PRIA KENCAN BUTA ITU MEMESAN MAKAN MALAM HAMPIR SEPULUH JUTA LALU MENGHILANG, TAPI SAAT AKU DATANG KE BAZAR KELUARGANYA MEMBAWA PENGERAS SUARA DAN STRUK PEMBAYARAN, SEORANG WANITA MENDADAK MENAHAN TANGANKU DAN MEMBISIKKAN SESUATU YANG MEMBUATKU MERINDING DI DEPAN SEMUA ORANG

“Karena Mbak bukan perempuan pertama yang dia tinggalkan dengan tagihan.”

Kalimat perempuan itu membuat tanganku yang memegang speaker langsung kaku.

Aku menatap layar ponselnya. Di sana ada Dimas, mengenakan kemeja hitam, duduk santai di sebuah restoran Jepang. Di seberangnya perempuan yang kini berdiri di hadapanku sedang tersenyum ke arah kamera.

“Kapan ini?” tanyaku.

“Tiga minggu lalu.”

Namanya Niken. Umurnya tiga puluh tahun dan bekerja sebagai analis kredit di sebuah bank swasta.

Cerita yang keluar dari mulutnya nyaris sama dengan pengalamanku.

Dikenalkan oleh seseorang dari jaringan komunitas Bu Sulastri. Dimas bersikap sopan selama beberapa hari, lalu mengajak makan di tempat mahal dengan janji bahwa dia yang mentraktir.

Bedanya, tagihan Niken Rp6.400.000.

“Dia bilang mau mengambil obat di mobil,” ujar Niken. “Setelah itu hilang.”

“Kenapa kamu ada di sini?”

Niken menatap panggung.

“Karena saya datang untuk menemui ibunya.”

Belum sempat aku bertanya lagi, terdengar tepuk tangan dari depan.

Dimas baru selesai berbicara.

“Jadi ingat,” katanya melalui mikrofon, “reputasi dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa hancur hanya karena satu tindakan tidak jujur.”

Aku dan Niken saling memandang.

Ironis sekali.

Aku mematikan speaker.

“Berapa banyak perempuan?”

Niken membuka sebuah grup WhatsApp.

Ada tujuh anggota.

Namanya Korban Dimas.

Aku hampir mengira itu lelucon sampai dia memperlihatkan percakapan di dalamnya.

Perempuan bernama Sari kehilangan Rp4,8 juta.

Melinda Rp7,2 juta.

Yuni Rp5,6 juta.

Ada pula seorang guru bernama Dewi yang harus meminjam uang dari kakaknya karena Dimas meninggalkannya dengan tagihan lebih dari Rp8 juta.

Modusnya sama.

Restoran mahal.

Janji mentraktir.

Pertanyaan tentang pekerjaan, penghasilan, rumah, dan keluarga.

Lalu menghilang sebelum tagihan datang.

“Kenapa tidak dilaporkan?” tanyaku.

“Sebagian malu. Sebagian takut dianggap bodoh. Dan secara hukum juga rumit karena makanan memang kami ikut makan.”

Niken menarik napas.

“Tapi ada yang lebih aneh.”

Dia memperlihatkan tangkapan layar.

Bu Ratna.

Perempuan yang mengenalkanku kepada Dimas ternyata juga mengenalkan dua korban lain.

Darahku terasa naik ke kepala.

“Bu Ratna tahu?”

“Kami belum bisa membuktikan.”

Aku memandang ke arah stan utama.

Bu Sulastri sedang berbicara dengan beberapa pejabat kelurahan sambil tersenyum.

Di sampingnya ada Bu Ratna.

Jadi dia datang.

Padahal semalam telepon Ibu tidak dijawab.

Aku memasukkan speaker kembali ke tas.

“Kita tidak perlu mempermalukan siapa pun,” kataku. “Kita cuma perlu membuat mereka tidak bisa berbohong.”

Niken mengernyit.

Aku menunjukkan struk restoran.

“Saya punya bukti pembayaran. Percakapan WhatsApp. Dan restoran punya CCTV.”

Kami berjalan menuju stan utama.

Bu Ratna melihatku lebih dulu.

Wajahnya berubah.

“Ratri?”

Bu Sulastri ikut menoleh.

Dimas yang baru turun dari panggung mendadak berhenti.

Aku tersenyum.

“Pagi, Mas Dimas.”

Beberapa orang di sekitar kami menoleh.

Dimas mencoba terlihat biasa.

“Kamu ngapain di sini?”

“Mau menagih utang.”

Suasana langsung sunyi.

Bu Sulastri maju.

“Utang apa?”

Aku mengeluarkan struk.

“Rp9.870.000.”

Dimas tertawa.

“Jangan bikin drama.”

“Drama?”

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka percakapan kami.

Aku membacakan pesannya.

Saya yang memilih tempat, berarti saya yang bertanggung jawab.

Saya yang undang.

Masa saya mengajak perempuan makan lalu membebani dia?

Wajah Dimas mulai menegang.

“Itu konteksnya beda.”

“Bagian mana yang berbeda?”

“Kita makan berdua. Kamu juga makan.”

“Benar. Tapi kamu memesan hampir semuanya, lalu pergi lewat lift servis setelah sebelumnya bertanya kepada staf siapa yang harus membayar kalau salah satu tamu kabur.”

Beberapa kepala langsung menoleh kepada Dimas.

Bu Sulastri memucat.

“Dimas?”

“Itu bohong, Ma.”

Aku mengangguk.

“Bagus. Kalau begitu kita bisa meminta restoran menunjukkan CCTV kepada pihak yang berwenang.”

Dimas mendadak diam.

Bu Ratna menarik lenganku.

“Ratri, jangan begini. Kita bicara baik-baik di belakang.”

Aku melepaskan tangannya.

“Semalam Ibu saya sudah mencoba bicara baik-baik. Bu Ratna tidak mengangkat telepon.”

“HP saya silent.”

“Tapi sempat mengirim pesan supaya masalah ini jangan diperbesar.”

Wajah Bu Ratna berubah.

Niken kemudian maju.

“Kalau cuma salah paham, bagaimana dengan saya?”

Dimas menatapnya seperti melihat hantu.

“Niken?”

“Masih ingat?”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Niken menunjukkan bukti transfer pembayaran restorannya.

Kemudian satu perempuan lain muncul dari kerumunan.

Aku mengenalinya dari foto grup.

Sari.

Rupanya Niken sudah meminta beberapa korban datang.

Sari mengangkat struknya.

“Kalau saya juga salah paham?”

Lalu Dewi maju.

“Kalau saya?”

Wajah Dimas benar-benar kehilangan warna.

Bu Sulastri mendadak membentak.

“Cukup!”

Semua terdiam.

Dia berdiri di depan anaknya.

“Kalian datang ke acara keluarga kami, bikin keributan, menuduh anak saya macam-macam. Apa kalian tidak punya harga diri?”

Kalimat terakhir itu membuat sesuatu dalam diriku berubah.

Aku tidak lagi marah.

Aku justru sangat tenang.

“Saya punya harga diri, Bu. Itu sebabnya saya datang.”

Aku menatap Dimas.

“Kalau saya diam karena malu, dia akan mencari perempuan berikutnya.”

Bu Sulastri menatapku tajam.

“Berapa uangmu?”

“Maaf?”

“Saya ganti.”

Dia membuka tas.

“Sepuluh juta, kan? Saya transfer sekarang. Setelah itu selesai.”

Aku hampir tertawa.

“Ini bukan soal sepuluh juta.”

“Lalu mau apa?”

“Saya mau anak Ibu mengakui apa yang dia lakukan.”

“Tidak perlu sok suci. Kalian juga datang makan.”

Dimas tampak mulai tenang karena merasa ibunya sudah mengambil alih keadaan.

Lalu sebuah suara terdengar dari belakang.

“Bu Sulastri masih saja begitu.”

Perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berjalan mendekat.

Aku tidak mengenalnya.

Namun wajah Bu Sulastri berubah drastis.

“Bu Maya?”

Perempuan itu berdiri tepat di depan kami.

“Saya kira setelah kejadian Intan, Ibu berhenti.”

Dimas langsung menyela.

“Bu, jangan ikut campur.”

Tetapi Bu Maya menatapnya dingin.

“Intan itu keponakan saya.”

Aku menahan napas.

Bu Maya kemudian menceritakan sesuatu yang membuat kerumunan benar-benar sunyi.

Dua tahun sebelumnya, keponakannya dikenalkan kepada Dimas.

Bukan sekadar makan.

Hubungan mereka berjalan hampir empat bulan.

Dimas bahkan sudah datang ke rumah.

Selama masa itu, Bu Sulastri berkali-kali bertanya mengenai tanah milik orang tua Intan, tabungan, pekerjaan, sampai rencana warisan.

Ketika keluarga Intan menolak meminjamkan Rp80 juta untuk “modal usaha” Dimas, hubungan itu berakhir.

Tiga hari kemudian Dimas menyebarkan cerita bahwa Intan terlalu materialistis dan menuntut pernikahan mewah.

“Keponakan saya sampai pindah kerja karena malu,” kata Bu Maya.

Aku menoleh kepada Bu Ratna.

“Dan siapa yang mengenalkan mereka?”

Bu Maya menjawab tanpa ragu.

“Ratna.”

Kerumunan gaduh.

Bu Ratna langsung membela diri.

“Saya cuma mengenalkan! Saya tidak tahu apa yang terjadi setelahnya!”

“Benarkah?”

Suara itu datang dari Niken.

Dia menunjukkan sebuah tangkapan layar.

Salah satu korban ternyata pernah memeriksa nomor rekening yang digunakan Dimas ketika meminta uang untuk alasan darurat.

Rekening itu bukan atas nama Dimas.

Pemiliknya Ratna Wulandari.

Bu Ratna.

Aku merasa tengkukku dingin.

Bu Ratna mulai mundur.

“Itu rekening lama.”

“Kenapa Dimas memakai rekening Ibu?” tanyaku.

Tidak ada jawaban.

Dimas tiba-tiba merampas ponsel dari tangan Niken.

“Sudah!”

Niken berteriak.

Orang-orang langsung bergerak.

Seorang petugas keamanan bazar mengambil kembali ponsel itu.

Dimas berusaha pergi, tetapi beberapa panitia menahannya.

Aku tidak pernah melihat seseorang berubah secepat itu.

Laki-laki sopan yang mengaku supervisor operasional itu lenyap.

“Kalian semua gila!” bentaknya. “Cuma gara-gara makan!”

“Kalau cuma makan,” kataku, “kenapa harus mencari perempuan yang punya pekerjaan dan tabungan?”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kenapa harus bertanya rumah milik siapa?”

Bu Sulastri menatap anaknya.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu seperti ketakutan di wajahnya.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Seorang pria dari stan ekspedisi di sebelah mendekati kami.

Dia menatap Dimas lama.

“Supervisor operasional?”

Dimas tidak menjawab.

Pria itu mengeluarkan kartu identitas perusahaan.

“Saya kepala cabang perusahaan yang namanya kamu pakai di profil.”

Aku merasa jantungku jatuh.

“Dimas pernah kerja di tempat kami,” katanya. “Sebagai staf kontrak gudang. Sudah diberhentikan delapan bulan lalu karena masalah disiplin.”

Orang-orang mulai mengeluarkan ponsel.

Kini Dimas benar-benar panik.

“Jangan rekam!”

Dia mencoba menutupi wajah.

Aku justru mematikan speaker yang sejak tadi masih berada di tanganku.

Aku tidak membutuhkannya lagi.

Kebohongan Dimas sudah runtuh oleh beratnya sendiri.

Siang itu kami tidak menyelesaikan masalah dengan teriakan.

Kami bertukar nomor, mengumpulkan bukti, dan beberapa korban sepakat mencari pendampingan hukum untuk menentukan langkah yang bisa ditempuh berdasarkan bukti yang mereka miliki.

Aku juga meminta semua orang berhenti mengunggah wajah Dimas ke media sosial.

Niken sempat heran.

“Kenapa?”

“Karena saya tidak datang untuk membuat kerumunan internet menghukumnya. Saya datang supaya dia berhenti melakukan ini.”

Sore harinya aku pulang.

Ibu sedang duduk di ruang makan.

Bu Ratna ada di depannya.

Matanya bengkak.

Aku berhenti di pintu.

Ternyata dia datang untuk mengaku.

Selama hampir setahun, Dimas memang memintanya mencarikan perempuan lajang yang mapan.

Awalnya Bu Ratna benar-benar mengira dia membantu mencari jodoh.

Lama-kelamaan dia sadar ada pola yang aneh.

Namun Dimas mulai memberinya uang setiap kali perkenalan berhasil.

“Kenapa Ibu teruskan?” tanyaku.

Bu Ratna menangis.

“Suami saya kena PHK. Saya punya cicilan. Saya pikir paling cuma makan gratis.”

“Dan ketika tahu ada perempuan yang rugi jutaan?”

Dia menunduk.

“Saya takut.”

Aku menatapnya lama.

“Takut tidak menghapus pilihan yang Ibu buat.”

Bu Ratna tidak membantah.

Sebelum pulang, dia mengembalikan seluruh uang yang pernah diterimanya dari Dimas kepada para perempuan yang berhasil kami identifikasi.

Jumlahnya tidak menutup semua kerugian.

Tetapi setidaknya itu awal.

Dua minggu kemudian, aku menerima sebuah amplop.

Di dalamnya ada uang Rp9.870.000 dan selembar kertas.

Bukan dari Dimas.

Dari Bu Sulastri.

Saya tidak meminta Anda memaafkan anak saya. Saya hanya ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi tanggungan Anda.

Aku membaca kalimat berikutnya dua kali.

Saya terlalu lama mengira membela anak berarti menutupi kesalahannya. Ternyata saya hanya mengajarinya bahwa selalu ada orang lain yang akan membayar akibat perbuatannya.

Aku tidak mengambil uang itu untuk diriku sendiri.

Sebagian kugunakan untuk mengganti kerugian korban yang paling kesulitan, termasuk Dewi yang saat itu masih mencicil pinjaman kepada kakaknya.

Beberapa bulan kemudian, hidupku kembali normal.

Atau hampir normal.

Suatu Minggu pagi, Ibu kembali mengupas buah di dapur.

Dia menatapku hati-hati.

“Rat.”

Aku langsung mengangkat telunjuk.

“Kalau soal jodoh, jangan.”

Ibu tertawa.

“Bukan.”

Dia mendorong piring pepaya ke arahku.

“Ibu cuma mau bilang, kalau nanti ada laki-laki mengajak kamu makan, pilih warung soto saja.”

Aku tertawa sampai hampir tersedak.

Kemudian Ibu ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, aku merasa benar-benar lega.

Dimas pernah mengira perempuan yang memiliki pekerjaan, rumah, dan tabungan adalah sasaran yang aman karena mereka mampu menanggung kerugian tanpa membuat keributan.

Dia salah.

Kemampuan membayar bukan berarti kewajiban untuk diam.

Dan beberapa bulan setelah kejadian itu, aku akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih penting daripada uang hampir sepuluh juta yang pernah hilang dari rekeningku.

Penipuan seperti itu sering bertahan bukan karena pelakunya terlalu pintar.

Ia bertahan karena setiap korbannya dibuat merasa bahwa pengalaman mereka terlalu memalukan untuk diceritakan.

Padahal pada pagi ketika tujuh perempuan berdiri bersama di sebuah bazar kecil di Karangayu, rasa malu itu akhirnya berpindah tempat.

Bukan lagi berada pada kami.

Melainkan pada orang yang sejak awal memang seharusnya menanggungnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang