SUAMIKU “DINAS” SELAMA SETAHUN, LALU IBU MERTUAKU MEMAKSAKU MENGALIHKAN RUMAH KEPADA ADIK IPARKU

Pesan dari Raka membuat jari-jariku membeku di atas layar.

“Alya, kalau Ibu memaksamu membubuhkan cap jempol hari ini, jangan tanda tangani apa pun. Aku akan menjelaskan semuanya.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu pandanganku beralih ke dokumen di atas meja.

Tanda tangan Raka ada di sana.

Tanggalnya enam bulan lalu.

Kalau dia benar-benar ingin melindungiku, mengapa dia sendiri sudah menyetujui pengalihan rumah ini?

Aku segera menelepon nomor itu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tidak ada jawaban.

Hanya beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.

“Jangan telepon. Buka halaman terakhir. Setelah itu pergi bersama Pak Arman.”

Aku mengangkat kepala.

Bu Ratna masih berdiri di seberang meja. Wajahnya pucat.

Dewi bahkan tidak berani menatapku.

Aku menarik napas panjang, lalu membuka lipatan terakhir pada dokumen itu.

Nama orang keempat akhirnya terlihat.

Nadia Kusuma.

Aku mengernyit.

Nama itu terasa asing, tetapi ketika melihat foto lengkap yang diselipkan di belakang dokumen, napasku langsung tercekat.

Perempuan yang berdiri di samping Raka di depan kantor notaris itu tampak berusia sekitar tiga puluh tahun. Rambutnya sebahu, mengenakan blazer krem, dan tangannya memegang lengan Raka dengan sangat akrab.

Namun bukan itu yang membuatku terpaku.

Perempuan itu sedang hamil.

Perutnya sudah cukup besar.

Aku menatap Bu Ratna.

“Siapa Nadia?”

Tidak ada jawaban.

Aku menoleh kepada Dewi.

“Siapa dia?”

Dewi menggigit bibir.

“Aku tidak tahu.”

“Jangan bohong!”

Suaraku menggema di ruang tamu.

Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun menjadi bagian keluarga Wijaya, aku berteriak di rumah itu.

Bu Ratna akhirnya berkata pelan, “Dia seseorang yang dekat dengan Raka.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

“Dekat?”

Aku tertawa kecil, tetapi air mataku mulai turun.

“Suamiku menghilang selama setahun. Dia berbohong soal Surabaya. Lalu sekarang aku menemukan foto dia bersama perempuan hamil dan Ibu menyebutnya dekat?”

Bu Ratna menghela napas.

“Alya, pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.”

Aku menatapnya tak percaya.

Kalimat itu terdengar seperti pengakuan.

“Jadi selama ini Ibu tahu?”

Ia diam.

Aku kembali melihat dokumen.

Ada transaksi dari rekening Raka kepada Nadia hampir setiap bulan. Jumlahnya puluhan juta rupiah.

Ada pembayaran apartemen di Jakarta Selatan.

Ada tagihan rumah sakit.

Ada kuitansi pemeriksaan kandungan.

Kakiku nyaris kehilangan tenaga.

Pak Arman menarik kursi untukku.

“Duduk dulu.”

Aku menggeleng.

Aku tidak mau duduk.

Kalau aku duduk, rasanya aku akan benar-benar hancur.

Tujuh tahun pernikahan kami berputar di kepalaku.

Ulang tahun.

Liburan.

Pertengkaran kecil.

Malam-malam ketika Raka memelukku sambil berkata rumah ini akan selalu menjadi tempatku pulang.

Ternyata ketika aku menunggunya pulang, dia sedang membangun kehidupan lain.

Aku menatap Bu Ratna.

“Jadi rumah ini mau diberikan kepada Dewi supaya kalau Raka meninggalkanku, aku tidak punya apa-apa?”

Dewi langsung menyela.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Dewi terdiam.

Pak Arman membuka dokumen lain.

“Bu Alya, ada sesuatu yang lebih penting.”

Ia menunjukkan laporan transaksi.

Enam bulan lalu, tepat dua hari setelah tanda tangan Raka muncul pada surat pengalihan rumah, ada transfer sebesar dua miliar rupiah ke sebuah rekening.

Pemilik rekening itu adalah Nadia Kusuma.

Aku menatap angka tersebut.

“Untuk apa?”

Pak Arman berkata, “Itulah yang belum saya ketahui.”

Tiba-tiba pria asing yang sejak tadi duduk di samping Dewi berdiri.

“Saya rasa pertemuan ini sebaiknya dihentikan.”

Pak Arman menatapnya.

“Dan Anda siapa?”

Pria itu merapikan jasnya.

“Saya dari kantor notaris yang menangani dokumen ini.”

Pak Arman tersenyum tipis.

“Kalau begitu, justru Anda sebaiknya tetap di sini.”

Wajah pria itu berubah.

Pak Arman mengeluarkan ponselnya.

“Saya sudah meminta rekan saya memeriksa nomor registrasi dokumen ini. Nomornya tidak pernah diterbitkan oleh kantor pertanahan.”

Ruangan mendadak hening.

Aku menatap dokumen di tanganku.

“Palsu?”

“Sebagian besar formatnya dibuat menyerupai dokumen resmi,” jawab Pak Arman. “Tetapi proses pengalihannya tidak sah.”

Dewi langsung berdiri.

“Aku tidak tahu soal itu!”

Bu Ratna membentaknya.

“Diam!”

Satu kata itu justru membuat semuanya semakin jelas.

Aku menatap ibu mertuaku.

“Ibu yang merencanakan ini?”

Bu Ratna mengepalkan tangan.

Sebelum ia sempat menjawab, suara mobil berhenti di depan rumah.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Aku menoleh.

Raka berdiri di sana.

Untuk beberapa saat aku bahkan tidak mengenalinya.

Tubuhnya jauh lebih kurus. Rambutnya lebih panjang. Ada bekas luka kecil di pelipisnya.

Namun itu memang suamiku.

“Raka?”

Ia menatapku.

“Alya.”

Aku berjalan mendekatinya dan tanpa berpikir langsung menampar wajahnya.

Suara tamparan itu terdengar jelas.

Tidak seorang pun bergerak.

Raka hanya menundukkan kepala.

“Untuk apa itu?” tanyaku sambil menunjukkan foto Nadia. “Untuk kebohonganmu? Perempuan ini? Atau anaknya?”

Raka melihat foto tersebut.

Ekspresinya berubah.

“Nadia bukan selingkuhanku.”

Aku tertawa pahit.

“Tentu saja.”

“Alya, dengarkan dulu.”

“Aku sudah mendengarkan kebohonganmu selama setahun.”

Raka mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah video.

“Nadia adalah auditor internal perusahaan.”

Aku terdiam.

Raka melanjutkan.

“Setahun lalu aku menemukan ada uang perusahaan yang hilang sedikit demi sedikit. Totalnya hampir dua puluh miliar.”

Ia menatap Bu Ratna.

“Alirannya menuju beberapa perusahaan cangkang.”

Wajah Bu Ratna kehilangan warna.

Raka menunjukkan dokumen di ponselnya.

“Salah satu penerima akhirnya terhubung dengan rekening Ibu.”

Aku menatap ibu mertuaku.

Bu Ratna segera berkata, “Dia bohong.”

Namun Raka belum selesai.

“Dewi juga menerima sebagian.”

Dewi mulai menangis.

“Kak, aku cuma mengikuti Ibu.”

Aku merasa kepalaku semakin berat.

“Lalu kenapa kamu berbohong kepadaku?”

Raka menatapku lama.

“Karena enam hari setelah aku menemukan transaksi itu, rem mobilku dirusak.”

Aku terdiam.

Bekas luka di pelipisnya tiba-tiba terasa jauh lebih mengerikan.

“Nadia membantuku mengumpulkan bukti. Dia sedang hamil, tapi bukan anakku. Suaminya meninggal delapan bulan lalu dalam kecelakaan. Dia tetap membantu karena kasus ini juga berkaitan dengan kematian suaminya.”

“Lalu transfer dua miliar?”

“Dana perlindungan saksi dan pengembalian uang yang sebelumnya dialihkan menggunakan rekening atas namanya.”

Aku menatap Pak Arman.

Ia mengangguk pelan.

“Saya sudah memeriksa sebagian datanya. Penjelasan itu konsisten dengan dokumen yang saya terima.”

Aku menatap Raka lagi.

“Tapi tanda tanganmu?”

Raka mengambil surat pengalihan rumah.

“Aku memang menandatanganinya.”

Jawaban itu kembali menghantamku.

“Kenapa?”

“Karena Ibu mengancam akan menjadikanmu sasaran berikutnya.”

Bu Ratna langsung berteriak, “Raka!”

Namun Raka tidak berhenti.

“Enam bulan lalu Ibu tahu aku sedang mengumpulkan bukti. Dia meminta tanda tanganku dan berjanji tidak akan melibatkanmu kalau aku mengikuti permainannya. Aku tanda tangan untuk membeli waktu.”

Aku menatapnya dengan mata basah.

“Dan selama enam bulan itu kamu tidak pernah berpikir untuk memberitahuku?”

“Aku takut.”

“Kamu takut?”

Suaraku pecah.

“Aku hidup sendirian selama setahun sambil menjaga ibumu, membantu adikmu, dan percaya suamiku sedang bekerja di Surabaya. Kamu menyebut itu melindungiku?”

Raka tidak mampu menjawab.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Mungkin Raka memang tidak berselingkuh.

Mungkin dia memang mencoba melindungiku.

Namun kebohongan tetaplah kebohongan.

Cinta yang tidak memberikan seseorang pilihan atas hidupnya sendiri bukan perlindungan.

Itu keputusan sepihak.

Tiba-tiba terdengar suara sirene dari luar.

Dua mobil berhenti di depan rumah.

Bu Ratna menatap Raka.

“Kamu memanggil polisi?”

Raka menggeleng.

“Bukan aku.”

Semua mata beralih kepada Pak Arman.

Ia pun menggeleng.

Kemudian terdengar suara dari belakang kami.

“Aku.”

Dewi.

Aku menatapnya.

Tangannya gemetar hebat ketika mengangkat ponsel.

“Aku yang mengirim amplop kepada Pak Arman.”

Bu Ratna membeku.

Dewi menangis.

“Aku juga yang mengirim foto Kak Raka.”

“Dewi!” teriak Bu Ratna.

“Aku sudah capek, Bu!”

Dewi mundur beberapa langkah.

“Aku memang ikut. Aku memang menerima uang. Tapi rumah ini bukan untukku.”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Dewi mengambil dokumen dari tasnya.

“Ibu bilang rumah ini akan diberikan kepadaku. Tapi setelah Alya menyerahkan haknya, rumah ini sebenarnya akan dijadikan jaminan pinjaman.”

Pak Arman segera mengambil dokumen tersebut.

Wajahnya berubah serius.

Dewi melanjutkan.

“Utang perusahaan Ibu jauh lebih besar daripada yang diketahui Kak Raka.”

“Berapa?” tanya Raka.

Dewi menangis semakin keras.

“Hampir lima puluh miliar.”

Ruangan kembali sunyi.

Bu Ratna perlahan duduk.

Untuk pertama kalinya perempuan yang selama ini selalu terlihat begitu kuat itu tampak tua dan rapuh.

“Aku melakukan semuanya untuk keluarga ini,” katanya lirih.

Raka menatapnya.

“Dengan menghancurkan keluarga?”

Tak lama kemudian, petugas masuk.

Pria yang mengaku dari kantor notaris mencoba keluar lewat pintu samping, tetapi langsung dihentikan.

Bu Ratna tidak melawan.

Ketika melewatiku, ia hanya berkata,

“Suatu hari kamu akan mengerti. Orang bisa melakukan apa saja agar keluarganya tidak jatuh.”

Aku menatapnya.

“Mungkin. Tapi keluarga yang dipertahankan dengan kebohongan sebenarnya sudah jatuh sejak lama.”

Tiga bulan kemudian, penyelidikan masih berlangsung.

Rumah itu tetap menjadi milikku dan Raka secara hukum. Pengalihan kepada Dewi dibatalkan.

Dewi bekerja sama dengan penyidik.

Nadia memberikan seluruh bukti yang ia kumpulkan.

Dan Raka?

Ia pulang.

Namun bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.

Malam pertama setelah kasus itu terbongkar, ia berdiri di depan kamar kami dengan koper di tangan.

“Aku bisa tidur di kamar tamu.”

Aku mengangguk.

Ia terlihat kecewa, tetapi tidak membantah.

“Alya,” katanya, “aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”

Aku menatapnya lama.

“Aku percaya.”

Raka terkejut.

“Tapi cinta bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan dalam pernikahan.”

Aku menyerahkan sebuah amplop kepadanya.

Wajahnya pucat.

“Surat cerai?”

“Bukan.”

Ia membukanya.

Di dalamnya ada salinan dokumen kepemilikan rumah.

Namaku dan namanya masih tercantum di sana.

“Aku belum tahu apakah aku ingin tetap menjadi istrimu,” kataku. “Tapi kali ini aku yang akan menentukan pilihanku sendiri. Bukan ibumu. Bukan Dewi. Dan bukan kamu.”

Matanya memerah.

Ia mengangguk.

“Aku akan menunggu.”

Aku menggeleng.

“Jangan menunggu. Berubah.”

Enam bulan kemudian, aku menemukan sesuatu ketika membersihkan lemari kerja ayah.

Sebuah surat lama terselip di antara dokumen rumah.

Tulisan tangan ayah.

Surat itu dibuat dua belas tahun lalu, ketika rumah tersebut dibeli.

Aku membacanya sendirian di ruang tamu.

“Alya, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin seseorang sedang membuatmu takut kehilangan rumah ini. Ayah membeli rumah bukan supaya kamu memiliki bangunan. Ayah ingin memastikan kamu selalu memiliki pilihan untuk pergi ketika sebuah tempat tidak lagi terasa seperti rumah.”

Aku berhenti membaca.

Air mataku jatuh.

Selama ini aku mengira warisan terbesar ayah adalah rumah bernilai miliaran rupiah.

Ternyata bukan.

Warisan terbesarnya adalah pilihan.

Sore itu Raka datang membawa dua cangkir kopi.

Hubungan kami perlahan membaik, tetapi belum kembali seperti dahulu.

Dan mungkin memang tidak seharusnya kembali seperti dahulu.

Ia duduk di seberangku.

“Apa itu?”

“Surat dari Ayah.”

Aku menyerahkannya.

Raka membacanya dalam diam.

Kemudian ia bertanya, “Kamu mau aku pergi?”

Aku memandang rumah yang hampir dirampas dariku, pernikahan yang hampir dihancurkan oleh rahasia, dan lelaki yang pernah berbohong karena mengira cinta memberinya hak untuk menentukan apa yang terbaik bagiku.

Aku tersenyum tipis.

“Bukan soal kamu pergi atau tinggal.”

“Lalu?”

Aku menatapnya tepat di mata.

“Mulai sekarang, kalau kita ingin membangun rumah tangga lagi, jangan pernah jadikan rumah ini alasan untuk bertahan.”

Raka mengangguk perlahan.

Aku menggenggam surat ayah.

Karena akhirnya aku mengerti.

Rumah bukan tempat yang membuat seseorang terpaksa tinggal.

Rumah adalah tempat di mana seseorang bebas memilih untuk tetap tinggal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang