JAM SATU DINI HARI, TUNANGANKU DATANG MENJEMPUTKU SELESAI SHIFT MALAM—TAPI SAAT PINTU MOBIL DIBUKA, ASISTEN WANITA YANG DUDUK DI KURSI DEPAN MEMAKAI SYAL DAN MEMELUKI TERMOS YANG KUBELIKAN UNTUKNYA. SAAT AKU MEMINTANYA TURUN, TUNANGANKU MALAH BERKATA, “JANGAN MEMBUAT PASIEN TIDAK NYAMAN.” AKU HANYA TERSENYUM, MELEPAS CINCIN PERTUNANGAN, LALU MEMBATALKAN PERNIKAHAN TUJUH HARI SEBELUM HARI H

Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari lenganku.

Aku menatap wajah lelaki yang lima tahun terakhir kupanggil calon suami itu dan untuk pertama kalinya aku tidak melihat orang yang sama seperti dulu.

Namanya Arga Pratama.

Seorang dokter spesialis penyakit dalam yang dikenal sabar, tenang, dan hampir tidak pernah meninggikan suara kepada siapa pun.

Ironisnya, malam itu justru aku yang melihat sisi dirinya yang tidak pernah diperlihatkan kepada pasien, kolega, bahkan keluarganya sendiri.

“Jangan sentuh aku,” kataku.

Arga menarik napas panjang.

“Nadira, aku cuma ingin kita bicara baik-baik.”

“Barusan kamu bilang jangan paksa kamu kehilangan kesabaran.”

“Aku emosi.”

“Dan aku sudah tidak mau lagi menjadi alasan untuk emosimu.”

Perempuan di belakangnya, Siska, buru-buru menunduk. Matanya masih basah, tetapi aku melihat jelas bagaimana jemarinya tetap mencengkeram termos itu seolah benda tersebut miliknya.

Aku mengambil tas dari kursi.

“Besok aku akan menghubungi wedding organizer. Semua acara dibatalkan.”

Arga tertawa pendek, seolah mendengar sesuatu yang mustahil.

“Kamu sadar berapa banyak uang yang sudah kita keluarkan?”

“Aku sadar.”

“Gedung sudah lunas.”

“Aku tahu.”

“Katering hampir seribu porsi.”

“Aku tahu.”

“Keluargaku datang dari Makassar tiga hari lagi.”

“Aku juga tahu.”

“Lalu kamu mau mempermalukan semua orang gara-gara Siska duduk di kursi depan?”

Aku menatapnya lama.

“Tidak.”

Suasana ruang tunggu mendadak sangat sunyi.

“Aku membatalkan pernikahan karena selama delapan bulan terakhir kamu berbohong kepadaku.”

Wajah Arga berubah.

Siska langsung mengangkat kepala.

Aku membuka resleting tas, mengambil sebuah amplop cokelat, lalu meletakkannya di meja kecil dekat kami.

“Apa ini?” tanya Arga.

“Kamu tahu.”

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan beberapa lembar fotokopi.

Bukti transfer.

Tagihan apartemen.

Riwayat pembayaran kartu kredit.

Semuanya atas nama Arga.

Dan hampir semuanya mengarah ke satu alamat yang sama.

Apartemen di kawasan Kuningan.

Arga memucat.

Siska terlihat panik.

Aku tersenyum tipis.

“Kalian pasti ingin tahu bagaimana aku tahu.”

“Nadira, dengarkan aku dulu.”

“Delapan bulan lalu, bank meneleponku karena aku masih tercatat sebagai kontak darurat untuk salah satu kartu kreditmu. Ada transaksi yang dianggap mencurigakan. Awalnya aku tidak peduli. Aku pikir mungkin kamu membeli alat kesehatan atau membayar sesuatu untuk rumah sakit.”

Aku menunjuk salah satu lembar.

“Tapi kemudian aku melihat pembayaran sewa apartemen setiap bulan.”

Siska menelan ludah.

Arga masih diam.

“Aku datang ke apartemen itu.”

“Nadira.”

“Aku tidak naik. Aku hanya bertanya kepada petugas resepsionis apakah benar Dokter Arga menyewa unit di sana.”

Aku menoleh kepada Siska.

“Dan mereka mengenal kamu.”

Wajahnya kehilangan warna.

Beberapa orang yang tadinya pura-pura sibuk dengan ponsel kini terang-terangan mendengarkan.

Arga melangkah mendekat.

“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”

Aku hampir tertawa.

Kalimat itu rupanya benar-benar ada di kehidupan nyata.

“Baik. Jelaskan.”

Arga memejamkan mata sebentar.

“Siska punya masalah dengan keluarganya. Dia tidak punya tempat tinggal yang aman.”

“Jadi kamu menyewakan apartemen.”

“Iya.”

“Tanpa memberitahuku.”

“Karena kamu pasti akan salah paham.”

Aku mengangguk.

“Lalu biaya makan setiap bulan?”

“Aku membantu dia.”

“Tagihan klinik kecantikan?”

Arga terdiam.

Aku mengangkat lembar berikutnya.

“Perjalanan ke Bali?”

“Itu seminar.”

“Dua tiket kelas bisnis?”

“Siska asistennya.”

Aku tertawa kecil.

“Satu kamar hotel?”

Arga tidak mampu menjawab.

Siska tiba-tiba maju.

“Kak Nadira, kami tidak pernah melakukan apa pun.”

Aku menatapnya.

“Tidak ada yang bertanya kepadamu.”

“Aku hanya ingin menjelaskan.”

“Jelaskan syal itu.”

Tangannya spontan menyentuh syal yang dikenakannya.

“Mas Arga meminjamkannya karena aku kedinginan.”

“Termos itu?”

“Dia bilang boleh kupakai.”

Aku menatap Arga.

“Dan kamu memberikannya?”

Arga mengusap wajah.

“Cuma barang.”

Kalimat yang sama.

Cuma termos.

Cuma syal.

Cuma apartemen.

Cuma tiket.

Cuma kebohongan.

Aku menarik napas.

“Baik.”

Arga tampak sedikit lega.

Namun aku belum selesai.

“Kalau semuanya cuma hal kecil, ada satu hal lagi yang mungkin juga menurutmu kecil.”

Aku mengambil ponsel.

Di dalamnya ada sebuah rekaman suara.

Aku menekan tombol putar.

Suara Arga terdengar jelas.

“Aku cuma butuh waktu. Setelah pernikahan selesai, semuanya akan lebih mudah.”

Lalu suara Siska.

“Kalau dia tahu bagaimana?”

“Kamu pikir Nadira akan pergi? Dia sudah lima tahun bersamaku. Dia terlalu banyak berinvestasi dalam hubungan ini.”

Darah seolah berhenti mengalir di wajah Arga.

Rekaman itu berhenti.

Siska menutup mulutnya.

Aku masih mengingat hari ketika rekaman tersebut kuterima.

Tiga minggu lalu.

Dikirim dari nomor tak dikenal.

Tanpa penjelasan.

Hanya satu file audio.

Sejak saat itu aku tidak bertanya apa pun kepada Arga.

Aku ingin melihat sejauh mana dia akan terus berbohong jika tidak ada seorang pun menghentikannya.

Dan malam ini aku akhirnya mendapat jawabannya.

“Nadira,” suara Arga melemah, “itu pembicaraan yang keluar dari konteks.”

“Apa konteksnya?”

Dia tidak menjawab.

“Bagian mana yang harus kumengerti? Bagian ketika kamu yakin aku tidak akan meninggalkanmu karena sudah menghabiskan lima tahun? Atau bagian ketika kamu berkata setelah menikah semuanya akan lebih mudah?”

Siska menangis.

Kali ini mungkin benar-benar menangis.

“Aku memang menyukai Mas Arga.”

Arga langsung menoleh.

“Siska.”

“Aku capek berbohong.”

Suasana berubah dalam satu detik.

Aku bahkan tidak perlu mengatakan apa-apa.

Siska melepaskan syal dari lehernya.

“Awalnya Mas Arga hanya membantu. Aku memang punya masalah keluarga. Tapi lama-lama aku jatuh hati.”

“Cukup,” kata Arga.

Siska justru semakin berani.

“Mas bilang hubungan kalian sudah hambar.”

Aku menatap Arga.

“Benarkah?”

“Nadira, aku tidak pernah bilang seperti itu.”

Siska tertawa pahit.

“Mas bilang kalian menikah hanya karena keluarga sudah saling kenal dan terlalu banyak hal yang sudah dipersiapkan.”

Arga membentak.

“Diam!”

Beberapa perawat keluar dari ruangan.

Aku memperhatikan mereka sebentar, lalu kembali menatap Arga.

Aneh.

Aku pikir mendengar pengakuan seperti itu akan menghancurkanku.

Ternyata tidak.

Yang kurasakan justru ringan.

Seolah selama berbulan-bulan aku membawa tas sangat berat tanpa sadar, dan malam itu seseorang akhirnya mengambilnya dari pundakku.

“Aku pulang,” kataku.

Arga berdiri menghadang.

“Kita belum selesai.”

“Sudah.”

“Aku tidak pernah tidur dengan dia.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kali malam itu, nada suaraku benar-benar datar.

“Kamu masih berpikir perselingkuhan baru dimulai ketika dua orang tidur di ranjang yang sama.”

Arga terdiam.

“Padahal kamu sudah memberikan kepadanya waktu, uang, perhatian, rahasia, barang pribadimu, bahkan tempat yang seharusnya aman di dalam hubungan kita.”

Aku menunjuk kursi di luar.

“Kursi depan tadi cuma membuat semuanya terlihat sederhana.”

Aku berjalan melewatinya.

Kali ini dia tidak mengejar.

Aku memesan taksi daring dan pulang ke apartemen yang selama ini kami rencanakan untuk ditempati setelah menikah.

Apartemen itu sebenarnya milikku.

Kubeli tiga tahun sebelum mengenal Arga menggunakan uang warisan dari ibuku dan hasil kerja bertahun-tahun.

Namun hampir semua orang mengira itu milik kami berdua karena aku tidak pernah merasa perlu menjelaskan.

Termasuk Arga.

Pagi harinya, aku mengganti kode akses pintu.

Kemudian aku menelepon wedding organizer.

Aku tidak menangis ketika mengatakan,

“Pernikahan tanggal dua puluh dibatalkan.”

Perempuan di seberang telepon diam beberapa detik.

“Apakah Mbak yakin?”

“Sangat yakin.”

Setelah itu aku menelepon gedung, katering, fotografer, dan keluarga.

Bagian paling sulit adalah menelepon ayahku.

Beliau terdiam lama.

Aku sudah mempersiapkan diri untuk dimarahi.

Namun ayah hanya bertanya,

“Dia menyakitimu?”

“Tidak secara fisik.”

“Kalau begitu pulanglah akhir pekan ini.”

Aku menggigit bibir.

“Ayah tidak marah?”

“Uang bisa dicari lagi. Harga diri anak Ayah tidak.”

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, air mataku jatuh.

Keluarga Arga bereaksi berbeda.

Ibunya menelepon hampir dua puluh kali.

Pada panggilan kedua puluh satu, aku menjawab.

“Nadira, kamu sedang emosi. Jangan hancurkan masa depan karena perempuan tidak penting.”

Aku terdiam.

Justru kalimat itu menjelaskan semuanya.

“Kalau dia tidak penting,” kataku, “kenapa Arga mempertaruhkan pernikahan kami demi dia?”

Ibunya tidak mampu menjawab.

Tiga hari kemudian, Arga datang ke rumah orang tuaku di Depok.

Dia membawa cincin yang kutinggalkan.

Ayah tidak mengizinkannya masuk.

Namun aku keluar menemuinya di teras.

Arga terlihat berbeda.

Tidak tidur.

Matanya merah.

“Nadira, aku sudah memecat Siska.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

“Apartemennya juga sudah kuhentikan.”

Aku tetap diam.

“Aku salah.”

Akhirnya kalimat itu keluar.

Bukan pembelaan.

Bukan alasan.

Bukan tuduhan.

Aku menunggu lima tahun untuk mendengar dia mengakui kesalahan tanpa menambahkan kata tetapi.

Sayangnya, pengakuan itu datang tujuh hari terlambat.

“Aku bisa berubah,” katanya.

“Mungkin.”

“Kasih aku kesempatan.”

“Aku percaya kamu bisa berubah.”

Matanya langsung terangkat.

Namun aku melanjutkan,

“Tapi kamu tidak harus berubah untukku.”

Wajahnya runtuh.

“Lalu untuk siapa?”

“Untuk dirimu sendiri. Supaya perempuan setelah aku tidak perlu mengalami hal yang sama.”

Aku berbalik.

Dia memanggil namaku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Apa kamu sama sekali tidak sayang lagi?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sakit.

Karena sebenarnya aku masih sayang.

Perasaan tidak hilang hanya karena kita menemukan kebohongan.

Namun aku akhirnya memahami sesuatu.

Mencintai seseorang tidak berarti kita wajib tinggal setelah kepercayaan mati.

“Aku masih sayang,” jawabku.

“Lalu kenapa kamu pergi?”

Aku menatapnya.

“Karena kali ini aku memilih menyayangi diriku juga.”

Aku masuk ke dalam rumah.

Pernikahan itu tidak pernah terjadi.

Sebagian uang hangus.

Beberapa undangan telanjur diterima.

Beberapa kerabat bergosip.

Beberapa teman menyebutku terlalu keras.

Namun dua bulan kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Aku menerima sebuah surat di rumah sakit.

Pengirimnya tidak mencantumkan nama.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Aku orang yang mengirim rekaman itu.

Tanganku langsung dingin.

Baris berikutnya membuatku duduk.

Aku bukan teman Siska.

Aku juga bukan orang yang ingin menghancurkan hubunganmu.

Aku adalah pasien Arga.

Tiga bulan sebelum pernikahan kalian, aku sedang menunggu pemeriksaan ketika tanpa sengaja mendengar mereka berbicara di ruang konsultasi sebelah. Aku merekam karena cara mereka membicarakanmu membuatku tidak nyaman.

Di bawahnya ada kalimat terakhir.

Aku hampir tidak mengirim rekaman itu karena takut mencampuri kehidupan orang lain. Tapi kemudian aku teringat sesuatu yang pernah kamu katakan kepadaku ketika aku menjadi pasienmu dua tahun lalu.

Aku terdiam.

Lalu membaca baris berikutnya.

Waktu itu aku bertanya kenapa aku harus meninggalkan suami yang sering berbohong padahal aku masih mencintainya.

Kamu menjawab, cinta tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus meragukan harga dirinya.

Aku menangis.

Bukan karena Arga.

Bukan karena pernikahan yang batal.

Namun karena ternyata kalimat yang pernah kuucapkan kepada orang lain justru kembali menyelamatkanku ketika aku sendiri lupa menerapkannya.

Malam itu, saat pulang kerja, aku berdiri sebentar di area parkir.

Ada mobil berhenti di depan pintu.

Seorang perempuan keluar dari kursi belakang sambil tertawa, lalu pindah ke depan setelah penumpang lain turun.

Aku tersenyum.

Dulu aku mengira kursi depan hanyalah tempat duduk.

Ternyata tidak.

Kadang sebuah tempat kecil menunjukkan dengan sangat jelas posisi kita di dalam hidup seseorang.

Dan ketika seseorang berkali-kali meminta kita bergeser agar orang lain merasa nyaman, mungkin masalahnya bukan karena kita terlalu sensitif.

Mungkin kita hanya sudah terlalu lama duduk di tempat yang salah.

Aku masuk ke mobil taksi yang menungguku.

Sopir bertanya,

“Mau ke mana, Mbak?”

Aku melihat kota Jakarta yang masih menyala lewat jendela.

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, tidak ada rumah Arga yang harus kutuju.

Tidak ada pernikahan yang harus kusiapkan.

Tidak ada lagi hubungan yang harus kuselamatkan sendirian.

Aku tersenyum.

“Pulang.”

Dan malam itu aku akhirnya memahami arti kata itu.

Pulang bukan selalu kembali kepada seseorang.

Kadang pulang berarti kembali kepada diri sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang