Aku menelepon orang pertama bahkan sebelum koperku kubuka.
“Selamat malam, Bu Nadia,” suara tenang seorang pria terdengar dari seberang. “Saya Arga dari Divisi Keamanan Aset. Apakah sudah sampai di rumah?”
“Sudah.”
“Apa semua berjalan sesuai prediksi?”
Aku menatap ruang tamuku yang kosong.

“Bahkan lebih parah.”
Pria itu menarik napas pelan.
“Baik. Berarti kami bisa lanjut ke tahap berikutnya.”
Aku menutup mata sesaat.
Tiga bulan sebelumnya, saat Livia tanpa sengaja menyebut angka tabunganku, naluriku langsung mengatakan sesuatu tidak beres.
Aku bukan orang yang mudah percaya.
Aku membangun perusahaan teknologi logistik dari nol.
Selama bertahun-tahun aku menghadapi investor licik, rekan bisnis yang berkhianat, hingga percobaan peretasan akun perusahaan.
Kalau menghadapi orang asing saja aku selalu waspada…
Bagaimana mungkin aku tidak curiga pada keluargaku sendiri, yang sejak kecil selalu menganggap semua milikku adalah milik mereka?
Karena itu, aku menemui pengacaraku.
Lalu auditor.
Lalu pihak bank.
Kami menyusun sebuah rencana yang sangat sederhana.
Semua rekening utama dipindahkan menjadi rekening korporasi dengan otorisasi berlapis.
Setiap transaksi di atas lima ratus juta rupiah membutuhkan tiga verifikasi berbeda.
Sidik jari.
Token fisik.
Persetujuan trustee independen.
Sementara rekening pribadiku…
Sengaja kubiarkan terlihat seperti dulu.
Saldo yang muncul memang dua puluh lima miliar.
Namun dana itu sudah berubah status menjadi dana escrow investasi.
Secara teknis memang terlihat ada.
Tetapi tidak bisa digunakan tanpa prosedur yang sangat panjang.
Dan yang paling penting…
Jika ada upaya pencairan secara tidak sah…
Sistem otomatis langsung membekukan seluruh dana.
Termasuk rekening penerima.
Bahkan jika uang itu sempat berpindah.
Aku bertanya pelan.
“Sudah dibekukan?”
Arga menjawab singkat.
“Dua jam setelah transaksi pertama.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Ia melanjutkan.
“Mereka melakukan tujuh belas transaksi.”
“Tujuh belas?”
“Ya.”
“Mereka terus mencoba setelah gagal.”
Aku tertawa kecil.
Itu memang ibuku.
Kalau satu pintu tertutup…
Dia akan mendobrak tujuh belas pintu lainnya.
“Tapi…” Arga berkata lagi.
“Ada perkembangan menarik.”
“Apa?”
“Mereka tidak hanya mengambil uang.”
Aku menatap ruang kosong.
“Aku tahu.”
“Mereka juga menjual sebagian besar barang Ibu melalui tiga penadah berbeda.”
Aku mengangkat alis.
“Cepat juga.”
“Kami sudah mendapatkan nama mereka.”
Aku langsung menghubungi penyidik yang selama ini menangani kejahatan ekonomi untuk perusahaan kami.
Komisaris Damar.
Dia menerima teleponku hanya dalam dua dering.
“Nadia.”
“Semua terjadi.”
“Aku sudah tahu.”
“Kamu sudah tahu?”
“Kami menerima laporan bank sekitar satu jam lalu.”
Aku terdiam.
“Kamu ingat surat kuasa yang kamu tandatangani dua bulan lalu?”
“Tentu.”
“Itu memberi kami hak bergerak tanpa menunggu laporan resmi darimu.”
Aku menarik napas panjang.
“Jadi sekarang?”
“Sekarang mereka sedang check-in di Bandara Ngurah Rai.”
Aku langsung melihat jam.
Pesawat Jakarta–Bali yang mereka naiki pasti baru mendarat sekitar tiga puluh menit.
Damar melanjutkan.
“Tim kami sudah berkoordinasi.”
“Mereka belum tahu?”
“Belum.”
“Biarkan.”
Aku ingin mereka menikmati beberapa menit terakhir sebagai orang yang merasa menang.
Sementara itu…
Di Bali.
Ibuku berjalan keluar dari terminal domestik sambil mengenakan topi lebar dan kacamata hitam.
Seolah-olah sedang menjadi artis terkenal.
Livia sibuk merekam video.
“Hai semuanya!”
“Kami akhirnya liburan!”
“Kadang hidup memang harus memilih diri sendiri!”
Mereka tertawa.
Ibuku bahkan memesan Alphard lengkap dengan sopir.
“Kita menginap di resort terbaik.”
“Kali ini Mama mau menikmati hidup.”
Livia mengangguk antusias.
“Setelah ini kita belanja tas.”
“Terus jam.”
“Terus vila di Ubud.”
Ibuku tersenyum puas.
“Uang Nadia cukup untuk semuanya.”
Mereka belum sempat masuk mobil.
Telepon ibuku berdering.
Nomor bank.
Dia mengangkat dengan santai.
“Halo?”
“Selamat sore. Apakah benar Ibu Ratna Santoso?”
“Ya.”
“Kami menginformasikan bahwa seluruh rekening atas nama Ibu telah diblokir sementara.”
Senyumnya menghilang.
“Apa?”
“Seluruh transaksi dinyatakan tidak sah dan sedang dalam proses investigasi.”
“Apa maksudmu?”
“Dana yang baru masuk juga telah dibekukan.”
“Tapi itu uang saya!”
“Mohon maaf, Bu.”
“Dana tersebut saat ini berstatus sengketa hukum.”
Ibuku langsung berteriak.
“Kalian tidak berhak!”
Petugas hanya mengulang prosedur.
“Silakan menghubungi penyidik yang menangani perkara.”
Telepon ditutup.
Belum sempat dia memprotes.
Telepon kedua masuk.
Kali ini dari Livia.
“Mama!”
“Kenapa?”
“Kartuku ditolak!”
“Apa?”
“Semua kartu!”
“Debit!”
“Kredit!”
“Dompet digital!”
“Semuanya tidak bisa dipakai!”
Ibuku mulai panik.
Mereka mencoba membayar sopir.
Mesin EDC berbunyi.
TRANSAKSI DITOLAK.
Mereka mencoba kartu lain.
Ditolak.
Kartu berikutnya.
Ditolak.
Sopir mulai memandang mereka dengan curiga.
“Maaf, Bu…”
“Pembayarannya bagaimana?”
Livia mulai berkeringat.
“Mungkin sinyal…”
Sopir menggeleng.
“Mesinnya normal.”
Di Jakarta…
Aku sedang duduk di ruang tamuku yang kosong ketika teleponku berdering.
Nama yang muncul…
Mama.
Aku membiarkannya berdering.
Lalu berhenti.
Lalu berdering lagi.
Lalu lagi.
Dua belas kali.
Aku tetap diam.
Kemudian masuk pesan.
Nadia, angkat teleponmu sekarang.
Aku tidak menjawab.
Satu menit kemudian.
Ini semua salah paham.
Dua menit kemudian.
Mama cuma pinjam.
Lima menit kemudian.
Kalau kamu terus diam, Mama bisa ditangkap.
Aku meletakkan ponsel.
Belum sampai sepuluh detik…
Telepon lain masuk.
Nomor tak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Selamat sore.”
Suara pria itu tenang.
“Ibu Nadia?”
“Ya.”
“Saya Komisaris Damar.”
“Mereka sudah kami amankan.”
Aku menatap langit Jakarta yang mulai gelap.
“Di mana?”
“Masih di area bandara.”
“Mereka sempat mencoba meninggalkan lokasi.”
“Tapi setelah rekening diblokir dan identitas mereka masuk dalam sistem pemeriksaan, tim langsung melakukan klarifikasi.”
“Bagaimana reaksi mereka?”
Damar tertawa kecil.
“Ibu Anda terus mengatakan semua itu adalah hadiah darimu.”
“Sedangkan adikmu berkata dia hanya ikut liburan.”
Aku memejamkan mata.
Lelah.
Bukan karena uang.
Bukan karena rumah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup…
Ibuku akhirnya harus menjelaskan kebohongannya kepada orang yang tidak bisa ia manipulasi.
Dan tepat saat aku hendak mengakhiri panggilan, Damar berkata pelan,
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Sepertinya ini baru permulaan.”
“Karena saat kami memeriksa dokumen transaksi mereka…”
“Kami menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada pencurian dua puluh lima miliar.”
