidak mengetuk.

Begitu pintu terbuka, dia langsung berteriak.

“Angela! Apa kamu sudah gila? Miguel bilang kamu mau menghancurkan perusahaannya!”

Aku mempersilakannya duduk.

Namun, dia tetap berdiri.

“Kamu tahu Carlo baru saja membeli rumah? Kalau perusahaan Miguel bermasalah, bagaimana nasib adikmu?”

Aku menatap perempuan yang melahirkanku itu.

“Bu, kapan terakhir kali Ibu mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku?”

Dia terdiam.

“Apa hubungannya?”

“Aku hanya bertanya.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan!”

Aku tersenyum getir.

“Selama dua puluh sembilan tahun, aku selalu mengingat ulang tahun Carlo. Aku membelikannya hadiah, membayar kuliahnya, bahkan membantu modal usahanya. Tapi setiap ulang tahunku, kalian selalu bilang bisa dirayakan bersamaan dengan ulang tahunnya.”

“Itu cuma masalah kecil!”

“Benar. Selama ini semua yang menyakitiku selalu kalian anggap masalah kecil.”

Wajah ibu memerah.

“Kamu anak perempuan tertua! Sudah kewajibanmu membantu keluarga!”

“Kalau begitu, mulai hari ini aku berhenti menjalankan kewajiban yang tidak pernah kalian hargai.”

Ibu mengangkat tangan.

Aku tidak bergerak.

Namun, sebelum tamparannya mendarat, aku berkata pelan.

“Kalau Ibu memukulku, aku akan meminta petugas keamanan mengantar Ibu keluar.”

Tangannya berhenti di udara.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di matanya.

Ketakutan.

Bukan karena aku lebih kuat.

Melainkan karena dia menyadari aku tidak lagi takut kehilangan kasih sayangnya.

Malam itu, Miguel datang membawa bunga.

Bunga mawar putih.

Jenis bunga yang dulu selalu dibawanya setiap kali meminta maaf.

“Angela, aku tahu aku salah.”

Aku memandangnya tanpa bicara.

“Hubunganku dengan Jessa sudah berakhir.”

“Sejak kapan?”

“Tadi siang.”

Aku hampir tertawa.

Tujuh tahun pernikahan kami ternyata bisa diperbaiki dalam satu siang, asalkan rekening banknya mulai terancam.

“Aku masih mencintaimu,” katanya.

Aku menggeleng.

“Tidak, Miguel. Kamu mencintai kenyamanan yang kuberikan.”

Dia berlutut.

Persis seperti dua tahun lalu.

Namun, kali ini tidak ada hujan.

Dan tidak ada lagi perempuan yang akan menangis melihatnya.

“Aku akan berubah.”

“Kamu tidak perlu berubah untukku.”

“Angela…”

“Aku ingin bercerai.”

Dia berdiri mendadak.

“Kamu tidak bisa melakukan itu! Kita sudah membuat kesepakatan!”

“Kesepakatan tentang kebebasan pribadi, bukan larangan bercerai.”

Wajahnya mengeras.

“Kamu pikir bisa merebut perusahaanku begitu saja?”

“Aku tidak ingin merebutnya. Aku hanya ingin melindungi hakku dan memastikan uang perusahaan tidak lagi digunakan sembarangan.”

Aku menyerahkan salinan surat dari pengacaraku.

“Mulai sekarang, semua urusan kita melalui jalur hukum.”

Miguel merobek surat itu.

Aku tidak bereaksi.

Ratna masih memiliki salinan aslinya.

Tiga minggu berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.

Miguel mencoba menghubungi beberapa pemegang saham untuk menyingkirkanku.

Namun, audit menemukan cukup banyak penyimpangan sehingga dewan komisaris memutuskan membatasi kewenangan keuangannya sementara penyelidikan berlangsung.

Proyek kawasan industri tetap berjalan, tetapi pendanaannya kini diawasi ketat.

Aku tidak ingin ratusan karyawan kehilangan pekerjaan hanya karena kesalahan direktur mereka.

Sementara itu, Jessa menghubungiku.

Dia meminta bertemu di sebuah kafe di Jakarta Selatan.

Ketika datang, wajahnya pucat.

Tidak ada lagi kalung berlian di lehernya.

“Aku hamil,” katanya tanpa basa-basi.

Aku terdiam.

“Miguel tahu?”

Dia mengangguk.

“Dia menyuruhku menggugurkannya.”

Aku merasakan sesuatu mencengkeram dadaku.

Bukan kecemburuan.

Melainkan kesedihan melihat betapa mudahnya lelaki itu memperlakukan manusia sebagai barang yang bisa dibuang.

“Kenapa kamu memberitahuku?”

Jessa menunduk.

“Karena aku pikir dia akan menikahiku setelah meninggalkan Ibu.”

Air matanya jatuh.

“Ternyata dia bilang aku cuma kesalahan.”

Aku menatapnya lama.

Dulu aku membencinya.

Namun, sekarang aku hanya melihat seorang perempuan yang sedang menghadapi akibat pilihannya sendiri.

“Aku tidak bisa menyelesaikan masalahmu, Jessa. Tapi anak itu tidak bersalah. Kalau Miguel menolak tanggung jawabnya, carilah bantuan hukum.”

Dia mengangguk sambil menangis.

Sebelum pergi, Jessa mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Ada sesuatu yang harus Ibu lihat.”

Isinya membuat darahku terasa membeku.

Rekaman percakapan Miguel dengan Carlo.

Dalam rekaman itu, mereka membicarakan rencana mengalihkan beberapa aset perusahaan ke badan usaha baru sebelum audit selesai.

Namun, bukan itu yang paling mengejutkanku.

Carlo terdengar tertawa.

“Tenang saja, Mas. Kak Angela tidak akan berani melawan. Kalau dia mengancam cerai lagi, Mama pasti bisa mengurusnya seperti dulu.”

Miguel menjawab santai.

“Memang. Angela terlalu takut kehilangan keluarga.”

Aku mematikan rekaman.

Selama bertahun-tahun, aku mengira keluargaku hanya terlalu mementingkan uang.

Ternyata, mereka juga sengaja memanfaatkan ketakutanku untuk mengendalikanku.

Bukti itu kuserahkan kepada Ratna.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan dokumen dan transaksi yang mendukung dugaan pengalihan aset tersebut.

Miguel dicopot dari jabatan direktur utama melalui keputusan pemegang saham.

Carlo kehilangan kontrak dengan perusahaan dan harus mempertanggungjawabkan transaksi yang dipersoalkan.

Aku mengajukan gugatan perceraian dan tuntutan terkait hak keuanganku.

Prosesnya tidak singkat.

Ada sidang, pemeriksaan, dan malam-malam ketika aku hampir menyerah karena kelelahan.

Namun, aku tidak pernah menarik kembali keputusanku.

Enam bulan kemudian, perceraianku resmi diputuskan pengadilan.

Pada hari yang sama, Miguel menungguku di luar gedung.

Tubuhnya lebih kurus.

Wajahnya tampak lelah.

“Angela, boleh aku bertanya sesuatu?”

Aku berhenti.

“Silakan.”

“Apakah selama ini kamu benar-benar tidak pernah mencintaiku?”

Pertanyaan itu membuatku tersenyum sedih.

“Aku pernah mencintaimu lebih daripada diriku sendiri.”

Matanya memerah.

“Lalu kenapa semuanya berakhir seperti ini?”

“Karena suatu hari aku sadar, mencintaimu tidak seharusnya membuatku membenci hidupku sendiri.”

Dia menunduk.

Aku berjalan meninggalkannya.

Setahun kemudian, pada ulang tahunku yang ketiga puluh, aku kembali ke tepi laut Ancol.

Tempat itu mengingatkanku pada malam ketika aku merasa tidak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup.

Dulu aku duduk sendirian, dengan kaki terluka dan hati yang nyaris hancur.

Sekarang aku datang membawa sebuah kue kecil.

Di atasnya hanya ada satu lilin.

Ponselku bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Selamat ulang tahun, Angela. Aku harap kamu bahagia. Miguel.

Aku membacanya sekali, lalu menyimpan ponsel.

Beberapa menit kemudian, Ratna menelepon.

“Selamat ulang tahun! Jadi, bagaimana rasanya menjadi pemilik perusahaan investasi yang baru saja masuk daftar seratus perusahaan berkembang paling menjanjikan?”

Aku tertawa.

“Rasanya biasa saja.”

“Pembohong. Kamu pasti sedang tersenyum.”

“Memang.”

“Besok kita makan malam, ya?”

“Baik.”

Setelah telepon ditutup, aku menyalakan lilin.

Angin laut bertiup lembut.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak menunggu seseorang datang membawa hadiah.

Aku tidak menunggu telepon dari keluarga.

Aku tidak berharap seorang lelaki mengingat tanggal lahirku.

Aku hanya duduk, memandangi cahaya kecil di hadapanku.

Lalu aku membuat sebuah permohonan.

Semoga aku tidak pernah lagi meninggalkan diriku sendiri demi mempertahankan seseorang yang ingin pergi.

Aku meniup lilin itu.

Tiba-tiba, seorang perempuan tua yang duduk tidak jauh dariku tersenyum.

“Ulang tahun, Nak?”

Aku mengangguk.

“Selamat ulang tahun. Sendirian saja?”

Aku memandang laut yang berkilauan diterpa matahari sore.

Dulu, pertanyaan itu mungkin akan membuatku menangis.

Namun, kali ini aku tersenyum lebar.

“Tidak, Bu.”

Perempuan itu melihat sekeliling dengan bingung.

“Memangnya bersama siapa?”

Aku meletakkan tangan di dada.

“Bersama seseorang yang sudah lama sekali kutinggalkan.”

Dia tampak tidak mengerti.

Aku hanya tertawa kecil.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Selama tujuh tahun, aku terus memohon agar Miguel memilihku.

Aku memohon agar keluargaku menyayangiku.

Aku memohon agar orang-orang berhenti menyakitiku.

Namun, aku lupa bahwa ada satu orang yang juga menunggu untuk dipilih.

Diriku sendiri.

Dan pada ulang tahunku yang ketiga puluh, setelah kehilangan suami, keluarga, dan kehidupan yang pernah kupertahankan mati-matian, akhirnya aku memberikan hadiah paling berharga kepada perempuan itu.

Kebebasan.

Bukan kebebasan untuk membalas dendam.

Bukan kebebasan untuk menghancurkan orang lain.

Melainkan kebebasan untuk hidup tanpa harus meminta izin kepada siapa pun agar bisa merasa bahagia.

Aku mengambil sepotong kue dan mencicipinya.

Rasanya manis.

Anehnya, selama bertahun-tahun aku hampir lupa bagaimana rasa manis yang sesungguhnya.

Aku memandang matahari yang perlahan tenggelam, lalu berbisik kepada diriku sendiri.

“Selamat ulang tahun, Angela.”

Dan untuk pertama kalinya, ucapan itu terasa lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang