Ambulans baru meninggalkan halaman Rumah Sakit Medika Jakarta ketika ponselku mulai bergetar tanpa henti.
Aditya.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Aku membalik ponsel di atas selimut dan memejamkan mata. Lampu jalan Jakarta berkelebat di balik kaca ambulans, membentuk bayangan panjang di langit-langit kendaraan.
“Sebaiknya diangkat, Mbak?” tanya Suster Lestari yang memutuskan menemaniku sampai titik serah dengan tim medis Bandung.
Aku menggeleng.
“Untuk pertama kalinya, biarkan dia yang menunggu.”
Sekitar dua puluh menit kemudian, panggilan berhenti.
Lalu pesan-pesan masuk.
Siti, kamu di mana?
Jangan bertindak gegabah.
Kondisimu tidak memungkinkan dipindahkan malam ini.
Angkat telepon Mas.

Pesan terakhir berbeda.
Kalau sesuatu terjadi padamu, jangan salahkan Mas.
Aku membaca kalimat itu cukup lama.
Lalu tertawa kecil.
Bahkan ketika aku pergi karena dikhianati, Aditya masih berusaha membuatku merasa bersalah.
Aku mematikan ponsel.
Namun pada saat yang sama, di Rumah Sakit Medika Jakarta, keadaan ternyata mulai kacau.
Aditya kembali ke kamarku sekitar pukul 03.10 setelah memastikan infus Putri berjalan baik. Begitu membuka pintu, dia menemukan ranjang kosong.
Tidak ada tas.
Tidak ada obat pribadiku.
Tidak ada aku.
Hanya sebuah cincin pernikahan di atas meja.
Di bawahnya tergeletak surat pencabutan kewenangan medis.
Menurut cerita Suster Lestari kepadaku kemudian, wajah Aditya langsung berubah.
“Ke mana Siti?”
Tidak ada yang menjawab.
Dia membaca surat itu dengan cepat.
“SITI DI MANA?”
Seorang perawat jaga akhirnya memberanikan diri berkata, “Sudah dipindahkan, Dok.”
“Dipindahkan ke mana?”
“Kami tidak tahu.”
Aditya langsung menghubungi bagian administrasi.
Namun masalah yang ditemukannya jauh lebih besar.
Seluruh salinan rekam medisku telah ditarik dari akses timnya.
Bukan dihapus. Data asli tetap tersimpan sesuai prosedur rumah sakit, tetapi otoritas klinis Aditya terhadap kasusku sudah dicabut.
Namanya tidak lagi tercantum sebagai dokter penanggung jawab.
Lebih buruk lagi, sebuah surat elektronik telah masuk ke direktur rumah sakit.
Permintaan audit independen terhadap keputusan prioritas transplantasi.
Pengirimnya adalah kantor hukum Yayasan Nur Amanah.
Yayasan yang selama hampir sebelas tahun menjadi salah satu penyandang dana terbesar untuk program hematologi rumah sakit tersebut.
Pukul 04.15, Direktur Rumah Sakit, Dokter Bima Santoso, menelepon Aditya.
“Datang ke ruangan saya sekarang.”
“Tapi saya sedang menangani pasien.”
“Sekarang, Dit.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Aditya tidak berani membantah.
Ketika masuk, tiga orang sudah menunggunya.
Dokter Bima.
Ketua komite etik rumah sakit.
Dan seorang pengacara yayasan.
Di atas meja terdapat beberapa dokumen.
Dokter Bima menunjuk kursi.
“Duduk.”
“Ada apa ini?”
“Mulai pagi ini, kamu dinonaktifkan sementara dari seluruh keputusan terkait program transplantasi sampai audit selesai.”
Aditya langsung berdiri lagi.
“Apa?”
“Duduk!”
Suara Dokter Bima membuat ruangan sunyi.
Aditya mengepalkan tangan.
“Ini karena Siti? Pak, dia sedang emosional. Ada persoalan rumah tangga antara kami.”
Ketua komite etik menatapnya tajam.
“Justru itu persoalannya. Pasien tersebut adalah istrimu.”
“Saya dokter yang menangani kondisinya selama bertahun-tahun.”
“Dan itu tidak memberi Anda hak untuk mengubah prioritas klinis secara sepihak karena memiliki hubungan personal dengan pasien lain.”
Wajah Aditya menegang.
“Putri kritis.”
“Kalau memang demikian, keputusan harus melalui tim transplantasi, bukan keputusan pribadi Anda pukul dua dini hari.”
Aditya terdiam.
Dokter Bima mendorong satu dokumen ke arahnya.
“Terlebih lagi, tidak pernah ada kendala teknis laboratorium seperti yang kamu sampaikan kepada Siti.”
Wajah Aditya kehilangan warna.
Untuk pertama kalinya, dia sadar kebohongan yang dianggapnya sederhana telah meninggalkan jejak administratif.
Sementara itu, ambulans yang membawaku terus melaju menuju Bandung.
Menjelang subuh, kondisiku mendadak memburuk.
Tubuhku menggigil hebat.
Tekanan darah turun.
Monitor berbunyi cepat.
“Siti, dengar saya?”
Aku membuka mata dengan susah payah.
Seorang dokter pendamping memeriksa pupil dan infusku.
“Tekanannya turun. Hubungi rumah sakit penerima. Kita percepat.”
Dalam kondisi setengah sadar, pikiran aneh justru muncul.
Bagaimana kalau aku benar-benar meninggal malam ini?
Apakah Aditya akan menangis?
Apakah dia akan menyesal?
Atau setelah pemakamanku, dia akan kembali menemani Putri seolah aku hanya satu bab yang telah selesai?
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena takut mati.
Aku menangisi perempuan yang selama bertahun-tahun begitu bodoh mempercayai seseorang lebih daripada dirinya sendiri.
Aku terbangun beberapa jam kemudian di sebuah kamar yang asing.
Cahaya pagi masuk melalui jendela.
Di samping ranjang berdiri seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut memutih.
Dokter Surya.
Sahabat almarhum Ayah.
Dia tersenyum tipis.
“Kamu membuat Paman hampir kena serangan jantung.”
“Maaf.”
“Tidak usah minta maaf.”
Dia menarik kursi.
“Kondisimu sudah stabil.”
Aku mengangguk.
“Bagaimana transplantasinya?”
Dokter Surya tidak langsung menjawab.
Dia membuka sebuah map.
“Siti, Paman harus memastikan sesuatu. Donor yang diprioritaskan untukmu di Jakarta itu donor registri nasional, benar?”
“Iya.”
“Berarti secara administratif donor itu bukan milik siapa pun. Alokasi ditentukan berdasarkan kompatibilitas dan urgensi klinis melalui prosedur resmi.”
Aku terdiam.
“Jadi Aditya tidak bisa begitu saja memberikannya kepada Putri?”
“Tidak.”
Dadaku terasa sesak.
Dokter Surya melanjutkan dengan hati-hati.
“Dan ada hal lain. Tim kami sudah memeriksa dokumen yang kamu kirim. Tingkat kecocokan donor itu denganmu sangat tinggi. Untuk Putri, kecocokannya jauh lebih rendah.”
Aku memejamkan mata.
Jadi bukan hanya cinta yang membuat Aditya buta.
Dia bahkan bersedia memaksakan keputusan medis yang belum tentu terbaik bagi Putri.
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Pertanyaan itu hanya Aditya yang bisa jawab.”
Siang itu, jawabannya datang sendiri.
Putri meneleponku.
Awalnya aku tidak mau mengangkat.
Namun dia mengirim pesan.
Mbak, saya harus mengatakan sesuatu sebelum semuanya terlambat.
Aku akhirnya menerima panggilannya.
Suara Putri terdengar lemah.
“Mbak Siti?”
“Apa?”
Dia menangis.
“Saya minta maaf.”
Aku diam.
“Saya memang tahu Mas Aditya ingin memprioritaskan donor itu untuk saya.”
Tanganku mencengkeram selimut.
“Tapi saya tidak tahu dia mengambilnya dari Mbak.”
“Jangan bohong.”
“Saya serius.”
“Lalu perkataanmu kemarin? Hidupmu bergantung pada Mas Aditya?”
Putri terdiam.
“Saya sengaja mengatakan itu karena… saya ingin membuat Mbak cemburu.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Kenapa?”
Tangisnya semakin keras.
“Karena saya masih mencintai dia.”
Kejujuran itu justru terdengar lebih masuk akal daripada semua alasan sebelumnya.
“Tapi ada sesuatu yang Mbak harus tahu.”
“Apa?”
“Mas Aditya yang menghubungi saya dua bulan lalu. Bukan saya yang mencarinya.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
Putri melanjutkan.
“Dia mengetahui kondisi saya dari teman lama kami di Yogyakarta. Dia yang menawarkan agar saya berobat di Jakarta. Dia bilang punya akses ke program transplantasi.”
Aku menelan ludah.
“Dan?”
“Dia bilang… dia berutang hidup kepada saya.”
Aku mengernyit.
Putri menarik napas.
“Dua belas tahun lalu, ketika kami masih kuliah kedokteran, Mas Aditya mengalami kecelakaan. Dia membutuhkan operasi darurat. Keluarga saya yang membayar sebagian besar biayanya.”
Aku tidak pernah mendengar cerita itu.
“Dia selalu merasa bersalah karena setelah lulus dia meninggalkan saya dan kemudian menikahi Mbak.”
Tiba-tiba banyak hal menjadi jelas.
Aditya bukan sekadar masih memiliki perasaan kepada Putri.
Dia hidup dalam rasa bersalah yang tidak pernah diselesaikan.
Dan ketika Putri kembali dalam keadaan sakit, dia menganggap menyelamatkannya sebagai cara menebus masa lalu.
Sayangnya, harga penebusan itu adalah hidup istrinya sendiri.
“Putri,” kataku pelan, “kamu juga pasien. Kamu berhak mendapatkan perawatan terbaik.”
Dia terisak.
“Tapi bukan dengan mengambil hak Mbak.”
“Benar.”
Aku memutus sambungan.
Tiga hari kemudian, kondisi rumah sakit di Jakarta semakin panas.
Audit menemukan bahwa Aditya memang mengakses sistem prioritas donor berkali-kali menggunakan kewenangannya sebagai dokter konsultan. Dia belum sempat memindahkan donor secara resmi, tetapi mencoba memengaruhi keputusan tim sebelum rapat evaluasi.
Yang paling memberatkan justru kebohongannya tentang kendala laboratorium.
Namun kejutan terbesar terjadi ketika kantor Yayasan Nur Amanah meminta rapat luar biasa.
Aditya hadir bersama direksi rumah sakit.
Dia masih tidak memahami mengapa sebuah yayasan besar tiba-tiba begitu agresif menuntut penyelidikan kasus seorang pasien bernama Siti Nurhaliza.
Sampai layar ruang rapat menyala.
Aku muncul melalui konferensi video dari Bandung.
Wajah Aditya seketika pucat.
“Siti?”
Aku tidak menjawabnya.
Pengacara yayasan berdiri.
“Bapak-bapak dan Ibu sekalian, sebelum rapat dimulai, kami perlu menjelaskan kedudukan Ibu Siti Nurhaliza.”
Dia membuka dokumen.
“Yayasan Nur Amanah didirikan dua puluh tahun lalu oleh almarhum Haji Rahmat Nurhadi.”
Nama ayahku.
Aditya menatap layar.
Aku melihat bibirnya sedikit terbuka.
Pengacara melanjutkan.
“Setelah beliau meninggal, hak pengendalian dana yayasan diwariskan kepada anak tunggal beliau.”
Semua mata beralih ke layar.
“Kepada Ibu Siti Nurhaliza.”
Ruangan menjadi senyap.
Aditya berdiri.
“Siti, kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku akhirnya berbicara.
“Karena aku ingin tahu bagaimana orang memperlakukanku ketika mereka tidak tahu apa yang kumiliki.”
“Siti, dengarkan Mas.”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya, aku memotongnya tanpa rasa takut.
“Aku tidak akan mencabut dana rumah sakit.”
Aditya tampak terkejut.
“Program transplantasi tetap berjalan. Tidak satu pun pasien boleh kehilangan kesempatan berobat hanya karena kesalahan seorang dokter.”
Dokter Bima mengangguk perlahan.
“Termasuk Putri,” lanjutku.
Aditya menatapku seolah tidak percaya.
“Aku tidak membenci Putri karena dia sakit. Aku juga tidak akan menghukumnya karena kamu gagal membedakan rasa bersalah, cinta masa lalu, dan tanggung jawab profesional.”
“Siti…”
“Tapi untukmu, Mas, ada konsekuensi.”
Aku menyerahkan keputusan profesional kepada komite etik dan rumah sakit.
Aku tidak meminta Aditya dipecat.
Aku juga tidak meminta kariernya dihancurkan.
Karena pada akhirnya, aku menyadari sesuatu.
Keadilan berbeda dengan balas dendam.
Dua minggu kemudian, aku mendapat kabar bahwa Aditya dikenai pembatasan kewenangan klinis sementara sambil menjalani proses evaluasi etik dan supervisi.
Putri dipindahkan ke tim dokter lain.
Dan donor yang sebelumnya dipermasalahkan kembali dievaluasi melalui prosedur resmi.
Hasil akhirnya membuatku menangis untuk alasan yang sama sekali berbeda.
Aku dinyatakan sebagai penerima dengan tingkat kecocokan dan pertimbangan klinis yang sesuai berdasarkan evaluasi tim.
Prosedur transplantasiku dilakukan beberapa hari kemudian.
Sebelum masuk ruang tindakan, Dokter Surya menggenggam bahuku.
“Takut?”
“Banget.”
Dia tersenyum.
“Itu berarti kamu masih ingin hidup.”
Aku memandang pintu ruang transplantasi.
Ternyata benar.
Aku masih ingin hidup.
Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada Aditya.
Bukan untuk membalas Putri.
Bukan untuk mempertahankan yayasan ayahku.
Aku ingin hidup untuk diriku sendiri.
Beberapa bulan kemudian, tubuhku perlahan pulih.
Rambutku mulai tumbuh kembali.
Aku sudah bisa berjalan di taman rumah sakit tanpa kursi roda.
Pada suatu sore, seorang petugas menyerahkan sebuah amplop.
Dari Aditya.
Di dalamnya terdapat surat perceraian yang sudah dia tandatangani.
Dan secarik kertas tulisan tangan.
Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Aku hanya berharap suatu hari nanti aku mampu memaafkan diriku sendiri karena hampir kehilangan seseorang yang mencintaiku demi membayar utang kepada masa lalu.
Aku membaca surat itu sekali.
Kemudian melipatnya kembali.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Hanya lega.
Namun di dasar amplop terdapat sesuatu yang membuat tanganku berhenti.
Cincin pernikahanku.
Cincin yang kutinggalkan di Jakarta malam itu.
Aku mengambilnya dan memandang ukiran kecil di bagian dalamnya.
Lima tahun lalu, cincin itu terasa seperti simbol bahwa hidupku telah menyatu dengan hidup seseorang.
Sekarang aku mengerti.
Tidak ada cinta yang seharusnya meminta seseorang menyerahkan hak untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Aku menyimpan cincin itu kembali ke dalam amplop.
Lalu menyerahkannya kepada Dokter Surya.
“Paman, boleh minta tolong?”
“Apa?”
“Jual cincin ini.”
Dia menatapku heran.
“Untuk apa uangnya?”
Aku tersenyum.
“Masukkan ke program bantuan pasien leukemia yang tidak punya biaya.”
Dokter Surya terdiam cukup lama sebelum akhirnya tersenyum.
Enam bulan kemudian, program itu resmi berjalan.
Namanya bukan namaku.
Bukan nama ayahku.
Bukan pula nama rumah sakit.
Aku menamainya Kesempatan Kedua.
Pada hari peresmian, seorang staf yayasan mendatangiku membawa daftar pasien penerima bantuan pertama.
Aku membuka halaman pertama.
Tanganku langsung berhenti.
Nama pasien itu kukenal.
Putri Maharani.
Aku menatap staf tersebut.
“Dia tahu dana ini dari saya?”
“Tidak, Bu. Sesuai permintaan Ibu, identitas donatur dirahasiakan.”
Aku menutup map perlahan.
Di luar jendela, matahari pagi menerangi halaman rumah sakit.
Aku tersenyum.
Dulu aku mengira kemenangan terbesar adalah melihat orang yang menyakitiku kehilangan segalanya.
Ternyata aku salah.
Kemenangan terbesar adalah ketika orang lain mencoba mengambil masa depanmu, tetapi kamu tetap mampu menyelamatkan masa depanmu sendiri tanpa berubah menjadi seperti mereka.
Malam pukul 02.40 itu, Aditya memilih perempuan lain dan berkata istrinya masih bisa menunggu.
Dia benar tentang satu hal.
Aku memang masih bisa menunggu.
Tetapi bukan menunggu dirinya kembali.
Aku menunggu tubuhku sembuh.
Aku menunggu keberanianku tumbuh.
Dan ketika kesempatan kedua itu akhirnya datang, aku tidak lagi menyerahkannya kepada siapa pun.
Aku memilih hidup.
