IBU KANDUNGKU MENGUSIRKU DALAM 24 JAM DEMI ADIK KESAYANGANNYA TAPI DIA TIDAK TAHU BAPAK SUDAH MEMBALIK NAMA RUMAH ITU ATAS NAMAKU!

Tepat pukul delapan pagi, suara rem mobil di depan pagar membuat Karin yang sedang menikmati kopi di teras menoleh dengan kesal.

Ia mengira Maya kembali untuk mengambil barang yang tertinggal.

Namun senyum di wajahnya langsung menghilang.

Sebuah mobil dinas berhenti di depan rumah, disusul sedan hitam. Dua petugas turun bersama seorang pria berjas abu-abu yang membawa tas dokumen tebal.

Ibu Ratna keluar dari ruang tamu dengan wajah bingung.

“Ada apa ini?”

Pria berjas itu melangkah mendekati pagar.

“Selamat pagi. Saya Baskoro, kuasa hukum almarhum Bapak Hendra Suryawan sekaligus kuasa hukum Ibu Maya Salsabila.”

Nama Maya membuat wajah Karin berubah.

Rian yang sedang memindahkan lemari ke kamar Maya segera turun ke lantai bawah.

“Kalau soal Maya, dia sudah tidak tinggal di sini,” ujar Karin cepat. “Dia pergi atas kemauannya sendiri.”

Baskoro menatapnya beberapa detik.

“Saya tidak datang untuk membicarakan tempat tinggal Ibu Maya.”

Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Saya datang untuk memastikan tidak ada perubahan penguasaan, pengalihan, penjualan, penyewaan, ataupun tindakan hukum lain terhadap properti ini sebelum seluruh dokumen kepemilikannya diklarifikasi.”

Ibu Ratna tertawa pendek.

“Diklarifikasi bagaimana? Ini rumah saya.”

“Apakah Ibu memiliki sertifikat atas nama Ibu?”

Pertanyaan sederhana itu membuat suasana mendadak sunyi.

Ibu Ratna mengerutkan kening.

“Rumah ini dibeli suami saya setelah kami menikah.”

“Benar,” jawab Baskoro. “Tetapi itu tidak otomatis menjawab siapa pemegang hak yang tercatat saat ini.”

Karin maju selangkah.

“Pak, jangan menakut-nakuti ibu saya. Kalau Maya menyewa pengacara hanya karena sakit hati disuruh pindah, bilang kepadanya jangan kekanak-kanakan.”

Baskoro tidak membalas sindiran itu.

Ia hanya menyerahkan salinan dokumen.

Tangan Ibu Ratna bergetar saat membaca nama yang tercetak di sana.

Maya Salsabila.

“Tidak mungkin.”

“Dokumen asli dan riwayat peralihannya sedang diverifikasi melalui prosedur hukum,” kata Baskoro. “Almarhum Bapak Hendra telah menyiapkan pengaturan atas rumah ini sebelum meninggal dunia.”

Wajah Ibu Ratna memucat.

Karin merebut lembar itu.

“Maya memalsukannya!”

Baskoro mengangkat pandangan.

“Tuduhan pemalsuan adalah tuduhan serius. Karena itu, sebaiknya Ibu berhati-hati.”

Karin terdiam.

Di dalam rumah, dua anaknya yang sejak kemarin memilih-milih kamar kini berdiri di tangga, memandang orang dewasa dengan kebingungan.

Rian mengambil dokumen dari tangan istrinya.

Semakin lama ia membaca, semakin tegang wajahnya.

“Karin,” katanya pelan, “kamu bilang rumah ini nanti akan diberikan Ibu kepada kita.”

“Memang!”

“Tapi kalau dokumen ini benar…”

“Pasti palsu!”

Ibu Ratna tiba-tiba terduduk di kursi teras.

Untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu, ia teringat sebuah kejadian yang selama ini dianggapnya tidak penting.

Sekitar enam bulan sebelum meninggal, Hendra pernah memintanya datang ke kantor notaris.

Ratna menolak.

Saat itu ia sedang sibuk menemani Karin mencari sekolah baru untuk anaknya.

Hendra pulang malam itu membawa sebuah map cokelat.

“Kamu tidak mau tahu apa yang baru saja aku urus?” tanyanya.

Ratna bahkan tidak menoleh dari ponsel.

“Kalau soal rumah, tanah, atau dokumen, urus saja sendiri. Aku pusing kalau lihat kertas begitu.”

Hendra hanya diam.

Kini kalimat itu terdengar seperti suara yang kembali dari masa lalu.

Siang harinya, Maya datang.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Jaket rajut biru milik bapaknya terlipat rapi di dalam tas kain yang ia bawa.

Begitu melihat kakaknya, Karin langsung menghampiri.

“Kamu puas sekarang?”

Maya berhenti.

“Puas karena apa?”

“Karena mempermalukan keluarga sendiri!”

Maya memandang rumah yang kemarin terpaksa ia tinggalkan.

“Yang membuang barang-barangku ke halaman bukan aku, Karin.”

“Jangan sok jadi korban!”

“Cukup.”

Suara Baskoro membuat Karin berhenti.

Mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga.

Ruangan itu masih sama seperti ketika Bapak Hendra hidup. Foto keluarga besar masih tergantung di dinding, meskipun foto Maya yang sebelumnya berada di meja samping sofa sudah dipindahkan entah ke mana.

Baskoro meletakkan map cokelat di meja.

Map yang pernah ditemukan Maya di laci meja kerja bapaknya.

“Pak Hendra meminta saya menyimpan salinan lengkap dokumen ini,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelum meninggal, Hendra telah melakukan penataan atas aset propertinya. Rumah di Jagakarsa menjadi bagian dari pengaturan yang menempatkan Maya sebagai penerima manfaat utama dan pihak yang ditunjuk untuk mengelola properti tersebut sesuai dokumen yang dibuatnya.

Ibu Ratna menatap Maya dengan mata merah.

“Kenapa bapakmu melakukan ini diam-diam?”

Maya tidak menjawab.

Baskoro justru membuka amplop lain.

“Pak Hendra meninggalkan surat pribadi. Beliau meminta surat ini dibacakan hanya jika terjadi konflik serius mengenai rumah.”

Karin langsung terdiam.

Baskoro mulai membaca.

Ratna, jika surat ini akhirnya dibuka, berarti ketakutanku benar-benar terjadi.

Aku mengenal kedua anak kita.

Karin selalu membutuhkan perlindungan. Maya selalu menjadi orang yang diminta mengalah.

Sejak kecil, kalau mereka berebut sesuatu, kita meminta Maya menyerah karena dia kakaknya.

Kalau Karin membuat kesalahan, Maya diminta memaklumi karena dia lebih dewasa.

Lama-lama kita mengajarkan sesuatu yang salah kepada mereka.

Kepada Karin, kita mengajarkan bahwa cinta berarti selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kepada Maya, kita mengajarkan bahwa menjadi anak baik berarti terus kehilangan haknya sendiri.

Suara Baskoro terdengar semakin berat.

Maya menunduk.

Tangannya mengepal di pangkuan.

Ratna tidak bergerak.

Baskoro melanjutkan.

Aku tidak memberikan tanggung jawab atas rumah ini kepada Maya karena aku lebih mencintainya.

Aku melakukannya karena selama bertahun-tahun aku melihat siapa yang menjaga rumah ini ketika atap bocor, siapa yang membayar kewajiban ketika keuanganku mulai bermasalah, dan siapa yang tetap tinggal merawat kita tanpa pernah bertanya akan mendapat bagian berapa.

Namun ada satu permintaanku kepada Maya.

Jangan pernah menggunakan rumah ini untuk membalas dendam.

Rumah adalah tempat keluarga pulang, bukan senjata untuk saling menghukum.

Ketika surat itu selesai dibacakan, tidak ada seorang pun berbicara.

Ratna menutup wajah dengan kedua tangannya.

Karin berdiri tiba-tiba.

“Jadi selama ini Bapak menganggap aku beban?”

“Tidak,” kata Maya.

Karin menoleh tajam.

“Jangan pura-pura membelaku!”

“Aku tidak membelamu. Aku hanya tidak mau kamu memelintir kata-kata Bapak.”

Maya akhirnya menatap adiknya.

“Bapak tidak bilang kamu beban. Bapak bilang kamu terlalu sering dilindungi.”

Air mata mulai memenuhi mata Karin.

“Bedanya apa?”

“Bedanya besar.”

Maya menarik napas.

“Kamu tidak salah karena pernah membutuhkan bantuan. Tapi kamu salah ketika mulai menganggap bantuan sebagai sesuatu yang wajib diberikan orang lain.”

Rian menundukkan kepala.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

“Sebenarnya aku tidak kehilangan pekerjaan.”

Karin menoleh cepat.

“Apa?”

Rian menelan ludah.

“Aku mengundurkan diri.”

Wajah Karin berubah.

“Kamu bilang perusahaan melakukan PHK!”

“Aku malu bilang yang sebenarnya.”

Rian mengusap wajahnya.

Ia menjelaskan bahwa beberapa bulan terakhir ia mencoba menjalankan bisnis bersama seorang teman. Ia menggunakan tabungan keluarga tanpa sepengetahuan Karin. Bisnis itu gagal. Ketika kontrakan mereka hampir habis, ia panik.

Karena itulah ia setuju ketika Karin mengatakan mereka bisa tinggal di rumah Ratna.

“Kamu bohong kepadaku?” suara Karin pecah.

“Aku takut.”

“Jadi semua ini terjadi karena kamu takut?”

“Bukan cuma karena aku.”

Rian akhirnya menatap istrinya.

“Kamu sendiri yang bilang kalau kita masuk ke rumah ini sekarang, lama-lama Ibu pasti menyerahkannya kepada kita.”

Ratna mengangkat kepala perlahan.

“Karin?”

Karin membeku.

Rahasia yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka.

Ternyata kepindahan mereka bukan hanya karena membutuhkan tempat tinggal sementara.

Karin memang berharap rumah itu kelak menjadi miliknya.

Ia yakin Maya, seperti biasa, akan mengalah.

Namun kali ini Maya tidak melakukannya.

Karin menangis.

Untuk pertama kalinya, tangisnya bukan tangis yang dibuat-buat untuk memperoleh simpati.

“Aku cuma takut,” katanya lirih. “Seumur hidup aku selalu merasa Kak Maya lebih hebat. Nilainya lebih bagus. Kariernya lebih jelas. Bapak selalu percaya kepadanya. Aku punya suami dan anak, tapi hidupku tetap berantakan.”

Maya menatap adiknya cukup lama.

“Karena itu kamu ingin mengambil satu-satunya tempat yang aku anggap rumah?”

Karin tidak mampu menjawab.

Ratna berjalan mendekati Maya.

“Maya…”

Namun Maya mundur satu langkah.

Gerakan kecil itu membuat Ratna berhenti.

“Aku tidak akan mengusir Ibu,” kata Maya.

Ratna menangis semakin keras.

“Tapi aku juga tidak akan kembali tinggal di sini seperti sebelumnya.”

“Maksudmu?”

“Selama tiga tahun aku mengira menjaga rumah ini berarti menjaga keluarga kita. Ternyata aku salah. Aku membayar tagihan, memperbaiki atap, mengurus pajak, menemani Ibu ke dokter, dan tetap tinggal di kamar yang sama sejak kuliah.”

Maya tersenyum tipis.

“Tapi mungkin aku sebenarnya cuma takut memulai hidupku sendiri.”

Ia kemudian menatap Karin dan Rian.

“Kalian boleh tinggal sementara selama tiga bulan.”

Karin terperanjat.

“Tiga bulan?”

“Cukup untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal. Selama di sini, biaya rumah dibagi secara jelas. Tidak ada lagi cerita satu orang membayar semuanya sementara yang lain merasa berhak.”

Rian mengangguk.

“Terima kasih, Kak.”

“Jangan berterima kasih dulu. Gunakan tiga bulan itu dengan benar.”

Maya kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Jaket rajut biru tua milik bapaknya.

Ia berjalan menuju lemari kecil di dekat ruang keluarga dan menggantung jaket itu pada gantungan kayu.

Ratna memperhatikannya.

“Apa kamu tidak mau membawa jaket itu?”

Maya menggeleng.

“Biar tetap di sini.”

“Maya…”

“Karena ini rumah Bapak juga.”

Tiga bulan berikutnya mengubah semuanya.

Rian mendapat pekerjaan sebagai supervisor operasional di sebuah perusahaan logistik di Bekasi. Ia menjual motor mahal yang dibelinya saat bisnisnya masih berjalan dan menggunakan uangnya untuk melunasi sebagian utang.

Karin mulai bekerja kembali setelah hampir tujuh tahun menjadi ibu rumah tangga. Ia menerima pekerjaan administrasi di sebuah klinik dekat rumah.

Hubungan antara kedua saudari itu belum sepenuhnya pulih.

Ada luka yang membutuhkan waktu.

Namun setidaknya mereka mulai berbicara tanpa menggunakan Ibu Ratna sebagai perantara.

Sementara Maya menyewa sebuah apartemen kecil di Jakarta Barat.

Anehnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki rumah meskipun tempat itu bukan miliknya.

Ia membeli tanaman sendiri.

Memilih warna tirai sendiri.

Menaruh meja kerja di dekat jendela.

Dan setiap pagi, ia membuat kopi hitam seperti yang biasa dilakukan bapaknya.

Tiga bulan kemudian, Karin dan keluarganya pindah.

Pada hari kepindahan itu, Ibu Ratna berdiri di depan pagar sambil menangis melihat mobil membawa barang-barang putrinya.

Namun kali ini tidak ada barang yang dilemparkan ke halaman.

Maya datang membantu.

Menjelang sore, ketika semua barang sudah terangkut, Ratna memanggil kedua putrinya ke ruang keluarga.

“Ada sesuatu yang ingin Ibu katakan.”

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari lemari.

Di dalamnya terdapat jam tangan tua milik Hendra.

“Ibu pikir selama ini rumah ini adalah warisan terbesar yang ditinggalkan bapak kalian.”

Ratna menatap kedua putrinya.

“Ternyata bukan.”

Ia menyerahkan jam itu kepada Maya.

“Yang paling besar adalah kesempatan untuk melihat kesalahan kita sebelum terlambat memperbaikinya.”

Maya tidak langsung menerima.

“Berikan kepada Karin.”

Karin terkejut.

“Kenapa aku?”

Maya tersenyum.

“Karena jaket Bapak sudah aku ambil.”

Ratna mengernyit.

“Tapi jaketnya masih tergantung di sana.”

Maya menoleh.

Gantungan kayu itu kosong.

Mereka bertiga saling berpandangan.

Ratna tiba-tiba tertawa kecil di sela tangisnya.

“Dasar bapakmu. Bahkan setelah meninggal masih bikin orang bingung.”

Namun ternyata bukan itu kejutan terakhir.

Ketika mereka memeriksa lemari, sebuah amplop kecil jatuh dari saku jaket lain yang tergantung di sebelahnya.

Tulisan tangan Hendra masih terlihat jelas di bagian depan.

Untuk Ratna, Maya, dan Karin.

Maya membuka amplop itu.

Di dalamnya hanya terdapat secarik kertas.

Jika kalian membaca ini bersama-sama, berarti rumah itu berhasil melakukan tugas terakhirnya.

Karin mengernyit.

Maya melanjutkan membaca.

Rumah ini tidak pernah kusiapkan untuk menentukan siapa anak yang paling kusayangi.

Aku hanya ingin tahu apakah setelah aku pergi, kalian masih bisa memilih menjadi keluarga ketika uang mulai membuat kalian saling membenci.

Kalau kalian masih membaca surat ini dalam satu ruangan, aku rasa jawabannya sudah kutemukan.

Ratna menangis.

Karin menutup mulutnya.

Sedangkan Maya menatap kursi kosong tempat bapaknya dahulu duduk setiap Minggu pagi.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, kenangan tentang lelaki itu tidak lagi terasa seperti luka.

Maya akhirnya memahami mengapa bapaknya tidak pernah mengatakan bahwa rumah adalah warisan.

Bagi Hendra, rumah hanyalah ujian.

Dan pagi ketika Ratna membuang jaket tua itu ke halaman, mereka hampir gagal.

Bukan karena siapa yang tercatat sebagai pemilik.

Bukan karena siapa yang membayar cicilan.

Melainkan karena mereka hampir memilih sebuah bangunan daripada satu sama lain.

Maya melipat surat itu perlahan.

“Bu, kopinya masih ada?”

Ratna menghapus air mata.

“Ada.”

“Kopi hitam?”

Ratna tersenyum.

“Seperti punya bapakmu.”

Beberapa menit kemudian, tiga perempuan itu duduk di teras.

Di halaman yang sama tempat barang-barang Maya pernah dilemparkan.

Di rumah yang sama yang nyaris menghancurkan hubungan mereka.

Matahari sore jatuh di antara daun pohon jeruk nipis yang ditanam Hendra bertahun-tahun lalu.

Tidak ada yang membicarakan sertifikat.

Tidak ada yang membicarakan warisan.

Tidak ada yang membicarakan siapa yang paling berhak.

Dan di antara aroma kopi hitam yang perlahan memenuhi teras, Maya akhirnya mengerti pesan terakhir bapaknya.

Kadang-kadang seseorang harus berani meninggalkan sebuah rumah untuk mengetahui siapa yang benar-benar masih ingin ia sebut keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang