PERGOKI SUAMI BAWA PETI MATI KE RUMAH WARISAN IBU SETIAP SABTU, WANITA INI TEMUKAN RAHASIA KELAM BERSAMA SELINGKUHAN YANG MENGANCAM NYAWANYA!

Maya merasa seluruh tubuhnya membeku ketika mendengar kalimat itu.

Selama dua belas tahun menikah, dia selalu mengira Hendra adalah pria yang mungkin dingin, mungkin terlalu sibuk, tetapi tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suaminya sanggup menjadikannya tameng untuk kejahatan yang bahkan belum dia pahami sepenuhnya.

Dari celah pintu gudang, Maya melihat Hendra berdiri di dekat peti mati hitam itu sambil memeriksa ponselnya.

Salah satu pria bertubuh tegap menuangkan kopi dari termos.

“Kalau Maya tiba-tiba datang?”

Hendra tertawa kecil.

“Dia bahkan tidak suka berada di rumah ini. Setelah ibunya meninggal, dia selalu ingin cepat pulang.”

“Rumah ini mau dijual, kan?”

“Justru itu yang harus kita cegah sampai semua urusan selesai.”

Maya menahan napas.

Jadi selama ini Hendra terus mendesaknya menjual rumah bukan karena ingin membantunya melupakan kesedihan.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu hak tinggi dari ruang depan.

Maya mengintip lebih jauh.

Seorang perempuan masuk melalui pintu utama.

Usianya sekitar akhir tiga puluhan, rambut sebahu, mengenakan blazer krem dan celana hitam. Wajahnya sangat familiar.

Maya membutuhkan beberapa detik untuk mengingatnya.

Lalu dadanya seperti dihantam sesuatu.

Sinta.

Manajer pemasaran di perusahaan tempat Hendra bekerja.

Perempuan yang beberapa kali hadir dalam acara kantor keluarga.

Perempuan yang pernah duduk di meja makan Maya sambil memuji masakan buatannya.

“Mas Hendra beruntung sekali punya istri seperti Mbak Maya.”

Kalimat itu tiba-tiba terdengar seperti penghinaan.

Sinta berjalan mendekati Hendra tanpa canggung.

Hendra langsung merangkul pinggangnya.

Maya nyaris menjatuhkan ponsel.

“Semua aman?” tanya Sinta.

“Aman.”

“Pengiriman malam ini tetap lewat jalur Subang?”

“Kalau tidak ada perubahan.”

Sinta menatap peti mati.

“Jumlahnya terlalu banyak kali ini.”

“Justru karena itu tempat ini dipakai.”

Sinta menghela napas, lalu berkata sesuatu yang membuat darah Maya seakan berhenti mengalir.

“Dan setelah pengiriman terakhir?”

Hendra menatapnya.

“Rumah ini selesai. Maya juga selesai.”

Maya tidak tahu apa arti “selesai”.

Tetapi nada suara suaminya cukup membuatnya mengerti bahwa dirinya berada dalam bahaya.

Tangannya gemetar saat mematikan perekam suara dan mengirim file itu kepada Nisa.

Pesannya singkat.

Simpan ini. Jangan telepon aku. Kalau aku tidak menghubungimu sampai malam, bawa rekaman ini ke polisi.

Belum sempat Maya memasukkan ponsel kembali ke saku, sebuah toples kaca di rak gudang bergeser.

Krek.

Suara kecil itu terdengar sangat jelas.

Percakapan di dapur langsung berhenti.

“Ada suara apa?” tanya salah satu pria.

Maya menutup mata.

Langkah kaki mendekat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Bayangan seseorang terlihat dari bawah pintu gudang.

Maya menggenggam gagang sapu kayu di sampingnya.

Pintu gudang dibuka mendadak.

Seorang pria berdiri di sana.

Tatapan mereka bertemu.

“Ada orang di sini!”

Maya mendorong pintu sekuat tenaga ke tubuh pria itu lalu berlari.

“Maya!”

Suara Hendra menggema dari belakang.

Maya menabrak kursi makan, hampir jatuh, tetapi terus berlari menuju pintu belakang.

Hendra berhasil meraih lengannya.

“Dengar dulu!”

“Lepaskan aku!”

“Maya, kamu salah paham!”

Maya menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca.

“Salah paham apa? Peti mati itu? Sinta? Atau rencanamu membuatku menanggung semua ini?”

Wajah Hendra berubah.

Dia sadar Maya telah mendengar terlalu banyak.

Sinta berdiri beberapa meter di belakangnya dengan wajah pucat.

“Hendra, ambil ponselnya.”

Maya mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Hendra mendekat perlahan.

“Maya, berikan ponselmu. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Kamu baru saja bilang aku akan selesai setelah pengiriman terakhir.”

Hendra terdiam.

Sinta mengumpat pelan.

Salah satu pria bergerak hendak menutup pintu belakang.

Maya tahu jika pintu itu tertutup, peluangnya keluar akan hilang.

Dia mengambil vas bunga dari meja dan melemparkannya ke lantai.

Prang!

Semua orang terkejut.

Maya berlari ke pintu depan.

Hendra mengejarnya.

Tetapi tepat ketika tangannya hampir menyentuh Maya, terdengar suara sirene dari kejauhan.

Semua orang membeku.

Hendra menatap Maya.

“Kamu menelepon polisi?”

Maya sendiri terkejut.

Dia belum sempat menelepon siapa pun.

Sirene semakin dekat.

Sinta panik.

“Kita harus pergi!”

Dua pria itu berlari menuju mobil boks.

Namun beberapa kendaraan sudah berhenti di luar pagar.

Petugas kepolisian masuk ke halaman.

“Semua tetap di tempat!”

Hendra pucat.

Maya berdiri di dekat pintu depan, masih tidak memahami apa yang terjadi.

Seorang petugas perempuan mendekatinya.

“Ibu Maya?”

Maya mengangguk.

“Adik Anda menghubungi kami.”

Maya baru menyadari bahwa Nisa ternyata langsung membawa rekaman yang dia kirim kepada kenalannya yang bekerja di kepolisian wilayah Bandung.

Hendra mencoba mundur.

“Pak, ini salah paham. Saya bisa jelaskan.”

Petugas tidak langsung menjawab.

Mereka membuka peti mati hitam itu.

Bagian atasnya kosong.

Tetapi ketika papan dasar diangkat, terlihat sebuah kompartemen rahasia yang penuh dengan paket-paket tertutup rapat.

Petugas saling berpandangan.

Maya tidak tahu isi persisnya dan tidak ingin tahu.

Yang dia tahu, benda-benda itu cukup serius untuk membuat beberapa petugas segera memasang sarung tangan dan mengamankan seluruh ruangan.

Hendra dan dua pria yang datang bersamanya dibawa keluar.

Sinta menangis sambil mengatakan bahwa dirinya hanya mengikuti perintah.

Maya berdiri mematung di ruang tamu peninggalan ibunya.

Hendra sempat menoleh sebelum masuk ke kendaraan polisi.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada penyesalan.

Yang terlihat di wajah pria itu hanya kemarahan.

Saat itulah Maya akhirnya memahami sesuatu.

Orang yang selama dua belas tahun tidur di sebelahnya bukanlah orang yang benar-benar dia kenal.

Malam itu Maya menjalani pemeriksaan berjam-jam.

Dia menunjukkan pesan-pesan Hendra, dokumen kepemilikan rumah, riwayat kedatangannya ke Lembang, serta rekaman suara yang tersimpan di ponselnya.

Polisi menemukan bahwa rumah tersebut telah digunakan sebagai titik penyimpanan sementara selama beberapa bulan.

Hendra sengaja memilih rumah warisan itu karena lokasinya cukup sepi, memiliki halaman luas, dan secara hukum masih atas nama Maya.

Jika terjadi penggerebekan tanpa kehadiran Hendra, kecurigaan pertama berpotensi mengarah kepada pemilik rumah.

Maya merasa mual ketika mendengarnya.

Tetapi penyelidikan berikutnya membuka rahasia yang jauh lebih menyakitkan.

Sinta bukan sekadar rekan kerja.

Hubungan mereka sudah berlangsung hampir empat tahun.

Bahkan sebagian besar perjalanan dinas Hendra yang selama ini Maya percayai ternyata hanyalah alasan untuk bertemu dengannya.

Namun ada satu temuan yang membuat Maya benar-benar kehilangan kata-kata.

Polisi menemukan dokumen fotokopi sertifikat rumah, salinan KTP Maya, beberapa formulir dengan tanda tangan palsu, dan rancangan surat kuasa penjualan.

Semua berada di dalam tas kerja Hendra.

Dia tidak hanya ingin menggunakan rumah itu.

Dia sedang menyiapkan cara untuk menjualnya tanpa sepengetahuan Maya setelah operasi terakhir selesai.

Tiga hari kemudian, Maya kembali ke rumah Lembang bersama Nisa.

Garis polisi masih terpasang di salah satu ruangan.

Nisa memeluk kakaknya.

“Sudah, Mbak. Jangan pikirkan semuanya sekarang.”

Maya menatap kamar ibunya.

“Aku hampir menjual rumah ini karena terus didesak Hendra.”

“Mungkin justru Ibu yang menjaga rumah ini supaya belum terjual.”

Maya tersenyum pahit.

Mereka mulai memeriksa barang-barang lama karena polisi mengizinkan mereka mengambil dokumen pribadi.

Saat membuka lemari kecil di kamar ibunya, Maya menemukan sebuah kotak kayu.

Di dalamnya ada beberapa foto, buku tabungan lama, dan sebuah amplop dengan tulisan tangan ibunya.

Untuk Maya.

Tangannya bergetar ketika membuka amplop.

Tulisan ibunya sudah sedikit memudar.

Maya, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak ada.

Ibu tidak pernah ingin mencampuri rumah tanggamu, tetapi ada sesuatu tentang Hendra yang membuat Ibu khawatir.

Beberapa bulan sebelum meninggal, Ibu pernah melihat dia datang ke rumah ini bersama seorang perempuan.

Mereka mengira Ibu sedang tidur.

Ibu mendengar mereka membicarakan gudang dan halaman belakang.

Ketika Ibu bertanya, Hendra bilang dia hanya sedang membantu teman menyimpan barang perusahaan.

Ibu tidak percaya.

Karena itu Ibu mengganti sebagian kunci rumah dan memasang kamera kecil di ruang depan.

Maya langsung menatap Nisa.

“Kamera?”

Mereka mencari hampir satu jam sebelum menemukan perangkat kecil tersembunyi di balik rak buku.

Kartu memorinya masih ada.

Maya memasukkannya ke laptop.

Rekaman terakhir dibuat sekitar enam bulan lalu.

Gambar pertama memperlihatkan ibunya berjalan perlahan melewati ruang tamu.

Lalu muncul Hendra.

Dia datang bersama Sinta.

Maya menggigit bibir.

Dalam rekaman itu, ibunya berdiri menghadapi mereka.

“Hendra, Ibu tidak tahu apa yang kamu lakukan di rumah ini, tapi mulai sekarang jangan datang lagi tanpa izin Maya.”

Hendra mencoba tersenyum.

“Bu, ini hanya urusan pekerjaan.”

“Kalau memang urusan pekerjaan, kenapa harus disembunyikan dari istrimu?”

Sinta terlihat gelisah.

Hendra menatap ibu Maya lama sekali.

Kemudian dia berkata pelan.

“Jangan ikut campur, Bu.”

Maya merasa napasnya tertahan.

Ibunya tidak mundur.

“Rumah ini milik anak saya. Kalau kamu membuat masalah di sini, saya sendiri yang akan melapor.”

Rekaman berhenti beberapa menit kemudian.

Tetapi file berikutnya jauh lebih mengejutkan.

Hari berikutnya, ibunya terlihat berbicara melalui telepon.

“Iya, Pak. Saya ingin membuat laporan. Saya belum punya bukti lengkap, tetapi saya curiga rumah saya digunakan untuk sesuatu yang ilegal.”

Maya menutup mulutnya.

Nisa menatap layar dengan mata membesar.

“Ibu sudah tahu.”

Mereka membawa kartu memori itu kepada penyidik.

Sejak saat itu, kasus Hendra berkembang semakin luas.

Ternyata laporan awal ibu Maya beberapa bulan sebelumnya memang pernah masuk, tetapi belum cukup bukti untuk melakukan tindakan langsung. Polisi diam-diam mencatat alamat rumah tersebut dan melakukan pengamatan berkala.

Itulah sebabnya respons mereka begitu cepat ketika Nisa menyerahkan rekaman suara.

Ibu Maya, bahkan setelah meninggal, seolah meninggalkan jalan keluar bagi anaknya.

Namun rahasia terbesar belum selesai.

Beberapa minggu kemudian, Maya dipanggil kembali oleh penyidik.

Ada satu informasi baru.

Hendra akhirnya mau memberikan keterangan.

Dia mengakui hubungannya dengan Sinta.

Dia mengakui penggunaan rumah.

Dia mengakui pemalsuan dokumen.

Tetapi mengenai kalimat “Maya juga selesai”, Hendra bersikeras bahwa maksudnya adalah menceraikan Maya setelah rumah berhasil dijual.

Maya tidak sepenuhnya percaya.

Sampai penyidik menunjukkan percakapan antara Hendra dan Sinta.

Dalam salah satu pesan, Sinta menulis,

Kalau Maya terus bertanya tentang rumah, bagaimana?

Hendra menjawab,

Tenang. Setelah semuanya selesai, aku akan membuat dia terlihat sebagai orang yang paling bersalah. Bahkan kalau dia membantah, siapa yang akan percaya? Rumah atas namanya.

Maya membaca pesan itu berulang kali.

Aneh sekali.

Kalimat itu justru membuat hatinya tenang.

Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi keraguan.

Tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan pernikahan.

Tidak ada lagi pertanyaan apakah dirinya terlalu curiga atau terlalu emosional.

Hendra memang telah memilih jalannya.

Dan sekarang Maya memilih jalannya sendiri.

Dia mengajukan perceraian.

Beberapa bulan setelah kasus itu berjalan, Maya memutuskan tidak jadi menjual rumah ibunya.

Rumah tua di Lembang itu direnovasi perlahan.

Gudang tempat dia pernah bersembunyi dibongkar.

Kamar ibunya tetap dipertahankan hampir seperti semula.

Sementara ruang depan diubah menjadi tempat kecil untuk pelatihan menjahit dan usaha rumahan bagi perempuan-perempuan di sekitar desa.

Nisa pernah bertanya kenapa Maya memilih melakukan itu.

Maya hanya tersenyum.

“Karena rumah ini hampir dipakai untuk menghancurkan hidupku. Aku ingin mengubahnya menjadi tempat yang membantu orang lain memulai hidup baru.”

Setahun kemudian, pohon durian di sudut halaman kembali berbuah.

Maya duduk di teras sambil memegang cangkir keramik tua milik ibunya.

Bu Hastuti datang membawa sepiring pisang goreng.

“Maya.”

“Iya, Bu?”

“Kalau waktu itu saya tidak bilang Hendra sering datang ke sini, kira-kira kamu akan tahu?”

Maya menatap rumah itu lama.

“Mungkin tidak.”

Bu Hastuti tersenyum.

“Kadang rahasia sebesar apa pun terbongkar karena satu pertanyaan kecil.”

Maya ikut tersenyum.

Angin Lembang bergerak pelan melewati gorden rajut di jendela.

Dulu setiap sudut rumah itu membuatnya sesak karena mengingatkan pada kehilangan.

Sekarang perasaannya berbeda.

Rumah itu bukan lagi sekadar warisan.

Rumah itu adalah bukti bahwa kasih seorang ibu terkadang tetap menjaga anaknya bahkan setelah dirinya tidak lagi bisa berdiri di sampingnya.

Dan Maya akhirnya memahami mengapa ibunya tidak pernah menjual rumah tersebut meski berkali-kali mendapat tawaran.

Di bagian terakhir surat yang baru dibacanya lagi malam itu, ibunya menulis satu kalimat sederhana.

Jangan terlalu cepat membuang sesuatu hanya karena tempat itu menyimpan kesedihan. Kadang, justru di sanalah Tuhan menyembunyikan jalan untuk menyelamatkanmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang