Menantuku Membawakan Segelas Susu Hijau ke Depanku; Sebelum Aku Sempat Menolak, Muncul Deretan Komentar Aneh: “Menantunya Terbaik, Demi Lambung Mertua Ia Mencari Resep Ajaib dari Jutaan Catatan Pengobatan Lama”

Tanganku berhenti tepat sebelum menyentuh gelas itu.

Susu di rumah biasanya berwarna putih. Namun cairan di hadapanku justru berwarna hijau pucat, dengan endapan tipis yang mengambang di dasar gelas.

Yang membuatku lebih merinding bukan warna susu itu.

Layar tablet di meja makan tiba-tiba dipenuhi komentar yang bergerak begitu cepat hingga hampir tidak sempat kubaca.

“Menantu terbaik abad ini! Demi lambung mertuanya, Ayu sampai mencari resep dari ribuan catatan pengobatan lama!”

“Bu Sari cepat diminum! Sebulan lagi lambungnya pasti jauh lebih sehat!”

“Ayu benar-benar malaikat dalam keluarga!”

Aku menatap tablet, lalu menatap Ayu.

Dia berdiri di depanku dengan senyum lembut. Rambutnya diikat sederhana, celemek bermotif bunga masih melekat di pinggangnya. Jika seseorang hanya melihat pemandangan itu, mereka pasti akan mengira aku adalah ibu mertua paling beruntung di dunia.

Masalahnya, aku tidak pernah menyalakan siaran apa pun.

“Ini komentar apa?” tanyaku.

Wajah Ayu berubah sesaat sebelum kembali tersenyum.

“Oh, mungkin aplikasi videonya belum tertutup, Bu. Kemarin Ayu bikin konten masak.”

Aku tidak menjawab.

Beberapa minggu terakhir, Ayu memang semakin sering merekam aktivitas rumah. Saat menyiapkan sarapan, saat menemaniku minum obat, bahkan ketika aku menegurnya karena menggunakan kartu perusahaan untuk belanja pribadi.

Anehnya, setiap video selalu berakhir dengan pola yang sama.

Ayu terlihat sabar.

Aku terlihat galak.

Dan para penonton selalu membelanya.

Aku menunjuk gelas di meja.

“Kamu minum dulu.”

Senyumnya langsung menghilang.

“Apa?”

“Setengah saja. Kalau memang bagus untuk lambung, kamu minum dulu. Sisanya Ibu habiskan.”

Mata Ayu mulai memerah.

“Jadi selama ini Ibu benar-benar menganggap Ayu ingin mencelakai Ibu?”

“Ibu hanya meminta kamu mencicipinya.”

“Ayu sudah mencari bahan-bahannya sejak pagi, Bu. Ayu cuma ingin merawat Ibu. Setelah menikah dengan Mas Arjuna, Ayu pikir Ibu akan menganggap Ayu seperti anak sendiri.”

Air matanya jatuh.

Tepat saat itu, Arjuna masuk.

“Ada apa?”

Ayu buru-buru mengusap wajah.

“Tidak ada apa-apa, Mas.”

Aku menunjuk gelas.

“Istrimu memberikan susu berwarna hijau dan mengatakan ini resep untuk lambung. Ibu hanya meminta dia mencicipinya.”

Arjuna menghela napas.

“Lagi-lagi begini.”

“Begini bagaimana?”

“Ayu sudah berusaha baik kepada Ibu. Kenapa Ibu selalu mencurigainya?”

Aku memandang anakku.

Setelah ayahnya meninggal ketika Arjuna berusia empat tahun, akulah yang membesarkannya. Aku tidak menikah lagi. Aku bekerja siang dan malam, membawa Arjuna ke sekolah, menemaninya ketika sakit, bahkan pernah tidur di kursi rumah sakit karena tidak ingin meninggalkannya sendirian.

Aku membangun perusahaan keluarga itu dari nol.

Ketika Arjuna sudah cukup dewasa, aku menyerahkan posisi direktur utama kepadanya.

Sekarang, hanya karena istrinya menangis, semua pengorbananku seolah tidak pernah ada.

“Kalau kamu begitu yakin pada Ayu, minum saja susu ini.”

Kudorong gelas ke arahnya.

Ayu langsung menarik tangan Arjuna.

“Jangan, Mas. Itu khusus untuk kondisi lambung Ibu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku tersenyum tipis.

“Katanya bahan alami. Kenapa kamu panik?”

“Bukan panik, Bu.”

“Sudah!” Arjuna membentak. “Ibu belakangan ini terlalu curiga pada semua orang.”

Aku menatapnya.

“Karena belakangan ini memang banyak hal aneh.”

“Contohnya?”

Aku belum sempat menjawab ketika Ayu berkata pelan,

“Mungkin sakit lambung membuat Ibu stres. Tiga hari lalu Ibu juga bilang dompetnya hilang. Padahal ternyata ada di kamar.”

Aku menoleh tajam.

Dompet itu memang hilang selama hampir enam jam.

Aku bahkan sudah memeriksa laci tempat dompet itu akhirnya ditemukan.

Saat itu aku mulai sadar.

Ayu sedang membangun satu cerita.

Bahwa aku mulai pikun.

Bahwa aku tidak lagi mampu mengambil keputusan.

Bahwa aku perlu diawasi.

Aku berdiri.

“Ibu tidak butuh dikurung. Ibu hanya ingin kalian berhenti memperlakukanku seperti orang yang tidak mampu berpikir.”

Namun ketika aku berbalik, Ayu menggenggam lenganku.

“Bu, susunya belum diminum.”

Aku refleks menepis tangannya.

Gelas itu tersenggol.

Pecah.

Cairan hijau tumpah ke lantai.

Arjuna langsung berubah wajah.

“Ibu keterlaluan!”

“Itu tidak sengaja.”

“Setiap kali Ayu berusaha baik, Ibu selalu membuat masalah!”

Dia memanggil dua pekerja rumah.

“Antar Ibu ke kamar. Untuk sementara jangan biarkan Ibu keluar sendirian.”

Aku menatap anakku tidak percaya.

“Kamu mau mengurung ibu kandungmu?”

“Aku cuma ingin Ibu tenang.”

“Di rumah yang masih atas nama Ibu?”

Arjuna terdiam.

Namun dia tetap tidak membatalkan perintahnya.

Saat pintu kamar dikunci dari luar, kemarahanku justru hilang.

Yang tersisa hanya kewaspadaan.

Aku mengambil ponsel dan menghubungi Setyo, pengacara keluarga yang sudah bekerja dengan kami sejak suamiku masih hidup.

“Pak Setyo, saya ingin semua surat kuasa yang pernah saya berikan kepada Arjuna ditinjau ulang.”

“Ada masalah, Bu Sari?”

“Belum tahu. Tapi mulai sekarang, jangan izinkan siapa pun memindahkan saham, properti, atau dana atas nama saya tanpa verifikasi langsung.”

Arjuna memang direktur utama.

Tetapi sahamnya hanya dua puluh persen.

Aku masih memiliki tiga puluh satu persen saham perusahaan, ditambah deposito, ruko, tanah, dan investasi pribadi yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

Kalau firasatku benar, aku tidak boleh terlambat.

Aku juga menghubungi dokter langgananku dan menceritakan susu hijau itu.

“Kalau Ibu masih punya sampelnya, jangan diminum. Simpan. Kami akan periksa.”

Untungnya, sebelum gelas pecah, aku sempat menuangkan sedikit cairan itu ke cangkir kecil karena ingin mencium aromanya.

Kusimpan sampelnya.

Selama tiga hari berikutnya aku berpura-pura pasrah.

Ayu mengirim makanan ke kamarku.

Arjuna datang sekali dan mengatakan aku boleh keluar jika sudah “lebih tenang”.

Aku hanya mengangguk.

Diam-diam, Setyo mengganti akses rekening, mencabut surat kuasa lama, dan memindahkan dokumen asli dari brankas rumah ke tempat aman.

Pada hari kelima, Ayu masuk membawa semangkuk cairan hitam.

“Bu, ini jamu baru. Lebih cocok daripada susu kemarin.”

Aku tersenyum.

“Taruh saja.”

Ponselnya tiba-tiba berbunyi dari ruang luar.

Ayu buru-buru pergi setelah mendengar Arjuna memanggil.

Namun dia meninggalkan satu ponsel di atas meja.

Layar menyala.

Aku tidak perlu membuka apa pun.

Notifikasi WhatsApp terlihat jelas.

Notaris Dwi.

“Bu Ayu, pengalihan saham 31% belum bisa dilakukan selama Bu Sari masih dinilai mampu mengambil keputusan sendiri.”

Pesan berikutnya muncul.

“Kalau ingin selesai bulan ini, kami membutuhkan dasar medis bahwa beliau tidak mampu mengelola aset secara mandiri.”

Darahku terasa dingin.

Aku segera memotret layar itu.

Pesan ketiga masuk.

Klinik R.

“Surat evaluasi belum bisa kami keluarkan tanpa pemeriksaan langsung. Mohon jangan meminta kami menulis diagnosis hanya berdasarkan cerita keluarga.”

Langkah kaki terdengar.

Aku meletakkan ponsel itu kembali.

Ayu muncul di pintu.

Matanya langsung tertuju pada ponselnya.

Lalu kepadaku.

“Ibu tadi pegang HP Ayu?”

Aku bersandar tenang.

“Kenapa? Ada sesuatu yang Ibu tidak boleh lihat?”

Wajahnya pucat.

Untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke rumah ini, aku melihat wajah asli menantuku.

Bukan wajah perempuan lembut yang selalu menangis di depan Arjuna.

Bukan wajah menantu berbakti yang ditampilkan kepada ribuan penonton.

Wajah itu penuh ketakutan.

Malamnya, aku meminta Setyo datang secara diam-diam.

Aku menunjukkan foto notifikasi tersebut.

Setyo membacanya berkali-kali.

“Bu, ini bukan sekadar soal saham.”

“Apa maksud Anda?”

“Kalau mereka berhasil mendapatkan surat yang menyatakan Ibu tidak cakap mengambil keputusan, mereka bisa mengajukan pengampuan. Dalam kondisi tertentu, akses terhadap aset Ibu bisa dikendalikan oleh pihak yang ditunjuk pengadilan.”

Aku mengepalkan tangan.

“Jadi selama ini mereka tidak ingin membunuh saya.”

Setyo diam.

“Mereka ingin membuat saya hidup sebagai orang yang dianggap sudah tidak mampu mengambil keputusan.”

“Kelihatannya begitu.”

Aku tertawa kecil.

Ironis.

Mereka tidak perlu menghabisiku.

Mereka hanya perlu membuat dunia percaya bahwa pikiranku sudah tidak bisa dipercaya.

Keesokan harinya, aku menerima telepon dari dokter.

“Bu Sari, hasil pemeriksaan sampel sudah keluar.”

Aku menahan napas.

“Apa isinya?”

“Cairan itu mengandung obat yang tidak seharusnya dikonsumsi tanpa pengawasan dokter. Jika diminum dalam dosis tertentu dan berulang, bisa menyebabkan gangguan pencernaan, pusing, lemas, dan kebingungan.”

Aku terdiam.

“Apakah bisa membuat seseorang terlihat seperti mengalami penurunan fungsi kognitif?”

“Jika dikombinasikan dengan kondisi lain dan diberikan terus-menerus, gejalanya bisa disalahartikan. Tapi kami tidak bisa menyimpulkan tujuan pemberiannya.”

Aku menutup telepon.

Semuanya mulai tersusun.

Susu hijau.

Jamu hitam.

Cerita tentang dompet yang hilang.

Video-video yang membuatku tampak seperti mertua kasar.

Dan rencana pengalihan saham.

Namun ada satu hal yang masih tidak kupahami.

Mengapa Arjuna ikut terlibat?

Malam itu aku memanggilnya.

Untuk pertama kalinya sejak dikurung, aku meminta agar hanya dia yang masuk.

Arjuna berdiri di depan pintu.

Wajahnya terlihat lelah.

“Ibu mau bicara?”

“Duduk.”

Dia duduk.

Aku mengeluarkan foto notifikasi yang sudah kucetak.

Wajahnya berubah.

“Ibu dapat ini dari mana?”

“Tidak penting.”

“Ibu salah paham.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Dia diam lama.

“Ayu yang merencanakan semuanya?”

Arjuna menunduk.

Aku tidak menyangka jawabannya justru lebih menyakitkan.

“Awalnya iya.”

Aku menatapnya.

“Awalnya?”

Arjuna mengusap wajah.

“Perusahaan sedang bermasalah, Bu.”

“Aku tahu laporan keuangannya.”

“Kita punya utang besar.”

“Utang perusahaan, bukan utang pribadimu.”

“Aku ingin menyelamatkan semuanya.”

Aku menatap anak yang dulu tidur di lenganku ketika berusia empat tahun.

“Kamu menyelamatkan perusahaan dengan mengambil milik ibumu?”

Air matanya jatuh.

“Aku tidak tahu semuanya akan sejauh ini.”

“Kamu tahu aku dikunci di kamar.”

“Iya.”

“Kamu tahu Ayu membuat orang-orang percaya Ibu pikun.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu tahu tentang susu itu?”

Arjuna memejamkan mata.

“Iya.”

Dadaku terasa sesak.

Bukan karena marah.

Karena kecewa.

Aku bisa memaafkan orang yang mengambil uangku.

Tetapi sulit memaafkan anak yang mengorbankan martabat ibunya demi mempertahankan hidup yang dia bangun di atas kebohongan.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Ayu berdiri di sana.

“Mas.”

Arjuna langsung bangkit.

“Ayu, jangan sekarang.”

Namun Ayu menatapku.

“Bu Sari, saya memang ingin mendapatkan saham itu.”

Aku diam.

“Tapi bukan karena saya membenci Ibu.”

Aku tertawa pahit.

“Lalu karena apa?”

Dia menunduk.

“Karena saya menemukan sesuatu.”

Dia mengeluarkan sebuah map.

“Mas Arjuna bukan hanya berutang kepada bank.”

Aku membuka map itu.

Ada salinan transaksi.

Transfer dalam jumlah besar.

Nama-nama perusahaan yang tidak kukenal.

Dan satu tanda tangan yang membuatku terdiam.

Tanda tangan suamiku.

“Tanggal ini…” bisikku.

Ayu mengangguk.

“Semua utang yang sekarang ditanggung perusahaan sebenarnya berasal dari transaksi lama yang dilakukan ayah Mas Arjuna sebelum beliau meninggal.”

Aku menatap dokumen itu.

Selama bertahun-tahun aku mengira suamiku meninggal tanpa meninggalkan masalah besar.

Ternyata tidak.

Namun halaman terakhir membuatku semakin terkejut.

Ada surat yang dibuat jauh sebelum kematiannya.

Isinya singkat.

Jika suatu hari perusahaan mengalami krisis karena utang lama tersebut, saham tertentu harus dikembalikan kepada pemegang saham awal melalui mekanisme yang telah disiapkan.

Dan nama penerima akhirnya bukan Arjuna.

Bukan Ayu.

Namaku.

Aku mengangkat kepala.

“Jadi kalian berusaha mengambil saham yang sebenarnya akan tetap menjadi milikku?”

Ayu menangis.

“Saya baru mengetahui semuanya dua bulan lalu. Saya pikir kalau saham itu bisa dipindahkan ke saya dan Mas Arjuna, perusahaan bisa kami selamatkan. Tapi setelah itu, Mas mulai takut Ibu akan mengetahui semuanya.”

Aku menatap Arjuna.

Dia menangis tanpa suara.

“Aku salah, Bu.”

Aku berdiri.

“Ya.”

Hanya itu yang kukatakan.

Beberapa minggu kemudian, kasus tersebut diserahkan kepada pengacara dan pihak berwenang. Semua transaksi diperiksa. Klinik yang menolak membuat diagnosis palsu menjadi saksi penting. Rekaman CCTV rumah juga menunjukkan beberapa tindakan yang sebelumnya disangkal Ayu.

Ayu akhirnya mengakui sebagian besar rencananya.

Arjuna mengundurkan diri dari posisi direktur utama.

Perusahaan tidak langsung hancur.

Justru setelah seluruh transaksi diperiksa, ditemukan bahwa sebagian besar krisis sebenarnya bisa diselesaikan tanpa mengambil aset pribadiku.

Mereka hanya terlalu takut menghadapi kenyataan.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali duduk di meja makan yang sama.

Di depanku ada segelas susu.

Kali ini warnanya putih.

Ayu tidak ada di sana.

Arjuna juga tidak.

Aku memandang gelas itu cukup lama.

Dulu aku berpikir keluarga berarti melindungi orang yang kita cintai, apa pun yang mereka lakukan.

Sekarang aku mengerti satu hal.

Mencintai anak bukan berarti menyerahkan seluruh hidup kita untuk membenarkan kesalahannya.

Dan menjadi seorang ibu bukan berarti harus membiarkan diri sendiri kehilangan suara.

Aku mengangkat gelas itu.

Minum seteguk.

Rasanya biasa saja.

Namun untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku merasa benar-benar bebas.

Ponselku bergetar.

Satu pesan masuk dari Arjuna.

“Ibu, apakah suatu hari Ibu masih bisa memaafkan saya?”

Aku membaca pesan itu lama.

Lalu mengetik satu kalimat.

“Memaafkan bukan berarti mengembalikan semuanya seperti semula. Kalau kamu benar-benar ingin menjadi anak Ibu lagi, bangunlah kembali kepercayaan itu dari awal.”

Aku menekan kirim.

Di luar jendela, matahari pagi perlahan masuk ke ruang makan.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak takut pada apa yang akan terjadi besok.

Karena kini aku tahu, kehilangan kepercayaan dari orang lain memang menyakitkan.

Tetapi kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri jauh lebih berbahaya.

Dan selama aku masih mampu berpikir, aku tidak akan pernah menyerahkan hak untuk menentukan hidupku kepada siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang