Aku melihat sepasang mata sedang menatap lurus ke arahku.
Untuk sesaat, otakku seperti berhenti bekerja.
Mata itu tidak berkedip.
Ada di antara bayangan gelap, tepat di bawah ranjang tempat suamiku sedang tertidur.
“AAAA!”
Jeritanku memecah keheningan rumah.

Aku tersentak mundur begitu keras sampai punggungku membentur meja rias. Botol parfum jatuh dan pecah di lantai.
Fajar langsung terbangun.
“Alya!”
Ia bangkit dengan wajah panik.
“Ada orang! Di bawah ranjang!”
Aku menunjuk dengan tangan gemetar.
Wajah Fajar mendadak berubah.
Bukan sekadar terkejut.
Ia tampak ketakutan.
Fajar turun dari ranjang, lalu berjongkok dan menarik seprai.
“Keluar!”
Tidak ada jawaban.
“Keluar sekarang!”
Beberapa detik kemudian, sesuatu bergerak.
Gesek… gesek…
Lalu sebuah tangan kecil muncul dari bawah ranjang.
Aku menutup mulut.
Seorang anak perempuan merangkak keluar perlahan.
Usianya mungkin sekitar delapan atau sembilan tahun. Rambutnya kusut, kausnya kebesaran, dan kedua lututnya penuh debu.
Yang paling membuatku bingung, anak itu sama sekali tidak terlihat seperti pencuri yang ketahuan.
Ia justru menatap Fajar seolah mengenalnya.
“Maaf, Mas…”
Suara kecil itu membuat darahku serasa berhenti mengalir.
Mas?
Aku menoleh kepada suamiku.
Fajar pucat.
“Siapa dia?”
Tidak ada jawaban.
“Mas Fajar, aku tanya siapa anak ini?”
Suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Jeritanku rupanya membangunkan orang-orang yang belum tidur.
Pintu diketuk keras.
“Alya? Fajar? Ada apa?”
Itu suara Bu Rini, ibu mertuaku.
Fajar buru-buru berdiri.
“Enggak apa-apa, Bu!”
Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, pintu terbuka.
Bu Rini masuk bersama Dimas, adik Fajar.
Begitu melihat anak perempuan di samping ranjang, wajah Bu Rini seketika kehilangan warna.
“Laras?”
Aku menatap mereka satu per satu.
Bu Rini mengenalnya.
Fajar mengenalnya.
Berarti hanya aku yang tidak tahu.
Anak bernama Laras itu menunduk.
“Maaf, Mbah.”
Mbah?
Aku merasa dadaku sesak.
“Ada yang mau menjelaskan kepadaku sekarang?”
Tak seorang pun menjawab.
Aku menatap Fajar.
Lelaki yang beberapa jam lalu mengucapkan ijab kabul di depan ayahku kini bahkan tidak berani menatap mataku.
“Dia anak siapa?”
Fajar membuka mulut, tetapi Bu Rini mendahuluinya.
“Sudah malam, Alya. Besok saja kita bicarakan.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Besok?”
Aku menunjuk Laras.
“Pada malam pertama pernikahanku ada anak bersembunyi di bawah ranjang, memanggil suamiku Mas dan memanggil Ibu Mbah, lalu Ibu bilang kita bicara besok?”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Laras mulai menangis.
Fajar akhirnya bersuara.
“Alya, dia anakku.”
Aku tidak langsung memahami kalimat itu.
Seolah kata-katanya sampai ke telingaku satu per satu, tetapi otakku menolak menyusunnya menjadi makna.
“Apa?”
“Laras anakku.”
Kakiku terasa lemas.
Aku duduk di kursi meja rias.
Dua tahun.
Aku mengenal Fajar hampir dua tahun.
Kami bertunangan selama enam bulan.
Aku berkali-kali datang ke rumah ini.
Namun tidak pernah sekali pun ada yang mengatakan bahwa Fajar memiliki seorang anak.
“Kamu pernah menikah?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Fajar menunduk.
“Laras lahir sebelum aku menikah.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Siapa ibunya?”
“Namanya Sinta.”
“Di mana dia?”
Fajar terdiam.
Bu Rini tiba-tiba menarik Laras ke dekatnya.
“Sudahlah. Anak kecil jangan dengar pembicaraan orang dewasa.”
Ia membawa Laras keluar.
Dimas ikut pergi tanpa mengatakan apa pun.
Tinggallah aku dan Fajar.
Aku merasa kamar pengantin itu mendadak seperti ruangan asing.
“Kenapa kamu menyembunyikannya?”
“Aku takut kamu pergi.”
Jawabannya membuat dadaku semakin sakit.
“Jadi solusinya berbohong sampai kita menikah?”
“Aku mau cerita.”
“Kapan? Setelah aku hamil? Setelah sepuluh tahun?”
Fajar mengusap wajahnya.
“Aku malu dengan masa laluku.”
“Yang kamu sembunyikan bukan masa lalu, Mas. Dia manusia.”
Fajar terdiam.
Aku memandang pintu tempat Laras tadi keluar.
“Kenapa dia bersembunyi di bawah ranjang?”
Pertanyaan itu membuat Fajar mengangkat kepala.
“Aku enggak tahu.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa ia benar-benar mengatakan kebenaran.
Aku keluar dari kamar.
Bu Rini sedang duduk di ruang tengah bersama Laras. Begitu melihatku, perempuan itu berdiri.
“Alya…”
Aku mengabaikannya dan berjongkok di depan Laras.
“Laras, boleh Kak Alya tanya sesuatu?”
Ia mengangguk ragu.
“Kenapa tadi sembunyi di bawah ranjang?”
Anak itu menatap Bu Rini.
“Jawab saja,” kataku lembut.
Laras menggenggam ujung kausnya.
“Aku mau ketemu Papa.”
Papa.
Aku menoleh ke arah Fajar yang baru keluar dari kamar.
Wajahnya menegang.
“Kenapa harus sembunyi?”
Laras kembali diam.
Lalu kalimat berikutnya keluar begitu pelan.
“Karena Mbah bilang aku enggak boleh kelihatan sama Kak Alya.”
Aku berdiri perlahan.
Bu Rini segera menyela.
“Ibu cuma takut kamu salah paham.”
“Salah paham tentang apa? Bahwa suami saya punya anak?”
Bu Rini menghela napas.
“Kami berniat memberi tahu setelah keadaan tenang.”
“Keadaan tenang?”
Aku hampir tidak mengenali suaraku sendiri.
“Kalian menyembunyikan seorang anak agar pernikahan ini tetap berlangsung.”
Fajar mencoba mendekat.
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk di teras belakang sampai menjelang subuh.
Sekitar pukul empat, terdengar langkah kaki kecil.
Laras datang membawa selimut.
“Kak Alya dingin?”
Aku menatapnya.
Ia menyodorkan selimut kepadaku.
Entah mengapa, justru perhatian kecil dari anak yang seharusnya menjadi sumber kemarahanku membuat pertahananku runtuh.
Aku menerima selimut itu.
“Duduk sini.”
Laras duduk di sampingku.
“Laras tinggal di mana?”
“Sama Mbah.”
Aku terkejut.
“Di rumah ini?”
Ia mengangguk.
“Terus kenapa Kak Alya enggak pernah lihat?”
“Aku biasanya di rumah Tante Nisa kalau Kak Alya datang.”
Aku merasa mual.
Berarti semuanya direncanakan.
“Siapa Tante Nisa?”
“Adiknya Mbah.”
“Laras tahu Kak Alya mau menikah sama Papa?”
“Tahu.”
“Sedih?”
Laras berpikir sebentar.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Papa bilang kalau sudah menikah, nanti aku punya Mama lagi.”
Aku menatapnya.
Fajar bahkan telah menjanjikan sesuatu kepadanya tanpa pernah bertanya kepadaku.
“Tapi kemarin Mbah bilang aku jangan keluar kamar belakang. Katanya Kak Alya belum tahu soal aku.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku takut Papa nanti pergi sama Kak Alya terus enggak pulang.”
“Makanya sembunyi di bawah ranjang?”
Ia mengangguk.
“Aku cuma mau lihat Papa.”
Dadaku terasa seperti diremas.
Aku tidak marah kepada Laras.
Bagaimana mungkin?
Ia hanya seorang anak yang takut kehilangan satu-satunya orang tua yang masih dikenalnya.
“Di mana ibumu?”
Laras menatap lantai.
“Mama sudah enggak ada.”
Aku terdiam.
Keesokan paginya aku meminta Fajar menceritakan semuanya.
Sinta adalah pacarnya saat kuliah. Mereka berpisah setelah Sinta hamil karena keluarga Sinta menolak Fajar yang saat itu belum memiliki pekerjaan tetap.
Setelah Laras lahir, Sinta membesarkannya sendiri.
Empat tahun kemudian Sinta meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Laras kemudian tinggal bersama keluarga Fajar.
“Kenapa kamu enggak pernah bilang?” tanyaku.
Fajar menatap meja.
“Dua perempuan sebelum kamu pergi begitu tahu aku punya anak.”
Aku mengangguk pelan.
“Jadi kamu belajar bahwa cara mendapatkan istri adalah dengan menyembunyikan anakmu?”
“Aku takut kehilangan kamu.”
“Dan sekarang kamu mungkin kehilangan aku karena kebohonganmu.”
Aku pulang ke rumah orang tuaku siang itu.
Aku tidak langsung meminta cerai.
Namun aku juga tidak kembali.
Selama hampir tiga minggu, Fajar datang berkali-kali. Aku menolak menemuinya.
Sampai suatu sore, bukan Fajar yang datang.
Laras.
Ia berdiri di depan rumah bersama Dimas sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Aku mau kasih ini ke Kak Alya.”
Di dalamnya ada gambar yang dibuat dengan pensil warna.
Tiga orang berdiri di depan sebuah rumah.
Seorang laki-laki, seorang perempuan, dan seorang anak kecil.
Di atas kepala perempuan itu tertulis, Mama Alya.
Aku menelan ludah.
“Aku salah ya waktu sembunyi di bawah ranjang?”
Pertanyaan itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.
Aku berjongkok.
“Bukan Laras yang salah.”
“Terus kenapa Kak Alya pergi?”
Aku tidak mampu menjawab.
Malam itu aku memikirkan banyak hal.
Tentang Fajar.
Tentang kebohongannya.
Tentang seorang anak yang dijadikan rahasia oleh orang-orang dewasa karena mereka takut menghadapi konsekuensi.
Dua hari kemudian aku meminta bertemu Fajar.
Kami duduk di sebuah kedai kopi kecil dekat Jalan Kaliurang.
“Aku belum tahu apakah aku bisa memaafkanmu,” kataku.
Fajar mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Tapi kalau pernikahan ini mau dilanjutkan, ada satu syarat.”
“Apa pun.”
“Jangan pernah sembunyikan Laras lagi.”
Matanya memerah.
“Dia anakmu. Bukan aib.”
Fajar menunduk dan menangis.
Namun aku belum selesai.
“Dan jangan jadikan aku pengganti ibunya. Aku akan membangun hubunganku sendiri dengannya. Pelan-pelan.”
Fajar mengangguk berkali-kali.
Kami menjalani konseling pernikahan.
Tidak mudah.
Kepercayaan yang pecah tidak kembali hanya karena permintaan maaf.
Aku marah berkali-kali.
Fajar belajar berhenti menggunakan rasa takut sebagai alasan untuk berbohong.
Bu Rini juga meminta maaf kepadaku.
Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya kembali ke rumah itu.
Laras adalah orang pertama yang menyambutku.
Ia berlari dari ruang tengah, tetapi berhenti beberapa langkah sebelum memelukku.
Seolah takut aku akan menolaknya.
Aku membuka tangan.
Barulah ia berlari memelukku.
“Selamat datang, Kak Alya.”
Aku tersenyum.
“Kok masih Kak?”
Ia terkikik.
“Belum terbiasa.”
Setahun berlalu.
Hubunganku dengan Fajar perlahan membaik.
Suatu malam ketika aku sedang membereskan lemari, aku menemukan kotak tua milik Laras.
Di dalamnya ada foto seorang perempuan.
Sinta.
Aku membalik foto itu dan menemukan tulisan tangan di bagian belakang.
Untuk Fajar. Kalau suatu hari aku tidak ada, jangan pernah membuat Laras merasa bahwa kelahirannya adalah kesalahan kita.
Aku duduk lama sambil memegang foto itu.
Saat itulah Laras masuk.
“Itu Mama.”
Aku mengangguk.
“Laras kangen?”
“Kadang.”
Ia duduk di sampingku.
“Kak Alya marah kalau aku masih sayang Mama?”
Aku langsung memeluknya.
“Kenapa harus marah?”
“Karena sekarang aku punya Kak Alya.”
Aku mengusap rambutnya.
“Sayang sama orang baru enggak berarti harus berhenti sayang sama orang yang sudah pergi.”
Laras tersenyum.
Beberapa minggu kemudian, untuk pertama kalinya ia memanggilku Mama.
Bukan karena aku memintanya.
Bukan karena Fajar mengajarinya.
Pagi itu aku sedang membuat sarapan ketika tanganku tidak sengaja menyentuh wajan panas.
Aku spontan berteriak kecil.
Laras yang sedang mengerjakan PR langsung berlari.
“Mama, sakit?”
Aku membeku.
Ia juga membeku setelah menyadari apa yang baru saja diucapkannya.
Wajahnya memerah.
“Maaf…”
Aku berjongkok dan memeluknya erat.
“Enggak perlu minta maaf.”
Dari pintu dapur, Fajar berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Saat itu aku baru mengerti sesuatu.
Malam pertama pernikahanku memang tidak dimulai dengan bunga, lilin, atau percakapan romantis seperti yang pernah kubayangkan.
Malam itu dimulai dengan suara gesekan dari bawah ranjang dan sepasang mata yang membuatku menjerit ketakutan.
Aku mengira monster sedang bersembunyi di bawah tempat tidurku.
Ternyata bukan.
Yang bersembunyi di sana hanyalah seorang anak kecil yang takut kehilangan ayahnya.
Monster sebenarnya adalah ketakutan orang-orang dewasa.
Ketakutan akan penolakan.
Ketakutan akan masa lalu.
Ketakutan mengatakan kebenaran.
Dan ketakutan itulah yang hampir menghancurkan keluarga kami bahkan sebelum keluarga itu benar-benar dimulai.
Bertahun-tahun kemudian, ranjang yang sama masih berada di kamar kami.
Suatu hari ketika mengganti seprai, aku mendengar suara dari bawahnya.
Gesek… gesek…
Aku langsung terdiam.
Kenangan malam pertama itu kembali begitu jelas.
Aku membungkuk dan mengangkat seprai.
Namun kali ini tidak ada sepasang mata ketakutan.
Hanya sebuah kotak tua.
Aku menariknya keluar.
Di dalamnya terdapat gambar yang pernah diberikan Laras kepadaku ketika aku pulang ke rumah orang tuaku.
Tiga orang berdiri di depan rumah.
Papa.
Laras.
Dan Mama Alya.
Di bawah gambar itu ada tulisan baru yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Tulisan tangan Laras yang kini sudah jauh lebih rapi.
Terima kasih karena malam itu Mama melihatku.
Bukan cuma menemukan tempat persembunyianku.
Aku duduk di lantai sambil menangis.
Karena akhirnya aku memahami satu hal.
Terkadang rahasia paling menakutkan bukanlah sesuatu yang kita temukan dalam kegelapan.
Melainkan seseorang yang sengaja disembunyikan di sana, menunggu cukup lama sampai ada yang berani menyalakan cahaya.
