AKU MEMBAWA DUA GELAS KOPI KE KANTOR SUAMIKU, TAPI SEKRETARISNYA TIBA-TIBA MENARIKKU KE RUANG ARSIP…..

Ratna tidak langsung pulang ke rumah.

Begitu keluar dari gedung kantor Hendra, ia duduk di dalam mobil selama hampir sepuluh menit tanpa menyalakan mesin. Map hijau tua tergeletak di kursi penumpang, sementara dua gelas kopi yang sudah dingin masih berada di dalam kantong kertas.

Tangannya gemetar ketika menyentuh setir.

Baru satu jam lalu, ia masih membayangkan makan siang bersama suaminya.

Sekarang ia tahu bahwa laki-laki yang telah tidur di sampingnya selama 23 tahun memiliki kehidupan lain di Surabaya, seorang perempuan bernama Sari, seorang anak bernama Arka, dan rencana untuk mengambil aset miliknya dengan tanda tangan palsu.

Ratna menutup mata.

Ia ingin menangis.

Namun air matanya tidak keluar.

Yang muncul justru satu pertanyaan.

Aset terbesar apa yang dimaksud Maya?

Rumah mereka di Bintaro memang bernilai besar, tetapi Maya mengatakan dokumen terakhir dibutuhkan untuk memindahkan aset terbesar miliknya.

Berarti bukan rumah.

Ratna mengambil ponsel dan menelepon seseorang yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah ia hubungi untuk urusan pribadi.

“Pak Adrian, ini Ratna.”

“Bu Ratna? Wah, lama sekali. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya perlu konsultasi. Hari ini juga. Dan saya ingin semuanya dirahasiakan, termasuk dari suami saya.”

Nada suara Adrian langsung berubah serius.

“Datang ke kantor saya jam dua.”

Ratna tiba di sebuah kantor notaris dan konsultan hukum di Kebayoran Baru tepat pukul dua siang.

Adrian mengenalnya sejak Ratna membeli rumah pertamanya bersama Hendra. Setelah melihat isi map hijau selama beberapa menit, wajah pria itu berubah tegang.

“Bu Ratna, saya perlu bertanya. Ibu pernah memberikan surat kuasa penuh kepada Pak Hendra?”

“Tidak.”

“Pernah menandatangani persetujuan pengalihan aset?”

“Tidak.”

Adrian menggeser beberapa dokumen ke hadapan Ratna.

“Kalau begitu, jangan tanda tangani apa pun mulai sekarang.”

Ratna menatap tanda tangan palsu yang menyerupai miliknya.

“Apakah dia sudah berhasil memindahkan rumah?”

“Belum. Ini baru tahap persiapan. Ada beberapa dokumen yang belum lengkap.”

Ratna mengembuskan napas lega.

Namun Adrian belum selesai.

“Ada sesuatu yang lebih aneh.”

Ia menunjuk satu nomor sertifikat yang tertulis di halaman terakhir.

“Ini bukan sertifikat rumah Bintaro.”

Ratna mendekat.

“Lalu apa?”

“Tanah di Tangerang Selatan.”

Ratna terdiam.

Kemudian ingatannya kembali pada kejadian 17 tahun lalu.

Setelah ayahnya meninggal, Ratna menerima warisan berupa sebidang tanah seluas hampir 1.800 meter persegi di pinggiran Tangerang Selatan. Saat itu kawasan tersebut masih sepi. Hendra bahkan pernah mengejeknya karena mempertahankan tanah yang menurutnya tidak menghasilkan apa-apa.

Ratna tidak pernah menjualnya.

Tanah itu dibiarkan kosong dan seluruh dokumen aslinya disimpan di safe deposit box bank.

“Astaga.”

Adrian mengangguk.

“Kalau melihat perkembangan kawasan sekarang, nilainya mungkin puluhan miliar.”

Ratna menatap kosong ke luar jendela.

Sekarang semuanya masuk akal.

Hendra bukan hanya ingin meninggalkannya.

Ia ingin meninggalkannya setelah memastikan Ratna kehilangan sesuatu yang bisa menjamin masa depannya.

“Bisakah kita menghentikannya?”

“Bisa. Tapi kita harus tahu sejauh mana prosesnya.”

Selama tiga jam berikutnya, Ratna dan Adrian memeriksa satu per satu dokumen yang dibawa Maya.

Mereka menemukan pola yang jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.

Selama hampir empat tahun, Hendra perlahan memindahkan uang dari rekening bersama ke beberapa rekening perusahaan yang tidak pernah diketahui Ratna.

Jumlahnya tidak langsung besar.

Lima juta.

Delapan juta.

Dua belas juta.

Kadang dua puluh juta.

Nominal yang cukup kecil untuk tersamarkan di antara berbagai pengeluaran keluarga.

Tetapi jika dijumlahkan selama bertahun-tahun, nilainya mencapai lebih dari satu miliar rupiah.

Ratna menatap angka itu lama sekali.

Selama ini setiap kali ia lembur di rumah sakit, setiap kali ia menolak membeli barang mahal karena ingin mempercepat pelunasan rumah, sebagian uang yang ia kumpulkan ternyata digunakan Hendra untuk membangun kehidupan lain.

Malam itu Ratna pulang seperti biasa.

Hendra sudah berada di ruang keluarga sambil menonton televisi.

“Dari mana?” tanyanya.

“Rumah sakit.”

Tidak ada keraguan sedikit pun di wajah Hendra.

“Capek?”

“Lumayan.”

Hendra berdiri dan mencium keningnya.

Ratna hampir mundur secara refleks.

Namun ia menahan diri.

“Aku minggu depan mungkin harus ke Surabaya lagi,” kata Hendra.

Ratna meletakkan tas di sofa.

“Proyek?”

“Iya. Ada masalah dengan klien.”

Ratna memandang suaminya selama beberapa detik.

Dulu wajah itu memberinya rasa aman.

Sekarang setiap ekspresinya terlihat seperti lapisan kebohongan.

“Kapan pulang?”

“Dua atau tiga hari.”

Ratna mengangguk.

Malam itu mereka tidur di ranjang yang sama.

Hendra tertidur hanya beberapa menit setelah mematikan lampu.

Ratna tetap terjaga sampai pukul tiga pagi.

Keesokan harinya, ia mulai bergerak.

Dengan bantuan Adrian, Ratna menghubungi bank, memeriksa rekening, mengamankan dokumen warisan, dan membuat pencatatan resmi mengenai dugaan pemalsuan tanda tangan.

Ia juga meminta salinan seluruh transaksi keuangan yang masih dapat ditelusuri.

Maya diam-diam terus mengirimkan informasi.

Tiga hari kemudian, sebuah pesan masuk.

Bu, Pak Hendra minta dokumen terakhir dicetak besok.

Ratna membaca pesan itu di ruang kerjanya di rumah sakit.

Dokumen apa?

Balasan Maya datang beberapa detik kemudian.

Persetujuan pengalihan tanah. Tanda tangan Ibu sudah ada di file.

Ratna merasakan darahnya mendidih.

Kali ini Hendra bahkan tidak berniat meminta tanda tangannya.

Ia akan langsung menggunakan tanda tangan palsu.

Ratna segera menelepon Adrian.

“Kita punya waktunya.”

“Kapan?”

“Besok.”

Adrian terdiam sejenak.

“Kalau begitu jangan cegah dia mencetak dokumen itu.”

Ratna mengernyit.

“Kenapa?”

“Karena kita membutuhkan bukti yang menunjukkan dia mengetahui dan menggunakan dokumen palsu itu.”

Ratna memahami maksudnya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia harus membiarkan seseorang mencoba mencurinya agar kebohongan orang itu bisa dibuktikan.

Dua hari kemudian Hendra berangkat ke Surabaya.

Ratna tidak menghalanginya.

Bahkan ia membantu memasukkan kemeja ke koper.

“Hati-hati,” katanya.

Hendra tersenyum.

“Kamu juga.”

Begitu mobil Hendra meninggalkan rumah, Ratna membuka laptop.

Maya sudah mengirimkan salinan dokumen terakhir.

Beberapa jam kemudian, Ratna dan Adrian melaporkan temuan mereka melalui jalur hukum yang diperlukan dan meminta agar tidak ada proses pengalihan aset yang dapat dilakukan menggunakan dokumen tersebut.

Namun Ratna masih menginginkan satu jawaban.

Siapa sebenarnya Sari?

Alamat rumah di Surabaya ditemukan dalam salah satu catatan pembayaran Hendra.

Ratna memutuskan pergi ke sana.

Adrian menentangnya.

“Tidak perlu menemui perempuan itu.”

“Saya perlu tahu apakah dia bagian dari rencana ini.”

Ratna tiba di Surabaya pada Sabtu pagi.

Rumah itu berada di sebuah kompleks perumahan kelas menengah yang tenang.

Tidak mewah.

Tidak seperti bayangannya.

Ratna berdiri di depan pagar selama beberapa menit sebelum menekan bel.

Seorang perempuan sekitar 38 tahun membuka pintu.

“Cari siapa?”

“Bu Sari?”

“Iya.”

“Saya Ratna.”

Wajah Sari langsung kehilangan warna.

Ia jelas mengenal nama itu.

Pintu hampir ditutup.

Ratna menahannya.

“Saya tidak datang untuk membuat keributan.”

Sari menatapnya dengan napas memburu.

“Pak Hendra bilang kalian sudah berpisah.”

Kalimat itu membuat Ratna terdiam.

“Kapan dia bilang begitu?”

“Empat tahun lalu.”

Ratna merasakan sesuatu di dadanya runtuh.

Hendra ternyata tidak hanya membohonginya.

Ia juga membohongi perempuan ini.

Sari perlahan membuka pintu.

Di ruang keluarga terdapat foto Hendra bersama Sari dan seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.

Ratna menatap foto itu.

“Itu Arka?”

Sari mengangguk.

“Dia anak saya dari pernikahan sebelumnya. Bukan anak kandung Hendra.”

Ratna kembali terkejut.

Selama ini Hendra sengaja membiarkan Danu percaya seolah Arka adalah bagian dari keluarga barunya.

“Dia bilang akan menikahi saya setelah pembagian harta selesai,” ujar Sari dengan suara bergetar. “Dia bilang rumah kalian sedang dijual karena proses perceraian.”

Ratna tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena ia baru menyadari betapa luas jaringan kebohongan suaminya.

Sari kemudian mengambil ponselnya.

“Ada sesuatu yang mungkin perlu Ibu lihat.”

Ia membuka percakapan dengan Hendra.

Ratna membaca beberapa pesan.

Setelah tanah cair, kita pindah.

Ratna tidak akan dapat apa-apa karena semuanya sudah disiapkan.

Rumah Bintaro nanti dijual juga.

Ratna mengangkat kepala.

“Boleh saya mendapatkan salinannya?”

Sari mengangguk.

Untuk pertama kalinya, dua perempuan yang selama bertahun-tahun ditempatkan sebagai istri dan selingkuhan justru duduk di meja yang sama.

Bukan untuk memperebutkan Hendra.

Melainkan untuk memahami bagaimana mereka berdua telah dipermainkan.

Seminggu kemudian Hendra pulang ke Jakarta.

Saat masuk ke rumah, ia menemukan Ratna duduk di meja makan.

Di depannya ada map hijau.

Hendra berhenti.

Wajahnya berubah.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Ratna tidak menjawab.

Ia hanya menunjuk kursi.

“Duduk.”

“Ratna, aku bisa jelaskan.”

“Duduk.”

Untuk pertama kalinya dalam 23 tahun, Hendra menuruti perintah istrinya tanpa membantah.

Ratna mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Empat tahun transfer uang.”

Lembar berikutnya.

“Surat kuasa palsu.”

Berikutnya.

“Pengajuan pengalihan tanah.”

Berikutnya.

“Pesanmu kepada Sari.”

Wajah Hendra semakin pucat.

“Kamu menemui dia?”

Ratna tersenyum tipis.

“Yang menarik, dia juga mengira aku sedang bercerai denganmu.”

Hendra mengusap wajah.

“Ratna, dengarkan dulu. Aku melakukan semua ini karena kita sudah lama tidak bahagia.”

“Kalau tidak bahagia, kamu bisa meminta cerai.”

“Aku takut kehilangan semuanya.”

Ratna menatapnya.

“Jadi solusimu adalah memastikan aku yang kehilangan semuanya?”

Hendra tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian ia mencoba meraih tangan Ratna.

Ratna menarik tangannya.

“Tanah itu warisan ayahku. Kamu bahkan dulu bilang tanah itu tidak berguna.”

“Aku salah.”

“Bukan. Kamu berubah pikiran setelah tahu nilainya.”

Hendra mulai panik.

“Kita bisa memperbaiki ini.”

Ratna menatap laki-laki di depannya.

Anehnya, tidak ada lagi rasa marah.

Yang tersisa hanya rasa asing.

“Aku sudah memperbaikinya.”

Pintu ruang keluarga terbuka.

Adrian masuk bersama dua orang yang sebelumnya menunggu di teras.

Hendra langsung berdiri.

“Apa-apaan ini?”

Ratna mendorong satu amplop ke atas meja.

“Semua bukti sudah diserahkan kepada pihak yang diperlukan. Proses pengalihan tanah dihentikan. Rekening bersama sudah diamankan sesuai hakku. Dan ini dokumen dari pengacaraku.”

Hendra membuka amplop.

Tangannya mulai gemetar.

“Ratna…”

“Dua puluh tiga tahun aku percaya kepadamu. Aku bahkan menandatangani dokumen tanpa membaca karena kupikir orang yang paling tidak mungkin menipuku adalah suamiku sendiri.”

Mata Ratna akhirnya berkaca-kaca.

“Ternyata kepercayaanku bukan kesalahan. Yang salah adalah orang yang memilih menyalahgunakannya.”

Hendra menunduk.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari Sari.

Jangan pernah datang ke rumah kami lagi.

Hendra membaca pesan itu dua kali.

Ratna melihat wajahnya berubah.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, laki-laki yang selama empat tahun merasa memiliki dua keluarga tiba-tiba kehilangan keduanya.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum dan perceraian berjalan.

Pemeriksaan terhadap dokumen menunjukkan adanya sejumlah tanda tangan yang memang tidak dibuat Ratna. Bukti transaksi dan komunikasi memperkuat posisi Ratna dalam memperjuangkan hak atas asetnya.

Maya akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan Hendra.

Ratna sempat merasa bersalah karena perempuan itu kehilangan pekerjaan.

Namun Maya hanya tersenyum ketika mereka bertemu terakhir kali.

“Saya justru merasa baru mulai hidup normal lagi, Bu.”

Ratna kemudian membantu merekomendasikannya ke perusahaan farmasi yang bekerja sama dengan rumah sakit.

Tanah warisan itu tidak pernah dijual.

Setahun kemudian, Ratna membuat keputusan yang bahkan tidak pernah dibayangkan Hendra.

Sebagian lahan digunakan untuk membangun sebuah klinik kesehatan dan pusat layanan obat bagi warga sekitar.

Pada hari pembukaannya, Ratna berdiri di depan bangunan sederhana berwarna putih.

Adrian datang membawa kopi.

“Dua gelas,” katanya sambil tersenyum.

Ratna tertawa.

Ia menerima salah satunya.

Untuk sesaat, pikirannya kembali pada hari ketika ia membawa dua gelas kopi ke kantor Hendra.

Hari yang awalnya ingin ia gunakan untuk menyelamatkan pernikahan.

Ternyata hari itu memang menyelamatkan sesuatu.

Bukan pernikahannya.

Melainkan dirinya sendiri.

Ratna memandang orang-orang mulai memasuki klinik.

Dulu ia mengira kehilangan Hendra berarti kehilangan 23 tahun hidupnya.

Sekarang ia memahami sesuatu yang berbeda.

Dua puluh tiga tahun itu tidak hilang.

Tahun-tahun itu telah memberinya pengalaman, pekerjaan yang ia cintai, keberanian, dan pelajaran yang tidak murah.

Yang hilang hanyalah seseorang yang ternyata tidak pernah menghargai semua itu.

Ratna mengangkat gelas kopinya dan tersenyum kecil.

Kopi pertama yang dibawanya hari itu menjadi saksi sebuah pengkhianatan.

Kopi kedua, setahun kemudian, menjadi tanda bahwa hidupnya akhirnya benar-benar kembali menjadi miliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang