SEORANG AYAH TUNGGAL TAK SENGAJA MENDENGAR BOS WANITANYA MENANGIS DI DALAM TOILET KANTOR SAMBIL BERBISIK, “Ibu sudah mencarimu selama lima tahun.”

Namaku Bima.

Lima tahun lalu, istriku menghilang.

Bukan meninggal. Bukan bercerai. Ia lenyap begitu saja.

Hari itu, Maya keluar rumah untuk membeli susu bagi putri kami yang baru berusia enam bulan. Namanya Aluna. Sebelum pergi, Maya mencium kening anak kami cukup lama. Saat itu aku bahkan sempat menertawakannya.

“Kamu cuma ke minimarket, bukan pergi ke luar kota.”

Maya tersenyum, tetapi matanya terlihat aneh.

“Jaga Aluna baik-baik, ya.”

Itulah kalimat terakhir yang kudengar langsung dari mulutnya.

Beberapa menit setelah ia pergi, aku menemukan secarik kertas di bawah botol susu Aluna.

Kalau aku tidak pulang, tolong lindungi Aluna.

Malam itu Maya tidak kembali.

Polisi mencari. Keluarga mencari. Aku mencari ke mana-mana.

Aku menjual mobil, kemudian toko kecil peninggalan ayah. Hampir semua uangku habis untuk menyewa orang mencari informasi tentang Maya. Ribuan selebaran kutempel di terminal, stasiun, rumah sakit, dan berbagai sudut kota.

Tidak ada hasil.

Orang-orang mulai berkata bahwa Maya sengaja meninggalkanku.

Aku tidak percaya.

Aku mengenal istriku.

Maya mungkin bisa meninggalkanku, tetapi dia tidak mungkin meninggalkan Aluna.

Lima tahun berlalu.

Aku akhirnya berhenti mencari bukan karena menyerah, melainkan karena Aluna membutuhkan seorang ayah yang benar-benar hadir.

Aku mendapat pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan properti di Jakarta. Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk membayar kontrakan, sekolah Aluna, dan kebutuhan sehari-hari.

Pemilik perusahaan itu seorang wanita bernama Kirana Adiputri.

Usianya sekitar tiga puluh dua tahun.

Cantik, tegas, dan terkenal dingin.

Karyawan jarang melihatnya tersenyum. Bahkan para manajer senior selalu berhati-hati ketika berbicara dengannya.

Pertama kali bertemu, aku merasa ada sesuatu yang aneh.

Cara Kirana memiringkan kepala ketika mendengarkan orang bicara mengingatkanku pada Maya.

Namun wajah mereka berbeda.

Maya memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kiri. Kirana tidak.

Maya memiliki bekas luka tipis di dagu akibat kecelakaan ketika kecil. Kirana juga tidak.

Aku menganggap kemiripan kecil itu hanya kebetulan.

Sampai suatu sore.

Hari itu kantor hampir kosong. Hujan deras mengguyur Jakarta dan sebagian besar karyawan sudah pulang lebih awal.

Aku masih berada di kantor karena harus menyelesaikan laporan.

Ketika melewati koridor dekat toilet wanita, aku mendengar seseorang menangis.

Aku sebenarnya hendak pergi.

Namun kemudian terdengar suara lirih.

“Ibu sudah mencarimu selama lima tahun.”

Langkahku berhenti.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Lima tahun.

Entah mengapa angka itu menusuk pikiranku.

Suara Kirana terdengar lagi.

“Maafkan Ibu.”

Aku terpaku.

Kemudian pintu toilet terbuka.

Kirana keluar dengan mata merah.

Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah tegang.

“Pak Bima?”

“Maaf, Bu. Saya tidak sengaja mendengar.”

Tatapannya berubah tajam.

“Mendengar apa?”

Aku ragu.

“Tidak banyak.”

Ia menatapku beberapa detik sebelum berjalan melewatiku.

“Lupakan.”

Aku mencoba melupakan kejadian itu.

Namun malamnya, sesuatu terjadi.

Pengasuh Aluna menelepon. Ia harus membawa ibunya ke rumah sakit sehingga tidak bisa menjaga Aluna.

Aku tidak punya pilihan selain membawa putriku ke kantor sebentar.

Aluna sekarang berusia lima tahun. Rambutnya panjang, matanya besar, dan semakin hari wajahnya semakin mirip Maya.

Ketika kami tiba, kantor hampir kosong.

“Papa, aku boleh gambar?”

“Boleh. Duduk di sini. Papa sebentar lagi selesai.”

Aku memberinya kertas dan pensil warna.

Sekitar dua puluh menit kemudian, aku pergi ke ruang fotokopi.

Ketika kembali, kursi Aluna kosong.

“Aluna?”

Tidak ada jawaban.

Aku langsung panik.

Aku mencari ke koridor.

Kemudian terdengar suara anak kecil dari dekat ruang direktur.

“Mama?”

Tubuhku membeku.

Aku berlari.

Aluna berdiri beberapa meter di depanku.

Di hadapannya berdiri Kirana.

Wajah wanita itu pucat.

Aluna menatapnya tanpa berkedip.

“Mama…”

Kirana gemetar.

Pensil yang dipegangnya jatuh ke lantai.

Aku menarik Aluna ke belakangku.

“Aluna, ini bukan Mama.”

Namun putriku menggeleng keras.

“Mama.”

Kirana tiba-tiba menutup mulutnya.

Air matanya mengalir.

Kemudian ia berlutut di depan Aluna.

Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajah anakku, tetapi berhenti di udara.

“Siapa namamu?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Aluna.”

Kirana seperti kehilangan tenaga.

Ia terduduk di lantai.

Aku menatapnya dengan kepala penuh pertanyaan.

“Bu Kirana?”

Wanita itu memandangku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sangat dalam di matanya.

“Nama lengkapnya?”

“Aluna Maharani.”

Kirana menangis semakin keras.

Kemudian ia berbisik,

“Bima…”

Aku mundur satu langkah.

Selama hampir setahun bekerja di sana, Kirana tidak pernah memanggilku tanpa kata Pak.

“Dari mana Anda tahu nama saya seperti itu?”

Ia menatapku.

“Aku tidak tahu.”

“Apa maksud Anda?”

“Aku tidak tahu kenapa aku tahu.”

Aku mulai merasa takut.

Kirana memegang kepalanya.

“Sejak melihat Aluna tadi, ada sesuatu yang muncul. Kamar kecil. Boneka kelinci. Seorang bayi menangis. Dan seorang laki-laki sedang membuat kopi di dapur.”

Napas berhenti di tenggorokanku.

Aku memang selalu membuat kopi setiap pagi ketika Maya menyusui Aluna.

“Siapa sebenarnya Anda?”

Kirana menangis.

“Aku juga ingin tahu.”

Malam itu, untuk pertama kalinya Kirana menceritakan masa lalunya.

Lima tahun lalu ia terbangun di sebuah rumah sakit swasta di Bandung.

Ia tidak mengingat namanya.

Tidak mengingat keluarganya.

Menurut catatan rumah sakit, ia mengalami kecelakaan dan dibawa oleh seorang pria bernama Surya Adiputri.

Surya mengaku sebagai ayahnya.

Kirana mengalami cedera kepala dan kehilangan sebagian besar ingatannya.

Setelah pulih, Surya membawanya ke Singapura hampir dua tahun untuk menjalani perawatan.

“Lalu kenapa Anda percaya bahwa Anda bernama Kirana?”

“Karena semua dokumen mengatakan begitu.”

Aku menatapnya lama.

“Dan Surya?”

“Meninggal tiga tahun lalu.”

Ada sesuatu yang terasa salah.

Aku membuka ponsel.

Tanganku gemetar ketika mencari foto lama Maya.

Aku menunjukkan foto pernikahan kami.

Kirana menatap layar.

Wajahnya pucat.

“Ini bukan saya.”

Memang bukan.

Bentuk wajah Maya dan Kirana berbeda cukup jelas.

Harapanku runtuh.

Namun Aluna menarik lenganku.

“Papa.”

“Apa?”

“Mama punya gelang.”

Aku terdiam.

“Gelang apa?”

“Yang ada bintangnya.”

Aku hampir lupa.

Ketika Aluna masih bayi, Maya selalu memakai gelang perak dengan liontin bintang kecil. Gelang itu pemberianku ketika kami berpacaran.

Kirana mendadak berdiri.

Ia membuka laci meja kerjanya.

Dari kotak kecil, ia mengeluarkan sebuah gelang.

Dunia seperti berhenti.

Gelang perak.

Dengan liontin bintang kecil.

Di belakang liontin itu terdapat ukiran.

B dan M.

Aku mengenalinya.

Karena aku sendiri yang memesannya.

“Dari mana kamu mendapatkan ini?”

Kirana menangis.

“Gelang ini ada di tubuhku ketika aku ditemukan.”

Aku tidak bisa berdiri.

Semua yang kuketahui seolah runtuh.

Namun satu pertanyaan tetap ada.

Jika Kirana adalah Maya, mengapa wajahnya berbeda?

Jawabannya kami temukan tiga hari kemudian.

Aku dan Kirana mendatangi rumah sakit tempat ia pernah dirawat.

Catatan lama menunjukkan sesuatu yang tidak pernah diberitahukan kepadanya.

Setelah kecelakaan, wajahnya mengalami cedera serius dan ia menjalani beberapa operasi rekonstruksi.

Itulah sebabnya tahi lalat Maya hilang.

Bekas luka di dagunya juga tidak terlihat lagi.

Tetapi masih ada satu hal yang lebih mengejutkan.

Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.

Seorang dokter tua bernama dr. Rahmat akhirnya bersedia menemui kami.

Begitu melihat Kirana, wajahnya berubah.

“Saya sudah menduga suatu hari Anda akan kembali.”

Kirana menatapnya.

“Apa yang terjadi lima tahun lalu?”

Dokter itu menarik napas panjang.

“Pria yang mengaku sebagai ayah Anda bukan orang tua kandung Anda.”

Aku langsung berdiri.

“Lalu siapa dia?”

“Surya Adiputri adalah ayah biologis Maya.”

Ruangan menjadi sunyi.

Kirana menatap dokter itu dengan wajah kosong.

Dr. Rahmat kemudian menceritakan semuanya.

Sebelum menikah denganku, Maya dibesarkan oleh ibunya. Ia diberi tahu bahwa ayahnya meninggal ketika ia masih kecil.

Ternyata Surya masih hidup.

Ia seorang pengusaha kaya yang bertahun-tahun mencoba menemukan Maya.

Ketika akhirnya menemukan putrinya, Surya mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit serius dan ingin Maya menjadi penerus bisnisnya.

Namun Maya menolak.

Ia memilih hidup bersamaku dan Aluna.

Surya tidak bisa menerima keputusan itu.

Pada hari Maya menghilang, ia sebenarnya pergi menemui Surya setelah menerima ancaman bahwa keluarganya akan diganggu jika ia terus menolak.

Dalam perjalanan, mobil yang membawa mereka mengalami kecelakaan.

Maya terluka parah.

Surya selamat.

Ketika Maya kehilangan ingatan, Surya melihat kesempatan.

Ia menghapus masa lalu putrinya.

Memberinya identitas baru.

Kirana.

Aku mengepalkan tangan.

“Kenapa tidak ada yang memberi tahu polisi?”

Dokter itu menunduk.

“Surya membayar banyak orang.”

Kirana menangis.

“Tapi kenapa aku meninggalkan pesan untuk Bima sebelum pergi?”

Dokter itu menggeleng.

“Itu hanya Anda yang tahu.”

Kami pulang dalam diam.

Malamnya, Kirana datang ke rumahku.

Aluna sudah tidur.

Aku mengeluarkan kotak lama berisi barang-barang Maya.

Foto.

Surat.

Baju bayi Aluna.

Kirana menyentuh semuanya perlahan.

Kemudian ia menemukan secarik kertas.

Pesan terakhir Maya.

Kalau aku tidak pulang, tolong lindungi Aluna.

Begitu membacanya, Kirana tiba-tiba memegang kepalanya.

Ia menangis.

“Aku ingat.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Surya meneleponku pagi itu.”

Potongan ingatan mulai kembali.

Maya ternyata sudah mengetahui bahwa Surya adalah ayah biologisnya. Pria itu memintanya datang sendirian dan mengancam akan menghancurkan hidup Bima jika ia membawa polisi.

Karena itulah Maya meninggalkan pesan.

Bukan karena ingin pergi.

Ia tahu ada kemungkinan dirinya tidak pulang.

Beberapa minggu kemudian, tes DNA dilakukan.

Hasilnya membuat kakiku lemas.

Probabilitas hubungan biologis antara Kirana dan Aluna lebih dari 99,9 persen.

Kirana adalah Maya.

Istriku.

Ibu Aluna.

Namun ketika hasil itu keluar, aku menyadari sesuatu yang jauh lebih sulit daripada menemukan seseorang yang hilang.

Maya sudah kembali.

Tetapi perempuan di hadapanku juga adalah Kirana.

Ia memiliki lima tahun kehidupan yang tidak pernah kujalani bersamanya.

Ia memiliki pekerjaan, kebiasaan, ketakutan, dan identitas baru.

Aku tidak bisa memaksanya kembali menjadi perempuan yang dulu.

“Aku tidak tahu apakah aku masih bisa menjadi Maya,” katanya suatu malam.

Aku mengangguk.

“Kamu tidak perlu memaksakan diri.”

“Bagaimana dengan kita?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.

Aku menatap Aluna yang tertidur di sofa dengan kepala di pangkuannya.

“Aku mencari istriku selama lima tahun. Tapi mungkin yang paling penting sekarang bukan mendapatkan istriku kembali.”

Kirana menatapku.

“Lalu?”

“Aluna mendapatkan ibunya kembali.”

Air matanya jatuh.

Aku tersenyum kecil.

“Kita mulai dari sana.”

Beberapa bulan berlalu.

Ingatan Maya tidak kembali sepenuhnya.

Ada hari ketika ia mengingat suara tawaku.

Ada hari ketika ia lupa makanan kesukaannya sendiri.

Kadang Aluna memanggilnya Mama dan ia langsung menjawab.

Kadang ia membutuhkan beberapa detik.

Kami tidak mencoba mengembalikan masa lalu dengan paksa.

Kami membangun sesuatu yang baru.

Suatu sore, aku sedang membuat kopi di dapur ketika Kirana berdiri di belakangku.

“Bima.”

Aku menoleh.

Ia tersenyum.

“Aku baru ingat sesuatu.”

“Apa?”

“Pagi sebelum aku menghilang, kamu membuat kopi terlalu pahit.”

Aku tertawa kecil.

“Itu yang kamu ingat setelah semua ini?”

Ia ikut tertawa sambil menangis.

Kemudian Aluna berlari dari ruang tengah.

“Mama!”

Kirana berjongkok dan membuka kedua tangannya.

Aluna memeluknya.

Kali ini tidak ada keraguan.

Aku memandangi mereka dan akhirnya memahami sesuatu.

Selama lima tahun aku berpikir bahwa kehilangan berarti seseorang pergi dan tidak pernah kembali.

Ternyata aku salah.

Kadang seseorang bisa kembali dengan wajah berbeda, nama berbeda, bahkan ingatan yang berbeda.

Dan cinta bukan selalu tentang mengembalikan semuanya seperti semula.

Kadang cinta berarti menerima bahwa sesuatu telah berubah, lalu memilih mengenal orang yang sama sekali lagi.

Namun malam itu, ketika aku hendak menyimpan kembali kotak lama Maya, aku menemukan sebuah amplop yang sebelumnya terselip di bawah lapisan karton.

Tulisan di depannya adalah tulisan tangan Maya.

Untuk Bima, jika suatu hari aku kembali tetapi tidak mengingatmu.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu kalimat.

Jangan paksa aku mengingat siapa dirimu. Buat aku jatuh cinta kepadamu sekali lagi.

Aku menatap ke ruang tengah.

Kirana sedang tertawa bersama Aluna.

Seolah menyadari aku memperhatikannya, ia menoleh.

Tatapan kami bertemu.

Ia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku tidak merasa sedang menunggu istriku pulang.

Karena akhirnya aku mengerti.

Ia sudah pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang