BAYI SEORANG MILIARDER TIDAK BERHENTI MENANGIS. KETIKA PENGASUH MEMBALIK PAKAIAN MAHAL YANG DIKENAKANNYA, DIA MELIHAT SESUATU YANG MENGKHAWATIRKAN DAN SEGERA MENELEPON POLISI…

Tangisan Arka terdengar berbeda sore itu.

Bukan tangisan keras seorang bayi yang lapar atau minta digendong. Suaranya justru semakin lirih, serak, dan terputus-putus, seolah bayi berusia empat bulan itu sudah kehabisan tenaga untuk meminta pertolongan.

Sari Wulandari berdiri di samping ranjang bayi dengan jantung berdebar.

Hampir lima jam Arka menangis.

Susu sudah diberikan. Popok sudah diganti. Suhu tubuhnya normal. Perutnya tidak kembung. Sari bahkan sudah menggendongnya sambil berjalan mengelilingi kamar berkali-kali.

Tetapi setiap kali tubuh Arka bergesekan dengan pakaian putih mahal yang dikenakannya, tangisannya kembali pecah.

“Ada yang sakit, ya, Nak?”

Sari mengangkat tubuh mungil itu perlahan.

Arka langsung meringis.

Saat itulah Sari menyadarinya.

Dia segera membaringkan Arka di atas alas ganti, lalu membuka satu demi satu kancing pakaian desainer yang pagi tadi begitu dibanggakan Clarissa Wijaya.

Begitu pakaian itu terlepas, Sari terdiam.

Di punggung dan sisi tubuh Arka terdapat beberapa bekas iritasi kemerahan. Bukan luka besar, tetapi jelas bayi itu kesakitan setiap kali kain menyentuh kulitnya.

Sari lalu membalik pakaian tersebut.

Napasnya tercekat.

Di balik lapisan kain yang seharusnya lembut, ada sesuatu yang terasa keras.

Dia merabanya dengan ujung jari.

Bukan jahitan.

Sari mengambil gunting kecil dari kotak perlengkapan bayi, lalu dengan hati-hati membuka sedikit bagian lapisan dalam yang sudah tampak tidak rapi.

Sebuah benda kecil jatuh ke meja.

Sari menatapnya.

Benda itu tidak lebih besar dari kuku ibu jari. Berwarna hitam, tipis, dengan bagian logam kecil di salah satu sisinya.

Dia pernah melihat benda semacam itu sebelumnya.

Alat perekam suara berukuran mini.

Namun bukan itu yang membuat wajah Sari pucat.

Di samping benda tersebut, terselip potongan plastik keras dengan ujung tajam. Rupanya benda itulah yang selama berjam-jam menekan dan menggesek kulit Arka.

Sari menatap pintu kamar.

Pikirannya berpacu.

Siapa yang memasukkan alat perekam ke pakaian seorang bayi?

Dan untuk apa?

Tangannya gemetar ketika meraih ponsel.

Dia tidak menelepon Clarissa.

Tidak juga Hendra.

Dia menelepon polisi.

“Saya ingin melaporkan sesuatu,” katanya pelan ketika sambungan terhubung. “Saya menemukan alat perekam tersembunyi di pakaian bayi yang saya rawat.”

Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, dua petugas datang ke rumah keluarga Wijaya.

Sari menyerahkan pakaian itu tanpa banyak menyentuhnya lagi. Polisi meminta agar tidak seorang pun diberi tahu terlebih dahulu sampai mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi rencana itu berantakan ketika suara sepatu hak tinggi terdengar dari lorong.

Clarissa muncul di ambang pintu.

“Ada apa ini?”

Wajahnya langsung berubah ketika melihat dua polisi berdiri di kamar anaknya.

“Sari?”

Sari bangkit.

“Bu Clarissa, tadi saya menemukan sesuatu di pakaian Arka.”

Salah satu petugas menunjukkan kantong bukti transparan.

Clarissa menatap benda hitam kecil di dalamnya.

Anehnya, ekspresi pertama yang muncul di wajahnya bukan kebingungan.

Melainkan ketakutan.

Hanya sesaat.

Tetapi Sari melihatnya.

“Kenapa ada polisi hanya gara-gara benda seperti itu?” tanya Clarissa cepat.

Petugas bernama Inspektur Raka menatapnya.

“Ibu tahu benda apa ini?”

Clarissa terdiam.

“Saya hanya menebak.”

“Padahal kami belum menjelaskan.”

Wajah Clarissa memucat.

Sebelum dia sempat menjawab, suara mobil terdengar dari halaman depan.

Beberapa menit kemudian, Hendra Wijaya memasuki kamar dengan langkah cepat. Pria berusia empat puluh dua tahun itu masih mengenakan setelan kantornya.

“Apa yang terjadi dengan anak saya?”

Begitu melihat bekas iritasi pada tubuh Arka, wajahnya berubah.

“Siapa yang melakukan ini?”

Clarissa langsung menunjuk Sari.

“Dia yang bersama Arka seharian.”

Sari menatapnya tidak percaya.

“Bu?”

“Siapa lagi?” suara Clarissa meninggi. “Kamu baru bekerja di sini tiga minggu. Sebelum kamu datang, Arka tidak pernah mengalami hal seperti ini.”

Hendra menoleh kepada Sari.

Tatapannya tajam.

Untuk sesaat, Sari merasa seluruh ruangan runtuh di sekelilingnya.

Namun Inspektur Raka mengangkat tangan.

“Jangan menuduh siapa pun dulu. Kami akan memeriksa rekaman kamera rumah dan benda yang ditemukan.”

Clarissa terlihat semakin gelisah.

Malam itu, polisi meminta akses ke CCTV.

Rumah keluarga Wijaya memiliki dua puluh tiga kamera keamanan.

Anehnya, kamera di lorong menuju kamar Arka tidak merekam apa pun antara pukul enam hingga tujuh pagi.

“Gangguan sistem,” kata Clarissa.

Teknisi keamanan yang dihubungi Hendra memberikan jawaban berbeda.

“Kameranya dimatikan manual, Pak.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Siapa yang punya akses?” tanya Hendra.

Teknisi menelan ludah.

“Bapak, Ibu Clarissa, dan kepala keamanan.”

Clarissa langsung berdiri.

“Ini keterlaluan. Kalian sedang menginterogasi saya di rumah saya sendiri?”

Hendra tidak menjawab.

Dia hanya menatap istrinya.

Untuk pertama kalinya, Sari melihat keraguan di mata pria itu.

Keesokan paginya, polisi memperoleh sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Alat perekam itu masih memiliki data.

Sari, Hendra, dan Clarissa diminta mendengarkan sebagian rekamannya.

Awalnya hanya terdengar suara kain, tangisan Arka, dan percakapan sehari-hari.

Kemudian terdengar suara Clarissa.

“Kalau dia terus menyelidiki, semuanya bisa habis.”

Lalu suara laki-laki menjawab.

“Tenang. Selama Hendra percaya semua laporan keuangan yang kamu berikan, kita aman.”

Hendra membeku.

Sari menoleh kepadanya.

Suara laki-laki itu bukan suara Hendra.

Rekaman berlanjut.

“Kamu yakin Sari tidak curiga?”

Clarissa tertawa kecil.

“Dia cuma pengasuh.”

Wajah Sari langsung berubah.

Percakapan berikutnya membuat semuanya menjadi jelas.

Alat itu ternyata tidak dipasang untuk menyakiti Arka.

Clarissa memasangnya untuk merekam percakapan Hendra dengan orang-orang di rumah, terutama saat suaminya bekerja dari ruang pribadi yang terletak bersebelahan dengan kamar bayi.

Selama beberapa bulan terakhir, Hendra mulai mencurigai adanya transaksi aneh dari salah satu perusahaan keluarganya.

Clarissa mengetahui hal itu.

Dia dan seseorang yang disebut dalam rekaman sebagai Dimas telah menggunakan perusahaan milik Hendra untuk mengalirkan uang ke sejumlah rekening lain melalui kontrak fiktif.

Arka dijadikan tempat persembunyian yang sempurna.

Tidak ada seorang pun yang akan mencurigai pakaian bayi.

Clarissa memasukkan alat perekam ke dalam lapisan pakaian Arka pada pagi hari, berencana mengambilnya kembali malam nanti.

Namun pemasangannya terburu-buru. Penutup plastik di dalam pakaian bergeser dan menekan kulit bayi selama berjam-jam.

Hendra berdiri tanpa bergerak.

“Dimas siapa?”

Clarissa tidak menjawab.

Inspektur Raka membuka sebuah foto dari ponselnya.

“Dimas Prasetyo. Direktur keuangan perusahaan Anda.”

Hendra seperti kehilangan keseimbangan.

Dimas bukan sekadar pegawai.

Dia adalah sahabatnya sejak kuliah.

Orang yang selama lima belas tahun dipercaya mengelola sebagian besar keuangan perusahaan.

Hendra menatap Clarissa.

“Berapa lama?”

Clarissa menunduk.

“Jawab aku.”

“Hendra…”

“Berapa lama?”

“Hampir dua tahun.”

Hendra memejamkan mata.

Namun penyelidikan belum selesai.

Polisi kemudian menemukan bahwa uang perusahaan bukan satu-satunya persoalan.

Ada percakapan lain.

Percakapan yang direkam secara tidak sengaja beberapa hari sebelumnya ketika Clarissa menguji perangkat serupa.

Suara Dimas terdengar jelas.

“Kamu harus segera menyelesaikan soal hasil tes itu.”

Clarissa menjawab, “Aku sudah bilang kliniknya jangan menghubungi rumah.”

Hendra mengerutkan kening.

“Tes apa?”

Clarissa mendadak menangis.

Kali ini bukan kemarahan yang muncul di wajahnya.

Melainkan kepanikan.

“Matikan rekamannya.”

Tidak ada yang bergerak.

“Matikan!”

Hendra menatap istrinya.

“Tes apa, Clarissa?”

Perempuan itu menutup wajah dengan kedua tangan.

Lalu sebuah kalimat keluar dari mulutnya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

“Tes DNA.”

Sari refleks memandang Arka.

Hendra tidak berkata apa-apa.

Seolah dia sudah memahami jawaban sebelum pertanyaannya selesai terbentuk.

“Arka bukan anakku?”

Clarissa menangis semakin keras.

“Aku takut kehilangan semuanya.”

“Dia anak siapa?”

Clarissa tidak menjawab.

Hendra menatap layar yang menampilkan nama Dimas.

Wajahnya kehilangan warna.

“Dimas?”

Tangisan Clarissa menjadi jawaban.

Untuk pertama kalinya malam itu, Hendra duduk.

Bukan karena kehilangan uang.

Bukan karena pengkhianatan sahabatnya.

Tetapi karena bayi yang selama empat bulan dipeluknya setiap malam ternyata mungkin bukan anak kandungnya.

Sari berdiri di sudut ruangan sambil menggendong Arka yang baru saja tertidur.

Dia memandang Hendra.

Lalu memandang bayi itu.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Akhirnya Sari berkata, “Pak Hendra, boleh saya mengatakan sesuatu?”

Hendra mengangkat wajah.

“Arka mungkin bukan anak kandung Bapak. Tapi malam pertama saya bekerja di sini, saya melihat Bapak duduk hampir dua jam di samping ranjangnya karena dia demam. Bapak bahkan tidak tidur.”

Hendra diam.

“Bayi tidak tahu apa itu DNA,” lanjut Sari. “Dia hanya tahu siapa yang datang ketika dia menangis.”

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Beberapa minggu berikutnya mengubah kehidupan keluarga Wijaya sepenuhnya.

Clarissa dan Dimas diperiksa dalam kasus penggelapan dana dan penyadapan ilegal. Hendra mengajukan proses perpisahan dan menyerahkan seluruh urusan perusahaan kepada tim audit independen.

Tes DNA resmi kemudian dilakukan.

Hendra datang sendiri mengambil hasilnya.

Sari sedang bersama Arka ketika pria itu pulang.

Amplop putih berada di tangannya.

Dia duduk di ruang keluarga hampir sepuluh menit tanpa membukanya.

“Takut, Pak?” tanya Sari.

Hendra tersenyum pahit.

“Kalau hasilnya mengatakan dia bukan anak saya, saya takut melihatnya berbeda.”

Sari menatap Arka yang sedang memainkan jarinya sendiri.

“Kalau begitu jangan buka.”

Hendra mengangkat kepala.

“Apa?”

“Bapak sudah tahu keputusan Bapak?”

Hendra memandang bayi itu lama sekali.

Kemudian sesuatu berubah di wajahnya.

Dia merobek amplop tersebut menjadi dua tanpa membacanya.

Lalu empat bagian.

Sari terkejut.

Hendra berjalan menuju Arka dan mengangkatnya.

Bayi itu menatap wajahnya beberapa detik sebelum tersenyum.

Senyum kecil yang sederhana.

Hendra langsung menangis.

“Papa di sini,” bisiknya.

Namun kejutan terakhir datang dua bulan kemudian.

Inspektur Raka menghubungi Hendra.

Dalam pemeriksaan barang bukti milik Clarissa, polisi menemukan salinan digital hasil tes DNA yang selama ini berusaha disembunyikannya.

Hendra meminta dokumen itu dikirimkan.

Malam itu dia membukanya.

Dia membaca satu halaman.

Lalu membacanya lagi.

Tangannya mulai gemetar.

Keesokan paginya, Sari menemukan Hendra duduk di taman sambil menggendong Arka.

“Ada apa, Pak?”

Hendra menyerahkan ponselnya.

Sari membaca hasil laboratorium itu.

Probabilitas hubungan biologis antara Hendra Wijaya dan Arka Wijaya tercantum lebih dari 99,9 persen.

Sari menatapnya bingung.

“Tapi Bu Clarissa bilang…”

“Dia juga berbohong kepada Dimas.”

Ternyata Clarissa tidak pernah mengetahui dengan pasti siapa ayah biologis Arka. Ketika hasil tes menunjukkan Hendra adalah ayah kandungnya, dia menyembunyikan dokumen tersebut karena takut Dimas mengetahui kebenaran dan membongkar penggelapan mereka.

Selama berbulan-bulan, semua orang hidup di dalam kebohongan yang berbeda.

Dimas mengira Arka adalah anaknya.

Clarissa takut rahasianya terbongkar.

Hendra mengira dirinya telah kehilangan seorang putra.

Padahal sejak awal, Arka memang anaknya.

Hendra menatap bayi di pelukannya.

Anehnya, tidak ada ledakan kegembiraan.

Dia hanya mencium kening Arka dan tersenyum.

“Saya kira hasil ini akan mengubah segalanya,” katanya.

Sari duduk di kursi sebelahnya.

“Ternyata?”

“Tidak mengubah apa pun.”

Arka menggenggam jari ayahnya.

Hendra menatap tangan kecil itu.

“Saya sudah memilih menjadi ayahnya sebelum tahu hasilnya.”

Sari tersenyum.

Beberapa bulan kemudian, kamar bayi yang dahulu dipenuhi barang-barang desainer berubah drastis.

Pakaian mahal yang kaku tidak pernah digunakan lagi.

Arka lebih sering mengenakan kaus katun sederhana yang lembut. Mainannya tidak lagi dipilih berdasarkan merek, melainkan berdasarkan apa yang membuatnya tertawa.

Dan setiap kali seseorang bertanya kepada Hendra mengapa seorang miliarder membiarkan putranya memakai pakaian sederhana yang bahkan bisa dibeli di toko biasa, dia selalu memberikan jawaban yang sama.

“Karena saya pernah hampir kehilangan anak saya gara-gara kami terlalu sibuk memastikan hidupnya terlihat sempurna.”

Sari tetap bekerja bersama keluarga itu.

Bukan lagi sekadar sebagai pengasuh, melainkan sebagai orang yang paling dipercaya Hendra untuk memastikan Arka tumbuh dengan satu hal yang ternyata tidak bisa dibeli dengan kekayaan sebesar apa pun.

Perhatian.

Bertahun-tahun kemudian, Sari masih mengingat tangisan lirih Arka pada sore itu.

Sebuah tangisan yang awalnya terdengar seperti suara bayi kesakitan.

Padahal tanpa disadari siapa pun, tangisan itulah yang membongkar pengkhianatan, menyelamatkan sebuah perusahaan, menghancurkan kebohongan yang telah berlangsung bertahun-tahun, dan memaksa seorang ayah memahami sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hubungan darah.

Bahwa menjadi orang tua bukan dimulai ketika sebuah hasil laboratorium mengatakan seorang anak adalah milik kita.

Menjadi orang tua dimulai ketika seorang anak menangis, dan kita memilih untuk datang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang