SETIAP PERAWAT YANG DITUGASKAN MERAWAT PASIEN KOMA ITU MALAH HAMIL

Dr. Arman hampir tidak bisa tidur malam itu.

Sepanjang akhir pekan, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.

Ia berharap kamera itu tidak merekam apa pun selain rutinitas biasa: perawat memeriksa infus, mengganti posisi tubuh Miguel, lalu keluar dari ruangan.

Namun di sisi lain, ia juga berharap ada sesuatu yang bisa menjelaskan semuanya secara logis.

Senin pagi, sebelum rumah sakit mulai ramai, Dr. Arman menutup pintu ruang kerjanya dan memasukkan kartu memori kamera ke komputer.

Rekaman beberapa jam pertama terlihat biasa saja.

Miguel tetap tidak bergerak.

Monitor jantung berbunyi stabil.

Perawat datang bergantian memeriksa tekanan darah, membersihkan tubuh pasien, lalu meninggalkan ruangan.

Tidak ada yang aneh.

Dr. Arman menghela napas lega.

Mungkin semua ini memang hanya kebetulan.

Namun tepat pukul 02.17 dini hari…

Seseorang muncul di depan pintu.

Bukan perawat yang sedang bertugas.

Orang itu mengenakan jas laboratorium putih, masker, penutup kepala, dan kacamata pelindung.

Wajahnya hampir tidak terlihat.

Ia membuka pintu menggunakan kartu akses.

Gerakannya sangat tenang, seolah sudah berkali-kali melakukannya.

Dr. Arman langsung menghentikan video.

Ia memperbesar gambar kartu identitas yang menggantung di dada orang tersebut.

Terlalu buram.

Tidak bisa dibaca.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ia memutar kembali rekaman.

Pria misterius itu memeriksa ke arah lorong, memastikan tidak ada siapa pun, lalu mengunci pintu dari dalam.

Selama hampir tiga puluh menit, kamera hanya memperlihatkan sebagian tubuhnya karena posisi ventilasi tidak menangkap seluruh sudut ruangan.

Namun ada satu hal yang membuat Dr. Arman merinding.

Orang itu sama sekali tidak memeriksa kondisi pasien.

Ia justru membuka lemari penyimpanan alat medis.

Mengambil sesuatu.

Lalu mendekati tempat tidur Miguel.

Beberapa menit kemudian ia keluar membawa sebuah kotak pendingin kecil.

Tidak ada alarm.

Tidak ada suara gaduh.

Seolah semua yang dilakukannya adalah prosedur rutin.

Dr. Arman segera menghubungi bagian keamanan rumah sakit.

Mereka memeriksa log kartu akses elektronik.

Hasilnya mengejutkan.

Pada pukul 02.17, sistem mencatat bahwa pintu Ruang 412-C dibuka menggunakan kartu milik…

Dr. Arman sendiri.

“Itu tidak mungkin,” katanya pelan.

Kartunya sejak Jumat tidak pernah keluar dari dompet.

Bagian IT kemudian melakukan pemeriksaan lebih mendalam.

Beberapa hari kemudian, mereka menemukan fakta yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Ada kartu duplikat ilegal yang dibuat beberapa bulan sebelumnya.

Seseorang dengan sengaja menyalin akses milik beberapa dokter senior.

Bukan hanya kartu Dr. Arman.

Termasuk kartu kepala bagian anestesi dan kepala laboratorium.

Artinya…

Ada orang dalam rumah sakit yang telah merencanakan semuanya sejak lama.

Manajemen segera membentuk tim investigasi internal.

Semua rekaman CCTV lorong menuju Ruang 412-C selama enam bulan terakhir diperiksa satu per satu.

Setelah berhari-hari menonton ratusan jam rekaman, seorang petugas keamanan menemukan sesuatu.

Pria bermasker itu selalu datang pada jam yang hampir sama.

Dan setiap kali ia datang…

Beberapa kamera di lorong tiba-tiba kehilangan sinyal selama tiga hingga lima menit.

Gangguan itu selalu dianggap sebagai kerusakan jaringan biasa.

Kini semuanya terlihat seperti sabotase.

Dr. Arman mulai menyusun daftar orang yang memiliki pengetahuan teknis untuk melakukan hal itu.

Jumlahnya tidak banyak.

Kurang dari sepuluh orang.

Salah satunya adalah seorang teknisi kontrak yang beberapa minggu sebelumnya tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan jelas.

Polisi kemudian ikut dilibatkan.

Mereka melacak keberadaan mantan teknisi tersebut.

Saat rumah kontrakannya digeledah, ditemukan beberapa kartu akses kosong, alat pemrogram kartu elektronik, dan catatan mengenai jadwal pergantian shift di Ruang 412-C.

Namun pria itu sudah menghilang.

Kasus yang semula hanya dianggap rumor rumah sakit kini berubah menjadi penyelidikan kriminal berskala besar.

Media mulai memenuhi halaman depan rumah sakit.

Keluarga Miguel akhirnya diberi tahu mengenai perkembangan tersebut.

Ibunya menangis sepanjang pertemuan.

“Apa pun yang terjadi, kami hanya ingin kebenarannya,” katanya lirih.

Sementara itu, seluruh perawat yang pernah bertugas di Ruang 412-C mendapatkan pendampingan psikologis dan perlindungan hukum.

Mereka tidak lagi dipandang sebagai bahan gosip.

Mereka diperlakukan sebagai pihak yang membutuhkan dukungan dalam proses penyelidikan.

Beberapa minggu kemudian, polisi memperoleh petunjuk baru dari hasil pemeriksaan forensik terhadap rekaman video.

Pantulan samar pada kaca monitor di dalam ruangan memperlihatkan sebagian wajah pria bermasker.

Cukup untuk dibandingkan dengan data pegawai rumah sakit.

Ketika hasil pencocokan keluar, seluruh ruangan investigasi mendadak sunyi.

Nama yang muncul bukan orang asing.

Melainkan seseorang yang selama ini bekerja di rumah sakit itu dan dikenal hampir semua staf.

Dr. Arman menatap layar komputer tanpa berkata apa-apa.

Ia tidak pernah membayangkan orang yang selama ini menyapa semua orang dengan senyum ramah…

Kini menjadi pusat penyelidikan terbesar dalam sejarah Rumah Sakit Medika Harapan.

Dan saat polisi bersiap melakukan penangkapan, sebuah kabar yang sama sekali tak terduga datang dari Ruang 412-C.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…

Jari tangan Miguel bergerak.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang