Derit pintu itu memantul di dalam bukit.
Pak Hasan dan Bu Siti saling berpandangan.
Sesaat, tidak ada yang bergerak.
Udara dingin berembus dari celah pintu, membawa aroma kayu tua, tanah lembap, dan sesuatu yang sulit dijelaskan—bukan bau busuk, melainkan bau ruangan yang sudah bertahun-tahun tertutup.
Pak Hasan mengeluarkan senter kecil dari tas perkakas yang selalu ia bawa.
“Aku masuk dulu.”
“Hasan…”
“Kalau ada apa-apa, kita langsung keluar.”
Mereka melangkah perlahan.
Ruangan di balik pintu ternyata jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Lorong batu itu memanjang sekitar dua puluh meter sebelum berakhir di sebuah ruangan bundar.
Di tengah ruangan terdapat meja kayu besar yang dipenuhi debu.
Di sudut ruangan berdiri lemari besi tua.
Ada rak-rak kayu.
Ada tempat tidur sederhana.
Ada perapian batu.
Seolah seseorang pernah tinggal di sana bertahun-tahun.
Namun kini…
Kosong.
Yang paling mengejutkan adalah dinding sebelah kanan.
Di sana tergantung puluhan foto hitam putih.
Foto seorang pria muda.
Foto seorang wanita.
Foto keluarga.
Foto anak-anak desa.
Bu Siti mendekat.
Matanya tiba-tiba membesar.
“Hasan…”
Pak Hasan ikut mendekat.
Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Di salah satu foto…
Ada dirinya.
Masih berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Sedang memperbaiki mesin pompa air milik warga.
“Itu… aku…”
Suara Pak Hasan bergetar.
“Tapi… siapa yang mengambil foto ini?”
Di sebelah foto itu terdapat tulisan tangan yang mulai pudar.
“Untuk Hasan. Orang baik yang tidak pernah meminta bayaran.”
Pak Hasan memejamkan mata.
Tiba-tiba ia teringat.
Empat puluh lima tahun lalu.
Saat masih menjadi montir muda.
Ia pernah diminta memperbaiki pompa air milik seorang lelaki tua yang tinggal sendirian di lereng gunung.
Pria itu sangat miskin.
Ketika pekerjaan selesai, lelaki itu meminta maaf karena tidak mampu membayar.
Pak Hasan hanya tersenyum.
“Kalau airnya sudah mengalir lagi, itu sudah cukup.”
Lalu ia pulang.
Ia bahkan sudah melupakan kejadian itu.
Bu Siti berjalan mengelilingi ruangan.
Di meja terdapat sebuah buku harian yang sampulnya hampir hancur.
Ia meniup debunya perlahan.
Halaman pertama bertuliskan:
“Milik Surya Wibowo.”
Nama itu membuat Pak Hasan terdiam.
“Pak Surya…”
“Aku ingat sekarang.”
“Itu nama kakek yang tinggal sendirian di sini.”
Bu Siti membuka halaman berikutnya.
Tulisan tangan tua memenuhi kertas.
“Jika suatu hari seseorang menemukan tempat ini, mungkin aku sudah tidak ada.”
“Aku tidak memiliki anak.”
“Aku tidak memiliki saudara.”
“Tetapi aku pernah ditolong oleh banyak orang baik.”
Halaman demi halaman berisi cerita hidup lelaki tua itu.
Ia ternyata pernah menjadi ahli geologi yang bekerja untuk pemerintah.
Selama puluhan tahun ia mengumpulkan tabungan.
Namun setelah pensiun, ia memilih hidup menyendiri di gunung.
Ia kehilangan istrinya.
Tidak pernah memiliki keturunan.
Tetapi ia mencatat nama setiap orang yang pernah berbuat baik kepadanya.
Ada guru.
Ada petani.
Ada tukang ojek.
Ada bidan desa.
Dan…
Nama Hasan.
Pak Hasan membaca tulisan itu dengan napas tertahan.
“Montir muda bernama Hasan menolak menerima uangku.”
“Ia berkata, ‘Kalau Bapak bisa mandi lagi karena pompa ini hidup, saya sudah senang.'”
“Jarang ada orang seperti itu.”
Air mata Pak Hasan mulai jatuh.
Ia sama sekali tidak ingat pernah mengucapkan kalimat itu.
Bu Siti terus membaca.
Semakin jauh halaman dibuka, semakin aneh isi buku itu.
Pak Surya ternyata menyimpan semua harta yang dimilikinya.
Bukan di bank.
Melainkan dalam berbagai investasi, tanah, dan deposito yang seluruh dokumennya disimpan di sebuah lemari besi.
Namun ada satu syarat yang ia tulis.
“Aku tidak ingin hartaku jatuh kepada orang yang tamak.”
“Aku ingin memberikannya kepada orang yang tetap memilih menjadi baik ketika hidup tidak memperlakukannya dengan baik.”
Bu Siti menatap suaminya.
“Hasan…”
Pak Hasan hanya menggeleng.
“Jangan berharap macam-macam.”
“Itu bukan milik kita.”
Namun ketika mereka membuka halaman terakhir…
Mereka kembali membeku.
Di sana terdapat surat yang belum pernah dibuka.
Di bagian depan amplop tertulis:
UNTUK HASAN DAN ISTINYA, JIKA TAKDIR MEMBAWA MEREKA KEMBALI KE SINI.
Tangan Bu Siti gemetar.
“Bagaimana mungkin…”
“Dia tahu nama kita?”
Pak Hasan perlahan membuka amplop itu.
Isi suratnya masih utuh.
“Hasan…”
“Kalau kau membaca surat ini, berarti Tuhan masih mengingat orang baik.”
“Aku tidak pernah lupa bahwa kau pernah menyelamatkan hidupku.”
Pak Hasan mengernyit.
“Menyelamatkan?”
Ia terus membaca.
“Hari ketika pompa air rusak, aku hampir meninggal karena dehidrasi.”
“Tidak ada seorang pun mau datang ke rumahku karena tempat ini terlalu jauh.”
“Hanya kau yang datang tanpa mengeluh.”
“Mungkin bagimu itu pekerjaan kecil.”
“Bagiku… itu hari ketika aku diberi kesempatan hidup beberapa tahun lagi.”
Pak Hasan menutup mulutnya.
Air matanya mengalir deras.
Ia benar-benar tidak pernah tahu.
Surat itu berlanjut.
“Aku tidak tahu apakah kau masih hidup ketika surat ini ditemukan.”
“Tetapi jika kau masih hidup…”
“Seluruh isi lemari besi ini adalah milikmu.”
Bu Siti menoleh ke arah lemari tua itu.
Pak Hasan langsung menggeleng keras.
“Tidak.”
“Tidak mungkin.”
“Mungkin surat ini untuk Hasan yang lain.”
Namun di bawah kalimat itu tertulis jelas:
“Hasan, montir dari Desa Sukamaju. Suami dari Siti.”
Bu Siti menangis.
Tangis yang sejak siang ia tahan akhirnya pecah.
Pak Hasan berdiri mematung.
Seluruh tubuhnya gemetar.
Ia perlahan membuka lemari besi menggunakan kombinasi angka yang juga tertulis dalam surat.
Klik.
Pintu besi terbuka.
Di dalamnya terdapat map-map tebal.
Sertifikat tanah.
Deposito.
Dokumen kepemilikan.
Dan sebuah buku rekening.
Pak Hasan membuka halaman terakhir buku itu.
Saldo yang tertulis membuat napas mereka berhenti.
Belasan miliar rupiah.
Belum termasuk puluhan hektare lahan yang kini berada di pinggiran kota dan nilainya telah melonjak berkali-kali lipat.
Bu Siti terduduk.
“Ya Allah…”
Pak Hasan justru menutup kembali lemari itu.
“Kita tidak boleh mengambil keputusan malam ini.”
Bu Siti memandang suaminya heran.
“Kenapa?”
“Kita sudah kehilangan rumah.”
“Kita tidak punya apa-apa.”
Pak Hasan menarik napas panjang.
“Aku tidak mau keserakahan masuk ke hati kita di hari pertama.”
“Malam ini kita istirahat.”
“Besok kita cari notaris.”
“Kita pastikan semuanya sah.”
“Itu baru benar.”
Bu Siti menatap pria yang telah menemaninya selama hampir lima puluh tahun.
Bahkan ketika harta miliaran rupiah berada tepat di depan mata…
Hal pertama yang dipikirkan suaminya bukanlah bagaimana menguasainya.
Melainkan bagaimana memastikan bahwa mereka tetap menjadi orang jujur.
Malam itu mereka tidur di ruangan kecil dalam bukit.
Untuk pertama kalinya sejak rumah mereka disita…
Mereka merasa aman.
Namun mereka tidak tahu…
Keesokan paginya…
Di kota, ketiga anak mereka justru sedang berkumpul di sebuah kantor notaris.
Mereka datang bukan untuk mencari orang tua mereka.
Melainkan untuk mengurus surat yang akan menyatakan Pak Hasan dan Bu Siti tidak diketahui keberadaannya, agar urusan warisan keluarga bisa segera diselesaikan.
Mereka sama sekali tidak menyadari…
Bahwa takdir telah berbalik arah.
Dan pintu tua di sisi gunung itu baru saja membuka awal dari penyesalan terbesar dalam hidup mereka.
