Bau busuk dari kamar menantuku ternyata bukanlah hal paling menjijikkan yang akan kutemukan di rumahku sendiri. Beberapa hari setelah aku menemukan telur-telur pecah di bawah ranjang Nina, aku mulai menyadari bahwa tumpukan makanan yang disembunyikannya bukan sekadar kebiasaan jorok. Ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan dari kami.
Malam setelah aku menggadaikan cincin peninggalan suamiku dan membelikan Ridho serta Farhan makanan, suasana rumah mendadak dingin.
Nina tidak keluar kamar sampai pagi.
Aku sebenarnya merasa sedikit bersalah. Bukan karena tidak menawarinya makanan, melainkan karena uang yang kugunakan berasal dari cincin pemberian almarhum suamiku.

Namun ketika melihat Ridho dan Farhan makan dengan wajah bahagia, rasa bersalah itu sedikit berkurang.
Sudah terlalu lama kedua anakku belajar menahan keinginan.
Pagi berikutnya, Nina keluar kamar sambil menggendong Adel. Wajahnya masam.
“Bu, nanti kalau Wahyu telepon, jangan bilang macam-macam.”
Aku yang sedang mencuci beras menoleh.
“Memangnya Ibu pernah bilang apa?”
Nina mendecakkan lidah.
“Pokoknya jangan bikin Wahyu kepikiran. Dia kerja jauh buat cari uang.”
Aku tersenyum tipis.
Kalimat itu terasa lucu keluar dari mulut seseorang yang hampir setiap hari memesan makanan sementara dua adik suaminya sering hanya makan tempe dan sambal.
Aku memilih diam.
Siangnya, ketika Nina pergi membawa Adel ke rumah temannya, sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah.
Seorang kurir turun membawa kardus besar.
“Paket Bu Nina?”
“Iya, saya mertuanya.”
Setelah menerima paket itu, aku hampir menjatuhkannya karena berat.
“Apa isinya?”
Kurir hanya tersenyum.
“Kurang tahu, Bu.”
Aku meletakkan kardus tersebut di depan kamar Nina.
Namun ketika menggesernya, aku melihat sesuatu di bawah lemari dekat pintu kamarnya.
Sebuah buku kecil.
Aku mengambilnya.
Awalnya kukira buku catatan biasa. Sampulnya sudah kusam dan beberapa halamannya terlipat.
Aku hendak meletakkannya di meja ketika sebuah angka membuatku berhenti.
Rp3.500.000
Di bawahnya tertulis tanggal dan nama Wahyu.
Halaman berikutnya ada angka Rp2.000.000.
Kemudian Rp4.000.000.
Semua disertai tanggal.
Tanganku mulai dingin.
Aku membaca halaman demi halaman.
Ternyata itu catatan uang yang dikirim Wahyu setiap bulan.
Aku tercengang.
Selama ini Wahyu selalu berkata kepadaku bahwa penghasilannya pas-pasan. Kadang dia hanya memberiku lima ratus ribu rupiah untuk kebutuhan rumah.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Kupikir sebagian besar gajinya digunakan untuk biaya hidupnya di Jakarta.
Tetapi catatan itu menunjukkan Wahyu mengirim Nina sedikitnya tiga sampai empat juta rupiah hampir setiap bulan.
Yang lebih mengejutkan, di halaman belakang terdapat daftar lain.
Beras 20 kg.
Minyak 6 liter.
Gula 5 kg.
Susu Adel.
Mi instan.
Telur.
Biskuit.
Aku membeku.
Semua barang itu sama persis dengan makanan yang kulihat di bawah ranjang Nina.
Berarti selama ini Wahyu bukan hanya mengirim uang.
Dia juga mengirim uang khusus untuk kebutuhan kami.
Pintu depan tiba-tiba berbunyi.
Aku buru-buru menutup buku itu.
“Ibu!”
Suara Nina.
Aku meletakkan buku tersebut tepat di tempat semula.
Nina masuk sambil menggandeng Adel.
Matanya langsung melihat kardus di depan kamar.
“Paket aku?”
“Iya.”
Dia segera mengangkatnya.
Kemudian tatapannya beralih kepadaku.
“Ibu masuk kamar?”
“Tidak.”
Dia menatapku beberapa detik sebelum membawa kardus itu masuk.
Sejak hari itu aku mulai memperhatikan segala sesuatu.
Setiap awal bulan, paket sembako datang.
Namun tak satu pun masuk dapur.
Semuanya masuk kamar Nina.
Aku mulai memahami alasan mengapa kolong ranjangnya penuh makanan.
Nina menyimpan semua yang dikirim Wahyu.
Kami tidak pernah diberi tahu.
Tiga hari kemudian, Farhan pulang sekolah dengan wajah murung.
“Kenapa, Han?”
Dia menyerahkan selembar kertas.
Surat pemberitahuan pembayaran sekolah.
Aku membaca nominalnya.
Dadaku sesak.
“Kalau belum ada uang, Farhan berhenti dulu juga gak apa-apa, Bu.”
Aku langsung memeluknya.
“Jangan ngomong begitu.”
“Tapi Ibu sampai jual cincin.”
Aku terdiam.
Rupanya dia tahu.
Ridho yang berdiri di pintu ikut menunduk.
“Aku besok mau cari kerja, Bu. Apa saja.”
Aku hampir menangis.
Anak-anak ini tidak pernah meminta hidup mewah.
Mereka hanya ingin sekolah dan makan layak.
Malamnya Wahyu menelepon.
Aku hampir menceritakan semuanya, tetapi belum sempat bicara, Nina sudah mengambil ponselku.
“Mas, Ibu mau ngomong apa?”
Nada suaranya terdengar bercanda, tetapi tatapannya tajam kepadaku.
“Nggak ada,” jawabku.
Setelah telepon selesai, Nina mendekat.
“Bu, kalau ada masalah bilang ke aku dulu. Jangan sedikit-sedikit ke Wahyu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa takut?”
Wajahnya berubah.
“Takut apa?”
“Entahlah.”
Aku berjalan meninggalkannya.
Namun sejak saat itu Nina semakin berhati-hati.
Pintu kamarnya selalu dikunci.
Paket-paket tidak lagi dibiarkan di depan rumah.
Sampai suatu sore aku menemukan sesuatu yang membuat semuanya berubah.
Saat menyapu halaman, seorang perempuan datang.
“Rumahnya Mbak Nina?”
“Iya.”
“Saya mau ambil barang.”
“Barang apa?”
Perempuan itu menunjukkan percakapan di ponselnya.
Aku membaca nama akun Nina.
Di sana ada foto beras, minyak goreng, susu, gula, dan berbagai makanan.
Dijual murah.
Jantungku seperti berhenti.
Ternyata makanan yang dikirim Wahyu untuk keluarga kami selama ini dijual Nina secara online.
“Biasanya Mbak Nina jual paket sembako,” kata perempuan itu polos. “Murah banget, Bu. Katanya dapat dari usaha keluarganya.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Tak lama kemudian Nina pulang.
Begitu melihat perempuan tersebut, wajahnya pucat.
“Mbak Rani?”
“Mau ambil pesananku.”
Nina melirikku.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dia membawa pembelinya ke kamar dan beberapa menit kemudian keluar membawa dua kantong besar.
Aku hanya memperhatikan.
Setelah perempuan itu pergi, Nina menghampiriku.
“Ibu jangan ikut campur.”
“Apa yang kamu jual?”
“Barang aku.”
“Barang kamu?”
Suaraku mulai bergetar.
“Wahyu kirim itu untuk siapa?”
Nina diam.
“Untuk kamu sendiri?”
“Itu urusan aku sama suami aku.”
Aku tertawa kecil karena tidak percaya.
“Ridho sampai mau berhenti sekolah. Farhan punya tunggakan. Kita sering makan seadanya. Sementara beras dan minyak ditumpuk di kamarmu lalu kamu jual?”
Nina mendadak membentak.
“Memangnya aku harus menanggung adik-adik Wahyu seumur hidup?”
Ridho dan Farhan keluar kamar.
Aku melihat wajah mereka berubah.
“Nina!” bentakku.
Namun dia semakin keras.
“Wahyu sudah punya keluarga sendiri! Harusnya mereka belajar mandiri!”
Ridho mengepalkan tangan, tetapi aku menahannya.
“Masuk kamar.”
“Bu…”
“Masuk!”
Kedua anakku akhirnya menurut.
Aku kembali menatap Nina.
“Mulai hari ini jangan jual barang apa pun dari rumah ini.”
Nina tersenyum sinis.
“Ini juga rumah suami aku.”
“Bukan.”
Dia terdiam.
“Rumah ini atas namaku.”
Untuk pertama kalinya Nina tidak mampu menjawab.
Malam itu dia menelepon Wahyu sambil menangis.
Seperti biasa, ceritanya berubah.
Aku disebut kasar, suka mengatur, bahkan katanya aku mengancam mengusirnya.
Keesokan paginya Wahyu meneleponku.
“Bu, kenapa Ibu ribut sama Nina?”
Aku menarik napas.
“Pulanglah kalau kamu mau tahu.”
“Aku gak bisa sembarangan pulang.”
“Kalau begitu jangan menilai sebelum melihat sendiri.”
Aku menutup telepon.
Dua hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Wahyu pulang tanpa memberi kabar.
Dia tiba hampir tengah malam.
Nina sudah tidur.
Aku membuka pintu dan terkejut melihat anak sulungku berdiri membawa tas ransel.
“Wahyu?”
“Jangan bilang Nina dulu, Bu.”
Kami duduk di dapur.
Wahyu terlihat lelah.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku menceritakan semuanya.
Tentang makanan di bawah ranjang.
Tentang paket sembako.
Tentang perempuan yang membeli barang dari Nina.
Semakin lama wajah Wahyu semakin pucat.
“Gak mungkin.”
Aku bangkit.
“Kalau tidak percaya, lihat sendiri.”
Kami berjalan menuju kamar Nina.
Pintunya terkunci.
Wahyu mengetuk.
“Nin.”
Tak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi.
“Nina.”
Terdengar gerakan panik dari dalam.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Nina terpaku melihat suaminya.
“Mas?”
Wahyu langsung masuk.
Di bawah ranjang masih terdapat beberapa kardus makanan.
Namun yang membuat kami semua terdiam adalah sebuah koper besar di pojok kamar.
“Koper siapa?”
Nina pucat.
“Punyaku.”
“Buka.”
“Mas…”
“Buka, Nina.”
Dengan tangan gemetar Nina membuka koper tersebut.
Aku mengira isinya pakaian.
Ternyata bukan.
Ada puluhan paket sembako kecil yang sudah dikemas rapi dan beberapa amplop berisi uang.
Wahyu mengambil salah satunya.
Kemudian dia menemukan buku catatan.
Buku yang pernah kulihat.
Wahyu membacanya.
“Uang yang kukirim buat Ibu ke mana?”
Nina menangis.
“Aku simpan.”
“Buat sekolah Farhan?”
Diam.
“Buat kebutuhan rumah?”
Diam lagi.
Suara Wahyu bergetar.
“Setiap bulan aku transfer enam juta. Tiga juta buat kamu dan Adel, tiga juta buat Ibu sama adik-adikku.”
Aku membeku.
Enam juta?
Selama ini aku bahkan tidak pernah menerima tiga juta.
“Mas, dengar dulu…”
“Terus sembako yang aku kirim?”
“Aku jual.”
Wahyu menutup wajahnya.
Aku melihat anakku menahan air mata.
Tetapi kejutan terbesar belum datang.
Dari dalam koper, Wahyu menemukan sebuah map.
Di dalamnya terdapat bukti transfer.
Bukan ke rekening Nina.
Melainkan rekening seorang laki-laki bernama Dimas.
Transfernya berkali-kali.
Satu juta.
Dua juta.
Bahkan pernah lima juta.
Wahyu mengangkat bukti itu.
“Siapa Dimas?”
Nina langsung terduduk.
Aku menahan napas.
“Jawab!”
“Adikku.”
Kami semua terdiam.
Nina akhirnya menangis keras.
Ayahnya meninggal dua tahun lalu. Ibunya sakit dan adiknya, Dimas, kuliah di Bandung.
Nina diam-diam mengirim hampir seluruh uang yang diberikan Wahyu kepada keluarganya.
“Aku takut kalau bilang, Mas bakal melarang.”
“Jadi kamu mengambil jatah keluargaku?”
“Aku mau Dimas selesai kuliah.”
Wahyu tertawa getir.
“Dengan membuat adikku sendiri hampir berhenti sekolah?”
Kalimat itu membuat Nina terdiam.
Untuk pertama kalinya aku melihatnya bukan sebagai menantu menyebalkan, tetapi sebagai seorang perempuan yang melakukan kesalahan besar karena merasa keluarganya lebih penting daripada keluarga suaminya.
“Aku salah,” bisiknya.
Aku menggeleng.
“Membantu keluarga bukan salah, Nin. Tapi mengambil hak orang lain untuk melakukannya, itu yang salah.”
Tangis Nina pecah.
Adel terbangun dan ikut menangis.
Tanpa sadar aku mendekatinya.
Biasanya Nina akan segera menarik Adel menjauh dariku.
Namun malam itu tidak.
Untuk pertama kalinya dia membiarkanku menggendong cucuku.
Beberapa hari berikutnya rumah kami terasa berbeda.
Wahyu tidak langsung menceraikan Nina.
Dia memilih membawa istrinya berbicara dengan keluarganya di Bandung. Mereka membuat kesepakatan bahwa bantuan kepada keluarga Nina tetap diberikan, tetapi harus sesuai kemampuan dan tidak boleh lagi mengambil jatah orang lain.
Nina juga mengembalikan sebagian uang yang masih tersisa.
Farhan akhirnya bisa membayar sekolah.
Ridho mendapat pekerjaan di sebuah bengkel tidak jauh dari rumah.
Sedangkan aku menebus kembali cincin peninggalan suamiku.
Namun ada satu hal yang tidak pernah kuduga.
Sebulan kemudian, sebuah paket datang.
Namaku tertulis sebagai penerima.
Ketika kubuka, isinya sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat cincin emas baru dan secarik kertas.
Tulisan tangan Nina.
Bu, maaf karena selama ini Nina menganggap rumah ini hanya tempat tinggal. Nina lupa bahwa orang-orang di dalamnya juga keluarga Nina. Cincin ini mungkin tidak bisa menggantikan cincin dari Bapak, tapi Nina membelinya dari hasil jualan makanan yang sekarang benar-benar Nina masak sendiri.
Aku menangis saat membacanya.
Dari dapur terdengar suara Nina.
“Bu, jangan nangis. Nanti dikira aku jahat lagi.”
Aku menoleh.
Dia berdiri membawa semangkuk mi ayam buatannya.
“Ini buat Ibu.”
“Gratis?”
Nina tertawa kecil.
“Bayar.”
Aku melotot.
“Bayarnya jagain Adel sebentar. Aku mau antar pesanan.”
Kami akhirnya tertawa.
Aku menerima Adel dari tangannya.
Saat Nina berjalan menuju pintu, aku teringat bau busuk yang dulu membuatku nekat memasuki kamarnya.
Siapa sangka, dari beberapa telur busuk di bawah ranjang, terbongkar rahasia yang hampir menghancurkan keluarga kami.
Sejak saat itu aku memahami satu hal.
Kadang-kadang yang membuat sebuah rumah terasa busuk bukan makanan basi, bukan kamar kotor, dan bukan sampah yang terlupakan.
Melainkan rahasia yang terlalu lama disimpan.
Dan satu-satunya cara membersihkannya adalah membuka pintu, mengatakan kebenaran, lalu belajar memaafkan tanpa melupakan kesalahan yang pernah terjadi.
