“Shena? Ada apa? Apa ada kabar dari rumah sakit?” tanya Arka dengan nada cemas yang tulus.

Suara perut Arka terdengar begitu jelas sampai Shena yang sudah hampir mencapai pintu kamar langsung berhenti.

Kruyuuukk.

Untuk beberapa detik, ruang tamu itu benar-benar sunyi.

Shena menoleh perlahan. Arka yang tadi masih tersenyum kini terlihat salah tingkah. Pria itu menunduk sambil mengusap perutnya, seolah berharap suara memalukan tadi berasal dari tempat lain.

“Kamu belum makan?”

“Sudah.”

Kruyuuukk.

Shena mengangkat sebelah alis.

Arka berdeham. “Maksudku, tadi siang.”

“Sekarang hampir jam satu malam.”

“Aku nggak lapar.”

Kruyuuukk.

Kali ini Shena tidak bisa menahan diri. Sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Perutmu rupanya lebih jujur daripada pemiliknya.”

Arka tertawa kecil, tetapi wajahnya tampak lelah. Sejak sore ia memang tidak pergi dari teras rumah orang tua Shena. Setelah pertengkaran mereka tiga hari lalu, Shena pulang ke rumah orang tuanya di Bandung dan menolak semua telepon Arka.

Masalahnya bukan sekadar pertengkaran suami istri.

Shena baru mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya, Arka pernah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Sesuatu tentang keluarganya.

Dan ketika ibu Shena tiba-tiba jatuh sakit lalu harus dirawat, luka lama itu bercampur dengan rasa takut kehilangan.

Arka menyusul dari Jakarta. Namun, ayah Shena, Pak Harun, tidak mengizinkannya masuk.

Anehnya, Arka tidak pergi.

Ia duduk di teras sejak magrib sampai tengah malam, meski udara Bandung semakin dingin.

Shena menghela napas.

“Tunggu.”

Ia berjalan menuju dapur.

“Shena, nggak usah. Aku benar-benar nggak apa-apa.”

“Kalau kamu terus bicara, aku kasih kamu air putih saja.”

Arka langsung diam.

Beberapa menit kemudian, aroma nasi goreng sederhana memenuhi rumah. Shena hanya menggunakan nasi sisa, telur, sedikit kecap, cabai, dan irisan daun bawang.

Ketika sepiring nasi goreng diletakkan di hadapannya, Arka memandang makanan itu cukup lama.

“Kenapa?” tanya Shena. “Nggak sesuai standar direktur perusahaan?”

Arka menggeleng.

“Sudah lama kamu nggak masak buat aku.”

Tangan Shena yang sedang meletakkan sendok mendadak berhenti.

“Jangan mulai.”

“Maaf.”

Arka mengambil sendok dan makan.

Shena berniat langsung pergi, tetapi entah mengapa ia duduk di kursi seberang sofa.

Arka makan dengan cepat. Tidak ada sisa sedikit pun.

Melihat itu, dada Shena terasa aneh.

Dulu, sebelum kehidupan mereka dipenuhi sopir, apartemen mewah, rapat perusahaan, dan makan malam bersama klien, mereka pernah hidup jauh lebih sederhana.

Arka pernah menjemputnya dengan motor tua di tengah hujan. Mereka pernah berbagi sebungkus nasi goreng karena uang Arka tinggal tiga puluh ribu rupiah.

Shena mencintai lelaki itu ketika ia belum mengetahui nama belakangnya memiliki kekuasaan sebesar itu.

Mungkin justru karena itulah kebohongan Arka terasa begitu menyakitkan.

“Kenapa kamu bohong?” tanya Shena tiba-tiba.

Sendok Arka berhenti.

“Aku sudah menjelaskan.”

“Belum.”

Shena menatapnya lurus.

“Kamu cuma bilang kamu takut kehilangan aku. Itu bukan penjelasan.”

Arka meletakkan sendok.

“Ayahmu membenci keluargaku.”

“Dan kamu tahu alasannya sejak awal.”

Arka terdiam.

Mata Shena mulai berkaca-kaca.

“Perusahaan ayahmu mengambil tanah Bapak dua belas tahun lalu.”

“Shena…”

“Tanah itu satu-satunya aset keluarga kami. Bapak melawan bertahun-tahun. Ibu sampai jual perhiasan untuk bayar pengacara. Kamu tahu semuanya, tapi selama dua tahun pacaran kamu tidak pernah bilang kalau perusahaan itu milik keluargamu.”

“Aku tahu setelah kita pacaran delapan bulan.”

“Delapan bulan tetap berarti kamu menyembunyikannya lebih dari setahun.”

Arka menunduk.

“Aku pengecut.”

Jawaban sederhana itu justru membuat Shena kehilangan kata-kata.

Arka melanjutkan dengan suara pelan.

“Aku takut kalau aku bilang siapa keluargaku, kamu akan melihat aku sebagai bagian dari orang yang menghancurkan keluargamu.”

“Memangnya bukan?”

Arka menatapnya.

“Dulu aku pikir bukan. Sekarang aku sadar, diam juga sebuah pilihan. Dan aku memilih melindungi diriku sendiri daripada memberimu kebenaran.”

Air mata Shena jatuh.

Sebelum ia sempat menjawab, ponselnya berdering.

Nama Bapak muncul.

Shena langsung mengangkatnya.

“Halo, Pak?”

Suara ayahnya terdengar panik.

“Shena, cepat ke rumah sakit. Kondisi Ibu menurun.”

Wajah Shena seketika pucat.

“Apa?”

Arka langsung berdiri.

Dua puluh menit kemudian, mereka sudah berada di rumah sakit.

Pak Harun berdiri di depan ruang perawatan dengan wajah tegang. Begitu melihat Arka datang bersama Shena, ekspresinya berubah.

“Kamu kenapa ikut?”

“Pak, sekarang bukan waktunya,” kata Shena.

Dokter keluar beberapa menit kemudian.

“Keluarga Ibu Ratih?”

Mereka bertiga mendekat.

Dokter menjelaskan bahwa kondisi jantung Bu Ratih membutuhkan tindakan lebih lanjut. Beberapa pemeriksaan harus segera dilakukan karena ada komplikasi yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Shena menggenggam tangan ayahnya.

“Lakukan apa pun yang diperlukan, Dok.”

Pak Harun terlihat gelisah.

“Biayanya bagaimana?”

“Pak,” kata Arka pelan, “biar saya yang urus.”

Pak Harun langsung menoleh tajam.

“Saya masih mampu membiayai istri saya.”

“Saya tidak bermaksud merendahkan Bapak.”

“Uang keluargamu sudah cukup membuat keluarga saya menderita.”

“Bapak!” Shena memotong.

Namun Arka tidak marah.

Ia hanya mengangguk.

“Baik. Tapi kalau ada apa-apa, saya tetap di sini.”

Pak Harun pergi menjauh.

Shena menatap Arka.

“Kamu nggak harus bertahan.”

“Aku tahu.”

“Bapak mungkin nggak akan memaafkanmu.”

“Aku juga tahu.”

“Lalu kenapa?”

Arka tersenyum lelah.

“Karena kali ini aku nggak mau lari hanya karena takut dibenci.”

Pagi menjelang ketika seorang pria berjas datang tergesa-gesa ke rumah sakit.

Namanya Bima, pengacara keluarga Arka.

“Pak Arka.”

Arka langsung berdiri.

“Sudah dibawa?”

Bima menyerahkan sebuah map cokelat tebal.

Pak Harun yang duduk beberapa meter dari mereka memperhatikan dengan curiga.

Arka membawa map itu mendekat.

“Pak, ada sesuatu yang seharusnya saya berikan sejak lama.”

“Saya nggak butuh uangmu.”

“Ini bukan uang.”

Arka meletakkan map di kursi.

Pak Harun tidak menyentuhnya.

“Apa itu?”

“Tanah Bapak.”

Ruangan seakan mendadak kehilangan suara.

Pak Harun berdiri.

“Apa maksudmu?”

“Tanah yang dulu diambil PT Mahardika Properti sudah saya beli kembali dari perusahaan tiga bulan lalu. Sertifikatnya sudah dikembalikan atas nama Bapak.”

Shena membeku.

“Apa?”

Pak Harun membuka map itu dengan tangan gemetar.

Di dalamnya terdapat salinan sertifikat, dokumen pembatalan pengalihan hak, dan sejumlah berkas hukum.

“Kamu pikir dengan ini semua selesai?” suara Pak Harun bergetar.

“Nggak.”

Arka menggeleng.

“Saya nggak bisa mengembalikan dua belas tahun hidup Bapak. Saya juga nggak bisa menghapus penderitaan Ibu. Saya cuma bisa mengembalikan apa yang memang bukan hak keluarga saya.”

Pak Harun menatap dokumen itu lama.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena proses hukumnya panjang.”

“Bukan itu. Kenapa kamu melakukan ini?”

Arka melirik Shena.

“Awalnya karena saya ingin memperbaiki kesalahan keluarga saya.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi kemudian saya menemukan sesuatu.”

Bima menyerahkan satu dokumen lagi.

Wajah Arka berubah serius.

“Perintah pengambilalihan tanah Bapak dulu ternyata bukan ditandatangani ayah saya.”

Pak Harun mengernyit.

“Apa?”

“Tanda tangannya dipalsukan.”

Shena menatap Arka tak percaya.

“Siapa yang melakukan?”

Arka tidak langsung menjawab.

Bima yang akhirnya berkata.

“Direktur operasional perusahaan saat itu.”

Pak Harun tampak semakin pucat.

“Namanya?”

“Surya Adinata.”

Map di tangan Pak Harun jatuh ke lantai.

Shena tersentak.

Ia mengenal nama itu.

Semua orang di keluarganya mengenalnya.

Om Surya.

Adik kandung Bu Ratih.

Pria yang selama bertahun-tahun mengaku membantu keluarga Shena melawan perusahaan Mahardika.

“Mustahil,” bisik Shena.

Arka mengeluarkan beberapa lembar bukti transfer.

“Dia menerima pembayaran dari pengembang lain. Tanah Bapak sengaja dimasukkan ke proyek karena posisinya strategis. Setelah itu dia berpura-pura membantu Bapak supaya keterlibatannya tidak dicurigai.”

Pak Harun terduduk.

Selama dua belas tahun, ia membenci keluarga yang salah.

Lebih menyakitkan lagi, orang yang selama ini datang saat Lebaran, makan di meja mereka, bahkan meminjamkan uang untuk biaya pengacara, ternyata orang yang menciptakan masalah itu sejak awal.

Tiba-tiba suara lemah terdengar dari belakang.

“Harun…”

Mereka menoleh.

Bu Ratih berada di kursi roda didampingi perawat.

“Ibu!” Shena segera menghampiri.

“Kok Ibu keluar?”

Bu Ratih tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada dokumen yang berserakan.

“Aku sudah tahu.”

Pak Harun terpaku.

“Apa?”

Air mata Bu Ratih mengalir.

“Aku tahu Surya yang melakukannya.”

Wajah semua orang berubah.

“Ibu tahu?” suara Shena hampir tak terdengar.

Bu Ratih mengangguk.

“Enam bulan lalu dia datang menemuiku. Dia sakit. Dia mengaku semuanya.”

“Kenapa Ibu diam?” Pak Harun meninggikan suara tanpa sadar.

“Karena dia adikku.”

“Dan aku suamimu!”

Bu Ratih menangis.

“Aku takut keluarga kita hancur.”

Pak Harun tertawa getir.

“Keluarga kita sudah hancur karena kebohongan itu, Ratih.”

Tidak ada yang mampu menjawab.

Arka mundur beberapa langkah. Ia sadar percakapan itu bukan tempatnya.

Namun sebelum pergi, Bu Ratih memanggilnya.

“Arka.”

Arka berhenti.

Bu Ratih mengulurkan tangan.

“Maafkan Ibu.”

Arka mendekat dan berjongkok di depannya.

“Tidak ada yang perlu Ibu minta maafkan kepada saya.”

“Ada.”

Bu Ratih menggenggam tangannya.

“Karena Ibu membiarkan kebencian tumbuh di antara kalian untuk menutupi kesalahan keluarga Ibu sendiri.”

Shena menunduk.

Saat itulah ia memahami sesuatu.

Selama ini mereka semua sibuk mencari siapa yang harus disalahkan sampai lupa bahwa kebenaran tidak selalu mengikuti garis keluarga.

Beberapa minggu kemudian, Bu Ratih pulang dari rumah sakit.

Kasus Surya diselesaikan melalui jalur hukum. Ia mengakui perbuatannya dan menyerahkan aset untuk mengganti kerugian yang ditimbulkan.

Namun hubungan Shena dan Arka tidak langsung pulih.

Arka kembali ke Jakarta.

Ia tidak memaksa Shena pulang.

Tidak mengirim bunga.

Tidak mengirim hadiah.

Ia hanya mengirim satu pesan.

Aku akan menunggumu sampai kamu bisa memutuskan tanpa rasa kasihan, marah, atau tekanan siapa pun.

Tiga bulan kemudian, Arka kembali ke Bandung.

Bukan dengan mobil mewah.

Ia datang naik kereta, lalu ojek dari stasiun.

Pak Harun yang membuka pintu.

Mereka saling memandang cukup lama.

“Shena ada?” tanya Arka.

Pak Harun menunjuk teras.

“Duduk dulu.”

Arka menurut.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Setengah jam.

Nyamuk mulai mengerubunginya.

Kemudian pintu terbuka.

Shena muncul membawa selimut yang sama seperti malam itu.

Arka tersenyum.

“Kali ini aku boleh masuk?”

Shena berdiri di ambang pintu.

“Belum.”

Senyum Arka menghilang sedikit.

Shena lalu mengeluarkan sesuatu dari balik selimut.

Sebuah kunci.

Kunci apartemen mereka.

“Aku nggak mau kembali ke rumah yang lama,” katanya.

Arka terdiam.

“Kalau kita mulai lagi, kita mulai dari awal. Nggak ada rahasia. Nggak ada keputusan sepihak. Nggak ada keluargamu atau keluargaku yang lebih penting daripada kebenaran.”

Mata Arka memerah.

“Jadi…”

Shena melemparkan kunci itu kepadanya.

“Jual apartemennya. Cari rumah kecil saja.”

Arka menangkapnya.

“Rumah kecil?”

“Iya.”

“Berapa kamar?”

Shena akhirnya tersenyum.

“Tiga.”

Arka terdiam sejenak.

“Kenapa tiga?”

Shena mengeluarkan sebuah amplop putih dari sakunya dan menyerahkannya.

Arka membukanya.

Hasil pemeriksaan dari dokter.

Tangannya gemetar ketika membaca beberapa baris di sana.

Ia mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca.

“Shena… ini…”

Shena mengangguk sambil menahan tangis.

“Delapan minggu.”

Arka menutup mulutnya, seolah tidak percaya bahwa setelah semua yang hampir mereka kehilangan, kehidupan justru memberi mereka sesuatu yang baru.

Dari dalam rumah, suara Pak Harun terdengar keras.

“Kalau sudah selesai nangisnya, suruh suamimu masuk! Nyamuk di Bandung mahal, jangan dikasih makan orang kaya terus!”

Shena tertawa di antara air matanya.

Arka ikut tertawa.

Lalu untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Shena menggenggam tangannya.

Bukan karena semua luka sudah hilang.

Bukan karena satu permintaan maaf mampu menghapus masa lalu.

Namun karena mereka akhirnya memahami bahwa memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan.

Memaafkan adalah keberanian untuk memastikan kesalahan yang sama tidak diwariskan kepada kehidupan yang akan datang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang