“Aku melihat kalian.”
Tiga kata itu membuat seluruh ballroom Hotel Pranata seolah kehilangan udara.
Tangan Raka yang tadi hendak mengarahkan pena ke jariku mendadak membeku. Senyumnya masih tertinggal di wajah, tetapi matanya berubah. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, aku melihat ketakutan yang nyata di sana.
Di barisan depan, Nadia berdiri setengah dari kursinya. Wajahnya pucat.
“Laras…” suara Raka bergetar. “Apa maksudmu?”

Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Aku bilang, aku melihat kalian.”
Bisik-bisik mulai terdengar dari ratusan tamu. Kamera para wartawan yang tadinya diarahkan ke meja penandatanganan kini tertuju kepadaku.
Aku mengambil pena emas di atas meja, memandangnya sebentar, lalu meletakkannya kembali.
“Pena yang bagus,” kataku. “Sayang sekali aku tidak akan menggunakannya untuk menyerahkan perusahaan ayahku kepada seorang pencuri.”
Wajah Raka langsung menegang.
“Laras, kamu sedang tidak sehat. Kita bicara di rumah.”
Ia mencoba meraih lenganku.
Aku mundur satu langkah.
“Jangan sentuh aku.”
Suasana semakin gaduh.
Raka menoleh kepada para tamu dan tertawa kaku.
“Mohon maaf. Sejak kecelakaan, kondisi emosional istri saya memang belum sepenuhnya stabil.”
Kalimat itu persis seperti yang sudah kuduga.
Bahkan sebelum malam ini, Pak Hartono telah memperingatkanku bahwa Raka mungkin akan mencoba membuatku terlihat tidak waras jika rencananya gagal.
Aku tersenyum.
“Benarkah?”
Aku menoleh ke arah layar LED raksasa di belakang panggung.
“Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang sebenarnya kehilangan akal sehat.”
Lampu ballroom meredup.
Layar yang sebelumnya menampilkan logo ulang tahun Pranata Group berubah menjadi rekaman CCTV ruang tamu mansion kami.
Tanggalnya tiga minggu lalu.
Di layar terlihat aku duduk di kursi roda dengan kacamata hitam, kepala sedikit tertunduk seolah tertidur.
Beberapa meter dariku, Raka dan Nadia sedang berpelukan.
Suara Raka terdengar jelas melalui pengeras suara.
“Begitu Laras menandatangani pengalihan saham, aku akan mengajukan permohonan perwalian hukum. Kita punya dokter yang bisa menyatakan kondisi mentalnya memburuk.”
Lalu suara Nadia.
“Setelah itu?”
“Kita pindahkan dia ke klinik. Tidak ada wartawan. Tidak ada dewan direksi. Tidak ada Laras.”
Beberapa tamu terkesiap.
Aku melihat seorang komisaris senior menutup mulutnya.
Nadia langsung berdiri.
“Itu rekayasa!”
Ia berlari menuju panggung.
“Video itu palsu! Sekarang teknologi AI bisa membuat apa saja!”
Aku sudah menduga pembelaan itu.
Aku mengangguk kepada seorang pria berjas abu-abu di dekat meja kontrol.
Video berikutnya muncul.
Kali ini rekaman dari kamera tersembunyi di ruang kerja Raka.
Raka sedang membuka brankas.
Nadia berdiri di belakangnya.
Mereka membicarakan rekening luar negeri, pemindahan dana perusahaan, dan dokumen yang akan kutandatangani malam ini.
Kemudian layar menampilkan salinan transaksi bank.
Puluhan miliar rupiah telah dialihkan melalui beberapa perusahaan cangkang.
Wajah beberapa anggota direksi berubah drastis.
Raka menatap layar seperti orang yang baru menyadari lantai di bawah kakinya menghilang.
“Matikan!” teriaknya.
Tidak ada yang bergerak.
“MATIKAN LAYAR ITU!”
“Tidak ada yang akan mematikannya,” kataku.
Raka menoleh kepadaku.
“Bagaimana kamu mendapatkan semua ini?”
Aku tersenyum tipis.
“Karena kesalahan terbesar kalian adalah menganggap orang yang tidak bisa melihat sebagai orang yang tidak bisa berpikir.”
Aku berjalan menuju tepi panggung tanpa tongkat.
Setiap langkahku terasa seperti mengambil kembali bagian hidup yang selama dua tahun dirampas dariku.
“Aku memang kehilangan penglihatan setelah kecelakaan. Aku kehilangan ayahku. Aku kehilangan kepercayaan diri. Dan selama berbulan-bulan aku percaya satu-satunya orang yang masih berada di sisiku adalah suamiku.”
Aku menatap Raka.
“Ternyata aku salah.”
Ia menunduk sesaat.
Lalu wajahnya berubah.
Bukan lagi suami penyayang yang selama ini dikenal publik.
“Jadi kamu sudah bisa melihat sejak kapan?”
“Sebulan.”
Nadia menatapku tak percaya.
“Sebulan?”
“Ya.”
Aku menoleh kepadanya.
“Termasuk saat kamu mengenakan gaun merah milikku ketika kalian makan malam berdua di rumah.”
Bibir Nadia terbuka.
Aku melanjutkan.
“Termasuk saat kalian berciuman di dapur ketika aku duduk lima meter dari kalian.”
Nadia mulai menangis.
“Laras, dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan.”
“Jangan.”
Suaraku tidak keras, tetapi cukup membuatnya diam.
“Kamu datang ke rumah sakit hampir setiap hari setelah kecelakaan. Kamu memegang tanganku dan mengatakan kita saudara. Saat aku menangis karena tidak bisa melihat wajah ayahku untuk terakhir kali, kamu memelukku.”
Mataku mulai panas.
Pengkhianatan Raka menyakitkan.
Namun Nadia menghancurkan bagian lain dalam diriku.
Bagian yang percaya bahwa persahabatan puluhan tahun tidak bisa dibeli oleh uang.
“Aku mempercayaimu.”
Nadia menunduk.
“Aku… aku mencintai Raka.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kamu mencintai kehidupan yang kamu pikir bisa kamu dapatkan melalui Raka.”
Raka tiba-tiba tertawa.
Tawa pendek, getir.
“Sudah selesai dramanya?”
Semua orang menatapnya.
Ia melangkah mendekatiku.
“Kamu pikir dengan beberapa rekaman kamu bisa menghancurkanku?”
Aku diam.
Raka menunjuk ke arah dokumen di meja.
“Selama dua tahun aku yang menjalankan perusahaan ini. Aku yang bertemu investor. Aku yang menyelamatkan proyek-proyek bermasalah. Dewan direksi tahu siapa yang sebenarnya membuat Pranata Group bertahan.”
Beberapa direktur saling berpandangan.
Raka semakin percaya diri.
“Kamu hanya pewaris karena lahir dengan nama Pranata.”
Kalimat itu membuat ballroom kembali hening.
Aku menatapnya lama.
“Akhirnya.”
“Akhirnya apa?”
“Akhirnya kamu mengatakan apa yang sebenarnya kamu pikirkan.”
Raka menyeringai.
“Aku mengatakan fakta.”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu aku juga punya fakta.”
Pintu ballroom terbuka.
Pak Hartono masuk bersama beberapa orang berjas gelap.
Di belakang mereka ada dua penyidik.
Wajah Raka langsung berubah.
Pak Hartono naik ke panggung dan menyerahkan sebuah map kepadaku.
“Selamat malam, Bu Laras.”
“Terima kasih, Pak.”
Aku membuka map itu.
“Kamu benar, Raka. Selama dua tahun kamu menjalankan banyak operasi perusahaan.”
Aku mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Karena itu kamu juga meninggalkan jejak yang sangat panjang.”
Raka tidak menjawab.
“Transfer fiktif. Penggelembungan biaya proyek. Perusahaan vendor yang ternyata dimiliki sepupumu. Dana renovasi hotel yang masuk ke rekening perusahaan cangkang. Total temuan sementara seratus delapan puluh tujuh miliar rupiah.”
Terdengar kegaduhan dari para tamu.
Nadia mundur perlahan.
Aku melihatnya.
“Jangan pergi dulu, Nadia.”
Ia berhenti.
“Namamu juga ada di beberapa rekening.”
Air matanya langsung mengalir.
“Aku tidak tahu soal itu.”
“Menarik. Karena tanda tanganmu ada di dokumennya.”
Nadia menatap Raka.
“Kamu bilang itu investasi!”
Raka mengabaikannya.
Ia hanya menatapku.
“Kamu menjebakku.”
“Tidak. Aku hanya berhenti melindungimu.”
Pak Hartono kemudian menjelaskan bahwa selama beberapa minggu terakhir tim audit independen telah memeriksa transaksi internal atas persetujuanku sebagai pemegang saham pengendali.
Dokumen yang hendak kutandatangani malam ini juga bukan lagi dokumen yang mereka persiapkan.
Dokumen asli telah diamankan.
Map di atas meja hanyalah salinan yang sengaja dipasang sebagai umpan.
Raka tertawa kecil.
“Hebat.”
Ia menatapku dengan mata merah.
“Jadi semua ini kamu rencanakan?”
“Ya.”
“Sejak penglihatanmu kembali?”
Aku diam beberapa detik.
“Tidak.”
Raka mengernyit.
Aku menatap layar.
“Mundur ke rekaman berikutnya.”
Sebuah foto kecelakaan dua tahun lalu muncul.
Mobil ayahku hancur di pembatas jalan tol.
Tubuhku seketika terasa dingin.
Ini bagian yang paling sulit.
“Ada sesuatu yang selama dua tahun dianggap sebagai kecelakaan biasa,” kataku.
Raka tidak bergerak.
“Tapi setelah aku mengetahui rencanamu mengambil perusahaan, aku meminta Pak Hartono membuka kembali semua dokumen lama.”
Aku menatapnya.
“Termasuk laporan kecelakaan.”
Wajah Raka kehilangan warna.
Di layar muncul foto komponen sistem pengereman.
Pak Hartono berbicara.
“Pemeriksaan independen menemukan indikasi bahwa kerusakan pada jalur rem tidak konsisten dengan kerusakan akibat benturan.”
Raka langsung membentak.
“Omong kosong!”
Aku menatap reaksinya.
“Aneh.”
“Apa?”
“Aku belum menuduhmu.”
Raka membeku.
“Tapi kenapa kamu begitu takut?”
Ia tidak menjawab.
Salah seorang penyidik melangkah maju.
Raka mundur.
Nadia tiba-tiba menangis histeris.
“Aku tidak terlibat!”
Semua orang menoleh kepadanya.
Nadia menutup mulutnya, seolah baru sadar apa yang dikatakannya.
Aku menatapnya.
“Terlibat dalam apa?”
Nadia memandang Raka.
Raka membalas dengan tatapan tajam.
“Nadia.”
Satu kata itu terdengar seperti ancaman.
Namun semuanya sudah terlambat.
“Aku cuma tahu Raka pernah membayar seseorang!” Nadia berteriak. “Dia bilang hanya untuk menakut-nakuti Pak Surya supaya menyerahkan posisi lebih cepat! Aku tidak tahu akan terjadi kecelakaan!”
Kakiku hampir kehilangan kekuatan.
Pak Surya.
Ayahku.
Aku sudah mempersiapkan diri mendengar kemungkinan itu, tetapi mendengar pengakuan Nadia secara langsung tetap terasa seperti ditikam.
Raka menerjang ke arahnya.
“Kamu bodoh!”
Petugas segera menahannya.
Ballroom kacau.
Kamera berkilatan tanpa henti.
Raka berusaha melepaskan diri.
“Nadia bohong! Laras, dengarkan aku!”
Aku berdiri tepat di depannya.
Dulu suara laki-laki ini adalah suara pertama yang kucari setiap pagi ketika dunia hanya gelap.
Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan sempurna.
Dan untuk pertama kalinya, aku berharap aku tidak pernah mengenalnya.
“Aku memang mendengarkanmu selama dua tahun, Raka.”
Ia berhenti meronta.
“Sekarang giliran kamu mendengarkanku.”
Aku mendekat.
“Pranata Group bukan milikmu.”
Aku menunjuk ke arah dada sendiri.
“Dan hidupku juga bukan milikmu.”
Petugas membawanya pergi.
Nadia ikut diminta meninggalkan ballroom untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sebelum pergi, ia menoleh kepadaku dengan wajah penuh air mata.
“Maafkan aku, Laras.”
Aku tidak menjawab.
Ada pengkhianatan yang mungkin bisa dimaafkan.
Tetapi memaafkan tidak selalu berarti memberikan seseorang jalan kembali ke hidup kita.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di depan jendela kantor ayahku di lantai empat puluh dua Pranata Tower.
Jakarta terbentang di bawah langit sore.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memimpin rapat direksi sendiri.
Proses hukum terhadap Raka masih berjalan. Nadia memilih bekerja sama dalam penyelidikan dan memberikan keterangan mengenai transaksi serta percakapan yang diketahuinya. Penyelidikan mengenai kecelakaan ayahku juga dibuka kembali.
Aku tidak tahu bagaimana semua proses itu akan berakhir.
Namun aku tidak lagi takut pada ketidakpastian.
Di meja kerjaku terdapat sebuah benda yang sengaja kusimpan.
Tongkat putihku.
Bukan karena aku membutuhkannya lagi.
Tetapi karena aku tidak ingin melupakan perempuan yang pernah menggunakannya.
Perempuan yang berjalan dalam kegelapan, mempercayakan setiap langkah kepada orang yang justru sedang menggali lubang di bawah kakinya.
Suatu sore Pak Hartono datang membawa sebuah amplop.
“Ada sesuatu yang ditemukan di brankas lama Pak Surya.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ayahku.
Tanggalnya tiga hari sebelum kecelakaan.
Laras,
Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah terlambat menjelaskan sesuatu. Ayah menemukan ketidakwajaran dalam laporan keuangan yang berkaitan dengan Raka. Ayah belum punya bukti cukup, jadi Ayah belum ingin membuatmu khawatir. Tapi ingat satu hal. Jangan pernah menyerahkan hakmu untuk menentukan hidupmu sendiri kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang paling kamu cintai.
Tanganku gemetar.
Di bagian paling bawah ada satu kalimat lagi.
Kamu tidak harus selalu bisa melihat jalan di depanmu. Yang terpenting, jangan membiarkan orang lain menentukan ke mana kamu harus berjalan.
Aku menutup surat itu dan menatap matahari yang tenggelam di antara gedung-gedung Jakarta.
Selama dua tahun aku mengira tragedi terbesar dalam hidupku adalah kehilangan penglihatan.
Ternyata bukan.
Tragedi terbesar adalah ketika aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri dan membiarkan orang lain menjadi mataku, suaraku, bahkan keputusanku.
Aku mengambil tongkat putih dari meja, memandangnya sebentar, lalu menyimpannya di lemari kaca di belakang kursi ayah.
Bukan sebagai simbol kelemahan.
Melainkan sebagai pengingat.
Karena pada akhirnya, penglihatanku memang kembali melalui operasi.
Tetapi jauh sebelum dokter mengembalikan cahaya ke mataku, pengkhianatan Raka telah mengajarkanku sesuatu yang lebih penting.
Ada orang yang memiliki mata sempurna, tetapi tidak pernah benar-benar melihat orang di sekelilingnya.
Dan ada orang yang pernah hidup dalam kegelapan, tetapi justru dari sanalah ia belajar melihat kebenaran dengan paling jelas.
