Aku Datang ke Tempat Pengiriman Mengambil Paket, Tak Sengaja Bertemu Teman Seangkatan yang Kerja Shift Malam—Saat Tahu Aku Habiskan Rp128 Juta di Sale 11.11, Dia Langsung Mengamuk

Malam itu aku akhirnya mengerti bahwa masalahku bukan lagi tentang paket belanja senilai Rp128 juta.

Masalah sebenarnya adalah seseorang sedang mencoba masuk ke dalam hidup Mama dengan membawa identitasnya di tangan.

Aku menatap Eko dari seberang area parkir tempat pengiriman. Dia masih berdiri dengan seragam kerjanya, kedua tangan dimasukkan ke saku, wajahnya menyimpan kepuasan yang membuat perutku terasa mual.

Aku kembali berbicara kepada relationship manager di telepon.

“Jangan buka blokir kartunya dulu.”

“Mbak Putri?”

“Bekukan sementara semua akses yang terhubung ke kartu tambahan saya. Kalau ada permintaan perubahan data atas nama Mama, jangan diproses sebelum Mama datang langsung.”

“Baik. Kami juga menyarankan Ibu Dewi mengganti akses perbankan.”

“Lakukan prosedur pengamanan yang diperlukan. Saya akan menghubungi Mama.”

Telepon kututup.

Eko tertawa kecil.

“Sudah tahu sekarang?”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Tahu apa?”

“Kalau aku bukan orang sembarangan.”

Anehnya, kali ini aku tidak marah.

Aku justru tersenyum.

“Kalau begitu ikut aku.”

Senyumnya langsung melebar.

“Mau ke mana?”

“Ketemu Mama.”

Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran kami dimulai, wajah Eko kehilangan sedikit kepercayaan dirinya.

Namun hanya sesaat.

Dia mengangkat dagu.

“Boleh. Memang sudah waktunya kita bicara bertiga.”

Aku hampir tertawa.

Aku memesan mobil menuju kantor pusat Dewi Fashion Group di kawasan Kuningan. Sepanjang perjalanan, Eko duduk di sebelahku sambil memainkan ponselnya. Beberapa kali kulihat dia mengirim pesan kepada seseorang.

Aku sengaja tidak bertanya.

Diam-diam aku mengaktifkan fitur berbagi lokasi kepada sekretaris Mama dan mengirim satu pesan singkat.

Ma, ada orang mengaku calon suami Mama. Dia punya data pribadi Mama. Aku bawa ke kantor sekarang. Tolong jangan telepon dulu.

Balasan datang kurang dari semenit.

Bawa dia ke ruang rapat lantai 18.

Hanya itu.

Aku mengenal Mama.

Semakin singkat pesannya, semakin buruk suasana hatinya.

Ketika mobil berhenti di depan gedung, Eko mendongak melihat logo besar Dewi Fashion Group di dinding kaca.

“Jadi ini kantor pusatnya?”

Aku menoleh.

“Katanya kamu pacarnya. Masa belum pernah datang?”

Wajahnya menegang.

“Aku menghormati privasi Dewi. Hubungan kami bukan urusan bisnis.”

Jawaban yang bagus.

Sayangnya terlalu bagus.

Kami masuk ke lobi. Begitu melihatku, petugas keamanan langsung berdiri.

“Selamat malam, Mbak Putri.”

Eko melirikku.

Resepsionis juga menyapaku.

“Mbak Putri, Ibu Dewi sudah menunggu.”

Aku bisa melihat langkah Eko mulai melambat.

Namun dia masih mengikuti.

Begitu pintu lift tertutup, dia tiba-tiba berkata, “Putri, sebenarnya Mama kamu belum ingin hubungan kami diketahui orang lain.”

Aku menatap pantulan wajahnya di dinding lift.

“Kenapa?”

“Perbedaan usia.”

“Berapa umur Mama?”

Dia diam.

Tiga detik.

Lima detik.

“Empat puluh dua.”

Aku tersenyum.

Mama berusia empat puluh enam.

Aku tidak membongkar kebohongannya.

Pintu lift terbuka.

Sekretaris Mama sudah menunggu di depan ruang rapat.

“Silakan masuk.”

Ruangan itu luas, dengan dinding kaca menghadap lampu Jakarta. Mama duduk di ujung meja panjang mengenakan blazer hitam. Di sebelahnya ada kepala bagian hukum perusahaan dan seorang pria yang kukenal sebagai kepala keamanan internal.

Mama tidak berdiri ketika kami masuk.

Tatapannya langsung jatuh kepada Eko.

“Jadi kamu calon suami saya?”

Ruangan mendadak sunyi.

Eko berhenti berjalan.

Wajahnya pucat.

Aku menarik kursi lalu duduk santai.

“Ayo, Ko. Tadi kamu banyak bicara.”

Eko menelan ludah.

“Ibu Dewi…”

Mama menyilangkan kedua tangannya.

“Saya bahkan tidak tahu nama kamu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.

Eko menoleh kepadaku.

“Putri, ini salah paham.”

Aku hampir tidak percaya.

“Salah paham?”

“Tadi aku cuma emosi.”

“Orang emosi bisa tiba-tiba punya nomor identitas Mama?”

Dia terdiam.

Mama mengetuk meja pelan.

“Saya ingin tahu dari mana kamu mendapatkan data saya.”

“Bukan saya.”

“Lalu siapa?”

Eko mulai berkeringat.

Dia memandang pintu seolah menghitung kemungkinan untuk kabur.

Kepala keamanan berdiri di dekat pintu.

Eko akhirnya duduk.

“Ada seseorang yang memberikannya.”

“Siapa?”

“Saya tidak tahu nama aslinya.”

Aku langsung menyela.

“Jangan bohong.”

“Serius!”

Suaranya meninggi.

“Dia menghubungi saya sekitar tiga bulan lalu. Awalnya lewat media sosial.”

“Untuk apa?”

Eko menunduk.

“Dia tahu saya teman seangkatan Putri.”

Mama tidak berkedip.

“Lanjutkan.”

“Dia bilang Putri sering pamer kekayaan dan keluarganya sedang mencari orang untuk mengawasi perilakunya.”

Aku hampir bangkit dari kursi.

“Apa?”

“Dia bilang kalau saya bisa mendekati Putri dan membuatnya percaya bahwa saya dekat dengan keluarganya, saya akan dibayar.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku memandang Eko seolah baru pertama kali melihatnya.

“Jadi semua ini cuma sandiwara?”

Eko menggeleng cepat.

“Awalnya iya. Tapi kemudian dia mengirim data Ibu Dewi. Nomor identitas, alamat lama, beberapa informasi rekening. Dia bilang saya bisa menggunakannya kalau Putri tidak percaya.”

Mama bertanya, “Berapa kamu dibayar?”

Eko mengepalkan tangan.

“Lima belas juta.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena muak.

“Kamu mempermalukanku di depan orang, mencoba memblokir kartuku, mengaku akan jadi ayah tiriku, semuanya demi lima belas juta?”

Wajah Eko memerah.

“Kamu gampang bicara karena hidupmu enak! Buat kamu lima belas juta mungkin cuma harga tas. Buat saya itu biaya kuliah satu semester, kontrakan, makan keluarga saya.”

Aku menatapnya lama.

Untuk sesaat, kemarahanku hampir berubah menjadi iba.

Hampir.

Sampai dia menambahkan, “Orang seperti kamu tidak akan mengerti.”

Aku berdiri.

“Kesulitan hidup tidak memberimu hak mencuri identitas orang lain.”

Eko diam.

Mama menatapku sebentar.

Ada sesuatu seperti persetujuan dalam matanya.

Kepala keamanan meminta Eko menyerahkan ponselnya. Awalnya dia menolak, tetapi setelah bagian hukum menjelaskan bahwa percobaan penggunaan data pribadi dan gangguan terhadap rekening keluarga akan dilaporkan, keberaniannya runtuh.

Akhirnya dia membuka percakapan dengan orang misterius itu.

Nama akunnya sederhana.

R.

Tidak ada foto profil.

Sebagian besar percakapan sudah dihapus.

Namun beberapa pesan masih tersisa.

Pantau aktivitas Putri.

Cari tahu kebiasaannya.

Kalau ada pengeluaran besar, buat keributan.

Jangan sampai dia mulai curiga pada keluarganya sendiri.

Kalimat terakhir membuat tengkukku dingin.

Mama mengambil ponsel itu.

“Kenapa harus membuat Putri curiga kepada keluarganya?”

Eko menggeleng.

“Saya tidak tahu.”

Kepala keamanan memeriksa nomor yang digunakan akun tersebut.

Nomor prabayar.

Sulit dilacak secara langsung.

Namun satu hal berhasil ditemukan.

Dua bulan sebelumnya, orang yang sama pernah mentransfer uang kepada Eko melalui rekening atas nama sebuah perusahaan kecil.

PT Rahayu Kreatif Nusantara.

Mama mendadak berhenti bergerak ketika mendengar nama itu.

Aku melihat perubahan wajahnya.

“Ma?”

Mama tidak menjawab.

Kepala bagian hukum juga terlihat mengenali nama tersebut.

“Bu, bukankah itu vendor lama kita?”

Mama mengangguk perlahan.

“Vendor pemasaran digital.”

“Yang kontraknya dihentikan tahun lalu?”

“Iya.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Kenapa dihentikan?”

Mama menarik napas.

“Karena kami menemukan manipulasi invoice.”

Jumlahnya hampir Rp3 miliar.

Orang yang bertanggung jawab atas proyek itu adalah mantan manajer pemasaran bernama Rendra Mahardika.

Setelah kasus ditemukan, Rendra dipecat. Perusahaan tidak langsung membawa masalah itu ke pengadilan karena sebagian uang berhasil dikembalikan dan ada perjanjian penyelesaian.

Namun ternyata masalahnya tidak pernah benar-benar selesai.

Kepala keamanan membuka laptop.

Setelah hampir setengah jam mencocokkan transaksi dan arsip lama, dia menemukan sesuatu.

Rekening yang membayar Eko pernah menerima transfer dari rekening lain.

Nama pemiliknya membuat Mama berdiri.

Siska Prameswari.

Aku mengenal nama itu.

Dia mantan sekretaris pribadi Mama.

Perempuan yang bekerja bersama Mama hampir tujuh tahun.

Perempuan yang tahu alamat lama kami.

Tanggal lahir Mama.

Nomor identitas.

Bahkan rekening mana yang dulu sering dipakai perusahaan.

Siska mengundurkan diri enam bulan lalu dengan alasan ingin merawat orang tuanya di Semarang.

Ternyata sebelum keluar, dia sempat mengakses beberapa dokumen pribadi Mama tanpa izin.

“Hubungi polisi,” kata Mama.

Eko langsung berdiri.

“Bu, saya bisa bantu!”

Mama menatapnya dingin.

“Sekarang baru mau membantu?”

“Saya bisa menghubungi orang itu. Dia belum tahu saya ada di sini.”

Kami saling berpandangan.

Kepala keamanan akhirnya mengangguk.

Eko diminta mengirim pesan.

Target mulai curiga. Saya butuh instruksi.

Balasan datang sebelas menit kemudian.

Besok pagi datang ke apartemen biasa. Jangan bawa siapa pun.

Alamat yang dikirim ternyata sebuah apartemen di Jakarta Selatan.

Polisi dihubungi malam itu juga.

Aku pulang bersama Mama hampir pukul dua dini hari.

Di dalam mobil, kami tidak banyak bicara.

Sampai akhirnya Mama bertanya, “Kamu benar menghabiskan Rp128 juta?”

Aku menoleh.

“Ma…”

“Jawab dulu.”

“Iya.”

Mama menghela napas.

“Beli apa?”

“Laptop baru, kamera, dua lensa, tablet untuk desain, hadiah ulang tahun Mama, sama beberapa barang lain.”

Mama menatapku.

“Hadiah Mama berapa?”

“Rahasia.”

Untuk pertama kalinya malam itu dia tertawa.

Lalu wajahnya kembali serius.

“Besok kita bicara soal anggaran.”

Aku mengerang.

“Setelah hampir kena pencurian identitas, yang Mama pikirkan tetap anggaran?”

“Justru karena kamu hampir kena masalah, kita tetap harus hidup normal.”

Keesokan harinya aku tidak ikut ke apartemen.

Polisi meminta aku tetap jauh dari lokasi.

Eko datang sesuai janji sambil membawa ponselnya. Tim sudah menunggu.

Namun orang yang muncul bukan Rendra.

Bukan pula Siska.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun datang membawa amplop berisi uang.

Dia ditangkap.

Dari pemeriksaan perempuan itulah semuanya terbuka.

Rendra dan Siska memang terlibat.

Tetapi target mereka sejak awal bukan rekening Mama.

Target mereka adalah aku.

Rencana mereka sederhana sekaligus licik.

Mereka ingin menciptakan konflik antara aku dan Mama, membuatku percaya bahwa Mama memiliki pasangan muda yang mencoba mengendalikan aset keluarga. Jika hubungan kami retak, seseorang akan mendekatiku sebagai “penasihat” dan membujukku memindahkan sebagian aset investasi yang Mama siapkan atas namaku ketika aku berusia dua puluh satu.

Nilainya bukan Rp128 juta.

Nilainya lebih dari Rp40 miliar.

Paket sale malam itu hanya dijadikan momentum.

Mereka sudah memantau unggahan media sosialku selama berbulan-bulan.

Mereka tahu aku berbelanja saat 11.11.

Mereka tahu Eko bekerja di tempat pengiriman.

Dan mereka tahu sifat Eko yang mudah iri kepada mahasiswa yang dianggap lebih kaya.

Yang tidak mereka perkirakan adalah Eko terlalu bersemangat memainkan perannya.

Dia seharusnya hanya memancing pertengkaran.

Bukan menelepon bank.

Tindakannya yang bodoh justru membuat sistem keamanan mendeteksi penyalahgunaan data lebih cepat.

Dua minggu kemudian, Rendra dan Siska berhasil diamankan untuk menjalani proses hukum.

Eko juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kampus memanggilnya setelah laporan resmi masuk. Tempat kerjanya memberhentikannya karena ia menggunakan posisinya untuk menahan paket pelanggan dan mengakses informasi yang tidak seharusnya.

Beberapa bulan kemudian aku bertemu dengannya lagi di kampus.

Dia terlihat jauh lebih kurus.

Kami berpapasan di depan perpustakaan.

Eko berhenti.

“Putri.”

Aku ikut berhenti.

Dia menunduk.

“Maaf.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada cerita tentang kemiskinan.

Tidak ada lagi kalimat bahwa aku tidak memahami kerasnya hidup.

Hanya satu kata.

Anehnya, itu terdengar jauh lebih jujur daripada semua yang pernah dia katakan malam itu.

“Aku memang hidup lebih beruntung daripada kamu,” kataku. “Aku tidak pernah menyangkal itu.”

Eko menatapku.

“Tapi kalau kamu sedang susah, kamu bisa minta bantuan. Kamu bisa kerja. Kamu bisa bilang kamu butuh uang. Yang tidak bisa kamu lakukan adalah menganggap kesulitanmu memberi hak untuk mengendalikan hidup orang lain.”

Dia mengangguk pelan.

Aku berjalan meninggalkannya.

Malamnya, Mama masuk ke kamarku sambil membawa sebuah kardus.

Aku langsung mengenalinya.

Salah satu paket 11.11.

“Yang ini belum dibuka,” katanya.

Aku mengambil gunting.

Di dalamnya ada sebuah tas kulit yang kupesan khusus sebagai hadiah untuk Mama.

Mama menatapnya beberapa detik.

“Ini yang kamu bilang rahasia?”

Aku mengangguk.

“Selamat ulang tahun lebih awal.”

Mama memegang tas itu, lalu bertanya, “Berapa harganya?”

Aku langsung menutup kardus.

“Jangan merusak momen.”

Mama tertawa.

Kemudian dia memelukku.

Beberapa detik kemudian dia berbisik di telingaku.

“Ngomong-ngomong, Putri.”

“Hmm?”

“Rp128 juta tetap kebanyakan.”

Aku tertawa sampai hampir menjatuhkan kardus.

Setelah semua kekacauan itu, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam kelas ekonomi mana pun.

Uang memang bisa membeli kenyamanan, pendidikan, bahkan keamanan.

Tetapi uang juga bisa menarik orang-orang yang merasa berhak atas hidupmu.

Ada yang mendekat karena kagum.

Ada yang datang karena iri.

Ada pula yang tersenyum sambil diam-diam menghitung berapa nilai dirimu.

Dan terkadang, cara terbaik mengetahui siapa mereka bukanlah dengan menyembunyikan apa yang kita miliki.

Melainkan melihat bagaimana mereka bereaksi ketika mengira mereka berhak mengendalikannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang