Aku menatap foto formulir itu sampai huruf-huruf di layar ponsel mulai terlihat kabur.
Nama sekolahnya jelas.
Sebuah sekolah swasta di Semarang.
Nama Aluna tercetak lengkap, termasuk tanggal lahir dan nomor identitasnya. Bahkan alamat Bu Siska tercantum sebagai alamat tempat tinggal sementara.
Yang membuat napasku tercekat adalah tanda tangan di bagian bawah.
Tanda tanganku.

Bentuknya hampir sempurna.
Namun aku tahu itu bukan milikku.
Aku memperbesar foto tersebut.
Di samping tanda tanganku ada tanggal yang membuat jantungku berdegup lebih keras.
Tiga minggu lalu.
Hari itu aku berada di kantor sejak pagi sampai malam karena audit internal.
Aku sama sekali tidak menandatangani formulir sekolah apa pun.
Aku segera menelepon Dimas.
Sekali.
Tidak diangkat.
Dua kali.
Tetap tidak diangkat.
Pada panggilan ketiga, dia mematikan telepon.
Aku langsung mengirim pesan.
“Kamu memalsukan tanda tanganku?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengetik lagi.
“Kamu mau memindahkan Aluna ke Semarang tanpa persetujuanku?”
Kali ini muncul tanda bahwa pesanku telah dibaca.
Namun Dimas tetap diam.
Ratih yang sejak tadi duduk di sofa akhirnya mendekat.
“Ada apa?”
Aku menyerahkan ponsel kepadanya.
Dia membaca foto formulir itu dan wajahnya langsung berubah.
“May, kamu pernah tanda tangan ini?”
“Tidak.”
“Kamu yakin?”
“Aku bahkan tidak tahu sekolah ini.”
Ratih menatapku beberapa detik.
“Besok jangan pulang ke rumah.”
Aku mengangguk.
“Tapi dokumen Aluna masih ada yang tertinggal di sana.”
“Jangan pergi sendirian.”
Malam itu aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, aku memeriksa kembali percakapan lama dengan Dimas.
Aku mencari kata sekolah, Semarang, pindah, Aluna.
Tidak ada.
Kemudian aku teringat sesuatu.
Sekitar tiga minggu sebelumnya, Dimas pernah membawa beberapa lembar dokumen kepadaku ketika aku sedang terburu-buru berangkat kerja.
Katanya dokumen untuk pembaruan data asuransi keluarga.
Dia menunjuk dua tempat yang harus kutandatangani.
Aku menandatanganinya tanpa membaca seluruh halaman karena Aluna sedang menangis mencari kaus kaki dan aku sudah terlambat.
Saat itu aku sama sekali tidak curiga.
Sekarang perkataan Dimas kembali terngiang.
“Kamu seharusnya membaca dokumen sebelum menandatanganinya.”
Tanganku mendadak dingin.
Bagaimana kalau formulir sekolah itu bukan satu-satunya?
Pagi berikutnya aku meminta izin tidak masuk kerja.
Ratih menghubungi sepupunya yang bekerja di sebuah kantor hukum. Sekitar pukul sepuluh, kami bertemu seorang pengacara perempuan bernama Nadia.
Aku menceritakan semuanya.
Tentang Bu Siska.
Tentang lutut Aluna.
Tentang video call Dimas.
Tentang formulir sekolah.
Nadia tidak langsung memberi kesimpulan.
Dia hanya bertanya dengan tenang, “Apakah Ibu masih menyimpan foto luka dan catatan pemeriksaan dokter?”
“Ada.”
“Pesan dari suami?”
“Ada.”
“Foto formulir?”
Aku menunjukkan semuanya.
Nadia membaca perlahan.
Kemudian dia berkata, “Mulai sekarang, jangan hapus apa pun. Simpan salinan di tempat lain.”
Aku mengangguk.
“Apakah mereka bisa membawa Aluna begitu saja?”
“Jangan berasumsi dulu. Kita harus tahu sebenarnya dokumen apa yang mereka siapkan.”
Kalimat itu justru membuatku semakin takut.
Siang harinya aku menelepon sekolah yang tertera pada formulir.
Seorang petugas administrasi menjawab.
Aku memperkenalkan diri sebagai ibu Aluna.
Beberapa detik kemudian suara perempuan itu berubah lebih hati-hati.
“Oh, Ibu Maya.”
Jantungku berdebar.
Dia mengenal namaku.
“Saya ingin memastikan apakah ada pendaftaran atas nama Aluna Prameswari.”
Terdengar suara keyboard.
“Ada, Bu.”
Aku memejamkan mata.
“Siapa yang mendaftarkan?”
“Yang datang langsung neneknya. Setelah itu ada komunikasi dengan ayahnya.”
“Kapan Aluna dijadwalkan mulai?”
Perempuan itu terdiam.
“Bu, mungkin sebaiknya Ibu membicarakan ini dengan suami.”
“Kenapa?”
“Karena menurut data kami, perpindahan direncanakan setelah akhir semester.”
Aku menggenggam ponsel lebih kuat.
Masih sekitar tiga bulan lagi.
Berarti ini bukan keputusan yang dibuat setelah pertengkaran kemarin.
Mereka sudah merencanakannya jauh sebelumnya.
“Apakah ada dokumen lain?”
“Maaf, Bu, untuk dokumen lengkap saya perlu konfirmasi dengan kepala administrasi.”
Aku memberikan nomor telepon dan meminta mereka tidak melakukan perubahan apa pun sampai ada klarifikasi dariku.
Setelah sambungan berakhir, aku hanya duduk diam.
Ratih menatapku.
“Mereka sudah merencanakannya.”
Aku mengangguk.
“Tiga minggu lalu.”
Namun sesuatu masih tidak masuk akal.
Kenapa?
Kalau Dimas hanya ingin Aluna sekolah di Semarang, kenapa harus diam-diam?
Kenapa memalsukan tanda tanganku?
Dan kenapa Bu Siska begitu yakin aku tidak mampu mempertahankan Aluna?
Sore itu jawabannya mulai muncul.
Aku kembali ke rumah bersama Ratih dan kakaknya untuk mengambil barang-barang penting.
Dimas tidak ada.
Bu Siska juga tidak.
Aku menggunakan kunci cadangan.
Begitu masuk, aku langsung menuju lemari tempat Dimas biasa menyimpan dokumen.
Terkunci.
Biasanya tidak pernah dikunci.
Aku hampir menyerah ketika Ratih memanggil dari ruang kerja.
“May.”
Aku menghampirinya.
Dia sedang berdiri di depan mesin printer.
Di baki bawah terdapat beberapa lembar kertas bekas cetak.
Salah satunya hanya berisi separuh halaman karena tinta habis.
Namun beberapa kalimat masih terbaca.
Permohonan perubahan alamat.
Nama Aluna.
Alamat Semarang.
Dan sebuah nama yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Yayasan Bina Keluarga Mandiri.
Aku memotretnya.
Kemudian terdengar suara pintu depan dibuka.
Bu Siska pulang.
Begitu melihat kami, wajahnya berubah.
“Kalian masuk tanpa izin?”
“Ini rumah saya juga,” jawabku.
Matanya berpindah ke kertas di tanganku.
Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan di wajah perempuan itu.
Dia langsung berjalan mendekat.
“Taruh itu.”
Aku mundur.
“Yayasan apa ini?”
“Bukan urusanmu.”
“Ada nama anak saya di sini.”
Bu Siska mencoba merebut kertas tersebut, tetapi Ratih berdiri di antara kami.
“Jangan sentuh dia, Bu.”
Bu Siska menatap Ratih tajam.
“Kamu jangan ikut campur keluarga orang.”
Aku mengangkat kertas itu.
“Apa yang kalian rencanakan?”
Bu Siska diam.
“Kenapa Aluna didaftarkan sekolah di Semarang?”
“Karena dia akan tinggal di sana.”
“Dengan siapa?”
“Dengan saya.”
Jawabannya begitu cepat hingga aku sempat mengira salah dengar.
“Siapa yang memutuskan?”
“Dimas.”
Aku tertawa kecil karena tidak percaya.
“Dimas tidak bisa memutuskan sendirian.”
Bu Siska justru terlihat tenang kembali.
“Makanya Mama sudah bilang. Jangan terlalu percaya diri hanya karena kamu ibunya.”
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
“Apa maksud Ibu?”
Dia menatapku cukup lama.
Kemudian berkata, “Tanya suamimu.”
Aku mengambil barang-barang Aluna dan pergi.
Malamnya, Dimas akhirnya menelepon.
“Apa kamu masuk rumah?”
“Ya.”
“Kamu mengobrak-abrik barangku?”
“Apa itu Yayasan Bina Keluarga Mandiri?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kenapa ada dokumen atas nama Aluna?”
“Maya, berhenti mencari masalah yang tidak kamu pahami.”
“Jelaskan.”
“Aku akan menjelaskan kalau kamu pulang.”
“Tidak.”
Suaranya berubah keras.
“Jangan memaksaku melakukan sesuatu yang nanti kamu sesali.”
Aku hampir menjawab ketika terdengar suara lain dari belakang Dimas.
Suara perempuan.
Bu Siska.
“Sudah. Jangan jelaskan lewat telepon.”
Sambungan terputus.
Besok paginya Nadia menghubungiku.
Dia sudah mencari informasi dasar tentang yayasan yang namanya tercetak pada dokumen itu.
Bukan sekolah.
Bukan lembaga pengasuhan anak.
Nama yayasan tersebut muncul dalam dokumen layanan konsultasi keluarga dan pendampingan psikologis.
Namun itu belum menjelaskan semuanya.
Sampai Nadia bertanya, “Bu Maya, apakah beberapa bulan terakhir Ibu pernah menjalani konsultasi psikologis?”
Aku mengernyit.
“Tidak.”
“Pernah minum obat penenang?”
“Tidak.”
“Pernah didiagnosis mengalami gangguan yang membuat Ibu tidak mampu merawat anak?”
Aku langsung berdiri.
“Tidak pernah.”
Nadia diam beberapa detik.
“Kalau begitu, kita punya masalah lain.”
Dia mengirimkan sebuah foto.
Dokumen itu rupanya berasal dari berkas yang diteruskan pihak sekolah setelah Nadia meminta klarifikasi resmi atas persetujuanku.
Aku membukanya.
Judulnya membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Surat Keterangan Pendampingan Psikologis.
Namaku tercetak di sana.
Di bawahnya tertulis bahwa aku mengalami ketidakstabilan emosi berkepanjangan, memiliki kecenderungan impulsif, dan membutuhkan pengawasan keluarga dalam pengasuhan anak.
Aku membaca setiap kalimat dengan tangan gemetar.
“Itu bohong.”
“Ada tanda tangan Ibu di halaman terakhir?”
Aku menggulir layar.
Ada.
Lagi-lagi menyerupai tanda tanganku.
Namun bukan itu yang membuatku hampir menjatuhkan ponsel.
Ada tanda tangan saksi.
Dimas Pratama.
Suamiku sendiri.
Tiba-tiba semuanya tersambung.
Komentar Bu Siska tentang kemampuanku menjadi ibu.
Pertanyaan Dimas tentang penghasilan.
Sekolah di Semarang.
Dokumen-dokumen yang disodorkan kepadaku tanpa penjelasan.
Mereka bukan sekadar merencanakan kepindahan Aluna.
Mereka sedang membangun cerita bahwa aku tidak layak mengasuh anakku.
Aku langsung membawa dokumen itu kepada Nadia.
“Kita harus membuktikan asal surat ini,” katanya.
Kami menghubungi lembaga yang tercantum.
Setelah hampir dua jam berpindah dari satu petugas ke petugas lain, akhirnya seorang supervisor memeriksa nomor registrasinya.
Tidak ditemukan.
Nama psikolog yang tercantum memang nyata, tetapi setelah dihubungi, orang tersebut menyatakan tidak pernah bertemu denganku dan tidak pernah mengeluarkan surat tersebut.
Nadia menatapku.
“Jangan hubungi suami Ibu dulu.”
Namun sore itu Dimas justru datang ke kantor Nadia.
Entah dari mana dia tahu aku berada di sana.
Wajahnya pucat.
“Maya, kita bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Ada.”
Dia meletakkan sebuah map di meja.
Nadia tetap berada di sampingku.
Dimas memandangnya.
“Ini masalah keluarga.”
Nadia menjawab tenang, “Ibu Maya meminta saya mendampingi.”
Dimas menelan ludah.
Kemudian membuka map.
“Aku memang merencanakan Aluna tinggal sementara dengan Mama.”
“Dengan memalsukan dokumen tentang kondisi psikologisku?”
“Aku tidak membuat surat itu.”
“Lalu siapa?”
Dia terdiam.
Aku sudah tahu jawabannya sebelum dia mengatakannya.
“Mama.”
Ruangan menjadi sunyi.
Dimas mengusap wajah.
“Mama takut kamu akan membawa Aluna kalau kita berpisah.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Kita bahkan belum membicarakan perceraian.”
Dimas tidak menjawab.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
“Kamu sudah ingin berpisah?”
Matanya menghindar.
Aku merasa seperti baru saja ditampar.
“Sejak kapan?”
“Bukan begitu.”
“Sejak kapan, Dimas?”
Akhirnya dia duduk.
“Usahaku bermasalah sejak delapan bulan lalu.”
Aku tidak mengerti hubungannya.
Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen lain.
Utang.
Jumlahnya membuat kepalaku berdenyut.
Ratusan juta rupiah.
Dimas ternyata tidak lagi menjalankan bisnis seperti yang selama ini kukira. Dia meminjam uang untuk menutup kerugian, lalu meminjam lagi untuk membayar pinjaman sebelumnya.
Rumah kami bahkan telah dijadikan bagian dari jaminan untuk salah satu pinjaman.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Aku takut.”
“Jadi solusi kalian adalah mengambil Aluna dariku?”
Dimas menggeleng cepat.
“Mama yang membuat rencana itu. Dia bilang kalau semuanya jatuh, kamu pasti pergi. Dia ingin memastikan Aluna tetap bersama keluarga kami.”
Aku menatap laki-laki itu.
“Dan kamu setuju.”
Dia tidak menjawab.
“Ketika ibumu menyuruh anak kita berlutut, kamu juga diam.”
“Maya…”
“Ketika dia membuat surat palsu tentang aku, kamu juga diam.”
“Aku tidak tahu surat itu palsu.”
“Tapi kamu menandatanganinya sebagai saksi.”
Dimas menunduk.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kuakui.
Masalah terbesar dalam pernikahanku bukan Bu Siska.
Masalahnya adalah Dimas selalu memilih diam setiap kali ibunya melewati batas.
Dan diamnya selalu membuat orang lain membayar akibatnya.
Tiga minggu kemudian, aku dan Aluna pindah ke rumah kontrakan kecil dekat kantorku.
Tidak mewah.
Hanya dua kamar dengan halaman sempit.
Aku mengajukan proses perceraian dengan pendampingan hukum dan menyerahkan seluruh dokumen yang kami temukan kepada pihak yang berwenang untuk diperiksa.
Sekolah di Semarang membatalkan proses pendaftaran Aluna setelah mengetahui adanya sengketa mengenai persetujuan orang tua.
Dimas beberapa kali meminta bertemu.
Aku tidak melarangnya menemui Aluna selama pertemuan dilakukan dengan cara yang aman dan sesuai kesepakatan.
Namun Bu Siska tidak pernah lagi kubiarkan sendirian bersama putriku.
Beberapa bulan kemudian, pada suatu sore, aku sedang memasak ketika Aluna berlari dari kamar membawa selembar kertas.
“Ma, lihat.”
Dia menunjukkan gambar rumah.
Rumah kecil berwarna kuning.
Ada dua orang berdiri di depannya.
Aku dan Aluna.
Aku tersenyum, tetapi kemudian melihat satu sosok kecil lain di sudut gambar.
Seekor kelinci abu-abu dengan satu telinga.
“Ini rumah kita?”
Aluna mengangguk.
“Kenapa cuma kita berdua?”
Dia berpikir sebentar.
Kemudian menjawab dengan polos, “Karena di sini enggak ada yang nyuruh Aluna takut.”
Tanganku berhenti.
Aku memeluknya.
Malam itu, setelah Aluna tidur, sebuah pesan masuk dari nomor Dimas.
Aku hampir mengabaikannya.
Namun ada sebuah foto terlampir.
Foto sebuah dokumen lama.
Aku membukanya.
Ternyata itu bukan dokumen tentang Aluna.
Itu surat yang dibuat Bu Siska bertahun-tahun sebelumnya ketika Dimas masih kuliah.
Isinya hampir sama.
Tentang seseorang yang dianggap tidak stabil secara emosional.
Tentang seseorang yang dinilai tidak mampu mengambil keputusan sendiri.
Hanya saja nama yang tercantum bukan namaku.
Nama itu milik ayah Dimas.
Aku teringat cerita keluarga bahwa ayah Dimas meninggalkan rumah ketika Dimas masih muda karena dianggap tidak bertanggung jawab.
Di bawah foto itu, Dimas menulis satu kalimat.
“Aku baru menemukannya di lemari Mama. Ternyata kamu bukan orang pertama.”
Aku duduk lama dalam kegelapan.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa apa yang terjadi kepadaku bukan sekadar pertengkaran antara menantu dan mertua.
Itu adalah pola yang sudah hidup bertahun-tahun di keluarga tersebut.
Seseorang mengendalikan.
Seseorang memilih diam.
Dan orang lain dipaksa percaya bahwa dirinya terlalu lemah untuk melawan.
Aku memandang Aluna yang tertidur sambil memeluk kelinci abu-abunya.
Lalu kuhapus satu kalimat yang sempat kutulis untuk Dimas.
Aku tidak perlu memenangkan perdebatan dengannya.
Aku juga tidak perlu membuat Bu Siska mengakui kesalahannya agar bisa melanjutkan hidup.
Yang harus kulakukan hanya memastikan satu hal.
Pola itu berhenti pada generasiku.
Besok paginya, Aluna berdiri di depan pintu rumah kontrakan kami dengan tas kecil di punggungnya.
Lututnya sudah sembuh.
Dia menatapku dan tersenyum.
“Ayo, Ma. Nanti aku telat sekolah.”
Aku menggenggam tangannya.
Dan ketika kami melangkah keluar bersama, aku baru menyadari sesuatu yang selama ini salah kupahami.
Rumah ternyata bukan tempat dengan cicilan paling besar, keluarga paling kaya, atau orang-orang yang paling keras menuntut kita untuk tetap tinggal.
Rumah adalah tempat seorang anak tidak perlu takut ketika mendengar suara pintu terbuka.
