SETELAH MENEMUKAN BUKU NIKAHKU PALSU, AKU BERHENTI MENJADI ISTRI YANG SELALU SIAP DIPANGGIL, NAMUN SAAT SUAMIKU PULANG DARI LIBURAN BERSAMA REKAN BISNISNYA, SATU KALIMAT DI MEJA MAKAN MEMBUAT SELURUH KELUARGANYA TERDIAM DAN WAJAHNYA MENDADAK PUCAT SEBELUM RAHASIA LIMA TAHUN TERBUKA

Namaku Laras Prameswari. Usia tiga puluh tiga tahun.

Selama hampir lima tahun, hidupku bergerak mengikuti bunyi bel kecil dari kamar Pak Harun, ayah dari lelaki yang selama ini kupanggil suami.

Satu kali bunyi berarti beliau ingin minum.

Dua kali berarti tubuhnya harus dimiringkan.

Tiga kali biasanya berarti sesuatu yang lebih mendesak. Popok dewasa bocor, sesak napas, atau nyeri hebat pada kaki kirinya yang nyaris tidak bisa digerakkan sejak stroke.

Dulu, bunyi bel itu membuatku berlari.

Sekarang, setelah mengetahui Buku Nikahku palsu, aku baru sadar bahwa selama lima tahun bukan hanya Pak Harun yang memanggilku setiap saat.

Seluruh keluarga Ardhana melakukannya.

Dan aku selalu datang.

Sampai malam ketika Dimas pulang dari Lombok dan mendapati tidak ada lagi seorang Laras yang menunggunya di rumah.

Bu Rina meneleponku sekitar pukul sembilan malam.

Suaranya tegang.

“Laras, Dimas baru tahu Ayah masuk rumah sakit.”

Aku sedang duduk di meja makan apartemen Intan sambil memeriksa ulang beberapa gambar kerja proyek kecil yang diberikan Pak Fajar sebagai latihan pertamaku.

“Lalu?”

“Dia marah. Katanya kenapa kamu tidak memberi tahu.”

Aku menutup laptop perlahan.

“Saya meneleponnya. Dua kali. Sekretarisnya juga saya hubungi.”

Bu Rina diam.

“Ras, dia mau datang ke rumah sakit.”

“Silakan. Itu ayahnya.”

“Kamu tidak ikut?”

Aku menatap jari manisku yang sudah tidak memakai cincin.

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya, aku mengucapkan kata itu tanpa rasa bersalah.

Sekitar setengah jam kemudian, Dimas menelepon.

Aku membiarkannya berdering.

Lalu sebuah pesan masuk.

Kita harus bicara.

Beberapa detik kemudian.

Tentang Ayah.

Lalu satu lagi.

Tentang kita.

Aku baru membalas pesan terakhir.

Tidak ada kita sebelum status pernikahan kita dijelaskan.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Menghilang.

Muncul lagi.

Kemudian Dimas menelepon.

Kali ini kuangkat.

“Apa maksudmu?” katanya tanpa salam.

“Buku Nikah kita palsu.”

Sunyi.

Aku mendengar suara kendaraan dari sisi lain.

Mungkin dia sedang berada di parkiran rumah sakit.

“Laras, jangan bicara sembarangan.”

“Aku sudah ke KUA.”

“Kamu ke KUA buat apa?”

Pertanyaan itu membuatku hampir tertawa.

Bukan karena lucu, melainkan karena dia bahkan tidak bertanya apakah informasi itu benar.

Dia justru bertanya kenapa aku memeriksanya.

“Jadi kamu tahu?”

Dimas tidak menjawab.

Dadaku langsung terasa dingin.

“Dimas.”

“Aku bisa jelaskan.”

Kalimat itu cukup.

Selama beberapa hari aku masih menyimpan sedikit harapan bahwa semua ini adalah kesalahan administrasi.

Bahwa mungkin register lama belum dimasukkan ke sistem.

Bahwa mungkin nomor seri tertukar.

Bahwa mungkin petugas KUA keliru.

Namun orang yang tidak bersalah biasanya berkata, Tidak mungkin.

Dimas berkata, Aku bisa jelaskan.

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Lima tahun, Dimas.”

“Dengar dulu.”

“Apakah kamu tahu Buku Nikah itu palsu?”

Hening cukup lama.

Lalu jawabannya keluar.

“Iya.”

Sesuatu dalam diriku runtuh tanpa suara.

Aku menutup mata.

“Sejak kapan?”

“Sejak awal.”

Aku tidak menangis.

Anehnya, justru rasa sakit terbesar sering datang ketika air mata sudah tidak sanggup keluar.

“Kenapa?”

“Itu rumit.”

“Tidak. Sangat sederhana. Aku meninggalkan pekerjaan. Aku merawat ayahmu. Aku hidup di rumah keluargamu. Aku memperkenalkan diri sebagai istrimu. Jadi aku hanya butuh satu jawaban. Kenapa?”

Dimas mengembuskan napas panjang.

“Waktu itu pernikahan kita tidak bisa langsung dicatat.”

“Kenapa?”

“Ada masalah dokumen.”

“Dokumen apa?”

Dia kembali diam.

Aku sudah muak.

“Besok pukul tujuh malam,” kataku. “Rumah Bu Rina. Semua keluarga harus ada.”

“Untuk apa?”

“Kalau kamu ingin menjelaskan, jelaskan di depan mereka.”

“Ini urusan kita.”

“Tidak. Lima tahun aku merawat ayahmu dan menjalankan peran istri di depan keluarga kalian. Jadi kali ini mereka juga berhak mendengar.”

Aku menutup telepon.

Keesokan harinya aku tetap bekerja.

Pak Fajar memberiku desain renovasi sebuah restoran kecil di Dago.

Tanganku sempat gemetar ketika membuka perangkat lunak desain yang sudah lama tidak kugunakan.

Namun setelah tiga puluh menit, sesuatu seperti ingatan lama mulai kembali.

Proporsi ruang.

Alur pergerakan.

Komposisi cahaya.

Pemilihan material.

Aku tiba-tiba merasa seperti bertemu seseorang yang dulu sangat kukenal.

Diriku sendiri.

Pak Fajar berdiri di belakang mejaku.

“Masih ingat rupanya.”

Aku tersenyum tipis.

“Sedikit.”

“Jangan merendahkan diri. Lima tahun berhenti kerja bukan berarti lima tahun berhenti berpikir.”

Kalimat itu tinggal di kepalaku sepanjang hari.

Malamnya aku datang ke rumah Bu Rina membawa map cokelat dari kantor advokat.

Semua orang sudah ada.

Bu Rina.

Suaminya.

Tante Mira.

Adik Dimas, Reno.

Dan Dimas sendiri.

Selma tidak ada.

Ketika aku masuk, Dimas berdiri.

“Kita bicara di ruang kerja.”

Aku menarik kursi di meja makan.

“Di sini saja.”

Wajah Dimas mengeras.

“Laras.”

Bu Rina menyentuh lengannya.

“Duduk, Dim.”

Aku meletakkan map di atas meja.

“Aku tidak datang untuk bertengkar.”

Tante Mira terlihat bingung.

“Sebenarnya ada apa?”

Aku menatap mereka satu per satu.

Kemudian aku mengeluarkan Buku Nikah yang selama lima tahun kusimpan dengan hati-hati.

“Dokumen ini palsu.”

Ruangan langsung sunyi.

Reno mengernyit.

“Palsu bagaimana?”

“Nomor serinya milik pasangan lain. Nama saya dan Dimas tidak pernah terdaftar di KUA.”

Bu Rina memandang Dimas.

“Dim?”

Dimas mengusap wajah.

“Aku memang mau menjelaskan.”

“Sekarang,” kataku.

Dia menatapku dengan sorot mata yang dulu selalu membuatku mengalah.

Malam itu tidak lagi.

Dimas akhirnya duduk.

“Lima tahun lalu, sebelum pernikahan, ada masalah dengan status administrasi.”

“Status siapa?” tanyaku.

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan lembar lain dari map.

“Biar aku bantu.”

Kertas itu merupakan salinan hasil pemeriksaan yang diperoleh advokatku setelah menelusuri beberapa dokumen lama.

“Empat bulan sebelum menikah denganku, Dimas ternyata sudah menikah secara resmi.”

Bu Rina berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Apa?”

Wajah Dimas seketika pucat.

Tante Mira menutup mulut.

Reno menatap kakaknya tak percaya.

Aku melanjutkan.

“Nama perempuan itu Nadia Paramitha.”

Dimas memukul meja.

“Cukup.”

Aku justru semakin tenang.

“Kenapa cukup? Aku baru mulai.”

Bu Rina menatap Dimas.

“Kamu menikah sama siapa?”

“Sudah selesai,” jawab Dimas cepat.

“Kapan?”

“Dulu.”

“Dulu kapan?”

Dimas tidak menjawab.

Aku menggeser sebuah salinan dokumen ke tengah meja.

“Perceraian mereka baru diputus dua tahun setelah Dimas menikah denganku secara palsu.”

Bu Rina perlahan duduk kembali.

Tante Mira berbisik, “Ya Tuhan.”

Aku menatap Dimas.

“Jadi ketika kamu berdiri di depanku lima tahun lalu, ketika ada orang berpakaian seperti penghulu, ketika kamu mengucapkan ijab kabul, kamu masih terikat pernikahan dengan perempuan lain.”

“Pernikahan itu sudah hancur,” katanya.

“Tapi belum selesai secara hukum.”

“Nadia sudah pergi.”

“Itu bukan jawaban.”

Dimas berdiri.

“Aku mencintaimu.”

Kalimat itu justru terasa paling menghina.

Aku menatapnya.

“Kalau itu cinta, kenapa harus dimulai dengan kebohongan?”

Dimas berjalan mengitari meja.

“Nadia meninggalkanku. Dia menolak mengurus perceraian. Ayah waktu itu sedang sakit jantung dan terus mendesakku menikah. Aku takut kehilangan kamu.”

“Jadi kamu membayar penghulu palsu?”

Wajahnya berubah.

Di sinilah rahasia kedua muncul.

Aku mengeluarkan dokumen yang sebelumnya kutemukan di map lama Pak Harun.

Ada bukti transfer.

Nama penerima adalah lelaki yang berperan sebagai penghulu.

Namun pengirimnya bukan Dimas.

Nama yang tertera adalah Harun Ardhana.

Bu Rina hampir tidak percaya.

“Ayah?”

Aku mengangguk.

“Pak Harun yang membayar.”

Dimas menatapku.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Dari map milik Ayah.”

Malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat keluarga Ardhana benar-benar kehilangan kata-kata.

Ternyata kebohongan itu tidak dibuat oleh Dimas seorang diri.

Pak Harun mengetahuinya.

Lelaki yang selama lima tahun kurawat setiap hari tahu bahwa aku bukan menantunya secara sah.

Tangan yang selama ini kubersihkan, tubuh yang kubantu bangunkan, obat yang kuatur setiap beberapa jam, semuanya milik seseorang yang sejak awal ikut menyimpan rahasia terbesar dalam hidupku.

Aku meninggalkan rumah Bu Rina malam itu tanpa menoleh.

Namun keesokan paginya rumah sakit menelepon.

Pak Harun sadar penuh dan meminta bertemu denganku.

Aku hampir menolak.

Hampir.

Tetapi akhirnya aku datang.

Pak Harun tampak jauh lebih tua di ranjang rumah sakit.

Selang oksigen masih terpasang.

Ketika melihatku, matanya memerah.

“Laras.”

Aku berdiri di dekat pintu.

“Bapak mau bicara apa?”

Tangannya bergerak pelan, meminta agar aku mendekat.

Aku tetap menjaga jarak.

“Saya sudah tahu semuanya.”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Maafkan Bapak.”

Aku tidak menjawab.

“Bapak yang menyuruh Dimas melakukannya.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Pak Harun menarik napas berat.

“Karena Bapak egois.”

Pengakuan itu begitu sederhana sampai terasa lebih kejam.

Beliau bercerita bahwa lima tahun lalu bisnis keluarga sedang dalam kondisi buruk.

Dimas baru dipercaya mengambil alih beberapa hotel.

Pada saat yang sama, Pak Harun mulai mengalami masalah kesehatan.

Dia takut perusahaan runtuh.

Takut Dimas kembali mengejar Nadia.

Dan takut kehilangan satu-satunya orang yang menurutnya mampu membuat Dimas stabil.

Aku.

“Bapak tahu kamu perempuan baik,” katanya terbata-bata. “Bapak pikir kalau kamu masuk keluarga, semuanya akan baik.”

“Jadi Bapak menjebak saya.”

Pak Harun menangis.

“Bapak pikir setelah perceraian Dimas selesai, kalian bisa menikah resmi.”

“Kenapa tidak pernah dilakukan?”

Beliau menutup mata.

Karena setelah stroke, semuanya berubah.

Aku berhenti bekerja untuk merawatnya.

Dimas sibuk.

Hari menjadi bulan.

Bulan menjadi tahun.

Dan kebohongan yang awalnya mereka anggap sementara berubah menjadi kehidupan yang dianggap terlalu nyaman untuk dibongkar.

“Setiap kali Bapak mau bicara,” katanya, “Bapak takut kamu pergi.”

Aku tertawa pelan.

Sakit.

“Jadi supaya saya tidak pergi, Bapak terus membiarkan saya hidup dalam kebohongan.”

Pak Harun menangis semakin keras.

Aku menatap lelaki yang selama bertahun-tahun kupanggil Ayah.

Anehnya, aku tidak membencinya.

Yang kurasakan hanya kelelahan.

“Saya memaafkan Bapak.”

Matanya terbuka.

“Tapi saya tidak akan kembali.”

Wajahnya runtuh.

Aku menggenggam ujung ranjang.

“Memaafkan bukan berarti menyerahkan hidup saya lagi.”

Aku pergi setelah itu.

Dimas mencoba menemuiku berkali-kali.

Di studio.

Di apartemen Intan.

Bahkan di depan kafe tempat aku bertemu klien.

Aku selalu menolak.

Sampai suatu sore dia menungguku di parkiran.

“Laras, kasih aku kesempatan.”

Aku berhenti.

“Kesempatan untuk apa?”

“Kita nikah resmi.”

Aku menatapnya cukup lama.

Lima tahun lalu, mungkin kalimat itu adalah sesuatu yang paling ingin kudengar.

Sekarang terdengar seperti penghinaan terakhir.

“Kamu pikir masalahnya cuma tanda tangan di KUA?”

“Bukan begitu.”

“Kamu berbohong lima tahun. Kamu membiarkan aku merawat ayahmu, meninggalkan karierku, dan hidup sebagai istri tanpa perlindungan hukum. Lalu kamu pergi ke Lombok satu kamar dengan Selma.”

“Tidak terjadi apa-apa dengan Selma.”

Aku tersenyum.

“Aku sudah tidak perlu membuktikan itu.”

Dimas terdiam.

“Kenapa?”

“Karena hidupku tidak lagi bergantung pada apakah kamu setia atau tidak.”

Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan sesuatu yang mirip ketakutan.

Mungkin saat itulah dia akhirnya mengerti.

Aku benar-benar tidak akan kembali.

Enam bulan kemudian, proyek restoran Dago selesai.

Pak Fajar memberiku proyek hotel butik kecil di Yogyakarta.

Lucunya, hotel itu adalah jenis proyek yang dulu selalu ingin kukerjakan sebelum menikah.

Namaku kembali muncul di beberapa publikasi desain.

Aku pindah ke apartemen kecil yang kubayar sendiri.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun setiap benda di dalamnya kupilih untuk diriku sendiri.

Tidak ada bel.

Tidak ada jadwal obat.

Tidak ada pesan yang menyuruhku menyiapkan makan malam untuk tamu Dimas.

Pak Harun akhirnya pulang dari rumah sakit dengan perawat profesional.

Bu Rina beberapa kali menghubungiku.

Hubungan kami tidak sepenuhnya putus.

Dia juga meminta maaf karena selama bertahun-tahun terlalu nyaman menyerahkan perawatan ayahnya kepadaku.

Suatu hari, hampir setahun setelah semuanya terbongkar, sebuah undangan tiba di studio.

Dimas akan menikah.

Bukan dengan Selma.

Dengan perempuan lain yang tidak kukenal.

Aku membaca undangan itu tanpa emosi.

Pak Fajar yang kebetulan lewat melihatnya.

“Mau datang?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Dia tersenyum.

“Bagus.”

Aku memasukkan undangan itu ke tempat sampah.

Sore itu sebuah paket lain datang.

Dari Pak Harun.

Di dalamnya ada kotak kayu kecil dan sepucuk surat.

Tanganku sempat gemetar ketika membukanya.

Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah kunci.

Suratnya singkat.

Laras, lima tahun hidupmu tidak bisa Bapak kembalikan. Tidak ada uang yang mampu membayar waktu itu. Tapi Bapak ingin mengembalikan sesuatu yang dulu Bapak ambil darimu tanpa sadar, yaitu pilihan.

Kunci itu milik sebuah ruko kecil di Bandung.

Bangunan tua yang selama bertahun-tahun kosong.

Pak Harun menulis bahwa bangunan tersebut sudah dialihkan atas namaku secara sah.

Aku sempat ingin menolaknya.

Namun di bagian paling bawah ada satu kalimat yang membuatku terdiam lama.

Jangan jadikan tempat itu rumah untuk mengenang keluarga kami. Jadikan tempat itu ruang untuk membangun hidup yang dulu kamu tinggalkan.

Tiga bulan kemudian, ruko itu menjadi studio arsitektur pertamaku.

Namanya Ruang Laras.

Pada hari pembukaan, aku berdiri di depan pintu kaca sambil memandangi papan nama yang baru dipasang.

Intan membawa bunga.

Pak Fajar datang bersama beberapa mantan rekan kerja.

Bu Rina hadir tanpa Dimas.

Pak Harun tidak mampu datang karena kondisinya menurun, tetapi mengirim sebuah tanaman kecil.

Aku meletakkannya di dekat jendela.

Sore hampir selesai ketika teleponku berbunyi.

Nomor tak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Bu Laras?”

“Iya.”

“Saya Nadia Paramitha.”

Tubuhku langsung membeku.

Nama itu.

Istri sah Dimas lima tahun lalu.

Perempuan yang selama berbulan-bulan hanya kukenal melalui dokumen.

“Saya cuma ingin mengatakan satu hal,” katanya.

Aku menunggu.

“Saya tidak pernah menolak perceraian seperti yang Dimas bilang.”

Dadaku berdegup keras.

“Dia yang meminta prosesnya ditunda.”

Aku tidak mampu bicara.

Nadia melanjutkan.

“Karena saat itu perusahaan keluarganya sedang mengajukan pinjaman besar. Status pernikahan kami berkaitan dengan kepemilikan beberapa aset. Kalau perceraian selesai terlalu cepat, pembagian aset akan mengganggu jaminan bank.”

Aku perlahan duduk.

Berarti alasan tentang Nadia pergi dan menolak mengurus perceraian juga bohong.

Bahkan setelah semua yang terbongkar, masih ada lapisan lain.

“Kenapa Ibu baru menghubungi saya sekarang?”

Suara Nadia terdengar tenang.

“Karena saya baru tahu minggu lalu bahwa perempuan yang dia nikahi setelah saya ternyata tidak pernah tahu pernikahannya palsu.”

Aku memejamkan mata.

“Maaf.”

Aku terkejut.

“Kenapa Ibu minta maaf?”

“Karena ternyata kita berdua pernah menjadi perempuan yang dibuat percaya bahwa kepentingan Dimas lebih penting daripada hidup kita.”

Telepon berakhir beberapa menit kemudian.

Aku duduk lama di studio yang mulai gelap.

Dari luar, lampu jalan Bandung menyala satu per satu.

Aku memandangi pantulan diriku di kaca.

Dulu aku berpikir tragedi terbesar dalam hidupku adalah mengetahui Buku Nikahku palsu.

Ternyata bukan.

Tragedi terbesar adalah aku hampir percaya bahwa lima tahun yang hilang membuat hidupku selesai.

Padahal ternyata tidak.

Lima tahun itu memang tidak bisa kembali.

Namun aku masih punya sesuatu yang selama ini mereka coba ambil tanpa kusadari.

Hak untuk memilih apa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.

Aku berdiri, menyalakan lampu studio, lalu membuka gambar proyek baru.

Di luar, malam semakin gelap.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada satu pun bel yang memanggilku.

Dan aku tidak perlu berlari ke mana-mana.

Aku sudah sampai di hidupku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang