Sejak saat itu, aku tahu perceraian dengan Dimas bukan lagi masalah terbesar dalam hidupku.
Tanganku masih menggantung di atas amplop putih bertuliskan namaku.
RANI PRAMESTI.
Tulisan tangan di bawahnya tampak sedikit gemetar, tetapi jelas.
Untuk Rani. Bacalah ketika Ratih sudah siap mengatakan yang sebenarnya.
Aku menatap Ibu.
“Siapa sebenarnya Pak Surya?”
Ibu memejamkan mata sejenak.
“Orang yang pernah menyelamatkan hidup Ibu.”
“Lalu kenapa dia mencariku sejak kecil?”
Ibu tidak menjawab.
Pak Aditya berdiri perlahan.
“Mungkin sebaiknya saya memberi kalian waktu. Besok saya akan kembali untuk menjelaskan proses hukum warisan ini.”
Sebelum pergi, ia menatap Ibu.
“Bu Ratih, rahasia yang disimpan terlalu lama biasanya tidak hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk muncul.”
Setelah pintu tertutup, rumah kontrakan kami terasa lebih sempit dari biasanya.
Aku duduk di depan Ibu.

“Sekarang jelaskan.”
Ibu memandang amplop itu.
“Tiga puluh tahun lalu, Ibu bekerja di perusahaan milik keluarga Hartono. Bukan pembantu rumah tangga seperti yang selama ini kamu kira.”
“Lalu?”
“Ibu bekerja di bagian administrasi keuangan.”
Aku terkejut.
Sepanjang hidup, Ibu selalu mengatakan bahwa pendidikan formalnya tidak tinggi dan ia pernah bekerja serabutan sebelum menikah dengan Ayah.
“Ibu menemukan sesuatu,” lanjutnya.
“Apa?”
“Penggelapan uang perusahaan.”
Seorang direktur keuangan yang masih kerabat Pak Surya ternyata memindahkan dana perusahaan melalui beberapa perusahaan fiktif. Nilainya sangat besar. Jika skema itu tidak terbongkar, Hartono Artha Nusantara bisa bangkrut.
Ibu diam-diam menyalin bukti transaksi dan menyerahkannya kepada Pak Surya.
Kasus itu diselesaikan secara internal karena Pak Surya takut ribuan karyawan kehilangan pekerjaan jika perusahaan runtuh.
“Setelah itu beliau ingin memberi Ibu uang,” kata Ibu. “Tapi Ibu menolak.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu tidak melakukan itu untuk mendapat uang.”
Aku menunjuk dokumen di meja.
“Lalu satu koma enam triliun ini apa?”
Ibu tersenyum getir.
“Pak Surya rupanya tidak pernah melupakan.”
Aku masih merasa ada bagian yang hilang.
“Kenapa dia mencariku?”
Ibu terdiam terlalu lama.
Aku mengambil amplop.
Kali ini Ibu tidak menghentikanku.
Di dalamnya terdapat tiga lembar surat dan sebuah foto lama.
Foto itu membuat napasku tertahan.
Seorang perempuan muda berdiri di halaman sebuah rumah besar.
Ibu.
Di sebelahnya berdiri Pak Surya.
Dan di antara mereka ada seorang laki-laki muda yang wajahnya sangat kukenal.
Ayah.
Aku membalik foto.
Di belakangnya tertulis tanggal hampir dua tahun sebelum Ibu dan Ayah menikah.
Aku membuka surat.
Rani,
Jika kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan sendiri.
Ayahmu, Prasetyo, bukan sekadar suami Ratih.
Dia adalah orang yang membantuku menyelamatkan perusahaan.
Aku berhenti membaca.
“Ayah?”
Ibu mengangguk.
Ternyata Ayah bekerja sebagai sopir pribadi Pak Surya saat itu.
Ketika Ibu menemukan penggelapan tersebut, orang-orang yang terlibat mulai mencurigainya. Ayahlah yang membantu membawa salinan dokumen keluar dari kantor.
Suatu malam, mobil Ayah diikuti.
Beberapa hari kemudian, Ibu dan Ayah meninggalkan Jakarta.
“Kenapa kalian tidak pernah cerita?”
“Karena orang-orang itu masih punya kekuasaan.”
Aku kembali membaca.
Surat Pak Surya menjelaskan bahwa setelah situasi aman, ia berkali-kali mencoba mencari Ayah dan Ibu.
Namun mereka selalu menolak kembali.
Sampai akhirnya Pak Surya mengetahui keberadaanku.
Ada satu kalimat yang membuat mataku panas.
Aku tidak memberikan warisan ini karena kasihan. Aku mengembalikannya kepada keluarga yang membuat keluargaku tetap berdiri.
Aku menurunkan surat.
Ibu menangis tanpa suara.
“Ayah tahu?”
“Tahu.”
“Kenapa kita hidup susah kalau kalian tahu Pak Surya ingin membantu?”
Ibu menatapku.
“Karena Ayahmu punya harga diri yang keras kepala.”
Untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal tujuh tahun lalu, aku tertawa sambil menangis.
Itu memang sangat mirip Ayah.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rangkaian pertemuan dengan notaris, pengacara, konsultan pajak, dan perwakilan perusahaan.
Nilai warisan akhirnya dihitung sekitar satu koma tujuh triliun rupiah, sebagian besar dalam bentuk saham dan aset properti.
Namun ada satu syarat.
Ibu tidak boleh menjual saham utama selama lima tahun.
Menurut Pak Aditya, syarat itu dibuat agar aset tersebut tidak jatuh ke tangan orang yang hanya mengejar uang.
Saat itulah aku tidak tahu bahwa kabar warisan sudah bocor.
Dan orang pertama yang mendengarnya adalah Dimas.
Dua minggu setelah pertemuan pertama dengan Pak Aditya, sebuah mobil berhenti di depan kontrakan.
Aku sedang menjemur pakaian ketika mendengar suara yang sangat kukenal.
“Rani.”
Aku menoleh.
Dimas berdiri di ujung gang.
Kali ini tidak ada map perceraian.
Tidak ada wajah kesal.
Ia membawa bunga.
Aku hampir tertawa.
“Untuk apa kamu datang?”
“Aku mau bicara.”
“Pengacara kita bisa bicara.”
“Bukan soal perceraian.”
Aku melipat tangan.
“Lalu?”
Dimas menarik napas.
“Aku dengar soal Ibu.”
“Dengar dari siapa?”
“Itu tidak penting.”
“Ternyata cukup penting sampai kamu membawa bunga.”
Wajahnya menegang.
“Jangan sinis.”
Aku menatap bunga di tangannya.
“Waktu Ibu pulang cuci darah, kamu membawa surat cerai. Sekarang setelah dengar soal warisan, kamu membawa bunga. Aku cuma sedang mencoba memahami pola pikirmu.”
Dimas terdiam.
Lalu ia mengeluarkan kalimat yang mungkin sudah dipersiapkannya sepanjang perjalanan.
“Aku sadar aku salah.”
“Cepat sekali.”
“Aku stres waktu itu.”
“Karena biaya pengobatan Ibu?”
“Aku takut kita tidak sanggup.”
“Kamu bilang kamu ingin hidup normal.”
“Aku emosi.”
Aku mengangguk.
“Dan sekarang?”
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
Aku menatapnya cukup lama.
“Perceraian tetap jalan.”
Wajahnya berubah.
“Rani, kita empat tahun menikah.”
“Benar.”
“Kamu mau membuang empat tahun begitu saja?”
Aku tersenyum pahit.
“Bukan aku yang datang membawa surat cerai.”
Ia maju satu langkah.
“Aku bisa membantu mengurus aset itu.”
Akhirnya keluar juga.
Aku hampir merasa lega.
Setidaknya ia berhenti berpura-pura.
“Aku bekerja di bidang keuangan,” lanjutnya. “Nilainya sebesar itu tidak bisa dikelola sembarangan.”
“Sudah ada profesional yang mengurus.”
“Mereka orang asing.”
“Dan kamu?”
“Aku suamimu.”
“Calon mantan suami.”
Dimas mencengkeram bunga di tangannya.
“Jangan bodoh, Rani. Orang-orang akan memanfaatkan kalian.”
Aku membuka pintu.
“Pulang.”
Ia tidak bergerak.
“Kalau kamu pikir uang itu akan membuat hidupmu gampang, kamu salah.”
Aku menatapnya.
“Uang itu tidak membuat hidupku gampang.”
Aku menunjuk kamar tempat Ibu sedang beristirahat.
“Uang itu cuma membuatku tidak perlu memilih antara membeli obat untuk Ibu atau membayar kontrakan.”
Dimas pergi dengan wajah merah.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Seminggu kemudian, pengacaraku menelepon.
Dimas mengajukan keberatan terhadap pembagian harta selama proses perceraian.
Ia mengklaim warisan tersebut diperoleh ketika kami masih berstatus suami istri sehingga dirinya berhak atas sebagian aset.
Aku panik.
Pak Aditya justru terlihat tenang ketika kuberitahu.
“Biarkan dia mengajukan apa pun.”
“Bagaimana kalau dia dapat bagian?”
“Warisan bukan otomatis harta bersama, terutama dengan struktur wasiat seperti ini.”
Kemudian ia mengeluarkan satu dokumen.
“Dan Pak Surya sudah memperkirakan kemungkinan seperti ini.”
Aku membacanya.
Ada klausul khusus.
Seluruh aset diberikan secara pribadi kepada Ratih dan tidak dapat dialihkan kepada pasangan, menantu, maupun pihak lain melalui perkawinan.
Aku mengembuskan napas lega.
Namun Pak Aditya belum selesai.
“Ada sesuatu yang lebih serius.”
“Apa?”
“Kami menemukan siapa yang membocorkan informasi warisan.”
Ia menunjukkan rekaman komunikasi internal.
Seorang staf junior di perusahaan hukum ternyata menjual informasi kepada seseorang.
Orang yang membayar informasi itu adalah rekan kerja Dimas.
Aku menatap layar.
“Dia sengaja mencari tahu?”
Pak Aditya mengangguk.
“Tiga hari sebelum dia datang membawa bunga.”
Dadaku terasa kosong.
Jadi permintaan maaf itu bahkan bukan penyesalan spontan.
Ia sudah menghitung semuanya.
Saat mediasi perceraian berikutnya, aku bertemu Dimas lagi.
Ia duduk di seberang meja bersama pengacaranya.
Setelah pembahasan berlangsung hampir satu jam, pengacaraku menyerahkan dokumen mengenai status warisan.
Wajah Dimas berubah.
“Jadi saya tidak mendapatkan apa pun?”
Pengacaranya langsung berbisik agar ia diam.
Tapi sudah terlambat.
Aku menatapnya.
Bukan karena kalimat itu mengejutkanku.
Justru karena akhirnya ia mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya ia inginkan.
Aku tersenyum kecil.
“Sekarang aku benar-benar yakin perceraian ini keputusan yang tepat.”
Dimas menatapku tajam.
“Kamu pikir kamu menang?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Aku menatap dokumen perceraian di depan kami.
“Aku kehilangan empat tahun hidupku. Tidak ada yang menang.”
Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.
Aku tidak membeli rumah mewah.
Tidak membeli mobil sport.
Tidak pindah ke kawasan elite.
Hal pertama yang kulakukan setelah proses warisan selesai adalah memindahkan Ibu ke rumah sakit dengan fasilitas ginjal yang lebih lengkap.
Kemudian kami membeli sebuah rumah sederhana di Jakarta Timur.
Ibu memilihnya sendiri.
“Kenapa bukan rumah besar?” tanyaku.
Ibu tertawa.
“Kalau rumahnya terlalu besar, Ibu capek jalan ke dapur.”
Sebagian aset tetap dikelola profesional.
Sebagian keuntungan investasi kami gunakan untuk membangun yayasan bantuan pasien gagal ginjal dari keluarga berpenghasilan rendah.
Aku menamainya Yayasan Prasetyo Ratih.
Nama Ayah dan Ibu.
Setahun kemudian, saat peresmian klinik pertama, Pak Aditya datang membawa sebuah kotak kecil.
“Ada satu barang terakhir dari Pak Surya.”
Aku membukanya.
Di dalamnya bukan sertifikat.
Bukan saham.
Bukan perhiasan.
Hanya sebuah kaset suara lama yang sudah dipindahkan ke perangkat digital.
Aku menyalakannya.
Suara seorang laki-laki tua terdengar.
“Ratih, kalau kamu mendengar ini, berarti akhirnya kamu menerima sesuatu dariku.”
Ibu langsung menutup mulut.
Suara Pak Surya melanjutkan.
“Kamu pernah bilang bahwa kekayaan terbesar bukan uang, melainkan kemampuan untuk tidur tanpa merasa berutang kepada siapa pun.”
Ibu mulai menangis.
“Aku membutuhkan tiga puluh tahun untuk memahami bahwa kamu benar.”
Rekaman berhenti beberapa detik.
Lalu terdengar kalimat terakhir.
“Karena itu, warisan sebenarnya bukan untuk membuatmu kaya. Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk melakukan bagi orang lain apa yang dulu kamu lakukan untuk keluargaku.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku menggenggam tangan Ibu.
Saat itulah aku akhirnya memahami semuanya.
Satu koma tujuh triliun rupiah memang mengubah hidup kami.
Tetapi bukan uang itu yang menyelamatkanku.
Beberapa bulan sebelum warisan datang, ketika Dimas meletakkan surat cerai di meja dan menyuruhku memilih antara dirinya atau Ibu, aku mengira hidupku sedang runtuh.
Padahal sebenarnya, hari itu hidupku sedang menunjukkan siapa yang pantas tetap berada di dalamnya.
Dan ironisnya, orang yang meninggalkanku karena takut harus membayar biaya pengobatan akhirnya kembali ketika mencium aroma triliunan rupiah.
Sedangkan perempuan yang memiliki semua kekayaan itu justru menggunakan sebagian besar hasilnya untuk membayar pengobatan orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Ibu menatap papan nama klinik yang memuat nama Ayah.
“Rani.”
“Ya, Bu?”
“Kalau suatu hari semua uang ini habis, kamu takut?”
Aku berpikir sebentar.
Lalu menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Karena sekarang aku tahu apa yang Ayah dan Ibu punya bahkan ketika kita tidak punya uang.”
Ibu tersenyum.
“Apa?”
“Harga diri.”
Di luar gedung, pasien pertama klinik kami datang bersama putrinya.
Perempuan itu tampak kebingungan sambil memegang berkas biaya pengobatan.
Aku berjalan menghampirinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak lagi memikirkan Dimas, perceraian, atau jumlah angka di rekening.
Aku hanya teringat satu kalimat yang pernah diucapkan Ibu ketika kami masih tinggal di kontrakan kecil itu.
Uang bisa habis.
Rumah bisa hilang.
Orang bisa pergi.
Tapi jangan pernah menjadi miskin dalam cara memperlakukan manusia.
Barulah aku mengerti.
Itulah warisan terbesar yang sebenarnya sudah diberikan Ibu kepadaku jauh sebelum satu koma tujuh triliun rupiah itu datang.
