Tangannya gemetar saat membuka blazer yang dikenakannya.
Dan tepat saat aku hendak menggenggam tangannya…
Aku membeku.
Di sisi kiri dadanya, tepat di bawah tulang selangka, tampak bekas luka operasi yang memanjang hampir dua puluh sentimeter. Kulit di sekitarnya masih meninggalkan jejak sayatan yang dalam.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“B-Bu… ini…”
Citra menarik napas panjang.
“Aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun, Arga. Dan aku tidak ingin memulai rumah tangga kita dengan kebohongan.”
Suasana kamar mendadak sunyi.
Suara pendingin ruangan terdengar begitu jelas.
Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur.
“Aku mengidap penyakit jantung sejak lima belas tahun lalu.”

Aku ikut duduk di depannya.
“Dua tahun lalu, dokter berkata umurku mungkin tinggal beberapa bulan.”
Aku menggenggam tangannya erat.
“Tapi…”
Ia tersenyum tipis.
“Keajaiban datang.”
“Aku mendapat donor jantung.”
Aku menghela napas lega.
“Syukurlah…”
Namun ia menggeleng.
“Itu bukan bagian yang sulit.”
Matanya mulai memerah.
“Yang sulit adalah… mengetahui siapa pemilik jantung yang kini berdetak di tubuhku.”
Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh.
“Apa maksud Bu?”
Citra berdiri.
Ia berjalan menuju meja kecil di dekat jendela.
Di sana sudah tersedia sebuah map hitam.
Ia menyerahkannya kepadaku.
“Bukalah.”
Tanganku sedikit gemetar saat membuka map itu.
Di halaman pertama terdapat sebuah foto.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun.
Wajahnya terasa sangat familiar.
Aku mengernyit.
“Ini…”
“Namanya Arman.”
Aku membeku.
Nama itu sangat kukenal.
Ayahku.
Ayah yang meninggal enam tahun lalu karena kecelakaan bus antarkota.
Dadaku mendadak sesak.
“Ayahku?”
Air mata Citra jatuh.
“Iya.”
Aku langsung berdiri.
“Kenapa ada foto ayahku di sini?”
Ia memejamkan mata.
“Karena jantung yang kini menyelamatkan hidupku… berasal dari ayahmu.”
Seisi tubuhku terasa lemas.
Mustahil.
Benar-benar mustahil.
Ayah meninggal akibat kecelakaan.
Bagaimana mungkin…
Aku membuka halaman berikutnya.
Ada salinan surat persetujuan donor organ.
Nama donor.
Tanggal.
Rumah sakit.
Semuanya cocok.
Tanganku mulai gemetar hebat.
“Tidak…”
Air mataku menetes tanpa sadar.
Citra berkata lirih.
“Ayahmu menyelamatkan hidupku.”
Aku tak sanggup berkata apa-apa.
Selama ini aku bahkan tidak pernah tahu bahwa ayah menjadi pendonor organ.
Ibuku juga tak pernah menceritakannya.
Kupikir setelah kecelakaan, semuanya langsung selesai.
Ternyata tidak.
Ayah telah memberi kesempatan hidup kepada orang lain.
Dan orang itu…
adalah perempuan yang kini menjadi istriku.
Aku terduduk.
Kepalaku terasa kosong.
Citra menghampiriku.
“Masih ada satu rahasia lagi.”
Aku mengangkat wajah.
“Apa lagi?”
Ia mengusap air matanya.
“Pertemuan kita…”
“Bukan kebetulan.”
Aku langsung menatapnya.
“Apa maksud Bu?”
“Aku sudah mengenal keluargamu sejak enam tahun lalu.”
Jantungku berdetak semakin cepat.
“Setelah operasi berhasil, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga donor.”
“Tapi keluargamu menolak semua bentuk bantuan.”
Aku teringat.
Memang pernah ada orang-orang berpakaian rapi datang ke rumah setelah ayah meninggal.
Ibu hanya menyuruh mereka pulang.
Aku masih kecil waktu itu.
Tak mengerti apa pun.
Citra melanjutkan.
“Aku tidak menyerah.”
“Setiap tahun aku datang diam-diam ke makam ayahmu.”
“Membawakan bunga.”
“Berdoa.”
“Dan memastikan keluarganya baik-baik saja.”
Aku benar-benar terkejut.
“Jadi… selama ini…”
“Iya.”
“Aku melihatmu tumbuh dewasa.”
“Tapi aku tidak pernah berniat mendekat.”
“Sampai hari ketika aku melihatmu bekerja sebagai tukang las.”
Aku teringat hari itu.
Tanganku melepuh.
Ia datang membawa air mineral dan kotak P3K.
Kupikir itu hanya kebetulan.
Ternyata…
Ia sudah mengenalku jauh sebelumnya.
“Aku ingin membalas budi ayahmu.”
“Tapi bukan dengan uang.”
“Aku hanya ingin memastikan putranya memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.”
Air mataku semakin deras.
“Jadi semua pelajaran… semua buku… semua bantuan…”
“Itu rasa terima kasihku.”
Aku menunduk.
“Lalu… kapan perasaan itu berubah?”
Citra tersenyum getir.
“Saat aku menyadari bahwa setiap kali bertemu denganmu…”
“Aku merasa hidupku kembali berarti.”
Ia menghela napas.
“Aku melawan perasaan itu.”
“Aku sadar usia kita terpaut empat puluh tahun.”
“Aku tahu masyarakat akan menghina kita.”
“Bahkan aku beberapa kali berusaha menjauh.”
“Tapi justru kamu yang selalu datang.”
Aku tertawa kecil di sela tangis.
“Itu karena aku memang mencintaimu.”
Ia ikut menangis.
“Dan itulah yang paling kutakuti.”
Aku menggenggam kedua tangannya.
“Bukan usiamu yang membuatku jatuh cinta.”
“Bukan hartamu.”
“Tapi karena setiap kali bersamamu…”
“Aku merasa menjadi versi terbaik diriku.”
Citra menangis semakin keras.
Namun sebelum ia sempat menjawab…
Terdengar ketukan keras di pintu suite.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga pria berpakaian hitam masuk setelah pintu dibuka.
Salah satu dari mereka langsung menundukkan kepala.
“Maaf mengganggu, Bu.”
“Ada rapat darurat.”
Aku mengernyit.
“Rapat?”
Pria itu tampak gugup melihatku.
“Direksi perusahaan sudah berkumpul.”
“Mereka menunggu keputusan Ibu.”
Aku semakin bingung.
“Direksi perusahaan?”
Citra menarik napas panjang.
Lalu ia menoleh kepadaku.
“Maaf, Arga.”
“Aku belum sempat memberitahumu siapa aku sebenarnya.”
Pria berpakaian hitam itu kemudian berkata pelan,
“Seluruh pemegang saham sudah hadir, Bu Presiden Komisaris.”
Aku menatap Citra dengan mata membelalak.
Presiden Komisaris?
Perusahaan apa?
Ia menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
“Lima belas tahun terakhir…”
“Aku memimpin salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia.”
Dan malam pernikahan kami…
baru saja berubah menjadi awal dari kenyataan yang sama sekali tak pernah kubayangkan.
