AKU DIKUNCI DI TOILET SEKOLAH OLEH TEMAN-TEMAN SEKELASKU YANG SUKA MERUNDUNGKU, JADI AKU MEMBALAS MEREKA DENGAN BERPURA-PURA PINGSAN

Aku masih ingat jelas suara klik dari pintu toilet itu.

Kecil, singkat, tetapi cukup membuat dadaku terasa kosong.

Awalnya aku mengira Dimas hanya bercanda. Dia berdiri di depan pintu bersama Reno, Bagas, dan Fikri, empat anak yang selama hampir satu semester menjadikan hidupku di sekolah seperti acara komedi yang tidak pernah kuminta.

“Bro, tunggu di situ dulu, ya,” teriak Dimas dari luar.

Tawa mereka langsung meledak.

“Jangan khawatir! Nanti pas reuni kita bukain!”

Aku menarik gagang pintu.

Tidak bergerak.

“Woi! Buka!”

Tidak ada jawaban selain tawa.

Aku menggedor lebih keras.

“Serius, anjir! Buka pintunya!”

“Tenang, Bro! Nikmati fasilitas hotel bintang lima!”

Langkah kaki mereka menjauh.

Aku berdiri sendirian di dalam toilet sekolah yang panas, pengap, dan bau cairan pembersih.

Namaku Arga. Saat itu aku kelas sebelas di sebuah SMA di Bandung.

Aku bukan tipe murid yang keberadaannya mudah diperhatikan. Nilai biasa saja, penampilan biasa saja, dan kalau guru meminta sukarelawan maju ke depan kelas, kemampuan utamaku adalah menundukkan kepala sampai terlihat seperti sedang mencari uang receh di lantai.

Sejak kecil aku memang pendiam.

Ayah meninggal ketika aku kelas dua SMP. Sejak itu Ibu mengelola warung kecil di depan rumah untuk membiayai kami berdua.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Ibu selalu menyiapkan bekal.

Kadang nasi goreng.

Kadang telur balado.

Kalau dagangan sedang lumayan, ada sosis.

Ironisnya, sosis itu pula yang sering membuatku menjadi sasaran.

“Wih, Arga bawa sosis!”

Belum sempat aku makan, Reno sudah mengambil satu.

Bagas mengambil satu lagi.

Dimas biasanya tertawa sambil berkata, “Berbagi itu pahala, Ga.”

Aku tidak pernah melawan.

Bukan karena aku tidak marah.

Aku hanya takut.

Aku takut kalau melawan, semuanya akan menjadi lebih buruk.

Ibu pernah melihat kancing seragamku lepas dan bertanya apa yang terjadi.

Aku berbohong.

“Kesangkut pintu, Bu.”

Ibu menatapku lama.

“Kalau ada yang ganggu kamu di sekolah, bilang sama Ibu.”

“Nggak ada.”

Aku tersenyum.

Dia percaya.

Atau mungkin berpura-pura percaya.

Hari ketika mereka mengunciku di toilet itu, semuanya terasa berbeda.

Setelah beberapa menit menggedor pintu, aku berhenti.

Tanganku sakit.

Keringat mengalir dari pelipis.

Jendela toilet begitu kecil sehingga hanya sedikit udara yang masuk.

Aku duduk di lantai.

Marah.

Malu.

Lalu tiba-tiba ingin menangis.

Aku membayangkan kembali semua kejadian selama beberapa bulan terakhir.

Tas disembunyikan.

Bekal diambil.

Foto wajahku ketika tidur di kelas dijadikan stiker grup.

Pernah juga sepatuku dilempar ke lapangan saat hujan.

Aku selalu diam.

Mungkin itulah masalahnya.

Mereka tahu aku tidak akan melakukan apa-apa.

Kemudian aku mendengar suara mereka kembali.

“Masih hidup, Ga?” teriak Dimas.

Tawa lagi.

Entah dari mana ide itu muncul.

Mungkin karena marah.

Mungkin karena putus asa.

Atau mungkin otakku memang mulai matang seperti sosis di microwave karena toilet itu terlalu panas.

Aku menatap lantai.

Kemudian merebahkan tubuh.

Aku membasahi bibir sedikit dengan ludah.

Menarik napas.

Lalu mengeluarkan suara pelan.

“Tolong…”

Tawa di luar berhenti sebentar.

Aku mengerang.

“Pusing…”

Kemudian diam.

“Ga?”

Aku tidak menjawab.

“Arga?”

Tetap diam.

Aku mendengar Reno tertawa gugup.

“Udah, Ga. Nggak lucu.”

Aku menutup mata rapat.

Beberapa detik berlalu.

Lalu aku berbisik sangat pelan.

“Ibu…”

Setelah itu aku tidak bergerak.

Keheningan berlangsung sekitar tiga detik.

Kemudian dunia di luar pintu meledak.

“WOI!”

“DIMAS, BUKA!”

“LAH, KUNCINYA MANA?”

“LU YANG PEGANG!”

“BUKAN GUE!”

Aku hampir tertawa.

Ternyata kunci gembok kecil yang mereka gunakan malah tidak ditemukan.

“Arga!”

Seseorang menggedor pintu.

“Bro! Jawab, Bro!”

Aku diam.

Lalu terdengar suara Fikri yang hampir menangis.

“Gue nggak mau masuk penjara, anjir!”

“Siapa juga yang ngomongin penjara?!”

“Kalau dia mati gimana?!”

“JANGAN NGOMONG MATI!”

Langkah kaki berlarian.

Tidak sampai dua menit kemudian, lorong toilet mendadak ramai.

Suara wali kelasku, Bu Ratna, terdengar paling keras.

“Apa yang kalian lakukan?!”

“Bu, kami cuma bercanda.”

“Bercanda bagaimana?”

“Kami kunci sebentar.”

“Sebentar itu berapa lama?”

Tidak ada yang menjawab.

Lalu satpam sekolah datang membawa pemotong gembok.

Aku segera kembali fokus pada peranku.

Klik.

Pintu terbuka.

Cahaya dari lorong masuk.

“Ya Allah!”

Bu Ratna langsung berlutut di sampingku.

“Arga?”

Aku tetap diam.

“Pak, panggil petugas UKS!”

Seseorang menepuk pipiku perlahan.

“Arga, dengar Ibu?”

Aku membuka mata sedikit.

Semua wajah terlihat panik.

Dimas pucat.

Reno seperti baru kehilangan seluruh tabungan keluarganya.

Bagas berdiri kaku.

Fikri benar-benar menangis.

Aku menarik napas lemah.

“Air…”

Bu Ratna langsung menyuruh seseorang mengambil air.

Dimas malah berlari sendiri.

Dia kembali dengan sebotol air mineral dan sebungkus biskuit Roma Kelapa.

Entah kenapa, di tengah situasi itu aku sempat berpikir bahwa mungkin inilah kompensasi resmi atas penderitaanku.

Aku dibawa ke UKS.

Petugas UKS memeriksa tekanan darah dan menanyakan kondisiku.

“Kamu sesak?”

“Sedikit.”

“Pusing?”

Aku menatap langit-langit.

“Saya stres, Bu.”

Wajah Bu Ratna berubah.

Dia menoleh kepada empat anak yang berdiri di depan pintu UKS.

“Kalian ke ruang BK sekarang.”

“Bu…”

“Sekarang.”

Wajah mereka langsung seperti terdakwa yang baru mendengar tuntutan jaksa.

Aku mulai merasa bersalah.

Rencanaku sebenarnya hanya membuat mereka takut.

Aku tidak menyangka urusannya akan sampai ke BK.

Apalagi ketika kepala sekolah ikut diberi tahu.

Sore itu, Ibu dipanggil.

Begitu melihatnya datang dengan sandal warung dan celemek yang bahkan belum sempat dilepas, seluruh rasa puas dalam diriku mendadak hilang.

“Arga!”

Ibu langsung memelukku.

“Kamu kenapa?”

“Aku nggak apa-apa, Bu.”

“Kata gurumu kamu pingsan.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan nyata di wajah Ibu.

Tangannya gemetar ketika menyentuh dahiku.

Saat itulah leluconku tidak lagi terasa lucu.

Di ruang BK, semuanya akhirnya terbongkar.

Bukan hanya soal toilet.

Bu Ratna bertanya apakah mereka pernah menggangguku sebelumnya.

Aku awalnya ingin menjawab tidak.

Namun Ibu menggenggam tanganku.

“Katakan yang sebenarnya.”

Aku menunduk.

“Sering.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang bekal.

Tas.

Sepatu.

Ejekan.

Stiker grup.

Semakin banyak aku bicara, semakin aku sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk menganggap semua itu sebagai sesuatu yang harus kutahan sendirian.

Orang tua Dimas dan yang lain akhirnya dipanggil.

Sekolah memberi mereka sanksi dan mewajibkan konseling.

Yang mengejutkanku, keesokan harinya Dimas datang menemuiku sendirian.

Dia tidak tertawa.

Tidak membawa teman-temannya.

Dia hanya berdiri di depan mejaku.

“Ga.”

Aku menatapnya.

“Gue minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Dia mengusap tengkuk.

“Kemarin… gue beneran kira lu kenapa-kenapa.”

“Makanya jangan ngunci orang di toilet.”

“Iya.”

Dia terdiam.

Lalu meletakkan sesuatu di mejaku.

Sebungkus Roma Kelapa.

Aku menatapnya.

“Kenapa biskuit lagi?”

“Gue panik. Nggak tahu harus beli apa.”

Aku hampir tertawa.

Sejak hari itu, semuanya perlahan berubah.

Mereka tidak lagi mengambil bekalku.

Tidak ada lagi ejekan soal tubuhku.

Reno bahkan pernah membukakan pintu kelas untukku.

“Silakan, Tuan Arga.”

“Lu kenapa?”

“Takut lu pingsan lagi.”

Aku menatap tajam.

Dia langsung mengangkat tangan.

“Bercanda sehat, Bro. Bercanda sehat.”

Suatu sore, aku mendengar mereka mengobrol di belakang kelas.

“Gue masih kebayang dia ngomong ‘Ibu’,” kata Fikri.

Dimas menghela napas.

“Gue malam itu nggak bisa tidur.”

“Gue juga.”

Aku tersenyum kecil.

Rencanaku berhasil.

Namun ada satu masalah.

Aku belum pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa sebenarnya aku tidak pingsan.

Sampai sekitar dua minggu kemudian.

Malam itu aku sedang membantu Ibu menutup warung.

Tiba-tiba Ibu berkata, “Kamu sebenarnya pura-pura pingsan, kan?”

Tanganku berhenti saat mengangkat kursi.

Aku menoleh perlahan.

“Hah?”

Ibu melipat tangan di dada.

Aku mencoba tertawa.

“Maksud Ibu?”

“Waktu kecil kamu pernah pura-pura tidur supaya nggak disuruh mengaji.”

Aku langsung diam.

“Kalau kamu benar-benar tidur, mulutmu terbuka. Kalau pura-pura, bibirmu rapat sekali.”

Jantungku serasa jatuh.

“Ibu tahu?”

“Dari pertama lihat kamu di UKS.”

“Terus kenapa Ibu nggak bilang?”

Ibu menarik kursi dan duduk.

Karena ekspresinya serius, aku ikut duduk.

“Ibu marah kamu bohong,” katanya. “Tapi Ibu lebih sedih karena kamu merasa harus melakukan sejauh itu supaya mereka berhenti.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Ibu pernah bilang kamu harus menjauhi orang yang merundungmu,” lanjutnya. “Ternyata nasihat Ibu kurang lengkap.”

Aku menatapnya.

“Kalau orang menyakitimu terus-menerus, jangan cuma menjauh. Bicara. Cari bantuan. Membela diri bukan berarti harus berkelahi.”

Aku menunduk.

“Maaf, Bu.”

Ibu menghela napas.

“Lain kali jangan pura-pura pingsan.”

Aku mengangguk.

“Apalagi di toilet.”

Aku tertawa.

Beberapa bulan kemudian, keadaan di kelas jauh lebih baik.

Anehnya, aku malah mulai dekat dengan Fikri.

Suatu hari dia mengaku bahwa saat kejadian toilet itu, sebenarnya dia yang pertama ingin membuka pintu setelah melihatku panik.

Namun Dimas melarang karena menganggap semuanya lucu.

“Kenapa lu nggak bilang dari dulu?” tanyaku.

Fikri mengangkat bahu.

“Takut dibilang pengecut.”

Jawabannya membuatku berpikir.

Ternyata perundungan bukan cuma soal satu orang kuat melawan satu orang lemah.

Kadang ada orang yang tahu sesuatu itu salah, tetapi terlalu takut menjadi orang pertama yang berkata cukup.

Setahun kemudian, sebelum kelulusan, kelas kami mengadakan acara kecil.

Bu Ratna meminta setiap orang menulis satu kenangan paling berkesan selama SMA.

Ketika giliranku membacakan tulisan, Dimas langsung berteriak dari belakang.

“Jangan toilet, Ga!”

Satu kelas tertawa.

Aku ikut tertawa.

Kemudian aku berkata, “Tenang. Gue udah maafin.”

Dimas mengangguk.

“Tapi…”

Semua orang diam.

Aku mengeluarkan sebungkus Roma Kelapa dari tas.

Kelas langsung pecah oleh tawa.

Dimas menutup wajah.

“Anjir, sampai lulus masih dibahas!”

Aku melempar biskuit itu kepadanya.

“Trauma punya harga, Bro.”

Bertahun-tahun kemudian, setelah kami semua menjalani kehidupan masing-masing, aku bertemu Dimas lagi di sebuah kedai kopi di Bandung.

Dia sudah menikah dan bekerja di perusahaan logistik.

Kami mengobrol cukup lama.

Sebelum pulang, dia tiba-tiba berkata, “Ga, ada satu hal yang belum pernah gue bilang.”

“Apa?”

“Hari itu sebenarnya yang paling bikin gue takut bukan karena mikir bakal masuk penjara.”

Aku mengernyit.

“Terus?”

Dia tersenyum canggung.

“Waktu lu bilang ‘Ibu’, gue langsung ingat nyokap gue. Gue mikir kalau lu kenapa-kenapa gara-gara gue, gimana gue harus lihat muka ibu lu?”

Aku terdiam.

Dimas mengaduk kopinya.

“Sejak hari itu gue sadar, orang yang kita kerjain buat lucu-lucuan itu bukan karakter sampingan. Mereka punya ibu, punya keluarga, punya hidup sendiri.”

Aku tidak pernah menyangka satu akting bodoh di toilet sekolah bisa tinggal begitu lama dalam ingatan seseorang.

Kami berpisah sore itu tanpa drama.

Sebelum pergi, Dimas menyodorkan sesuatu dari tasnya.

Sebungkus Roma Kelapa.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu kami berdua tertawa.

Mungkin waktu SMA aku mengira kemenangan terbesarku adalah berhasil membuat empat anak yang merundungku ketakutan setengah mati.

Ternyata bukan itu.

Kemenangan sebenarnya adalah ketika aku akhirnya belajar bahwa diam tidak selalu berarti kuat, meminta bantuan tidak berarti lemah, dan membela diri tidak harus dilakukan dengan kepalan tangan.

Meski, harus kuakui, dalam keadaan darurat tertentu, sedikit kemampuan akting dan satu bisikan lemah, “Ibu…” memang pernah bekerja dengan sangat efektif.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang