suamiku usir aku dan anak tengah malam demi model cantik dan sebut aku lusuh tak berguna tapi lima tahun kemudian aku kembali sebagai pemilik brand yang kuasai nasib agensinya

Hujan malam itu tidak pernah benar-benar pergi dari ingatanku.

Bahkan lima tahun kemudian, ketika aku berdiri di ballroom Hotel Langit dengan gaun hitam rancangan tanganku sendiri, suara air yang menghantam kaca seolah masih terdengar di telingaku.

Aku masih bisa melihat koper robek di trotoar.

Baju Bian yang basah oleh genangan.

Tubuh kecil anakku menggigil karena demam.

Dan Bima, lelaki yang pernah kupanggil suami, berdiri di balik pintu rumah kami bersama Sella sambil memandangku seperti sampah yang harus segera dibuang.

“Lihat dirimu di cermin, Laras. Lusuh. Tak berguna. Beban.”

Kalimat itu dulu menghancurkanku.

Sekarang, kalimat yang sama justru membuatku berdiri lebih tegak.

Namaku Laras.

Usiaku tiga puluh dua ketika hidupku berubah.

Sebelum menikah dengan Bima, aku lulus dari jurusan desain fesyen dengan nilai yang cukup membuat dosenku yakin aku bisa membangun label sendiri. Aku punya puluhan sketsa, beberapa rancangan pernah menang kompetisi kampus, dan satu tawaran magang dari sebuah rumah mode di Singapura.

Aku menolak semuanya.

Saat itu Bima baru merintis agensi model kecil-kecilan.

Kami bahkan belum punya kantor.

Ia bekerja dari meja makan kontrakan kami, menghubungi calon klien dengan laptop bekas dan ponsel yang layarnya retak.

“Aku yakin suatu hari nanti namaku akan dikenal seluruh Jakarta,” katanya.

Dan aku percaya.

Aku menjual sebagian perhiasan pemberian ibuku untuk membayar sewa kantor pertamanya.

Aku membantu membuat logo.

Aku mendesain pakaian untuk pemotretan pertama agensinya tanpa dibayar.

Ketika Bian lahir, aku berhenti mengejar karier.

Bima bilang hanya sementara.

“Kamu urus Bian dulu. Nanti kalau agensiku sudah stabil, giliran kamu.”

Aku percaya lagi.

Ternyata giliran itu tidak pernah datang.

Bima Management tumbuh.

Bima berubah.

Sementara aku tetap berada di dapur, mencuci botol susu, mengepel lantai, memasak, mencuci pakaiannya, memastikan ia terlihat sempurna ketika bertemu klien.

Aku yang semakin tidak terlihat justru menjadi alasan ia malu mengakuiku.

Malam ketika ia mengusirku, Sella berdiri di sampingnya dengan gaun merah dan parfum yang memenuhi ruang tamu.

Aku membawa anak demam keluar dalam hujan.

Dita, teman kuliahku, menemukanku di halte hampir tengah malam.

Ia tidak banyak bertanya.

Ia hanya memelukku dan berkata, “Kamu boleh hancur malam ini. Tapi jangan tinggal di reruntuhan selamanya.”

Dua minggu kemudian aku membawa Bian ke Paris.

Aku bekerja sebagai asisten desainer di butik kecil milik tante Dita.

Tidak ada kehidupan mewah.

Aku memotong kain sampai jari kapalan.

Mengantar pakaian dengan metro.

Menjahit kancing sampai dini hari.

Bian kutitipkan di penitipan anak murah.

Ada malam-malam ketika aku hanya makan roti karena uang kami harus cukup untuk susu dan biaya penitipan.

Tapi setiap kali ingin menyerah, aku mengingat suara Bima.

Lusuh.

Tak berguna.

Beban.

Aku mengambil semua penghinaan itu dan mengubahnya menjadi bahan bakar.

Setahun kemudian, sebuah buyer tertarik dengan mantel rancanganku.

Aku membuat enam belas potong.

Semua terjual.

Lalu tiga puluh.

Lalu seratus.

Label kecil bernama AEL lahir dari kamar apartemen sempit.

Kemudian AEL berkembang menjadi AETHELGARD LUXE.

Aku sengaja tidak menjadikan wajahku sebagai pusat merek.

Aku ingin orang membeli karya, bukan kisah sedihku.

Lima tahun berlalu.

Dan kini Bima Management datang memohon kontrak kepada perusahaan yang tidak mereka tahu milikku.

Setelah presentasi mereka di Hotel Langit, aku berdiri di depan ratusan tamu.

Aku melepas kacamata hitam.

Wajah Bima berubah seketika.

“Laras?”

Sella seperti kehilangan darah dari wajahnya.

Aku memperkenalkan diriku sebagai Elara, pemilik AETHELGARD.

Lalu aku mengumumkan bahwa proposal kerja sama mereka ditolak.

Belum selesai.

Aku menunjukkan dokumen transfer mencurigakan dari rekening perusahaan ke rekening pribadi yang terhubung dengan Sella.

Kemudian rekaman suara Bima diputar.

“Pakai uang perusahaan dulu. Kalau kontrak AETHELGARD jadi, semuanya bisa ditutup.”

Ballroom mendadak seperti pengadilan.

Bima tidak mampu berkata apa-apa.

Sella membantah.

Wartawan terus memotret.

Kemudian aku mengumumkan hal yang bahkan tidak diketahui Bima.

Selama beberapa bulan terakhir, perusahaan investasiku membeli saham Bima Management dari dua investor lama yang ingin keluar.

Ditambah saham yang dibeli melalui restrukturisasi utang, kepemilikanku mencapai lima puluh satu persen.

“Aku pemilik barumu,” kataku.

Bima jatuh terduduk.

Namun saat itu aku belum tahu bahwa kemenangan yang kurasakan hanyalah permukaan dari sesuatu yang jauh lebih gelap.

Dua hari kemudian, Sella datang ke kantorku.

Tidak ada gaun mahal.

Tidak ada riasan.

Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam.

Matanya bengkak.

Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di mejaku.

“Aku tidak datang untuk meminta kontrak,” katanya.

“Aku juga tidak datang minta maaf.”

Aku menatapnya dingin.

“Lalu?”

“Karena ada sesuatu tentang Bima yang harus kamu tahu.”

Ia pergi sebelum aku sempat menahannya.

Di dalam amplop ada foto lama.

Aku mengenali ruangannya.

Kantor pertama Bima Management.

Foto itu diambil tujuh tahun lalu.

Bima berdiri bersama seorang pria bernama Haris, mantan partner bisnisnya yang menurut cerita Bima pernah mengkhianatinya.

Di belakang mereka terdapat papan besar.

Aku mendekatkan foto itu.

Di papan tersebut tertempel sketsa.

Sketsaku.

Bukan satu.

Hampir seluruh koleksi tugas akhirku.

Tanganku mulai dingin.

Aku membuka surat yang menyertainya.

Tulisan tangan Sella memenuhi dua lembar kertas.

Laras,

Aku tahu kamu membenciku. Dan mungkin kamu punya alasan.

Tapi ada satu hal yang selama ini tidak kamu tahu.

Bima tidak membangun kariernya hanya dari usahanya sendiri.

Ia menggunakan desainmu sejak awal.

Dadaku sesak.

Aku terus membaca.

Menurut surat itu, tujuh tahun lalu Bima memperlihatkan sketsaku kepada calon investor tanpa izinku.

Ia mengatakan desain tersebut dibuat oleh tim kreatif Bima Management.

Beberapa desain bahkan digunakan untuk kampanye merek lokal.

Bayarannya masuk ke rekening perusahaan.

Aku tidak pernah menerima satu rupiah pun.

Aku membuka komputer dan mencari arsip lama yang dikirim Sella melalui sebuah flashdisk.

Ada kontrak.

Ada invoice.

Ada foto kampanye.

Aku mengenali garis potongan jaket.

Lipatan rok.

Motif bordir.

Semua milikku.

Aku menutup mulut.

Bukan karena uangnya.

Aku menangis karena akhirnya memahami sesuatu.

Saat aku merasa telah mengorbankan mimpiku demi mendukung suamiku, ternyata ia diam-diam menggunakan mimpiku untuk membangun miliknya.

Malam itu aku memanggil Dita lewat video call.

Setelah melihat dokumennya, ia lama terdiam.

“Ras,” katanya akhirnya, “ini bukan sekadar masalah rumah tangga.”

Aku mengangguk.

“Ini pencurian karya.”

Keesokan harinya aku memanggil tim hukum.

Semua bukti diperiksa.

Namun satu pertanyaan terus menggangguku.

Kenapa Sella menyerahkan semuanya?

Aku menyuruh asistanku menghubunginya.

Sella datang sore itu.

Aku langsung bertanya, “Kenapa?”

Ia menatap jendela.

“Karena aku juga pernah percaya sama dia.”

Aku tidak menjawab.

Sella tersenyum pahit.

“Bima bilang kamu sudah tidak punya mimpi. Katanya kamu sendiri yang memilih jadi ibu rumah tangga.”

Aku mengepalkan tangan.

“Dia bohong.”

“Aku tahu sekarang.”

Sella menarik napas.

“Tiga tahun lalu, dia mulai minta rekeningku dipakai menampung uang perusahaan. Katanya supaya pajaknya lebih ringan.”

“Dan kamu setuju?”

“Aku bodoh.”

“Lebih dari bodoh.”

Ia menerima kalimat itu tanpa membela diri.

“Aku pikir aku spesial. Sampai aku tahu ada perempuan lain.”

Aku menatapnya.

Sella tertawa pelan, getir.

“Bukan cuma aku.”

Ia mengeluarkan ponsel.

Ada beberapa foto Bima bersama model lain.

“Aku sadar pola dia selalu sama. Dia cari orang yang bisa dipakai.”

Aku terdiam.

Selama bertahun-tahun aku menganggap Sella sebagai perempuan yang mengambil suamiku.

Ternyata kami sebenarnya dua orang berbeda yang jatuh ke perangkap lelaki yang sama.

Namun memahami bukan berarti melupakan.

“Aku tidak akan memaafkan apa yang kamu lakukan malam itu,” kataku.

Sella mengangguk.

“Aku tidak minta.”

“Kenapa baru sekarang kamu bicara?”

“Karena dulu aku pikir kalau kamu hancur, berarti aku menang.”

Matanya berkaca-kaca.

“Ternyata setelah kamu pergi, aku baru sadar aku hanya menggantikan posisi orang yang sedang dia hancurkan.”

Seminggu kemudian rapat pemegang saham luar biasa digelar.

Bima datang terlambat.

Ia masih memakai setelan mahal, tetapi tidak ada lagi aura CEO yang dulu membuat orang-orang takut.

Aku duduk di kursi utama.

Bima melihatku.

“Kamu puas sekarang?”

Aku membuka dokumen.

“Tidak.”

Ia tertawa sinis.

“Kamu mengambil perusahaanku.”

“Perusahaan yang sebagian dibangun menggunakan karya yang kamu curi dariku.”

Wajahnya berubah.

Aku mendorong salinan kontrak lama ke arahnya.

Untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke Jakarta, Bima benar-benar terlihat takut.

“Kamu dapat dari mana?”

“Itu tidak penting.”

“Laras, dengarkan aku.”

“Aku sudah terlalu lama mendengarkanmu.”

Aku meminta tim hukum masuk.

Hari itu dewan memutuskan Bima diberhentikan dari jabatan CEO sambil menunggu penyelidikan internal.

Bima berdiri kasar.

“Kamu pikir tanpa aku agensi ini bisa hidup?”

Aku menatapnya.

“Lima tahun lalu kamu juga pikir aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Ruangan hening.

Aku melanjutkan, “Kita lihat siapa yang salah.”

Bima meninggalkan ruangan sambil membanting pintu.

Namun masalah terbesar muncul malam berikutnya.

Bu Ratmi datang ke penthouse.

Ibu Bima membawa sebuah kotak kayu.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dari yang kuingat.

“Boleh Ibu masuk?”

Aku sebenarnya ingin menolak.

Namun Bian keluar dari kamarnya.

“Nenek?”

Bu Ratmi langsung menangis.

Lima tahun ia tidak bertemu cucunya.

Aku membiarkan mereka duduk.

Setelah Bian kembali ke kamar, Bu Ratmi meletakkan kotak kayu di meja.

“Ibu datang bukan untuk minta kamu menyelamatkan Bima.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Untuk mengaku.”

Di dalam kotak ada buku tabungan lama, kuitansi, dan surat-surat.

Bu Ratmi menunjuk salah satunya.

“Itu uangmu.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

“Tabungan yang kamu berikan pada Bima dulu untuk membuka kantor.”

Aku ingat uang itu.

Tabunganku.

Perhiasan ibuku.

Semua yang kukumpulkan sebelum menikah.

“Bima bilang uang itu habis untuk bisnis,” kataku.

Bu Ratmi menunduk.

“Sebagian tidak.”

Aku membuka lembar transaksi.

Ternyata beberapa bulan setelah kantor pertama dibuka, Bima menarik uang dalam jumlah besar.

Tujuannya bukan bisnis.

Ia membeli mobil.

Atas nama Bu Ratmi.

Aku menatap perempuan di depanku.

“Ibu tahu?”

Air matanya jatuh.

“Ibu tahu.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Kenapa Ibu diam?”

“Karena waktu itu Ibu bangga anak Ibu mulai sukses.”

“Jadi uang saya dianggap boleh dipakai?”

Bu Ratmi menangis lebih keras.

Aku tidak merasa puas melihatnya.

Aku hanya lelah.

Ia lalu mengeluarkan satu dokumen terakhir.

Sebuah surat perjanjian lama.

Tanda tangan Bima ada di bawah.

Dan di sampingnya ada tanda tangan Haris.

Isinya menjelaskan bahwa lima puluh persen hak atas desain yang digunakan dalam kampanye pertama Bima Management sebenarnya harus dibayarkan kepada pencipta desain.

Nama penciptanya tertulis jelas.

Laras Prameswari.

Bima tahu sejak awal bahwa desain itu milikku.

Ia bahkan telah mengakui secara tertulis.

Namun pembayaran itu tidak pernah diberikan kepadaku.

“Kenapa Ibu simpan ini?”

Bu Ratmi menjawab lirih.

“Karena Haris pernah datang ke rumah. Dia bilang suatu hari nanti kamu mungkin membutuhkan bukti.”

Aku terdiam.

Seluruh cerita tentang Haris sebagai pengkhianat ternyata juga kebohongan.

Bima memutus hubungan dengannya karena Haris menolak menutupi hakku.

Keesokan harinya aku menyerahkan seluruh dokumen kepada pengacara.

Namun sebelum proses hukum berjalan lebih jauh, Bima datang sendiri.

Ia menungguku di parkiran kantor.

Tidak ada jas.

Tidak ada mobil mewah.

Ia terlihat seperti lelaki yang lima tahun lalu belum memiliki apa-apa.

“Laras.”

Aku berhenti.

“Aku salah.”

Aku diam.

“Aku salah sejak awal.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari alasan.

“Aku takut kamu lebih berbakat daripada aku,” katanya.

Aku menatapnya.

Kalimat itu membuatku lebih terkejut daripada semua dokumen yang kutemukan.

“Aku lihat dosen-dosenmu memuji kamu. Aku lihat kamu punya kesempatan ke luar negeri. Aku takut suatu hari kamu sadar bahwa kamu tidak butuh aku.”

Ia tertawa pahit.

“Jadi aku membuatmu butuh aku.”

Dadaku terasa dingin.

“Aku suruh kamu berhenti kerja. Aku bilang urus anak. Aku buat kamu merasa tidak menarik. Aku terus bilang kamu beruntung punya aku.”

Bima menunduk.

“Lama-lama aku sendiri percaya bahwa aku lebih hebat.”

Aku menatapnya lama.

Ternyata penghinaan yang dulu membuatku bertanya apa yang salah dengan diriku bukanlah kebenaran.

Itu strategi seorang lelaki yang takut kehilangan kontrol.

“Aku tidak akan cabut laporan,” kataku.

Ia mengangguk.

“Aku tahu.”

“Dan kamu tidak akan kembali jadi CEO.”

“Aku tahu.”

“Dan tentang Bian, semua keputusan akan mengikuti hukum dan kepentingannya, bukan keinginanmu.”

Mata Bima berkaca-kaca.

“Aku cuma ingin suatu hari dia tidak membenciku.”

Aku menjawab pelan.

“Itu bukan urusanku. Kamu sendiri yang harus memperbaikinya.”

Aku melewatinya.

“Laras.”

Aku berhenti.

“Maaf.”

Aku tidak menoleh.

“Aku sudah tidak membutuhkan kata itu untuk hidup.”

Enam bulan kemudian, nama Bima Management resmi berubah menjadi AETHELGARD Talent Asia.

Sistem perusahaan dibongkar total.

Kontrak model dibuat transparan.

Tidak ada lagi biaya tersembunyi.

Tidak ada lagi model yang dipaksa diam karena takut kehilangan pekerjaan.

Sella memilih keluar dari dunia modeling.

Terakhir kali aku mendengar kabarnya, ia membuka kelas kecil untuk mengajarkan model muda memahami kontrak kerja.

Kami tidak pernah menjadi sahabat.

Mungkin memang tidak perlu.

Beberapa luka cukup diselesaikan tanpa harus mengubah semua orang menjadi keluarga.

Suatu sore, aku mengajak Bian ke kantor baru.

Ia berdiri di depan sebuah foto besar yang dipasang di lobby.

Bukan fotoku memakai gaun mahal.

Bukan foto runway Paris.

Foto itu adalah gambar sebuah sketsa lama.

Sketsa mantel pertama yang kubuat ketika masih kuliah.

Di bawahnya tertulis nama lengkapku.

Laras Prameswari.

Bian membaca pelan.

“Ini gambar Mama?”

Aku mengangguk.

“Yang pertama?”

“Hampir.”

“Kenapa dipasang di sini?”

Aku tersenyum.

“Supaya Mama tidak lupa dari mana semuanya dimulai.”

Bian memandangku.

“Dari Paris?”

Aku menggeleng.

“Dari malam hujan.”

Ia tampak bingung.

Aku menggenggam tangannya.

Dulu aku mengira malam ketika aku diusir adalah hari terburuk dalam hidupku.

Aku salah.

Hari terburuk bukan ketika seseorang meninggalkanmu.

Hari terburuk adalah ketika kamu meninggalkan dirimu sendiri demi membuat orang lain tetap tinggal.

Dan malam itu, tanpa kusadari, Bima memang mengusirku dari rumah.

Tapi pada saat yang sama, ia mengembalikanku kepada satu orang yang sudah bertahun-tahun hilang.

Diriku sendiri.

Ponselku bergetar.

Sebuah email baru masuk dari Paris.

AETHELGARD terpilih untuk membuka pertunjukan dalam salah satu pekan mode internasional terbesar tahun itu.

Aku tersenyum.

Bian menarik tanganku.

“Mama, nanti aku boleh ikut?”

Aku menatap anak kecil yang dulu kugendong dalam hujan, yang kini berdiri sehat dan tersenyum di sampingku.

“Boleh.”

Ia bersorak.

Kami berjalan menuju lift.

Saat pintunya hampir tertutup, aku melihat pantulan diriku di dinding kaca.

Rambut bob rapi.

Setelan sederhana.

Tidak ada daster.

Tidak ada wajah kelelahan.

Namun untuk pertama kalinya aku sadar sesuatu.

Perempuan dalam pantulan itu bukan hebat karena pakaiannya mahal.

Bukan karena punya perusahaan.

Bukan karena berhasil menjatuhkan lelaki yang pernah merendahkannya.

Ia hebat karena lima tahun lalu, ketika hidupnya tinggal koper robek, anak demam, dan uang yang hampir habis, ia memilih bangun lagi.

Pintu lift tertutup.

Aku menggenggam tangan Bian lebih erat.

Dan kali ini aku tidak berjanji akan membuat siapa pun berlutut.

Aku hanya berjanji satu hal pada diriku sendiri.

Tidak akan pernah lagi kubiarkan siapa pun membuatku lupa berapa nilai diriku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang