Saya akhirnya menyentuh map cokelat itu.
Entah mengapa tangan saya gemetar lebih hebat saat membuka tali pengikatnya dibanding ketika Galang mengaku berselingkuh.
Di dalamnya ada tumpukan invoice, salinan rekening koran, dokumen bank, serta beberapa lembar kontrak dengan logo Mitra Ruang Studio.
Saya mengambil lembar paling atas.
Nominalnya Rp87 juta.

Keterangan pembayaran tertulis renovasi area produksi cabang Banyumanik.
Saya mengenali tanggalnya.
Pada minggu itu, cabang Banyumanik bahkan tutup selama dua hari karena kerusakan saluran air. Tidak ada renovasi apa pun.
“Ini invoice perusahaan Anda?” tanya saya.
Alya mengangguk.
“Nama perusahaan saya, iya. Tapi saya tidak pernah membuat sebagian besar invoice itu.”
Saya menatapnya.
“Sebagian besar?”
“Awalnya memang ada transaksi sungguhan.”
Alya meremas kedua tangannya di bawah meja.
“Saya desainer interior. Tiga tahun lalu Mas Galang menghubungi saya untuk mendesain apartemen kecil di daerah Simpang Lima. Setelah pekerjaan selesai, kami… mulai dekat.”
Dia menunduk.
Saya menahan diri agar tidak memotong.
Saya sudah tahu bagian itu.
Yang ingin saya tahu adalah bagaimana perempuan di depan saya bisa terhubung dengan ratusan juta rupiah milik perusahaan saya.
“Beberapa bulan kemudian dia bilang Dapur Seroja butuh vendor tambahan. Dia meminta izin memakai nama studio saya untuk beberapa pekerjaan kecil.”
“Dan Anda setuju?”
“Awalnya dua invoice. Totalnya sekitar empat puluh juta. Pekerjaannya benar-benar ada. Saya beli rak stainless dan beberapa meja kerja dari supplier.”
Alya mengeluarkan ponselnya.
“Tapi setelah itu jumlahnya makin besar.”
Dia menunjukkan tangkapan layar percakapan dengan Galang.
Saya membaca pesan demi pesan.
Buat invoice 36 juta, ya.
Deskripsi seperti kemarin.
Uangnya masuk studio dulu, nanti transfer ke rekening yang aku kirim.
Jangan tanya terlalu banyak. Ini bagian dari pengaturan pajak.
Dada saya terasa sesak.
“Ke rekening siapa uangnya dipindahkan?”
Alya membuka halaman lain.
Ada beberapa bukti transfer.
Nama penerima pertama adalah Galang Pradipta.
Penerima kedua membuat saya terpaku.
PT Arunika Pangan Nusantara.
Saya belum pernah mendengar nama itu.
“Apa ini?”
“Perusahaan yang Mas Galang bilang akan menjadi perusahaan induk Dapur Seroja.”
Saya mengangkat kepala.
“Perusahaan induk?”
Alya terlihat terkejut dengan reaksi saya.
“Dia bilang perusahaan itu milik kalian berdua.”
“Bukan.”
Suara saya nyaris berbisik.
“Saya bahkan tidak tahu perusahaan itu ada.”
Alya memejamkan mata sebentar.
Seolah baru saat itu dia benar-benar memahami seberapa besar kebohongan Galang.
“Mas Galang bilang struktur usaha Dapur Seroja sedang dipindahkan ke Arunika supaya lebih mudah mencari investor.”
Saya segera mengambil laptop.
Dengan bantuan data yang dibawa Alya, saya menemukan akta perusahaan tersebut dalam salah satu folder tersinkron milik Galang.
PT Arunika Pangan Nusantara didirikan sebelas bulan sebelumnya.
Direktur utamanya Galang Pradipta.
Pemegang saham terbesar seseorang bernama Nirmala Pradipta.
Saya mengenal nama itu.
Ibu Galang.
Perempuan yang selama delapan tahun selalu memanggil saya anak sendiri.
Pemegang saham lainnya adalah Galang dan satu nama yang tidak saya kenal.
Tidak ada nama saya.
Tidak ada Dapur Seroja.
Saya membuka dokumen berikutnya.
Sebuah perjanjian pengalihan merek.
Nama Dapur Seroja tercetak jelas.
Pemilik lama tertulis Ratih Sekar Wulandari.
Pemilik baru PT Arunika Pangan Nusantara.
Di bagian bawah ada tanda tangan atas nama saya.
Palsu lagi.
Saya merasa mual.
Dapur Seroja bukan sekadar usaha.
Nama itu dipilih almarhum ibu saya.
Beliau menjual cincin emas terakhirnya agar saya bisa membeli oven pertama setelah lulus kuliah.
Kami memulai dari dapur sempit di belakang rumah.
Ibu membuat lemper dan pastel sejak pukul empat pagi. Saya menjual brownies melalui Instagram dan WhatsApp.
Dua tahun kemudian, Ibu meninggal karena serangan jantung.
Ruko yang sekarang menjadi pusat Dapur Seroja adalah satu-satunya warisan beliau kepada saya.
Dan Galang tahu semuanya.
Dia bahkan berdiri di samping makam Ibu dan berjanji akan menjaga saya.
“Kenapa Anda menyimpan semua ini?” tanya saya kepada Alya.
“Karena saya mulai takut.”
Dia mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Sekitar delapan bulan lalu, saya sadar beberapa transfer tidak masuk akal. Mas Galang selalu bilang ini cuma rekayasa pencatatan sementara. Tapi tiga bulan lalu dia meminta saya menandatangani surat seolah-olah studio saya punya utang kepada Arunika sebesar enam ratus juta.”
“Anda tanda tangan?”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya sejak perempuan itu datang, ada sedikit ketegasan di wajahnya.
“Saya bodoh karena percaya dia. Tapi saya tidak mau jadi kambing hitam.”
Saya menatapnya lama.
“Apa Anda tahu dia sudah menikah sejak awal?”
Alya terdiam.
Lalu mengangguk.
“Saya tahu.”
Jawabannya tetap menyakitkan.
“Jadi selama tiga tahun Anda sadar sedang berhubungan dengan suami orang?”
“Iya.”
“Dan sekarang saya harus percaya Anda?”
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
“Mbak tidak perlu percaya saya sebagai manusia. Percayai dokumennya.”
Kalimat itu membuat saya diam.
Alya menelan ludah.
“Saya datang bukan karena merasa lebih baik dari Mbak. Saya melakukan hal yang salah. Saya tahu itu.”
Air matanya mulai menggenang, tetapi dia tidak menghapusnya.
“Mas Galang selalu bilang pernikahan kalian cuma tinggal nama. Katanya Mbak sudah tidak peduli pada dia. Katanya kalian bertahan demi bisnis.”
Saya tertawa kecil.
Pahit.
“Tentu saja.”
“Lalu foto kalian viral.”
Alya menatap meja.
“Saya lihat cara dia memegang sandal Mbak. Cara dia memasangkan jasnya ke bahu Mbak.”
Dia menggeleng pelan.
“Saya sadar selama tiga tahun ini mungkin saya bukan perempuan yang sedang ditunggu untuk dipilih.”
“Lalu?”
“Saya bertanya kepadanya kapan dia akan meninggalkan Mbak.”
Alya menarik napas panjang.
“Dia malah bilang saya harus bersabar sampai semua aset Dapur Seroja selesai dipindahkan.”
Ruangan seolah berhenti bergerak.
Saya menatap Alya.
“Dia mengatakan itu?”
“Ya.”
Alya membuka rekaman suara di ponselnya.
Suara Galang terdengar jelas.
Tunggu dua atau tiga bulan lagi. Kalau kredit cair, semuanya selesai. Setelah struktur aset pindah ke Arunika, Ratih tidak punya posisi kuat. Kalau dia minta cerai, biarkan. Kita tidak kehilangan apa-apa.
Tangan saya mengepal.
Lalu suara Alya terdengar.
Tapi Dapur Seroja milik Ratih.
Galang tertawa.
Secara emosional mungkin. Secara hukum nanti lihat saja.
Saya menghentikan rekaman.
Saya tidak sanggup mendengar lebih banyak.
Saat itulah Dewi tiba.
Dia masuk ke toko bersama seorang pria berkacamata yang diperkenalkannya sebagai rekan pengacara di bidang korporasi.
Saya menyerahkan semua dokumen.
Selama hampir dua jam, mereka memeriksa satu demi satu.
Ekspresi Dewi semakin serius.
“Ratih, kita bukan lagi bicara soal perceraian.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau dokumen ini autentik, ada indikasi pemalsuan tanda tangan, penipuan, penyalahgunaan dana perusahaan, dan upaya menjaminkan aset tanpa persetujuan pemilik.”
Dia menunjuk dokumen kredit.
“Bank belum mencairkan dana. Itu kabar baik.”
Saya hampir roboh karena lega.
“Tapi prosesnya sudah masuk tahap akhir.”
“Kita hentikan.”
“Ya. Hari ini.”
Dewi langsung menghubungi bagian legal bank.
Sementara itu, saya meminta Raka naik ke ruangan saya.
Begitu melihat Alya, wajah adik saya berubah.
“Mbak, siapa dia?”
“Alya Kirana.”
Raka langsung mengerti.
Saya menunjukkan invoice.
Wajahnya memucat.
“Ini yang selama ini Mas Galang bilang pembayaran proyek khusus.”
“Kenapa kamu tidak pernah lapor?”
Raka terlihat terpukul.
“Karena ada otorisasi dari akun Mbak.”
Saya membeku.
“Akun saya?”
Raka membuka sistem perusahaan.
Semua pembayaran kepada Mitra Ruang Studio tercatat mendapat persetujuan digital dari akun saya.
Namun jam persetujuannya sering terjadi dini hari.
Saat saya tidur.
Saya baru teringat bahwa Galang mengetahui kata sandi laptop pribadi saya.
Bahkan token autentikasi perusahaan pernah tersimpan di laci meja kerja rumah karena saya jarang membawanya.
Raka menutup wajah.
“Ya Tuhan.”
Saya tidak menyalahkannya.
Orang yang kami percaya ternyata mempelajari sistem kami dari dalam.
Menjelang sore, Dewi meminta saya tidak pulang ke rumah.
“Galang pasti sadar proses kredit dihentikan.”
Benar saja.
Pukul lima lewat dua belas menit, telepon saya berdering.
Galang.
Saya membiarkannya.
Dia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
Kamu ketemu Alya?
Saya tidak menjawab.
Pesan berikutnya datang.
Jangan percaya dia. Dia sedang memeras aku.
Kemudian satu lagi.
Kita harus bicara sekarang.
Saya mematikan ponsel.
Sekitar setengah tujuh malam, Galang muncul di Dapur Seroja.
Dia berjalan cepat melewati kasir dan langsung naik ke lantai dua.
Ketika melihat Alya duduk bersama Dewi dan Raka, wajahnya kehilangan warna.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” bentaknya kepada Alya.
Alya berdiri.
“Hal yang seharusnya saya lakukan sejak lama.”
Galang menatap saya.
“Ratih, dengarkan aku dulu.”
Saya meletakkan salinan pengalihan merek di meja.
“Jelaskan.”
Dia melihat dokumen itu.
“Saya bisa jelaskan.”
“Bagus.”
Saya menunjuk kursi.
“Duduk.”
Galang tidak duduk.
“Arunika dibuat untuk melindungi bisnis kita.”
“Bisnis kita?”
“Ratih, kamu tidak paham struktur perusahaan. Kalau Dapur Seroja mau besar, kita butuh badan usaha yang lebih kuat.”
“Lalu kenapa nama saya tidak ada sebagai pemegang saham?”
Galang terdiam.
“Kenapa ibumu justru pemegang saham terbesar?”
“Itu sementara.”
“Kenapa tanda tangan saya dipalsukan?”
“Bukan dipalsukan.”
“Jangan.”
Suara saya meninggi untuk pertama kalinya.
“Jangan berani membuat saya merasa bodoh lagi.”
Galang menatap Dewi.
“Kamu tidak seharusnya membawa pengacara ke masalah keluarga.”
Dewi menjawab datar.
“Begitu ada pemalsuan dokumen, ini bukan sekadar masalah keluarga.”
Wajah Galang berubah keras.
Dia lalu menatap Alya.
“Kamu bilang mencintaiku.”
Alya tertawa kecil sambil menangis.
“Saya memang pernah mencintai Mas.”
“Lalu kamu hancurkan semuanya?”
Alya memandangnya lama.
“Tidak. Mas yang menghancurkan semuanya. Saya cuma berhenti membantu Mas menyembunyikannya.”
Galang tiba-tiba membanting telapak tangannya ke meja.
“Kalian tidak mengerti apa yang aku lakukan!”
Saya berdiri.
“Kalau begitu jelaskan.”
Untuk beberapa detik dia hanya bernapas berat.
Kemudian sebuah suara terdengar dari tangga.
“Biar Mama yang jelaskan.”
Saya menoleh.
Bu Nirmala berdiri di sana.
Raka rupanya sudah meneleponnya.
Saya tidak tahu harus merasa lega atau semakin takut.
Bu Nirmala masuk perlahan dan meletakkan tasnya.
Galang langsung menegang.
“Ma, pulang.”
Ibunya tidak memandang dia.
Beliau menatap saya.
“Ratih, Mama minta maaf.”
Saya menahan napas.
“Untuk apa?”
Bu Nirmala mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
“Karena Mama tahu soal Arunika.”
Jantung saya jatuh.
Galang langsung memotong.
“Ma!”
“Diam.”
Suara perempuan itu sangat tenang.
Namun Galang benar-benar diam.
Bu Nirmala mendorong amplop ke arah saya.
“Galang datang enam bulan lalu membawa dokumen pendirian perusahaan. Dia bilang kamu sedang mengatur restrukturisasi usaha dan membutuhkan nama Mama sementara.”
Saya menatapnya.
“Mama percaya?”
“Awalnya.”
Matanya berkaca-kaca.
“Tapi sebulan lalu, notaris yang sudah lama mengenal keluarga kita menelepon Mama. Dia merasa ada yang janggal karena beberapa tanda tangan kamu berbeda.”
Saya membuka amplop.
Di dalamnya terdapat surat pengunduran diri Bu Nirmala sebagai pemegang saham dan salinan percakapannya dengan notaris.
“Tapi Mama belum menandatangani pengalihan apa pun,” lanjutnya.
“Kenapa?”
“Karena Mama ingin bertanya langsung kepadamu.”
Bu Nirmala menatap Galang.
“Tapi Galang terus melarang Mama datang ke toko.”
Galang terlihat seperti orang yang terpojok.
“Semuanya bisa diperbaiki.”
Saya tertawa tanpa humor.
“Perselingkuhan tiga tahun. Uang perusahaan ratusan juta. Tanda tangan palsu. Ruko ibu saya hampir dijaminkan. Merek usaha saya mau diambil.”
Saya menatapnya.
“Bagian mana yang menurutmu masih bisa diperbaiki?”
Galang akhirnya duduk.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tampak benar-benar runtuh.
“Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
“Takut tidak punya apa-apa.”
Kalimat itu membuat saya terdiam.
Galang mengusap wajah.
“Semua orang mengenal aku sebagai suami Ratih dari Dapur Seroja. Rumah ini milikmu. Usaha ini milikmu. Bahkan sebagian besar tabungan kita berasal dari usahamu.”
Dia menatap saya dengan mata merah.
“Aku selalu hidup di belakang namamu.”
Saya nyaris tidak percaya.
“Jadi karena harga dirimu terluka, kamu mencoba mencuri semuanya?”
“Aku ingin punya sesuatu yang juga milikku.”
“Kalau begitu bangun sesuatu.”
Saya menunjuk dapur di belakang.
“Saya membangun Dapur Seroja dari oven bekas dan lima kilogram tepung. Tidak ada yang menghalangi kamu membangun milikmu sendiri.”
Galang tidak menjawab.
Dewi akhirnya meminta semua orang berhenti bicara karena situasi sudah menyangkut proses hukum.
Malam itu Galang meninggalkan toko tanpa membawa apa pun.
Tiga bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidup saya.
Perceraian berjalan.
Pemeriksaan dokumen juga berjalan.
Bank membatalkan proses kredit setelah mengetahui persetujuan pemilik aset dipermasalahkan.
Rekening-rekening tertentu diperiksa.
Dari audit internal, kami menemukan lebih dari Rp600 juta dana Dapur Seroja dialihkan melalui berbagai vendor selama dua tahun.
Tidak semuanya masuk ke Alya.
Sebagian mengalir ke perusahaan lain yang terkait dengan Arunika.
Alya menyerahkan seluruh data ke penyidik dan mengembalikan dana yang masih tersisa di rekening studionya.
Dia juga menutup hubungannya dengan Galang.
Saya tidak pernah memaafkannya atas perselingkuhan itu.
Namun saya juga tidak membencinya selamanya.
Ada satu hal yang kami sama-sama pelajari dengan cara menyakitkan.
Galang tidak mencintai kami sebagaimana yang kami bayangkan.
Dia mencintai perasaan berkuasa atas orang yang mempercayainya.
Enam bulan kemudian, Dapur Seroja membuka cabang keempat.
Tidak sebesar rencana awal.
Saya sengaja memperlambat ekspansi dan memperketat semua sistem keuangan.
Tidak ada lagi satu orang yang memiliki akses penuh.
Setiap transaksi besar membutuhkan persetujuan berlapis.
Raka bahkan bercanda bahwa sekarang membeli satu oven saja rasanya seperti mengurus proyek negara.
Pada malam pembukaan cabang, saya berdiri di depan foto lama Ibu yang dipasang di dekat kasir.
Di bawahnya ada foto oven pertama kami.
Catnya sudah mengelupas.
Pegangan pintunya bahkan pernah diperbaiki dengan kawat.
Raka berdiri di sebelah saya.
“Mbak tahu nggak hal paling aneh dari semua ini?”
“Apa?”
“Kalau foto Mbak sama Mas Galang waktu acara amal itu nggak viral, mungkin Alya nggak akan marah. Kalau Alya nggak marah, dia nggak akan membuka dokumen. Kalau dokumen nggak terbuka, kredit mungkin sudah cair.”
Saya menatap foto Ibu.
Benar.
Sebuah foto yang membuat ribuan orang percaya pernikahan saya sempurna justru menjadi awal terbongkarnya kehancuran di baliknya.
Ponsel saya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak saya simpan.
Alya.
Dia hanya mengirim satu foto.
Sebuah papan kecil bertuliskan Mitra Ruang Studio, kini terpasang di sebuah ruko sederhana.
Di bawahnya ada pesan pendek.
Saya mulai lagi dari nol.
Maaf untuk semua yang pernah saya lakukan.
Saya membaca pesan itu cukup lama.
Kemudian menjawab.
Mulai dari nol lebih baik daripada membangun sesuatu dari kebohongan.
Saya memasukkan ponsel ke tas.
Di luar, pelanggan mulai berdatangan.
Aroma pandan, mentega, dan kopi memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, saya merasa Dapur Seroja benar-benar kembali menjadi milik saya.
Bukan hanya secara hukum.
Tetapi juga secara batin.
Dulu saya mengira pengkhianatan terbesar Galang adalah mencintai perempuan lain.
Ternyata bukan.
Pengkhianatan terbesar adalah ketika seseorang menggunakan kepercayaan kita sebagai kunci untuk masuk ke semua hal yang kita bangun, lalu mencoba mengambilnya satu per satu.
Namun Galang membuat satu kesalahan.
Dia mengira karena saya mempercayainya, berarti saya lemah.
Padahal Ibu pernah mengajarkan sesuatu ketika oven pertama kami rusak pada hari pesanan terbesar masuk.
Beliau berkata, “Yang membuat dapur hidup bukan ovennya, Ratih. Bukan rukonya. Bukan juga uangnya. Tapi orang yang tahu bagaimana memulai lagi ketika semuanya hampir habis.”
Malam itu saya akhirnya memahami maksudnya.
Galang hampir mengambil ruko saya.
Dia hampir mengambil merek saya.
Dia bahkan hampir mengambil uang yang saya kumpulkan bertahun-tahun.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa dia pindahkan ke perusahaan mana pun.
Kemampuan saya untuk membangun semuanya kembali.
