“Tolong… jangan bakar aku lagi. Aku janji akan jadi anak baik.”
Suara itu begitu lirih hingga Ardi Pratama sempat mengira telinganya salah menangkap.
Namun ketika terdengar isakan kecil dari lantai dua, koper di tangannya jatuh begitu saja.
“Raka?”
Tak ada jawaban.

Ardi menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Ia baru pulang dari perjalanan dinas di Surabaya sehari lebih awal. Selama tiga hari terakhir, kegelisahan aneh terus menghantuinya. Pagi tadi, tanpa alasan yang bisa dijelaskan, ia membatalkan satu pertemuan dan mengambil penerbangan pertama menuju Jakarta.
Kini ia tahu mengapa.
Suara itu membawanya ke ruang laundry.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Ardi mendorongnya.
Dan seluruh dunianya runtuh.
Raka, putranya yang baru berusia sembilan tahun, meringkuk di sudut ruangan. Anak itu mengangkat bagian belakang kausnya dengan tangan gemetar.
Di depannya berdiri Laras, istri kedua Ardi yang dinikahinya satu setengah tahun lalu.
Tangannya menggenggam setrika panas.
Uap tipis masih mengepul dari permukaannya.
Ardi tidak langsung berteriak.
Matanya tertuju pada punggung Raka.
Ada beberapa bekas luka kecil yang telah mengering. Sebagian berbentuk samar seperti ujung benda panas. Ada pula satu luka yang tampak lebih baru.
Napas Ardi tercekat.
“Ayah?”
Raka menoleh.
Begitu melihat ayahnya, wajah bocah itu bukannya menunjukkan kelegaan.
Ia justru semakin ketakutan.
“Ayah… maaf.”
Dua kata itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Ardi.
Raka tidak meminta pertolongan.
Ia meminta maaf.
Seolah-olah dialah yang bersalah.
Setrika terlepas dari tangan Laras dan jatuh ke lantai.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
Ardi berjalan mendekati Raka tanpa memandang istrinya.
Ia berjongkok.
“Raka, lihat Ayah.”
Anak itu tidak berani.
Ardi mencoba menyentuh bahunya, tetapi Raka refleks mundur dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
“Jangan!”
Ardi membeku.
Gerakan itu terlalu spontan untuk dibuat-buat.
“Raka…” suara Ardi pecah. “Ayah nggak akan menyakitimu.”
Perlahan Raka menurunkan tangannya.
Ardi membuka jaketnya, menyelimuti tubuh putranya, lalu menggendongnya.
Barulah ia menatap Laras.
“Sejak kapan?”
“Mas, dengarkan dulu. Ini bukan seperti yang kamu pikir.”
“Sejak kapan?”
Suara Ardi tetap rendah, tetapi Laras tahu suaminya sedang menahan kemarahan yang luar biasa.
“Dia nakal. Aku cuma mendisiplinkan dia.”
Ardi menatap setrika di lantai.
“Kamu menyebut itu disiplin?”
“Aku tidak benar-benar membakarnya!”
Raka yang berada dalam pelukan Ardi tiba-tiba berbisik.
“Bohong.”
Ruangan itu seketika sunyi.
Laras memucat.
Raka mencengkeram kemeja ayahnya.
“Dia pernah melakukannya.”
Ardi merasa lututnya melemas.
“Kapan?”
Raka tidak menjawab.
“Berapa kali?”
Anak itu kembali diam.
Ardi tidak memaksanya.
Ia membawa Raka keluar dari ruangan, masuk ke kamar anak itu, mengambil beberapa pakaian, lalu menghubungi adiknya, Dimas, yang tinggal tak jauh dari sana.
“Datang sekarang. Tolong bawa mobil.”
“Ada apa?”
“Datang saja.”
Laras mengikuti Ardi hingga ke lantai bawah.
“Mas, kamu mau bawa dia ke mana?”
“Rumah sakit.”
“Jangan.”
Satu kata itu membuat Ardi berhenti.
Ia menoleh.
“Kenapa jangan?”
Laras terdiam terlalu lama.
Dan dalam keheningan itu, Ardi mulai memahami bahwa luka yang dilihatnya mungkin bukan satu-satunya hal yang selama ini disembunyikan.
Dua puluh menit kemudian, Dimas tiba.
Ketika melihat Raka yang terus menempel pada ayahnya, ia tidak banyak bertanya.
Mereka langsung menuju sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.
Dokter yang memeriksa Raka meminta Ardi menunggu di luar beberapa menit agar anak itu dapat berbicara tanpa tekanan.
Empat puluh menit kemudian, dokter keluar.
Wajahnya serius.
“Pak Ardi, luka bakar bukan satu-satunya temuan kami.”
Ardi menahan napas.
“Ada beberapa memar lama di lengan dan paha. Sebagian sudah hampir hilang. Dari pemeriksaan awal, lukanya terjadi pada waktu yang berbeda.”
Ardi memejamkan mata.
“Berapa lama?”
“Kami tidak bisa memastikan semuanya, tetapi beberapa kemungkinan sudah berbulan-bulan.”
Berbulan-bulan.
Kata itu menghantamnya lebih keras daripada apa pun.
Berarti semua terjadi ketika ia masih pulang ke rumah setiap malam.
Ketika ia duduk makan malam bersama Raka.
Ketika ia bertanya, “Sekolah bagaimana?”
Dan Raka selalu menjawab, “Baik.”
Bagaimana mungkin ia tidak melihatnya?
Dokter kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Ardi semakin terpukul.
“Putra Bapak bilang dia beberapa kali mencoba memberi tahu Bapak.”
Ardi membuka mata.
“Apa?”
“Katanya dia pernah meninggalkan pesan.”
Malam itu, setelah Raka tertidur di kamar rumah sakit, Ardi duduk sendirian di lorong.
Ia membuka ponselnya.
Pesan dari Raka hampir selalu sederhana.
Ayah pulang kapan?
Ayah sudah makan?
Boleh telepon?
Ardi menggulir percakapan mereka selama berbulan-bulan.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Ada jeda-jeda aneh.
Beberapa pesan muncul dengan tulisan “pesan telah dihapus”.
Selama ini ia mengira Raka menghapus stiker atau salah mengetik.
Tangannya mulai dingin.
Ia kemudian membuka tablet lama milik Raka yang dibawakan Dimas dari rumah.
Di galeri terdapat puluhan foto permainan, tugas sekolah, dan kucing tetangga.
Sampai Ardi menemukan sebuah folder tersembunyi.
Namanya sederhana.
Untuk Ayah.
Di dalamnya ada video.
Ardi menekan video pertama.
Wajah Raka muncul.
Rekaman itu dibuat empat bulan lalu.
“Ayah, aku mau cerita sesuatu, tapi Tante Laras bilang Ayah capek kerja.”
Raka berhenti, seperti mendengar sesuatu.
Video berakhir.
Video kedua direkam beberapa minggu kemudian.
“Ayah, kalau aku nakal, apa Ayah masih sayang aku?”
Video ketiga membuat tangan Ardi gemetar.
Raka menangis diam-diam.
“Ayah, boleh aku tinggal sama Om Dimas saja?”
Lalu video terakhir.
Direkam dua hari sebelum Ardi berangkat ke Surabaya.
“Ayah, aku takut kalau Ayah pergi.”
Ardi menutup mulutnya.
Air mata yang selama bertahun-tahun nyaris tidak pernah keluar akhirnya jatuh.
Ia teringat malam sebelum keberangkatannya.
Raka berdiri di depan pintu kamar dan berkata, “Ayah jangan pergi lama-lama.”
Ardi sedang membalas email.
Tanpa mengangkat kepala, ia menjawab, “Cuma empat hari. Kamu sudah besar.”
Sekarang kalimat itu terasa seperti pisau.
Keesokan paginya, Ardi membuat laporan resmi dan menyerahkan dokumentasi medis serta video-video tersebut.
Ia juga meminta bantuan untuk memastikan Laras tidak dapat mendekati Raka selama proses berlangsung.
Namun kejutan berikutnya datang dari orang yang sama sekali tidak ia duga.
Mbak Sari, asisten rumah tangga mereka, menelepon.
“Pak… saya mau bicara.”
“Bicara apa?”
Suara perempuan itu gemetar.
“Saya punya rekaman.”
Ardi terdiam.
Ternyata beberapa bulan sebelumnya, Sari mulai curiga setelah beberapa kali mendengar Raka menangis saat Ardi sedang bekerja.
Ia memasang kamera kecil di area lorong, bukan di kamar atau ruang pribadi, karena takut sesuatu terjadi kepada Raka.
Namun ketika Laras mengetahui keberadaan kamera itu, ia memecat Sari dengan alasan mencuri perhiasan.
Ardi ingat kejadian tersebut.
Ia bahkan percaya pada Laras.
Ia memberi Sari pesangon dan meminta perempuan itu pergi tanpa mendengar penjelasannya.
“Saya mencoba menghubungi Bapak,” kata Sari sambil menangis. “Tapi nomor saya diblokir dari ponsel Bapak.”
Ardi merasa dadanya sesak.
Satu per satu kepingan itu tersusun.
Laras tidak hanya menyakiti Raka.
Ia telah membangun dinding di sekeliling anak itu.
Pesan dihapus.
Orang yang curiga disingkirkan.
Nomor diblokir.
Dan Ardi, karena terlalu sibuk mempercayai rumah yang terlihat sempurna, tidak pernah memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.
Ketika akhirnya ia berhadapan dengan Laras beberapa hari kemudian dengan pendamping hukum hadir, perempuan itu masih berusaha mempertahankan ceritanya.
“Aku melakukan semuanya karena Raka membenciku.”
“Dia anak sembilan tahun.”
“Dia selalu membandingkanku dengan ibunya.”
Ardi terdiam.
Ibu kandung Raka, Maya, meninggal akibat komplikasi penyakit ketika Raka berusia lima tahun.
“Dia pernah bilang aku tidak akan pernah bisa menggantikan ibunya,” lanjut Laras. “Kamu tahu bagaimana rasanya tinggal dengan anak yang setiap hari membuatmu merasa seperti orang asing?”
Ardi menatapnya lama.
“Tidak ada kalimat dari anak sembilan tahun yang membenarkan tindakanmu.”
Laras mulai menangis.
“Aku kehilangan kendali.”
“Sekali?”
Laras tidak menjawab.
“Dua kali?”
Tetap diam.
“Berbulan-bulan, Laras.”
Perempuan itu menunduk.
Untuk pertama kalinya, Ardi tidak melihat sosok perempuan anggun yang selama ini menemaninya menghadiri acara perusahaan dan makan malam keluarga.
Ia melihat seseorang yang telah melukai anaknya ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Ardi bangkit.
Hubungan mereka berakhir hari itu.
Namun bagi Ardi, bagian tersulit justru dimulai setelahnya.
Raka tidak tiba-tiba kembali menjadi anak yang ceria.
Selama beberapa minggu, ia sering terbangun tengah malam.
Ia takut mendengar bunyi setrika.
Ia tidak suka pintu kamar tertutup.
Ketika Ardi mengangkat suara saat menerima telepon kantor, Raka akan mendadak diam.
Ardi akhirnya mengurangi perjalanan dinas dan menyerahkan sebagian pekerjaannya kepada tim.
Bukan karena ia berhenti mencintai pekerjaannya.
Tetapi karena ia akhirnya memahami bahwa menyediakan rumah besar, sekolah mahal, dan kehidupan nyaman bukan berarti ia benar-benar hadir.
Suatu malam, hampir tiga bulan setelah kejadian itu, Ardi sedang membuat roti panggang di dapur.
Raka duduk di meja sambil mengerjakan tugas.
Tiba-tiba anak itu bertanya, “Ayah?”
“Hmm?”
“Waktu itu Ayah pulang karena tahu aku kenapa-kenapa?”
Ardi mematikan pemanggang.
Ia duduk di depan putranya.
“Nggak tahu.”
“Terus kenapa pulang?”
Ardi tersenyum tipis.
“Mungkin Ayah kangen.”
Raka menatapnya lama.
Kemudian anak itu bertanya, “Ayah marah sama aku?”
Pertanyaan itu masih ada.
Setelah semuanya, Raka masih takut bahwa dirinya penyebab semua kekacauan.
Ardi menggenggam tangan putranya.
“Dengar baik-baik. Tidak ada satu pun dari semua yang terjadi itu salah kamu.”
Mata Raka berkaca-kaca.
“Walaupun aku pernah bilang aku nggak suka Tante Laras?”
“Walaupun kamu bilang begitu.”
“Walaupun aku kadang nakal?”
“Anak boleh salah. Anak boleh marah. Anak boleh nggak suka seseorang. Tapi tidak ada orang yang boleh menyakitimu karena itu.”
Raka menunduk.
Beberapa detik kemudian, ia berjalan mengitari meja dan memeluk ayahnya.
Untuk pertama kalinya sejak hari di ruang laundry itu, tubuhnya tidak kaku ketika disentuh.
Ardi memeluknya erat.
“Ayah?”
“Iya?”
“Aku sebenarnya pernah kirim satu video lagi.”
Ardi mengernyit.
“Video apa?”
“Yang nggak ada di tablet.”
Raka mengambil ponsel ayahnya, lalu membuka akun penyimpanan daring yang pernah dibuatkan Maya sebelum meninggal.
Di sana terdapat satu video lama.
Tanggalnya membuat Ardi terkejut.
Video itu direkam hanya beberapa minggu setelah ia menikahi Laras.
Raka terlihat duduk di kamar sambil memegang sebuah amplop.
“Ayah, Mama pernah bilang surat ini baru boleh aku kasih kalau Ayah menikah lagi.”
Ardi menahan napas.
Raka dalam video membuka amplop dan membaca beberapa kalimat dengan suara terbata-bata.
Itu surat terakhir Maya.
Bukan peringatan tentang Laras.
Maya bahkan belum pernah mengenalnya.
Surat itu ditulis untuk siapa pun perempuan yang kelak menjadi bagian dari kehidupan Raka.
Kalimat terakhirnya membuat Ardi tidak mampu menahan air mata.
Jika suatu hari ada orang baru dalam hidupmu, jangan meminta Raka memanggilnya Ibu. Biarkan dia memilih sendiri cara mencintai orang itu. Dan jika suatu hari dia berubah menjadi lebih pendiam, jangan langsung bertanya apa kesalahannya. Tanyakan dulu siapa yang membuatnya takut untuk bicara.
Video berhenti.
Dapur menjadi sunyi.
Ardi menatap putranya.
Selama ini ia mengira tragedi terbesar dalam hidupnya adalah kehilangan Maya.
Ternyata ada tragedi lain yang nyaris terjadi tepat di depan matanya.
Ia hampir kehilangan Raka meskipun anak itu masih hidup dan tinggal serumah dengannya.
Ardi menarik putranya ke dalam pelukan.
Sejak malam itu, satu aturan baru berlaku di rumah mereka.
Raka tidak pernah lagi diwajibkan menjadi “anak baik” demi mendapatkan kasih sayang.
Ia boleh marah.
Ia boleh menangis.
Ia boleh mengeluh.
Ia boleh berkata tidak.
Dan yang terpenting, ia boleh bicara tanpa takut tidak dipercaya.
Bertahun-tahun kemudian, bekas luka di punggung Raka memang tidak hilang sepenuhnya.
Namun ada satu hal yang perlahan menghilang.
Ketakutan dalam suaranya.
Sementara bagi Ardi, hari ketika ia pulang lebih awal dari Surabaya menjadi pengingat yang tidak pernah ia lupakan.
Bahwa terkadang bahaya terbesar tidak datang dari orang asing di luar rumah.
Ia bisa bersembunyi di balik pintu yang kita sendiri berikan kuncinya.
Dan terkadang, untuk menyelamatkan seseorang yang kita cintai, hal terpenting bukanlah bertanya mengapa mereka tidak pernah meminta pertolongan.
Melainkan bertanya mengapa selama ini mereka merasa tidak aman untuk bicara.
