PADA MALAM PERNIKAHAN MEREKA, SEORANG PRIA PERLAHAN MEMBUKA KERAH YANG MENUTUPI LEHER ISTRINYA—DAN IA LANGSUNG TERDIAM KETIKA MELIHAT RAMBUT LEBAT YANG PANJANGNYA HAMPIR LIMA SENTIMETER. IA MENGAMBIL LAMPU MINYAK TUA DAN MENGARAHKAN CAHAYANYA… NAMUN KETIKA MELIHAT KAKI ISTRINYA, TUBUHNYA SEMAKIN MEMBEKU. “YA ALLAH… SEBENARNYA APA YANG TERJADI PADAMU?”

“Ada alasan mengapa sejak kecil aku tidak pernah mau membiarkan siapa pun melihat tubuhku…”

Suara Sari nyaris tenggelam oleh derasnya hujan.

Ardi tidak bergerak. Lampu minyak di tangannya masih menyala, tetapi ia segera meletakkannya kembali di atas meja. Ia sadar, semakin lama cahaya itu diarahkan kepada Sari, semakin perempuan itu merasa sedang diperiksa seperti sesuatu yang aneh.

Ardi lalu duduk di lantai, menjaga jarak beberapa langkah darinya.

“Aku tidak akan menyentuhmu kalau kamu tidak mau,” katanya pelan. “Tapi kalau ada orang yang pernah menyakitimu, aku ingin tahu.”

Sari menunduk.

Tangannya masih mencengkeram ujung rok.

“Bukan cuma seseorang, Mas.”

Ardi mengernyit.

“Maksudmu?”

Sari menarik napas panjang.

“Banyak orang.”

Jawaban itu membuat dada Ardi terasa sesak.

Perlahan, Sari mulai bercerita.

Ia lahir di sebuah desa kecil di lereng Dieng. Ibunya meninggal ketika ia berusia enam tahun. Ayahnya, Darmaji, bekerja sebagai buruh tani dan membesarkannya seorang diri.

Ketika Sari berusia sekitar delapan tahun, rambut-rambut kasar mulai tumbuh tidak biasa di beberapa bagian tubuhnya.

Awalnya hanya sedikit di leher.

Kemudian semakin lebat.

Menjelang usia sepuluh tahun, rambut itu tumbuh lebih panjang di punggung, lengan, dan kakinya.

Ayahnya panik.

Namun bukannya membawa Sari ke dokter, Darmaji justru mendatangi seorang lelaki bernama Mbah Wiryo yang dikenal warga sebagai orang pintar.

Lelaki itu mengatakan sesuatu yang mengubah hidup Sari.

“Anakmu terkena kutukan.”

Ardi mengepalkan tangannya.

Sari melanjutkan dengan suara gemetar.

Sejak hari itu, ayahnya mulai melakukan berbagai cara untuk “menyembuhkannya”.

Tubuh Sari digosok dengan ramuan panas.

Rambut di kulitnya pernah dicabut satu per satu.

Kadang kulitnya diolesi campuran yang membuatnya terasa terbakar selama berjam-jam.

Bekas-bekas luka di kakinya berasal dari masa itu.

“Ayah pikir kalau rambutnya hilang, kutukannya juga hilang.”

Sari menatap lantai.

“Tapi rambut itu selalu tumbuh lagi.”

Ketika pengobatan itu tidak berhasil, kabar tentang “anak berbulu” mulai menyebar.

Anak-anak mengejeknya.

Beberapa orang dewasa bahkan datang ke rumah hanya karena penasaran.

Ada yang meminta melihat tangannya.

Ada yang berbisik bahwa Sari bukan manusia biasa.

Ada pula yang menyuruh orang tua mereka menjauhkan anak-anak darinya.

Akhirnya, pada usia dua belas tahun, Sari berhenti sekolah.

Ia mulai mengenakan pakaian tertutup setiap hari.

Kerah tinggi.

Lengan panjang.

Rok sampai mata kaki.

“Sejak saat itu aku belajar satu hal,” katanya lirih. “Kalau orang tidak melihat tubuhku, mereka bisa memperlakukanku seperti manusia biasa.”

Ardi menatap istrinya lama.

Sekarang ia mengerti.

Bukan rambut itu yang membuat Sari gemetar malam ini.

Melainkan ingatan tentang tatapan manusia.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku?”

Sari tersenyum pahit.

“Karena aku mencintaimu.”

Ardi terdiam.

“Justru karena itu aku takut. Selama satu setengah tahun, Mas memperlakukanku seperti perempuan biasa. Aku takut kalau Mas tahu semuanya, cara Mas melihatku akan berubah.”

Ardi perlahan mengulurkan tangannya.

Namun sebelum menyentuh Sari, ia berhenti.

“Boleh?”

Sari menatap tangannya.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk.

Ardi menggenggam jemarinya.

“Aku memang kaget.”

Air mata kembali menggenang di mata Sari.

“Tapi bukan karena rambutmu.”

Ardi menatap bekas luka yang tadi sempat terlihat.

“Aku kaget karena seseorang tega melakukan itu kepada anak kecil.”

Sari akhirnya menangis.

Malam pertama yang seharusnya dipenuhi kecanggungan sebagai pasangan baru justru berlalu dengan percakapan sampai menjelang subuh.

Tidak ada lagi rahasia.

Setidaknya, itulah yang Ardi pikirkan.

Keesokan paginya, Ardi mengatakan sesuatu yang membuat Sari langsung menolak.

“Kita ke rumah sakit.”

“Tidak.”

“Sari.”

“Aku tidak sakit.”

“Aku tahu.”

Ardi duduk di depannya.

“Makanya kita cari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Bukan ke orang pintar. Bukan pakai ramuan. Ke dokter.”

Wajah Sari berubah tegang.

Rumah sakit adalah tempat asing baginya.

Sepanjang hidupnya, ia selalu diyakinkan bahwa kondisi tubuhnya bukan persoalan medis.

Itu kutukan.

Dosa keluarga.

Pertanda buruk.

Namun Ardi tidak memaksanya.

Ia hanya berkata, “Kalau kamu belum siap hari ini, kita tunggu. Tapi aku akan menemanimu kapan pun kamu siap.”

Tiga minggu kemudian, Sari akhirnya setuju.

Mereka pergi ke rumah sakit di Wonosobo dan kemudian mendapat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke Semarang.

Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa pertumbuhan rambut berlebihan seperti yang dialami Sari dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memahami penyebabnya secara tepat.

Sari hanya menatap dokter tanpa berkedip.

“Jadi… bukan kutukan?”

Dokter itu terdiam sejenak, lalu menjawab lembut.

“Yang saya lihat adalah kondisi tubuh yang perlu diperiksa secara medis. Bukan alasan bagi siapa pun untuk menyiksa Anda.”

Kalimat itu menghantam Sari lebih keras daripada apa pun.

Ia menutup mulut dengan kedua tangannya.

Lalu menangis.

Bukan karena takut.

Untuk pertama kalinya, ia menangis karena merasa lega.

Puluhan tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa tubuhnya adalah kesalahan.

Ternyata tubuh itu hanya berbeda.

Namun beberapa hari setelah mereka kembali ke desa, sesuatu terjadi.

Seorang lelaki tua datang ke bengkel Ardi.

Tubuhnya kurus, rambutnya hampir seluruhnya putih.

Begitu melihatnya, Sari yang sedang mengantarkan teh langsung menjatuhkan gelas.

Pecahannya berserakan di lantai.

“Mbah Wiryo…”

Ardi berdiri.

Jadi inilah lelaki yang dahulu mengatakan bahwa Sari terkena kutukan.

Mbah Wiryo memandang Sari lama.

“Aku dengar kamu pergi ke dokter.”

Sari mundur.

Ardi langsung berdiri di depannya.

“Kalau Mbah datang untuk menakut-nakuti istri saya, lebih baik pulang.”

Namun lelaki tua itu justru menggeleng.

“Aku datang karena sudah terlalu lama membawa dosa.”

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Mbah Wiryo duduk di bangku kayu bengkel.

Tangannya gemetar.

“Tiga puluh tahun lalu aku bodoh,” katanya. “Orang datang kepadaku membawa penyakit yang tidak kupahami, tapi aku terlalu sombong untuk mengatakan aku tidak tahu.”

Sari menatapnya.

“Karena ucapan Mbah, ayah menyiksaku bertahun-tahun.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Mbah tidak tahu.”

Suara Sari meninggi.

“Aku berhenti sekolah. Aku takut melihat tubuhku sendiri. Aku bahkan takut kepada suamiku pada malam pernikahanku.”

Mbah Wiryo menundukkan kepala.

“Aku tahu karena ayahmu datang kepadaku lagi beberapa tahun setelah kamu pergi dari desa.”

Sari membeku.

“Ayah?”

“Ayahmu menyesal.”

Wajah Sari berubah.

Darmaji meninggal tujuh tahun lalu. Selama bertahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan mereka hampir terputus.

Sari selalu menganggap ayahnya sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas luka-luka di tubuhnya.

Mbah Wiryo mengeluarkan sebuah amplop tua dari tas kainnya.

“Ayahmu menitipkan ini.”

Sari tidak langsung mengambilnya.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena aku pengecut.”

Ardi akhirnya mengambil amplop itu dan menyerahkannya kepada Sari.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang sudah menguning.

Tulisan tangan ayahnya.

Sari membaca baris pertama.

Tangannya langsung bergetar.

Sari, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Bapak sudah tidak ada.

Air mata jatuh ke kertas.

Darmaji menulis bahwa selama bertahun-tahun ia percaya dirinya sedang menyelamatkan putrinya. Baru kemudian ia menyadari bahwa ketakutan dan kebodohannya justru menghancurkan masa kecil Sari.

Ada satu kalimat yang membuat Sari berhenti membaca.

Bapak tidak pernah malu karena tubuhmu. Bapak malu karena pernah membuatmu percaya bahwa tubuhmu adalah sesuatu yang harus kamu benci.

Sari menekan surat itu ke dadanya.

Mbah Wiryo kemudian pergi tanpa meminta maaf untuk kedua kalinya.

Ia tahu tidak semua kesalahan dapat selesai hanya dengan kata maaf.

Beberapa bulan berlalu.

Sari mulai menjalani pemeriksaan dan perawatan sesuai saran dokter. Namun perubahan terbesar justru bukan pada tubuhnya.

Melainkan pada caranya melihat dirinya sendiri.

Suatu pagi, Ardi sedang membuka bengkel ketika melihat Sari keluar dari rumah.

Ia mengenakan blus sederhana.

Kerahnya tidak setinggi biasanya.

Sedikit bagian lehernya terlihat.

Sari tampak gugup.

“Mas.”

Ardi menoleh.

“Kenapa?”

Sari menyentuh kerah bajunya.

“Kelihatan?”

Ardi tahu apa yang ia maksud.

Beberapa helai rambut terlihat di sisi lehernya.

“Iya.”

Wajah Sari langsung berubah.

Namun Ardi tersenyum.

“Terus kenapa?”

Sari terdiam.

Kemudian untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berjalan menuju warung tanpa menutupi lehernya dengan tangan.

Beberapa orang memandang.

Ada yang berbisik.

Sari mendengarnya.

Langkahnya sempat melambat.

Namun ia terus berjalan.

Enam bulan setelah pernikahan mereka, sebuah kejadian tak terduga kembali mengubah hidup Sari.

Seorang ibu datang ke rumah mereka membawa anak perempuan berusia sebelas tahun.

Anak itu mengenakan jaket meski udara siang cukup panas.

“Saya dengar tentang Mbak Sari,” kata perempuan itu.

Sari kebingungan.

Kemudian anak tersebut perlahan membuka bagian lengan jaketnya.

Rambut lebat terlihat di kulitnya.

Sari langsung terdiam.

“Dia mulai begini sejak kecil,” kata ibunya. “Keluarga suami saya bilang harus dibawa ke orang pintar. Tapi saya takut salah.”

Sari menatap anak itu.

Ia melihat dirinya sendiri dua puluh tahun lalu.

Ketakutan yang sama.

Cara menyembunyikan tangan yang sama.

Tatapan yang selalu bersiap menerima ejekan.

Sari berlutut agar sejajar dengannya.

“Namamu siapa?”

“Laras.”

“Kamu takut?”

Anak itu mengangguk.

Sari tersenyum.

“Dulu Kakak juga takut.”

“Sekarang?”

Sari memikirkan pertanyaan itu.

Kemudian ia menjawab jujur.

“Kadang masih.”

Laras tampak bingung.

Sari melanjutkan.

“Tapi sekarang Kakak tahu, takut bukan berarti kita harus membenci diri sendiri.”

Ia menyarankan sang ibu membawa Laras ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat.

Setelah mereka pergi, Sari berdiri cukup lama di depan rumah.

Ardi menghampirinya.

“Kamu kenapa?”

Sari tersenyum sambil mengusap air matanya.

“Baru sekarang aku mengerti kenapa aku harus melewati semuanya.”

Ardi menggeleng.

“Kamu tidak seharusnya mengalami penyiksaan itu.”

Sari menatapnya.

“Bukan itu maksudku.”

Ia memandang jalan tempat Laras dan ibunya baru saja menghilang.

“Aku tidak bisa mengubah masa kecilku. Tapi mungkin aku bisa membuat seorang anak tidak mengalami masa kecil yang sama.”

Dua tahun kemudian, rumah kecil mereka memiliki sebuah papan sederhana di ruang depan.

Bukan papan praktik dokter.

Bukan pula tempat pengobatan.

Sari hanya membuka ruang kecil tempat perempuan dan keluarga di desa bisa datang bercerita dan mendapatkan informasi untuk mencari bantuan medis yang tepat.

Ardi tetap bekerja di bengkel.

Sari membantu administrasi sebuah klinik beberapa hari dalam seminggu.

Kehidupan mereka tidak menjadi mewah.

Namun rumah itu selalu ramai.

Suatu malam, ketika hujan turun deras seperti malam pernikahan mereka, listrik kembali padam.

Ardi mencari lampu minyak tua yang masih mereka simpan.

Ia menyalakannya.

Sari tertawa ketika melihat benda itu.

“Mas masih ingat malam pertama kita?”

Ardi mengangkat lampu tersebut.

“Bagaimana bisa lupa? Aku hampir menjatuhkan lampu karena kaget.”

Sari memukul lengannya pelan.

“Keterlaluan.”

Ardi tertawa.

Kemudian ia melihat leher istrinya.

Sari sekarang mengenakan kaus biasa.

Rambut di lehernya masih ada.

Bekas luka di kakinya juga tidak pernah sepenuhnya hilang.

Namun Sari tidak lagi berusaha menyembunyikan semuanya.

Ardi tiba-tiba berkata, “Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Malam itu aku pikir lampu ini membuatku melihat rahasiamu.”

Sari menatapnya.

“Ternyata bukan.”

Ardi meletakkan lampu di meja.

“Yang kulihat malam itu bukan sesuatu yang salah dengan tubuhmu. Aku cuma melihat bukti tentang betapa kejamnya manusia ketika mereka takut pada sesuatu yang tidak mereka pahami.”

Sari terdiam.

Di luar, hujan mengguyur genteng.

Persis seperti malam pernikahan mereka.

Namun kali ini ia tidak gemetar.

Ia menyandarkan kepala ke bahu suaminya.

Di sudut ruangan terdapat surat tua milik ayahnya yang kini disimpan dalam bingkai sederhana.

Sari tidak menyimpannya untuk melupakan apa yang pernah terjadi.

Ia menyimpannya agar selalu ingat satu hal.

Kadang luka terdalam bukan berasal dari tubuh yang berbeda.

Luka itu lahir ketika orang lain meyakinkan seseorang bahwa perbedaan tersebut membuatnya kurang berharga.

Dan penyembuhan Sari akhirnya dimulai bukan ketika rambut di tubuhnya berkurang.

Melainkan ketika ia berhenti meminta maaf karena menjadi dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang