“Nak, sakit perut Ibu kambuh lagi.”
Suara Bu Ratna terdengar begitu lemah dari kamar sebelah hingga aku hampir mengira sedang bermimpi. Ketika melihat jam di ponsel, angka menunjukkan pukul tiga lewat tujuh menit dini hari.
Aku segera bangun.
Begitu membuka pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berbaring miring sambil memeluk perut. Wajahnya pucat, rambutnya menempel di dahi karena keringat.
“Bu, kita ke rumah sakit sekarang.”

Bu Ratna buru-buru menggeleng.
“Tidak usah, Dinda. Sebentar lagi juga reda.”
“Tapi Ibu sudah beberapa kali begini.”
Ia tidak menjawab.
Aku mendekat untuk merapikan selimutnya. Saat itulah tanganku berhenti.
Ada noda cairan berwarna cokelat kehitaman di bagian bawah selimut.
Baunya tajam dan tidak biasa.
“Bu, ini apa?”
Wajah Bu Ratna berubah.
“Bukan apa-apa. Buang saja selimutnya.”
Aku ingin bertanya lagi, tetapi ia membalikkan tubuh dan memejamkan mata.
Keesokan paginya aku mencuci seluruh seprai.
Tiga malam kemudian, noda yang sama muncul lagi.
Kali ini lebih banyak.
Sejak malam itu, aku mulai memperhatikan Bu Ratna dengan serius.
Dalam lima minggu berat badannya turun hampir sembilan kilogram. Pipinya cekung, kulitnya pucat, dan celana yang dulu pas kini harus dikencangkan dengan ikat pinggang.
Setiap kali aku menyuruhnya makan, jawabannya sama.
“Mual.”
Aku sudah berkali-kali membicarakannya dengan suamiku, Ardi.
“Mas, ini bukan sakit perut biasa.”
Ardi justru terlihat kesal.
“Ibu memang punya masalah pencernaan sejak lama.”
“Masalah pencernaan tidak membuat berat badan turun secepat ini.”
“Kamu terlalu banyak baca internet, Din.”
Aku terdiam.
Yang membuatku semakin heran, Ardi selalu menolak ketika aku menawarkan membawa Bu Ratna ke rumah sakit.
Bahkan ketika aku sudah membuat janji dengan dokter spesialis penyakit dalam, Ardi membatalkannya tanpa memberitahuku.
Alasannya sederhana.
“Ibu tidak mau.”
Sampai suatu Minggu pagi, Ardi mengajak Bu Ratna menghadiri acara keluarga di Bogor.
Aku tidak ikut karena harus menyelesaikan pekerjaan.
Sekitar pukul sebelas, aku mulai membersihkan rumah.
Ketika masuk ke kamar Bu Ratna, bau yang selama berminggu-minggu menggangguku kembali tercium.
Aku mengganti seprai.
Namun baunya tetap ada.
Aku memeriksa lemari, keranjang pakaian, bahkan kamar mandi.
Tidak ada apa-apa.
Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu.
Baunya paling kuat di bawah tempat tidur.
Aku berlutut.
Lantainya bersih.
Namun ketika mendorong kasur sedikit ke samping, aku menemukan sebuah papan tipis yang dipasang di bagian bawah rangka tempat tidur menggunakan beberapa paku kecil.
Aneh.
Tempat tidur itu dibeli dua tahun lalu. Aku tahu betul modelnya tidak memiliki penutup seperti itu.
Aku mengambil palu dari gudang.
Satu per satu paku kucabut.
Begitu papan terangkat, terlihat sebuah kantong plastik hitam.
Jantungku berdegup semakin cepat.
Aku menariknya keluar.
Bungkusan itu cukup berat.
Ketika plastik kubuka, seluruh tubuhku terasa dingin.
Di dalamnya ada puluhan kantong medis bekas.
Kasa.
Sarung tangan.
Beberapa botol cairan antiseptik.
Dan sebuah wadah plastik transparan berisi selang serta kantong kecil yang menghitam oleh cairan kering.
Aku mengenali salah satu benda itu karena ayahku pernah menjalani operasi besar.
Itu perlengkapan perawatan luka.
Tetapi yang membuatku benar-benar gemetar adalah tumpukan kuitansi dan kertas pemeriksaan yang diselipkan di bagian bawah.
Nama pasiennya tertulis jelas.
Ratna Kusumawati.
Aku baru menarik satu lembar ketika terdengar suara di belakangku.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku menoleh.
Ardi berdiri di ambang pintu.
Wajahnya pucat.
“Mas?”
Ia berjalan cepat ke arahku.
“Taruh kembali.”
Aku berdiri sambil memegang hasil pemeriksaan.
“Ini apa?”
“Dinda, dengarkan aku. Taruh semuanya kembali.”
“Kenapa ada perlengkapan medis bekas di bawah tempat tidur Ibu?”
Ardi mencoba mengambil kertas itu, tetapi aku mundur.
Mataku menangkap sebuah kalimat pada bagian tengah dokumen.
Aku membacanya dua kali.
Lalu tiga kali.
Biopsi.
Massa kolon.
Keganasan.
Tanganku mulai bergetar.
“Mas…”
Ardi menutup mata.
“Ibu kanker?”
Ia tidak menjawab.
Aku merasa seperti kehilangan keseimbangan.
“Sejak kapan?”
“Delapan bulan.”
Delapan bulan.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kenapa aku tidak tahu?”
“Karena Ibu tidak mau kamu tahu.”
“Lalu cairan di selimut?”
Ardi duduk perlahan.
Ia terlihat seperti seseorang yang akhirnya kehabisan tenaga mempertahankan kebohongan.
“Ibu sudah menjalani operasi enam bulan lalu.”
Aku kembali melihat kantong-kantong medis itu.
Menurut Ardi, dokter menemukan kanker usus besar pada Bu Ratna. Tumornya sudah menyebabkan penyumbatan sehingga dokter melakukan operasi dan membuat stoma sementara di perutnya.
Bu Ratna seharusnya menjalani kontrol dan terapi lanjutan.
Namun setelah beberapa bulan, ia berhenti.
“Kenapa?”
Ardi tidak langsung menjawab.
“Biayanya besar.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Kita punya BPJS. Aku juga punya tabungan.”
“Bukan cuma itu.”
“Lalu apa?”
Ardi menunduk.
“Ibu takut.”
Aku semakin bingung.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Bu Ratna ternyata ikut pulang bersama adik Ardi karena merasa tidak enak badan.
Begitu masuk kamar dan melihat papan tempat tidurnya terbuka, wajahnya seketika pucat.
“Ardi!”
Aku berdiri di depannya.
“Bu, kenapa Ibu menyembunyikan ini?”
Bu Ratna menatap anaknya.
Lalu kepadaku.
Beberapa detik kemudian, perempuan yang selama ini kukenal keras dan jarang menangis itu justru terduduk di tepi tempat tidur.
Air matanya jatuh.
“Karena Ibu malu.”
Aku membeku.
“Malu kenapa?”
Tangannya bergerak ke balik blus longgar yang dikenakannya.
Dengan tangan gemetar, ia memperlihatkan kantong stoma yang menempel di sisi perut.
Di sekelilingnya, kulit tampak merah dan mengalami iritasi berat.
Aku langsung memahami sumber cairan gelap yang selama ini muncul.
Kantong itu beberapa kali bocor saat malam.
“Ibu pikir kalau kamu tahu, kamu akan jijik.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Bu…”
“Ibu pernah dengar kamu bilang kepada temanmu kalau kamu tidak tahan melihat luka.”
Dadaku terasa sesak.
Aku memang pernah mengatakan itu.
Tapi maksudku adalah aku takut darah.
Bukan berarti aku akan meninggalkan seseorang yang sakit.
“Kenapa Ibu menyimpan sampah medisnya?”
Bu Ratna menunduk.
“Ibu tidak mau kamu melihat.”
Aku berlutut di depannya.
“Bu, saya ini menantu Ibu. Bukan orang asing.”
Tangannya menutupi wajah.
Namun rahasia sebenarnya ternyata belum selesai.
Ketika aku membaca seluruh dokumen malam itu, aku menemukan tanggal kontrol terakhir Bu Ratna.
Hampir empat bulan lalu.
Ada catatan dokter yang merekomendasikan pemeriksaan lanjutan karena ditemukan indikasi penyebaran penyakit.
Namun Bu Ratna tidak pernah datang.
Aku langsung menelepon rumah sakit.
Besok paginya kami membawanya ke IGD karena sakit perutnya semakin parah.
Setelah pemeriksaan CT scan dan serangkaian tes, dokter meminta kami masuk ke ruang konsultasi.
“Penyakit Ibu Ratna sudah berkembang,” katanya hati-hati.
Aku menggenggam tangan Bu Ratna.
Dokter menjelaskan ada komplikasi serius di sekitar area operasi dan infeksi yang harus segera ditangani.
Jika terlambat beberapa hari lagi, kondisinya bisa menjadi jauh lebih berbahaya.
Bu Ratna menangis.
“Apa saya akan meninggal, Dok?”
Ruangan menjadi sunyi.
Dokter tidak memberi janji palsu.
“Kita fokus pada apa yang masih bisa dilakukan.”
Bu Ratna akhirnya dirawat.
Hari-hari berikutnya mengubah hubungan kami.
Aku belajar membersihkan stoma.
Belajar mengganti kantong.
Belajar mengenali tanda infeksi.
Hal yang dulu kukira akan membuatku takut ternyata menjadi rutinitas yang kulakukan tanpa berpikir dua kali.
Suatu malam Bu Ratna menatapku ketika aku mengganti perban.
“Kamu tidak jijik?”
Aku tersenyum.
“Kalau saya jijik, dari tadi saya sudah lari.”
Ia tertawa kecil.
Itu pertama kalinya aku melihatnya tertawa setelah berminggu-minggu.
Namun masalah lain mulai muncul.
Suatu sore, ketika mengurus dokumen administrasi, petugas rumah sakit mengatakan ada beberapa pembayaran lama yang ternyata sudah pernah ditanggung asuransi tambahan milik Bu Ratna.
Aku terdiam.
Kalau begitu, alasan biaya yang dikatakan Ardi tidak sepenuhnya benar.
Malamnya aku bertanya.
“Mas, kenapa kamu bilang Ibu berhenti berobat karena biaya?”
Ardi diam cukup lama.
Kemudian ia mengaku.
Ternyata empat bulan sebelumnya, Bu Ratna pernah meminta Ardi membawanya kontrol.
Tetapi saat itu Ardi sedang menghadapi masalah besar di kantornya.
Ia menunda.
Sekali.
Lalu dua kali.
Setelah itu Bu Ratna mulai mengatakan tidak ingin melanjutkan pengobatan.
Ardi menerima alasan itu karena jauh lebih mudah daripada menghadapi kenyataan bahwa ibunya membutuhkan perhatian terus-menerus.
“Aku pikir kondisinya belum separah ini.”
Aku menatapnya.
“Mas, kamu tahu Ibu kanker.”
“Aku takut, Din.”
“Takut bukan alasan untuk pura-pura tidak melihat.”
Ardi menangis malam itu.
Bukan tangisan keras.
Ia hanya duduk di lorong rumah sakit dengan kepala tertunduk.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa tidak semua pengabaian lahir dari kebencian.
Sebagian lahir dari ketakutan.
Tetapi akibatnya tetap bisa menghancurkan seseorang.
Bu Ratna menjalani prosedur untuk menangani infeksi dan komplikasi pada stoma. Kondisinya perlahan stabil.
Dokter kemudian menyusun rencana terapi berikutnya.
Kami tahu perjalanan masih panjang.
Tidak ada yang berani mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Tiga bulan kemudian, Bu Ratna sudah bisa duduk di teras setiap pagi.
Tubuhnya masih kurus, tetapi wajahnya mulai berwarna.
Ia bahkan mulai memarahi Ardi lagi karena menaruh sepatu sembarangan.
Bagiku, itu pertanda bagus.
Suatu pagi aku sedang mengganti seprai di kamarnya ketika Bu Ratna memanggil.
“Dinda.”
“Ya, Bu?”
Ia menunjuk bagian bawah tempat tidur.
“Papan itu buang saja.”
Aku tersenyum.
“Sudah saya buang dari dulu.”
Bu Ratna tertawa.
Kemudian ekspresinya berubah serius.
“Ibu mau bilang sesuatu.”
Aku duduk di sampingnya.
“Dulu Ibu tidak suka kamu.”
Aku mengangkat alis.
“Yang itu saya sudah tahu, Bu.”
Ia mencubit lenganku pelan.
“Ibu pikir kamu mengambil Ardi dari Ibu.”
Aku diam.
“Ternyata ketika Ibu paling takut, justru kamu yang tidak pergi.”
Matanya berkaca-kaca.
Aku menggenggam tangannya.
“Sekarang tidak ada lagi yang disembunyikan, ya.”
Ia mengangguk.
Namun dua minggu kemudian, aku menerima telepon dari rumah sakit.
Hasil pemeriksaan jaringan terbaru sudah keluar.
Aku pergi bersama Ardi.
Sepanjang perjalanan kami hampir tidak bicara.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk kabar terburuk.
Dokter membuka berkas.
“Respons Ibu Ratna terhadap penanganan awal cukup baik. Tetapi ada sesuatu yang perlu kami klarifikasi.”
Jantungku berdegup kencang.
Dokter mengeluarkan hasil patologi lama yang kutemukan di bawah tempat tidur.
“Dokumen ini bukan hasil pemeriksaan terakhir Ibu Ratna.”
Aku mengernyit.
“Apa maksudnya?”
“Tanggalnya memang delapan bulan lalu. Tetapi setelah operasi, ada pemeriksaan jaringan lanjutan yang hasilnya berbeda dari dugaan awal mengenai tingkat penyebaran penyakit.”
Aku menatap Ardi.
Ia juga terlihat bingung.
Dokter melanjutkan.
“Kanker memang ada. Tetapi komplikasi berat yang membuat kondisi Ibu Ratna memburuk beberapa bulan terakhir terutama berasal dari infeksi, malnutrisi, dan masalah pada stoma yang tidak dirawat dengan benar. Kondisi itu membuat semuanya tampak berkembang jauh lebih cepat.”
Aku hampir tidak berani bertanya.
“Jadi?”
“Kita masih harus melanjutkan terapi dan pemantauan. Tetapi peluang pengendaliannya lebih baik daripada yang keluarga Anda bayangkan.”
Aku menutup mulut.
Ardi menangis.
Ketika kami memberi tahu Bu Ratna, ia tidak langsung bereaksi.
Ia hanya duduk memandangi jendela.
Lalu berkata pelan, “Jadi selama ini Ibu bersembunyi karena mengira waktu Ibu sudah hampir habis?”
Aku mengangguk sambil menahan air mata.
Bu Ratna tertawa kecil.
“Astaga. Bodoh sekali Ibu.”
Aku memeluknya.
“Bukan bodoh. Ibu cuma terlalu takut sendirian.”
Sejak hari itu, tidak pernah ada lagi kantong plastik hitam di bawah tempat tidur.
Tidak ada lagi selimut yang diam-diam dibuang.
Tidak ada lagi sakit yang disembunyikan pada pukul tiga pagi.
Beberapa bulan kemudian, aku memasang sebuah kotak kecil di kamar Bu Ratna untuk menyimpan perlengkapan perawatannya dengan rapi.
Di atasnya ia sendiri menempelkan secarik kertas.
Tulisan tangannya miring dan sedikit bergetar.
Kalau sakit, bilang.
Suatu malam aku melihat tulisan itu dan tersenyum.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Rahasia paling berbahaya di rumah kami ternyata bukan kanker, bukan luka, bahkan bukan kantong medis yang disembunyikan di bawah tempat tidur.
Melainkan rasa takut menjadi beban bagi orang yang kita cintai.
Karena kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan kita untuk menyembuhkan penyakitnya.
Ia hanya perlu diyakinkan bahwa ketika tubuhnya melemah, ketika hidupnya berubah, dan ketika dirinya merasa paling tidak layak untuk dilihat, masih ada seseorang yang memilih duduk di sampingnya dan berkata,
“Aku tetap di sini.”
