Malam itu aku tidak bisa tidur.
Kalimat Mama terus berputar di kepalaku.
Jangan takut mengambil keputusan jika itu yang terbaik meski menyakitkan.
Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Ponsel di samping bantal bergetar tepat pukul sebelas lewat tujuh menit.
Dean.
Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
Besok fitting terakhir jam dua. Jangan telat. Dan tolong jangan bahas Dania lagi. Aku capek.
Aku tertawa hambar.

Tiga minggu menuju pernikahan kami, dan laki-laki yang seharusnya menjadi tempatku pulang justru membuatku merasa seperti pengganggu dalam hubunganku sendiri.
Aku membuka percakapan dengan Ezra.
Kirim semua yang kamu ingat waktu lihat Dean di Karawaci. Jam, tempat, sama ceweknya kayak gimana.
Balasannya datang kurang dari semenit.
Kak, serius?
Serius.
Ezra menelepon.
Aku mengangkatnya dan langsung berkata, “Jangan kasih tahu Mama sama Papa.”
“Kak, aku nggak suka ini.”
“Aku cuma butuh kepastian.”
Hening beberapa detik.
“Jam sekitar setengah delapan malam. Bioskop di mal. Aku lagi sama teman. Dean keluar dari studio sama cewek rambut panjang. Mereka nggak kelihatan kayak teman kantor.”
“Maksudnya?”
“Dean merangkul pinggangnya.”
Tanganku langsung dingin.
“Wajah ceweknya kelihatan?”
“Kelihatan.”
“Dania?”
Ezra terdiam.
“Kamu kenal Dania?”
“Aku pernah lihat fotonya.”
“Kalau gitu kirim.”
Aku mengirimkan foto Dania.
Beberapa detik kemudian hanya muncul dua kata.
Itu dia.
Aku memejamkan mata.
Aneh, aku tidak menangis.
Mungkin karena jauh di dalam hati, aku sudah mengetahui jawabannya.
Aku hanya belum punya keberanian untuk menerimanya.
Keesokan harinya aku tetap datang ke butik untuk fitting gaun.
Dean datang terlambat hampir empat puluh menit.
“Sorry, meeting.”
Aku hanya mengangguk.
Ketika aku keluar mengenakan gaun putih yang seharusnya menjadi gaun pengantinku, semua orang tersenyum kagum.
Dean bahkan berdiri.
“Cantik banget.”
Aku menatapnya melalui cermin.
Untuk sesaat aku hampir membenci diriku sendiri karena masih merasa bahagia mendengar pujian itu.
“Aku boleh lihat ponselmu?”
Senyumnya menghilang.
“Hah?”
“Ponselmu.”
“Buat apa?”
Aku menoleh.
“Kenapa? Ada yang nggak boleh aku lihat?”
Dean mendecakkan lidah.
“Mulai lagi.”
“Aku cuma tanya.”
“Privasi itu tetap ada meskipun kita mau menikah.”
Aku mengangguk pelan.
“Benar.”
Lalu aku tersenyum.
“Berarti kamu juga nggak perlu lihat ponselku lagi mulai sekarang.”
Wajahnya berubah.
Dean selama ini tahu password ponselku. Dia bahkan beberapa kali membuka pesan masuk tanpa izin.
“Aruna, jangan kekanak-kanakan.”
Aku tidak menjawab.
Saat itulah ponselnya berbunyi.
Nama yang muncul di layar cukup membuat semua pertanyaanku terjawab.
Dania.
Dean buru-buru membalik ponselnya.
Terlambat.
Aku sudah melihat pesan singkat yang muncul di layar.
Aku kangen semalam.
Dean menatapku.
Aku menatapnya kembali.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajah laki-laki itu.
“Na, ini nggak seperti yang kamu pikir.”
Aku tersenyum.
Kalimat paling klasik di dunia.
“Nanti aja.”
Aku masuk kembali ke ruang ganti.
Tanganku gemetar ketika melepaskan gaun pengantin itu.
Namun aku tidak menangis.
Aku justru merasa sangat tenang.
Dua hari berikutnya aku tidak menanyakan apa pun.
Aku bahkan bersikap seperti biasa.
Dean mungkin mengira aku memilih mempercayainya.
Padahal aku sedang memastikan sesuatu yang jauh lebih besar.
Aira membantuku.
Dia adalah sahabatku sejak kuliah sekaligus orang yang paling banyak membantu persiapan pernikahan kami.
“Aku cek vendor satu-satu,” katanya ketika kami bertemu di sebuah kafe di Jakarta Selatan. “Sebagian besar masih bisa dibatalkan. Memang ada deposit yang hangus.”
“Nggak masalah.”
Aira menatapku lama.
“Kamu yakin?”
Aku mengaduk kopi.
“Aku nggak mau membatalkan pernikahan cuma berdasarkan dugaan.”
“Terus?”
“Aku mau dia sendiri yang membuktikan semuanya.”
Kesempatan itu datang empat hari kemudian.
Dean mengatakan dia harus pergi ke Bandung untuk bertemu klien.
Namun malam itu Dania mengunggah Instagram Story.
Sebuah meja makan dengan dua gelas wine di sebuah restoran hotel di Jakarta.
Dia tidak menampilkan siapa yang duduk di depannya.
Tapi ada jam tangan di sisi kanan foto.
Aku mengenalnya.
Jam tangan itu hadiah ulang tahun dariku untuk Dean.
Aku langsung berdiri.
Aira menatapku.
“Mau ke sana?”
Aku mengangguk.
Kami tiba sekitar empat puluh menit kemudian.
Restoran itu hampir tutup.
Aku tidak menemukan Dean.
Namun resepsionis hotel memberiku jawaban yang jauh lebih menyakitkan tanpa sadar.
Aku berpura-pura hendak mengirimkan barang untuk Dean.
“Bapak Dean Pratama?”
Petugas itu mengecek komputer.
“Iya, Bu. Kamar 1708.”
Dadaku terasa kosong.
“Sendiri?”
Petugas itu tampak ragu.
Aku tersenyum.
“Saya tunangannya. Saya mau kasih surprise.”
“Oh.”
Ekspresinya berubah canggung.
Saat itulah aku tahu.
Aku tidak perlu naik.
Tidak perlu mengetuk pintu.
Tidak perlu melihat apa pun lagi.
Tetapi sebelum aku pergi, pintu lift terbuka.
Dania keluar.
Dia mengenakan blazer hitam di atas dress pendek, rambutnya masih sedikit basah.
Dan di belakangnya muncul Dean.
Langkah Dean berhenti.
Wajahnya pucat.
“Aruna?”
Dania ikut membeku.
Aku hanya menatap mereka.
Lucunya, adegan yang selama berhari-hari kutakuti justru terasa sangat biasa ketika akhirnya benar-benar terjadi.
“Na, dengar dulu.”
Dean menghampiriku.
Aku mundur satu langkah.
“Jangan sentuh aku.”
“Ini bisa dijelaskan.”
“Silakan.”
Dean terdiam.
Aku menunggu.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Tidak ada penjelasan.
Dania justru berkata pelan, “Aruna, aku minta maaf.”
Aku menoleh kepadanya.
“Sejak kapan?”
Dean langsung menyela.
“Na.”
Aku mengangkat tangan.
“Aku tanya dia.”
Dania menunduk.
“Hampir setahun.”
Dunia seperti berhenti.
Hampir setahun.
Aku dan Dean bertunangan sebelas bulan lalu.
Berarti bahkan sebelum cincin itu melingkar di jariku, mereka sudah bersama.
“Kenapa?” tanyaku.
Dania menangis.
“Aku sama Dean memang pernah punya hubungan sebelum kalian kenal.”
Aku menatap Dean.
“Katanya sahabat?”
Dean mengusap wajah.
“Itu sudah lama.”
“Ternyata nggak selama itu.”
“Na, aku tetap pilih kamu.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat itu justru menjadi kalimat paling menghina yang pernah kudengar.
“Pilih aku?”
Aku mendekatinya.
“Kamu tidur dengan perempuan lain hampir setahun dan bilang memilih aku?”
“Aku khilaf.”
“Setahun itu bukan khilaf, Dean. Itu jadwal.”
Dia terdiam.
Aku melepaskan cincin pertunangan dari jariku.
Dean langsung panik.
“Aruna, jangan.”
Aku meletakkannya di meja resepsionis.
“Tiga minggu lagi kita nggak jadi menikah.”
“Na!”
Aku berjalan pergi.
Namun Dean mengejarku sampai ke lobi.
“Kamu nggak bisa membatalkan semuanya begitu aja! Keluarga sudah tahu, undangan sudah disebar!”
Aku berbalik.
“Jadi aku harus menikah denganmu supaya kamu nggak malu?”
“Bukan begitu.”
“Terus bagaimana?”
Dean kehilangan kata-kata.
Aku menatap laki-laki yang hampir kujadikan suami itu untuk terakhir kalinya.
“Aku lebih rela kehilangan uang, gedung, gaun, dan pesta daripada kehilangan harga diriku.”
Lalu aku pergi.
Kupikir semuanya selesai malam itu.
Ternyata aku salah.
Keesokan paginya Dean datang ke rumah bersama orang tuanya.
Mama langsung memanggilku turun.
Aku menemukan Dean duduk di ruang keluarga dengan wajah kusut. Ibunya menangis.
“Aruna,” katanya sambil menggenggam tanganku, “Om dan Tante sudah dengar semuanya. Tante benar-benar malu.”
Aku tidak menjawab.
Dean berdiri.
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
“Caranya?”
“Aku putus sama Dania.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Lalu?”
“Kita tetap menikah.”
Aku hampir tidak percaya.
“Dean, kamu pikir masalahnya selesai karena kamu putus sama dia?”
“Aku salah. Aku akui.”
“Tapi kamu belum ngerti kesalahanmu.”
Papa yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Dean.”
Suaranya tenang, tapi cukup membuat ruangan hening.
“Anak saya bukan hadiah yang bisa kamu dapatkan setelah meminta maaf.”
Dean menunduk.
Papa melanjutkan, “Pernikahan membutuhkan kepercayaan. Kalau tiga minggu sebelum menikah saja Aruna harus menjadi detektif untuk mengetahui keberadaan calon suaminya, saya rasa ada persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar perselingkuhan.”
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, air mataku jatuh.
Dean menatapku.
“Na, aku sayang kamu.”
Aku mengusap air mata.
“Mungkin.”
Aku tersenyum pahit.
“Tapi sayang tanpa rasa hormat nggak cukup.”
Pernikahan kami resmi dibatalkan hari itu.
Beberapa orang bergosip.
Sebagian keluarga bertanya-tanya.
Beberapa teman mengatakan aku terlalu keras karena Dean sudah meminta maaf.
Aku tidak peduli.
Satu bulan kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Dania menghubungiku.
Dia meminta bertemu.
Awalnya aku menolak.
Namun satu kalimatnya membuatku berubah pikiran.
Ada sesuatu tentang Dean yang harus kamu tahu.
Kami bertemu di sebuah kafe.
Dania terlihat jauh berbeda. Tidak ada riasan mencolok. Wajahnya pucat dan matanya sembap.
“Aku nggak datang buat minta kamu memaafkan aku,” katanya.
“Bagus.”
“Aku cuma mau kasih ini.”
Dia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat salinan beberapa dokumen.
Aku membaca satu per satu.
Lalu tanganku berhenti.
Itu laporan transaksi.
Dean ternyata menggunakan sebagian dana perusahaan Papa melalui proyek yang dikelolanya.
Jumlahnya tidak sedikit.
“Aku tahu ini karena dia pernah minta pakai rekeningku,” kata Dania. “Dia bilang cuma sementara.”
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa kamu kasih ini ke aku?”
Dania menahan tangis.
“Karena setelah kamu batal nikah, aku pikir akhirnya dia akan bersama aku.”
Dia tertawa getir.
“Ternyata minggu lalu aku tahu dia juga punya perempuan lain.”
Aku terdiam.
“Aku memang salah sama kamu, Aruna. Tapi ternyata kita berdua sama-sama dibohongi.”
Aku membawa dokumen itu kepada Papa.
Setelah audit internal dilakukan, semuanya terbukti.
Dean bukan hanya berselingkuh.
Dia juga memanfaatkan kedekatannya dengan keluargaku untuk mengakses proyek perusahaan.
Kasus itu akhirnya ditangani secara hukum.
Dan baru saat itulah aku memahami sesuatu.
Perselingkuhan Dean ternyata bukan kehancuran terbesar dalam hidupku.
Justru itu adalah alarm yang menyelamatkanku sebelum aku mengikat hidupku secara resmi dengan seseorang yang selama ini tidak benar-benar kukenal.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di balkon rumah bersama Mama.
Di jari manisku tidak ada cincin.
Tidak ada pernikahan.
Tidak ada Dean.
Anehnya, aku merasa lebih utuh dibandingkan sebelumnya.
Mama menyerahkan secangkir teh kepadaku.
“Menyesal?”
Aku tersenyum.
“Nggak.”
“Sedih?”
“Kadang.”
Mama merangkulku.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Ma.”
“Hm?”
“Aku dulu selalu berpikir keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah menemukan laki-laki seperti Papa.”
Mama tersenyum.
“Ternyata bukan.”
“Terus?”
Aku menatap ke dalam rumah.
Papa sedang berdebat dengan Ezra tentang pertandingan sepak bola sambil tertawa.
Aku ikut tersenyum.
“Keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah punya keluarga yang membuatku tahu bagaimana seharusnya aku dicintai.”
Mama mencium kepalaku.
Saat itulah Papa memanggil dari dalam.
“Aruna! Sini, bantu Papa. Adikmu ini keras kepala!”
“Papa yang nggak ngerti bola!” teriak Ezra.
Aku tertawa dan hendak masuk ketika ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak kukenal.
Aku hampir mengabaikannya.
Namun satu foto yang dikirim membuat langkahku berhenti.
Itu foto lama.
Seorang bayi perempuan berada dalam pelukan seorang wanita yang tidak kukenal.
Di belakang foto tertulis sebuah tanggal.
Tanggal lahirku.
Di bawahnya terdapat satu kalimat.
Kalau kamu ingin tahu siapa ibu kandungmu sebenarnya, datanglah sendiri.
Tanganku membeku.
Selama ini aku selalu tahu bahwa Papa dan Mama bukan orang tua kandungku.
Mereka tidak pernah menyembunyikan bahwa aku diadopsi ketika masih bayi.
Tapi mereka selalu mengatakan ibu kandungku telah meninggal.
Aku menatap foto itu sekali lagi.
Kemudian membaca pesan berikutnya yang baru masuk.
Ibumu masih hidup, Aruna.
Dan orang yang selama ini membuatmu percaya bahwa dia sudah meninggal adalah seseorang yang sangat dekat dengan keluargamu.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, jantungku kembali berdetak begitu keras.
Aku perlahan mengangkat wajah.
Dari balik pintu kaca, Mama sedang tersenyum kepadaku.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertanya-tanya berapa banyak rahasia yang sebenarnya tersembunyi di balik keluarga yang selama ini kukenal.
