Selama dua puluh tujuh tahun menjadi sopir bus kota di Surabaya, Hendra Wijaya selalu percaya bahwa tiga menit hanyalah waktu yang sangat singkat.
Namun pada suatu pagi, tiga menit membuatnya kehilangan pekerjaan.
Dan pada malam yang sama, tiga menit itu hampir membuat seorang nenek kehilangan nyawanya.

Semuanya bermula beberapa bulan sebelumnya, ketika Hendra pertama kali melihat seorang perempuan tua berdiri sendirian di halte dekat kawasan pergudangan Rungkut.
Hari itu matahari Surabaya terasa menyengat. Jalanan dipenuhi suara klakson dan deru kendaraan. Ketika bus rute 502 berhenti, semua penumpang sudah naik kecuali seorang nenek yang masih berdiri kebingungan di trotoar.
Hendra menunggu.
Nenek itu akhirnya naik sambil menggenggam tiang pintu.
“Pak Sopir, bus ini lewat toko kain yang tirainya merah?”
Hendra mengernyit.
“Toko kain di Jalan Kedung Baruk?”
Wajah nenek itu langsung berbinar.
“Iya. Suami saya menunggu di sana.”
Hendra terdiam.
Toko yang dimaksud sudah tutup hampir sepuluh tahun lalu.
Di leher perempuan itu tergantung sebuah kartu kecil bertuliskan nama dan alamat.
Sumiati.
Sukolilo, Surabaya.
Sepanjang perjalanan, Mbah Sumi menanyakan toko kain yang sama tujuh kali. Setiap kali pula Hendra menjawab dengan sabar.
Ketika seluruh penumpang turun di pemberhentian terakhir, Mbah Sumi justru tetap duduk.
“Sudah sampai, Mbah.”
Nenek itu memandang keluar jendela.
“Rumah saya yang mana?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Hendra tercekat.
Setelah menyelesaikan tugas, ia mengantar Mbah Sumi pulang menggunakan sepeda motornya. Rumahnya kecil, berada di sebuah gang sempit di Sukolilo.
Seorang perempuan bernama Bu Lastri keluar tergopoh-gopoh.
“Ya Allah, Mbah Sumi!”
Barulah Hendra mengetahui bahwa ingatan Mbah Sumi semakin memburuk sejak beberapa tahun terakhir.
“Anaknya?”
“Rian tinggal di Dharmahusada,” jawab Bu Lastri pelan. “Jarang kemari. Saya yang biasanya mengawasi, tapi saya juga sudah tua.”
Sejak saat itu, Mbah Sumi mulai menjadi penumpang tetap bus Hendra.
Setiap pagi ia datang membawa tas belanja lusuh. Isinya hampir selalu sama.
Dua jeruk mandarin.
Foto almarhum suaminya.
Kunci rumah berkarat.
Dan buku kecil.
Pada halaman depannya tertulis dengan huruf besar.
NAIK BUS HENDRA. DIA TAHU DI MANA SAYA HARUS TURUN.
Masalahnya, Mbah Sumi tidak pernah bisa berjalan cepat.
Hendra akhirnya terbiasa menunggu dua atau tiga menit.
Awalnya penumpang memaklumi.
Lama-lama mereka kesal.
“Pak, saya mau kerja!”
“Kalau semua penumpang ditunggu begini, kapan sampainya?”
Hendra hanya meminta maaf.
Sampai suatu pagi, seorang penumpang bernama Roni merekam semuanya.
Dalam video yang diunggah ke media sosial, terlihat bus berhenti cukup lama sementara Hendra berdiri di pintu menunggu Mbah Sumi.
“Lihat sendiri. Puluhan orang terlambat cuma gara-gara sopir seenaknya.”
Video itu menyebar dengan cepat.
Komentar berdatangan.
Ada yang membela Hendra, tetapi jauh lebih banyak yang mempertanyakan profesionalitasnya.
Keesokan harinya, Pak Bagas, kepala operasional depo, memanggilnya.
“Kamu tahu berapa banyak keluhan yang masuk?”
Hendra menunduk.
“Saya cuma menunggu seorang lansia, Pak.”
“Tugasmu mengemudi. Bukan mengadopsi orang tua.”
Hendra mengepalkan tangan.
“Tiga menit saja.”
Pak Bagas menatap tajam.
“Tiga menit di jam sibuk bisa menjadi sepuluh menit di perjalanan. Sepuluh menit dikali puluhan perjalanan berarti sistem kita kacau.”
Hendra tidak bisa membantah.
Dia membutuhkan pekerjaan itu. Istrinya, Yuni, berjualan makanan kecil dari rumah. Putrinya sedang kuliah semester akhir dan masih membutuhkan biaya.
Hendra berjanji akan lebih disiplin.
Namun beberapa hari kemudian, Mbah Sumi muncul dengan sandal jepit di kaki kanan dan selop hitam di kaki kiri.
“Mbah sudah sarapan?”
“Belum. Suami saya sedang beli nasi uduk.”
Hendra membeku.
Ia tahu suami Mbah Sumi sudah meninggal dua belas tahun lalu.
Akhirnya bekal makan siangnya sendiri diberikan kepada nenek itu.
Sore harinya, Hendra mendatangi rumah Rian.
Seorang pria sekitar empat puluh tahun muncul dari balik pagar.
“Ibu Anda semakin sering tersesat.”
“Ada tetangga.”
“Bu Lastri juga sudah enam puluh delapan tahun.”
Wajah Rian berubah dingin.
“Saya kerja, Pak. Saya juga punya keluarga.”
“Saya mengerti. Tapi ibu Anda membutuhkan pengawasan.”
Rian mendengus.
“Anda siapa mengatur keluarga saya?”
“Saya cuma khawatir.”
“Kalau begitu jangan. Anda sopir bus. Urus saja kemudi Anda.”
Pagar ditutup di depan wajah Hendra.
Dua minggu kemudian, surat peringatan terakhir datang.
Pak Bagas meletakkannya di meja.
“Sekali lagi busmu terlambat karena menunggu nenek itu, selesai.”
Keesokan paginya, bus 502 tiba di halte Rungkut.
Mbah Sumi belum ada.
Hendra melihat jam.
Satu menit.
Dua menit.
Penumpang mulai gaduh.
“Jalan, Pak!”
Roni ternyata berada di dalam bus lagi. Ponselnya sudah terangkat, merekam.
“Ini dia. Diulang lagi.”
Hendra menatap ujung gang.
Kosong.
Dua menit empat puluh detik.
Kemudian dia melihat sosok kecil muncul.
Mbah Sumi.
Nenek itu berjalan tertatih sambil berpegangan pada tembok.
Jaraknya sekitar tiga puluh meter.
Ponsel Hendra berdering.
Pak Bagas.
“Hendra, saya lihat GPS busmu.”
“Pak, sebentar saja.”
“Tidak ada sebentar. Jalan sekarang atau kamu saya pecat.”
Hendra menatap kaca depan.
Lalu kaca spion.
Ia membayangkan istrinya.
Biaya kuliah putrinya.
Tagihan rumah.
Dua puluh detik.
Mbah Sumi mencoba mempercepat langkah.
Sepuluh detik.
“Hendra!”
Dengan tangan gemetar, Hendra menutup pintu.
Bus bergerak.
Di kaca spion, ia melihat Mbah Sumi mengangkat tangan.
Nenek itu mencoba berlari.
Kemudian tersandung.
Tubuhnya jatuh di tepi jalan.
Refleks kaki Hendra hampir menginjak rem.
Namun teriakan penumpang membuatnya terus melaju.
Sepanjang hari, bayangan itu tidak meninggalkan pikirannya.
Sore harinya, Hendra dipanggil kembali.
Ternyata laporan lama yang menumpuk dan video terbaru Roni sudah sampai ke kantor pusat.
Ia tetap diskors sambil menunggu keputusan akhir.
Hendra pulang dengan seragam yang masih melekat di tubuh.
Pukul sembilan malam, pintu rumahnya digedor keras.
Bu Lastri berdiri di sana sambil menangis.
“Nak Hendra, Mbah Sumi hilang.”
Darah Hendra seakan berhenti mengalir.
“Bagaimana bisa?”
“Dia naik bus lain sore tadi. Katanya mau cari bus Nak Hendra.”
Menurut informasi petugas terminal, Mbah Sumi kebingungan ketika diminta menyebutkan alamat rumahnya. Karena bus harus kembali beroperasi, ia akhirnya turun di terminal ujung.
Rekaman CCTV menunjukkan Mbah Sumi berjalan meninggalkan terminal pukul tujuh lewat dua belas menit.
Sendirian.
Menuju jalan lingkar luar.
Hendra langsung mengambil jaket.
Malam itu pencarian dimulai.
Bu Lastri menghubungi warga. Putri Hendra menyebarkan foto Mbah Sumi ke media sosial. Polisi dan petugas keamanan terminal ikut mendapat laporan.
Hendra mengendarai motor menyusuri jalan yang gelap.
Ia berhenti di warung, minimarket, pos keamanan, dan pom bensin.
Tidak ada.
Pukul sebelas malam, hujan mulai turun.
Hendra menelepon Rian.
“Ibu Anda hilang.”
Beberapa detik sunyi.
“Apa?”
“Saya kirim lokasi. Datang sekarang.”
Untuk pertama kalinya, suara Rian terdengar panik.
Menjelang tengah malam, mereka menemukan satu petunjuk.
Seorang penjaga minimarket melihat seorang nenek berjalan sambil terus membuka buku kecil.
“Dia tanya halte bus 502 di mana.”
Hendra menelan ludah.
“Ke arah mana?”
Penjaga menunjuk jalan lama menuju kawasan industri.
Mereka berpencar.
Sekitar pukul satu dini hari, Hendra melihat sesuatu di bawah lampu jalan.
Sebuah jeruk mandarin.
Ia mengerem mendadak.
Beberapa puluh meter kemudian ada jeruk kedua tergeletak di pinggir jalan.
Jantungnya berdegup semakin keras.
Tidak jauh dari sana terdapat jalan kecil menuju bangunan pertokoan lama.
Sebagian besar sudah kosong.
Hendra turun dari motor.
“Mbah Sumi!”
Tidak ada jawaban.
“Mbah!”
Kemudian terdengar suara pelan dari balik bangunan.
“Pak Sopir?”
Hendra berlari.
Mbah Sumi duduk di depan sebuah ruko kosong dengan pakaian basah kuyup. Lututnya lecet. Tangannya memeluk buku kecil itu erat-erat.
Di atas pintu ruko masih tersisa cat merah yang sudah pudar.
Hendra langsung mengenalinya.
Bekas toko kain.
Tempat yang selama berbulan-bulan terus ditanyakan Mbah Sumi.
“Mbah, kenapa datang ke sini?”
Mbah Sumi menatap pintu toko.
“Suami saya bilang tunggu di sini.”
Hendra berjongkok.
“Mbah, Pak Wiryo sudah tidak ada.”
Mbah Sumi tersenyum kecil.
“Dia pasti datang.”
Beberapa menit kemudian Rian tiba bersama polisi.
Begitu melihat ibunya, ia langsung berlari.
“Ibu!”
Mbah Sumi memandangnya lama.
“Siapa?”
Rian berhenti.
Wajahnya runtuh.
“Saya Rian, Bu.”
Mbah Sumi masih terlihat bingung.
Kemudian tangannya perlahan menyentuh pipi anaknya.
“Rian sudah makan?”
Kalimat itu menghancurkan pertahanan pria tersebut.
Rian berlutut di jalan dan menangis.
Selama bertahun-tahun ia menghindari ibunya bukan hanya karena sibuk.
Ia takut.
Setiap kali melihat kondisi Mbah Sumi, ia teringat ayahnya yang meninggal setelah bertahun-tahun dirawat karena sakit. Ia merasa sudah terlalu lama hidup sebagai anak yang harus mengurus orang tua. Ketika ingatan ibunya mulai hilang, ia memilih menjauh.
“Saya capek, Bu,” bisiknya sambil menangis. “Tapi saya salah.”
Mbah Sumi tidak memahami semuanya.
Ia hanya mengusap kepala anaknya seperti ketika Rian masih kecil.
Keesokan paginya, cerita hilangnya Mbah Sumi tersebar.
Namun kali ini video yang viral bukan rekaman Roni.
Seorang petugas terminal mengunggah rekaman CCTV yang memperlihatkan Mbah Sumi berjalan sendirian sambil memeluk buku bertuliskan nama Hendra.
Orang-orang mulai mencari tahu siapa sopir tersebut.
Roni membaca berita itu di kantor.
Ia terdiam cukup lama.
Sore harinya ia datang ke rumah Hendra.
“Saya mau minta maaf.”
Hendra tidak menjawab.
“Saya pikir Bapak cuma sopir yang tidak disiplin. Saya tidak pernah bertanya kenapa Bapak menunggu.”
Hendra memandangnya.
“Kamu tidak salah karena ingin tiba tepat waktu.”
Roni menunduk.
“Tapi saya salah karena merasa tiga menit saya lebih penting daripada keselamatan orang lain.”
Beberapa hari kemudian, manajemen bus mengadakan evaluasi.
Pak Bagas memanggil Hendra.
“Sanksimu kami cabut.”
Hendra tidak langsung tersenyum.
“Kalau saya kembali, saya punya satu permintaan.”
“Apa?”
“Kita perlu prosedur untuk penumpang lansia yang kebingungan. Sopir tidak boleh dipaksa memilih antara jadwal dan meninggalkan orang yang jelas-jelas membutuhkan bantuan.”
Pak Bagas terdiam.
Kasus Mbah Sumi akhirnya mendorong perusahaan membuat sistem pelaporan penumpang rentan. Pengemudi dapat menghubungi pusat kendali ketika menemukan lansia yang tersesat, sementara petugas khusus akan membantu menghubungi keluarga atau layanan terkait tanpa mengacaukan seluruh rute.
Rian juga membawa ibunya tinggal bersamanya.
Ia memasang gelang identitas di tangan Mbah Sumi dan mengatur pendamping untuk menjaganya ketika keluarga bekerja.
Sebulan kemudian, Hendra kembali mengemudikan bus 502.
Pada suatu pagi, ia berhenti di halte Rungkut.
Di sana tidak ada Mbah Sumi.
Hendra sempat merasa aneh.
Kemudian seseorang mengetuk pintu.
Rian berdiri sambil menggandeng ibunya.
Mbah Sumi naik perlahan.
Di tangannya ada dua jeruk mandarin.
Ia duduk di kursi depan dan memandang Hendra beberapa saat.
Hendra tersenyum.
“Selamat pagi, Mbah.”
Nenek itu tidak menjawab.
Tatapannya kosong seolah ia benar-benar tidak mengenali siapa pun di depannya.
Hendra merasakan dadanya sesak.
Mungkin ingatan tentang dirinya akhirnya ikut menghilang.
Namun ketika bus hendak berjalan, Mbah Sumi membuka tasnya dan mengeluarkan buku kecil.
Halaman depannya sudah diganti.
Tulisan lama telah dicoret.
Di bawahnya terdapat tulisan tangan baru milik Rian.
JIKA SAYA LUPA JALAN PULANG, HUBUNGI ANAK SAYA.
Di bawah tulisan itu terdapat satu kalimat lain.
Tulisan tangan yang bergetar dan tidak rapi.
TAPI JANGAN LUPAKAN PAK HENDRA. DIA PERNAH MENUNGGU SAYA.
Hendra menatap tulisan itu lama.
“Mbah masih ingat saya?”
Mbah Sumi menatap wajahnya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu nenek itu mengambil satu jeruk dari tas dan meletakkannya di dekat kemudi.
“Buat Pak Sopir.”
Hendra tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Pintu bus menutup.
Kali ini tidak ada penumpang yang mengeluh.
Roni yang kebetulan kembali berada di dalam bus justru melihat jam tangannya, lalu mematikan layar ponsel.
Bus terlambat tiga menit pagi itu.
Tetapi untuk pertama kalinya, tak seorang pun merasa kehilangan waktu.
Karena akhirnya mereka memahami bahwa ketepatan waktu memang penting, tetapi ada saat-saat ketika nilai tiga menit tidak dihitung dari seberapa cepat seseorang sampai ke tujuan.
Melainkan dari siapa yang tidak kita tinggalkan sendirian di belakang.
