“Lebih baik Nenek pingsan saja,” ucap Ibu, lalu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke lantai, berpura-pura pingsan.

“Tik… katanya polisi akan melakukan olah TKP.”

Langkahku seketika berhenti.

Aku menoleh dan melihat Pak Rahmat, tetangga yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah Ibu. Wajah lelaki itu tampak serius. Tidak ada sedikit pun nada bercanda dalam suaranya.

“Kapan?” tanyaku cepat.

“Siang ini. Katanya mereka ingin memeriksa tempat kejadian dan mencocokkan keterangan semua orang.” Pak Rahmat terdiam sebentar. “Kalau kamu memang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mifta, sebaiknya kamu datang.”

Nama itu membuat dadaku terasa sesak.

Mifta.

Sudah berkali-kali aku mencoba menguatkan diri, tetapi setiap kali namanya disebut, bayangan wajah anakku selalu muncul. Senyumnya, suaranya, caranya memanggilku saat ketakutan.

Tanganku tanpa sadar menggenggam tangan Laila semakin erat.

Aku menunduk. Laila sedang menatapku dengan mata polos, sementara luka di sekitar mulutnya masih terlihat jelas.

“Aku akan datang,” jawabku.

Siang itu aku menitipkan Laila kepada Bu Rini, tetangga yang selama ini cukup dekat denganku. Aku tidak ingin membawanya ke tempat yang mungkin akan membangkitkan ketakutan lain.

Ketika aku tiba di rumah Ibu, dua mobil polisi sudah terparkir di depan.

Beberapa warga berdiri di kejauhan. Mereka berbisik-bisik, tetapi segera diam saat melihatku datang.

Seorang petugas menghampiriku.

“Ibu Tatik?”

Aku mengangguk.

“Kami membutuhkan keterangan tambahan dari Ibu. Ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keterangan keluarga.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku mengikuti petugas itu masuk.

Di ruang tengah, Ibu duduk dengan wajah pucat. Pegi berada di sampingnya. Mas Burhan tidak terlihat. Dua anak Sukma duduk di sudut ruangan dengan kepala tertunduk.

Begitu melihatku, Ibu langsung berdiri.

“Ini semua gara-gara kamu!” bentaknya.

“Bu, silakan duduk,” tegur salah seorang polisi.

“Apa lagi yang mau diperiksa? Kami sudah bilang semuanya!”

Petugas itu tidak terpancing.

“Kami hanya ingin memastikan kronologi.”

Aku menatap Ibu. Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Petugas kemudian meminta kami menunjukkan ruangan tempat Mifta terakhir kali berada sebelum kondisinya memburuk.

Ibu menunjuk sebuah kamar belakang.

“Di sana.”

Aku mengikuti mereka.

Begitu pintunya dibuka, tubuhku seperti kehilangan tenaga.

Kamar itu kecil dan pengap.

Jendelanya tertutup rapat. Ada kasur tipis di lantai, sebuah lemari plastik, dan ember di sudut ruangan.

Aku berdiri membeku.

“Kenapa anakku berada di kamar ini?” tanyaku.

Tidak ada yang menjawab.

Aku menoleh kepada Ibu.

“Kenapa Mifta tidur di sini?”

“Dia sendiri yang mau!” jawab Ibu cepat.

Aku tertawa pendek, tetapi air mataku langsung jatuh.

“Mifta takut gelap, Bu.”

Ibu terdiam.

“Sejak kecil dia bahkan tidak berani tidur kalau lampunya mati. Bagaimana mungkin dia memilih kamar paling belakang seperti ini?”

Petugas mencatat sesuatu.

Kemudian salah seorang polisi memeriksa lemari plastik. Dari bagian bawahnya, ia mengeluarkan sebuah tas kecil berwarna biru.

Aku mengenalinya.

“Itu tas Mifta.”

Tanganku gemetar saat menerimanya.

Di dalamnya hanya ada beberapa pakaian, buku tulis, dan sebuah kotak pensil.

Aku membuka buku itu.

Beberapa halaman pertama berisi tulisan sekolah biasa.

Namun semakin ke belakang, tulisannya berubah.

Hurufnya berantakan.

Beberapa kalimat bahkan ditulis dengan pensil yang hampir tidak terlihat.

Aku membaca satu baris.

“Ibu kapan pulang?”

Dadaku seperti ditusuk.

Aku membalik halaman berikutnya.

“Aku lapar tapi Nenek bilang makanan habis.”

Halaman berikutnya.

“Laila menangis. Aku kasih air.”

Aku tidak mampu membaca lagi.

Tanganku gemetar hebat.

“Bu…”

Aku menatap Ibu.

“Ini apa?”

Ibu mengalihkan wajah.

“Anak-anak suka menulis sembarangan.”

“Sembarangan?”

Suaraku pecah.

Aku menunjukkan buku itu kepadanya.

“Anakku menulis dia kelaparan!”

“Aku tidak pernah membuat mereka kelaparan!”

Tiba-tiba salah satu anak Sukma berdiri.

“Bohong!”

Semua orang menoleh.

Gadis itu menangis.

“Nenek bohong.”

Wajah Ibu berubah drastis.

“Kamu diam!”

Namun gadis itu justru semakin terisak.

“Aku pernah lihat Mifta minta makan. Nenek bilang kalau mau makan, dia harus menunggu semua orang selesai.”

Ruangan langsung sunyi.

Adiknya ikut berdiri.

“Aku juga pernah lihat.”

Ibu menatap kedua cucunya seolah tidak percaya.

“Kalian mau menghancurkan keluarga sendiri?”

Anak sulung Sukma mengusap air matanya.

“Keluarga apa, Nek? Mama sekarang entah di mana. Kami diteror orang karena utangnya. Dan selama ini Nenek selalu bilang semua masalah harus ditutupi supaya tetangga tidak tahu.”

Petugas meminta keduanya tenang.

Namun sesuatu sudah pecah.

Rahasia yang selama ini disembunyikan mulai keluar satu per satu.

Kemudian polisi menemukan sesuatu di belakang lemari.

Sebuah ponsel lama.

Layarnya retak.

“Itu punya siapa?” tanya petugas.

Semua diam.

Aku mengenal casing-nya.

“Itu ponsel lama Sukma.”

Pegi langsung berdiri.

“Bukannya sudah rusak?”

Polisi mencoba menyalakannya.

Tidak bisa.

Ponsel itu kemudian dibawa untuk diperiksa lebih lanjut.

Aku pikir semuanya selesai sampai sore harinya aku menerima telepon dari kantor polisi.

“Tolong datang, Bu Tatik. Ada sesuatu yang perlu Ibu lihat.”

Aku datang dengan jantung berdebar.

Seorang penyidik menunjukkan beberapa file yang berhasil dipulihkan dari ponsel tersebut.

Ada rekaman suara.

Tanggalnya hanya beberapa hari sebelum Mifta meninggal.

Ketika rekaman pertama diputar, terdengar suara Sukma.

“Aku sudah bilang jangan kasih mereka makan dulu. Biar Tatik tahu rasanya kalau tidak kirim uang tepat waktu.”

Tubuhku membeku.

Lalu terdengar suara Ibu.

“Jangan keterlaluan. Kalau anak itu sakit bagaimana?”

Sukma tertawa.

“Paling masuk angin.”

Aku menutup mulut.

Air mataku langsung jatuh.

Namun rekaman belum selesai.

Terdengar suara Mifta.

Pelan sekali.

“Nenek… aku lapar.”

Kemudian suara Ibu.

“Tunggu.”

“Nenek, Laila juga lapar.”

Ada jeda.

Lalu terdengar Sukma membentak.

“Masuk kamar!”

Aku tidak sanggup lagi.

“Tolong matikan.”

Penyidik menghentikan rekaman.

Aku menangis tanpa suara.

Selama ini aku bekerja keras mengirim uang karena percaya keluargaku akan menjaga anak-anakku.

Ternyata uang itu tidak pernah menjamin kasih sayang.

Hari itu polisi membawa Ibu untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Pegi dan kedua anak Sukma juga diperiksa sebagai saksi.

Sukma sendiri belum ditemukan.

Masalahnya semakin rumit karena ternyata utang yang menyeret kedua anaknya bukan sekadar utang biasa.

Sukma telah meminjam uang dari beberapa orang dengan menggunakan identitas orang lain. Bahkan ada dokumen yang mencantumkan nama kedua anaknya sebagai bagian dari jaminan palsu.

Malamnya aku pulang dalam keadaan lelah.

Begitu pintu kubuka, Laila berlari memelukku.

“Ibu.”

Satu kata itu membuat pertahananku runtuh.

Aku berlutut dan memeluknya erat.

“Maafkan Ibu.”

Laila tidak memahami semuanya. Ia hanya memeluk leherku.

“Jangan pergi lagi.”

Aku menangis semakin keras.

“Ibu tidak akan meninggalkan Laila lagi.”

Tiga hari kemudian, kabar lain datang.

Mas Burhan mendatangiku.

Wajahnya kusut.

“Aku mau bicara.”

“Kalau soal Pegi, aku tidak tertarik.”

“Bukan.”

Ia menyerahkan sebuah amplop.

“Aku menemukan ini di bengkel.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada fotokopi bukti transfer.

Namaku tercetak di sana.

Transfer dua juta.

Tiga juta.

Lima juta.

Semua uang yang selama ini kukirim kepada Ibu.

Namun rekening penerimanya berbeda.

Nama Sukma.

Aku menatap Mas Burhan.

“Kenapa ini ada di bengkelmu?”

Mas Burhan menelan ludah.

“Karena Sukma pernah meminjam uang dariku. Dia memberikan dokumen-dokumen itu sebagai bukti bahwa dia punya pemasukan tetap.”

Aku tidak percaya.

“Jadi uang yang kukirim untuk anak-anak…”

“Sebagian besar masuk ke Sukma.”

Aku langsung terduduk.

Potongan-potongan kejadian akhirnya tersambung.

Ibu selalu meminta uang dengan alasan kebutuhan anak-anak.

Biaya sekolah.

Makanan.

Obat.

Keperluan rumah.

Namun uang itu justru digunakan Sukma.

“Kenapa kamu baru memberitahuku?”

Mas Burhan menunduk.

“Karena aku juga pengecut.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat lelaki yang pernah menyakitiku.

Aku hanya melihat seseorang yang terlambat mengatakan kebenaran.

Malam itu polisi kembali menelepon.

Sukma ditemukan.

Ia bersembunyi di sebuah rumah kontrakan di luar kota.

Beberapa hari kemudian, aku dipanggil untuk memberikan keterangan tambahan.

Di lorong kantor polisi, aku melihat Ibu.

Ia tampak jauh lebih tua.

“Tatik.”

Aku berhenti.

Ibu mendekat.

“Ibu salah.”

Aku diam.

“Ibu tidak bermaksud membuat Mifta seperti itu.”

“Tidak bermaksud?”

Air matanya jatuh.

“Ibu cuma takut Sukma pergi. Setelah ayahmu meninggal, Sukma yang paling sering menemani Ibu. Dia selalu bilang kalau kamu punya banyak uang. Dia bilang tidak apa-apa meminta lebih.”

Aku menatap perempuan yang melahirkanku itu.

Dulu aku selalu berpikir seorang ibu pasti tahu bagaimana mencintai anaknya.

Ternyata tidak semua cinta tumbuh dengan cara yang sehat.

“Aku tidak kehilangan Mifta hanya karena satu orang, Bu.”

Ibu menangis.

“Aku kehilangan dia karena terlalu banyak orang melihat kesalahan dan memilih diam.”

Ibu menunduk.

Aku meninggalkannya.

Beberapa bulan berlalu.

Proses hukum terus berjalan. Aku tidak lagi ikut campur dalam urusan utang Sukma, bengkel Mas Burhan, ataupun rumah Pegi.

Aku menjual beberapa barang milikku dan menyewa rumah kecil di tempat lain.

Tidak mewah.

Hanya dua kamar.

Namun setiap pagi ada suara Laila tertawa.

Suatu malam, ketika aku sedang merapikan barang-barang Mifta, aku kembali menemukan buku tulis birunya.

Aku membuka halaman terakhir.

Ada satu tulisan yang sebelumnya tidak kubaca.

Tulisan itu lebih rapi dibanding halaman-halaman lainnya.

“Kalau Ibu pulang, aku mau bilang jangan marah sama Nenek. Aku cuma mau tinggal sama Ibu dan Laila.”

Aku menangis lama malam itu.

Bukan karena marah.

Bukan pula karena ingin membalas dendam.

Aku menangis karena anak yang paling disakiti justru meninggalkan pesan yang paling lembut.

Laila tiba-tiba keluar dari kamar.

“Ibu kenapa menangis?”

Aku segera menghapus air mata.

“Tidak apa-apa.”

Ia memandang buku di tanganku.

“Itu punya Kak Mifta?”

Aku mengangguk.

Laila duduk di pangkuanku.

“Kak Mifta bilang Ibu pasti pulang.”

Aku terdiam.

“Kapan Kakak bilang begitu?”

Laila menunjuk buku tersebut.

“Waktu Nenek marah, Kak Mifta bilang jangan menangis. Katanya Ibu pasti pulang dan bawa kita pergi.”

Dadaku kembali sesak.

Aku memeluk Laila.

Ternyata sampai detik terakhir, Mifta tidak pernah berhenti menungguku.

Sejak malam itu aku berhenti memikirkan bagaimana cara membalas mereka.

Bukan karena aku memaafkan semuanya.

Ada kesalahan yang harus tetap dipertanggungjawabkan.

Namun aku akhirnya memahami sesuatu.

Balas dendam tidak akan mengembalikan anakku.

Yang masih bisa kulakukan hanyalah memastikan Laila tumbuh tanpa membawa luka yang sama.

Setahun kemudian, aku mengajak Laila mengunjungi makam Mifta.

Ia meletakkan bunga kecil di atas tanah.

“Kak, sekarang aku sudah bisa makan sendiri.”

Aku tersenyum sambil menahan tangis.

Laila kemudian berbisik,

“Ibu sekarang selalu pulang cepat.”

Aku menatap batu nisan di depanku.

Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku menggenggam tangan Laila.

“Ayo pulang.”

Dalam perjalanan, ponselku bergetar.

Pesan dari nomor yang tidak kukenal masuk.

Aku membukanya.

Hanya ada satu kalimat.

“Tatik, ada satu rekaman Sukma yang belum pernah polisi tunjukkan kepadamu. Rekaman itu bukan tentang Mifta. Itu tentang siapa ayah kandung Laila sebenarnya.”

Aku berhenti berjalan.

Tanganku mendadak dingin.

Laila menoleh kepadaku.

“Ibu?”

Aku memandang wajah putriku.

Lalu perlahan mengangkat kepala ke arah jalan di depan kami.

Kupikir semua rahasia keluarga kami sudah terbongkar.

Ternyata aku salah.

Sangat salah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang