DI PERNIKAHAN SEPUPUKU, 5 TAHUN SETELAH PERCERAIAN, MANTAN SUAMIKU DATANG BERSAMA SELINGKUHANNYA. WANITA ITU EJEK AKU MANDUL. TANPA BERSUARA, AKU PANGGIL PUTRIKU YANGBERUMUR 4 TAHUN!

Siska tidak lagi menatap Maya. Tatapannya justru terkunci pada Aris.

Wajah perempuan itu perlahan kehilangan warna.

Ada sesuatu yang baru saja muncul kembali dalam ingatannya. Sesuatu yang selama tiga tahun terakhir selalu dihindari Aris setiap kali mereka membicarakan anak.

“Aris…” suara Siska terdengar nyaris seperti bisikan. “Kamu bilang dulu masalahnya ada pada Maya.”

Aris tidak menjawab.

Maya menangkap perubahan kecil itu. Rahang Aris mengeras, sementara tangannya mengepal di samping tubuh.

Dhani, yang berdiri di samping Maya, seolah memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia menggendong Alya dan berkata lembut, “Sayang, mau Papa ajak lihat kue pengantin?”

Alya mengangguk.

“Tapi Mama ikut.”

“Mama sebentar lagi menyusul.”

Alya memandang Maya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. Dhani membawa gadis kecil itu menjauh dari kerumunan.

Namun suasana di sekitar meja hidangan tidak kembali normal.

Beberapa kerabat pura-pura sibuk mengambil makanan, meski telinga mereka jelas tertuju pada percakapan itu.

Siska mendekati Aris.

“Aku tanya sekali lagi. Kamu bilang Maya mandul, kan?”

“Siska, jangan sekarang.”

“Kenapa jangan sekarang?”

Nada suaranya meninggi.

Ibu Heni buru-buru memegang lengan Siska.

“Ini acara keluarga. Jangan bikin keributan.”

Siska melepaskan tangannya.

“Justru karena ini keluarga, Bu, saya ingin tahu. Selama ini kalian semua bilang Maya yang bermasalah.”

Maya berdiri diam.

Lima tahun lalu, mungkin ia akan gemetar mendengar percakapan semacam ini.

Dulu kata mandul terasa seperti pisau yang mengiris harga dirinya sedikit demi sedikit.

Tujuh tahun menikah dengan Aris, hampir separuhnya dihabiskan Maya berpindah dari satu klinik ke klinik lain. Ia menjalani pemeriksaan darah, USG, terapi hormon, hingga berbagai prosedur yang melelahkan.

Setiap hasil pemeriksaan menunjukkan hal yang sama.

Tidak ditemukan masalah berarti pada tubuh Maya.

Namun Aris selalu memiliki alasan untuk menolak diperiksa lebih lanjut.

“Aku sehat.”

“Aku tidak perlu dites.”

“Di keluargaku semua laki-lakinya subur.”

Dan Ibu Heni selalu membenarkannya.

“Maya, perempuan itu harus berusaha lebih keras. Jangan malah menyuruh suami diperiksa.”

Maya begitu ingin mempertahankan rumah tangganya hingga akhirnya mempercayai tuduhan mereka.

Sampai malam ketika ia menemukan percakapan Aris dan Siska di sebuah ponsel lama.

Hubungan itu sudah berlangsung sebelas bulan.

Perceraian mereka selesai enam minggu kemudian.

Maya pergi hanya membawa pakaian, tabungan pribadinya, dan harga diri yang tersisa.

“Maya.”

Suara Aris menariknya kembali ke masa kini.

Aris menatapnya.

“Kapan kamu menikah lagi?”

“Empat tahun delapan bulan lalu.”

Jawaban itu membuat alis Aris terangkat.

“Cepat sekali.”

Maya tersenyum kecil.

“Aneh. Orang yang berselingkuh sebelum perceraian selesai ternyata masih punya standar tentang seberapa cepat mantan istrinya boleh melanjutkan hidup.”

Beberapa orang di dekat mereka menahan napas.

Aris langsung terdiam.

Siska justru masih memikirkan hal lain.

“Dan anakmu empat tahun dua bulan?”

“Iya.”

“Berarti…” Siska menghitung dalam kepala. “Kamu hamil tidak lama setelah menikah?”

Maya mengangguk.

“Hampir tiga bulan setelah menikah.”

Mata Siska kembali tertuju pada Aris.

“Jadi dia bisa hamil.”

Aris membentak pelan, “Cukup.”

Namun kali ini Siska tidak mundur.

“Tidak. Belum cukup.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Tiga tahun, Ris. Tiga tahun kita mencoba punya anak.”

Kalimat itu membuat Ibu Heni panik.

“Siska!”

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Maya akhirnya memahami tatapan aneh Siska tadi.

Ternyata rahasia itu bukan hanya tentang masa lalu.

Siska dan Aris juga belum memiliki anak.

Siska tertawa pendek, tetapi suaranya terdengar getir.

“Setiap bulan aku yang diperiksa. Aku minum obat. Aku menjalani terapi. Aku sampai berhenti kerja karena kamu bilang aku terlalu stres.”

“Siska, kita bicarakan di rumah.”

“Dan setiap kali dokter meminta kamu menjalani pemeriksaan, kamu selalu bilang hasil pemeriksaanmu sudah pernah normal.”

Aris membeku.

Siska melanjutkan.

“Kamu bilang kamu pernah diperiksa saat masih menikah dengan Maya.”

Maya perlahan menggeleng.

“Dia tidak pernah mau diperiksa.”

Keheningan jatuh begitu berat.

Siska menatap Aris seakan baru melihat wajah laki-laki itu untuk pertama kalinya.

“Kamu bohong?”

Aris tidak menjawab.

Jawaban itu sudah cukup.

Siska menutup mulutnya dengan tangan.

Ibu Heni mencoba menyelamatkan keadaan.

“Sudahlah. Tidak semua hal harus dibicarakan di sini. Bisa saja dulu memang Maya yang bermasalah, lalu setelah itu kondisinya membaik.”

Maya menatap perempuan yang pernah dipanggilnya Ibu selama tujuh tahun.

Aneh.

Dulu ia sangat menginginkan penerimaan dari perempuan itu.

Sekarang tidak ada apa-apa selain rasa iba.

“Tante masih ingin menyalahkan saya?”

Ibu Heni tersentak.

“Saya tidak bilang begitu.”

“Lima tahun lalu Tante bilang saya perempuan gagal.”

Wajah Ibu Heni memerah.

“Saya sedang emosi waktu itu.”

“Tante juga bilang Aris berhak mencari perempuan lain karena saya tidak bisa memberinya keturunan.”

“Maya…”

“Tidak apa-apa.”

Maya tersenyum.

“Saya sudah memaafkan semuanya sejak lama. Bukan untuk kalian. Untuk diri saya sendiri.”

Ia hendak pergi ketika Aris tiba-tiba memegang pergelangan tangannya.

“Maya.”

Dhani yang memperhatikan dari kejauhan langsung berjalan mendekat.

Namun Maya lebih dulu menarik tangannya.

“Jangan sentuh saya.”

Aris melepaskannya.

Tatapan laki-laki itu berubah. Ada rasa malu, penasaran, dan sesuatu yang hampir menyerupai penyesalan.

“Dokter bilang apa waktu kamu hamil?”

Pertanyaan itu begitu absurd hingga Maya hampir tertawa.

“Dokter bilang saya hamil.”

“Maksudku… sebelumnya. Tentang kondisi kamu.”

“Saya sehat.”

“Dari dulu?”

Maya terdiam sesaat.

Lalu mengangguk.

“Dari dulu.”

Wajah Aris runtuh.

Maya masih mengingat hari terakhir ia menemui dokter spesialis kandungan sebelum perceraiannya.

Dokter itu melihat seluruh hasil pemeriksaan dan berkata hati-hati, “Bu Maya, sejauh pemeriksaan yang kita lakukan, tidak ada alasan kuat untuk menyimpulkan masalahnya berasal dari Ibu. Idealnya suami juga diperiksa.”

Ketika Maya menyampaikan itu kepada Aris, laki-laki tersebut marah besar.

Ia menuduh Maya berusaha mempermalukannya.

Seminggu kemudian, Maya menemukan perselingkuhan tersebut.

Dhani akhirnya tiba di samping Maya sambil menggandeng Alya.

“Ada masalah?”

“Tidak,” jawab Maya. “Kita bisa pulang setelah pamit pada Rina.”

Namun Alya tiba-tiba memandang Aris.

Anak itu memiliki rasa ingin tahu yang besar.

“Om siapa?”

Aris tidak langsung menjawab.

Maya berjongkok.

“Teman lama Mama.”

“Oh.”

Alya tersenyum sopan.

“Halo, Om.”

Aris memaksakan senyum.

“Halo.”

Alya kemudian menggenggam tangan Dhani.

“Papa, aku mau es krim.”

“Nanti perutnya sakit.”

“Satu aja.”

“Setengah.”

“Satu.”

“Setengah.”

Alya mengembungkan pipinya.

Maya tertawa kecil melihat perdebatan mereka.

Aris menyaksikan semuanya tanpa berkata apa-apa.

Pemandangan sederhana itu justru menghantamnya lebih keras daripada seluruh percakapan sebelumnya.

Selama tujuh tahun, ia membuat Maya percaya bahwa perempuan itu tidak mampu membangun keluarga.

Sekarang Maya berdiri di depannya dengan keluarga yang dulu ia katakan tidak akan pernah dimiliki Maya.

Siska tiba-tiba mengambil tasnya.

“Aku pulang.”

Aris menoleh.

“Kita datang bersama.”

“Aku bisa pesan mobil.”

“Siska, jangan bertingkah seperti anak kecil.”

Perempuan itu berhenti.

“Aku bertingkah seperti anak kecil?”

Suaranya bergetar.

“Selama tiga tahun aku menyuntikkan hormon ke tubuhku. Berat badanku naik. Rambutku rontok. Setiap menstruasi datang, aku menangis sendirian di kamar mandi karena kamu membuatku percaya tubuhku gagal.”

Aris terdiam.

“Dan sekarang aku tahu mantan istrimu yang katanya mandul ternyata punya anak?”

Siska menghapus air matanya.

“Aku memang salah karena dulu masuk ke pernikahan kalian. Aku tahu kamu masih suami orang, tapi aku tetap melakukannya. Mungkin selama ini aku pikir karena akhirnya kamu memilihku, berarti aku menang.”

Ia menatap Maya.

“Ternyata tidak ada yang menang.”

Maya tidak menjawab.

Siska berbalik dan berjalan keluar dari gedung.

Aris mencoba mengejarnya, tetapi suara ibunya menghentikannya.

“Aris.”

Ibu Heni terlihat pucat.

“Kamu benar-benar belum pernah diperiksa?”

Aris menatap lantai.

Untuk pertama kalinya, Maya melihat laki-laki yang dulu begitu angkuh itu tidak mampu bersembunyi di balik kemarahannya.

“Aku pernah.”

Semua orang terdiam.

Maya ikut menoleh.

Aris menarik napas panjang.

“Tiga tahun lalu.”

Ibu Heni memegang dadanya.

“Hasilnya?”

Aris tidak menjawab.

Namun kali ini Siska, yang ternyata belum sempat keluar dan masih berdiri beberapa meter dari sana, mendengarnya.

Ia kembali mendekat.

“Hasil apa?”

Aris menutup mata sebentar.

“Dokter bilang kemungkinan aku punya anak secara alami sangat rendah.”

Maya merasa seluruh ruangan seperti berhenti bergerak.

Bukan karena hasil itu.

Melainkan karena waktunya.

“Tiga tahun lalu?” tanya Maya.

Aris mengangguk lemah.

Artinya Aris sudah mengetahui kenyataan itu selama tiga tahun.

Namun ia tetap membiarkan Siska menjalani pengobatan.

Tetap membiarkan ibunya menyalahkan perempuan.

Siska mendekat dan menampar Aris.

Suara tamparan itu terdengar jelas.

Beberapa tamu terkejut.

Maya refleks menutupi pandangan Alya dan meminta Dhani membawanya menjauh.

Siska menangis.

“Kamu tahu?”

Aris tidak membela diri.

“Kamu tahu selama tiga tahun?”

“Aku takut kamu pergi.”

“Jadi kamu membiarkanku berpikir aku yang rusak?”

“Siska…”

“Jangan panggil namaku.”

Siska mundur.

Tatapannya kemudian beralih kepada Maya.

Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan di wajah perempuan itu.

Hanya rasa malu.

“Aku minta maaf.”

Maya tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.

Siska menelan ludah.

“Bukan cuma karena tadi. Karena dulu juga.”

Maya memandangnya cukup lama.

“Aku tidak bisa mengubah apa yang kalian lakukan lima tahun lalu.”

Siska mengangguk sambil menangis.

“Tapi ada satu hal yang bisa kamu lakukan sekarang.”

“Apa?”

“Jangan habiskan lima tahun berikutnya untuk hidup dengan kebohongan yang sama seperti yang pernah aku jalani.”

Siska menatap Maya, lalu mengangguk.

Ia pergi tanpa menunggu Aris.

Ibu Heni duduk di kursi terdekat. Wajahnya seperti kehilangan seluruh tenaga.

Sementara Aris berdiri seorang diri.

“Maya.”

Maya menoleh untuk terakhir kalinya.

“Aku minta maaf.”

Lima tahun lalu, Maya pernah membayangkan hari itu ratusan kali.

Ia membayangkan Aris datang sambil menangis, berlutut, mengakui kesalahan, lalu meminta kesempatan kedua.

Dalam setiap khayalan itu, Maya merasa permintaan maaf Aris akan menyembuhkan sesuatu dalam dirinya.

Namun sekarang ketika kata-kata itu benar-benar terdengar, Maya justru merasa biasa saja.

Luka itu ternyata sudah sembuh tanpa Aris.

“Semoga setelah ini kamu belajar berhenti menjadikan perempuan lain sebagai tempat menyembunyikan ketakutanmu sendiri.”

Hanya itu jawabannya.

Maya berjalan menuju Dhani dan Alya.

Di dekat pintu aula, Alya sedang memegang dua cup es krim.

Maya mengangkat alis.

“Katanya setengah?”

Dhani terlihat bersalah.

“Negosiasinya alot.”

Alya menyodorkan satu cup kepada Maya.

“Ini buat Mama.”

Maya menerimanya.

“Terima kasih, Sayang.”

Mereka bertiga berjalan keluar menuju area parkir.

Hujan tipis mulai turun di Bandung.

Saat Dhani memasangkan sabuk pengaman Alya, Maya berdiri sebentar di samping mobil dan menatap gedung pernikahan di belakangnya.

Dhani mendekat.

“Kamu baik-baik saja?”

Maya mengangguk.

“Lebih dari baik.”

Dhani tidak bertanya lebih jauh. Itulah salah satu hal yang Maya cintai darinya. Ia tidak pernah memaksa Maya menjelaskan luka sebelum Maya siap menceritakannya.

Namun ketika mereka hendak masuk mobil, ponsel Maya berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.

Maya membukanya.

Pesan itu dari Siska.

Aku akan meninggalkan Aris. Tapi sebelum pergi, ada sesuatu yang menurutku harus kamu ketahui. Tiga tahun lalu aku pernah melihat dokumen pemeriksaan Aris. Dokter bilang kondisinya bukan sesuatu yang baru. Kemungkinan besar sudah ada sejak sebelum kalian bercerai.

Maya membaca pesan itu dua kali.

Kemudian muncul pesan kedua.

Dia mungkin sudah curiga sejak masih menikah denganmu. Itu sebabnya dia selalu menolak diperiksa.

Maya mematikan layar.

Dhani memperhatikannya.

“Siapa?”

“Masa lalu.”

Dhani menunggu.

Maya memasukkan ponsel ke tas.

“Dan sepertinya tidak penting lagi.”

Mereka masuk ke mobil.

Namun kejutan terakhir datang beberapa menit kemudian.

Ketika mobil bergerak meninggalkan gedung, Alya tiba-tiba berkata dari kursi belakang.

“Mama.”

“Iya?”

“Tadi Nenek yang pakai baju hijau nangis.”

Maya tahu yang dimaksudnya adalah Ibu Heni.

“Kenapa Nenek nangis?”

Maya berpikir sebentar.

“Mungkin karena Nenek baru tahu sesuatu yang seharusnya dia tahu sejak lama.”

Alya mengangguk meski jelas tidak mengerti.

Lalu ia berkata polos, “Papa bilang kalau salah harus minta maaf.”

Dhani tersenyum sambil tetap memperhatikan jalan.

“Betul.”

“Kalau sudah minta maaf, semuanya jadi seperti dulu?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Maya terdiam.

Ia menoleh ke luar jendela. Lampu Bandung berpendar di balik titik-titik hujan.

“Tidak selalu, Sayang.”

“Kenapa?”

“Karena memaafkan seseorang tidak berarti kita harus kembali ke tempat yang pernah menyakiti kita.”

Alya berpikir keras selama beberapa detik.

Kemudian anak itu mengangguk seolah baru memahami pelajaran paling penting di dunia.

“Berarti kalau teman Alya rebut pensil, Alya maafin. Tapi pensilnya tetap Alya ambil lagi?”

Dhani tertawa keras.

Maya ikut tertawa.

“Iya. Kurang lebih begitu.”

Alya tampak puas dengan jawabannya.

Mobil terus melaju.

Maya menyandarkan kepala ke kursi.

Lima tahun lalu ia meninggalkan rumah Aris dengan satu koper dan keyakinan bahwa dirinya adalah perempuan yang gagal.

Ia tidak tahu bahwa beberapa bulan kemudian ia akan bertemu Dhani di sebuah proyek konsultasi di Jakarta.

Ia tidak tahu laki-laki itu akan mencintainya tanpa pernah bertanya mengapa pernikahan pertamanya gagal.

Ia tidak tahu bahwa dua garis merah muda pada alat tes kehamilan akan membuatnya terduduk di lantai kamar mandi sambil menangis selama hampir satu jam.

Dan yang paling penting, ia tidak tahu bahwa suatu hari ia akan kembali bertemu orang-orang yang pernah membuatnya merasa tidak cukup, lalu menyadari bahwa penilaian mereka sudah tidak memiliki kuasa sedikit pun atas hidupnya.

Di kursi belakang, Alya mulai tertidur sambil memeluk boneka kecil yang dibawanya dari pesta.

Dhani mengulurkan tangan kirinya.

Maya menggenggamnya.

“Pulang?” tanya Dhani.

Maya tersenyum.

“Pulang.”

Untuk pertama kalinya, kata itu tidak mengingatkannya pada rumah besar yang pernah ditempatinya bersama Aris.

Tidak pula pada tujuh tahun pernikahan yang berakhir dengan pengkhianatan.

Pulang adalah mobil yang sedang melaju di tengah hujan.

Pulang adalah tangan Dhani yang menggenggam tangannya.

Pulang adalah Alya yang tertidur di kursi belakang.

Dan malam itu Maya akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh seluruh dokter, keluarga, maupun orang-orang yang pernah menghakiminya.

Lima tahun lalu, Aris memang meninggalkannya.

Namun ternyata, yang benar-benar hilang dari hidup Maya bukanlah kesempatan untuk menjadi seorang ibu.

Bukan pula kesempatan untuk dicintai.

Yang hilang hanyalah orang-orang yang membuatnya percaya bahwa nilai seorang perempuan ditentukan oleh kemampuan memenuhi harapan mereka.

Dan kehilangan semacam itu, pikir Maya sambil tersenyum menatap hujan, ternyata bukan sebuah kehilangan sama sekali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang