“Mbak… yang kami temukan di dalam koper kedua adalah pakaian milik kakak Anda yang berlumuran darah.”
Kalimat itu membuat lutut Nabila seketika kehilangan tenaga.
Ia nyaris jatuh jika Bu Ratna tidak segera memegang lengannya.
“Darah?” suara Nabila terdengar seperti bisikan. “Maksud Bapak… Kak Rania…”
“Kami belum bisa menyimpulkan apa pun,” potong penyidik dengan tenang. “Tidak ada jasad di dalam koper. Hanya beberapa pakaian, dokumen, dan barang pribadi. Kami harus melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan darah itu milik siapa.”
Nabila menutup mulutnya.
Di sampingnya, ibunya menangis semakin keras.

Namun di tengah kepanikan itu, Nabila justru menatap satu orang.
Arga.
Calon suaminya berdiri beberapa meter dari mereka. Wajah laki-laki itu pucat, tetapi ada sesuatu yang lebih mengganggu Nabila daripada kepucatannya.
Arga sama sekali tidak bertanya apakah Rania masih hidup.
“Arga.”
Laki-laki itu tersentak.
“Kamu tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Kenapa kamu diam saja?”
Arga mengusap wajahnya. “Aku cuma syok, Bil.”
“Kalau syok, kenapa kamu tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada kakakku?”
“Nabila, sekarang bukan waktunya.”
“Justru sekarang waktunya!”
Sebelum pertengkaran mereka membesar, Siska tiba-tiba berdiri.
“Aku akan bicara.”
Semua mata beralih kepadanya.
Perempuan itu mengusap air matanya, lalu menatap penyidik.
“Saya memang bersama Rania malam itu.”
“Lanjutkan,” kata penyidik.
Siska menarik napas panjang.
“Rania meminta saya menemaninya menemui seseorang di sebuah vila di daerah Lembang.”
“Siapa?”
Siska tidak langsung menjawab.
Matanya bergerak ke arah Arga.
“Dia.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nabila merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.
“Arga?”
“Nggak benar!” Arga langsung membentak. “Dia bohong!”
Siska tertawa kecil dalam tangisnya.
“Masih mau bohong?”
“Siska, tutup mulutmu.”
Ucapan itu membuat penyidik segera menatap Arga.
Nada suaranya terlalu tajam untuk seseorang yang mengaku tidak tahu apa-apa.
Nabila melangkah mendekati Siska.
“Ceritakan semuanya.”
Siska menunduk.
Seminggu sebelumnya, Rania mendatanginya dengan membawa beberapa tangkapan layar.
Rania ternyata menemukan sesuatu secara tidak sengaja.
Beberapa bulan sebelum pernikahan Nabila, Arga beberapa kali menghubungi Rania secara diam-diam.
Bukan untuk menjalin hubungan.
Melainkan untuk meminta bantuan.
Arga terlilit utang dalam jumlah besar akibat kegagalan investasi. Ia menyembunyikannya dari Nabila karena takut pernikahan mereka dibatalkan.
Masalahnya, Arga mengetahui satu hal yang bahkan Nabila sendiri tidak tahu.
Bu Ratna telah berencana mengalihkan sebagian kepemilikan perusahaan keluarga kepada Nabila setelah menikah.
Arga membutuhkan pernikahan itu.
Bukan hanya karena mencintai Nabila.
Tetapi karena ia membutuhkan akses terhadap uang keluarga Pratama.
“Tidak mungkin,” gumam Nabila.
Arga mendekatinya. “Bil, dengarkan aku. Memang aku punya masalah keuangan, tapi bukan seperti yang dia bilang.”
Siska menggeleng.
“Rania menemukan bukti transfer dan percakapanmu dengan orang yang menawarkan pinjaman ilegal.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Lalu jelaskan kenapa kamu mengancam Rania.”
Wajah Arga berubah.
Bu Ratna berhenti menangis.
“Apa?”
Siska mengambil ponselnya.
“Aku punya rekamannya.”
Arga langsung bergerak maju.
Namun dua polisi menahannya.
Siska membuka sebuah file suara.
Beberapa detik kemudian, suara Arga terdengar memenuhi ruangan.
“Jangan ikut campur urusan saya dengan Nabila.”
Kemudian suara Rania terdengar.
“Kalau kamu benar-benar mencintai adikku, katakan semuanya sebelum kalian menikah.”
“Kalau kamu menghancurkan pernikahan ini, kamu akan menyesal.”
Rekaman berhenti.
Nabila menatap calon suaminya seolah sedang melihat orang asing.
“Kamu mengancam kakakku?”
“Aku marah waktu itu. Cuma itu.”
“Lalu malam dia menghilang?”
Arga diam.
Penyidik segera memerintah petugas membawa Arga ke ruangan terpisah.
Namun sebelum pergi, Arga menatap Siska.
Tatapan itu membuat perempuan tersebut gemetar.
Pemeriksaan berlangsung berjam-jam.
Pernikahan yang seharusnya dilaksanakan keesokan hari akhirnya dibatalkan.
Keluarga besar mulai berdatangan ke Bandung setelah menerima kabar tentang hilangnya Rania.
Menjelang sore, hasil awal pemeriksaan forensik keluar.
Darah pada pakaian itu cocok dengan DNA dari barang pribadi Rania yang terdapat di rumah.
Bu Ratna langsung pingsan.
Nabila tidak menangis.
Entah kenapa, ia justru merasa terlalu takut untuk menangis.
Namun polisi menemukan sesuatu yang aneh.
Jumlah darah pada pakaian memang cukup banyak, tetapi pola bercaknya tidak konsisten dengan luka fatal.
Lebih aneh lagi, koper tersebut ditemukan di tepi sungai dalam keadaan sengaja diletakkan di tempat yang relatif mudah terlihat.
Seolah-olah seseorang memang ingin koper itu ditemukan.
“Jadi Kak Rania mungkin masih hidup?” tanya Nabila.
“Kemungkinan itu masih ada,” jawab penyidik.
Harapan kecil muncul.
Namun malam itu, polisi menemukan petunjuk lain.
Rekaman kamera lalu lintas memperlihatkan mobil Arga menuju Lembang pada malam Rania menghilang.
Arga sebelumnya bersikeras bahwa malam itu ia berada di rumah.
Kebohongan tersebut membuatnya ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Nabila menatapnya ketika polisi membawanya melewati lorong.
“Di mana kakakku?”
Arga berhenti.
Untuk beberapa detik, wajahnya terlihat seperti orang yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri.
“Aku tidak membunuh Rania.”
“Lalu di mana dia?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu bohong!”
“Aku memang menemuinya malam itu.”
Nabila membeku.
Arga akhirnya mengaku.
Rania meminta bertemu di sebuah vila yang pernah digunakan Arga dan teman-temannya. Siska mengantar Rania, tetapi Rania memintanya menunggu di sebuah kafe tidak jauh dari sana.
Pertemuan berlangsung buruk.
Rania menuntut Arga mengakui utangnya kepada Nabila.
Mereka bertengkar.
Menurut Arga, Rania kemudian pergi sendirian.
“Kalau begitu kenapa ada darahnya?”
“Aku tidak tahu.”
“Dan kenapa barang-barangnya ada di koper?”
“Aku benar-benar tidak tahu!”
Untuk pertama kalinya, Nabila melihat ketakutan nyata di mata Arga.
Bukan ketakutan karena tertangkap.
Seperti ketakutan karena menyadari dirinya telah dijebak.
Keesokan paginya seharusnya Nabila mengenakan kebaya putih dan duduk di depan penghulu.
Sebaliknya, ia duduk di kantor polisi dengan pakaian yang sama sejak kemarin.
Kemudian teleponnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Sebuah pesan masuk.
Kalau ingin tahu apa yang terjadi pada kakakmu, tanyakan kepada orang yang pertama kali melaporkan koper itu.
Nabila langsung menunjukkan pesan tersebut kepada penyidik.
Polisi segera memeriksa laporan awal.
Dua koper itu ditemukan oleh seorang petugas kebersihan bernama Dedi.
Tetapi ketika polisi mendatangi alamat Dedi, rumah kontrakannya sudah kosong.
Tetangganya mengatakan Dedi pergi malam sebelumnya.
Penyelidikan kemudian mengungkap sesuatu yang mengejutkan.
Dedi ternyata pernah bekerja sebagai sopir.
Untuk keluarga Siska.
Nabila merasa darahnya membeku.
“Siska?”
Polisi langsung mencarinya.
Namun Siska telah menghilang.
Ponselnya mati.
Apartemennya kosong.
Dan rekaman CCTV memperlihatkan ia pergi sekitar pukul empat pagi membawa satu tas ransel.
Semua kecurigaan berbalik arah.
Polisi kemudian memeriksa mobil Siska.
Di bagasinya ditemukan beberapa helai rambut Rania.
Ada pula bercak darah kecil.
Namun temuan yang paling penting adalah sebuah kartu akses vila.
Vila yang sama tempat Rania dan Arga bertemu.
Polisi kembali ke lokasi.
Kali ini mereka memeriksa setiap ruangan secara menyeluruh.
Di belakang sebuah lemari tua, petugas menemukan pintu kecil menuju ruang penyimpanan.
Di sana terdapat pecahan gelas, noda darah yang telah dibersihkan, dan satu kamera kecil.
Kartu memorinya masih berada di dalam.
Rekaman malam itu akhirnya membuka semuanya.
Rania memang bertemu Arga.
Mereka bertengkar.
Arga membentak Rania, tetapi tidak menyentuhnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Arga pergi.
Rania masih berada di vila.
Lima belas menit setelah itu…
Siska masuk.
Nabila menonton rekaman tersebut bersama penyidik.
Awalnya kedua perempuan itu berbicara.
Kemudian percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Tidak ada suara pada rekaman, tetapi ekspresi mereka terlihat jelas.
Rania menunjukkan sesuatu dari ponselnya.
Siska mencoba merebutnya.
Mereka saling menarik.
Rania kehilangan keseimbangan dan menghantam meja kaca.
Kaca pecah.
Rania jatuh.
Siska langsung berlutut di sampingnya.
Rekaman berikutnya membuat Nabila menahan napas.
Rania bergerak.
Ia masih hidup.
Siska mengambil ponsel.
Seharusnya ia memanggil ambulans.
Tetapi ia tidak melakukannya.
Ia justru berjalan mondar-mandir dengan panik.
Beberapa menit kemudian, seseorang datang.
Dedi.
Mereka membawa Rania keluar dari vila.
Namun bukan menuju rumah sakit.
“Kenapa?” bisik Nabila. “Kenapa Siska melakukan itu?”
Jawabannya ditemukan di ponsel lama milik Siska yang disita polisi dari rumah orang tuanya.
Ternyata utang Arga hanyalah sebagian kecil dari rahasia sebenarnya.
Siska selama hampir setahun menggunakan identitas Rania untuk melakukan serangkaian transaksi ilegal melalui perusahaan tempat mereka pernah bekerja bersama.
Rania baru mengetahuinya beberapa hari sebelum menghilang.
Malam itu, Rania sebenarnya meminta Siska menemaninya menemui Arga karena ia berniat membongkar dua masalah sekaligus.
Ia ingin memaksa Arga berkata jujur kepada Nabila.
Setelah itu, ia akan membawa bukti tentang Siska kepada polisi.
Siska mengetahuinya.
Pertengkaran mereka bukan karena Arga.
Itu hanya cerita yang sengaja diciptakan Siska agar polisi mencurigai calon suami Nabila.
Dua koper tersebut juga bagian dari rencananya.
Darah Rania, pakaian, perhiasan, bahkan ponselnya sengaja dimasukkan ke dalam koper agar semua orang mengira Rania telah dibunuh.
Kemudian bukti-bukti diarahkan kepada Arga.
“Tapi Kak Rania di mana?” tanya Nabila.
Tidak seorang pun bisa menjawab.
Sampai tiga hari kemudian.
Polisi berhasil menemukan Dedi di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.
Setelah diperiksa berjam-jam, laki-laki itu akhirnya menyerah.
Rania ternyata tidak pernah dibunuh.
Setelah terluka di vila, ia sempat tidak sadarkan diri. Siska panik karena yakin Rania akan melaporkannya begitu sadar.
Dengan bantuan Dedi, ia membawa Rania ke sebuah rumah kosong milik keluarga di pinggiran Bandung.
Rania dikunci di sana.
Ketika polisi mendobrak pintu rumah tersebut, mereka menemukan seorang perempuan terbaring lemah di sebuah kamar.
Masih hidup.
Nabila tiba di rumah sakit hampir bersamaan dengan ambulans.
Saat melihat kakaknya didorong melewati lorong, seluruh kekuatan yang selama beberapa hari ia pertahankan akhirnya runtuh.
“Kak!”
Kelopak mata Rania bergerak.
“Nabila…”
Hanya satu kata.
Namun itu cukup membuat Nabila menangis sambil menggenggam tangannya.
Beberapa hari kemudian kondisi Rania mulai membaik.
Siska akhirnya ditangkap di Yogyakarta.
Dalam pemeriksaan, ia mengakui bahwa koper, darah, dan seluruh skenario tersebut dirancang untuk membuat polisi percaya bahwa Arga membunuh Rania karena takut pernikahannya dibatalkan.
Arga dibebaskan dari dugaan keterlibatan dalam hilangnya Rania.
Namun itu tidak berarti pernikahan dilanjutkan.
Seminggu setelah Rania keluar dari rumah sakit, Arga datang menemui Nabila.
“Aku tahu aku salah karena menyembunyikan utang,” katanya. “Tapi aku benar-benar mencintaimu.”
Nabila memandang laki-laki yang beberapa minggu sebelumnya ia bayangkan akan menjadi suaminya.
“Aku percaya kamu tidak menyakiti Kak Rania.”
Arga terlihat lega.
“Tapi?”
Nabila melepaskan cincin pertunangannya.
“Tapi pernikahan bukan cuma soal siapa yang tidak melakukan kejahatan.”
Arga terdiam.
“Kamu tahu kamu terlilit utang. Kamu tahu kakakku mengetahui semuanya. Kamu mengancamnya supaya diam. Dan sampai sehari sebelum kita menikah, kamu tetap memilih berbohong kepadaku.”
Nabila meletakkan cincin itu di meja.
“Aku tidak bisa membangun rumah tangga dengan seseorang yang baru berkata jujur setelah polisi menemukan kebohongannya.”
Arga tidak membantah.
Ia hanya mengambil cincin itu dan pergi.
Beberapa bulan kemudian, kehidupan perlahan kembali berjalan.
Rania pulih.
Siska dan Dedi menjalani proses hukum.
Arga menyelesaikan persoalan keuangannya sendiri dan tidak pernah lagi menghubungi Nabila.
Suatu sore, Nabila dan Rania duduk bersama di balkon rumah.
“Maaf,” kata Rania tiba-tiba.
Nabila menoleh.
“Untuk apa?”
“Kalau malam itu aku langsung cerita semuanya kepadamu, mungkin semua ini tidak akan terjadi.”
Nabila tersenyum tipis.
“Kalau Kakak cerita, mungkin aku tetap tidak percaya.”
Rania tertawa kecil.
Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Pita merah.
Pita yang dulu diikat Nabila pada koper hitam miliknya.
Polisi telah mengembalikan sebagian barang bukti setelah pemeriksaan selesai.
Rania meletakkan pita itu di telapak tangan adiknya.
“Aneh ya,” katanya. “Benda sekecil ini yang membuat kalian yakin koper itu milikku.”
Nabila memandang pita tersebut lama.
Selama berminggu-minggu ia mengira dua koper itu adalah pertanda bahwa ia telah kehilangan kakaknya.
Ternyata koper itu justru menjadi awal terbongkarnya semua kebohongan.
Kebohongan Siska.
Kebohongan Arga.
Dan satu kenyataan yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pahami.
Orang yang terlihat paling dekat dengan kita belum tentu orang yang paling jujur kepada kita.
Nabila menggenggam pita merah itu.
“Besok ikut aku, ya.”
“Ke mana?”
“Mencari koper baru.”
Rania mengangkat alis.
“Kenapa?”
Nabila tersenyum untuk pertama kalinya tanpa beban.
“Karena yang ini sudah membawa terlalu banyak rahasia.”
Rania tertawa.
Dan sore itu, di bawah langit Bandung yang mulai berubah jingga, Nabila akhirnya mengerti bahwa pernikahan yang gagal sehari sebelum akad bukanlah akhir hidupnya.
Justru kegagalan itulah yang menyelamatkannya dari sebuah kehidupan yang dibangun di atas kebohongan.
Ia memang kehilangan hari pernikahannya.
Tetapi ia mendapatkan kembali kakaknya.
Dan terkadang, sesuatu yang tampak seperti kehancuran sebenarnya hanyalah cara hidup menunjukkan siapa yang layak tetap tinggal ketika semua rahasia akhirnya terbuka.
