Di hari pernikahanku, orang pertama yang dijemput oleh mobil pengantin calon suamiku ternyata bukan aku.

“Jadi ini yang kamu maksud biaya pernikahan?”

Aku mengangkat layar ponsel tepat di depan wajah Arjuna.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, laki-laki itu kehilangan kata-kata.

Di belakang kami, beberapa anggota keluarga mulai memperhatikan. Fotografer yang tadinya sibuk mengatur posisi mendadak menurunkan kameranya. Ibu Arjuna berdiri beberapa meter dari kami dengan wajah bingung.

“Ayu, turunkan dulu ponselmu,” kata Arjuna pelan.

“Jawab aku.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Sekarang.”

Sari memeluk buket pengantinku di depan dadanya. Wajahnya pucat, tetapi dia masih berusaha mempertahankan ekspresi tenang.

Arjuna menarik napas panjang.

“Itu uang muka rumah.”

Aku mengangguk perlahan.

“Rumah siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku menoleh kepada Sari.

“Rumah siapa?”

Sari menggigit bibir.

“Ayu, sebenarnya ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Entah kenapa orang yang menyimpan rahasia selalu mengatakan kalimat yang sama ketika ketahuan.

“Kalau begitu jelaskan supaya aku nggak salah pikir.”

Sari menatap Arjuna seolah meminta pertolongan.

Dan seperti biasa, Arjuna langsung maju melindunginya.

“Aku yang memutuskan semuanya. Jangan salahkan Sari.”

Dadaku terasa sesak.

Bahkan sekarang pun dia masih melindungi perempuan itu.

“Bagus. Berarti kamu bisa menjelaskan kenapa uang Rp85 juta dari rekening yang kita gunakan untuk biaya pernikahan malah dipakai membeli rumah atas nama Sari.”

Arjuna menurunkan suara.

“Sari sedang butuh tempat tinggal. Kontrakannya habis bulan depan. Dia juga nggak lolos pengajuan KPR kalau sendirian.”

“Jadi kamu belikan rumah?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Aku cuma bantu uang muka.”

“Pakai uangku?”

“Uang kita.”

Aku menatapnya tajam.

Rekening itu memang dibuat khusus untuk persiapan pernikahan, tetapi hampir tujuh puluh persen uang di dalamnya berasal dari tabunganku selama empat tahun bekerja.

Arjuna mengetahuinya.

Dia bahkan pernah menggenggam tanganku sambil berkata bahwa setiap rupiah yang kusimpan akan menjadi awal kehidupan kami setelah menikah.

Sekarang sebagian uang itu justru menjadi awal kehidupan perempuan lain.

“Ayu.”

Suara Ibu datang dari belakang.

Aku menoleh.

Ibuku berjalan mendekat dengan wajah cemas.

“Ada apa?”

Sebelum aku menjawab, Arjuna buru-buru berkata, “Cuma salah paham, Bu.”

Aku menatapnya.

“Bukan salah paham. Arjuna mengambil Rp85 juta dari rekening pernikahan kami tanpa sepengetahuanku untuk membayar rumah atas nama Sari.”

Wajah Ibu langsung berubah.

Ibu Arjuna yang baru mendekat ikut terdiam.

“Apa?” tanyanya.

Arjuna mengusap wajah.

“Ma, nanti Arjuna jelaskan.”

“Jelaskan sekarang,” kata ibunya.

Sari tiba-tiba menyela.

“Tante, sebenarnya saya yang minta bantuan.”

Aku menatapnya.

Akhirnya.

“Kenapa harus Arjuna?”

Sari terdiam.

“Kenapa bukan keluargamu? Bank? Teman lain? Kenapa harus calon suamiku?”

“Aku sama Arjuna sudah seperti saudara.”

“Saudara?”

Aku menunjuk buket di tangannya.

“Saudara juga biasanya tahu kapan harus memberikan kursi depan kepada pengantin perempuan.”

Sari menunduk.

Arjuna langsung meninggikan suara.

“Sudah, Ayu! Jangan campur semua hal.”

Aku membeku.

Puluhan pasang mata kini benar-benar tertuju kepada kami.

Tetapi anehnya, aku tidak lagi merasa malu.

Mungkin karena rasa malu itu sudah habis sejak aku duduk sendirian di kursi belakang mobil pengantinku.

Aku membuka aplikasi bank sekali lagi.

“Aku cuma mau tahu satu hal. Kamu punya akses ke rekening itu karena aku percaya sama kamu. Kenapa kamu bohong dan bilang uangnya dipakai membayar katering?”

Arjuna tidak menjawab.

“Kenapa?”

“Karena aku tahu kamu nggak akan setuju.”

Jawaban itu menghantam lebih keras daripada kebohongannya sendiri.

Aku mengangguk.

“Jadi kamu tahu aku nggak akan setuju, tapi kamu tetap melakukannya.”

“Aku berniat mengembalikan uang itu.”

“Kapan?”

“Setelah proyekku cair.”

“Kalau proyekmu nggak cair?”

Arjuna diam.

Aku menoleh kepada Sari.

“Dan kenapa rumahnya atas namamu?”

Sari menjawab lirih, “Karena aku yang akan tinggal di sana.”

“Sendiri?”

Pertanyaan itu membuat wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Aku mengambil buket dari tangannya.

“Kamu akan tinggal sendiri?”

“Iya.”

“Tatap aku.”

Sari tidak bergerak.

“Sari, tatap aku dan bilang kamu akan tinggal sendiri di rumah itu.”

“Ayu, cukup!” bentak Arjuna.

Aku menoleh kepadanya.

Reaksinya justru memberikan jawaban yang belum mereka ucapkan.

Saat itulah sebuah suara terdengar dari belakang.

“Jun, bukannya rumah itu yang kalian lihat bulan lalu?”

Semua orang menoleh.

Yang berbicara adalah Dimas, sepupu Arjuna.

Wajah Arjuna seketika pucat.

Dimas tampak bingung.

“Waktu aku ketemu kalian di kantor pemasaran itu, kan?”

Aku merasa jantungku berhenti sesaat.

“Kalian?”

Dimas melihatku, lalu Arjuna, kemudian Sari.

Baru saat itu dia sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kuketahui.

“Aku kira Ayu tahu.”

Aku mendekatinya.

“Dimas, tolong bilang apa yang kamu lihat.”

Arjuna mencoba memotong.

“Mas, nggak usah.”

Namun Dimas mundur satu langkah.

“Bulan lalu aku ketemu Arjuna sama Sari di kantor pemasaran perumahan di Bekasi. Aku cuma menyapa sebentar.”

Aku menatap Arjuna.

“Bulan lalu kamu bilang ke aku kamu pergi ke Bandung untuk urusan proyek.”

“Ayu…”

“Jadi kamu bohong lagi.”

Sari mulai menangis.

Tangisannya pelan, nyaris tanpa suara.

Biasanya aku mungkin akan merasa kasihan.

Hari itu tidak.

“Aku nggak pernah bermaksud merebut Arjuna,” katanya.

Aku menatapnya.

“Aku bahkan belum menuduhmu merebut dia.”

Sari terdiam.

Kalimatnya sendiri telah membuka sesuatu yang sejak tadi berusaha mereka tutupi.

Aku menoleh kepada Arjuna.

“Sudah berapa lama?”

“Nggak ada apa-apa antara aku dan Sari.”

“Kalau nggak ada apa-apa, kenapa dia bicara soal merebutmu?”

Arjuna kehilangan jawaban.

Sari menangis semakin keras.

“Aku memang sayang sama Arjuna.”

Suasana di depan hotel seketika sunyi.

Sari mengusap air matanya.

“Tapi kami nggak pernah melakukan apa-apa. Aku tahu dia mau menikah sama kamu.”

Aku hampir tidak percaya dengan keberaniannya mengucapkan kalimat itu.

“Kamu sayang calon suamiku, menerima rumah yang dibayar pakai uangku, duduk di sebelahnya di mobil pengantinku, lalu kamu bilang nggak melakukan apa-apa?”

“Aku nggak minta rumah itu.”

“Tapi kamu menerimanya.”

Sari terdiam.

Aku menatap Arjuna.

“Dan kamu tahu dia mencintaimu?”

Laki-laki itu tidak menjawab.

“Arjuna.”

“Iya.”

Satu kata.

Hanya satu kata yang akhirnya menghancurkan sisa keyakinanku.

Aku mengangguk perlahan.

“Kamu tahu.”

“Aku sudah bilang ke dia kalau aku memilih kamu.”

Aku tertawa kecil.

“Memilih aku?”

Aku menunjuk hotel di belakang kami.

“Kamu menikahi aku sambil diam-diam membelikan rumah untuk perempuan yang kamu tahu mencintaimu. Itu yang kamu sebut memilih aku?”

“Aku cuma merasa bertanggung jawab sama dia.”

“Kenapa?”

Arjuna menutup mata.

Sari tiba-tiba berkata, “Karena dulu dia pernah berjanji menikah denganku.”

Aku membeku.

Ibu Arjuna memegang dadanya.

“Sari!”

Tetapi rahasia itu sudah keluar.

Sari menatapku dengan mata merah.

“Waktu kami kuliah. Sebelum dia kenal kamu.”

Aku memandang Arjuna.

“Benar?”

Arjuna mengangguk sangat pelan.

“Dulu. Itu sudah lama.”

“Tapi dia masih mencintaimu.”

“Iya.”

“Dan kamu masih merasa bertanggung jawab kepadanya.”

Arjuna tidak menjawab.

Aku akhirnya mengerti.

Selama lima tahun, aku selalu mengira kedekatan mereka hanyalah persahabatan masa kecil.

Setiap kali Sari menelepon tengah malam karena mobilnya mogok, Arjuna datang.

Ketika Sari sakit, Arjuna mengirim makanan.

Saat ulang tahunnya, Arjuna selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat.

Aku menerima semuanya karena satu alasan.

Aku percaya kepadanya.

Ternyata aku bukan sedang belajar menerima persahabatan mereka.

Aku sedang dilatih untuk menerima keberadaan perempuan lain dalam hubungan kami.

“Ayu,” kata Arjuna, “aku memang salah soal uang. Aku akan kembalikan semuanya. Tapi jangan hancurkan pernikahan kita karena masa lalu.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu masih belum mengerti.”

“Aku mengerti aku salah.”

“Tidak. Kamu cuma menyesal karena ketahuan.”

Arjuna terdiam.

Aku melepas cincin pertunanganku.

Wajahnya langsung berubah.

“Ayu, jangan.”

Aku meletakkan cincin itu di telapak tangannya.

“Akadnya batal.”

Ibuku langsung berdiri di sampingku.

Tidak membujuk.

Tidak mengatakan aku harus memikirkan tamu.

Dia hanya menggenggam tanganku.

Arjuna panik.

“Kita sudah menghabiskan ratusan juta. Semua keluarga datang. Kamu mau membatalkan semuanya sekarang?”

“Justru sekarang waktunya.”

“Ayu, pikir baik-baik.”

“Aku sedang berpikir sangat baik.”

Aku menatap laki-laki yang lima tahun terakhir kubayangkan akan menjadi ayah dari anak-anakku.

“Aku lebih rela kehilangan biaya pernikahan daripada kehilangan bertahun-tahun hidupku dalam pernikahan yang membuatku terus merasa sebagai orang ketiga.”

Arjuna mencoba memegang tanganku.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Sari menangis di samping mobil.

Aku menyerahkan buket kepadanya sekali lagi.

“Kamu mau ini sejak tadi, kan?”

Sari tidak menerimanya.

Buket itu akhirnya kulepaskan di atas kap mobil.

Lalu aku masuk ke hotel.

Bukan menuju ruang akad.

Aku masuk ke ruang tunggu pengantin dan meminta wedding organizer mengumumkan bahwa acara dibatalkan karena alasan pribadi.

Hari itu aku pulang masih mengenakan gaun pengantin.

Tidak ada akad.

Tidak ada foto keluarga.

Tidak ada pesta.

Hanya ratusan pesan yang masuk ke ponselku dan satu kamar yang dipenuhi hadiah pernikahan yang tidak pernah kubuka.

Tiga hari kemudian, aku pergi ke bank.

Aku mencabut seluruh akses Arjuna terhadap rekening bersama dan meminta salinan lengkap riwayat transaksi.

Di situlah aku menemukan kejutan berikutnya.

Rp85 juta ternyata bukan satu-satunya uang yang dipindahkan.

Enam bulan sebelumnya ada pembayaran Rp10 juta kepada perusahaan properti yang sama.

Aku menghubungi pihak pengembang.

Setelah menjelaskan bahwa danaku digunakan dalam transaksi tersebut, mereka tidak bisa memberikan seluruh data pembeli kepadaku karena alasan privasi. Namun mereka mengonfirmasi satu hal yang cukup membuatku mengerti.

Pembayaran pertama dilakukan enam bulan lalu.

Artinya, rencana membeli rumah itu sudah dimulai jauh sebelum pernikahan kami.

Aku membawa semua bukti kepada pengacara.

Arjuna mengembalikan uangku beberapa minggu kemudian setelah keluarganya turun tangan.

Aku tidak pernah lagi bertemu Sari.

Setidaknya sampai tujuh bulan kemudian.

Suatu sore, ketika sedang minum kopi sepulang kerja, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

Pengirimnya Sari.

Hanya ada satu foto.

Foto sebuah undangan pernikahan.

Nama pengantinnya membuatku terdiam.

Sari Wulandari dan Arjuna Pratama.

Tanggal pernikahan mereka hanya dua minggu lagi.

Di bawah foto itu ada satu pesan.

“Aku minta maaf. Tapi mungkin sejak awal memang seharusnya begini.”

Aku membaca kalimat itu beberapa kali.

Aneh.

Aku tidak marah.

Aku justru tersenyum.

Kemudian aku mengetik balasan.

“Semoga kali ini dia menjemput pengantinnya lebih dulu.”

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Kupikir cerita kami selesai di sana.

Ternyata belum.

Dua bulan setelah pernikahan mereka, Dimas menghubungiku.

Dia hanya bertanya satu hal.

“Kamu sudah dengar?”

“Dengar apa?”

“Rumah yang dulu dibeli Arjuna buat Sari sudah dijual.”

Aku tidak terlalu tertarik.

“Kenapa?”

“Mereka pisah.”

Aku terdiam.

Dimas kemudian menceritakan bahwa beberapa minggu setelah menikah, Sari menemukan Arjuna memiliki utang proyek yang jauh lebih besar daripada yang diketahui keluarganya. Rumah itu dijual untuk menutup sebagian utang.

Namun bukan itu yang membuat mereka berpisah.

Arjuna ternyata menggunakan sebagian uang hasil penjualan rumah tanpa sepengetahuan Sari.

Ketika Sari memprotes, Arjuna mengatakan bahwa uang itu akan dikembalikan setelah proyeknya cair.

Aku menutup mata.

Kalimat yang sama.

Janji yang sama.

Pola yang sama.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang selama berbulan-bulan tidak kusadari.

Masalah terbesar dalam hubungan kami ternyata bukan Sari.

Bukan bahasa daerah.

Bukan kursi depan.

Bahkan bukan rumah itu.

Masalah sebenarnya adalah seorang laki-laki yang merasa berhak mengambil keputusan besar menggunakan kepercayaan orang lain, lalu menyebutnya sebagai bentuk tanggung jawab.

Sari mungkin pernah menjadi alasan Arjuna mengkhianati kepercayaanku.

Namun setelah menikah dengannya, Sari akhirnya menjadi orang yang menerima perlakuan yang sama.

Setahun setelah hari pernikahan yang batal itu, aku melewati hotel tempat seharusnya kami menikah.

Ada pesta pernikahan lain hari itu.

Sebuah mobil pengantin berhenti di depan lobi.

Seorang laki-laki turun, berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk perempuan bergaun putih yang duduk di sebelahnya.

Aku memperhatikan mereka beberapa detik.

Lalu tersenyum.

Dulu aku mengira hari ketika Arjuna menjemput Sari lebih dulu adalah awal dari kehancuran hidupku.

Ternyata aku salah.

Itu justru keberuntunganku.

Karena seandainya pagi itu Arjuna menjemputku lebih dulu, seandainya Sari duduk di belakang, seandainya mereka berbicara menggunakan bahasa yang kupahami, dan seandainya notifikasi WhatsApp itu muncul lima menit lebih lambat, mungkin aku akan tetap berjalan menuju meja akad.

Mungkin aku baru mengetahui semuanya setelah menjadi istrinya.

Aku kehilangan pesta pernikahan, sejumlah uang, dan laki-laki yang kucintai selama lima tahun.

Namun pada hari yang sama, tanpa kusadari, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih mahal.

Kesempatan untuk tidak menikahi orang yang salah.

Aku melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi ke hotel itu.

Dan untuk pertama kalinya, kenangan tentang gaun putih, buket bunga, serta kursi belakang mobil pengantin tidak lagi terasa memalukan.

Karena sekarang aku tahu.

Hari itu aku memang gagal menjadi istri Arjuna.

Tetapi justru pada hari itulah aku berhasil memilih diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang