Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun pernikahan, aku tidak mengejar Hendra ketika ia menutup pintu kamar dengan marah.
Aku hanya membereskan meja makan, mencuci mangkuk Kirana, lalu duduk di lantai ruang tengah sambil memandangi putriku yang tertidur memeluk boneka kelinci lusuhnya.
Senin depan aku akan kembali bekerja.
Dan entah kenapa, keputusan kecil itu terasa seperti aku baru saja membuka sebuah pintu yang selama bertahun-tahun terkunci.
Tiga hari kemudian, keadaan Bu Ratna membaik dan dokter mengizinkannya pulang. Masalahnya, beliau belum boleh berjalan sendiri setidaknya selama beberapa minggu.
Malam itu Hendra menerima telepon dari Surya.

Aku bisa mendengar suara kakaknya dari dapur.
“Dra, Ibu nggak mungkin tinggal di rumahku. Kamar bawah dipakai gudang, kamar atas harus naik tangga. Bahaya.”
“Terus bagaimana?”
“Bawa ke rumahmu dulu.”
Aku hampir menjatuhkan piring yang sedang kucuci.
Rumah kami hanya memiliki dua kamar kecil. Satu kamar untuk kami, satu lagi untuk Kirana sekaligus tempat menyimpan pakaian dan barang-barang.
Tidak sampai lima menit kemudian Hendra masuk ke dapur.
“Wulan.”
Aku mematikan keran.
“Ibu pulang besok.”
“Syukurlah.”
“Mas Surya bilang sebaiknya Ibu tinggal di sini sementara.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Tidak.”
Jawabanku begitu cepat hingga Hendra seperti tidak siap menerimanya.
“Dia ibuku.”
“Aku tahu.”
“Kalau Ibu tinggal di sini, kita bisa bergantian merawat.”
“Kita?”
Aku tersenyum tipis.
“Besok pagi kamu berangkat kerja pukul tujuh dan pulang hampir pukul tujuh malam. Jadi yang kamu maksud dengan kita sebenarnya aku.”
Hendra terdiam.
Aku mengeringkan tangan.
“Dan mulai Senin aku juga bekerja.”
Wajahnya berubah.
“Kamu kerja?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Mulai Senin.”
“Kenapa nggak bicara dulu denganku?”
Aku hampir tertawa.
“Kenapa aku harus minta izin untuk bekerja?”
“Aku suamimu.”
“Dan aku istrimu, bukan anak kecil yang harus meminta izin keluar rumah.”
Nada suaranya meninggi.
“Terus Kirana bagaimana?”
“Kelompok bermain sampai siang. Setelah itu Mbak Sari sudah membantu mencarikan tempat penitipan anak dekat kantor. Aku sudah cek. Tempatnya bersih.”
“Biayanya?”
“Dari gajiku.”
Hendra menatapku lama.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu selain kemarahan di wajahnya.
Kekhawatiran.
Bukan karena Kirana.
Bukan pula karena pekerjaanku.
Seolah-olah ia baru sadar bahwa selama ini ketergantunganku kepadanya adalah sesuatu yang membuatnya merasa aman.
Dan sekarang, sedikit demi sedikit, ketergantungan itu menghilang.
Keesokan siangnya, sebuah mobil berhenti di depan kontrakan.
Bu Ratna turun menggunakan kursi roda.
Di belakangnya berdiri Surya dan Maya membawa dua koper.
Aku berdiri di ambang pintu.
“Mau apa?”
Maya menjawab seolah semuanya sudah diputuskan.
“Ibu tinggal di sini dulu.”
“Aku sudah bilang tidak bisa.”
Wajah Bu Ratna langsung berubah.
“Kamu mau membiarkan orang tua sakit di jalan?”
“Tidak. Mas Surya bisa membawa Ibu pulang.”
Surya mendengus.
“Rumahku nggak cocok buat orang patah kaki.”
“Rumahku lebih kecil.”
“Tapi kamu yang paling punya waktu.”
“Mulai Senin aku bekerja.”
Maya tertawa pendek.
“Kerja? Baru dapat kerja saja sudah merasa sibuk?”
Aku menatapnya.
“Mbak Maya tidak bekerja di luar rumah. Rumah kalian empat kamar dan ada asisten rumah tangga. Kalau kita bicara soal waktu dan tempat, rumah Mbak jauh lebih cocok.”
Wajah Maya memerah.
“Jangan kurang ajar.”
Bu Ratna tiba-tiba memukul sandaran kursi rodanya.
“Sudah!”
Semua terdiam.
Beliau menunjukku.
“Kalau bukan karena Hendra, kamu pikir Ibu mau tinggal di rumah sempit seperti ini?”
Kalimat itu menamparku lebih keras daripada yang mungkin beliau sadari.
Aku mengangguk.
“Kalau begitu kita sepakat. Ibu juga tidak mau tinggal di sini.”
Surya akhirnya membawa Bu Ratna pergi.
Malamnya, Hendra pulang dan langsung bertanya, “Kamu mengusir Ibu?”
“Aku tidak pernah mengundangnya.”
“Wulan!”
Kirana yang sedang bermain balok terkejut.
Aku segera menggendongnya.
“Jangan berteriak di depan anak.”
Hendra mengepalkan tangan.
“Kamu berubah.”
Aku memandangnya.
“Bukan. Aku cuma berhenti takut.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Senin pagi aku mengenakan kemeja putih yang sudah hampir tiga tahun tersimpan di lemari.
Kirana memandangku dengan mata berbinar.
“Mama cantik.”
Aku tertawa dan mencium dahinya.
Hari pertama bekerja melelahkan. Banyak sistem akuntansi perusahaan telah berubah sejak terakhir kali aku bekerja. Aku beberapa kali salah memasukkan kode transaksi dan harus bertanya kepada staf yang lebih muda.
Tetapi saat jam makan siang tiba, aku duduk di pantry sambil memegang secangkir kopi dan merasakan sesuatu yang sudah lama hilang.
Aku merasa menjadi Wulan lagi.
Bukan istri Hendra.
Bukan menantu Bu Ratna.
Bukan ibu Kirana.
Hanya Wulan.
Dua minggu berlalu.
Bu Ratna akhirnya tinggal di rumah Surya.
Anehnya, sejak itu grup keluarga yang sebelumnya ramai mendadak sepi.
Kemudian aku mengetahui alasannya.
Maya kewalahan.
Bu Ratna harus dibantu mandi, dipindahkan dari tempat tidur ke kursi roda, disiapkan makanan, ditemani kontrol, dan dibantu ke toilet pada malam hari.
Asisten rumah tangga mereka mengundurkan diri setelah seminggu.
Suatu malam Maya meneleponku.
“Wulan, kamu bisa datang Sabtu Minggu?”
“Untuk apa?”
“Jaga Ibu. Aku sudah dua minggu nggak bisa ke mana-mana.”
Aku hampir tidak percaya.
“Bukankah dulu Mbak bilang merawat orang tua itu kewajiban menantu?”
“Jangan ungkit yang dulu.”
“Aku tidak mengungkit. Aku hanya mengingat.”
Telepon ditutup.
Sebulan kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Surya datang ke kontrakan sendirian.
Ia tampak jauh lebih kurus.
“Aku mau bicara.”
Aku mempersilahkannya duduk.
Surya mengeluarkan sebuah map dari tas.
“Ini soal Ibu.”
Aku tidak menyentuh map itu.
“Ada apa?”
“Biaya rumah sakit dan fisioterapi sudah hampir dua puluh juta.”
“Lalu?”
Surya menatapku.
“Ibu bilang dulu pernah memberikan uang ke Hendra. Sekitar delapan puluh juta. Katanya itu sebenarnya tabungan Ibu. Sekarang Ibu mau uang itu dikembalikan.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Uang apa?”
Surya mengerutkan kening.
“Kamu nggak tahu?”
Aku menggeleng.
Malam itu aku menunggu Hendra pulang.
Begitu ia masuk, aku langsung bertanya.
“Delapan puluh juta dari Ibu itu apa?”
Wajahnya seketika pucat.
Itulah jawabannya.
Aku berdiri.
“Hendra.”
Ia menjatuhkan tas kerja ke sofa.
“Dengar dulu.”
“Tujuh tahun kita menikah. Kita tinggal di kontrakan. Aku menghitung uang belanja sampai ribuan rupiah. Biaya sekolah Kirana harus kutabung berbulan-bulan. Kamu punya delapan puluh juta dan aku tidak tahu?”
“Itu bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Hendra akhirnya mengaku.
Dua tahun sebelumnya, Bu Ratna memberinya uang sebagai modal untuk bergabung dalam usaha seorang teman.
Usaha itu gagal.
Hampir seluruh uang habis.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Aku takut kamu marah.”
Aku tertawa.
Air mataku justru mulai turun.
“Jadi saat aku sakit pinggang dan butuh fisioterapi tapi kita bilang tidak punya uang, kamu sudah menerima uang puluhan juta?”
Hendra menunduk.
“Saat Kirana masuk rumah sakit karena demam berdarah dan aku menjual gelang pemberian ibuku untuk membayar biaya tambahan, kamu tahu soal uang itu?”
“Wulan…”
“Jawab.”
“Iya.”
Sesuatu di dalam diriku seperti patah.
Bukan karena uangnya.
Karena ternyata selama ini aku hidup bersama seseorang yang membiarkanku merasa kami berjuang bersama, padahal banyak keputusan besar dalam hidupnya tidak pernah melibatkanku.
Aku masuk kamar.
Hendra mengejarku.
“Kamu mau apa?”
Aku mengeluarkan koper.
Wajahnya panik.
“Jangan begini.”
“Aku tidak pergi malam ini.”
Tanganku berhenti.
“Aku hanya mau menyiapkan sesuatu kalau nanti aku memang harus pergi.”
Untuk pertama kalinya, Hendra menangis.
Tetapi anehnya, aku tidak merasakan kemenangan.
Aku hanya merasa lelah.
Dua bulan kemudian, kondisi Bu Ratna membaik. Beliau sudah bisa berjalan perlahan menggunakan alat bantu.
Pekerjaanku juga berjalan baik.
Masa percobaanku bahkan dipersingkat karena manajer menilai pekerjaanku rapi.
Lalu pada suatu Jumat sore, Bu Ratna datang ke kantorku.
Sendirian.
Aku menemukannya duduk di lobi dengan tongkat.
“Ibu?”
Beliau menatapku.
“Ada waktu?”
Kami duduk di sebuah kedai kopi di seberang kantor.
Untuk beberapa menit, Bu Ratna hanya mengaduk teh.
Kemudian beliau berkata pelan, “Maya menyuruh Ibu pindah.”
Aku terdiam.
“Katanya rumah mereka bukan panti jompo.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bu Ratna tertawa pahit.
“Ibu baru tahu rasanya dianggap beban.”
Tangannya gemetar saat mengangkat cangkir.
“Dulu Ibu pikir keluarga Surya yang paling bisa diandalkan. Mereka punya rumah besar, uang banyak, hidup mapan. Jadi Ibu selalu membantu mereka.”
Aku menatapnya.
“Dan Hendra?”
“Hendra dari kecil selalu menurut. Ibu pikir dia tidak perlu dibantu.”
“Lalu saya?”
Beliau menunduk.
“Ibu pikir kamu kuat.”
Aku tersenyum getir.
“Orang yang terlihat kuat bukan berarti tidak pernah butuh pertolongan.”
Bu Ratna mengangguk.
Matanya basah.
“Ibu tahu.”
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, beliau berkata, “Maaf.”
Aku tidak langsung memaafkan.
Beberapa luka tidak sembuh hanya karena satu kata.
Tetapi aku juga tidak membencinya.
Aku hanya berkata, “Ibu harus belajar hidup dengan akibat dari cara Ibu memperlakukan orang.”
Beliau mengangguk.
Setahun berlalu.
Aku masih bekerja di perusahaan yang sama dan kini menjadi supervisor accounting.
Aku dan Hendra tidak bercerai.
Tetapi pernikahan kami berubah.
Kami menjalani konseling. Hendra menjual motornya dan mengambil pekerjaan tambahan untuk mengembalikan uang ibunya sedikit demi sedikit. Ia juga mulai mengurus Kirana tanpa menunggu diminta.
Kepercayaan tidak kembali sekaligus.
Aku tidak memberikannya sebagai hadiah.
Ia harus membangunnya lagi.
Sementara Bu Ratna mengambil keputusan yang mengejutkan semua orang.
Beliau menjual sebidang tanah warisan di kampung.
Surya yakin uang itu akan dibagikan kepada kedua anaknya.
Namun pada pertemuan keluarga, Bu Ratna mengeluarkan tiga buku tabungan.
Satu untuk biaya hidupnya sendiri.
Satu untuk tabungan pendidikan Kirana.
Dan satu lagi untuk cucu Surya.
Jumlah keduanya sama persis.
Surya langsung protes.
“Bu, masa dibagi sama rata? Selama ini Ibu tinggal sama kami.”
Bu Ratna menatap anak sulungnya lama.
“Justru karena selama ini Ibu tidak pernah membaginya dengan adil.”
Ruangan menjadi sunyi.
Maya memalingkan wajah.
Aku sendiri tidak mengatakan apa-apa.
Bu Ratna kemudian mendorong buku tabungan Kirana ke arahku.
Aku tidak mengambilnya.
“Simpan sendiri, Bu. Kalau nanti Kirana membutuhkan untuk sekolah, Ibu berikan langsung kepadanya.”
Beliau menatapku, lalu tersenyum kecil.
“Baik.”
Malam itu, saat kami pulang, Kirana tertidur di jok belakang mobil.
Hendra menyetir dalam diam.
Tiba-tiba ia berkata, “Terima kasih karena dulu kamu tidak langsung pergi.”
Aku menatap lampu-lampu kota di balik jendela.
“Aku tidak bertahan karena takut pergi, Hendra.”
Ia menoleh sebentar.
“Aku bertahan karena kamu akhirnya mau berubah. Kalau suatu hari kamu kembali seperti dulu, aku tetap bisa pergi.”
Hendra mengangguk.
Tidak marah.
Tidak membantah.
Ketika sampai di rumah, aku menggendong Kirana yang masih tertidur. Putriku setengah sadar, melingkarkan tangan kecilnya di leherku.
“Mama…”
“Iya, Sayang?”
“Besok Mama kerja?”
“Iya.”
“Pulang lagi?”
Aku tersenyum dan mencium rambutnya.
“Pulang.”
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku berusaha keras agar diterima sebagai bagian dari keluarga orang lain. Aku memasak untuk mereka, mencuci piring mereka, menelan kata-kata yang menyakitkan, dan terus berharap suatu hari mereka akan membuka pintu lalu berkata bahwa aku akhirnya pantas berada di dalam.
Padahal aku tidak pernah membutuhkan izin mereka.
Keluarga bukanlah tempat di mana seseorang harus terus-menerus mengorbankan dirinya agar dianggap berguna.
Keluarga adalah tempat seseorang tetap memiliki nilai bahkan ketika ia sedang lelah, sakit, tidak punya uang, atau tidak mampu memberi apa-apa.
Dan rumah bukan selalu bangunan besar dengan empat kamar.
Kadang rumah hanyalah kontrakan kecil, seorang anak yang menyisakan dua butir nasi untuk ibunya, dan keberanian seorang perempuan untuk akhirnya berkata bahwa dirinya juga layak diperjuangkan.
Tujuh tahun aku menunggu pintu keluarga itu dibukakan untukku.
Pada akhirnya, aku berhenti mengetuk.
Aku membangun pintuku sendiri.
