40 TAHUN AKU MENJADI ISTRI YANG SETIA, NAMUN RUANG BAWAH TANAH TERLARANG INI MEMBONGKAR AKSI JAHAT SUAMIKU YANG TELAH MERENGGUT NYAWA CINTA PERTAMAKU!

Aku membaca tanggal yang tertulis di sudut halaman itu sekali lagi.

17 Mei 1984.

Tanggal kematian Dimas.

Jari-jariku mendadak terasa dingin.

Tulisan tangan Hendra memenuhi halaman yang telah menguning itu. Aku mengenali setiap lekuk hurufnya. Selama empat puluh tahun, tulisan yang sama muncul di kartu ulang tahunku, catatan kecil di meja makan, dan surat-surat cinta yang selalu kusimpan.

Namun kalimat pertama yang kubaca membuat kakiku hampir kehilangan tenaga.

“Malam ini aku akhirnya mengambil Sarah darinya.”

Aku menahan napas.

Mataku bergerak ke baris berikutnya.

“Dimas tidak akan pernah menikahi Sarah. Aku sudah memberinya kesempatan untuk mundur, tetapi dia menertawakanku. Dia bilang Sarah mencintainya dan aku harus menerima kenyataan.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Tidak.

Aku ingin berhenti membaca.

Aku ingin menutup buku itu, mengunci kembali ruangan ini, lalu meyakinkan diriku bahwa semuanya hanya kesalahpahaman.

Tetapi jam tangan Dimas tergeletak tepat di depanku.

Kacanya retak.

Jarumnya berhenti pada pukul 23.17.

Aku memaksa diri membaca lagi.

“Aku mengikuti motornya dari rumah Sarah. Jalan menuju kawasan lama itu sepi. Hujan turun cukup deras. Aku hanya ingin membuatnya takut. Setidaknya begitulah yang kukatakan pada diriku sendiri.”

Tubuhku mulai gemetar.

“Ketika mobilku menyenggol motornya, Dimas terjatuh. Aku menginjak rem. Seharusnya aku turun dan menolongnya.”

Aku tidak sanggup bernapas.

“Tapi aku melihat dia bergerak.”

Air mataku jatuh mengenai halaman.

“Dia masih hidup.”

Aku menjatuhkan buku itu.

Suara benturannya menggema di ruang bawah tanah.

Aku mundur beberapa langkah hingga punggungku membentur lemari.

Dimas masih hidup.

Selama empat puluh dua tahun, aku percaya tunanganku meninggal seketika karena tabrak lari.

Namun Hendra tahu bahwa Dimas masih hidup setelah kecelakaan itu.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil kembali buku harian tersebut.

Catatan itu belum selesai.

“Aku berdiri beberapa meter darinya. Dimas memanggil namaku. Dia mengenal mobilku. Dia memohon agar aku membawanya ke rumah sakit.”

Aku terisak.

Bayangan Dimas muncul begitu jelas dalam ingatanku.

Senyumnya.

Caranya memanggil namaku.

Rencana rumah kecil yang ingin kami bangun setelah menikah.

Semua itu terasa hidup kembali.

Kemudian aku membaca kalimat berikutnya.

“Aku pergi.”

Dunia seakan berhenti.

Hanya dua kata.

Tetapi dua kata itu menghancurkan empat puluh tahun hidupku.

Hendra meninggalkannya.

Dimas terbaring sendirian di jalan dalam keadaan terluka, sementara sahabatnya sendiri memilih pergi.

Aku terus membaca.

“Pagi berikutnya polisi mengabarkan Dimas ditemukan meninggal. Aku kembali ke lokasi sebelum polisi datang karena aku takut ada sesuatu yang menghubungkanku dengannya. Jam tangannya terlepas beberapa meter dari tubuhnya. Aku mengambilnya.”

Aku memandang jam emas di dalam kotak.

Jadi itulah sebabnya polisi tidak pernah menemukan jam tersebut.

Selama bertahun-tahun aku mengira seseorang telah mencurinya setelah kecelakaan.

Ternyata orang yang mengambilnya adalah pria yang kemudian menjadi suamiku.

Aku membuka halaman-halaman berikutnya dengan semakin cepat.

Catatan Hendra berubah menjadi pengakuan yang panjang.

Dia mencintaiku sejak kami masih muda.

Namun aku memilih Dimas.

Di hadapanku, Hendra selalu bertindak sebagai sahabat yang mendukung hubungan kami. Di belakangku, kecemburuan itu tumbuh menjadi obsesi.

Setelah kematian Dimas, dia datang hampir setiap hari.

Membawakan makanan untuk ibuku.

Menemaniku mengurus dokumen kepolisian.

Mengantarku ke makam.

Mendengarkan aku menangis.

Semua kebaikan yang selama puluhan tahun kuanggap sebagai bukti ketulusan mendadak terasa mengerikan.

Dia tidak datang untuk menyelamatkanku dari kesedihan.

Dia datang karena telah menciptakan kesedihan itu.

Aku terduduk di lantai.

Ponselku tiba-tiba berdering.

Nama anak sulungku, Rian, muncul di layar.

Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar.

“Bu, Ibu di mana? Rumah sakit sudah menelepon. Dokumennya sudah ketemu?”

Aku menatap buku harian di tanganku.

“Sudah.”

“Cepat kembali, Bu. Ayah sedang dipersiapkan untuk operasi.”

Aku tidak menjawab.

“Bu?”

“Rian.”

“Iya?”

Aku berusaha menahan tangis.

“Datanglah ke rumah.”

“Sekarang? Tapi Ayah…”

“Datang ke rumah. Sekarang.”

Nada suaraku membuatnya berhenti bertanya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Rian tiba bersama adiknya, Maya.

Mereka menemukanku masih duduk di ruang bawah tanah.

Maya terlihat pucat.

“Bu, kenapa Ibu di sini?”

Aku hanya menunjuk buku harian itu.

“Baca.”

Rian mengambilnya.

Awalnya wajahnya menunjukkan kebingungan. Kemudian rahangnya mengeras.

Maya membaca dari balik bahunya.

Beberapa menit kemudian, tangannya menutup mulut.

“Ini tulisan Ayah?” bisiknya.

Aku mengangguk.

“Tidak mungkin.”

Aku mengeluarkan jam tangan Dimas dari kotak.

“Ini milik Dimas.”

Maya mengetahui cerita tentang Dimas. Anak-anakku tahu bahwa sebelum menikahi ayah mereka, aku pernah bertunangan dengan seseorang yang meninggal dalam kecelakaan.

Namun mereka tidak pernah mengetahui detailnya.

Rian terus membalik halaman hingga tiba-tiba berhenti.

“Bu.”

“Apa?”

“Ada catatan tahun 2001.”

Aku mendekatinya.

Catatan itu jauh lebih pendek.

“Aku pikir semuanya sudah terkubur bersama masa lalu. Tetapi hari ini seseorang datang menemuiku. Namanya Bowo. Dia mengatakan pernah melihat mobilku malam itu.”

Aku membeku.

Rian membaca lanjutannya.

“Dia tidak melihat tabrakan, tetapi dia melihat aku berhenti di dekat tubuh Dimas lalu pergi. Selama bertahun-tahun dia diam karena takut terlibat. Sekarang dia meminta uang.”

Di halaman berikutnya tercatat beberapa pembayaran.

Jumlahnya besar.

Dilakukan selama bertahun-tahun.

Hendra telah membayar seseorang untuk tetap diam.

Itu berarti buku ini bukan sekadar luapan rasa bersalah.

Ada saksi.

“Aku akan menghubungi polisi,” kata Rian.

Aku langsung mengangguk.

Kami memotret seluruh halaman buku harian sebelum menyentuh benda lain.

Kemudian polisi datang.

Ruang bawah tanah yang selama empat dekade menjadi rahasia pribadi suamiku berubah menjadi lokasi penyelidikan.

Jam tangan, saputangan, buku harian, dan beberapa dokumen pembayaran disita sebagai barang bukti.

Polisi juga menemukan sesuatu di balik lemari kayu.

Sebuah kotak logam kecil.

Di dalamnya terdapat kliping koran mengenai kematian Dimas.

Puluhan artikel.

Foto pemakamannya.

Bahkan foto pernikahanku dengan Hendra.

Di belakang foto pernikahan itu, terdapat tulisan tangan.

“Akhirnya Sarah menjadi milikku.”

Aku hampir muntah saat membacanya.

Sore itu aku kembali ke rumah sakit.

Operasi Hendra telah selesai.

Dokter mengatakan kondisinya masih serius, tetapi stabil.

Aku berdiri di balik kaca ICU dan memandang pria yang telah tidur di sampingku selama empat puluh tahun.

Wajahnya tampak tua dan rapuh.

Untuk sesaat, kenangan indah menyerbu pikiranku.

Hari kelahiran anak pertama kami.

Perjalanan keluarga ke Yogyakarta.

Saat dia merawatku setelah operasi.

Saat kami menari berdua di ulang tahun pernikahan ke-35.

Semua itu benar-benar terjadi.

Namun kebaikan selama puluhan tahun tidak bisa menghapus apa yang dilakukannya pada satu malam.

Dua hari kemudian Hendra sadar.

Polisi belum mengizinkan pemeriksaan panjang karena kondisi kesehatannya, tetapi aku diperbolehkan masuk sebentar.

Ketika melihatku, dia tersenyum lemah.

“Sarah.”

Aku tidak membalas senyumnya.

Aku meletakkan sebuah foto jam tangan Dimas di meja samping ranjang.

Wajah Hendra berubah.

Dalam hitungan detik, warna kulitnya menghilang.

“Kamu masuk ke bawah?”

Aku menatapnya.

“Dimas masih hidup ketika kamu meninggalkannya.”

Air mata langsung memenuhi mata Hendra.

“Sarah, dengarkan aku.”

“Empat puluh tahun aku mendengarkanmu.”

“Aku tidak bermaksud membunuhnya.”

“Tapi kamu menabraknya.”

“Itu kecelakaan.”

“Lalu dia meminta pertolongan.”

Hendra memejamkan mata.

Aku mendekat.

“Kenapa kamu pergi?”

Bibirnya bergetar.

“Aku takut.”

“Takut dipenjara?”

Dia diam.

“Tidak,” kataku. “Kamu takut kalau Dimas selamat, aku tetap menikah dengannya.”

Hendra mulai menangis.

“Aku mencintaimu.”

Aku tertawa kecil di tengah air mata.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar menjijikkan.

“Cinta tidak membiarkan seseorang mati agar bisa memiliki orang lain.”

“Aku menyesal setiap hari.”

“Lalu kenapa kamu menyimpan jamnya?”

Dia tidak menjawab.

“Kenapa kamu menyimpan semua kliping itu?”

Hendra menatapku lama.

Kemudian dia berkata pelan, “Karena aku tidak pernah bisa melupakan apa yang kulakukan.”

Aku berdiri.

“Saya juga tidak akan bisa melupakannya.”

Sebelum keluar, Hendra memanggil namaku.

“Sarah.”

Aku berhenti tanpa menoleh.

“Apakah selama empat puluh tahun ini tidak ada satu pun bagian dari hidup kita yang berarti untukmu?”

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada yang kuduga.

Aku akhirnya menoleh.

“Ada.”

Dia menatapku penuh harapan.

“Anak-anak kita. Cucu-cucu kita. Mereka nyata. Kebahagiaan yang pernah kurasakan juga nyata.”

Aku menarik napas.

“Tapi itu tidak membuat kebohonganmu menjadi benar.”

Aku meninggalkan ruangan.

Penyelidikan kemudian dibuka kembali.

Polisi berhasil menemukan Bowo yang kini berusia hampir delapan puluh tahun dan tinggal bersama keluarganya di Jawa Tengah.

Dalam pemeriksaan, dia mengakui pernah melihat Hendra berdiri di dekat Dimas malam itu.

Menurut kesaksiannya, Hendra bahkan sempat berjongkok di samping Dimas.

Namun yang mengejutkan, Bowo mengungkap sesuatu yang tidak pernah ditulis Hendra dalam buku hariannya.

Dimas sempat menyerahkan sesuatu kepada Hendra.

Sebuah amplop.

Polisi kemudian kembali menggeledah ruang bawah tanah.

Amplop itu akhirnya ditemukan terselip di balik lapisan bawah kotak kayu.

Namaku tertulis di bagian depan.

Sarah.

Tulisan tangan Dimas.

Aku membuka surat itu di hadapan Rian dan Maya.

Ternyata Dimas menulisnya beberapa hari sebelum kematiannya dan membawanya malam itu.

Dia berencana memberikannya kepadaku setelah bertemu Hendra.

Isinya membuatku menangis lebih keras daripada ketika menemukan pengakuan Hendra.

Dimas ternyata sudah mengetahui bahwa Hendra mencintaiku.

Malam itu, dia hendak menemui sahabatnya untuk berbicara baik-baik sebelum pernikahan kami.

Dalam surat tersebut, Dimas menulis bahwa dia tidak ingin persahabatan mereka hancur karena dirinya.

Dia bahkan berharap suatu hari Hendra menemukan perempuan yang bisa mencintainya dengan tulus.

Kalimat terakhirnya membuat tanganku gemetar.

“Kalau suatu hari aku tidak bisa menjagamu, aku berharap orang-orang yang mencintaiku akan menjagamu tanpa pernah menjadikanmu milik mereka.”

Aku memeluk surat itu.

Empat puluh dua tahun terlambat.

Namun akhirnya pesan Dimas sampai kepadaku.

Hendra selamat dari serangan jantungnya.

Beberapa minggu kemudian, setelah kondisi medisnya memungkinkan, proses hukum terhadapnya mulai berjalan.

Aku tidak pernah kembali hidup bersamanya.

Anak-anak kami juga harus menghadapi kenyataan bahwa ayah yang mereka kagumi menyimpan sisi gelap yang tidak pernah mereka kenal.

Tidak mudah.

Maya beberapa kali bertanya kepadaku apakah seluruh keluarga kami dibangun di atas sebuah kejahatan.

Aku selalu memberikan jawaban yang sama.

“Tidak.”

Kejahatan Hendra adalah milik Hendra.

Kehidupan anak-anak kami bukan kejahatan.

Cinta yang kuberikan kepada mereka bukan kebohongan.

Setahun kemudian, aku pergi ke makam Dimas seorang diri.

Aku membawa jam tangan emas itu setelah proses pembuktian selesai dan benda tersebut dikembalikan kepada keluarga.

Aku duduk di depan nisannya cukup lama.

Tidak ada kemarahan.

Hanya kesedihan yang anehnya terasa tenang.

“Aku sudah tua sekarang, Mas,” bisikku sambil tersenyum tipis. “Kamu mungkin tidak akan mengenaliku.”

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku meletakkan bunga di atas makam.

“Aku menerima suratmu.”

Air mataku jatuh.

“Maaf aku baru membacanya setelah empat puluh dua tahun.”

Aku tidak meninggalkan jam itu di sana.

Aku membawanya pulang.

Bukan untuk mengenang kematian Dimas, melainkan untuk mengingat sesuatu yang baru kupahami setelah berusia enam puluh dua tahun.

Bahwa seseorang bisa tinggal bersama kita selama puluhan tahun dan tetap menyimpan sebuah ruangan yang tidak pernah kita kenal.

Kadang-kadang ruangan itu benar-benar berada di bawah tanah.

Namun lebih sering, ruangan itu tersembunyi di dalam dirinya.

Dan cinta yang sehat tidak membutuhkan gembok untuk menyembunyikan kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang