SEORANG KAKEK MENUNGGU ISTRINYA SELAMA 30 TAHUN DI HALTE TUA—SAAT AKU MENEMUKANNYA, SATU KALIMAT SANG NENEK MEMBUKA RAHASIA YANG TAK PERNAH IA KETAHUI

Ternyata, rahasia yang disimpan Wulan selama tiga puluh tahun bukan hanya tentang kehamilan itu.

Pak Sur masih berlutut di depan kursi roda ketika Wulan menggenggam tangannya semakin erat.

“Anak kita di mana, Sur?”

Suara perempuan tua itu lemah, tetapi pertanyaannya terdengar begitu jelas hingga tak seorang pun di taman berani bergerak.

Pak Sur menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Anak?”

Wulan mengangguk perlahan.

“Anak kita.”

Pak Sur menarik napas panjang.

“Wulan, waktu kamu pergi… aku bahkan nggak tahu kamu hamil.”

Wajah Wulan mendadak berubah.

Tatapannya yang semula penuh kerinduan perlahan dipenuhi kebingungan.

“Tidak tahu?”

“Nggak.”

Wulan menatapnya lama.

Kemudian dia berbisik, “Tapi suratku?”

Pak Sur membeku.

“Surat apa?”

Wulan hendak menjawab, tetapi tiba-tiba tangannya terlepas dari genggaman Pak Sur. Tubuhnya melemah dan kepalanya bersandar ke kursi roda.

Diah langsung memanggil perawat.

Pak Sur panik.

“Wulan!”

“Pak, tenang dulu. Kondisi Bu Rini memang mudah drop kalau terlalu banyak menerima rangsangan emosional.”

Wulan dibawa kembali ke kamar.

Malam itu kami tidak mendapatkan jawaban apa pun.

Menurut catatan panti, perempuan yang selama puluhan tahun dipanggil Bu Rini ditemukan pada Desember 1996 di sebuah terminal kecil di Jawa Tengah. Saat ditemukan, kondisinya sangat lemah. Ada bekas luka di kepalanya dan dia mengalami gangguan ingatan berat.

Tidak ada kartu identitas.

Tidak ada alamat.

Tidak ada keluarga.

Hanya sebuah tas kain berisi pakaian basah dan potongan kain biru yang sudah lusuh.

Ketika Diah memperlihatkan barang itu, Pak Sur langsung menangis.

“Itu bukan kain.”

Dia mengambilnya dengan tangan gemetar.

“Itu benang.”

Gulungan benang biru.

Barang yang hendak dibeli Wulan tiga puluh tahun lalu untuk memperbaiki kancing bajunya.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Kemungkinan bahwa perempuan itu benar-benar Wulan hampir tidak terbantahkan lagi.

Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih besar.

Di mana anak mereka?

Keesokan harinya kondisi Wulan membaik.

Aku dan Pak Sur masuk ke kamarnya.

Pak Sur duduk di samping ranjang.

Kali ini dia tidak langsung bertanya soal anak.

Dia mengeluarkan kotak makan aluminium yang selalu dibawanya ke halte.

“Aku bawa makanan.”

Wulan memandang kotak itu.

Pak Sur membukanya.

Nasi, telur balado, tempe, dan tumis kangkung.

Wulan tersenyum kecil.

“Kamu masih nggak suka wortel?”

Pak Sur tertawa sambil menangis.

“Masih.”

Itulah pertama kalinya aku benar-benar yakin.

Ingatan Wulan mungkin rusak, tetapi perasaannya terhadap lelaki di depannya tidak pernah sepenuhnya hilang.

Sedikit demi sedikit, ingatan lama mulai muncul.

Hari itu, Wulan akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada 1996.

Saat meninggalkan Pak Sur di halte, dia memang pergi ke pasar.

Namun sebelum membeli benang, Wulan mampir ke sebuah klinik kecil karena selama beberapa hari dia merasa mual.

Di sanalah dokter mengatakan bahwa dia hamil.

Hampir tiga bulan.

Wulan begitu bahagia sampai membeli sepasang kaus kaki bayi dari pedagang dekat pasar.

Dia berencana memberikannya kepada Pak Sur sebagai kejutan.

Tetapi hujan turun jauh lebih cepat dari perkiraan.

Ketika hendak kembali ke halte, kendaraan yang ditumpanginya terjebak banjir.

Dalam kekacauan evakuasi, kendaraan itu mengalami kecelakaan.

Wulan hanya mengingat suara orang berteriak, air, benturan keras, lalu gelap.

Saat sadar, dia sudah berada di sebuah tempat pengungsian.

Dia tidak ingat alamat rumahnya.

Tidak ingat nama lengkapnya.

Namun satu nama terus muncul.

Sur.

Beberapa minggu kemudian, seseorang mengenalinya.

Seorang perempuan bernama Mirah.

“Kakak saya,” kata Pak Sur pelan.

Aku menoleh.

Pak Sur memiliki seorang kakak perempuan bernama Mirah.

Menurut Wulan, Mirah datang ke tempat pengungsian dan mengatakan bahwa Pak Sur selamat.

Wulan menangis lega.

Dia kemudian menulis surat.

Dalam surat itu, Wulan menjelaskan bahwa dia sedang mengandung dan meminta Pak Sur menjemputnya.

“Tapi kamu nggak datang,” bisik Wulan.

Pak Sur terlihat seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas.

“Aku nggak pernah menerima surat itu.”

Wulan menatapnya.

“Mbakyumu bilang kamu sudah baca.”

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Sur berdiri.

“Aku harus pulang ke Bekasi.”

Aku mengejarnya keluar.

“Pak, tunggu. Kita belum tahu semuanya.”

Pak Sur menatapku.

“Mas Arga, Mbak Mirah masih hidup.”

Kami kembali ke Bekasi dua hari kemudian.

Rian mengantar kami ke rumah Mirah di Tambun.

Perempuan itu sudah berusia hampir delapan puluh tahun.

Ketika melihat Pak Sur turun dari mobil, dia tersenyum.

Namun senyumnya hilang saat melihatku membawa foto Wulan.

“Mbak.”

Pak Sur berdiri di depan pintu.

“Wulan masih hidup.”

Wajah Mirah langsung pucat.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada ekspresi terkejut.

Hanya ketakutan.

Dan dari reaksi itu, kami sudah mendapatkan setengah jawaban.

Pak Sur masuk.

“Ada surat buat aku tiga puluh tahun lalu?”

Mirah duduk perlahan.

Tangannya gemetar.

“Sur…”

“Ada atau nggak?”

Air mata mulai memenuhi mata perempuan itu.

“Ada.”

Pak Sur memejamkan mata.

Aku belum pernah melihat seseorang terlihat begitu hancur hanya karena satu kata.

“Kenapa?”

Mirah menangis.

Tiga puluh tahun lalu, keluarga Pak Sur memang tidak pernah menyukai Wulan.

Mereka menganggap Wulan berasal dari keluarga yang terlalu miskin.

Ayah Pak Sur bahkan sempat meminta anaknya menceraikan Wulan.

Pak Sur menolak.

Setelah kecelakaan itu, Mirah menemukan Wulan di pengungsian.

Namun kondisi Wulan membuatnya berpikir bahwa kesempatan untuk memisahkan mereka akhirnya datang.

“Aku pikir kamu akan punya hidup lebih baik kalau dia nggak kembali.”

Pak Sur mengepalkan tangan.

“Tiga puluh tahun, Mbak.”

“Aku salah.”

“Tiga puluh tahun aku duduk di halte!”

Mirah menutup wajahnya.

Pak Sur tidak berteriak lagi.

Justru suaranya berubah sangat pelan.

“Anakku?”

Mirah tidak menjawab.

“Mbak, anakku di mana?”

Tangis Mirah semakin keras.

“Dia lahir.”

Pak Sur terduduk.

Seorang bayi laki-laki lahir pada Mei 1997.

Karena kondisi mental Wulan belum stabil dan identitasnya bermasalah, Mirah membantu proses persalinannya.

Namun setelah itu, Mirah membawa bayi tersebut pergi.

Dia mengatakan kepada Wulan bahwa anaknya akan dibawa kepada Pak Sur.

Kepada Pak Sur, dia tidak mengatakan apa-apa.

“Ke mana anak itu dibawa?”

Mirah berjalan ke lemari tua.

Dari dalamnya dia mengambil sebuah amplop kecokelatan.

Di dalamnya ada dokumen adopsi lama.

Aku membaca nama sebuah keluarga.

Bambang dan Sulastri.

Alamat terakhir mereka berada di Semarang.

Tetapi satu detail membuat tanganku dingin.

Nama bayi itu.

Rangga.

Pak Sur memandangi dokumen tersebut.

“Cari dia.”

Pencarian berikutnya jauh lebih cepat berkat video pertama yang sudah tersebar luas.

Dalam dua hari, kami menemukan bahwa Bambang dan Sulastri sudah meninggal.

Namun anak angkat mereka masih hidup.

Namanya kini Rangga Pratama.

Usianya dua puluh sembilan tahun.

Dia bekerja sebagai teknisi alat kesehatan di Jakarta.

Aku menghubunginya.

Awalnya dia mengira aku penipu.

Sampai aku mengirim foto dokumen adopsi tersebut.

Rangga diam hampir satu menit di telepon.

“Apa yang Mas inginkan?”

“Bukan saya.”

Aku melihat Pak Sur duduk di sampingku.

“Ada dua orang yang mungkin sudah menunggu Anda selama hampir tiga puluh tahun.”

Kami sepakat bertemu.

Tetapi Pak Sur meminta satu hal.

“Di halte.”

Sore itu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Pak Sur tidak duduk menghadap jalan.

Dia berdiri.

Wulan berada di sampingnya dengan kursi roda. Kondisinya sudah cukup baik untuk dibawa kembali ke Bekasi setelah pemeriksaan dokter.

Sekitar pukul empat, sebuah mobil berhenti di seberang jalan.

Seorang laki-laki turun.

Tubuhnya tinggi.

Rambutnya pendek.

Dia mengenakan kemeja abu-abu dan celana hitam.

Pak Sur tidak bergerak.

Wulan justru mulai menangis.

Rangga berjalan mendekat.

Dia berhenti beberapa langkah di depan mereka.

Tidak ada yang tahu harus mengatakan apa.

Akhirnya Rangga membuka suara.

“Saya nggak tahu harus panggil apa.”

Pak Sur tersenyum meski air matanya jatuh.

“Panggil Pak juga nggak apa-apa.”

Rangga menatap Wulan.

Perempuan itu mengangkat tangan.

Tangannya bergetar ketika menyentuh wajah Rangga.

Kemudian Wulan berkata sesuatu yang membuat laki-laki itu membeku.

“Kamu punya tanda lahir di belakang telinga kanan.”

Rangga refleks menyentuh telinganya.

Wulan tersenyum sambil menangis.

“Waktu kamu lahir, aku cium tanda itu.”

Rangga menunduk.

Beberapa detik kemudian, dia berlutut dan memeluk Wulan.

Pak Sur berdiri di samping mereka.

Dia menangis tanpa suara.

Tes DNA dilakukan beberapa hari kemudian.

Hasilnya memastikan bahwa Rangga memang anak biologis Pak Sur dan Wulan.

Kupikir cerita itu sudah selesai.

Ternyata belum.

Seminggu setelah hasil tes keluar, Rangga menghubungiku.

“Mas Arga, saya menemukan sesuatu di rumah orang tua angkat saya.”

Kami bertemu malam itu.

Rangga membawa sebuah kotak kayu.

Di dalamnya ada puluhan surat.

Semua ditulis oleh Sulastri, ibu angkatnya.

Sebagian tidak pernah dikirim.

Salah satunya ditujukan kepada seseorang bernama Surya.

Rangga membacanya di depan kami.

Sulastri ternyata sejak awal tidak tahu bahwa bayi yang mereka adopsi memiliki ayah yang masih mencari.

Mirah mengatakan bahwa Wulan ditinggalkan suaminya dan tidak mampu merawat bayi tersebut.

Bertahun-tahun kemudian, Sulastri mulai curiga.

Dia mencoba mencari Pak Sur.

Dan pada 2004, dia berhasil menemukannya.

Dia bahkan pernah datang ke halte.

Pak Sur terdiam.

“2004?”

Rangga mengangguk.

Surat itu menjelaskan bahwa Sulastri melihat Pak Sur duduk di halte sambil memegang foto Wulan.

Saat itulah dia sadar bahwa cerita Mirah adalah kebohongan.

Namun dia tidak berani mendekat.

Dia takut kehilangan Rangga yang saat itu baru berusia tujuh tahun.

Sejak hari itu, rasa bersalah menghantuinya.

Di bagian terakhir surat, ada satu kalimat.

“Kalau suatu hari Rangga menemukan surat ini, bawalah dia ke halte itu. Mungkin ada seorang ayah yang masih menunggu.”

Pak Sur menutup wajahnya.

Aku mengira dia akan marah.

Namun dia justru berkata, “Dia membesarkan anak saya dengan baik. Saya nggak punya hak membenci dia.”

Tiga bulan kemudian, halte tua itu akhirnya dibongkar karena pelebaran jalan.

Pada pagi terakhir sebelum pembongkaran, aku datang menemui Pak Sur.

Untuk pertama kalinya, dia tidak membawa kotak makan.

“Bapak nggak nunggu lagi?”

Pak Sur tersenyum.

Di seberang jalan, Wulan sedang duduk di dalam mobil bersama Rangga.

“Nggak.”

“Kenapa?”

Pak Sur memandang bangku tempat dia menghabiskan sebagian besar hidupnya.

“Ternyata selama ini saya salah.”

“Salah apa?”

“Saya pikir saya menunggu Wulan.”

Dia menoleh ke arah istri dan anaknya.

“Ternyata hidup yang menunggu saya.”

Sebelum pergi, Pak Sur mengambil sesuatu dari sakunya.

Sebuah kancing putih dengan seutas benang biru.

Wulan akhirnya menjahitkan kancing yang lepas tiga puluh tahun lalu.

Pak Sur tertawa ketika menunjukkannya kepadaku.

“Dia masih marah karena saya nggak bisa jahit sendiri.”

Dari dalam mobil, terdengar suara Wulan.

“Sur! Lama amat!”

Pak Sur tertawa lebih keras.

“Iya, iya!”

Dia berjalan menuju mobil.

Aku berdiri di depan halte tua itu sambil melihat mereka pergi.

Tiga puluh tahun sebelumnya, seorang perempuan berkata kepada suaminya agar tidak pergi ke mana-mana karena dia akan kembali sebelum matahari turun.

Wulan memang terlambat.

Sangat terlambat.

Dia kembali setelah ribuan kali matahari terbenam.

Tetapi pada akhirnya, Pak Sur masih berada di sana.

Dan mungkin itulah hal paling aneh tentang menunggu seseorang.

Kita tidak pernah tahu apakah yang sedang kita tunggu benar-benar akan kembali.

Namun bagi Pak Sur, tiga puluh tahun itu akhirnya memberinya jawaban.

Bukan bahwa cinta selalu mampu mencegah seseorang pergi.

Melainkan bahwa ketika kebenaran terlambat pulang, ia tetap tahu jalan untuk menemukan orang-orang yang tidak pernah berhenti menunggunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang