Pagi setelah pernikahan kami, saya bangun dan mendapati sisi ranjang Ratna sudah kosong.
Jam baru menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit.
Tiga sertifikat tanah yang semalam diletakkan di meja juga sudah tidak ada.
Saya langsung turun ke lantai bawah.
Ratna duduk sendirian di ruang makan. Di depannya hanya ada secangkir kopi yang sama sekali belum disentuh. Dia sudah berpakaian rapi dengan blus putih dan celana hitam, sementara ponsel lama yang semalam diperlihatkannya tergeletak di samping tangan.
“Kita berangkat sekarang,” katanya begitu melihat saya.
“Rumah sakit baru buka.”
“Aku tidak mau memberi siapa pun waktu untuk mengetahui kita akan datang.”
Saya berhenti.
“Termasuk Nina?”
Ratna menatap saya.
“Terutama Nina.”

Kurang dari empat puluh menit kemudian, kami sudah berada di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.
Ratna sengaja tidak membawa sopir. Kami menggunakan mobil saya yang bahkan harganya tidak sampai sepersepuluh Porsche yang semalam ingin dia berikan kepada saya.
Sepanjang perjalanan, dia hampir tidak bicara.
Namun ketika kami sampai di lantai empat dan seorang dokter bernama dr. Reza menyambut kami di ruang konsultasinya, saya melihat tangan Ratna gemetar.
“Terima kasih sudah datang langsung, Bu Ratna.”
Dokter itu menutup pintu.
“Ini suami saya,” kata Ratna.
Dr. Reza sempat menatap saya, mungkin terkejut melihat usia saya, tetapi dia cukup profesional untuk tidak bertanya.
Dia kemudian mengeluarkan dua map.
“Saya akan langsung ke intinya.”
Satu map berwarna biru.
Satu lagi putih.
Dr. Reza membuka keduanya.
“Ini hasil pemeriksaan Ibu yang tersimpan di sistem rumah sakit.”
Kemudian dia menunjuk map kedua.
“Dan ini salinan laporan yang Ibu kirimkan kepada saya minggu lalu.”
Ratna menatap kedua dokumen itu.
“Apa bedanya?”
“Banyak.”
Satu kata itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Dr. Reza menunjuk hasil pemeriksaan jantung Ratna.
“Memang benar ada gangguan irama jantung. Tetapi berdasarkan pemeriksaan terakhir, kondisinya terkendali. Tidak ada dasar bagi kami untuk mengatakan bahwa hidup Ibu mungkin tinggal beberapa bulan atau bahwa kondisi Ibu bisa memburuk sewaktu-waktu seperti yang tertulis dalam laporan ini.”
Ratna tidak bergerak.
Saya mengambil laporan yang selama ini dia terima di rumah.
Di bagian kesimpulan tertulis risiko gagal jantung progresif dan kemungkinan komplikasi serius.
“Ini bukan dari rumah sakit?” tanya saya.
Dr. Reza menggeleng.
“Formatnya menyerupai format kami. Nama saya juga tercantum. Tetapi saya tidak pernah menandatangani laporan ini.”
Ratna memejamkan mata.
“Nina.”
Dr. Reza tampak bingung.
“Asisten pribadi saya,” jawab Ratna.
Dokter itu kemudian membuka halaman lain.
“Ada satu hal lagi.”
Saya mulai tidak menyukai kalimat itu.
“Apa?”
“Sekitar delapan belas bulan terakhir, beberapa kali ada permintaan salinan rekam medis Ibu.”
“Dari siapa?”
“Semua menggunakan surat kuasa.”
Dia memutar monitor komputer ke arah kami.
Nama penerima muncul di sana.
Nina Prameswari.
Ratna tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tawa orang yang baru menyadari bahwa seseorang yang dipercayainya selama lima belas tahun mungkin telah mengkhianatinya.
“Dia memang punya surat kuasa untuk mengurus administrasi saya.”
“Apakah termasuk meminta seluruh rekam medis?”
Ratna terdiam.
“Dulu iya.”
Dr. Reza kembali melihat monitor.
“Tapi ada sesuatu yang lebih aneh. Tiga bulan lalu ada permintaan pemeriksaan kapasitas kognitif.”
Saya mengernyit.
“Untuk apa?”
“Biasanya pemeriksaan seperti itu digunakan untuk menilai fungsi ingatan dan kemampuan seseorang mengambil keputusan. Tetapi Ibu Ratna tidak pernah menjalani pemeriksaannya.”
“Lalu?”
“Di sistem tercatat dibatalkan.”
Ratna menatap dokter itu tajam.
“Siapa yang meminta?”
Dr. Reza membaca nama pada layar.
“Nina.”
Kami meninggalkan rumah sakit hampir pukul sembilan.
Begitu masuk mobil, Ratna langsung menelepon seseorang.
“Pak Surya, batalkan kedatangan notaris ke rumah.”
Saya menoleh kepadanya.
“Dan jangan proses pemindahan aset apa pun. Mulai hari ini, setiap dokumen hanya boleh ditandatangani di hadapan saya dan Arga.”
Dia mematikan telepon.
“Kenapa saya?”
“Karena sekarang aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Kalimat itu terasa lebih berat daripada tiga sertifikat yang semalam diletakkannya di tangan saya.
Saat kami tiba di rumah, gerbang terbuka.
Ratna langsung mengerutkan kening.
“Saya tadi menguncinya,” kata satpam.
Sebuah mobil hitam terparkir di halaman.
Dimas.
Dia duduk di ruang tamu bersama Haris.
Kali ini tanpa perempuan yang semalam datang bersama mereka.
Begitu kami masuk, Dimas berdiri.
“Dari rumah sakit?”
Ratna berhenti.
Saya juga.
Dimas sepertinya baru menyadari kesalahannya.
“Bagaimana kamu tahu kami ke rumah sakit?” tanya Ratna.
“Bibi sedang sakit. Ya pasti ke rumah sakit.”
“Rumah sakit mana?”
Dimas diam.
Ratna mendekatinya.
“Kamu tahu, bukan?”
“Bibi terlalu curiga.”
Ratna menatap Haris.
“Sebagai pengacara, apakah Anda tahu klien Anda memperoleh informasi medis saya tanpa izin?”
Haris langsung menoleh kepada Dimas.
“Saya tidak tahu apa yang Ibu maksud.”
Ratna mengeluarkan ponselnya.
“Saya baru selesai berbicara dengan rumah sakit. Laporan kesehatan yang saya terima selama hampir dua tahun telah dimanipulasi.”
Wajah Dimas berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi cukup.
Saya melihatnya.
Ratna juga.
“Bibi sedang dipengaruhi anak ini,” katanya sambil menunjuk saya.
Ratna justru tersenyum.
“Lucu.”
“Apa?”
“Karena laporan palsu itu mulai muncul jauh sebelum aku mengenal Arga.”
Dimas tidak menjawab.
Ratna melanjutkan.
“Dan Nina menghilang sejak tadi malam.”
“Saya tidak tahu di mana dia.”
“Benarkah?”
“Benar.”
Saat itu ponsel saya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Saya hampir mengabaikannya.
Namun kemudian sebuah pesan masuk.
Jangan percaya Dimas. Saya punya bukti. Datang sendiri ke apartemen saya.
Di bawahnya terdapat alamat.
Saya tidak menunjukkan pesan itu kepada siapa pun.
Bahkan kepada Ratna.
Bukan karena saya tidak percaya kepadanya.
Saya hanya takut reaksinya membuat Dimas sadar bahwa Nina telah menghubungi kami.
Setelah hampir dua puluh menit berdebat, Haris akhirnya membawa Dimas pergi.
Begitu mobil mereka keluar dari halaman, saya menyerahkan ponsel kepada Ratna.
Wajahnya pucat ketika membaca pesan itu.
“Kita pergi bersama.”
“Dia bilang datang sendiri.”
“Justru karena itu.”
Satu jam kemudian kami sampai di sebuah apartemen di kawasan Kuningan.
Ratna menunggu di mobil.
Saya naik sendiri.
Pintu unit Nina tidak terkunci.
“Nina?”
Tidak ada jawaban.
Saya masuk perlahan.
Ruang tamunya berantakan.
Laci terbuka.
Dokumen berserakan.
Sebuah laptop tergeletak di lantai.
Saya kembali memanggil namanya.
“Nina?”
Terdengar suara pelan dari dapur.
Saya mendekat.
Nina duduk di lantai dengan wajah pucat.
Tidak ada luka.
Dia hanya terlihat sangat ketakutan.
“Pak Arga?”
Saya membantu dia berdiri.
“Apa yang terjadi?”
“Mereka datang tadi pagi.”
“Siapa?”
Nina menatap pintu.
“Orang suruhan Dimas.”
Saya menegang.
“Kenapa Anda memalsukan laporan kesehatan Ratna?”
Nina langsung menangis.
“Saya yang mengirimkannya, tapi saya bukan orang yang membuat rencana itu.”
“Jelaskan.”
Dia berjalan ke kamar, lalu mengambil sebuah flashdisk dari balik lemari.
“Lima tahun lalu, Bu Ratna mengubah surat wasiatnya.”
“Lalu?”
“Sebagian besar asetnya tidak lagi diberikan kepada keluarga.”
Saya terdiam.
“Kepada siapa?”
“Yayasan pendidikan miliknya.”
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
“Dimas tahu?”
“Dia baru tahu dua tahun lalu.”
Nina duduk.
“Dia marah. Dia bilang keluarga seharusnya mendapat semuanya.”
“Lalu laporan kesehatan itu?”
Nina menunduk.
“Dia ingin Bu Ratna percaya bahwa waktunya sedikit. Dia berharap Bu Ratna akan mulai membagi aset sebelum meninggal.”
“Dan kalau tidak berhasil?”
Nina menatap saya.
“Dia akan membuat Bu Ratna dianggap tidak mampu mengambil keputusan.”
Saya langsung teringat permintaan pemeriksaan kognitif.
“Tapi kenapa Anda membantu?”
Nina menangis semakin keras.
“Anak saya punya utang. Dimas melunasinya. Setelah itu dia punya bukti transfer dan mengancam akan melaporkan saya karena penyalahgunaan dana perusahaan.”
“Apakah Anda memang mengambil uang?”
Nina mengangguk.
“Seratus delapan puluh juta.”
Saya terdiam.
“Saya salah. Saya mengakuinya. Tapi setelah itu saya tidak bisa keluar.”
Dia memberikan flashdisk kepada saya.
“Semua percakapan saya dengan Dimas ada di sini.”
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka.
Dimas berdiri di sana.
Saya refleks berdiri di depan Nina.
Dua pria berada di belakangnya.
“Saya sudah menduga Bibi akan mengirim suami mudanya.”
Dimas masuk.
“Berikan flashdisk itu.”
“Tidak.”
Dia tertawa.
“Arga, kamu bahkan belum mengenal keluarga ini satu tahun.”
“Dan saya sudah cukup mengenal Anda dalam dua hari.”
Senyumnya hilang.
Dia melangkah mendekat.
Saat itulah terdengar suara dari belakangnya.
“Kalau begitu mungkin kamu perlu menjelaskan semuanya kepadaku.”
Dimas membeku.
Ratna berdiri di koridor.
Di belakangnya ada Haris.
Dan dua petugas kepolisian.
Wajah Dimas langsung berubah.
“Haris?”
Pengacaranya tidak menjawab.
Ratna masuk perlahan.
“Sebelum Arga naik, aku menelepon Haris.”
Dimas menatapnya tidak percaya.
“Haris tidak tahu soal laporan medis palsu,” lanjut Ratna. “Begitu dia melihat hasil dari rumah sakit dan pesan Nina, dia memilih tidak ikut tenggelam bersamamu.”
Dimas mundur.
“Bibi, dengar dulu.”
“Dua tahun.”
Suara Ratna bergetar.
“Dua tahun kamu membuatku tidur setiap malam sambil berpikir mungkin aku tidak akan bangun besok pagi.”
“Saya cuma ingin melindungi aset keluarga.”
“Dengan membuatku takut mati?”
Dimas diam.
Ratna menatap Nina.
“Aku juga kecewa kepadamu.”
Nina menangis.
“Saya tahu, Bu.”
“Tapi kamu masih punya kesempatan mengatakan yang sebenarnya.”
Polisi membawa Dimas untuk dimintai keterangan. Nina kemudian menyerahkan bukti percakapan, transfer, dokumen medis palsu, dan sejumlah rekaman suara.
Kasus itu tidak selesai dalam sehari.
Butuh berbulan-bulan.
Nina tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Dimas juga menjalani proses hukum atas dugaan pemalsuan dokumen, intimidasi, dan sejumlah tindakan lain yang ditemukan selama penyelidikan.
Namun kejutan terbesar justru datang tiga bulan kemudian.
Suatu sore, Ratna memanggil saya ke ruang kerjanya.
Tiga sertifikat tanah yang pernah saya lihat pada malam pertama kembali tergeletak di meja.
Saya langsung menggeleng.
“Jangan mulai lagi.”
Ratna tertawa.
“Duduk dulu.”
“Saya tetap tidak mau.”
“Siapa bilang aku mau memberikannya kepadamu?”
Saya terdiam.
Ratna mendorong sebuah dokumen ke arah saya.
Ternyata dokumen pendirian yayasan.
Tiga properti itu akan dialihkan menjadi aset yayasan pendidikan yang selama ini dia bangun.
“Lalu kenapa malam itu Ibu bilang mau memberikannya kepada saya?”
Ratna terdiam cukup lama.
Kemudian dia tersenyum.
“Karena aku sedang mengujimu.”
Saya menatapnya.
“Apa?”
“Aku sudah curiga ada kebocoran informasi di rumah. Aku sengaja mengeluarkan tiga sertifikat yang tidak pernah kubicarakan dengan siapa pun.”
Saya perlahan memahami.
“Jadi Dimas datang karena…”
“Karena seseorang mendengar percakapan kita dan langsung memberitahunya.”
“Nina?”
Ratna menggeleng.
“Bukan.”
Saya terdiam.
“Lalu siapa?”
Ratna menatap ke arah pintu ruang kerja.
Seorang perempuan masuk.
Pembantu rumah yang malam itu berdiri kebingungan di dekat pintu.
Bu Sari.
Wajahnya penuh rasa bersalah.
“Ternyata Dimas membayarnya selama hampir satu tahun untuk melaporkan apa pun yang terjadi di rumah,” kata Ratna.
Saya benar-benar tidak bisa berkata-kata.
“Jadi malam pertama kita…”
“Umpan.”
Saya menatap perempuan berusia enam puluh tahun yang saya nikahi itu.
Untuk pertama kalinya saya tertawa.
“Berarti Porsche juga umpan?”
Ratna tersenyum.
“Tidak.”
Dia mengambil kunci mobil dari laci dan melemparkannya kepada saya.
Saya menangkapnya.
“Itu hadiah pernikahan.”
Saya langsung meletakkannya kembali.
“Tidak mau.”
Ratna tertawa sampai matanya berair.
Enam bulan kemudian, tiga properti itu resmi menjadi bagian dari yayasan pendidikan.
Salah satunya diubah menjadi asrama bagi mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah.
Saya kembali kuliah.
Ratna menjalani pengobatan rutin, dan kondisi jantungnya tetap stabil.
Orang-orang masih membicarakan pernikahan kami.
Ada yang mengatakan saya menikah karena uang.
Ada yang mengatakan Ratna menikahi saya karena takut kesepian.
Kami berhenti menjelaskan.
Sampai suatu malam, hampir setahun setelah pernikahan kami, saya menemukan sebuah amplop di atas meja.
Saya langsung tertawa.
“Jangan bilang ada sertifikat lagi.”
Ratna menggeleng.
“Buka.”
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Hasil pemeriksaan rumah sakit.
Kondisi jantungnya membaik.
Di bagian bawah, Ratna menulis dengan tangannya sendiri.
Terima kasih karena ketika semua orang sibuk menghitung berapa lama hidupku tersisa, kamu satu-satunya orang yang bertanya bagaimana aku ingin menjalani hidup yang masih kumiliki.
Saya membaca kalimat itu beberapa kali.
Barulah saya memahami sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan oleh tiga sertifikat tanah, sebuah Porsche, atau perbedaan usia empat puluh tahun.
Malam pertama kami memang dimulai dengan harta.
Namun pada akhirnya, justru ketika semua rahasia keluarga itu terbongkar, saya mengetahui alasan sebenarnya mengapa Ratna memilih menikah dengan saya.
Bukan karena dia membutuhkan seseorang untuk mewarisi kekayaannya.
Dia hanya membutuhkan seseorang yang tidak menunggu kematiannya untuk mendapatkan sesuatu darinya.
Dan tanpa saya sadari, itulah satu-satunya ujian yang sudah saya lewati bahkan sebelum saya tahu bahwa saya sedang diuji.
